Hidden Figures: Delightful And Entertaining Film

image

image

Mary Jackson: Three negro women chasing a white police officer down a highway in Hampton, Virginia in 1961. Ladies, that there is a GOD-ordained miracle!

Wow. Wow adalah kata pertama yang terucap pasca menonton kisah trio wanita keling di era 1960an ini. Sesuatu banget menyaksikan perjuangan melawan diskriminasi warna kulit. 60an itu masa yang belumlah jauh dari sekarang. Amerika yang mengklaim Negara adikuasa itu masih berlaku tak adil terhadap warganya sendiri setengah abad yang lalu. Kenyataan bahwa sekarang Presiden baru mereka begitu rasis membuat Amerika justru kembali mundur ke era itu.

Hidden Figures adalah kisah cantik perjuangan tiga orang wanita kulit hitam Katherine Johnson (diperankan dengan sangat bagus oleh Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Moane) yang berotak cemerlang. Opening film memperlihatkan bahwa kecerdasan Katherine memang sudah terlihat sejak kecil. Ia berhitung dengan bilang ‘prime’ saat menyentuh bilangan prima. Ia dengan mudah menaklukkan soal-soal matematika. Tahun 1926 ia melanjutkan sekolah elite khusus kulit hitam Institut West Virginia. ‘Kamu harus melihat dia akan jadi apa nantinya.” Film lalu melompat di tahun 1961 di Hampton, Virginia, trio keling ini sedang memperbaiki mobil mogoknya. Katherine melamun, Mary bersolek dan Dorothy jadi montir. Mereka berkendara menuju Langley, tempat gedung NASA – National Aeronatics and Space Administration. Saat kelar memperbaiki mobil mereka disambut pak polisi yang aneh – memandang langit dan bilang kita sedang diawasi Rusia, tahu mereka adalah pegawai NASA setelah mobil kembali beres mereka dikawal. Wew, sesuatu yang langka warga kulit putih mengejar polisi kulit putih di tahun 1961.

Katherine Johnson adalah seorang matematikawan Afro-Amerika yang menghitung lintasan terbang dalam proyek Merkuri dan Apollo 11, ia menjadi satu-satunya wanita kulit hitam di gedung itu. Setiap kali ingin buang air ia harus keluar gedung seberang karena di gedung itu toilet hanya untuk warga kulit putih. Begitulah setiap butuh konsentrasi dan pergi ke belakang ia harus menyeberangi gedung lain ke toilet ‘color restrooms’.

Mary Jackson adalah seorang penerima beasiswa sekolah. Sebagai warga kulit berwarna ia berjuang untuk masuk ke kampus bergengsi. Sesuatu yang langka di masa itu, namun akhirnya dengan penuh perjuangan dan kehebatan berfikir serta bertindak ia berhasil menjadi yang pertama.

Dorothy Vaughan adalah seorang pengajar kulit hitam yang sangat berdedikasi. Ia begitu mencintai pekerjaannya melakukan banyak hal positif untuk Negara. Sering berselisih dengan Vivian Jackson (Kirsten Dunst) namun akhirnya kualitas berbicara.

Mereka bertiga adalah orang hebat yang tak diketahui banyak orang dalam proses lomba tembus angkasa. Cerita berfokus kepada Katherine. Seorang janda anak tiga, suatu Minggu siang dalam acara kumpul warga kulit hitam di perayaan agama di Gereja, ia disebut oleh sang pendeta sebagai kebanggaan, “wanita yang bekerja menerbangkan roket”. Bersamaan dengan itu seorang Kolonel Jim Johnson (Mahershala Ali) juga disebut karena bisa menjadi orang hebat di militer. Nama King tentu saja disebut karena ia adalah pahlawan perjuangan persamaan hak, walau sekilas. Mereka akan bersatu tentu saja itu tebakan yang mudah, namun proses melamarnya begitu romantis sampai-sampai membuat Kaherine berkaca-kaca. Dan membuat penonton tersentuh.

Karir sang protagonist sebenarnya cemerlang, hanya terkendala warna kulit. Rekan-rekan kerja pada memandang sebelah mata, atasan yang tak begitu peduli atas kinerja sampai rasisme yang bagi orang berhati lemah pasti patah arang. Namun tidak bagi Katherine, ia tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. Hingga pada suatu hari ia menuliskan hitungan pesawat ulang-aling yang benar di papan. Hitungan itu diketahui oleh bosnya Al Harrison (diperankan dengan meyakinkan oleh Kevin Costner). Hitungan itu ternyata benar, membuat mata setiap karyawan mulai terbuka.

Kabar bahwa Rusia mulai sudah mengorbitkan pesawat luar angkasanya dengan sukses membuat petinggi NASA resah. Segala upaya lalu dikerahkan untuk menaklukkan mereka. Lomba pacuan menembus langit dua Negara adikuasa itu seperti yang dicatat sejarah akan mencapai puncak saat bisa menginjak bulan. Pertanyaannya tentu saja bukan siapa yang menang. Pertanyaan untuk film ini lebih pasnya seberapa besar peran Katherine dalam proses menghantar astronot mereka menembus langit.

Berdasarkan buku karya Margot Lee Shetterly dengan judul yang sama, kisah nyata ini begitu menohok. Entah bagaimana kisah aslinya karena beberapa dipastikan dramatisasi. Seperti keseharian Katherine yang harus bolak-balik ke toilet khusus itu adalah pengalaman Mary, namun karena Katherine adalah leading role maka digeser ke dia.

Salah satu adegan paling menyentuh diperlihatkan Kevin Costner saat menghancurkan tanda toilet berwarna dengan emosional. Dengan amarah meletup sekaligus kepala dingin ia berujar, “Here at NASA we all pee the same color.” Aksi Costner dalam film memerangi rasisme bukanlah yang pertama, kisah ini sudah kulihat di film ‘Black or White’ dimana Octavia Spencer juga ikut andil.

Mengenai Oscar, sejauh ini penampilan Octavia lebih baik ketimbang Kidman. Peluangnya masih sangat ada, Manchester dan Moonlight belum ketonton. Mahershala Ali juga berperan di Moonlight dan masuk nominasi. Persaingan dua film head-to-head dengan bintang sama, saru. Untuk adapted screenplay sangat layak menang, namun sayang sekali saya sudah plot untuk Arrival. Untuk best picture bisa kupastikan kalah. Jadi kesimpulannya film sebagus ini besar kemungkinan tangan hampa? Sangat bisa Ya. Tahun yang berat dalam memerangi rasisme.

Kisah lomba balap angkasa ini menghantar John Glenn menjadi astronot Amerika pertama yang mengorbit bumi. NASA berdiri tahun 1958, masa yang tak lama untuk bisa sukses terbang menembus gravitasi. Sempat berharap cerita akan menyentuh tahun 1969, namun diakhiri lebih dini jadi heroism manusia mendarat di bulan tak diperlihatkan.

Hidden Figures adalah film dengan penampilan berkelas trio aktris Taraji, Jenelle dan Octavia. Semua gerak dan kalimat yang terucap sangat bagus, asyik dan lucu yang membuat penonton ikut tersenyum. Akting menawan ditemukan dengan naskah bagus dan jadilah ‘Sosok Tersembunyi.” Dibanding Emma Stone Taraji jauh lebih mengesankan. Hanya warna kulit yang membuatnya tak masuk kandidat best actress. No offence!

