La La Land: Musical Experience

image

image

Sebastian: You could just write your own rules. You know, write something that’s as interisting as you are. | Mia: What are you gonna doing? | Sebastian: Have my own club.

Hey jamaah La La Land, merapatlah. Berikut pandangan saya terhadap imam kalian yang menjadi leading 14 nominasi 14 Oscar 2017. Seberapa layak film musikal ini besok Senin di puncak acara penghargaan tertinggi. Seistimewa apa sehingga film dengan judul laiknya sebuah wahana Dufan ini bisa menjadi ulasan terakhir saya sebelum memprediksi?

Opening scene-nya adalah bilang ‘Filmed in cinemascope’. A bit of madness is key to give us to color to see. LA, tempat orang-orang bermimpi untuk menjadi sukses di dunia hiburan.

Mia Dolan (Emma Stone) adalah seorang kasir kafe yang bermimpi menjadi aktris Hollywodd suatu hari nanti. Mengikuti audisi demi dapat peran dari satu kasting ke kasting lain. Mia idealis dalam memilih pasangan, ia menginginkan keceriaan seorang musisi, sehingga saat berkenalan dekenalkan dengan seorang calon Penulis yang ambisius ia menolak pergi.

Sebastian Wilder (Ryan Gosling) adalah pianis muda yang idealis. Punya mimpi suatu hari nanti memiliki klub jazz sendiri. Untuk menjadi besar terkadang memang harus sedikit melepas ego. Sembari menanti kesempatan datang, ia memainkan piano di sebuah kafe yang dikepalai Bill (JK Simmons, sifat kerasnya sebagai konduktor musik di Whiplash masih terlihat). Di malam Natal itu karena Sebastian melepaskan intonasi nada yang tak sesuai suasana, ia dipecat. You’re fire in Christmas and good luck in new year.

Begitulah, Mia sedang pulang dari pesta. Karena mobilnya kena tilang diderek, ia berjalan kaki mampir ke kafe bertemu dengan Seb yang dipecat. Pertemuan kedua – yang pertama berakhir dengan Mia mengacungkan jari tengah di tengah kemacetan kepada Seb – berlangsung sesaat karena niat sapa Mia kena abai. Mia yang mencoba memuji permainan pianonya dicuekin. Oh godnesh. Kisah cinta yang buruk pada pandangan pertama.

Tapi takdir memang menggariskan mereka untuk bertemu lagi. Dalam pesta akhir pekan di rumah mewah di pinggir kolam, Mia mendapati Seb sedang memainkan piano bersama grup musik urakan. Yep I ran-nya Flock Of Seagulls Pertemuan yang membuat mereka akhirnya berbincang. Mengenal lebih dekat. Seb mencari jodoh seorang gadis pecinta Jazz, tentu saja layaknya saya dulu memburu gadis pecinta buku. Mia benci jazz, baginya jazz – sekedar tahu adalah musik lembut yang menenangkan. Dari sini kita harusnya tahu, ini kabar buruk kalau kalian menginginkan mereka bersatu dalam ikatan nikah. Tapi Seb malah mengajarkan arti Jazz dan cinta pada Mia. Adegan Emma mengenakan baju kuning dan Ryan bersetelan jas menari bersama di Hollywood Hill di bawah cahaya langit malam diringi A Lovely Night adalah satu adegan paling mengesankan tahun 2016.

Berdua, mereka mencoba mewujudkan mimpi besar. Berjuang bersama membuat sejarah. Mia terus datang di berbagai kasting. Seb memainkan idealis musiknya. Mia mencoba menulis monolog drama pribadi berjudul So Long, Boulder City. Jalan berdua sesekali ini suatu malam menemui titik cinta di sebuah planetarium Griffith Observatory dan dengan diiringi skoring menawan akhirnya mereka berciuman setelah dalam imaji seru terbang dan menari di langit di tengah bintang.

Demi cinta Seb akhirnya mengendurkan pegangannya. Menjadi musisi yang lebih nge-pop keliling dunia adalah petaka. Tapi karena mereka butuh uang, Seb menandatangani kontrak. Bergabung dengan band Keith adalah bencana. Dialog absurb Seb dengan John Legend itu justru begitu menggores di ingatan. Bagaimana Jazz adalah masa depan. How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist? You hold onto the past, but jazz is about the future. Band yang digawangi Keith ini berjalan sukses dan mulai dikenal pubrik. Kesibukan melanda. Mia saat itu masih berkutat di bawah. Seb tetap mendukungnya, terus menjaga api asa kekasihnya. Dengan iringan piano, lagu yang menemani mereka itu saya prediksi jadi Song Of The Year: ‘City of Stars’ memang paling bagus dari semua yang terdengar.

