Prediksi Oscar 2017: Choose Wisely ‘Singing’ Or ‘Thinking’

image

Tahun ini akan menjadi tahun ketujuh saya menyaksikan langsung (striming atau bersama komunitas film ke Jakarta) pagelaran Oscar. Tahun ini gegap gempitanya sedikit menurun. Biasanya saat nominasi diumumkan saya dengan gencar segera berburu tapi kali ini hanya seminggu akhir saya kebut nonton dan review #OscarRace. Tanpa googling, mari kita bermain tebak-tebakan. Dan berikut prediksi Lazione Budy:

Best motion picture of the year – “Arrival”
Menebak La La Land menang serasa mengikuti arus kegemparan. Menjagokan Hacksaw Ridge rasanya mendukung Amerika sekali. Lion sulit mengaum dengan kompisisi heartwarming tertebak. Tahun ini saya kembali menuruti kata hati di mana kualitas adalah nomor satu. Arrival adalah film terbaik 2016 yang seharusnya menyandang gelar tertinggi ini.

Performance by an actor in a leading role – Casey Affleck in “Manchester By The Sea”
Menjadi film terakhir yang saya tonton sebelum menebak, sore tadi baru kelar. Menyenangkan sekali menonton drama tragedi sebuah keluarga di Manchester, bukan England tapi sebuah daerah kurang lebih perjalanan mobil 1,5 jam dari Boston, Amerika. Bagaimana sebuah bencana mengubah sifat manusia. Affleck memerankan manusia rapuh itu dengan brilian. Berdamai dengan masa lalu.

Performance by an actress in a leading role – Natalie Portman in “Jackie”
Bencana kalau piala ini jatuh kepada Emma. Dari semua kandidat baru satu yang saya nikmati dan saya tak terkesan. Akting merajut mimpi dari satu kasting ke kasting lain. Dari satu nyanyi ke nyanyi lain. Natalie Portman?

Performance by an actor in a supporting role – Mahershala Ali in “Moonlight”
Nocturnal Animal adalah film bagus. Sayang sekali hanya mengirim satu wakil yang saya yakini gagal menang. Jeff di usia senjanya masih jitu dalam membidik. Patel bisa saja menang karena Lion jadi begitu bernyawa, tapi kepada Ali-lah juaranya.

Performance by an actress in a supporting role – Michelle Williams in “Manchester By The Sea”
Kidman paling kecil peluangnya, aksinya biasa banget. Octavia jos banget, tapi seharusnya di Hidden yang maju Taraji. Saya belum nonton Fences yang kabarnya memberi aksi keren Davis. Yang jelas Michelle benar-benar menunjang kehebatan Affleck. Semoga jadi obat luka kegagalan Blue Valentine.

Achievement in directing – “Arrival” Dennis Villeneuve
Setelah twist keren alasan kedatangan para heptapod terungkap saya langsung plot dua kategori utama harus kepada Arrival. Andai kepada Kenneth-pun saya juga setuju. Karena Manchester superb sekali. Asal jangan kepada Gibson, apalagi Damien. Ayolah, tahun ini kualitas HARUS jadi nomor satu.

Adapted screenplay – “Arrival”
Bagian ini paling sulit. Siapapun yang menang saya tak keberatan. Tapi kalau mutu yang diukur lagi lagi saya harus pilih Arrival, salah satu masterpiece fiksi ilmiah. Sulit sekali membuat bahasa melingkar dengan pemahaman dari berbagai sudut. Dan pilihan menaruh bayangan masa depan di opening scene sehingga sukses mengecoh penonton itu pilihan yang sangat brilian.

Original screenplay – “Manchester By The Sea”
Asal jangan La La Land. Ceritanya cupu. Hell punya daya ledak dan perdebatan seru arti kata ‘merampok’. Jarang-jarang ‘kan saya dukung Manchester, forza LAZIO. Emang cerita berkelas. Film terakhir yang kutonton dan begitu membekas.