Hidden Figures | Year 2016 | Directed by Theodore Melfi | Screenplay Allison Schoeder, Theodore Melfi | Cast Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monae, Kevin Costner, Kirsten Dunst, Jim Parsons, Mahershala Ali | Skor: 4/5

Ruang HRGA NICI – Karawang, 240217 – Rihanna – So Hard
Gajian day

Lion: Incredible True Story

image

Saroo Brierley: I’m not from Calcutta, I’m lost.

Ah sayang sekali, tagline-nya spoiler berat. Sehingga bagian terbaik film ini di 10 menit akhir yang seharusnya akan membuat air mata turun akhirnya sekedar nyaris. Kesalahan ‘12 Year A Slave’ ada di judul, kesalahan Lion ada di tagline. Benar-benar patut disayangkan. Script-nya menawan. Sebuah kisah nyata yang luar biasa.

Kisahnya sangat menyentuh hati. Film dimulai tanpa menampilkan judul film – dan sampai jelang akhirpun tak nampak tulisan ‘Lion’. Bersetting tahun 1986 di India. Daerah kumuh, padat penduduk dengan pelbagai kesulitan hidup. Saroo (Sunny Pawar) adalah seorang anak pemberani berusia 5 tahun. Bersama kakaknya Guddu (Abhishek Bharate) membantu orang tua mereka mencari nafkah. Anak-anak diperlihatkan ikut bekerja sekalipun serabutan, jelas masa kecilnya terenggut. Pembukanya memperlihatkan Saroo di tengah ladang penuh kupu-kupu, terlihat indah sekali. Dalam keseharian Saroo dan Guddu mencuri batu bara dari gerbong kereta api yang sedang berjalan pelan. Dengan gaya selayaknya bajing loncat mereka menjejali karung dengan bahan bakar tersebut. Saat petugas tahu, kabur. Hasil jarahan itu ditukar dengan susu dan uang receh. Saroo melihat makanan lezat yang sangat diinginkannya, jalebi tapi karena uang ga cukup sang kakak hanya menjanjikan suatu saat saya belikan jalebi. Seisi toko jalebi. Haha. Dan saat pulang, susu dibagi untuk ibunya Kamla (Priyanka Bose) dan si bungsu Shekila. Dari adegan pembuka ini kita tahu, sekalipun mereka hidup dalam kemelaratan, mereka bahagia dalam kebersamaan.

Kepiluan kisah dimulai saat suatu malam Kamla berangkat kerja, sang kakak juga bersiap berangkat seminggu dan Saroo diminta bertugas menjaga si adik. Namun saat akan berangkat Saroo bersikukuh ikut. Dengan gaya anak-anak yang menggemaskan bahwa dia bisa membantu memperlihatkan bisa mengangkat benda-benda, dia kuat dan pasti berguna. Sepeda aja sampai diangkat. Akhirnya Guddu mengiizinkan bersama. Dengan bersepeda mereka ke stasiun. Sayang sesampainya di sana Saroo tertidur. Hufh, karena sulit dibangunkan ia diminta tidur di peron dan jangan ke mana-mana selama sang kakak bekerja. Dini hari, stasiun kosong dan ia terbangun. Dengan panik mencari sang kakak. Naik kereta, meneriaki namanya. Karena lelah, tertidur.

Saroo terbangun dalam kondisi kereta sedang berjalan. Semakin panik, berteriak minta tolong. Tidur lagi, sembunyi ketakutan. Saat akhirnya kereta berhenti, ia memutuskan turun di antara jubelan calon penumpang. Dia-pun menggelandang, dari satu tempat ke tempat lain. Gabung sama pengemis, gelandangan, tuna wisma hingga tidur beralas kertas. Saat petugas sosial datang mereka kabur. Lari ketakutan – bagian ini sepintas mengingatkanku pada ‘Slumdog Millionaire’ di mana anak-anak sehat matanya dibutakan untuk diajak mengemis. Saya tentu saja ikut was-was arah nasib sang protagonist.

Saat hari terang ia berjalan di atas rel kereta api dan bersapa dengan orang asing yang kelihatannya baik, Noor (Tannishtha Chatterjee). Dia ajak ke tempatnya tinggal, diberi makanan enak, minuman segar cola dan tempat berteduh. Namun gerak-geriknya mulai mencurigakan, ditambah saat pasangannya datang dan mengatakan ia adalah sosok pas yang dicarinya saat ini. Kekhawatiran itu dijawab Saroo dengan kabur saat Noor lengah. Kabur menemui takdir yang tak pasti. Hingga scene bertuliskan ‘2 bulan kemudian’.

Suatu hari Saroo menatap kaca dari jauh orang sedang makan dan mengikuti gerakan makannya. Sang pemuda merasa kasihan dan membawanya ke kedai, Saroo memberitahu dia tersesat dan berasal dari daerah ‘Ganestalay’. Tak ditemukan di peta. Dibawa ke kantor polisi, dimuat di koran telah ditemukan anak hilang. Sementara menunggu informasi, Saroo ditempatkan di panti asuhan. Koran yang konon dibaca 15 juta warga itu tak menghasilkan klaim. Rasa frustasi mulai tampak.

Muncul angin segar, pasangan dari Australia ingin mengadopsinya. John dan Sue Brierley (David Wenham dan Nicole Kidman) menyambut kedatangan Saroo penuh cinta. Awalnya Saroo terlihat malu-malu tapi akhirnya bisa menyesuaikan diri. Kehidupan baru Saroo di Hobart, Tasmania dimulai. Dua tahun berselang pasangan ini mengadopsi lagi seorang anak bernama Mantosh yang freak. Menjadi saudara angkat, melengkapi keluarga kaya nan baik hati ini.

Waktu berlari, tahun 2010 Saroo kini tampak tampan. Diperankan oleh Dev Patel, ia sedang kuliah dan menghadapi gaya hidup barat, eh tenggara ya harusnya ‘kan Aussie. Berpacaran dengan cewek cantik pakai banget Lucy (Rooney Mara). Kehidupan mapan itu suatu ketika terusik saat Saroo dalam jamuan teman-temannya dan ada satu hidangan jalebi yang langsung membuatnya teringat masa kecilnya. Memori itu muncul dan keinginan untuk mencari rumah menyeruak. Dengan kecanggihan teknologi, Saroo melacak jalur kereta di India. Menggunakan Google Earth Saroo menelusuri berbagai kemungkinan desa asalnya. Berhasilkah ia pulang?

Apa yang terlintas pertama kali saat dengar kata Bengali? Jawabnya adalah Penulis Besar India, Rabindranath Tagore. Film ini dari pembuka sampai pertengahan menggunakan Bahasa Bengali dan Hindi. Pemahaman Bahasa juga jadi kunci hilangnya Saroo.

Kisah nyata ini berdasar buku karya Larry Buttrose dan Saroo Brierley sendiri berjudul ‘A Long Way Home’. Saroo terpisah dengan keluarganya selama 25 tahun. Tempat kereta berhenti adalah Calcutta, itu berarti ia terpisah 1,6000 Km dari rumahnya, sebelum akhinya terbang ke Tasmania. Kisah pilu bak sebuah fiksi ini nyata, benar-benar cerita yang luar biasa. Berkat teknologi yang makin canggih, segala kemungkinan memenggal jarak bisa diatasi.

