Prediksi Oscar 2017: Choose Wisely ‘Singing’ Or ‘Thinking’

image

Tahun ini akan menjadi tahun ketujuh saya menyaksikan langsung (striming atau bersama komunitas film ke Jakarta) pagelaran Oscar. Tahun ini gegap gempitanya sedikit menurun. Biasanya saat nominasi diumumkan saya dengan gencar segera berburu tapi kali ini hanya seminggu akhir saya kebut nonton dan review #OscarRace. Tanpa googling, mari kita bermain tebak-tebakan. Dan berikut prediksi Lazione Budy:

Best motion picture of the year – “Arrival”
Menebak La La Land menang serasa mengikuti arus kegemparan. Menjagokan Hacksaw Ridge rasanya mendukung Amerika sekali. Lion sulit mengaum dengan kompisisi heartwarming tertebak. Tahun ini saya kembali menuruti kata hati di mana kualitas adalah nomor satu. Arrival adalah film terbaik 2016 yang seharusnya menyandang gelar tertinggi ini.

Performance by an actor in a leading role – Casey Affleck in “Manchester By The Sea”
Menjadi film terakhir yang saya tonton sebelum menebak, sore tadi baru kelar. Menyenangkan sekali menonton drama tragedi sebuah keluarga di Manchester, bukan England tapi sebuah daerah kurang lebih perjalanan mobil 1,5 jam dari Boston, Amerika. Bagaimana sebuah bencana mengubah sifat manusia. Affleck memerankan manusia rapuh itu dengan brilian. Berdamai dengan masa lalu.

Performance by an actress in a leading role – Natalie Portman in “Jackie”
Bencana kalau piala ini jatuh kepada Emma. Dari semua kandidat baru satu yang saya nikmati dan saya tak terkesan. Akting merajut mimpi dari satu kasting ke kasting lain. Dari satu nyanyi ke nyanyi lain. Natalie Portman?

Performance by an actor in a supporting role – Mahershala Ali in “Moonlight”
Nocturnal Animal adalah film bagus. Sayang sekali hanya mengirim satu wakil yang saya yakini gagal menang. Jeff di usia senjanya masih jitu dalam membidik. Patel bisa saja menang karena Lion jadi begitu bernyawa, tapi kepada Ali-lah juaranya.

Performance by an actress in a supporting role – Michelle Williams in “Manchester By The Sea”
Kidman paling kecil peluangnya, aksinya biasa banget. Octavia jos banget, tapi seharusnya di Hidden yang maju Taraji. Saya belum nonton Fences yang kabarnya memberi aksi keren Davis. Yang jelas Michelle benar-benar menunjang kehebatan Affleck. Semoga jadi obat luka kegagalan Blue Valentine.

Achievement in directing – “Arrival” Dennis Villeneuve
Setelah twist keren alasan kedatangan para heptapod terungkap saya langsung plot dua kategori utama harus kepada Arrival. Andai kepada Kenneth-pun saya juga setuju. Karena Manchester superb sekali. Asal jangan kepada Gibson, apalagi Damien. Ayolah, tahun ini kualitas HARUS jadi nomor satu.

Adapted screenplay – “Arrival”
Bagian ini paling sulit. Siapapun yang menang saya tak keberatan. Tapi kalau mutu yang diukur lagi lagi saya harus pilih Arrival, salah satu masterpiece fiksi ilmiah. Sulit sekali membuat bahasa melingkar dengan pemahaman dari berbagai sudut. Dan pilihan menaruh bayangan masa depan di opening scene sehingga sukses mengecoh penonton itu pilihan yang sangat brilian.

Original screenplay – “Manchester By The Sea”
Asal jangan La La Land. Ceritanya cupu. Hell punya daya ledak dan perdebatan seru arti kata ‘merampok’. Jarang-jarang ‘kan saya dukung Manchester, forza LAZIO. Emang cerita berkelas. Film terakhir yang kutonton dan begitu membekas.