Best animated feature film of the year – “Zootopia”
Setelah bertahun-tahun dengan mudah menebak kategori kartun tahun ini kelimpungan. Dimulai Moana yang kupilih sebagai kartun pertama. Jelas aksi Princess keling ini adalah film keluarga kesukaan juri Oscar. Lalu dukungan beralih ke Kubo yang kualitas tiada banding stop-motion. Tapi di menit-menit akhir saya malah dapat kaset Zoo. Dan terkesan sekali hingga memberi rate 5/5. Bagaimana-pun Shakira memang mempesona.

Achievement in cinematography – “La La Land”
Saya terkesan sekali sama Kubo, sayang sekali tak masuk. Lion rasanya sulit. Bolehlah kategori ini ke film musikal.

Achievement in costume design – “Fantastic Beasts and Where To Find Them”
Ketika Allied rilis diluardugaku dalam diskusi banyak yang bernada review negatif. Saya suka sekali film ini termasuk design pilihan baju. Ketika Fantastic rilis saya sudah plot di bagian cotume layak menang. Semua seri Harry Potter ‘kan design kostumnya istimewa. Kalau ga pilih ini bisa digebuki Potter Mania saya.

Achievement in film editing – “La La Land”
Bolehlah musikal menang di sini. Kategori additional yang seandainya Arrival kalah-pun tak membuatku keberatan.

Achievement in makeup and hairstyling – “Star Trek
Karena baru film ini yang sudah kutonton. Haha.

Achievement in music written for motion pictures (Original score) – “La La Land”
Ya ya setuju sekali kalau ini yang menang permainan piano si Ryan juara sekali. Tebakan mudah kalau yang ini.

Achievement in music written for motion pictures (Original song) – “City Of Stars” from “La La Land”
Karena musikal, kedua kategori ini patut untuk mereka. Audition pun sama bagusnya, saya setuju. Sayang sekali film seceria Trolls hanya mengirim satu wakil di waktu yang tak tepat. Coba lagi kapan-kapan Justin!

Achievement in production design – “Arrival”
Design batu cobek dengan lubang kotak anti gravitasi itu ide yang brilian. Senyap dan mencekam.

Achievement in sound editing – “Sully”
Menjadi satu-satunya nominasi dari film pahlawan lokal Sully. Semua sudah kutonton dan bagus semua di bagian ini. Tapi sully sudah kuplot jauh hari, rasanya tinggal pengesahan aja.

Achievement in sound mixing – “La La Land”
Hacksaw bisa saja menang, perang jadi begitu mencekam. Sampai sekarang saya belum lihat Rogue One. Tapi tahun ini urusan suara memang milik Bla Bla Bland.

Achievement in visual effects – “The Jungle Book”
Efek di bagian ini keren semua, sangat mendukung cerita. Kubo dengan jerangkong raksasanya. Deepwater dengan semburan apinya. Dr Strange dengan kota lipatnya. Antara Strange dan Jungle. Kisah adaptasi dari buku Kipling tak boleh tangan hampa. Satu-satunya tiket itu ada di sini.

Karawang, 260217 – Arina Grande feat Iggy Azalea – Problem

La La Land: Musical Experience

image

image

Sebastian: You could just write your own rules. You know, write something that’s as interisting as you are. | Mia: What are you gonna doing? | Sebastian: Have my own club.

Hey jamaah La La Land, merapatlah. Berikut pandangan saya terhadap imam kalian yang menjadi leading 14 nominasi 14 Oscar 2017. Seberapa layak film musikal ini besok Senin di puncak acara penghargaan tertinggi. Seistimewa apa sehingga film dengan judul laiknya sebuah wahana Dufan ini bisa menjadi ulasan terakhir saya sebelum memprediksi?

Opening scene-nya adalah bilang ‘Filmed in cinemascope’. A bit of madness is key to give us to color to see. LA, tempat orang-orang bermimpi untuk menjadi sukses di dunia hiburan.

Mia Dolan (Emma Stone) adalah seorang kasir kafe yang bermimpi menjadi aktris Hollywodd suatu hari nanti. Mengikuti audisi demi dapat peran dari satu kasting ke kasting lain. Mia idealis dalam memilih pasangan, ia menginginkan keceriaan seorang musisi, sehingga saat berkenalan dekenalkan dengan seorang calon Penulis yang ambisius ia menolak pergi.