Dunia masih ada harapan. Masih banyak orang baik. Melihat kasih sayang apik Sue dan John terhadap anak angkatnya begitu menyentuh. Cintanya bahkan melebihi cinta anak kandung. Tindakan adopsi Saroo dan Mantosh benar benar inspiratif. Dunia harus mengucapkan terima kasih padanya.

Pertanyaannya kenapa film ini berjudul Lion? Karena kalian tak akan menemukan sama sekali seekor singa. Kecuali patung singa yang sekilas muncul di awal film. Jawabnya adalah nama Saroo diambil dari kata Sheru yang berarti singa. Adegan awal Dev Patel itu juga merupakan adegan akhir. Bagaimana perbuahan sosok dan mimiknya yang frustasi menjadi begitu bahagia saat tiba di Rumah yang sesungguhnya. Mungkin juri Oscar terpesonanya di sini. Peluangnya? Ah kecil. Jelas saya tak akan menjagokan Dev Patel dan Nicole Kidman. Skoring dan cinematografi juga biasa, jadi rasanya sulit. Peluang hanya di adapted screenplay, namun sayang seribu sayang kemarin saya terpukau Arrival jadi prediksiku Lion akan tangan hampa. Kalaupun ada satu piala, itu seharunya ke Dev Patel. Mustahil ke piala tertinggi best picture.

Saya justru terpesona sama pendatang baru, actor cilik Sunny Pawar yang begitu menggemaskan. Dia sukses menyingkirkan 4,000 kandidat untuk mendapatkan peran ini. Yakin sekali besarnya nanti akan jadi bintang besar. Seperti Dev Patel yang ditemukan oleh Danny Boyle, Sunny yang diasah Davis punya masa depan cerah. Tinggal audisi ke film berikutnya untuk menuju Hollywood.

Secara keseluruhan Ok film ini bagus, namun banyak adegan di Aussie yang ga penting yang menurunkan mood. Film jadi begitu mengharukan saat adegan asli pertemuan kedua orang tua Saroo bertemu. Sangat mengharukan, saya nyaris mennagis. Di akhir kredit saat memperlihatakna kedua kaka adik ini berjalan beriringan di rel kereta api muncullah kalimat menyentuh hati, ‘In loving memory of Guddu’.

Terakhir, film ini seharusnya jadi media promo Google Earth karena aplikasi ini begitu dominan dan sangat membantu. Saya jadi kepikiran, suatu saat harusnya WordPress bisa menjadi media yang disorot berjasa bagi blogger seperti kita. Setuju?!

Lion | Year 2016 | Directed by Garth Davis | Screenplay Luke Davies| Cast Dev Patel, Rooney Mara, David Wehham, Nicole Kidman, Sunny Pawar, Abhishek Bharate, Priyanka Bose, Deepti Naval | Skor: 4/5

Ruang HRGA NICI – Karawang, 220217 – Sherina Munaf – Sendiri

Arrival: Science Fiction Masterpiece

image

Tulisan ini mengandung spoiler, yang belum nonton dan berniat menikmatinya dianjurkan untuk tidak membacanya.

Dr. Louis Banks: If you could see your whole life from start to finish, would you change things?

Inilah film Oscar 2017 terbaik yang kutonton sampai saat ini. Posternya snob. Pesawat alien turun ke bumi bentuknya macam batu cobek melonjong ke atas, kalau dilihat dari samping seperti tempurung dan ngambang di atas tanah. Tagline-nya mempertanyakan alasan invasi mereka ke bumi, “Why are they here?” Ceritanya? Walau ga semua, menjadi kandidat best adapted screenplay Oscar adalah jaminan mutu. Dan yah kali ini saya sangat setuju. Pacenya lambat. Saya sempat ketiduran bahkan sebelum pesawat alien terlihat di layar. Timing emang sangat berpengaruh, saya nonton dalam posisi lelah sehingga kurang konsentrasi (apa kabar Sicario?). Dan film ini butuh konsentrasi ekstra. Esoknya baru tonton ulang bersama May dari menit pertama.

Dikisahkan Dr. Loiuse Banks (Amy Lou Adams) adalah seorang dosen ilmu Bahasa dengan muka muram seakan hidup penuh beban layaknya Squidwart Tentacles. Anaknya, Hannah (diperankan empat aktris berbeda tiap bertambah usia – Carmela Nossa, Jadyn Malone, Julia Scarlett Dan, Abigail Pniowsky) menderita penyakit langka yang mematikan. Hannah bukan sembarang nama, karena paliandrom. Dibalik bacanya tetap Hannah, layaknya Kasur, apa, ada, malam, radar, katak, kodok, makan rusak, asa. Termasuk sang pemeran Ian. Si Renner dibaca balik juga Renner. Suatu hari kelasnya sepi, lalu salah satu mahasiswa memintanya menyalakan televisi. Breaking news memperlihatkan sebuah objek telah (hampir) mendarat di Montana, Amerika Serikat. Saya tulis hampir karena objek mereka melayang. Lalu Hokaido, Jepang dan 8 negara lain. Dalam perkembangan informasi totalnya kini 12 pesawat mendatangi bumi ke berbagai negara:  China, Sudan, Amerika sampai Rusia.

Setiap negara mencoba membongkar maksud kedatangan ini. Menteri Pertahanan bersama para armadanya berusaha keras memanggil para ahli. Setelah dua hari, saat Banks sedang bersantai di rumah pinggir pantainya, ia didatangi Kolonel Weber (Forest Whitetaker). Sebagai penerjemah berbagai Bahasa, ia diminta mengartikan rekaman alien. Suara yang terdengar hanya gerutuan ga jelas yang pastinya akan membuat anjing-pun mengernyitkan dahi. Apalagi Banks, ia mungkin bisa tahu lebih detail bila face-to-face.

Suatu malam sebuah helikopter mendarat di rumah Banks. Membawanya ke Montana bersama theoretical physicist Ian Donnelly (Jeremy Renner) dan beberapa rekan ahli lain. Sesampai di TKP, tenda darurat sudah dipasang dan pasukan yang sebelumnya meneliti menyambut dingin. Setelah segala persiapan, memakai suit khusus laiknya stronot tim inipun siap menganalisis. Setiap terdengar bunyi seperti terompet, pintu objek terbuka. Pintunya di bawah sehingga tim ini masuk dengan bantuan reachtruck yang diungkit ke atas. Lubang berbentuk kotak itu anti-gravitasi. Jadi bayangkan kalian bisa berjalan di dinding ke langit-langit tanpa terjatuh. Ide yang sangat bagus.

Dengan kabut yang menyelimuti mereka terpisah dengan sebuah kaca dua arah. Dua alien menyambut – akhirnya nanti mereka menyebutnya heptapod. Dua alien berwujud tentakel itu oleh Ian diberi nama Abbott dan Costello (mengingatkanku pada serial Sherlocknya Benedict Cumberbact, The Hound of the Bakervilles). Setelah beberapa kali cek dan ricek mengajak komunikasi tapi gagal paham, Banks berinisiatif membawa papan bertulis, ‘human’. Alien itupun membalas dengan muntahan cairan tinta berbentuk lingkaran hitam, seperti simbol yang rumit. Setelah berulang kali seperti itu, akhirnya Banks paham begitulah mereka ngobrol, setiap lingkaran simbol dianalisis dan Banks menuliskan kata demi kata.

