Kemenangan Teramat Istimewa

image

image

image

image

image

image

“Kami menghadapi tim yang dibilang banyak orang tidak bisa dikalahkan, kami memberikan segalanya dan meraih kemenangan yang pas.” – Simone Inzaghi

Dosa besar kalau saya sampai tak membuat tulisan kemenangan istimewa ini. Walau terlambat, saya sempatkan nulis untuk laga spesial. Derby Della Capitale adalah ritual wajib Laziale. Sebuah pertandingan penuh gengsi yang selalu dinanti. Musim ini akan ada 4 derby. Pertama sudah berjalan dengan buruk karena blunder Wallace, kedua adalah leg pertama Semifinal Coppa Italia ini. Ketiga dan terakhir dalam jadwal FIGC. Seperti biasa, sebelum derby kita gaduh mau nonton dimana bersama siapa. Jadwal derby yang biasanya sebelum tengah hari luruh kali ini karena kick off jam 02:45. Ketika LIRK – Lazio Indonesia Region Karawang nobar Udinese kita sudah polling ngumpul ga-nya. Tengah pekan dimana mayoritas adalah pekerja sebenarnya sudah memutuskan nonton sendiri-sendiri. Entah kenapa Rabu setelah Mahgrib tiba-tiba diumumkan berapa-pun yang mau datang kita jadwalkan nobar di Coach Setiadi. Dari grup BBM itu yang konfirm hanya 4 Laziale. OK, saya salah satunya. Terlalu sayang pertandingan besar dinikmati seorang diri.

Keputusan yang sangat tepat karena hasilnya adalah 2 gol cantik dengan menyaksikan tetangga frustasi sepanjang laga.

Gol tercipta dengan indah melalui skema apik Felipe dan Savic di menit 29. Dari kiri Savic memberi umpan pendek kepada Felipe yang berlari maju lalu ikut bergerak ke depan mencari ruang. Dengan jeli Felipe Bale setelah masuk kotak pinalti mendorong jauh melaju si kulit bundar. Bola nyaris saja keluar garis namun dengan kecepatan prima Felipe menjatuhkan diri untuk menyodorkannya ke depan gawang. Ada Basta, Immobile dan Parolo di sana, tapi justru Savic yang berlari kencang membelokkan bola dengan keras merobek jala Roma. Gol yang membuat gemuruh Olimpico itu disambut suka cita 5 Laziale Karawang. Lihatlah gesture Parolo sampai mengepalkan kedua tangan ke atas saking gembiranya. Bahkan ball boy belakang gawang ikut melonjak kegirangan. Simone Inzaghi yang memang ekspresif malam itu jauh lebih emosional memeluk para staf menyambut keunggulan.

Babak kedua kita lebih dominan. Harusnya bisa unggul 4-5 gol lagi. Sayang eksekusi akhir kurang tenang. Heran aja, tim jelek gini diikutkan liga Champion. Dominasi kita membuat mereka tak bisa mengembangkan permainan. Lini tengah sangat kompak, Parolo-Biglia-Lukaku begitu digdaya. Bisa jadi Basta adalah pemain Lazio minor kali ini, tak banyak kasih andil. Tapi Parolo menutupinya dengan jelajah tanpa lelah. Dalam satu adegan , Marco bahkan bersitegang dengan Strootman. DNA Derby sudah tertanam. Satu-satunya peluang bagus Roma hadir di menit 59 lewat tendangan Salah yang menerpa mistar luar. Sisanya mereka bak tim amatir.

Poin penting lain laga ini adalah keputusan menyimpan Keita untuk babak kedua. Menit 67 saat Roma mulai mencoba merangsek naik, kita menarik Felipe. Gol ganda akhirnya hadir 10 menit berselang. Prosesnya bagus banget. Melalui serangan balik cepat. Keita yang kena kawal Manolas dan Fazio dari tengah lapangan berhasil lolos membawa bola di sisi kanan. Dengan kecepatan mempesona Keita berhasil mengecoh 4 pemain Roma untuk fokus padanya, mereka lupa ada seorang Immobile yang mencari ruang di depan gawang. Hasilnya ketika Keita unggul pertarungan, bola silang itu seakan disulap cling tiba-tiba tepat di depan garis gawang, sehingga Immobile tinggal mendorongnya mengkonversi skor. Gooool. Laziale Karawang yang malam ini kedatangan (mantan) ketua LIRK yang jarang ikut nobar langsung bertepuk sapa. Immobile langsung berlari keluar lintasan untuk selebrasi mencium fan. Disambut rekan-rekan, termasuk para cadangan ikut berlari jauh memberinya selamat. Patric paling kencang tuh merayakan pesta.

