Trolls: Fun Fun Fun!

image

Poppy: Yes, seriously. Singing helps me relax. Maybe you outh to try it. | Branch: I dont sing and I dont relax. This is the way I am and I like it. I also like a little silence!

Kegembiraan itu menular. Bahagia adalah tema utama film ini. Bahagia adalah pilihan. Ada teori bahwa kiri adalah masa lalu, kanan adalah masa depan. Saya memilih kanan, masa depanku penting yang lalu biarlah berlalu dan melihatnya dengan bahagia. Trolls memberi warna sisi kanan itu layak diperjuangkan. Timing yang sangat pas menikmati kartun warna-warni ini bersama May di sore mendung di hari libur. Tertawa bersama, ceria bersama. Bonus, lagunya bagus-bagus,  sebagian sudah nempel di telinga karena banyak daur ulangnya. True colour langsung saya putar tepat setelah film ini berakhir.

Nyanyi, nari, peluk adalah kegiatan setiap hari para Troll. Seperti kisah-kisah legenda lainnya, film ini dimulai dengan kalimat ‘once upon a time…’ dengan membuka sebuah buku. Terdengar suara seksi Anna Kendrick (Princess Poppy) sebagai pemeran utama. Bahwa di sebuah pohon penuh kebahagian hiduplah masyarakat troll, pohon itu tumbuh di tengah kota Bergen yang menyedihkan. Satu hari setiap tahun mereka merayakan Trollstice, hari bahagia memakan troll karena mereka percaya hanya dengan menyantapnyalah mereka bisa ikut bahagia. Troll yang kita tahu berwajah jelek justru jadi bintang utama, sementara para bergen malah dibuat seperti Shrek. Troll is Bergen, Bergen is troll. Jangan bayangkan troll seperti di Harry Potter dan Batu Bertuah yang menghancurkan kamar mandi Hogwart ya. Troll di Trolls adalah makhluk imut sekecil gelas.

Nah, suatu pagi di hari Trollstice. Diiringi skor klasik ‘In the Hall of the Mountain King’. Panggeran Gristle (Christopher Mintz-Plasse), balita yang akan pertama kali menyantap troll begitu antusias. Membangunkan ayahnya yang masih terlelap, membawa kota dengan gegap menuju pohon troll. Dipimpin chef kerajaan (Christine Baranski) acara dibuka dengan istimewa di mana Pangeran Gristle mendapat kehormatan pertama menyantap troll Putri Poppy. Saat dikunyah, bukan kebahagian yang diperoleh tapi malah dimuntahkan. Troll itu palsu, sebuah tiruan. Kok bisa? Ternyata warga troll melarikan diri. Melalui lubang tikus di bawah pohon, dipimpin oleh raja Peppy (Jeffrey Tambor) mereka kabur menuju tanah baru yang menjanjikan. “No trolls leave behind!”

Kehidupan baru jauh dari bergen itu, kini sudah 20 tahun. Dirayakan dengan suka cita. Putri Poppy menutup bukunya, dan mulai bernyanyi bersama seluruh kota. Ini adalah kartun musikal jadi penuh nyanyian dan keceriaan. Seluruh kota berpesta, wait. Nyaris seluruh kota. Satu troll yang terlihat muram mulu, di mana pun kapan pun bernama Branch (Justin Timberlake). Memandang hidup dengan pesimistis, benci keramaian, membuat dirinya ternggelam dalam kesendirian, membuat rumah benteng aman dari bergen. Dirinya sekalipun selalu diundang pesta, tak pernah hadir. Lho kok bisa ada troll bermuram layaknya bergen? Alasan utamanya akan diungkap di akhir, betapa Branch ternyata menyimpan kenangan kelam. JT ‘dengan curang’ bilang ‘suara malaikat’.

Pesta terbesar, termeriah, tergila itu terdengar jauh, sampai ke telinga mantan chef kerajaan bergen. Diapun lantas mendatanginya dan menangkap para troll untuk dibawa menghadap raja. Drama penculikan yang sederhanapun dibuat lucu, sedih sekaligus nyentil, membuatku berfikir begitukah manusia saat berburu binatang untuk santap siang di pesta makan di akhir pekan? Burung, kijang, babi mereka memang tak bersuara memohon ‘tolong…’ saat diburu namun mereka menjerit sedih. Binatang itu berfikir (kalau bisa berfikir) pastilah manusia, orang-orang seperti kita ini adalah para bergen pencari kebahagiaan yang gemar menyantap mereka.