Sementara kabar dari 11 negara lain-pun menemui jalan buntu. Melalui monitor semua mengerahkan daya upaya tujuan invasi ini. Hari demi hari ketegangan meningkat. Suatu analisis menyebut kata ‘a weapon’ yang membuat gempar semua orang, karena bisa jadi itu artinya sebuah ancaman perang. Dr. Banks mencoba menahan diri karena bisa jadi artinya itu bisa ‘alat’ atau mungkin penawaran ‘teknologi’. Akhirnya kesabaran China habis, jenderal Shang (Tzi Ma) memutuskan akan menyerang objek. Sudan dan Rusia mengikuti. Debat antar negara itu memutus kontak karena perbedaan cara menghadapi kebuntuan. Nah kesabaran Amerika jua menipis, mereka pun bersiap meledakannya. Banks yang sedikit banyak mulai memahami Bahasa heptapod, mencoba melawan. Dia beberapa kali memimpikan, membayangkan dalam bentuk adegan bersama putrinya. Mengejar waktu, berhasilkah Banks menyelamatkan kegemparan yang berpotensi perang itu? Sebenarnya ada tujuan apa 12 pesawat itu ke bumi?

Kalau kualitas yang dinilai harusnya Arrival menang piala tertinggi best picture. Karena twist yang disampaikan begitu brilian. Berdasarkan novella ‘Story of Your Life’ karya Ted Chiang yang terbit tahun 1998. Film ini bakalan memecahkan banyak persepsi – walaupun penjelasan Dennis sebenarnya sudah gamblang di layar, hanya butuh konsentrasi dan mungkin putar ulang untuk tahu misi Arrival. Dan juri Oscar seharusnya suka ending macam gini.

Spoiler – Spoiler – Spoiler  —  WARNING —  Spoiler – Spoiler – Spoiler

Seperti ajaran Buddish, hidup ini sebuah lingkaran. Setelah kehidupan di dunia berakhir ada reinkarnasi. Makhluk akan terlahir kembali sesuai perilaku kehidupan sebelumnya. Berputar terus. Heptapod mengeluarkan cairan berbentuk lingkaran/sirkular sebagai sarana komunikasi. Konsep simbol melingkar adalah makna bahwa para alien ini bisa ‘mengatur waktu’. Di sana waktu acak-acakan kadang maju kadang mundur. Yang pasti waktu di kehidupan mereka tak sama dengan di bumi yang linier maju terus laiknya tulisan kita yang dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Dalam ajaran agama kita konsep waktu ada awal dan ada akhir. Bumi dibuat, ada kehidupan, lalu kematian, ada kiamat, lalu ada hisap dan kehidupan lain yang abadi. Tak bisa berputar dan tak bisa kembali ke bumi. Dalam teori Lubang Cacing dijelaskan bahwa perilaku kita saat ini mempengaruhi kehidupan kita esok harinya. Kalau kita melakukan ini dampaknya adalah ini, kalau kita melakukan itu akibatnya adalah begitu. Hidup ini pilihan seperti variasi lorong, lorong yang kita pilih itulah yang kita jalani. Bagi kita masa depan adalah misteri, ada beberapa manusia bisa melakukan ramalan-ramalan namun itupun hanya perkiraan bukan kepastian.

Nah kedatangan mereka adalah memberi tahu bahwa manusia harus belajar bahasa mereka agar bisa ‘menaklukan’ waktu. Seperti kata Ian tentang syndrom sapir whorf bahwa kemampuan otak kita terpengaruhi bahasa. Peradaban dipengaruhi oleh pengetahuan, tapi bagi Banks peradaban dipengaruhi oleh bahasa. Tulisan kita maju terus, waktu kita pun sama maju terus. Andai manusia menguasai bahasa mereka, pola pikirnya tentu saja akan seperti mereka. Nah, karena Dr Banks mulai paham bahasa heptapod mulailah pikirannya dipenuhi masa depan. Awalnya tentu saja bingung, ada kalimat mengejutkan saat akhirnya Banks bertatap langsung dengan Costello. “Who is this child?”. Dan inilah kejutan besar di film ini. Seluruh adegan awal itu hanyalah bayangan masa depan Louise Banks. Tentang putrinya, tentang Hannah yang sakit akut, tentang suaminya yang pergi, tentang gambar putrinya ‘ayah dan ibunya bicara dengan hewan’. Dan seterusnya dan seterusnya. Persoalannya ketika kalian tahu masa depan, apakah kalian ingin mengubahnya?

Dalam Arrival, Banks (akan) memiliki kehidupan yang tragis. Anaknya sakit parah, suaminya meninggalkannya karena tahu Hannah akan mati muda, dia tak siap mendengar kabar itu. Membayangkannya saja seram. Dan yang jadi suaminya ternyata adalah Ian!

Sesuatu yang logis makhluk asing datang ke bumi dan terkendala bahasa. Mustahil kalau mereka datang bisa berkomunikasi langsung pakai bahasa kita. Sederhananya ga mungkin kan kalian pertama kali datang ke China bisa ngomong mandarin pastinya blekak-blekuk disertai isyarat. Nah, para heptapod ini dari galaksi lain berkunjung ke bumi menyapa kita ya pakai bahasa mereka. Kita membalasnya dengan English, ga nyambung. Kata ‘a weapon’ sendiri akhirnya salah tafsir karena itu ‘a gift’. Dalam banyak fiksi lain, kita sudah paranoid bahwa alien adalah makhluk berbahaya yang kedatangnya untuk invasi, dengan puluhan film perang melawan makhluk asing pikiran kita sudah negatif duluan. Padahal semesta ini misteri. Seperti analogi penjelasan Banks kepada Kolonel Weber tentang kangguru. Bahwa terjadi kesalahpahaman antara pendatang dengan suku aborigin.

Dengan ide brilian semacam ini bagaimana peluang Arrival di Oscar Senin nanti? Harusnya dua kategori utama menang. Lalu adapted screenplay WAJIB menang. Sound editing sudah kuplot ke Sully jauh hari, namun ternyata Arrival juga keren sekali. Ketat. Peluang terbesar ada di sound mixing. Kalau cinematografi melihat lawan-lawannya, rasanya berat. Begitu juga di production design. Minimal ada tiga piala. Dan mudah-mudahan di bagian utama semua. Dan mari berdoa Blade Runner 2049 sama menggilanya!

Arrival | Year 2016 | Directed by Denis Villeneuve | Screenplay Eric Heisserer | Cast Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitetaker, Michael Stuhlbarg, Tzi Ma, Mark O’Brien | Skor: 5/5

Ruang HRGA NICI – Karawang, 210217 – Sherina Munaf – Ku Disini

Trolls: Fun Fun Fun!

image

Poppy: Yes, seriously. Singing helps me relax. Maybe you outh to try it. | Branch: I dont sing and I dont relax. This is the way I am and I like it. I also like a little silence!

