Passengers: Ninety Years Too Soon

image

Aurora: If you live an ordinary life, all you’ll have are ordinary stories.

Dengan teknologi yang makin canggih segala bentuk gambar gerak yang 30 tahun lalu begitu sulit dibuat jadi bisa diwujudkan saat ini. Passengers menampilkan kemegahan dalam layar itu dengan bumbu cinta di tengah bencana. Penampilan Jennifer Lawrence memang tak pernah mengecewakan. Seharusnya memang jadi film yang bagus, sayangnya tak original. Kisah menjelajah planet lain untuk dihuni mengingatkanku pada kartun Pixar, Wall-E. Hanya robot kesepian itu diganti manusia, minus penampilan planet bumi.

Kisah dua orang penumpang pesawat luar angkasa yang bangun dari hibernasi di waktu yang tidak tepat. Mereka dalam perjalanan 120 tahun mati suri menuju koloni baru Homestead II untuk dihuni. Dengan pesawat canggih autopilot Starship Avalon semua orang, 258 kru dan 5.000 penumpang tertidur di kapsul hibernasi. Dengan perisai utama di monyong kapal semua benda disikat sehingga aman dari segala kemungkinan terdampar. Namun ada saat sesuatu salah perkiraan karena suatu ketika pesawat itu menabrak asteroid besar, harusnya mesin secara otomatis memperbaiki bagian yang rusak, auto repairing. Naas, ada satu kapsul yang gagal OK sehingga nomor 1498 itu membuka otomatis lebih dini.

Adalah penumpang kelas silver James ‘Jim’ Preston (Chris Pratt) yang linglung. Seorang mekanik engineer. Ia jadi satu-satunya penumpang yang terbangun lebih cepat 90 tahun. Segala hal di Avalon sudah otomatis. Makanan, tukang bersih-bersih robot 4 sweeper, fasilitas huni kelas hotel. Jim menghuni kamar nomor 268.  Awalnya dikiranya Homestead II sudah dekat, namun betapa terkejutnya ia saat acara makan malam sepi. Kepanikan melanda, adegan saat Jim sadar hanya ia seorang yang terbangun sangat bagus. Bagaimana ia berlari kesana kemari mencari orang, orang nyata. Minta bertemu kapten atau kru, namun gagal. Semua orang masih tertidur. Lalu ia memutuskan mengirim pesan minta bantuan ke bumi. Pesan emergency itu dikirm ke bumi paling cepat diterima dalam 19 tahun dan paling cepat akan mendapat balasan dalam 55 tahun. Pesan berbiaya 6,012 Dollar itu terdengar mengerikan sekali. Berarti pesan 74 tahun itu tak lebih baik dari kemungkinan Avalon sampai ke tujuan dalam 90 tahun lagi. Asem. Jim pastinya dalam hati misuh-misuh. Nah betapa terkejutnya ia saat di bar bertemu bartender, ‘oh man, leganya bertemu manusia.’. Dan setelah basa-basi, ternyata ta-da… ia adalah android berwujud manusia bernama Arthur (diperankan dengan bagus oleh Michael Sheen). Menemaninya berbincang setiap saat sambil minum. Waktu terus berlalu, Jim mulai brewokan dan terlihat frustasi. Arthur lalu memberi saran untuk menikmati aja setiap momen dijalaninya. Lupakan sejenak kekhawatiran yang tak bisa kau kendalikan. It’s yours!

Namun seseru-serunya sendiri ada kata bosan di dalamnya. Setahun berselang, ia benar-benar frustasi. Dengan wajah tak terawat penuh jambang dan kumis, ia curhat kepada Arthur. Ada seorang penumpang wanita, Penulis yang begitu dipujanya semasa di bumi, Aurora Lane (Jennifer Lawrence). Ia begitu menggoda untuk diajak bersama. Membangunkannya adalah hal terakhir yang terpikirkan. Namun karena terus masuk ke otaknya hal terlarang itu justru dilakukannya. Dengan gugup dirusaknya kapsul hibernasi Aurora sehingga akhirnya terbuka. Segera ia kabur saat si cantik siuman. Seperti Jim yang awalnya linglung, Aurora juga bingung kok bisa terbangun sementara semua orang masih tertidur. Pertemuan pertamanya mereka dibuat seolah itu tak sebuah kesengajaan. Sebuah kecelakaanlah yang membangunkannya.