Best animated feature film of the year – “Zootopia”
Setelah bertahun-tahun dengan mudah menebak kategori kartun tahun ini kelimpungan. Dimulai Moana yang kupilih sebagai kartun pertama. Jelas aksi Princess keling ini adalah film keluarga kesukaan juri Oscar. Lalu dukungan beralih ke Kubo yang kualitas tiada banding stop-motion. Tapi di menit-menit akhir saya malah dapat kaset Zoo. Dan terkesan sekali hingga memberi rate 5/5. Bagaimana-pun Shakira memang mempesona.

Achievement in cinematography – “La La Land”
Saya terkesan sekali sama Kubo, sayang sekali tak masuk. Lion rasanya sulit. Bolehlah kategori ini ke film musikal.

Achievement in costume design – “Fantastic Beasts and Where To Find Them”
Ketika Allied rilis diluardugaku dalam diskusi banyak yang bernada review negatif. Saya suka sekali film ini termasuk design pilihan baju. Ketika Fantastic rilis saya sudah plot di bagian cotume layak menang. Semua seri Harry Potter ‘kan design kostumnya istimewa. Kalau ga pilih ini bisa digebuki Potter Mania saya.

Achievement in film editing – “La La Land”
Bolehlah musikal menang di sini. Kategori additional yang seandainya Arrival kalah-pun tak membuatku keberatan.

Achievement in makeup and hairstyling – “Star Trek
Karena baru film ini yang sudah kutonton. Haha.

Achievement in music written for motion pictures (Original score) – “La La Land”
Ya ya setuju sekali kalau ini yang menang permainan piano si Ryan juara sekali. Tebakan mudah kalau yang ini.

Achievement in music written for motion pictures (Original song) – “City Of Stars” from “La La Land”
Karena musikal, kedua kategori ini patut untuk mereka. Audition pun sama bagusnya, saya setuju. Sayang sekali film seceria Trolls hanya mengirim satu wakil di waktu yang tak tepat. Coba lagi kapan-kapan Justin!

Achievement in production design – “Arrival”
Design batu cobek dengan lubang kotak anti gravitasi itu ide yang brilian. Senyap dan mencekam.

Achievement in sound editing – “Sully”
Menjadi satu-satunya nominasi dari film pahlawan lokal Sully. Semua sudah kutonton dan bagus semua di bagian ini. Tapi sully sudah kuplot jauh hari, rasanya tinggal pengesahan aja.

Achievement in sound mixing – “La La Land”
Hacksaw bisa saja menang, perang jadi begitu mencekam. Sampai sekarang saya belum lihat Rogue One. Tapi tahun ini urusan suara memang milik Bla Bla Bland.

Achievement in visual effects – “The Jungle Book”
Efek di bagian ini keren semua, sangat mendukung cerita. Kubo dengan jerangkong raksasanya. Deepwater dengan semburan apinya. Dr Strange dengan kota lipatnya. Antara Strange dan Jungle. Kisah adaptasi dari buku Kipling tak boleh tangan hampa. Satu-satunya tiket itu ada di sini.

Karawang, 260217 – Arina Grande feat Iggy Azalea – Problem

Iklan

La La Land: Musical Experience

image

image

Sebastian: You could just write your own rules. You know, write something that’s as interisting as you are. | Mia: What are you gonna doing? | Sebastian: Have my own club.

Hey jamaah La La Land, merapatlah. Berikut pandangan saya terhadap imam kalian yang menjadi leading 14 nominasi 14 Oscar 2017. Seberapa layak film musikal ini besok Senin di puncak acara penghargaan tertinggi. Seistimewa apa sehingga film dengan judul laiknya sebuah wahana Dufan ini bisa menjadi ulasan terakhir saya sebelum memprediksi?

Opening scene-nya adalah bilang ‘Filmed in cinemascope’. A bit of madness is key to give us to color to see. LA, tempat orang-orang bermimpi untuk menjadi sukses di dunia hiburan.

Mia Dolan (Emma Stone) adalah seorang kasir kafe yang bermimpi menjadi aktris Hollywodd suatu hari nanti. Mengikuti audisi demi dapat peran dari satu kasting ke kasting lain. Mia idealis dalam memilih pasangan, ia menginginkan keceriaan seorang musisi, sehingga saat berkenalan dekenalkan dengan seorang calon Penulis yang ambisius ia menolak pergi.