Kegembiraan itu menular. Bahagia adalah tema utama film ini. Bahagia adalah pilihan. Ada teori bahwa kiri adalah masa lalu, kanan adalah masa depan. Saya memilih kanan, masa depanku penting yang lalu biarlah berlalu dan melihatnya dengan bahagia. Trolls memberi warna sisi kanan itu layak diperjuangkan. Timing yang sangat pas menikmati kartun warna-warni ini bersama May di sore mendung di hari libur. Tertawa bersama, ceria bersama. Bonus, lagunya bagus-bagus,  sebagian sudah nempel di telinga karena banyak daur ulangnya. True colour langsung saya putar tepat setelah film ini berakhir.

Nyanyi, nari, peluk adalah kegiatan setiap hari para Troll. Seperti kisah-kisah legenda lainnya, film ini dimulai dengan kalimat ‘once upon a time…’ dengan membuka sebuah buku. Terdengar suara seksi Anna Kendrick (Princess Poppy) sebagai pemeran utama. Bahwa di sebuah pohon penuh kebahagian hiduplah masyarakat troll, pohon itu tumbuh di tengah kota Bergen yang menyedihkan. Satu hari setiap tahun mereka merayakan Trollstice, hari bahagia memakan troll karena mereka percaya hanya dengan menyantapnyalah mereka bisa ikut bahagia. Troll yang kita tahu berwajah jelek justru jadi bintang utama, sementara para bergen malah dibuat seperti Shrek. Troll is Bergen, Bergen is troll. Jangan bayangkan troll seperti di Harry Potter dan Batu Bertuah yang menghancurkan kamar mandi Hogwart ya. Troll di Trolls adalah makhluk imut sekecil gelas.

Nah, suatu pagi di hari Trollstice. Diiringi skor klasik ‘In the Hall of the Mountain King’. Panggeran Gristle (Christopher Mintz-Plasse), balita yang akan pertama kali menyantap troll begitu antusias. Membangunkan ayahnya yang masih terlelap, membawa kota dengan gegap menuju pohon troll. Dipimpin chef kerajaan (Christine Baranski) acara dibuka dengan istimewa di mana Pangeran Gristle mendapat kehormatan pertama menyantap troll Putri Poppy. Saat dikunyah, bukan kebahagian yang diperoleh tapi malah dimuntahkan. Troll itu palsu, sebuah tiruan. Kok bisa? Ternyata warga troll melarikan diri. Melalui lubang tikus di bawah pohon, dipimpin oleh raja Peppy (Jeffrey Tambor) mereka kabur menuju tanah baru yang menjanjikan. “No trolls leave behind!”

Kehidupan baru jauh dari bergen itu, kini sudah 20 tahun. Dirayakan dengan suka cita. Putri Poppy menutup bukunya, dan mulai bernyanyi bersama seluruh kota. Ini adalah kartun musikal jadi penuh nyanyian dan keceriaan. Seluruh kota berpesta, wait. Nyaris seluruh kota. Satu troll yang terlihat muram mulu, di mana pun kapan pun bernama Branch (Justin Timberlake). Memandang hidup dengan pesimistis, benci keramaian, membuat dirinya ternggelam dalam kesendirian, membuat rumah benteng aman dari bergen. Dirinya sekalipun selalu diundang pesta, tak pernah hadir. Lho kok bisa ada troll bermuram layaknya bergen? Alasan utamanya akan diungkap di akhir, betapa Branch ternyata menyimpan kenangan kelam. JT ‘dengan curang’ bilang ‘suara malaikat’.

Pesta terbesar, termeriah, tergila itu terdengar jauh, sampai ke telinga mantan chef kerajaan bergen. Diapun lantas mendatanginya dan menangkap para troll untuk dibawa menghadap raja. Drama penculikan yang sederhanapun dibuat lucu, sedih sekaligus nyentil, membuatku berfikir begitukah manusia saat berburu binatang untuk santap siang di pesta makan di akhir pekan? Burung, kijang, babi mereka memang tak bersuara memohon ‘tolong…’ saat diburu namun mereka menjerit sedih. Binatang itu berfikir (kalau bisa berfikir) pastilah manusia, orang-orang seperti kita ini adalah para bergen pencari kebahagiaan yang gemar menyantap mereka.

Dengan kantong penuh troll chef kerajaan memberi warga bergen persiapan pesta. 20 tahun tanpa troll dan kini mereka siap kembali bahagia. Poppy yang menyaksikan sendiri teman-temannya ditangkap begitu shock. Ayahnya mengajak kabur mencari tempat lain untuk dihuni, warga ketakutan. Tapi poppy bersikukuh ke kota bergen untuk menyelamatkan teman-temannya. Tema ‘tak boleh ada troll yang tertinggal’ memberinya lecutan, harapan, semangat untuk membebaskan teman-temannya. Meminta Branch untuk menampung warga di bentengnya, 10 tahun adalah waktu lama untuk bersembunyi dengan persediaan komplit. Tapi kalau seluruh warga hanya bisa 2 minggu. Seorang penyendiri dikerumuni seluruh warga, bentengnya jadi begitu berisik tentunya, ‘ejekan bagus terbalaskan’. Poppy pun berangkat sendiri menantang maut ke kota bergen. Dengan iringan lagu, skoring menawan dan keyakinan Poppy melawan arah, diapun siap menghadapi petualangan. Di tengah ancaman binatang buas dan perangkap, Poppy diselamatkan Branch yang tiba-tiba muncul saat tertangkap laba-laba.  Berdua lebih baik, saat akhirnya mereka sampai di terowongan troll bertemu si awan. Anekdot lucu tersaji. Sang awan akan memberi tahu lubang mana yang benar menuju pohon troll karena lubang lainnya akan mengantarnya ke kematian. Sang awan meminta syarat Branch tos high 5. Menolak, Poppy memaksa, “Branch its just a high five! The others lead centain death! Get some perpective!” saat tos, si awan becanda, terlalu pelan. Lalu meminta tos tangan maju ke depan, mengepal, eh malah digurauin lagi. Branch marah, dan siap mengahajar Awan. Aaarghhh… sederhana. Ya, tapi klasik bro.
Saat akhirnya mereka berhasil memasuki kota, para bergen masih tampak menyedihkan, berarti teman-temannya masih hidup. Saatnya menjadi pahlawan kawan. Berhasilkah Poppy menyelamatkan Biggie, Cooper, Suki, Satin, Chenille, a tinny troll Smidge, dan (ehem) Creek? See…

Ini adalah animasi musikal buatan Dreamworks Animation SKG pertama paska The Road To El Dorado tahun 2000. Ternyata sudah 16 tahun mereka tak bernyanyi untuk kartunnya. Untungnya bagus, sangat bagus. Sangat sulit menolak keceriaan Poppy dan kawan-kawan yang selalu positif thinking. Seandainya saya menonton sendiri dengan lampu mati dan konsentrasi tinggi, bisa jadi ini film jadi begitu biasa karena secara cerita sangat sederhana. Pertanyaan apakah Poppy berhasil menyelamatkan teman-temannya jelas dengan metafora karena film untuk anak dengan kerlap-kerlip warna menyenangkan, di dalam skenario bisa dengan yakin bisa kita tebak, tidak ada kejutan. Saya menonton bersama orang terkasih sehingga ada teman tertawa dan berdendang dan bertepuk tangan dan berpelukan. Jelas film ini tak rekomendasi ditonton sendiri.