Aurora adalah penumpang kelas bergelang emas, artinya fasilitas yang didapat kelas VIP. Ia menulis dengan teknologi canggih. Tak perlu mengetik dengan ketukan jari. Hanya bercerita kepada semacam Tablet lalu tulisan otomatis mengerak. Luar biasa. Buang keyboard Anda bung, teknologi masa depan ini begitu membuat iri Blogger. Berdua mencoba bertahan. Tentu saja benih cinta muncul dengan keterasingan. Yah, bisa ditebak mereka akhirnya bercinta dan sepertinya bahagia. Masalahnya mau sampai kapan?

Dan masalah sesungguhnya muncul saat Aurora tahu fakta bahwa Jim-lah yang membangunkan. Marah luar biasa tentu. Lalu saat pesawat kembali terguncang menabrak asteroid, membangunkan seorang kru Gus Mancuso (Laurence Fishburne). Navigasi galaksi terlihat sangat canggih, serba otomatis. Menurut Gus, Avalon masih dalam jalur. Keadaan makin gawat karena Avalon diluarduga makin rusak. Gravitasi hilang, kegagalan repair sampai akhirnya terjadi kebocoran dinding yang membuat udara tak steril. Keselamatan semua orang terancam. Berhasilkah mereka melawan takdir?

Ada sebuah lagu cengeng berdujul, ‘berdua lebih baik.’ Lagu itu terdengar manja dan setiap tak sengaja mendengarny membuatku ingin muntah. Namun bagi orang yang suka kesunyian seperti saya, membayangkan sebagai Jim pun rasanya tak mau. Ngeri. Coba kalian lihat lagi posternya ada sederat simbol bertulis, ‘dot dot dot, dash, dash, dash, dot, dot, dot’. Itu adalah kode morse untuk S.O.S, cerdas sekali menggambarkan kegalauan para karakter.

Jennifer Lawrence tampil cantik, sangat cantik seperti biasa. Kecantikan natural dengan nama memikat Aurora. Pertama terlintas dengar kata itu adalah si Aurora dalam Tron Legacy dan sang putri di Sleeping Beauty. Dalam Passengers, Lawrence adalah magnet semua kehampaan besi dan frustrasi dalam Avalon. Adegan saat ia berenang lalu gravitasi menghilang dikepung deburan air hingga sulit bernafas, itu terlihat intimidatif. Saya menahan nafas untukmu. Sesak.

Kalau kalian sudah menonton The Shinning-nya Kubrick kalian pastinya familiar sekali dengan hawa mencekam hotel tempat si gila Nicholson mengetik cerita. Banyak sekali referensi dekorasi dan suasana dibangun untuk membuat ketakutan penonton. Dan sukses. Kesendirian Jim begitu bisa kita rasakan, dan keputusan membangunkan Aurora rasanya langsung harus kita maklumi, bisa jadi kita akan melakukan hal yang sama.

Di Oscar, Passengers mengirimkan dua wakil di Original skor dan Production design. Salah satu seharusnya menang. Skoringnya bagus, sangat bagus. Di bagian jelang akhir saat Avalon rusak parah dan para jagoan terjebak berputar dan terhempas gravitasi, itu benar-benar penuh gaya. Skoring-nya sangat menawan. Desain produksi juga layak menang. Pesawat Avalon yang melingkar berputar dengan lima jeruji itu ide brilian. Ujungnya berperisai yang menghancurkan segala benda yang menghalang, oto-repair yang terlihat canggih. Semua terlihat megah. Tapi prediksiku hanya satu yang dapat.

Sayang saja secara cerita kurang menggigit. Andai Passengers rilis 15 atau 20 tahun lalu bakalan penuh puja-puji. Drama survival bertajuk cinta seperti ini sudah banyak dibuat. Ditambah minim kejutan, penonton pastinya sudah menduga kisah akan menuju ke sana dan happy ending. Dramatisasi hanya bumbu dan saat akhirnya epilog Aurora terdengar, rasa hampa yang tersisa layaknya hembusan nafas lega setelah naik wahana halilintar di Dufan. Saat mesin terhenti, berakhir pula ketegangan itu. ada sedikit rasa degub di dada, tapi tak lama setelahnya tak membekas. Seperti itulah Passengers, hampa. Karena Lawrence pernah terjebak di arena game yang jauh lebih berbahaya dengan hanya berteman panah, kepanikannya terbangun puluhan tahun lebih cepat rasanya sekedar piknik melepas lelah.

“Aku tak bisa hidup di kapal ini tanpamu!”

Passengers | Year 2016 | Directed by Morten Tyldum | Screenplay Jon Spaihts | Cast Jennifer Lawrence, Chris Pratt, Michael Sheen, Laurence Fishburne | Skor: 3,5/5

Karawang, 250217 – Sheila On 7 Spesial on Trans Tv – Kau Kini Ada

Iklan

One thought on “Passengers: Ninety Years Too Soon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s