Best Film 2016

Sayang sekali karya terbaik Roald Dahl luluh lantak. Padahal sudah dibawah arahan sutradara besar. Setelah Sophie menangis sendu, apakah suatu saat ada kesempatan buat Matilda?

Sudah lama saya tak menyusun film terbaik tahunan. Mulai tahun ini tiap tanggal 31 Maret – salah satu tanggal spesial hidupku –  akan saya susun 14 film pilihan yang sudah kutonton dan kuulas. Saya bukan penggemar berat film blockbuster penuh sinar-sinar yang menyilaukan mata, bukan pula fan film art yang rumit. Saya pelahap buku, jelas. Penggemar drama, pasti. Dan kartun, tentu. Maka daftar ini adalah mix pilihan dari semua film rilis 2016 berbagai genre. Kenapa 14? King Henry pernah mengenakannya di punggung dan penonton Highbury memujanya, dan kini Keita Balde dengan bangga memilihnya. Saya Laziale yang respek Henry.

Berikut daftar best film 2016 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo.

image

#14. Kubo And Two Strings – Travis Knight | review lengkap
Debut menawan Travis Knight. Coraline dicipta dalam bahaya ketika memasuki dimensi dunia lain, matanya terancam dicukil diganti kancing baju laksana boneka pajang. Di Kubo, itu bukan sekedar ancaman. Sang jagoan salah satu pengelihatannya dihilangkan. Memberi dampak psikologis ketika melaju tinggi dalam petualangan seru bersama seekor kumbang kocak dan monyet cerewet. Produksi berikutnya Laika bisa jadi adalah kartun buta yang filosofis, Si Laika dari Goa Hantu. Tanpa pedang dan jarum pentul? Bisakah?

image

#13. Nocturnal Animal – Tom Ford | review lengkap
Ini adalah jenis film yang menantang keberanian penonton untuk terus menatap layar. Ketika tragedi malam disusun kita (mungkin) ikut berdoa supaya keluarga Hastings selamat. Tapi tapi tapi… karena ini jenis thrilling, tentu saja harapan itu dirijek. Hasilnya? Sebuah kisah rapi sang Penulis yang menghadiahkan karya perdananya untuk istri, maksudnya mantan istri. Tak boleh ada air mata, makan malam memang terkadang tak senikmat pie di pagi hari yang cerah.

image

#12. The Jungle Book – Jon Favreau | review lengkap
Saya sudah prediksi Baloo akan mendapatkan piala. Ketakjuban yang sama saat pertama lihat Sully-nya Monster Inc., sihir menakjubkanlah pewujud betapa bulu-bulu magis itu bisa dicipta. Dari sutradara favorit, diadaptasi dari Penulis favorit, ditonton di bioskop bersama orang terkasih. “Bunga Merah” itu bermekaran memenuhi layar lebar dengan tepuk tangan Hermione.

image

#11. Hidden Figures  – Theodore Melfi | review lengkap
Kalau kejuaraan diukur berdasar perjuangan kulit hitam menegakkan haknya tahun ini, harusnya film ini yang menang Oscar. Semua elemen berpadu menjadikan film ini benar-benar menghibur. Trio karakter utama sukses menerapkan naskah menjadi adegan hidup yang fantastis. Kisah lomba balap angkasa ini menghantar John Glenn menjadi astronot Amerika pertama yang mengorbit bumi. Sebuah pondasi kuat menuju bulan dan kini kita tahu ada sosok hebat yang tersebunyi di prosesnya.

image

#10. Magnificent 7 – Antoine Fuqua | review lengkap
Jagoan punya nomor? Ya. 7 bukan hanya milik Ronaldo. Denzel Washington memimpin 7 manusia harimau, orang-orang terbaik di zaman western untuk menegakkan kebenaran. Ini bukanlah karya terbaik Fuqua tapi jelas ini adalah film terbaik Chris Patt. Ledakan di klimak itu benar-benar hebat. Tak ada musuh besar yang tak bisa dikalahkan. #ForzaLazio

#9. Alice Through The Looking Glass – James Bobin | review lengkap

Ketika Alice terjatuh ke lubang dan serasa tak ada dasar, sampai dalam keadaan melayang itu ia bisa berfikiran, ‘semakin aneh semakin aneh semakin aneh’. Sensasi itu saya dapatkan lagi tahun ini, dalam visual yang menantang sang Waktu. ‘Ah, cara terbaik untuk menjelaskan adalah dengan melakukannya.’ Sebuah kutipan terkenal itu dibuktikan sendiri oleh Alice Kingleigh ketika memasuki lemari waktu untuk mengubah masa, guna menyelamatkan temannya yang gila dari kegilaan. Ide bagus mengurangi peran Chesire Cat, karena di seri pertama dominasi ‘ilmu’nya sedikit merusak pemecahan masalah. Dalam Looking Glass, sang puteri sendirilah yang mengendarai chronosphere sampai terperosok dalam tea time forever.

image

#8. Hell Or A High Water – David Mackenzie | review lengkap

Kalau kalian benci banget sama bank dengan kredit yang mencekik dan aturan anuitas yang bangsat itu, kalian wajib nonton film ini. Bank-bank itu dirampok, duitnya ditukar koin di kasino buat iseng judi lalu koinnya ditukar lagi dengan cek ke bandar dan ceknya kita tukar lagi ke bank yang kita rampok. Idenya bagus banget ya. Memutar uang belum pernah saya saksikan sebrilian ini. Tapi saat rasa benci kita, sebenci-bencinya sama bank itu mencapai puncak ternyata eh ternyata seni rampok itu bukanlah benang merah karena ada uang yang jauh lebih besar lagi di rumah, di sekeliling kita. Dan David Mackenzie begitu jeli memainkan emosi itu. Seni bagi jiwa-jiwa kesepian.

image

#7. Fantastic Beast And Where To Find Them – David Yates | review lengkap

Debut JK Rowling harus ada di daftar ini, niat itu bahkan sudah ada di kepala jauh sebelum saya menonton filmnya. Curang? Ya ya, harus diapresiasi bagaimana buku tipis 88 halaman dirubah ke dalam naskah film yang panjang, sangat panjang karena ini baru seri pertama. Jualan utama para penyihir ini ya imaji, paling shocking pas Newt masuk ke koper. Paling aneh pas Niffler memasukkan perhiasan ke kantong ajaib. Paling takjub pas Occamy masuk ke teko, wuuuuihhh saya tepuk tangan di bioskop. Dan paling sedih pas Jacob dipayungi. Kita tunggu petualanganmu ke Papua, Newt. Kita tunggu…

image

#6. Silence – Martin Scorsese | review lengkap
Am I just praying to silence? Sebuah perjalanan suci pencarian Tuhan yang berakhir hampa di Oscar. Agama di zaman itu memang berfungsi ganda sebagai pegangan kolonialisme. Para Padre itu bisanya hanya berdoa, tak tahu bahwa rawa tak cocol ditamani bunga mawar. Dan Scorsese menyajikan pergolakan hati orang-orang beriman itu dengan sangat berani.

image

#5. Manchester By The Sea – Kenneth Lonegan | review lengkap
Sekumpulan orang frustasi bersatu tak bisa dikalahkan. Manchester bersatu tak hanya milik Inggris. Chemistry paman-ponakan melawan nasib buruk untuk bertahan hidup di kerasnya fakta yang mengelilingi. Aura suram disebar di udara sepanjang jalinan kisah. Sebuah indi yang menyabet naskah terbaik dan aktor bergumam yang diganjar piala.