Kisah troll berdasarkan boneka yang dibuat oleh Thomas Dam dari Gjol, Northern Jutland, Denmark tahun 1958. Awalnya adalah boneka kayu biasa lalu bertambah ke bentuk binatang lainnya seperti gajah, jerapah sampai keledai. Adegan di pembuka saat para bergen menemukan troll palsu dari kayu itulah tribute untuk kisah sesungguhnya muasal para troll.

Yang fanatik Nsync, ehem maksudku lead vokal boyband itu pasti akan nostalgia. Justin Timberlake menjadi eksekutif produser musik. Film ini dibuat dengan berpusat padanya. Seperti ‘Home’ dengan pusat Rihanna, Trolls jelas dalam kendali penuh Justin. Para lead vocal boyband pada akhirnya memang memiliki solo karir. Dari Ronan Keating, Shane Fillan, sampai si Justin Timberlake. Yang jadi tanya, anggota lain nganggur melanjutkan hidup jadi apa kalau sudah ga ada order nyanyi? Hanya Backstreet Boys, boyband tahun 1990an yang kini masih ada, yah walau pamornya sangat redup.

Film ini hanya menyumbang satu kategori ke Oscar, best song untuk ‘Cant Stop The Feeling’. Sebagai single utama, diluncurkan sebelum film dirilis dengan perfoma apik The Eurovision Song Contest. Seberapa besar peluang lagu ini akan menang? Rasanya sulit. La La Land yang mempunyai kandidat dua lagu utama, rasanya mudah untuk bilang salah satunya akan menang. Prediksi untuk lagu sudah kutetapkan bagi ‘City of Stars’. Sayang sekali film ini akan tangan hampa, padahal Trolls adalah animasi terbaik 2016 so far. Saya belum nonton Zoothopia, The Red Turtle dan My Life as Zuchhini.

Dreamworks mempertahankan tradisi, animasinya harus disuarakan bintang-bintang besar. Ironi Pixar kan. Dari Justin Timberlake, Anna Kendrick sampai Russel Brand. Walau sejujurnya tak terlalu signifikan pengaruhnya selain meraup fan, karena kan hanya suara. Tapi untuk kasus Trolls, lumayanlah suara khas Anna Kendrick terdengar merdu. Bahkan duo sutradara Walt Dohrn dan Mike Mitchell  menyumbang suara banyak karakter walau hanya satu dua kalimat. Oiya, film ini dibintangi si cantik Zooey Deschanel. Di mana dia?

Trolls | Year 2016 | Directed by Walt Dohrn, Mike Mitchell| Screenplay Jonathan Aibel | Cast (voices) Anna Kendrick, Justin Tiimberlake, Zooey Deschanel, Christopher Mintz-Plase, Christine Baranski, Russel Brand, Gwen Stefani, John Cleese, James Corden, Walt Dohrn, Mike Mitchell | Skor: 4,5/5

Karawang, 210217 – American Authors – Best Day Of My Life
Diketik cepat Selasa pagi yang hujan dalam rangka Oscar race 2017

Deepwater Horizon: Empty Action Flick

image

Felicia: Is it just me or did it get real bright in there all of a sudden? Mike, what is that? Is everything Ok? Mike?

Panik bukanlah taktik. Film pertama Oscar yang kutonton pasca pengumuman. Berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada tanggal 20 April 2010 di laut lepas Teluk Meksiko. Kilang minyak lepas pantai meledak, jutaan gallon minyak berhambur merusak habitat biota laut.

Kisah dibuka dengan spoiler akut. Sebuah dialog di pengadilan menjadi suara latar ceruk lautan dalam yang memperlihatkan mesin melakukan pengeboran. Kalimat itu memberitahu kita bahwa Mike Williams selamat dari tragedi sehingga bisa bersaksi.

Mr. Mike Willaims (Mark Wahlberg) terbangun pukul 5:11 sementara istrinya Felicia (Kate Hudson) berujar ia mendapat mimpi buruk tentang kelinci berkaki dua yang mengikuti gerakannya di panggung. Mimpi aneh tentang ibunya. Dialog keduanya tersaji dengan lembut dan penuh kasih karena hari ini hari libur terakhir Williams sebelum kembali ke pekerjaan. Sementara Andrea Fleytas (Gina Rodriguez) bersiap berangkat dengan kendala mobil tuanya mogok sehingga akhirnya malah diantar pacarnya naik motor. “Juallah mobilmu belilah Ducati”. Pagi sarapan kali ini putri Williams, Sydney (Stella Allen)  memberikan demo mengebom minyak dengan sekaleng cola, sambil bernarasi bagaimana temannya membawa penguin asli ke sekolah karena ayahnya bekerja di kebun binatang. Jadi ayah, bawakan saya fosil! Haha dasar anak 10 tahun. Imut.

“Alarm warna magenta di kilang adalah yang terburuk.” Kata Jimmy Harrel (Kurt Russell) meminta bosnya melepas dasi warna aneh itu. Itu menyebabkan trauma. Kalimat ini seperti pertanda. Persiapan menuju kilang minyak prosedurnya bagus. Sekalipun mereka kru pengalaman yang sudah bertahun-tahun tetap diperiksa sebelum naik helikopter. Dalam perjalanan udara di atas laut itu mereka membicarakan liburan, bonus nanti digunakan untuk apa sampai masalah mobil mustang 96 Andrea yang bermasalah. Tiba-tiba seekor burung mengguncang heli, tatapan murung Jimmy memberi tahu penonton akan terjadi hal buruk, sepertinya.

Sesampai di pangkalan kilang minyak mereka beradu argumen tentang pengecekan semen, laporan BP, dan beberapa prosedur yang terlewat. Sementara ada kapal Bankston di samping Deepwater yang setelah diklarifikasi mereka diminta pergi setelah mengangkut lumpur dari Deepwater. Sekalipun hasil tes positif orang BP, Vidrine dan Kaluza tetap meminta mengoperasikan pengeboran. karena terlambat 43 hari dan kelebihan anggaran 50 juta Dollar. Inilah awal petaka, mengendurkan prosedur safety demi saving money-money-money. Setelah bermenit-menit penonton diajak mengenal istilah-istilah kilang minyak lepas pantai yang rumit. Akhirnya kita sampai pada poin film ini.

Bos Vidrine (diperankan dengan dingin oleh John Malkovich) tetap meminta pengeboran dimulai. Sims (Douglas M. Griffin) menyatakan prosedur keselamatan meragukan. Mike Williams sebagai seorang teknisi di sana memaparkan seribu masalah di Deppwater yang belum ditangani. Ironisnya malam petaka itu terjadi setelah Jimmy mendapat penghargaan BP Safety award karena selama 7 tahun kepemimpinanya terjadi zero accident.