Sebastian Wilder (Ryan Gosling) adalah pianis muda yang idealis. Punya mimpi suatu hari nanti memiliki klub jazz sendiri. Untuk menjadi besar terkadang memang harus sedikit melepas ego. Sembari menanti kesempatan datang, ia memainkan piano di sebuah kafe yang dikepalai Bill (JK Simmons, sifat kerasnya sebagai konduktor musik di Whiplash masih terlihat). Di malam Natal itu karena Sebastian melepaskan intonasi nada yang tak sesuai suasana, ia dipecat. You’re fire in Christmas and good luck in new year.

Begitulah, Mia sedang pulang dari pesta. Karena mobilnya kena tilang diderek, ia berjalan kaki mampir ke kafe bertemu dengan Seb yang dipecat. Pertemuan kedua – yang pertama berakhir dengan Mia mengacungkan jari tengah di tengah kemacetan kepada Seb – berlangsung sesaat karena niat sapa Mia kena abai. Mia yang mencoba memuji permainan pianonya dicuekin. Oh godnesh. Kisah cinta yang buruk pada pandangan pertama.

Tapi takdir memang menggariskan mereka untuk bertemu lagi. Dalam pesta akhir pekan di rumah mewah di pinggir kolam, Mia mendapati Seb sedang memainkan piano bersama grup musik urakan. Yep I ran-nya Flock Of Seagulls Pertemuan yang membuat mereka akhirnya berbincang. Mengenal lebih dekat. Seb mencari jodoh seorang gadis pecinta Jazz, tentu saja layaknya saya dulu memburu gadis pecinta buku. Mia benci jazz, baginya jazz – sekedar tahu adalah musik lembut yang menenangkan. Dari sini kita harusnya tahu, ini kabar buruk kalau kalian menginginkan mereka bersatu dalam ikatan nikah. Tapi Seb malah mengajarkan arti Jazz dan cinta pada Mia. Adegan Emma mengenakan baju kuning dan Ryan bersetelan jas menari bersama di Hollywood Hill di bawah cahaya langit malam diringi A Lovely Night adalah satu adegan paling mengesankan tahun 2016.

Berdua, mereka mencoba mewujudkan mimpi besar. Berjuang bersama membuat sejarah. Mia terus datang di berbagai kasting. Seb memainkan idealis musiknya. Mia mencoba menulis monolog drama pribadi berjudul So Long, Boulder City. Jalan berdua sesekali ini suatu malam menemui titik cinta di sebuah planetarium Griffith Observatory dan dengan diiringi skoring menawan akhirnya mereka berciuman setelah dalam imaji seru terbang dan menari di langit di tengah bintang.

Demi cinta Seb akhirnya mengendurkan pegangannya. Menjadi musisi yang lebih nge-pop keliling dunia adalah petaka. Tapi karena mereka butuh uang, Seb menandatangani kontrak. Bergabung dengan band Keith adalah bencana. Dialog absurb Seb dengan John Legend itu justru begitu menggores di ingatan. Bagaimana Jazz adalah masa depan. How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist? You hold onto the past, but jazz is about the future. Band yang digawangi Keith ini berjalan sukses dan mulai dikenal pubrik. Kesibukan melanda. Mia saat itu masih berkutat di bawah. Seb tetap mendukungnya, terus menjaga api asa kekasihnya. Dengan iringan piano, lagu yang menemani mereka itu saya prediksi jadi Song Of The Year: ‘City of Stars’ memang paling bagus dari semua yang terdengar.