Sebastian Wilder (Ryan Gosling) adalah pianis muda yang idealis. Punya mimpi suatu hari nanti memiliki klub jazz sendiri. Untuk menjadi besar terkadang memang harus sedikit melepas ego. Sembari menanti kesempatan datang, ia memainkan piano di sebuah kafe yang dikepalai Bill (JK Simmons, sifat kerasnya sebagai konduktor musik di Whiplash masih terlihat). Di malam Natal itu karena Sebastian melepaskan intonasi nada yang tak sesuai suasana, ia dipecat. You’re fire in Christmas and good luck in new year.

Begitulah, Mia sedang pulang dari pesta. Karena mobilnya kena tilang diderek, ia berjalan kaki mampir ke kafe bertemu dengan Seb yang dipecat. Pertemuan kedua – yang pertama berakhir dengan Mia mengacungkan jari tengah di tengah kemacetan kepada Seb – berlangsung sesaat karena niat sapa Mia kena abai. Mia yang mencoba memuji permainan pianonya dicuekin. Oh godnesh. Kisah cinta yang buruk pada pandangan pertama.

Tapi takdir memang menggariskan mereka untuk bertemu lagi. Dalam pesta akhir pekan di rumah mewah di pinggir kolam, Mia mendapati Seb sedang memainkan piano bersama grup musik urakan. Yep I ran-nya Flock Of Seagulls Pertemuan yang membuat mereka akhirnya berbincang. Mengenal lebih dekat. Seb mencari jodoh seorang gadis pecinta Jazz, tentu saja layaknya saya dulu memburu gadis pecinta buku. Mia benci jazz, baginya jazz – sekedar tahu adalah musik lembut yang menenangkan. Dari sini kita harusnya tahu, ini kabar buruk kalau kalian menginginkan mereka bersatu dalam ikatan nikah. Tapi Seb malah mengajarkan arti Jazz dan cinta pada Mia. Adegan Emma mengenakan baju kuning dan Ryan bersetelan jas menari bersama di Hollywood Hill di bawah cahaya langit malam diringi A Lovely Night adalah satu adegan paling mengesankan tahun 2016.

Berdua, mereka mencoba mewujudkan mimpi besar. Berjuang bersama membuat sejarah. Mia terus datang di berbagai kasting. Seb memainkan idealis musiknya. Mia mencoba menulis monolog drama pribadi berjudul So Long, Boulder City. Jalan berdua sesekali ini suatu malam menemui titik cinta di sebuah planetarium Griffith Observatory dan dengan diiringi skoring menawan akhirnya mereka berciuman setelah dalam imaji seru terbang dan menari di langit di tengah bintang.

Demi cinta Seb akhirnya mengendurkan pegangannya. Menjadi musisi yang lebih nge-pop keliling dunia adalah petaka. Tapi karena mereka butuh uang, Seb menandatangani kontrak. Bergabung dengan band Keith adalah bencana. Dialog absurb Seb dengan John Legend itu justru begitu menggores di ingatan. Bagaimana Jazz adalah masa depan. How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist? You hold onto the past, but jazz is about the future. Band yang digawangi Keith ini berjalan sukses dan mulai dikenal pubrik. Kesibukan melanda. Mia saat itu masih berkutat di bawah. Seb tetap mendukungnya, terus menjaga api asa kekasihnya. Dengan iringan piano, lagu yang menemani mereka itu saya prediksi jadi Song Of The Year: ‘City of Stars’ memang paling bagus dari semua yang terdengar.

