Buku Baru Februari 2017

image

Awal Februari kemarin saya mudik Solo dan tak dinyana, mudik iseng itu bersua dengan pameran buku di (bekas) Goro As Salam. Jadinya saat hari pertama pameran buku dibuka Jumat tanggal 3 Februari 2017 saya langsung ke sana, sendiri. Dan ketika tahu ada banyak buku bagus dengan harga miring, diriku tak kuasa menahan diri. Mudik kali ini sebenarnya tak ada acara apapun, sekedar bersua rumah yang kurindu, ketemu keluarga, ingin melepas kangen dengan ibu. Buku-buku ini hanya bonus ketika memeluk orang tua. Ga semua buku bulan ini saya beli di sana. Ada yang kubeli di toko buku Salemba, KCP, Karawang sebelum pulang. Ada yang dikirimi teman dari Jakarta. Ada yang dari toko buku loak Gladag, sebuah kewajiban setiap mudik mampir ke sana. Lalu juga ke toko buku Togamas. Ternyata Solo surga tempat belanja buku. Ada dua Gramedia, ada Togamas, dan sederet panjang toko loak Sriwedari. Luar biasa. Aneh aja mudik dua hari mampirnya ke empat tempat jualan buku. Tapi karena bulan ini lagi cekak, budget terbatas yang utama dilihat adalah harga baru kualitas. Saya sampai megap-megap melihat harga miringnya. Dan berulang kali tanya ke penjualnya untuk sekedar meyakinkan, ‘buku sebagus ini seharga segini? Serius?” Haha, parah. Nah, saat libur Imlek kemarin saya ke Gramedia Karawang bersama May dan Hermione, jalan-jalan tanpa beli buku sama sekali karena memang antrian baca sudah menumpuk. Dan inilah buku-buku yang akan menemaniku ke depan.

1. A Man Called #Ahok – @kurawa
Sehari sebelum Pilkada serentak, saya mendapat kiriman buku dari sobat Brav, Jakarta. Teman diskusi film ini mengirimiku 2 eksemplar buku tipis yang kubaca dalam tempo sesingkat-singkatnya. Saking tipis dan sederhananya ini buku, saya membacanya sambil menyuapi Hermione, kuulas dengan musik santai dalam ketikan cepat memakan waktu tak lebih dari satu jam. Hasilnya, yah buku copas dari Sosmed milik akun @kurawa ini memang ala kadarnya.

2. Gone With The Wind #1 – Margaret Mitchell
Filmnya fenomenal, meraup 10 Oscar. Saya masih terkagum-kagum sekalipun sudah sedekade lewat menontonnya. Sebuah metafora perubahan sifat seorang gadis manja Scarlett O’Hara menjadi begitu tangguh di era perang sudara di Amerika. Kehebatannya sudah digadang-gadang dari generasi ke generasi. Menang Pulitzer award tahun 1937. Jadi mari kita buktikan. Btw, ternyata yang saya beli hanya jilid satu. Hiks, ada ga ya teman-teman yang punya lanjutannya? Mau dong yang punya.

3. Witch Catcher – Mary Downing Hahn
Terbitan Atria memang tak pernah mengecewakan. Genrenya cocok dengan saya. Fantasi imaji untuk young adult. Pemiliahan cover yang bagus. Terjemahan yang pas. Sudah lebih dari 10 novel Atria kulahap dan semuanya bagus. Kali ini tentang Jen yang tahu bahwa ayahnya mendapat warisan di Virginia Barat, ayahnya mempunyai kekasih bernama Moura. Moura terobsesi pada bola kaca warna-warni warisan paman Thaddeus. Namun saat bola kecil itu pecah, hal-hal buruk mulai terjadi hingga ada seorang gadis kecil mengaku peri memasuki dunia Jen.

4. Prince Of Thorns – Mark Lawrence
Covernya sangat menjanjikan. Layaknya sebuah adaptasi cerita game bertensi cepat. Tentang Pangeran Honorous Jorg Ancrath yang memiliki dendam untuk kembali mengambil haknya. Kematian dan kehidupan serasa sekedar permainan baginya. Tak ada yang tersisa, namun ada penghianat dan sihir gelap menghadang. Berhasilkah penaklukkan ini?

5. Petualangan Huckleberry Finn – Mark Twain
Di usiaku yang sudah kepada 3, ternyata baru kusadari saya belum pernah membaca satupun karya Twain! Gila. Kemana saja saya ini. Tom Sawyer dan Huckleberry Finn yang legendaris itu baru mau saya taklukkan salah satunya. Heran? Haha.. ga juga. Semesta ini luar biasa besarnya. Sampai usia sejuta tahun pun kalian tak akan sanggup menikmati semua karya yang tercipta saking banyaknya. Terlambat? Nope! Tak ada kata terlambat membaca buku-buku klasik. Selagi ada waktu, nikmatilah hidup ini dengan membaca sebanyak yang kau mampu. Ok, Finn dulu baru Tom.