Dengan kantong penuh troll chef kerajaan memberi warga bergen persiapan pesta. 20 tahun tanpa troll dan kini mereka siap kembali bahagia. Poppy yang menyaksikan sendiri teman-temannya ditangkap begitu shock. Ayahnya mengajak kabur mencari tempat lain untuk dihuni, warga ketakutan. Tapi poppy bersikukuh ke kota bergen untuk menyelamatkan teman-temannya. Tema ‘tak boleh ada troll yang tertinggal’ memberinya lecutan, harapan, semangat untuk membebaskan teman-temannya. Meminta Branch untuk menampung warga di bentengnya, 10 tahun adalah waktu lama untuk bersembunyi dengan persediaan komplit. Tapi kalau seluruh warga hanya bisa 2 minggu. Seorang penyendiri dikerumuni seluruh warga, bentengnya jadi begitu berisik tentunya, ‘ejekan bagus terbalaskan’. Poppy pun berangkat sendiri menantang maut ke kota bergen. Dengan iringan lagu, skoring menawan dan keyakinan Poppy melawan arah, diapun siap menghadapi petualangan. Di tengah ancaman binatang buas dan perangkap, Poppy diselamatkan Branch yang tiba-tiba muncul saat tertangkap laba-laba.  Berdua lebih baik, saat akhirnya mereka sampai di terowongan troll bertemu si awan. Anekdot lucu tersaji. Sang awan akan memberi tahu lubang mana yang benar menuju pohon troll karena lubang lainnya akan mengantarnya ke kematian. Sang awan meminta syarat Branch tos high 5. Menolak, Poppy memaksa, “Branch its just a high five! The others lead centain death! Get some perpective!” saat tos, si awan becanda, terlalu pelan. Lalu meminta tos tangan maju ke depan, mengepal, eh malah digurauin lagi. Branch marah, dan siap mengahajar Awan. Aaarghhh… sederhana. Ya, tapi klasik bro.
Saat akhirnya mereka berhasil memasuki kota, para bergen masih tampak menyedihkan, berarti teman-temannya masih hidup. Saatnya menjadi pahlawan kawan. Berhasilkah Poppy menyelamatkan Biggie, Cooper, Suki, Satin, Chenille, a tinny troll Smidge, dan (ehem) Creek? See…

Ini adalah animasi musikal buatan Dreamworks Animation SKG pertama paska The Road To El Dorado tahun 2000. Ternyata sudah 16 tahun mereka tak bernyanyi untuk kartunnya. Untungnya bagus, sangat bagus. Sangat sulit menolak keceriaan Poppy dan kawan-kawan yang selalu positif thinking. Seandainya saya menonton sendiri dengan lampu mati dan konsentrasi tinggi, bisa jadi ini film jadi begitu biasa karena secara cerita sangat sederhana. Pertanyaan apakah Poppy berhasil menyelamatkan teman-temannya jelas dengan metafora karena film untuk anak dengan kerlap-kerlip warna menyenangkan, di dalam skenario bisa dengan yakin bisa kita tebak, tidak ada kejutan. Saya menonton bersama orang terkasih sehingga ada teman tertawa dan berdendang dan bertepuk tangan dan berpelukan. Jelas film ini tak rekomendasi ditonton sendiri.

Kisah troll berdasarkan boneka yang dibuat oleh Thomas Dam dari Gjol, Northern Jutland, Denmark tahun 1958. Awalnya adalah boneka kayu biasa lalu bertambah ke bentuk binatang lainnya seperti gajah, jerapah sampai keledai. Adegan di pembuka saat para bergen menemukan troll palsu dari kayu itulah tribute untuk kisah sesungguhnya muasal para troll.

Yang fanatik Nsync, ehem maksudku lead vokal boyband itu pasti akan nostalgia. Justin Timberlake menjadi eksekutif produser musik. Film ini dibuat dengan berpusat padanya. Seperti ‘Home’ dengan pusat Rihanna, Trolls jelas dalam kendali penuh Justin. Para lead vocal boyband pada akhirnya memang memiliki solo karir. Dari Ronan Keating, Shane Fillan, sampai si Justin Timberlake. Yang jadi tanya, anggota lain nganggur melanjutkan hidup jadi apa kalau sudah ga ada order nyanyi? Hanya Backstreet Boys, boyband tahun 1990an yang kini masih ada, yah walau pamornya sangat redup.

Film ini hanya menyumbang satu kategori ke Oscar, best song untuk ‘Cant Stop The Feeling’. Sebagai single utama, diluncurkan sebelum film dirilis dengan perfoma apik The Eurovision Song Contest. Seberapa besar peluang lagu ini akan menang? Rasanya sulit. La La Land yang mempunyai kandidat dua lagu utama, rasanya mudah untuk bilang salah satunya akan menang. Prediksi untuk lagu sudah kutetapkan bagi ‘City of Stars’. Sayang sekali film ini akan tangan hampa, padahal Trolls adalah animasi terbaik 2016 so far. Saya belum nonton Zoothopia, The Red Turtle dan My Life as Zuchhini.

Dreamworks mempertahankan tradisi, animasinya harus disuarakan bintang-bintang besar. Ironi Pixar kan. Dari Justin Timberlake, Anna Kendrick sampai Russel Brand. Walau sejujurnya tak terlalu signifikan pengaruhnya selain meraup fan, karena kan hanya suara. Tapi untuk kasus Trolls, lumayanlah suara khas Anna Kendrick terdengar merdu. Bahkan duo sutradara Walt Dohrn dan Mike Mitchell  menyumbang suara banyak karakter walau hanya satu dua kalimat. Oiya, film ini dibintangi si cantik Zooey Deschanel. Di mana dia?

Trolls | Year 2016 | Directed by Walt Dohrn, Mike Mitchell| Screenplay Jonathan Aibel | Cast (voices) Anna Kendrick, Justin Tiimberlake, Zooey Deschanel, Christopher Mintz-Plase, Christine Baranski, Russel Brand, Gwen Stefani, John Cleese, James Corden, Walt Dohrn, Mike Mitchell | Skor: 4,5/5

Karawang, 210217 – American Authors – Best Day Of My Life
Diketik cepat Selasa pagi yang hujan dalam rangka Oscar race 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s