image

#4. Captain Fantastic – Matt Ross | review lengkap
Film filsuf. Pilihan hidup yang tak lazim karena sepasang suami-istri mengasingkan diri ke hutan, lari dari hiruk-pikuk masyarakat untuk membesarkan anak-anak mereka agar mandiri. Matt Ross mengajak kita mengenal lebih dekat ajaran Noam Chomsky dan seluruh kegilaan kitab-kitabnya. Tentu saja penggemar Metalica ikut berdendang.

image

#3. Zootopia – Byron Howard, Rich Moore 
Lupakan Pixar. Disney kali ini tak perlu (bantuan) Pixar untuk memukau penonton. Tahun ini kartun ketat sekali. Era makin canggih, CGI sudah begitu mengelabuhi pandangan. Ditunjang naskah bagus dengan presentasi para karakter yang memorable, ‘Hello Flash,,,!’ Zootopia adalah hadiah buat para penggemar fabel snob. Para binatang itu bukan hanya diminta berbicara dan berfikir tapi juga diajak bertindak untuk menentukan nasib guna mewujudkan mimpi-mimpi yang mustahil. Animasi of the year.

#2. Captain America: Civil War – Anthony Russon, Joe Russo | review lengkap
Di sektor superhero, juara tahun ini adalah Perang antar teman. Klimak adegan di bandara itu adalah salah satu yang akan saya kenang sebagai view-gasme cinema. Yang namanya teman, gesekan pasti ada, “I wanna punch you in your perfect teeth”. Hi, Tony berhak marah. Kalau awalnya marah sambil bercanda, di akhir kisah marahnya meledak. ‘Punch’ itu bahkan sangat layak mendarat ke wajah jagoan kita, sang kapten yang tampan. Puncak segala daki Marvel itu membuatku ragu untuk petualangan berikutnya, apakah bisa sesukses fase satu?

image

#1. Arrival – Denis Villeneuve | review lengkap
Ladies and gentlemen, please stand up and give applaus for the best picture yang the year: Arrival. Naskah cerdas, menyimpan kejutan rapi sekali. Teka-teki identitas gadis itu ternyata hanya ada di benak Loiuse Banks. Kamvret benar ya, kita ditipu. Bagaimana Alien bisa sesantun dan berniat sebaik itu perlu kita cermati lebih dekat. Bagaimana bisa sebuah tulisan itu bukan dari kiri ke kanan, atau sebaliknya. Bukan dari atas ke bawah, atau sebaliknya. Tulisan yang merasuki otak kita selama ini ternyata membuat kita memadang hidup ini lempeng bahwa waktu itu linier. Bayangkan tulisan cakar ayam balita, bisakah mereka mengintip hari esok jua? Andai bermakna, suatu saat nanti mungkin saat teman-teman Abott dan Castelo kembali mendarat ke bumi, pastinya mereka sukses merebut piala di bawah sinar rembulan. Alien di bawah sinar bulan berwarna biru.

Karawang, 310317 – Harry Birthday Winda Luthfi Isnaini
Glee – Don’t Speak

Iklan

Hacksaw Ridge: War Story With Superbly Scrafted Screenplay

image

image

Desmond Doss: I dont know how I’m going to live with myself if I dont stay true to what I believe.

Ini adalah tipikal film perang yang penuh ledakan. Citarasa blockbuster yang sukses mengetuk juri Oscar. Banyak antipati terhadap niatan dibalik film ini, bahwa sebuah propaganda Amerika yang diagungkan sebab dalam sejarahnya serangan sekutu ke Jepang di tahun 1945an itu sejatinya adalah puncak Perang Dunia Kedua. Bahwa Jepang, yang dalam film ini digambarkan luluh lantak dan frustasi atas dendam kesumat lawan terhadap serangan Pearl Harbor. Hasilnya? Yah, saya sih menikmati aja. Sekalipun ada embel-embel ‘berdasar kisah nyata’, tapi tetap dramatisasi selalu ada ‘kan?

Kisahnya dimulai dengan ledakan, tembakan, semburan api memenuhi layar, mayat-mayat bergelimpangan dan narasi bagus. “Apakah kalian tidak tahu, Tuhan itu kekal, mencipta langit dan bumi. Dia tidak pernah lelah dan pemahaman-Nya melampaui apapun. Dia memberi kekuatan bagi yang lelah dan menambah tenaga nagi yang lemah. Bahkan remaja bisa lelah dan orang dewasa mampu terpuruk. Tapi bagi mereka yang percaya kepada-Nya akan tetap kuat. Mereka akan mengepakkan sayap bagaikan elang. Merek akan berjalan dan takkan lelah, mereka akan lari dan takkan terpuruk”. Kutipan ini dinukil dari The Book of Isaih, chapter 40.

Pegunungan Blue Ridge, Virginia pada masa 16 tahun sebelum adegan pembuka yang menyeramkan itu. Sebuah keluarga Amerika digambarkan punya trauma terhadap Perang Dunia Pertama. Tom (Hugo Weaving) adalah seorang kepala keluarga yang menyimpan luka, ia sering mengunjungi makam temannya yang tewas akibat perang dan melukai tangannya. Ibunya Bertha (Rachel Griffiths) lebih lembut dalam membesarkan anak. Dua putranya dididik lebih religius, bahwa membunuh itu dilarang, sekalipun itu dalam perang membela negara. Desmond (Darcy Bryce) dan Hal (Roman Guerreiro) sangat akrab, main kejaran dan perang-perangan. Saat layar memperlihatkan Desmond menghantam kakaknya hingga terluka ia kena hukuman, sempat khawatir Hal tewas karena tatapan hampa Desmond menghadap layar dan berjalan dibuat seram. Ternyata ia menatap lukisan tentang 7 Dosa Besar dimana nomor enam adalah: Thou shalt not kill – Tak boleh membunuh. Kejadian ini traumatis, dan kelak jadi pegangan prinsip hidup sang jagoan. Dunia ini adalah tempat yang lembut dan ramah.

15 tahun berselang. Saat dewasa, sang kakak sekalipun dalam pertentangan nekad mendaftar militer. Dengan segala resiko ia menjadi tentara.’Banyak anggota Gereja juga ikut, bekerja di pabrik kertas tentu tak akan menyelamatkan Negeri ini.’ Tentu aja Keluarga kecewa, sang adik (dimainkan dengan bagus oleh Andrew Garfield) awalnya mamandang sinis, tapi cinta mengubah segalanya. Suatu ketika ia berkenalan dengan seorang perawat cantik Dorothy Schutte (Teresa Palmer) di rumah sakit Lynchburg saat mengantar seorang anak yang terluka, Desmond digambarkan cekatan menangani orang luka dengan cepat ia melepas sabuknya untuk diikat di kaki yang luka guna menghentikan pendarahan. Di rumah sakit itulah ia menyaksikan bahwa “mungkinkah ini jalan untuk melayani negara.” Terpesona pada pandangan pertama, ia melakukan donor darah. Proses mendonornya dibuat bagus banget, dimana Palmer ngomongin donor, Garfield menjawab dengan pandangan penuh kasih. Esoknya ia bersemangat sekali, berseri-seri kembali ke rumah sakit. Kembali mau mendonorkan darahnya, tentu saja ditolak. Harus minimal 3 bulan. Sang suster dengan bersemu merah menjelaskan. Tapi malah digombali, “sejak kau menyentuhku, jantungku berdegub lebih kencang, setiap kali memikirkanmu degubnya makin cepat.” Well, Saya melatihnya sepanjang malam. Gadis mana yang tak luluh coba? Akting Garfield natural sekali, khas remaja jatuh hati dengan tatapan mata berbinar dan kalimat terbata.