Petaka datang saat Seb memberi kejutan pulang dari tour untuk makan malam dengannya. Sayangnya kejutan yang harusnya menyenangkan itu berakhir dengan kesedihan. Mia yang frustasi diberi suntikan semangat terus olehnya, tapi rasanya tidak. ‘Its over’. Menjadi aktris mustahil bila tak ada kesempatan pertama, ia memutuskan pulang ke orang tuanya di Boulder City, Nevada. Mengubur impian. ‘Maybe I am not good enough’. Nah cahaya datang saat kita sedang dalam titik kegelapan yang memuncak. Karena Seb mendapat telepon dari pengarah kasting seorang sutradara kasting ternama Amy Brant. Mereka menghubungi Mia tapi karena HP nya mati dan nomor Seb adalah nomor yang dicantumkan maka mereka memberitahu bahwa Mia Dolan mendapat kesempatan kasting. Wow, nama besar Brant menggerakkan Seb untuk menjemput Mia memberitahu kabar bagus ini. Bel mobil di depan perpustakaan film-film klasik itu terlihat sederhana, tapi membuatku terkesan karena dinukil dari diaolog sepintas yang mungkin kita kira tak penting. Sayang bunga-bunga mimpi Mia sudah layu, what? Akankah dia membuang kesempatan emas ini? Bersatukah mereka akhirnya dalam kisah musikal penuh cinta ini?

Kunci menikmati film ini adalah di opening scene yang memperlihatkan sekumpulan pengendara menari dan bernyanyi di tengah kemacetan lalu lintas. Bagaimana orang-orang berwajah frustasi ditemani musik dari dashboard  itu menjadi begitu hidup meluapkan keceriaan. Masalahnya saya tak langsung terkesan, saya baru benar-benar menikmatinya ketika menonton ulang untuk mengetik ulasan ini. Jadi dengan plot unik di mana sudut pandang dua orang yang lalu disatukan kemudian dihempaskan memang terdengar klasik, tapi masih jitu meraup simpati.

Film ini hanya mencampurkan banyak referensi fiksi sebelumnya menjadi kumpulan video klip bernama album BLa BLa BLand. Tentang audisi menjadi bintang, bersaing dengan ribuan kandidat. Aksi Stone adalah bentuk gerak kitab ‘A Stranger In The Mirror’ karya Sidney Sheldon. Tetang impian mendirikan cafe milik sendiri dengan idealis jazz di dalamnya, sudah ada sangat banyak. Lalu kisah cinta yang patah di mana twist ending memperlihatkan ‘ekspektasi’ dari pahitnya ‘reality’ sudah dibuat 9 tahun lalu dalam (500) Days of Summer dan jauh lebih berkualitas.

Chemistry Ryan dan Emma memang bagus. Coba tonton lagi, Ryan sepanjang film tak pernah mengenalkan dirinya, dan Emma-pun tak ada satu adeganpun menyebut nama Seb. Kolaborasi ketiga pasca film unik Crazy Stupid Love dan Gangster Squad ini begitu dicintai juri Hollywood. Jadi film musikal yang membuat kita untuk terus berjuang guna mewujudkan impian. Mendapat 14 nominasi menurutku adalah lelucon. Mendapat 7 nominasl Golden Globe dengan menyapu bersih. Gila. Film leading Oscar tahun ini yang mencoba menumbangkan rekor Titanic dan All About eve adalah musikal!

Adalah bencana kalau sampai Emma menang. Chazelle yang baru berusia 31 tahun, OMG! Tuaan aku woy, baru buat dua film. Chazelle memang seorang pemimpi. Dua filmnya sebenarnya bertema sama dengan iringan musik menyertai. CV film masih kurang banyak, Martin Scorsese seorang legenda besar saja butuh puluhan film dirilis dulu untuk mengetuk hati juri. Bencana kalau sampai dia menjadi sutradara termuda yang mengangkat piala itu. bencana kalau plot ringan macam gini menang screenplay. Bencana kalau sampai kostum-kostum warna warni sederhana gini bisa menang. Whisplash bahkan jauh lebih berkelas ketimbang Bla Bla Bland.

Untuk acara besok saya sudah ambil cuti. Oscar ketujuh beruntun yang saya lihat langsung itu kuharap tidak jadi bencana!

La La Land | Year 2016 | Directed by Damien Chazelle | Screenplay Damien Chazelle | Cast Emma Stone, Ryan Gosling, JK Simmons, John Legend | Skor: 4/5

Karawang, 260217 – Justin Crew – Que Sera

Captain Fantastic: Dua Jam Bersama Petuah Nabi Chomsky

image

image

Kielyr: We’re defined by our actions not our words.