Efek kemenangan ini banyak. Sangat banyak. 4 tahun tak pernah menjungkalkan mereka akhirnya kita putus. Pioli nyaris melakukannya dengan unggul 2 gol dulu, sayangnya laga itu malah dingat sebagai selfie T. Terakhir menang adalah final Copa 26 Mei 2013. Era Klose, Hernanes di bawah Petkovic itu rasanya sudah lama sekali berlalu. Jadi harusnya ini jadi suntikan semangat juang di sisa musim. Efek lainnya, pemain AC Milan, eks roma yang seorang Laziale malam itu ikut merayakan. Alesia Romagnoli dikecam Milanisti karena ikut berpesta dalam kemenangan derby ini. Wew, bisa jadi nanti kau ke Olimpico Nak. Kita dengan senang hati menyambutmu dalam menggores sejarah bersama. Suatu saat nanti…

Inzaghi Yang Percaya diri
Tak dipungkiri Simone Inzaghi adalah Laziale sejati. Melatih dengan hati. Setiap teriakannya di pinggir lapangan adalah luapan cinta pada jersey Elang. Malang melintang di Serie A dan setia dalam suka duka Biancoceleste akhirnya mendapat kepercayaan melatih tim utama. Dengan budget transfer yang akan membuat Mourinho pingsan, Inzaghi sukses meremajakan skuat. Mayoritas adalah pemain muda jebolan primavera, eks anak didiknya dipromosikan. Giuseppe Rossi, Tounkara, Allesandro Murgia, Christiano Lombardi, Crecco, Thomas Strakosha adalah sederat pemain primavera yang mendapat debut karena kepercayaan Inzaghi. Ah andai Chris Oiko dan Guido tak dipinjamkan. Derby pagi ini Simone mengubah strategi dari 4 bek menjadi 3-5-2. Strategi ini laiknya milik Spaletti – pelatih lawan. Pilihan yang sungguh berani karena lini tengah akan jadi kuci. Untungnya lini vital itu kita punya bintang yang layak diandalkan. Naiggolan adalah pemain paling buruk yang tak berandil buat lawan karena dimatikan. Sang kakak, Fillipo memberi selamat dan pujian. Pippo yang juga pernah melatih AC Milan, dan kita semua tahu gatot itu memberi pujian. ”Minggu malam, ia bersama stafnya mempelajari pertandingan Roma-Inter dan menemukan cara jitu menghentikan mereka. Ia menjelaskan akan memblokir semua bola yang mengarah ke Dzenko dan taktik itu berjalan sempurna.”

Lukaku
Lukaku malam itu tampil baik mengisi lini tengah di sisi kiri menggantikan Lu71c meredam Radja. Seimbang dalam meyerang dan bertahan, hanya skill-nya perlu terus diasah. Beberapa kali kehilangan bola dan kurang akurat dalam mengumpan. Tapi secara keseluruhan tampil bagus. Keunggulan utama memang fisik yang prima dan kecepatan di atas rata-rata. “Naiggolan kalah untuk pertama kalinya dan saya ingin seperti itu. Walau kami berteman, saya suka permainan ini. Saya lelah karena saya berlari sepanjang laga sehingga menguras energi.” Lanjutkan. Kepercayaan Simone dibayar lunas. Aksi Lukaku berakhir tepuk tangan meriah ketika ditarik memberi debut derby wonderkid Crecco. Ah Crecco, suatu hari saya ingin membuat tulisan khusus untukmu.

Savic Adalah Masa Depan
Derby 2 Feb 17 ini adalah panggung Savic. Man of the match. Daya jelajahnya juara. Passingnya akurat. Sundulan dan tendangannya bisa diandalkan. Taji tempurnya memberi bukti bahwa julukan ‘The Soldier’ bukan omong kosong. Gol pembuka pesta itu tercipta karena kecerdasan Savic menempatkan diri disertai akurasi tembakan sulit yang jitu. Berapapun penawaran harga yang diajukan ke meja Lotito, please tolak. Savic adalah masa depan Lazio. Kalau perlu beri dia ban kapten, perpanjang kontrak jangka amat-sangat panjang dengan buy-clausal-out seharga Paul Pogba agar para peminat mikir dua kali untuk membawa kehebatan Savic keluar Olimpico. Kabar terbaru menyebutkan Max Allegri yang diminta menangani Arsenal mengajukan syarat andai deal HARUS memboyong Savic. Kan gendeng, mereka transaksi mereka mendongkel bintang kita. Untuk Savic, jawabku selalu sama, NOT FOR SALE.