Kisah sesungguhnya film adalah keputusan Doss mendaftar militer. Bukan sebagai tentara, tetapi sebagai paramedis. Ia tak mau membunuh orang tapi menyelamatkan orang. Mulia sekali niatannya. Memasuki babak baru kehidupan, berlatih keras dalam pemploncoan di Fort Jack. Beberapa bagian dibaut mirip dengan ‘Full Metal Jacket.’ Keras, sadis dan sangat mengintimidasi. Doss bahkan di-bully dan dikucilkan semua temannya, dihukum berat hingga digebuki ramai-ramai sampai memar. Mel Gibson cerdas sekali membuat penonton ikut terhanyut. Ia bisa melewati semua, tapi saat akhirnya diminta pegang senjata ia menolak. Absurb. Seorang tentara tak mau pegang bedil sekalipun dalam latihan! Terdengar mengada-ada tapi faktanya Doss memang tak mau menyentuhnya. Ia mendaftar di bagian pengobatan sehingga seharusnya bisa ada di belakang pasukan, bukan di front terdepan.

Termasuk saat akan berangkat perang, ia malah disidang mahkamah militer. Sebuah penghinaan terhadap seragam US Army. Saat hukuman akan dijatuhkan datanglah sang ayah mengenakan seragam Perang Dunia Pertama membawa surat sakti dari Brigjen Musgrove – rekannya kala tempur. Surat itu membuat Doss tetap bisa berangkat perang, dengan tetap memegang teguh prinsipnya.

Di bulan Mei 1945, saat mereka diterjunkan di Okinawa, tempat mencekam lembah di Jepang, sebuah Hacksaw Ridge, bak sebuah neraka film ini menemui epic battle-nya. “Well, Dorothy looks like we’re not in Kansas anymore.” Selama satu jam kalian akan menyaksikan sebuah pertempuran kelas wahid. Dibuat dengan megah dan luar biasa seru. Battlefield-nya sangat  mendukung untun tempur. Hebat sekali pengambilan gambar, special efek sampai pada skoring. Perang penuh kepulan asap tapi tetap pesan yang disampaikan dapat, dengan benang merah peran Doss terjaga hingga akhir. Berhasilkah mereka menaklukkan lembah? Selamatkah Doss?

Ketika film usia, ada kutipan-kutipan dari Doss, Hal dan para saksi. Berapa sebenarnya yang diselamatkan Doss? Ia bilang 50 tapi para saksi bilang ratusan. Tapi closing credit-nya menyebut 75. Adegan saat ‘Tuhan, bantu aku menolong satu orang lagi’ itu sangat menyentuh. Perang memang kejam. Sekalipun Amerika klaim kemenangan, jiwa-jiwa pasukan mereka terluka. Doss mendapat medali kehormatan, dan menjadi pembangkang pertama yang membuatnya mendapat gelar Pahlawan Perang.

Film kembalinya Mel Gibson ini pantas dipuji, terakhir ia membuat film tahun 2006, Apocalypto. Satu jam akhir di perang itu menurut sang sutradara terilhami dari mimpi buruknya saat masih kecil di mana ayahnya Hutton Gibson adalah veteran Perang Dunia Kedua di Normandy. Ayahnya sering cerita sebagai pengantar tidur Mel. Bayangan mencekam itu diaplikasikan dalam film. Milestone sang sutradara kini makin mengkilap. Menurutku mending jarang buat film tapi berkualitas ketimbang sering-sering tapi sampah. Mel Gibson ini salah satu aktor yang sukses bertransformasi ke balik kamera. The Passion Of The Crist yang sukses luar biasa. Braveheart yang menghebohkan panggung Oscar. Dan kini setelah bertapa satu dekade ia membuat lagi film hebat. Sangat patut ditunggu proyek film beliau berikutnya.

Hacksaw Ridge | Year 2016 | Directed by Mel Gibson | Screenplay Robert Schenkkan | Cast Andrew Garfield, Hugo Weaving, Rachel Griffiths, Teresa Palmer, Tyler Coppin, Sam Worthington, Vince Vaughn | skor: 4/5

Karawang, 290317 – Sherina Munaf – Demi Kamu Dan Aku

Moonlight: Good Things But Best Picture?

image

image

— catatan ringan ini mungkin mengandung spoiler – – –

Juan: At some point, you gotta decide for yourself who you’re going to be. Can;t let nobody make that decision for you.

Film pemenang best picture. Salah satu yang tak sempat kutonton sebelum penganugerahan. Setelah menyandang gelar, saya merasa hampa meluangkan 2 jam perjalanan Chiron. Aneh, film sederhana gini menang piala tertinggi. Kalau yang dilihat perjalanan hidup: anak-anak, remaja, dewasa: Boyhood jelas juaranya. Kalau yang diusik kaum gay-nya Brokeback Mountain unggul segala. Kalau yang difokuskan warna kulit, momentum itu sudah lewat 12 Years A Slave lagian tahun ini Hidden Figures – yang juga ada Janelle Monae dan Mahershala Ali – jauh lebih berkelas dalam perjuangan persamaan hak. Jadi bagaimana bisa film ini merebut hati juri Oscar? Kalau alasan untuk menjungkalkan La La Land, nah sedikit setuju. Plot La La Lah terlalu lemah untuk dikatakan yang terbaik.

Kisahnya dibuka dengan sebuah transaksi narkoba. Juan (dimainkan dengan bagus sekali oleh Mahershala Ali – menjadikannya sebagai Muslim pertama yang menang Oscar) bertemu pengedar meminta laporan. Dengan latar sebuah perkampungan kulit hitam, ada anak-anak berkejaran di depan Juan, lalu fokus kamera berpindah kepada kejaran anak-anak tersebut. Chiron ‘little’ (debut bagus Alex Hibbert) adalah korban bullying, ia berlari mencari tempat sembunyi. Saat akhirnya mereda, Juan masuk menyapanya. Tak ada jawaban. Juan lalu mengajaknya makan, memberinya tempat berteduh, bertemu pacarnya Teresa (Janelle Monae). Awalnya ia diam, tapi mendapat sambutan hangat itu membuatnya buka suara memperkenalkan diri.

Esoknya Little diantar pulang. Ada adegan sederhana saat ia dalam perjalanan, ia mengeluarkan tangannya dari pintu mobil sambil memainkan telapak tangan seakan pesawat terbang. Diiringi skor lembut yang menenangkan. Sesampainya di rumah, ibunya Paula (Naomie Harris) marah-marah, main ke mana aja woy, kenapa ga pulang? Sambutan ibunya dingin dan tak bersahabat. Namun hal ini tak membuat Juan emosi karena nantinya mereka malah jalan lagi. Adegan di trailer saat Ali menggendong anak kecil di pantai itu dibingkai dengan bagus. Dan kutipan ‘running around, catching a lot of light. In moonlight, black boys look blue.’ Salah satu adegan terbaik ya saat Juan menasehati Chiron itu. Karena di suatu masa, kau harus memutuskan mau jadi apa kau. Bukan orang lain, tapi kamulah yang mengambil keputusan itu.

