Magnificent Seven: Best Remake Of The Last Few Years

image

image

image

Sam Chisolm: What we lost in teh fire, we found in the ashes

Beruntungnya saya lupa. Sepuluh tahun lalu saya sudah menonton film originalnya, dan syukurlah saya lupa. Lupa poin-poin penting Magnificent Seven. Saya bahkan mengira versi tahun 1960 dibintangi Clint Eastwood. Ketika di bagian Denzel Washington membantai penjaga bar dan mengumumkan untuk memanggil sherif itu sempat mengusik ingatan dan bilang, ‘oh saya sudah pernah melihat pola seperti ini’, namun kepala saya kembali gatal ketika ketujuh pahlawan berkumpul menyusun strategi. Dan jadilah epic battle itu mempesonaku. Jelas, kalau saya diberi opsi untuk menyusun 10 film terbaik 2016 sekumpulan koboi ini ada di dalamnya.

Fuqua saat berduet dengan Denzel Washington plus Ethan Hawke memang tak pernah mengecewakan. Training Day yang meledak, Bronklyn’s Finest yang wow dan The Equalizer yang sesak. Kolaborasi terbaru ini dibintangi para artis top berbagai warna kulit – berbagai ras dari Asia, Meksiko sampai Alaska! Seakan menyatakan kita semua harus bersatu untuk kemakmuran bersama.

Kisahnya panjang. Butuh kesabaran, tapi lunas di klimak cerita. Opening scene dibuat mendebarkan. Sebuah pertambangan emas di Rose Creek tahun 1879, tanah kaya yang menjanjikan itu dikuasai oleh Bogue dan kroni-kroninya. Semua orang tunduk padanya, termasuk para sherif. Jadi saat warga berkumpul di Gereja, rumah Tuhan untuk berdiskusi apakah tanah mereka harus dijual murah kepada Bogue atau melawan, suasana tampak menakutkan. Sebelum keputusan mutlak muncul, pintu Gereja njeplak. Bogue (Peter Sarsgaard) beserta pasukan bersenjatanya masuk. Mengancam, tanah ini akan kubeli dengan harga 20 Dollar untuk sebidang debu. Tawaran tak akan naik dan akan semakin asam. Bogue akan kembali dalam 3 minggu, yang terima tawaran itu silakan datang menghadap ke mejanya dan yang bagi menolak semoga Tuhan menolongmu. Lalu Gereja dibakar, sekelompok orang yang membantah ditembak, wanita berlari menolong dilempar kapak. Dan jerit ketakutan itu ditutup dengan pilu. ‘Perampokan’ tanah di era Western tampak begitu meyakinkan. Sebuah pembuka yang bagus sekali. Lalu setelah 11 menit 22 detik (ya saya mencatatnya) muncullah judul utama diringi skor menawan.

Sang jagoan utama muncul, dengan menunggang kuda koboi asal Wichita, Kansas Sam Chisolm (debut western menawan Denzel Washington) menuju kedai tempat judi. Diiringi tatapan curiga warga, masuk memesan busthead, sang pelayan menjawab tak ada minuman merk itu. Lalu ia minta ganda, ternyata dikeluarkan juga. Disodorkannya uang perak lagi untuk meminta informasi, bahwa ia sedang mencari seorang pemuda dengan fisik seperti sang pelayan bernama Daniel Horison – berjuluk Powder Dan. Penjahat yang telah membunuh petani itu kini buron. Namanya suka ganti-ganti. Rekan jahatnya July Bully sudah dibunuhnya dalam bisikan. ‘Bawa mereka masuk, dari ladang dosa’. Belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan, Sam mencabut pistolnya dan dar der dor, pengunjung kedai dibuat shock. Saat ada pengunjung lain yang siap-siap menarik senjata, sang penjudi Joshua Faraday (Chris Pratt) memintanya tetap tenang – ada kutipan lucu tentang Two Guns Kid yang nge-link ke seri Marvel. Dan bang bang! Pelayan itu ditembak mati. Dengan gaya tenang, Sam meminta ‘panggilkan sherif’. Semua pengunjung keluar, kecuali Faraday yang tetap duduk lalu mengemasi uang di meja judi. Ternyata pelayan tu adalah buron. Sam Chisolm adalah bounty hunter. Koboi pemburu hadiah.

Kejadian itu dilihat Emma Cullen (dimainkan dengan seksi sekali oleh Haley Bennett karena nyaris semua layar sesak para pria – wajar ia begitu cerah merona bak bintang berkilau) dan rekannya Teddy Q (Luke Grimes). Emma adalah korban di awal film yang suaminya dibunuh. Mereka menyapanya dan meminta bantuan kepada Sam, tapi ia menolak karena rasanya mereka  tak akan sanggup membayar. 4 hari perjalanan dari kota itu adalah Rose Creek, mereka dalam ancaman dan butuh bantuan. Rasanya butuh pasukan untuk mengatasinya. Tapi saat mendengar nama Bartholomew Bogue, Sam memicingkan telinga untuk mendengar lebih seksama. Terlebih pengakuan Emma yang menangis, meminta keadilan karena pasangannya tewas ditembak di tengah jalan. Dalam penjelasan lebih detail bahwa sekitar 40 petani masih bertahan, hufh rasanya berat. Tapi deal juga. Sam adalah sang leader, dan perekrutan jagoan pun dimulai.