Thomas Strakosha Jimat Agung
Dalam empat laga derby primavera yang dijalani Thomas di bawah mistar semua disikat. Kamis dini hari itu adalah debut si jangkung di kelas senior. Hasilnya Roma luluh lantak. Ada tiga penyelamatan yang pantas dipuja. Ketenangan, disiplin, dan bukti lima kemenangan beruntun harusnya jadi alasan kuat untuk menggeser Frederico Marchetti. Ada momen ketika skor masih 1-0, Thomas berbenturan membuatnya terkapar cidera, saya sempat was-was melihat Vargic pemanasan. Vargic adalah kesalahan sedari deal – koneksi Igli Tare yang seakan asal ambil, pemain lapis ketiga Kroasia di Piala Eropa 2016 yang bahkan belum pernah turun sama sekali musim ini, membayangkan ia mengawal jala Lazio di derby pastinya akan membuat jantung Laziale berpacu 5 kali lebih cepat. Ada yang masih ingat kiper ketiga bernama Luca Mondini? Tidak? Wajarlah, saya juga. Karirnya hilang secepat datang. Vargic bisa jadi senasib. Dini hari itu, untung Thomas bangkit dan Vargic kembali melepas sarung tangannya. Thomas adalah jimat agung yang pantas dimainkan terus untuk 10 tahun ke depan.

Kokoh Tak Tertandingi
Wallace memberi bukti bahwa dia siap menebus dosa. Kepercayaan yang diberikan Inzaghi tak disia-siakan. Sepanjang 2017 inilah permainan terbaik pertahanan kita. Padu, solid, kokoh bak semen tiga roda. De Vjir jelas nomor satu kalau ditanya keseimbangan permainan sektor belakang. Bastos memang jaminan, andai tak cidera awal musim bisa jadi kita saat bersaing di puncak dan membuat Juventus tak bisa konsentrasi nyaman di Champion. Hoedt memang butuh waktu lebih untuk adaptasi tapi ia punya keunggulan bodi tinggi besar, dan (eheem… tampan). Wallace bisa menyempurnakan sisi ini menjadi begitu enak ditonton sampai-sampai Salah dan Dzenko seolah penyerang Serie C. Padahal kita belum ngomongin Lulic yang punya DNA derby kelas wahid dan senior kakap Radu yang malam itu absen.

Dengan keunggulan dua gol ini satu tangan Lazio sudah menggenggam tiket final. Juve yang juga sudah separuh jalan rasanya akan jadi lawan lagi.

Terakhir, mau dibawa ke mana Serie A bila para wakilnya tak punya karakter pemenang? Tim yang dikirim aja seperti ini, jelex. Lebih deg degan lawan Genoah yang punya taji. Gmana mau bersaing? Ya hasilnya skor 7-1, 1-7, 6-1 dan seterusnya. Aib yang ditulis sejarah. Ini kalau tak dihentikan giliran P$G, Chelsea, Celtic akan membuat malu Serie A. Beri kami kesempatan untuk bangkit ke kancah liga para juara. Cukuplah untuk wakil yang terbukti gagal. Masa depan depan Italia, separuhnya ada di Lazio. Aset utama kesuksesan ada dua: kepercayaan dan orang/pemain yang bagus (the right People). Lazio sudah punya salah satunya, setengahnya lagi berikan kami trust untuk melaju. #AvantiLazio

Karawang, 050217 – Green Day – Church On Sunday
*late post karena kesibukan HR awal bulan – lalu kabar bagus muncul lagi, Dries Martens berpose anjing pipis di pojokan.

Lazio 2-0 Roma.
Gol: Savic 29′, Immobile 77′.
Susunan Pemain
Lazio: Strakosha; Bastos, De Vrij, Wallace; Basta, Parolo, Biglia, Milinkovic-Savic (Murgia 90), Lukaku (Crecco 79); Felipe Anderson (Keita 67); Immobile
Roma: Alisson; Manolas, Fazio, Rudiger; Peres (Totti 85), Paredes (Perotti 64), Strootman, Emerson; Salah (El Shaarawy 69), Nainggolan; Dzeko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s