Chiron bersahabat karib dengan Kevin (Jaden Piner). Mengajarinya berkelahi, menghadapi kerasnya hidup bahwa kamu itu sebenarnya tak lembek. Kehidupan Chiron memang keras. Ibunya adalah pengguna narkoba, yah kalian bisa tebak akhirnya ‘kan? Kalau ga mati ya ke panti rehab. Melalui hidup tanpa perhatian orang tua membuatnya sering berkunjung ke rumah Teresa, di sana ia mendapatkan kasih sayang.

Saat memasuki usia remaja, Chiron (Ashton Sanders) adalah lelaki pendiam. Menyendiri dalam kegalauan. Suatu hari ia mendapat pengakuan rahasia sahabatnya Kevin (Jharrel Jerome) bahwa ia mendapat hukuman karena ketahuan bercinta dengan ceweknya. Kemudian Kevin memanggilnya dengan sebutan khusus Black. Suatu malam mereka jalan, saling curhat tentang masa depan. Di pinggir pantai itulah terjadi sesuatu yang membuatku me-rewind film. Kejadian yang sangat membekas buat Chiron, sebuah pengalaman pertama.

Dalam sebuah kelas, Chiron lagi-lagi kena bully. Membuatnya marah, hingga terpaksa membalas menghajar ketua genk sekolah. Akibat tindakannya ia harus masuk penjara anak-anak jauh dari segalanya. Memasuki kerasnya hidup yang sesungguhnya.

Sepuluh tahun kemudian, kita diajak ke Georgia, Atlanta. Chiron ‘Black’ kini sudah kaya menjadi pengedar narkoba, mengikuti jejak Juan. Kini ia macho karena rajin olahraga, dengan kalung, gigi emas, peci ala Juan, dan mobil mewah dengan plat istimewa BLACK305. Suatu malam ia mendapat telpon dari Kevin (Andre Holand) yang kini telah menjadi koki. Ia mendapat nomor HP dari Teresa, mengundangnya bertemu kalau mau, dan akan membuatkan menu spesial.

Dengan segala kegamangannya, Black lalu memutuskan ke Florida. Bertemu ibunya yang kini lemah dan hopeless. Lalu mengunjungi restoran Kevin, tanpa memberitahunya ia memberi kejut. Diiring lagu ‘Hello Stranger’ nya Barbara Lewis. Dan sahabat lama ini kembali berjumpa. ‘I am me. I ain’t trying to be nothing else’. Saat akhirnya mereka bisa berdua dan berbincang lebih intim, sesuatu yang mengejutkan diucap Black. Akankah ada kesempatan kedua? Karena saat film ditutup, dengan kamera mengambil sudut punggung si little malah memandang pantai di bawah sinar rembulan, lalu dalam deburan ombak ia memalingkan wajah menghadap penonton dan ekpresinya datar.

Kisah asli film ini diambil dari drama karya MacArhur Fellow Tarell Alvin McCraney – yang juga seorang gay – berjudul In Moonlight Black Boys Look Blue. Diilhami masa lalunya, begitu juga sang sutradara Barry Jenkins juga memiliki masa kecil yang mirip Chiron sehingga ia menyebutnya ‘a beautiful struggle’. Dipecah dalam tiga masa: anak-anak – Little, remaja – Chiron, dan dewasa – Black. Dimana setiap masa diperankan aktor yang berbeda. Dalam proses produksinya mereka bertiga tak pernah bertemu agar bisa membangun jiwa karakter masing-masing, hal yang sama diberlakukan untuk Kevin. Debut bagus Alex Hibbert, saya yakin ke depannya ia akan jadi aktor besar. Kalau tak salah tangan dan jeli pilih peran Alex suatu saat akan bersaing di best actor, suatu saat nanti.

Film yang budget rendah ini ternyata (salah satunya) dibiayai Plan B, rumah produksi milik Brad Pitt. Wow berarti ia sukses beruntun dong sama 12 Years A Slave. Menjadikan film dengan biaya paling rendah yang bisa menang best picture! Secara nominal memang lebih besar dari Rocky-nya Sylvester Stallone tapi secara inflasi lebih kecil. Kekuatan utama film ini ada di naskah yang rapi, akting yang natural, pengambilan gambar yang unik dimana Jenkins sering memainkan kontras dan atmosfer yang ragu dan skoring yang pas. Secara cerita biasa saja, minimalis tak banyak kejutan. Coba bandingkan dengan kemewahan Arrival, yang kujagokan. Jauh sekali. Makanya saya kasih judul: film bagus dengan beberapa kelebihan, tapi menjadi pemennag best picture? Alamak!

Setelah dikecewakan The Hurt Locker, kini ada lagi film yang bagiku tak layak menang. Disela itu masih bisalah kita angkat topi, walau kualitas bukan di nomor satu semua. The King’s Speech punya gagap. The Artist yang hitam putih dan membisu. Argo yang propaganda unik ke Timur Tengah. 12 Years A Slave yang punya judul spoiler parah. Birdman yang punya long scene take tanpa putus. Spotlight yang kontroversial. Tapi Moonlight? Astaga, juri Oscar snob akut.

Moonlight | Year 2016 | Directed by Barry Jenkins | Screenplay Barry Jenkins | Cast Trevante Rhodes, Andre Holland, Janelle Monae, Asthon Sanders, Jharrel Jerome, Naomie Harris, Mahershala Ali, Alex Hibbert | Skor: 3/5

Karawang, 280317 – Christina Perri – Human

Collateral Beauty: Every Tragedy Is Accompanied With Beauty

image

Brigitte: Who won? You or the porcelain?

Dipimpin Will Smith, jajaran cast-nya juara. Bintang utama kelas Oscar semua, dua pernah menang, tiganya pernah dinominasikan. Sayangnya film ini menipu, kualitasnya jauh dari harapan. Wajar sekali tak dilirik di banyak penghargaan. Gesture para karakter seolah meminta piala, namun payahnya dibarengi cerita tak mumpuni. Ibarat masakan, bumbu-bumbunya sudah kelas wahid, racikannya ngasal dan kokinya memang tak pengalaman di restoran bintang lima sekelas WB, Village Road dan New Line Cinema. Hasilnya, para panikmat makanan itu malah ingin muntah. Aneh sekali bintang-bintang besar itu mau bermain di film yang sangat dipaksakan.

Kisahnya sebenarnya menarik sedari awal, sayangnya hanya di awal. Howard Inlet (Will Smith) memberi sambutan di depan karyawan Danworth Financial (syutingnya beneran di kantor agen iklan Wieden Kennedy di New York, maka terlihat sangat asli settingnya) sebuah kunci sukses. Ada tiga koneksi yang erat antara Cinta, Waktu dan Mati. Optimisme anak muda. Diringi tatapan senyum dan tepuk tangan wajah-wajah familiar movie mania. Lalu melalui sebuah pengambilan kamera memutar sang protagonis, cerita langsung lompat ke tiga tahun berselang, mimiknya kini berubah manyun. Howard sedang menyusun domino lego yang megah, lalu ia menjentikkan jarinya ke donimo start hingga roboh beruntun. Susunan yang membutuhkan lima hari itu-pun runtuh. Mainan orang yang punya waktu melimpah ini. Lima hari disusun dengan ketelitian tinggi, porak poranda dalam hitungan detik.