Tak ada lumpur tak ada tekanan. Salah mesin tes penguji sampai debat persepsi masalah bor. Semua itu meledak setelah satu jam film berjalan. Saksi pertama kalau malam itu akan berujung petaka adalah Celeb Holloway (Dylan O’Brien, idola remaja masa kini – pelari di The Maze Runner). Lumpur muncul di ruang pengeboran, awalnya hanya rembesan lalu dalam hitungan detik terjadi semburan lumpur. Segalanya kacau sejak itu. Sudah terlambat untuk mematikan kembali mesin, sudah terlambat evakuasi, sudah melebar lebih besar masalahnya. Seekor bangau terjebak dan mengacau. Dan sisa film menjadi begitu Hoolywood, bagaimana Mike begitu heroik melompati kobaran api bak seorang Superman.

Memang kekuatan utama di separuh kedua ini. Ledakan, kebakaran, kepanikan dalam tragedi sampai akhir di upaya penyelamatan. Semua disajiakn dengan efek puluhan juta Dollar yang membuat penonton takjub. Demi membuat adegan menakjubkan di lepas pantai itu tim sampai membuat set mahal di Chalmette, Loiusiana.

Film ini mencatatkan salah satu kutipan terbaik tahun 2016, “When faced with our darknest hour, hope is not a tactic.” Dibanding Lone Survivor, film kolaborasi pertama Wahlberg dan Berg, Deepwater jelas sebuah penurunan kualitas. Script-nya terlalu lemah. Di era serba glamor, jualan utama nya efek tak cukup.

Akting paling bagus ditunjukkan John Malkovich. Penuh intimidasi. Keunggulan memang di visual efek, sayangnya tahun ini bagian itu sudah sangat ketat antara Doctor Strange dan The Jungle Book. Saya belum nonton Star Wars, yang pasti Deepwater sulit menang di kategori ini. Satu lagi untuk Sound editing, rasanya juga berat. Di segmen ini sudah saya plot untuk Sully. Tangan hampa? Ya, prediksiku film ini pulang dengan nol piala.

Sebuah tribute film untuk tragedi BP oil tahun 2010. Selama 87 hari api berkobar, 11 orang meninggal, dan menjadikan bencana kilang minyak terbesar sepanjang sejarah. Safety first di manapun berada adalah poin penting yang kudapat setelah menikmatinya.

Sayangnya, seperti dialog di opening. Kita tahu jagoan utama film ini selamat sehingga tak ada kejutan.

Deepwater Horizon | Year 2016 | Directed by Peter Berg | Screenplay Matthew Michael Carnahan | Cast Mark Wahlberg, Kurt Russel, Douglas M. Griffin, James Dumont, Joe Chrest, Gina Rodgriguez, John Malkovich, Kate Hudson, Peter Berg | Skor: 3/5

Karawang, 180217 – Michael Buble – Havent Met You Yet
Karawang dalam guyuran hujan tiada henti.

Prediksi Empoli Vs Lazio, Live Lokal 02:30 Malam Ini

image

Empoli V Lazio.
Prakiraan formasi
4-3-3
Strakosha
Patric-De Vrij-Wallace-Radu
Parolo-Biglia-Lulic
FA-Immobile-Keita

LBP
Empoli 0-3 Lazio
Analisis: Harus ofensif guna unggul cepat. Cerita Chievo dan Milan tak boleh terulang. Attack attack attack! Tridente IKA siap berpesta. 

Damar (X)
Empoli 0-2 Lazio

Arief
Empoli 0-2 Lazio. Immobile
Setelah tertahan pekan lalu, Lazio ingin kembali meraih kemenangan. Empoli sedang dalam tren negatif. Immobile kembali jadi pembeda

Papa
Empoli 3-1 Lajio, Immobile
Laga tandang Lajio bimbang.
Gagal menang. Tower tumbang.

Adit
Empoli 0-2 Lazio, Felipe Anderson
Degradasikan Empoli. Lazio harus move on dari Pioli. Jalur kemenangan akan kembali.

Panji
Empoli 1-2 Lazio, Immobile
Empoli kalah. Tapi sengit. Lazio menang ngotot.

Huang
Empoli 2-4 Lazio, Immobile
Analisis: Lazio tak terima harga diri Serie A diinjak-injak. Hanya menyisakan Juve di liga Champion adalah sebuah penghinaan terhadap negerinya Monica Bellucci. Untuk itu, degrit memproklamirkan diri wajib tembus 3 besar. UCL harga mati!

DC
Empoli 0-1 Lazio, Immobile
Main tandang ga masalah. Karena lawannya payah. Jadi 3 poin dibungkus ke ibukota.

Arifin
Empoli 1-3 Lazio, Immobile
Empoli tumbang. Lajio menang. Om budi riang. Pulsapun datang.

Widy
Empoli 2-1 Lazio, Immobile
Kali ini Lazio Away nih. Menjaga posisi biar aman di zona Eropa. Kali ini ngejajal Empoli. Eh tandang malah kalah 2-1.

Indah Santika
Empoli 2-1 Lazio, Felipe
Kali ini dukung Empoli, om Budi jangan masuk gua yes. Dengan kebingunan eke harus analisa min 3 kalimat. Ulala..🙊

Takdir
Empoli 0-1 Biglia
Analisis: Lazio per sempre. Lazio ti amo. Avanti Lazio. Il capitano BIG PLAYER did it again.

Karawang, 180217

Buku Baru Februari 2017

image

Awal Februari kemarin saya mudik Solo dan tak dinyana, mudik iseng itu bersua dengan pameran buku di (bekas) Goro As Salam. Jadinya saat hari pertama pameran buku dibuka Jumat tanggal 3 Februari 2017 saya langsung ke sana, sendiri. Dan ketika tahu ada banyak buku bagus dengan harga miring, diriku tak kuasa menahan diri. Mudik kali ini sebenarnya tak ada acara apapun, sekedar bersua rumah yang kurindu, ketemu keluarga, ingin melepas kangen dengan ibu. Buku-buku ini hanya bonus ketika memeluk orang tua. Ga semua buku bulan ini saya beli di sana. Ada yang kubeli di toko buku Salemba, KCP, Karawang sebelum pulang. Ada yang dikirimi teman dari Jakarta. Ada yang dari toko buku loak Gladag, sebuah kewajiban setiap mudik mampir ke sana. Lalu juga ke toko buku Togamas. Ternyata Solo surga tempat belanja buku. Ada dua Gramedia, ada Togamas, dan sederet panjang toko loak Sriwedari. Luar biasa. Aneh aja mudik dua hari mampirnya ke empat tempat jualan buku. Tapi karena bulan ini lagi cekak, budget terbatas yang utama dilihat adalah harga baru kualitas. Saya sampai megap-megap melihat harga miringnya. Dan berulang kali tanya ke penjualnya untuk sekedar meyakinkan, ‘buku sebagus ini seharga segini? Serius?” Haha, parah. Nah, saat libur Imlek kemarin saya ke Gramedia Karawang bersama May dan Hermione, jalan-jalan tanpa beli buku sama sekali karena memang antrian baca sudah menumpuk. Dan inilah buku-buku yang akan menemaniku ke depan.

1. A Man Called #Ahok – @kurawa
Sehari sebelum Pilkada serentak, saya mendapat kiriman buku dari sobat Brav, Jakarta. Teman diskusi film ini mengirimiku 2 eksemplar buku tipis yang kubaca dalam tempo sesingkat-singkatnya. Saking tipis dan sederhananya ini buku, saya membacanya sambil menyuapi Hermione, kuulas dengan musik santai dalam ketikan cepat memakan waktu tak lebih dari satu jam. Hasilnya, yah buku copas dari Sosmed milik akun @kurawa ini memang ala kadarnya.