Petaka datang saat Seb memberi kejutan pulang dari tour untuk makan malam dengannya. Sayangnya kejutan yang harusnya menyenangkan itu berakhir dengan kesedihan. Mia yang frustasi diberi suntikan semangat terus olehnya, tapi rasanya tidak. ‘Its over’. Menjadi aktris mustahil bila tak ada kesempatan pertama, ia memutuskan pulang ke orang tuanya di Boulder City, Nevada. Mengubur impian. ‘Maybe I am not good enough’. Nah cahaya datang saat kita sedang dalam titik kegelapan yang memuncak. Karena Seb mendapat telepon dari pengarah kasting seorang sutradara kasting ternama Amy Brant. Mereka menghubungi Mia tapi karena HP nya mati dan nomor Seb adalah nomor yang dicantumkan maka mereka memberitahu bahwa Mia Dolan mendapat kesempatan kasting. Wow, nama besar Brant menggerakkan Seb untuk menjemput Mia memberitahu kabar bagus ini. Bel mobil di depan perpustakaan film-film klasik itu terlihat sederhana, tapi membuatku terkesan karena dinukil dari diaolog sepintas yang mungkin kita kira tak penting. Sayang bunga-bunga mimpi Mia sudah layu, what? Akankah dia membuang kesempatan emas ini? Bersatukah mereka akhirnya dalam kisah musikal penuh cinta ini?

Kunci menikmati film ini adalah di opening scene yang memperlihatkan sekumpulan pengendara menari dan bernyanyi di tengah kemacetan lalu lintas. Bagaimana orang-orang berwajah frustasi ditemani musik dari dashboard  itu menjadi begitu hidup meluapkan keceriaan. Masalahnya saya tak langsung terkesan, saya baru benar-benar menikmatinya ketika menonton ulang untuk mengetik ulasan ini. Jadi dengan plot unik di mana sudut pandang dua orang yang lalu disatukan kemudian dihempaskan memang terdengar klasik, tapi masih jitu meraup simpati.

Film ini hanya mencampurkan banyak referensi fiksi sebelumnya menjadi kumpulan video klip bernama album BLa BLa BLand. Tentang audisi menjadi bintang, bersaing dengan ribuan kandidat. Aksi Stone adalah bentuk gerak kitab ‘A Stranger In The Mirror’ karya Sidney Sheldon. Tetang impian mendirikan cafe milik sendiri dengan idealis jazz di dalamnya, sudah ada sangat banyak. Lalu kisah cinta yang patah di mana twist ending memperlihatkan ‘ekspektasi’ dari pahitnya ‘reality’ sudah dibuat 9 tahun lalu dalam (500) Days of Summer dan jauh lebih berkualitas.

Chemistry Ryan dan Emma memang bagus. Coba tonton lagi, Ryan sepanjang film tak pernah mengenalkan dirinya, dan Emma-pun tak ada satu adeganpun menyebut nama Seb. Kolaborasi ketiga pasca film unik Crazy Stupid Love dan Gangster Squad ini begitu dicintai juri Hollywood. Jadi film musikal yang membuat kita untuk terus berjuang guna mewujudkan impian. Mendapat 14 nominasi menurutku adalah lelucon. Mendapat 7 nominasl Golden Globe dengan menyapu bersih. Gila. Film leading Oscar tahun ini yang mencoba menumbangkan rekor Titanic dan All About eve adalah musikal!

Adalah bencana kalau sampai Emma menang. Chazelle yang baru berusia 31 tahun, OMG! Tuaan aku woy, baru buat dua film. Chazelle memang seorang pemimpi. Dua filmnya sebenarnya bertema sama dengan iringan musik menyertai. CV film masih kurang banyak, Martin Scorsese seorang legenda besar saja butuh puluhan film dirilis dulu untuk mengetuk hati juri. Bencana kalau sampai dia menjadi sutradara termuda yang mengangkat piala itu. bencana kalau plot ringan macam gini menang screenplay. Bencana kalau sampai kostum-kostum warna warni sederhana gini bisa menang. Whisplash bahkan jauh lebih berkelas ketimbang Bla Bla Bland.

Untuk acara besok saya sudah ambil cuti. Oscar ketujuh beruntun yang saya lihat langsung itu kuharap tidak jadi bencana!

La La Land | Year 2016 | Directed by Damien Chazelle | Screenplay Damien Chazelle | Cast Emma Stone, Ryan Gosling, JK Simmons, John Legend | Skor: 4/5

Karawang, 260217 – Justin Crew – Que Sera

Iklan

2 thoughts on “La La Land: Musical Experience

  1. Belum sempat nonton film yang satu ini. Kemarin malah tidak sengaja membaca spoiler endingnyaa. Yaaahh bakal makin ga niat deh ngeliat film ini meski banyak yang bilang bagus :,D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s