Tiga rekan kerja itupun berdialog mengenai kejiwaan Howard. Whit Yardshaw (Edward Norton), Claire Wilson (Kate Winslet), dan Simon Scott (Michael Pena). Bahwa mereka harus menyelamatkan Perusahaan karena mental Howard terganggu. Bahkan Whit sudah menyewa detektif Sally Price (Ann Down), seorang nenek mirip orang Mormon yang menyelidikinya hingga ketahuan selingkuh dan bercerai. Kehampaan Howard ternyata karena ia kehilangan putri semata wayangnya yang baru berusia 6 tahun. Kehilangan yang mengubah jalan hidupnya. Ia menjadi tak bersemangat menghadapi hari esok.

Suatu pagi, dengan bersepeda Howard mengirim tiga surat. Memasukkannya dalam bis surat. Kegalauan yang mencengkramnya makin akut, karena dari sang detektif kita tahu tiga surat itu tak beralamat jelas hanya ditunjukkan kepada Love, Time dan Death. Mengambil surat dari bus surat adalah sebuah tindakan kriminal. Wow, sampai di sini ide itu masih sangat menarik.

Waktu: “Mereka berkata kau akan menyembuhkan luka tapi mereka tak menceritakan bahwa kau menghancurkan semua hal indah di dunia. Bagaimana kau mengubah semua keindahan jadi abu. Kau tak ubahnya sepotong kayu bagiku. Kau adalah jaringan rusak yang tak dapat terurai. Kau bukanlah apa-apa.”

Ada dialog aneh, karena setiap sore Howard terduduk di taman anjing. Whit sampai berujar ‘apakah ia juga mengirim surat kepada anjing?’ lalu teman-temannya menatapnya tajam, marah. Karena kalau ia melakukannya kita bisa buktikan kejiwaan Howard benar-benar terganggu. Lucu? Ya, aneh? Ya. Dan kalimat itu diucapkan oleh aktor sebesar Norton!

Ide gile berikutnya adalah mereka menyewa tiga aktor untuk memerankan tiga kata kunci. Raffi (Jacob Latimore) sebagai waktu, Amy (Kiera Knightley) sebagai cinta dan Brigitte (Helen Mirren) sebagai kematian. Mereka bertiga diminta berbincang dan menasehati Howard, mereka seolah tak terlihat. Dibantulah aktor lain yang berujar seolah Howard berbincang sendiri. Sampai disini kebobrokan film mulai tampak.

Di antara rencana gila itu, ada adegan menyentuh saat Howard suatu malam bergabung ke klub duka. Di mana semua member melingkar duduk, berpegangan tangan lalu bercerita kisah dukanya. Wajah-wajah sedih itu berbagi pilu. Klub terapi ini dipimpin oleh Madeleine (Naomi Harris), ia adalah seorang janda yang kehilangan putri satu-satunya. Howard awalnya ragu, lalu gugup dan menjauh. Tapi selalu dikuatkan pikiran untuk dapat berbagi agar hatinya bisa tenang, lega. Beban kalau dipikul bersama, diucapkan, tidak tertahan akan terasa lebih ringan.

Sementara tiga teman kita ini punya plot kisah sendiri. Mereka juga punya alasan untuk menyelamatkan karir karena alasan yang beragam pula. Whit dengan anaknya Allison Yardshaw (imutnya Kylie Rogers) yang marah karena ia berbohong dan selingkuh. Claire dengan masalah kandungan dan Simon yang punya penyakit kronis tapi tak bercerita dengan keluarga. Seberat apapun masalah mereka, mereka punya niat jelek. Kebobrokan konco-konco ini makin memuncak saat, mereka berniat merekam tiap adegan Howard berbincang dalam hampa. Lalu menunjukkannya ke direksi bahwa benar, Howard memang sudah gila. Jadi berhasilkah mereka menyelamatkan Perusahaan?

Dan saat rekaman itu diputar, itulah puncak kebusukan film ini. Editing-nya fantastis sampai-sampai Will Smith tak bisa nalar. Logika dibuang ke tong sampah. Entah kenapa para bintang ini mau bergabung dalam film dengan script buruk seperti ini. Walau ada twist, ya kisah ini ada twist. Tapi tetap perjalanan menuju pengungkapannya sangat payah. Tertatih-tatih, lemas sebelum mencapai pundak.

Kutipan ‘just make sure you notice the collateral beauty’ harusnya masuk top ten kutipan terbaik 2016. Dibarengi tatapan Brigitte yang menusuk, bagian ini sedikit menyelamatkan plot bodoh yang ada. Tema kehilangan orang terkasih lalu mencoba bertahan menghadapi hidup sudah banyak dibuat Hollywood. Karena pada dasarnya cerita memang memainkan konflik, sayangnya Collateral Beauty kehilangan imaji-nya. Terlalu fokus menyimpan twist namun menghalalkan segala cara agar penonton terkecoh.

Will Smith mulai meredup. Dua filmnya di tahun 2016 flop. Ini dan Suicide Squad yang terpuruk. Ada apa dengan Smith? Norton juga sama buruknya di film-nya. Kaku, bahkan saat adegan ia mengejar Kiera itu jelek banget. Larinya ketika keluar gedung menuju teater ga natural.

Film ditutup dengan lagu bagus One Republic yang berkumandang sampai kredit title kelar berjudul ‘Lets Hurt Together’. Wah wajib cari ini lagi, setidaknya mengobati rasa kecewa Collateral Beauty.

Collateral Beauty | Year 2016 | Directed by David Frankel | Screenplay Alan Loeb | Cast Will Smith, Edward Norton, Kate Winslet, Michael Pena, Helen Mirren, Naomie Harris, Kiera Knightley, Jacob Latimore, Ann Down, Alyssa Cheatham | Skor: 2/5

Karawang, 240317 – Letto – Sandaran Hati
Gajian Day

Manchester By The Sea: Depressing & Tragic Movie Of The Year

image

image

Lee Chandler: No. No. You don’t understand, there’s nothing. There’s nothing there. There’s nothing there.

Nasib sial tak ada yang tahu. Takdir hidup memang misteri. Kalau tuah tak bisa membuat pribadimu bersedih atas jiwamu, Tuhan akan merenggut orang-orang terkasih untuk memaksamu bersedih. Tuhan juga bisa membuatmu hidup dengan orang-orang yang tak sesuai seleramu. Tapi, DIA selalu memberimu harapan. Selalu ada harapan bagi kaumnya yang mau berusaha. Manchester By The Sea adalah film sederhana, laiknya kehidupan sehari-hari di sekitar kita, memainkan nasib manusia. Tapi eksekusi, akting dan naskahnya juara. Sebuah film indie yang meledak tanpa rentetan peluru.

Superb sekali. Ini adalah film personal. Mengejutkan, sebuah film kecil produksi ‘B Story’ bisa sebagus ini dan pantas menang naskah terbaik di Oscar 2017. Kisahnya adalah pergolakan batin seorang pria yang frustasi, pria ceria yang terenggut jiwa senyumnya. Pria dengan tatapan hampa ini diperankan dengan gemilang oleh Casey Affleck. Sangat pantas menang best actor. Awalnya kukira ini adalah Manchester yang ada di Inggris, yah semua orang – kecuali warga aslinya – pastinya mengira bahwa Manchester adalah sebuah kota di benua Eropa. Ternyata bukan, ada Manchester lain di Amerika. Awalnya hanya Manchester tapi mulai tahun 1989, kota itu resmi bernama Manchester-by-the-sea. Sebuah kota kecil di semenanjung Massachusets. Kota asri sekitar 2 jam perjalanan dari Boston itu menjadi setting cerita drama keluarga yang sangat solid.