2. Gone With The Wind #1 – Margaret Mitchell
Filmnya fenomenal, meraup 10 Oscar. Saya masih terkagum-kagum sekalipun sudah sedekade lewat menontonnya. Sebuah metafora perubahan sifat seorang gadis manja Scarlett O’Hara menjadi begitu tangguh di era perang sudara di Amerika. Kehebatannya sudah digadang-gadang dari generasi ke generasi. Menang Pulitzer award tahun 1937. Jadi mari kita buktikan. Btw, ternyata yang saya beli hanya jilid satu. Hiks, ada ga ya teman-teman yang punya lanjutannya? Mau dong yang punya.

3. Witch Catcher – Mary Downing Hahn
Terbitan Atria memang tak pernah mengecewakan. Genrenya cocok dengan saya. Fantasi imaji untuk young adult. Pemiliahan cover yang bagus. Terjemahan yang pas. Sudah lebih dari 10 novel Atria kulahap dan semuanya bagus. Kali ini tentang Jen yang tahu bahwa ayahnya mendapat warisan di Virginia Barat, ayahnya mempunyai kekasih bernama Moura. Moura terobsesi pada bola kaca warna-warni warisan paman Thaddeus. Namun saat bola kecil itu pecah, hal-hal buruk mulai terjadi hingga ada seorang gadis kecil mengaku peri memasuki dunia Jen.

4. Prince Of Thorns – Mark Lawrence
Covernya sangat menjanjikan. Layaknya sebuah adaptasi cerita game bertensi cepat. Tentang Pangeran Honorous Jorg Ancrath yang memiliki dendam untuk kembali mengambil haknya. Kematian dan kehidupan serasa sekedar permainan baginya. Tak ada yang tersisa, namun ada penghianat dan sihir gelap menghadang. Berhasilkah penaklukkan ini?

5. Petualangan Huckleberry Finn – Mark Twain
Di usiaku yang sudah kepada 3, ternyata baru kusadari saya belum pernah membaca satupun karya Twain! Gila. Kemana saja saya ini. Tom Sawyer dan Huckleberry Finn yang legendaris itu baru mau saya taklukkan salah satunya. Heran? Haha.. ga juga. Semesta ini luar biasa besarnya. Sampai usia sejuta tahun pun kalian tak akan sanggup menikmati semua karya yang tercipta saking banyaknya. Terlambat? Nope! Tak ada kata terlambat membaca buku-buku klasik. Selagi ada waktu, nikmatilah hidup ini dengan membaca sebanyak yang kau mampu. Ok, Finn dulu baru Tom.

6. Aliens On Vacation – Clete Barret Smith
Sebuah penginapan bertema Star War milik neneknya Scrub awalnya terlihat sangat biasa. Namun siapa sangka para tamu aneh-aneh itu ternyata alien. Sherif Tate curiga. Segalanya menjadi menarik saat Scrub mengenal Amy, gadis penyukai segala hal berbau alien. Sesuatu yang mengancam ada di depan, berhasilkah Scrub menyelamatkan penginapan Granma-nya?

7. The Spell Bound Book – Miki Monticelli
Wow ada posternya. Tergantung isi ceritanya nih. Kalau bagus, akan saya pasang di kamar. Covernya unik, ada lubang lingkaran di depan yang memperlihatkan seorang gadis terduduk memandang air terjun, sementara seekor naga? termenung di belakangnya. Tentang Cornelia Bocchineri baru tahu dia adalah seorang peri.  Bersama Dirk dan Luna serta ahli sihir Sir Arborescent, mereka melawan Nocromancer yang jahat. Perebutan sebuah kitab peri.

8. The Picture Of Dorian Gray – Oscar Wilde
Jadi buku kedua Oscar yang saya baca. Setelah kumpulan cerpen yang tipis namun terasa mewah, kali ini sebuah novel. Digadang-gadang sebagai salah satu novel berpengaruh sepanjang masa dengan tagline terkenalnya, “setiap kita memiliki sisi malaikat dan sisi setan dalam diri.” Jadi seberapa hebat kisah Gray? See..

9. Summer – Albert Camus
Buku kedua Camus yang kubaca. Setelah megap-megap dalam kisah fenomenal ‘Orang Aneh’ kali ini saya disuguhi kumpulan essai. Ada delapan, dan tulisannya panjang-panjang. Sudah selesai baca sekali duduk dua pekan lalu. Pemikiran Camus emang nyeleneh. “Tidak, saya tidak eksistensialis. Sartre dan aku selalu terkejut melihat nama kami terhubung…”

10. Sisters Red – Jackson Pearce
Serigala itu membuka rahangnya yang panjang. Deretan gigi tajam mendekat ke arahnya. Sebuah pikiran berkecamuk di dalam benak Scarlett: Cuma tinggal aku sendiri yang tersisa untuk bertempur. Jadi sekarang aku harus membunuhmu. Tentang Scarlett March dan Rosie March, dua saudari pemburu Fenris, manusia serigala.

11. Disclosure – Michael Crichton
Ngomongin Crichton yang pertama terlintas jelas Jurasic Park yang fenomenal itu. Sejujurnya saya belum pernah membaca satupun karya beliau, kisah dinosaurus itu kunikmati hanya lewat layar kaca bukan dalam lembar kertas. Jadi ini bakal buku perdana Crichton yang kulahap. Sepertinya menjanjikan, tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita! Wew, perlu diungkap lebih detail ini.

12. Uncle Tom’s Cabin – Harriet Beecher Stowe
Pondok Paman Tom ini juga menghantuiku. Bocorannya sudah wara-wiri ke telinga, susah menutup sepenuhnya spoiler yang berkembang. Untungnya sebelum lebih jauh menganga bocornya saya mendapati buku ini. Siapa yang tak tahu kisah klasik Tom tentang perbudakan di Amerika yang mengguncang perang saudara tahun 1861 – 1865? Buku kontroversial ini wajib baca bagi pecinta sastra, katanya.

13. The Day After Tomorrow – Allan Folsom
Apakah novel ini ada hubungannya dengan film legendaris itu? Tanpa googling, feelingku film itu diadaptasi dari buku ini, namun entahlah, saya membelinya karena tertarik aja nama asing Allan Folsom seorang novelis sekaligus skenario Amerika. Ah buku-buku tahun 1990-an selalu seksi untuk dinikmati.

14. Gabriela, Cengkih Dan Kayu Manis – Jorge Amado
Pertama yang terlintas tentang Penulis Amerika Latin akan selalu terbesit nama Gabriel Garcia Marquez. Namun nama Jorge juga sama termasyurnya. Inilah buku pertama yang kubaca setelah sampai kembali di Karawang. Sudah mencapai 2/3 bagian, tentang sebuah kota kecil di Brazil bernama Ilheus. Hiruk pikuk kota dengan berbagai sudut pandang. Intrik politik, perselingkuhan dan seni bergosip dalam bermasyarakat. Semua bagian dibuka dengan subjudul ‘perihal…’ Ok inilah the  chronicle of Ilheus!

Karawang, 170217 – The Cranberries – Linger