Pertama yang bergabung jelas Josh Faraday yang terlihat di meja judi tadi. Sempat tampak ragu, tapi OK mereka sepakat. – So far so good – kutipan terkenal Steve McQueen terdengar klasik. Lalu pencarian berlanjut berpisah. Mr. Sam bersama Emma menjemput buron berdarah Meksiko. Vasquez (Manuel Garcia-Rulfo) seorang pembunuh ranger. Seorang kriminal yang unik. Dengan keahlian menembak jelas ia akan jadi pasukan yang tepat. Rekrutan keempat dan kelima adalah rekan sejawat, Goodnight Robicheaux (Ethan Hawke) – seorang veteran perang yang dihantui masa lalu dan pengawalnya, Billy Rocks (Byung-hun Lee) si jago lempar pisau, seorang Asia. pasangan aneh ini mau bergabung, awal mula mereka bersama tampak absurb karena Good adalah pemburu Billy. Dibawah perintah Nortern Pacific Railroad. Haha, bukan. Ternyata bercanda. Goody adalah promotor adu tembak Billy. Mereka mencari nafkah saling ketergantuangan. Kedatangan Josh untuk menyampaikan pesan Mr. Sam meminta Goody bergabung, tapi secara otomatis mengajak Billy.

Mereka bertemu di Junction city. Josh yang rasis, saat bertemu Vasq ia mengejek canda sang Mexican dengan gaya kera, tapi tak mengganggu persatuan. Rekrutan keenam sama anehnya dengan yang lain. Dengan dialog nyeleneh lalu sebuah kapak melayang membunuh duo Pigeon bersaudara. Tuan Jack Horne (Vincent D’Onofrion) saat bicara sedikit tertahan, ia bertubuh besar dan seorang kolektor kulit. Saat para jagoan itu mengajaknya bergabung, ia terlihat sedikit sanksi karena yang dilawan adalah mafia Bogue.

Rekrutan terakhir paling nyeleneh. Saat akhirnya mereka bermalam di bawah tebaran bintang, dengan api unggun menemani. Adalah seorang Indian Comanche bernama Red Harvest (Martin Sensmeier) yang diajak berdamai dengan memakan hati binatang, ia adalah pahlawan termuda. Dengan bersatunya Red maka komplit sudah magnificent seven. Ditemani iringan musik seru mereka menuju Rose Creek. Persiapan menyambut Bogue mendebarkan. Karena kita tahu betapa digdayanya sang mafia. Warga yang tak punya keahlian bertarung dilatih kilat, bersama 7 pahlawan hebat ini berhasilkah mereka mempertahankan Rose Creek?

Perekrutan pasukan itu berlangsung satu jam. Satu jam berikutnya adalah pertarungan seru khas koboi. Bayangkan, satu jam perang dengan tensi tinggi. Sampai akhirnya meledak di akhir. Ada sedikit kejutan karena Mr Sam menyimpan rahasia kecil. Sampai akhirnya film ditutup rasanya saya tak ingin beranjak. Musiknya asyik, sangat pas untuk iringan para koboi, penutupnya menampilkan ketujuh pahlawan satu per satu diperankan oleh aktor. Lalu mereka berkuda dari sisi kiri ke kanan dan muncullah angka 7 merah menyala. Dua tembakan memecah kaca masing-masing di kiri kanan, dan credit title pun berjalan naik. Gaya ini sama persis dengan versi 1960. Sebuah tribute yang pantas.

Film ini juga didedikasikan untuk sang komposer James Horner yang meninggal dunia saat proses produksi di tengah jalan. Proses selanjutnya dirampungkan rekannya Simon Franglen, dibawah bendera Sony.

Puas? Ya. Sangat memuaskan. Seru dan intens. Karya asli dari bukunya Shinobu Hashimoto dan Hideo Ogumi yang pertama diadaptasi ke film Seven Samurai oleh Akira Kurosawa tahun 1954 lalu didaur ulang ke Barat dengan judul Magnificent Seven tahun 1960 barulah remake era terkini yang kita tonton. Endingnya mungkin tertebak, tapi tetaplah seru. Menghentak dan meledak. Saya beri bocoran dikit ya bahwa ketujuhnya tak selamat karena nantinya ketika narasi film akan ditutup dengan suara merdu Emma, ada sederet kuburan yang memajang nama sebagian dari mereka. Masuk akal kan semua tak selamat dalam perang. Dan yeah, mereka benar-benar MAGNIFICENT!!!

Magnificent Seven | Year 2016 | Directed by Antoine Fuqua | Screenplay Nic Pizzolatto, Richard Wenk | Cast Denzel Washington, Chris Pratt, Ethan Hawke, Vincent D’Onofrio, Byung-hun Lee, Peter Sarsgaard, Manuel Garcia-Rulfo, Haley Bennett, Martin Sensmeier | Skor: 5/5

Karawang, 080117 – The Hoobastank – The Reason

Thx to Rani Wulandari, S.Kom yang memberi kopi film ini dan yang lainnya. Nuhun Langsing!

Advertisements

2 thoughts on “Magnificent Seven: Best Remake Of The Last Few Years

  1. Pingback: Best Film 2016 | Lazione Budy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s