Cerita dibuka dengan absurb. Lee Chandler (diperankan dengan brilian oleh Casey Affleck) adalah pekerja tukang bersih-bersih di tanah rantau. Tukang pipa yang bertugas dari rumah ke rumah. Menemui berbagai karakter dari yang egois marah-marah, ada yang jatuh hati padanya, ada yang baik hati karena merasa ga enak hati pipanya jorok hingga memberi tips. Lee dengan tampang datar tanpa ekspresi melakoni kerasnya hidup. Malamnya ia minum-minum buang waktu di bar. Hidup yang yang sangat membosankan. Ditemani rintikan salju yang membuat beku hati setiap individu yang merana.

Suatu hari saat bekerja Lee mendapat telepon dari rumah sakit bahwa kakaknya Joe Chandler (Kyle Chandler) mendapat serangan jantung. Hal ini memaksanya cuti beberapa hari untuk mudik ke Manchester, kampung halaman yang pernah melukai hatinya. Dalam sebuah scene sederhana, kamera mengambil gambar dari balik kemudi mobil Lee, sebuah perjalanan hidup manusia menelusuri kenangan pahit. Sesampai di sana ternyata Joe sudah meninggal. Kesedihan terlintas di wajah Lee, dunia memang tak bersahabat dengannya. Adegan saat Lee memeluk mayat kakaknya itu sungguh menarik. Ekspresi sedih mendalam ditinggal orang terkasih.

Kisah sesungguhnya dimulai di sini. Proses pemakaman Joe menuai banyak masalah. Mulai pendaftaran ke pihak pemakaman, tanah yang keras akibat terpaan salju, anak tunggal si Patrick Chandler (Lucas Hedger) yang tak lazim dalam berlogika, hak warisnya ke arah siapa sampai keputusan-keputusan hidup ke depannya. Si Patrick Stars (heleh, langsung keingat temannya Spongebob) adalah pemuda tanggung yang buruk, contoh generasi milenia yang tak patut dicontoh. Tahu ayahnya meninggal dunia, ia tak ada ekspresi sedih ditampilkan. Saat diajak ke rumah sakit untuk melihat mayat ayahnya, ia ragu. Kalimat ‘Ayo kita pergi’ di dalam mobil itu terdengar biasa, tapi begitu bernyawa. Absolut. Kelakuan bobrok ini anak, malam kematian orang tuanya malah ngajak ceweknya menginap!

Patrick akhirnya harus tinggal bersama Lee – walinya, sesuai wasiat almarhum. Keduanya tak cocok. Lee kecewa karena ia ‘kan tinggal di Boston sebagai tukang ledeng, kenapa dipaksa tinggal sama ponakannya yang aneh? Sang keponakan juga kecewa, karena masih dalam usia remaja maka ia tak boleh mengambil hidup keputusan sendiri, harus ada wali sehingga dua karakter aneh ini begitu ‘menggemaskan’ saat tinggal satu atap. Bagaimana suatu siang Lee marah-marah kepada orang asing terkait pemakaman yang tertunda sehingga mayat harus dibekukan. Bagaimana Patrick, pemuda ga jelas ini mengakali cewek yang berkunjung ke rumahnya. Bagaimana band gajebo-nya bermusik dengan hancurnya. Bagaimana Lee seorang duda yang tak bisa menikmati hidup saat dikenalkan dengan wanita single tapi pasif. Wali yang buruk. Dan seterusnya dan seterusnya. Kompleks, pintar sekali yang buat skenario.

Akhirnya kisah menemui titik temu jawab saat baru setengah jalan. Alasan kenapa Lee bisa menjadi begitu hampa dijelaskan dengan kekuatan naskah yang rapi. Ia adalah ayah dan suami yang sembrono, yang cuek dan yah mungkin childish. Sebelum tragedi terjadi ia adalah orang yang ceria. Begadang dengan teman-temannya, main poker, ngopi, mancing, tertawa lepas. Tragedi itu telah merenggut jiwanya. Ditambah istrinya Randi Chadler (diperankan dengan tak kalah brilian oleh Michelle Williams, walau menitnya minim sekali) yang menimpukkan semua salah padanya hingga mereka harus berpisah. Hidup memang kejam. Bagaimana akhir kisah dari sekumpulan manusia frustasi ini?

Akting dua bintang utama di suatu sore saat Williams mendorong kereta bayi dan Casey mengenakan jaket itu juara, keren banget. Salah satu adegan paling bagus sepanjang tahun 2016. Bagaimana si cewek masih mencintainya, meminta maaf, dan merangkul dalam tangis. Bagaimana Casey masih tanpa ekspresinya, datar karena kehilangan kotak senyumnya. Casey memang layak menang Oscar, sudah kutebak sedari awal ia pantas. Michelle juga kutebak namun salah. Tebakan subjektif sih karena kekesalanku atas kekalahannya di Blue Valentine. Michelle tampil sebentar tapi sangat bernyawa. Si pirang yang sukses memukauku.

Untuk yang suka drama, jelas ini adalah film wajib. Menjadikan film keempat Oscar 2017 yang kuberi nilai sempurna. Dalam sebuah pesiar ada sekelumit kalimat yang berbahaya – sebuah harapan. Makanya hati-hati dengan apa yang kamu minta. Dengan ditemani ombak yang menggoyangkan kapal Claudia Marie, obrolan paman-ponakan itu berlangsung. “Andai kamu terperangkap dalam goa, siapa yang pertama kamu inginkan menemani?” Dengan sambil tersenyum menjawab, “Pamanlah!” kalimat itu ternyata didengar Dewa Laut sehingga akhirnya mereka benar-benar tinggal seatap. Unik ya, sekelumit dialog itu membuat deru traumatis sepanjang film berlangsung.

Satu-satunya orang normal di film ini dimatikan. Sebuah ide cerdas untuk menuntun penonton mengikuti sekumpulan orang depresi. Film ini juga memainkan ironi. Saat kapal itu berlayar semua tampak ceria. Namun ketika adegan berikutnya, Lee dan Patrick seakan menjadi dua kutub yang berseberangan. Muram dan depresi. Kemudian magnet itu dibalik lagi untuk saling menarik guna menyelamatkan hari. Ending-nya juga pas banget. Chemistry hebat keluarga Chandler.

Poin penting lain yang saya dapat adalah, Kenneth Lonergan sudah membaca dan menelaah buku ‘Orang Asing’-nya Albert Camus. Saya jamin. Adegan saat Patrick tak mau melihat mayat ayahnya, lalu malamnya bercinta adalah gambaran visual Meursault. Apakah kesamaan seperti ini termasuk menjiplak? Nope, ini adalah kejelian sang kreator. Saya lebih suka menyebut ‘terinspirasi’. Cerdas sekali dia memupuk kisah usang menjadi tragedi modern.