Petaka datang saat Seb memberi kejutan pulang dari tour untuk makan malam dengannya. Sayangnya kejutan yang harusnya menyenangkan itu berakhir dengan kesedihan. Mia yang frustasi diberi suntikan semangat terus olehnya, tapi rasanya tidak. ‘Its over’. Menjadi aktris mustahil bila tak ada kesempatan pertama, ia memutuskan pulang ke orang tuanya di Boulder City, Nevada. Mengubur impian. ‘Maybe I am not good enough’. Nah cahaya datang saat kita sedang dalam titik kegelapan yang memuncak. Karena Seb mendapat telepon dari pengarah kasting seorang sutradara kasting ternama Amy Brant. Mereka menghubungi Mia tapi karena HP nya mati dan nomor Seb adalah nomor yang dicantumkan maka mereka memberitahu bahwa Mia Dolan mendapat kesempatan kasting. Wow, nama besar Brant menggerakkan Seb untuk menjemput Mia memberitahu kabar bagus ini. Bel mobil di depan perpustakaan film-film klasik itu terlihat sederhana, tapi membuatku terkesan karena dinukil dari diaolog sepintas yang mungkin kita kira tak penting. Sayang bunga-bunga mimpi Mia sudah layu, what? Akankah dia membuang kesempatan emas ini? Bersatukah mereka akhirnya dalam kisah musikal penuh cinta ini?

Kunci menikmati film ini adalah di opening scene yang memperlihatkan sekumpulan pengendara menari dan bernyanyi di tengah kemacetan lalu lintas. Bagaimana orang-orang berwajah frustasi ditemani musik dari dashboard  itu menjadi begitu hidup meluapkan keceriaan. Masalahnya saya tak langsung terkesan, saya baru benar-benar menikmatinya ketika menonton ulang untuk mengetik ulasan ini. Jadi dengan plot unik di mana sudut pandang dua orang yang lalu disatukan kemudian dihempaskan memang terdengar klasik, tapi masih jitu meraup simpati.

Film ini hanya mencampurkan banyak referensi fiksi sebelumnya menjadi kumpulan video klip bernama album BLa BLa BLand. Tentang audisi menjadi bintang, bersaing dengan ribuan kandidat. Aksi Stone adalah bentuk gerak kitab ‘A Stranger In The Mirror’ karya Sidney Sheldon. Tetang impian mendirikan cafe milik sendiri dengan idealis jazz di dalamnya, sudah ada sangat banyak. Lalu kisah cinta yang patah di mana twist ending memperlihatkan ‘ekspektasi’ dari pahitnya ‘reality’ sudah dibuat 9 tahun lalu dalam (500) Days of Summer dan jauh lebih berkualitas.

Chemistry Ryan dan Emma memang bagus. Coba tonton lagi, Ryan sepanjang film tak pernah mengenalkan dirinya, dan Emma-pun tak ada satu adeganpun menyebut nama Seb. Kolaborasi ketiga pasca film unik Crazy Stupid Love dan Gangster Squad ini begitu dicintai juri Hollywood. Jadi film musikal yang membuat kita untuk terus berjuang guna mewujudkan impian. Mendapat 14 nominasi menurutku adalah lelucon. Mendapat 7 nominasl Golden Globe dengan menyapu bersih. Gila. Film leading Oscar tahun ini yang mencoba menumbangkan rekor Titanic dan All About eve adalah musikal!

Adalah bencana kalau sampai Emma menang. Chazelle yang baru berusia 31 tahun, OMG! Tuaan aku woy, baru buat dua film. Chazelle memang seorang pemimpi. Dua filmnya sebenarnya bertema sama dengan iringan musik menyertai. CV film masih kurang banyak, Martin Scorsese seorang legenda besar saja butuh puluhan film dirilis dulu untuk mengetuk hati juri. Bencana kalau sampai dia menjadi sutradara termuda yang mengangkat piala itu. bencana kalau plot ringan macam gini menang screenplay. Bencana kalau sampai kostum-kostum warna warni sederhana gini bisa menang. Whisplash bahkan jauh lebih berkelas ketimbang Bla Bla Bland.

Untuk acara besok saya sudah ambil cuti. Oscar ketujuh beruntun yang saya lihat langsung itu kuharap tidak jadi bencana!

La La Land | Year 2016 | Directed by Damien Chazelle | Screenplay Damien Chazelle | Cast Emma Stone, Ryan Gosling, JK Simmons, John Legend | Skor: 4/5

Karawang, 260217 – Justin Crew – Que Sera