6. Aliens On Vacation – Clete Barret Smith
Sebuah penginapan bertema Star War milik neneknya Scrub awalnya terlihat sangat biasa. Namun siapa sangka para tamu aneh-aneh itu ternyata alien. Sherif Tate curiga. Segalanya menjadi menarik saat Scrub mengenal Amy, gadis penyukai segala hal berbau alien. Sesuatu yang mengancam ada di depan, berhasilkah Scrub menyelamatkan penginapan Granma-nya?

7. The Spell Bound Book – Miki Monticelli
Wow ada posternya. Tergantung isi ceritanya nih. Kalau bagus, akan saya pasang di kamar. Covernya unik, ada lubang lingkaran di depan yang memperlihatkan seorang gadis terduduk memandang air terjun, sementara seekor naga? termenung di belakangnya. Tentang Cornelia Bocchineri baru tahu dia adalah seorang peri.  Bersama Dirk dan Luna serta ahli sihir Sir Arborescent, mereka melawan Nocromancer yang jahat. Perebutan sebuah kitab peri.

8. The Picture Of Dorian Gray – Oscar Wilde
Jadi buku kedua Oscar yang saya baca. Setelah kumpulan cerpen yang tipis namun terasa mewah, kali ini sebuah novel. Digadang-gadang sebagai salah satu novel berpengaruh sepanjang masa dengan tagline terkenalnya, “setiap kita memiliki sisi malaikat dan sisi setan dalam diri.” Jadi seberapa hebat kisah Gray? See..

9. Summer – Albert Camus
Buku kedua Camus yang kubaca. Setelah megap-megap dalam kisah fenomenal ‘Orang Aneh’ kali ini saya disuguhi kumpulan essai. Ada delapan, dan tulisannya panjang-panjang. Sudah selesai baca sekali duduk dua pekan lalu. Pemikiran Camus emang nyeleneh. “Tidak, saya tidak eksistensialis. Sartre dan aku selalu terkejut melihat nama kami terhubung…”

10. Sisters Red – Jackson Pearce
Serigala itu membuka rahangnya yang panjang. Deretan gigi tajam mendekat ke arahnya. Sebuah pikiran berkecamuk di dalam benak Scarlett: Cuma tinggal aku sendiri yang tersisa untuk bertempur. Jadi sekarang aku harus membunuhmu. Tentang Scarlett March dan Rosie March, dua saudari pemburu Fenris, manusia serigala.

11. Disclosure – Michael Crichton
Ngomongin Crichton yang pertama terlintas jelas Jurasic Park yang fenomenal itu. Sejujurnya saya belum pernah membaca satupun karya beliau, kisah dinosaurus itu kunikmati hanya lewat layar kaca bukan dalam lembar kertas. Jadi ini bakal buku perdana Crichton yang kulahap. Sepertinya menjanjikan, tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita! Wew, perlu diungkap lebih detail ini.

12. Uncle Tom’s Cabin – Harriet Beecher Stowe
Pondok Paman Tom ini juga menghantuiku. Bocorannya sudah wara-wiri ke telinga, susah menutup sepenuhnya spoiler yang berkembang. Untungnya sebelum lebih jauh menganga bocornya saya mendapati buku ini. Siapa yang tak tahu kisah klasik Tom tentang perbudakan di Amerika yang mengguncang perang saudara tahun 1861 – 1865? Buku kontroversial ini wajib baca bagi pecinta sastra, katanya.

13. The Day After Tomorrow – Allan Folsom
Apakah novel ini ada hubungannya dengan film legendaris itu? Tanpa googling, feelingku film itu diadaptasi dari buku ini, namun entahlah, saya membelinya karena tertarik aja nama asing Allan Folsom seorang novelis sekaligus skenario Amerika. Ah buku-buku tahun 1990-an selalu seksi untuk dinikmati.

14. Gabriela, Cengkih Dan Kayu Manis – Jorge Amado
Pertama yang terlintas tentang Penulis Amerika Latin akan selalu terbesit nama Gabriel Garcia Marquez. Namun nama Jorge juga sama termasyurnya. Inilah buku pertama yang kubaca setelah sampai kembali di Karawang. Sudah mencapai 2/3 bagian, tentang sebuah kota kecil di Brazil bernama Ilheus. Hiruk pikuk kota dengan berbagai sudut pandang. Intrik politik, perselingkuhan dan seni bergosip dalam bermasyarakat. Semua bagian dibuka dengan subjudul ‘perihal…’ Ok inilah the  chronicle of Ilheus!

Karawang, 170217 – The Cranberries – Linger

Advertisements

2 thoughts on “Buku Baru Februari 2017

  1. Mau baca Huckleberry Finn tapi belom kesampean ampe sekarang. Mungkin kapan-kapan akan saya cari serius, karena masih ada buku-buku yang lebih prioritas di wishlist hahaha.

    Favorit saya Gone with The Wind! Pernah nulis resensinya di sini, dan senengnya udah baca lanjutannya, Scarlett, yang ditulis oleh penulis beda (saya mikirnya novel Scarlett ini fan fiction terhadap Gone with The Wind si Mitchell ini). Gaya bahasanya beda karena penulisnya beda, tapi tetap menarik. Meski yaah, gak semenarik Gone with The Wind.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s