Baju sweeter yang dikenakan Casey saat diinterogasi dua polisi berwarna hijau bertulis “Pratty’s”. ini juga ironi dari fakta yang terlangsung. Bagaimana bisa seorang ‘pembunuh’ tak dipenjara? ‘Hanya itu saja?’ Ya. Memang tak ada hukum karena tragedi itu lebih ke kecelakaan, namun kan ini karena keteledoran? Wajar sekali Lee sepanjang film menanggung dosa besar. Berat sekali.

Manchester By the Sea adalah film paling depresi tahun ini. Sangat menginspirasi. Kalau kalian ingin membuat cerita bagus, matikan saja karakter normal dan biarkan sekumpulan depresif mengambil alih kisah.

Manchester By the Sea | Year 2016 | Directed by Kenneth Lonegan | Screenplay Kenneth Lonergan | Cast Casey Affleck, Michelle Williams, Kyle Chandler, Lucas Hedges | Skor: 5/5

Ruang HRGA NICI, Karawang, 230317 – Sherina Munaf – Semoga Kau Datang

Hands Of Stone: Duran Duran

image

image

Kisah petinju terbesar Panama difilmkan. Dengan bumbu drama yang kental dan pertarungan legendarisnya dengan Sugar Ray, Manos de piedra alias Hands of Stone bisa saja meledak hingga gilang gemilang, namun sayang film ini salah penanganan, plotnya berantakan terlalu tergesa, script-nya terlalu lembek, film tinju tapi tak banyak jab dan hook sehingga pukulan dan tangkisan itu benar-benar sekedar akting, dan tak ada kejutan berarti. Hands of Stone terjatuh, Knock out. Terkapar sebelum bel akhir laga terdengar.

Kisahnya dimulai dengan sebuah kemenangan Robert Duran (Edgar Ramirez), salah satu penonton yang terpesona adalah pelatih tinju legendaris Ray Arcel (Robert De Niro) yang sudah menghantarkan banyak juara dunia. Pengamatan Arcel akan Duran dengan berbagai sudut slow-mo berlebih itu memang pas. “Kau diberkati itu sejak hari kau dilahirkan atau kau dikutuk tak memiliki itu sampai kau mati”, Dia lalu berbincang dengan promotornya Carlos Eleta (Ruben Blades – ia juga mengisi soundtrack), sebuah kejutan besar ia berniat melatih. Seusai tanding Duran makan setumpuk es krim, Duran tak mau dilatih Arcel karena ia seorang Amerika. Alasan kenapa ga maunya diutarkan lebih lanjut dalam kilas balik.

9 Januari 1964, Panama sedang berseteru dengan Amerika mengenai perbatasan. Sebuah terusan sepanjang 82 Km, memotong Amerika Utara dan Selatan yang menghubungkan samudra Pasifik dan Atlantik itu adalah milik Amerika, padahal itu adalah sumber ekonomi yang ada di pusat perdagangan Panama. Dalam buku sejarah Terusan itu adalah ‘hadiah’ Panama kepada Amerika karena membantu mereka merdeka dari Kolombia. Terjadi demo mahasiswa (sayangnya adegan ini dibuat buruk, lihatlah sebuah bus tergeletak dibakar, tapi jelas itu hanya properti. Tak ada sentuhan alami) yang menuntut hak konstitusi. Salah satu yang berjubel dalam huru hara itu adalah Duran kecil. Ia  menyaksikan sejarah negara sedang dicipta, lalu kabur dan naik pohon di perbatasan sekedar memetik mangga. Lari dalam kejaran penjaga, menyeberangi terusan. Sebuah upaya seni bertahan hidup.

Duran kecil hobi berkelahi. Salah satu guru hidupnya adalah Chaflan (Oscar Jaenada). Terlihat sekali sang guru mengajari apa itu hidup, cara menikmati setiap helaan nafas. Ironis, nantinya bagaimana Chaflan menghembuskan nafas terakhirnya. Petarung jalanan ini suatu ketika ingin dilatih tinju, awalnya ditolak. Namun saat ia sedang berkelahi sampai ditahan, akhirnya mau ditebus dan mendidiknya. Dari sinilah perjalanan karir panjang Duran ditulis. Ia selalu memenangi pertarungan amatir, mayoritas di-KO. Berjalannya waktu ia menatapi karir profesional.

Suatu ketika ia melihat seorang pelajar cantik berjalan seorang diri. Felicidad Iglesias (diperankan dengan sangat cantik oleh Ana De Armas) digodanya, tentu saja sebagai gadis baik-baik ia cuek. Tetapi luluh juga akhirnya melihat perjuangan sang pejantan, apalagi Duran dijemput mobil. Mereka dengan mudah ditebak akan bersama, menikah, punya banyak anak, dan terlihat seperti keluarga sempurna. Ada adegan absurb ketika Duran diperlihatkan majalah dengan sampul Sugar Ray, Duran ternyata buta aksara, tak bisa membaca sehingga Feli harus menjelaskan isi majalah tersebut. Unik ya, juara dunia tak bisa membaca, tugasnya hanya padu. Kisah lalu dirajut sebagaimana di awal tadi. Duran mau dilatih Arcel dengan beberapa pertimbangan. Duet ini lalu menaklukkan dunia. Musuh-musuh disikat, sabuk juara diraih dan Duran yang dari keluarga miskin kini bergelimang harta.

Puncak kisah ini adalah di Montreal, Kanada tantangan Duran terhadap Sugar Ray Leonard (Usher Raymond IV) – sebuah kebanggaan Amerika – yang gayanya mengikuti Muhammad Ali. Wajar saja Ray pernah dilatih oleh orang yang sama. Laga besar bulan Juni 1980 seakan pertaruhan antara Amerika versus Panama. Duran yang seorang juara kelas ringan menantang kelas welter. Laga perebutan gelar kelas menengah WBC. Laga 15 ronde jual beli serangan tak kenal lelah. Karena saya awam sejarah tinju tahun 1990an ke bawah, saya sempat terhanyut dalam dramatisasi perhitungan angka.

Pesta pora kemenangan digelar. Mobil-mobil turun ke jalan. Duran didaulat bak pahlawan, semua rakyat Panama memujanya. Bak seorang Robinhood, ia menghambur-hamburkan uangnya untuk orang sekeliling. Karena ia terlahir miskin maka puncak kejayaannya ini begitu membuncah. Tentu saja terjadi tarung ulang bulan November 1980. Proses menuju  tanding ulang sendiri dilihat lebih intens sehingga kita tahu alasan yang terjadi saat ia bilang ‘No Mass’ sebuah kutipan terkenal dari Duran. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa, tarung di puncak dan anti-klimak?!

Saat dalam titik nadir itulah kita diajak mengenal lebih dalam karakter Duran. Ayahnya yang Amerika, dan menelantarkannya. Istrinya yang marah, guru kecilnya yang terusir sampai pertarungan batin Arcel, American nama malah berada di sisi lawan. Karena ini bersinggungan politik maka kematian pahlawan Panama, Jenderal Omar Torrijos disebut. Adakah kesempatan kedua untuk Duran?

Saya dibesarkan zaman Si Leher Beton Mike Tyson berjaya, sebelum histori gigit kuping Evander Holyfield itu terjadi sehingga ia didiskualifikasi. Sebuah momen langka dalam adu pukul di atas ring. Era sebelum itu saya awam. Kalau ngomong Duran yang pertama terlintas jelas grup band asal England, Duran Duran. Musisi kontraversial ini walau besar di era 1980an saya sesekali menikmati Planet Earth, Careless Memories, Rio. Lalu ketika ada kata Sugar Ray yang terlintas pertama ya band Amerika Sugar Ray, apalagi mereka besar di generasi 90an jadi saya hafal lagu-lagu When It’s Over, Someday, Every Morning sampai Fly. Jadi saat ada sejarah mencatat dua ‘musisi’ bertarung saya (berusaha) menikmatinya. Hands of Stone sebenarnya sangat perpotensi meledak, dipandu aktor besar De Niro, petinju Raging Bull yang fenomenal itu. Sayangnya naskah dan penyutradaraannya tanggung. Yah, sekedar adu jotos tanpa jiwa dalam setiap pukulannya.

Yang mencuri perhatian adalah pemeran Felicidad. Cantik natural. Dari seorang pelajar yang lugu, istri yang panas, ibu yang lembut. Transformasi menawan oleh seorang aktris latin yang mewarnai setiap laga. Lalu akting De Niro juga sangat bagus, juara. Pergolakan batinnya, mimik sedihnya, tekanan di hari tua. Inilah film keempat ia berakting dalam film tinju setelah sebelumnya Raging Bull yang legendaris, Night and the City, dan Grudge Match. Ray Arcel sendiri adalah sosok yang luar biasa di dunia tinju. Ia adalah orang pertama sebagai pelatih tinju yang berhasil didaulat di International Boxing of Fame tahun 1991.

Karena sudut pandang kisah ini ada pada Duran, saya jadi penasaran bila cerita diambil dari sisi Sugar Ray. Di film ini Usher kelihatan kaku, dan jadi orang yang ‘dilemahkan’. Bagaimana dia mendapat perlakuan tak senonoh lewat kata-kata Duran. Bagaimana ia terobsesi, jadinya penasaran. Orangnya terlihat sombong, ego tinggi namun punya kelas. Sebagai petinju peraih medali emas olimpiade dan pernah juara di lima kelas berbeda, jelas Sugar Ray adalah legenda. Apakah ada film berdasar hidup Sugar Ray? Patut disimak.

Hands Of Stone | Year 2016 | Directed by Jonathan Jokubowicz | Screenplay Jonathan Jokubowicz | Cast Robert De Niro, Edgar Ramirez, Usher Raymond, Ruben Blades, Ana de Armas, Oscar Jaenada | Skor: 2,5/5

Karawang, 140217 – Maroons V – Maps
*) ditulis satu jam menunggu kick off Lazio v Torino

Focus On Keita, The Hottest Young Player

image

Cagliari vs Lazio.
4-3-3
Strakosha
Basta-De Vrij-Hoedt-Radu
Parolo-Biglia-Lulic
I.K.A

LBP
0-3
Semua daya LAZIO sedang on fire. Menang. Dominan. Keren. Seolah semua kalimat menawan sedang menyelimuti The Great. Lawan Cagliari laiknya studitur, dolanan. Radu udah pulih, jaminan pertahanan. Keita starter, ngeri. Main 10 menit aja musuh ketar ketir, bagaimana 90 menit. Rasanya 3 gol terlampau kecil. Bisalah nanti malam dakon setengah lusin. Jadilah saksi kawan!

Papa Win
Cagliari 3-1 Lajio, Borielo
Cagliari melesat. Lajio kepleset. Tower macet.

Arifin
Cagliari 0-1 Lajio. Immobile.
Main tandang. Lajio tetep menang. Om Budi girang. Om pulsa om.

Gabriel Jesus
Cagliari 0-2 Lazio, Immobile
Cagliasi raih hasil negatif. Lazio lanjutkan tren positif. 8 partai beruntun tak terkalahkan bikin adiktif..

Bagas
Cagliari 1 – 2 Lazio, Immo
Demi menjaga tren Lazio harus menang, lazio menang, om Budi girang.

Adolf Kabo
Cagliari 1-3 Lazio Immobile
Walo main kandang, bakal tetap sulit buat Cagliari meraih poin. Rekor pertemuan mereka juga memihak sang tamu. Jadi saya memprediksi Lazio akan membawa 3 poin.

Ajie Muser
Cagliari 1-1 Lazio. Immobile.
Waktunya mesin lazio berjalan agak melambat demi memuluskan langkah Il Biscione menuju Eropa karena UCL sesungguhnya ialah tempat sang ular seharusnya berada.

Deni
Cagliari 1-2 Lajio, Felipe Anderson
Lajio main tandang. Lazio tetep main menyerang. Cagliari keteteran di lini belakang. Akhirnya Lajio yang menang. Fans dan pelatih pun ikut senang 👍🏻

GG
Cagliari 0-4 Lazio. Immobile.
Demi Zona UCL. Tiga poin harga mati. Pulsa lantjar djaja.

Arief
Cagliari 0-2 Lazio. Felipe
Cagliari optimis menang di Sant’Elia. Lazio terancam tanpa sang kapten. Kemenangan tipis untuk Lazio.

Damar
Cagliari 2-3 Lazio. Immobile.
trend positive masih akan berlanjut serangan dari sayap akan kembali menjadi pembeda.

ceo bolaitubal
Cagliari 2-4 Lazio. Immobile
Aku tau aku suka gak nurut sama Lajio. Aku suka banget main. Tapi Lajioku selalu perhatian. Lajioku sabar banget. Lajioku selalu tahu yg terbaik untukku. Sekarang aku sudah tidak sakit lagi, Lajioku terbaik sedunia.

Imoenk malem mingguan
Cagliari 1 vs 2 Lazio, Keita Balde.
Ok dech kali ini dukung Lazio lagi. Tren positifnya keren banget. Yaaa moga-moga aja Lazio bisa ke UCL tahun depan, secara tetangga sebelah sering ndobos di UCL.

Takdir
Cagliari 1-3 Lazio
Skorer: Balde Keita Diao
Analisis: Buon Compleanno Ivan Vargic –  15 Maret 1987-2017. Ini Kiper ketiga atau kiper ‘Z’ alias paling akhir. Ketika Marchetti cidera, Thomas jadi utama Inzaghi malah manggil kiper primavera Borrelli jadi pelapis, dan Ivan tetap nomor 3. Seandainya  Thomas Fotaq Strakosha ikut  absen saya yakin  Borrelli naik, Inzaghi memulangkan Guido Guerrieri untuk  jadi nomor dua dan Ivan tetap nomor tiga!!! Olala, apakah kalian tak penasaran dengan permainan pemain sabar tipe Z gini? Di ulang tahunnya yang ke 30 siapa tahu Simone beri kesempatan langka itu dan kasih bukti. Dengan tridente Immobile – Keita – Anderson, gawang lawan PASTI jebol, sektor belakang bolehlah dicoba. #AvantiLazio # NonMollareMai.

Widy
Cagliari 1-4 Lazio, Immmobile
Rentetan kemenangan menanti lagi. Kali ini away ke Cagliari. Tidak masalah home away Elang Biru lagi dasyat. Berikutnya cagliari dihajar 1-4.

Agustino
Calgiari 0 – 1 lazio
Gol keita
Disaat Keita bersama. Rindukan gelak tawa yang warnai lembar jalan Keita. Tiga point tandang. Mendekatkan mimpi bertemu Barca.

Mrs Reus
Cagliari 1-0 Lazio, Boriello
Bosen ah Lazio menang mulu. Sekali-kali harus kalah. Semoga dapet pulsa.

Karawang, 190317