Unique story. Kisah absurb sebuah keluarga yang mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan luar. Mendidik anak-anak dengan caranya sendiri, tak perlu sekolah umum. Ben dan Leslie ingin mendidik anak-anaknya menjadi filsuf sejak dini. Menjadikan mereka berfikir kritis dan idealis. Belajar dari alam. Bertahan hidup dengan lingkungan seadanya, beratap langit dan berteman buku sebagai penopang pengetahuan. Dengan kepemimpinan seorang ayah yang fantastis. Terlihat sempurna, sampai akhirnya ibu mereka bunuh diri yang memaksa instropeksi lagi untuk kembali merenungkan apakah perlu mengoreksi arti ‘sempurna’ yang selama ini mereka pegang.

Hidup dari alam dalam arti yang sebenarnya. Ben (diperankan dengan fantastic oleh Viggo Mortensen) adalah kepala keluarga yang mengasingkan keenam anaknya untuk dididik dengan caranya sendiri. Keenam anak unik karena nama mereka ‘mencoba’ hanya satu di dunia ini. Adalah (tarik nafas): Bodevan, Kielyr, Vespyr, Relian, Zaja, Nai – George Mackay, Samantha Isler, Annalise Basso, Nicholas Hamilton, Shree Crooks, Charlie Shotwell. Si sulung Bo dalam adegan pembuka kini sudah dewasa, berhasil menangkap kijang bersenjata pisau dalam penyamarannya dengan melumpuri tubuh. Pesta digelar, di bawah langit dengan api unggun dan iringan lagu.

Ibu mereka Leslie (Trin Miller) sudah tiga bulan tidak bersama mereka karena sakit bipolar disorder. Si bungsu menanyakan kenapa ibu pergi lama sekali. Mereka rindu. Suatu siang saat Ben dan Bo mengantar barang hand made mereka untuk dijual kepada Joe, langganan mereka. Bo menyelinap ke loker surat dan memeriksa inbox. Hasilnya Bo surat dari berbagai universitas yang menyatakan ia diterima di semua perguruan tinggi ternama. Amazing.

Suatu malam, awan hitam menyelimuti. Ben mendapat telepon yang memberitahukan bahwa istrinya bunuh diri memutus urat nadi. Kabar duka ini begitu sulit diterima. Dilema melanda. Seminggu lagi Leslie akan dikuburkan, pemakaman cara Kristiani yang tak sesuai surat wasiat almarhum karena sebagai Budhist ia ingin mayatnya dikremasi dengan diringi nyanyian dan tarian. Awalnya Ben merelakan semuanya, dan aktivitas belajar dan berlatih tetap berjalan seperti biasa. Namun anak-anak tak bisa konsentrasi – Rellian terluka dalam latihan panjat tebing – dan menginginkan menyelamatkan ibunya. Di atas bus family  bernama Steve, di belakang kemudi sampai Ben berteriak, ‘diam dan relakan’. Wajah-wajah lesu menghinggapi. Hufh, tapi siapa peduli. Ben berubah pikiran, ok perjalanan  panjang dimulai.

Setelahnya Captain Fantastic menjadi movie road dari Pasific Northwest menuju New Meksiko. Bagaimana keterasingan mereka selama ini menjadikan mereka seperti sekumpulan sekte terlarang. Telanjang adalah lumrah, setiap laki-laki memiliki penis. Mencuri makanan di swalayan dalam tajuk ‘selamatkan makanan’. Merayakan hari Noam Chomsky dengan memberikan hadiah kepada anak-anak yang membuat Rellian berfikir ulang. Kenapa keluarga kita tidak merayakan Natal seperti yang lain. Tapi malah merayakan hari Chomsky? Bo yang freak di depan cewek sehingga saat akhirnya menerima ciuman pertama langsung melamar sang gadis perokok. Mencoba berburu binatang, malah membidik sekumpulan domba yang sedang digembalakan. Dan seribu satu keanehan yang akan membuat para orang tua mengelus dada.

Tapi. Ada tapinya, dengan segala keanehan mereka. Anak-anak ini jenius. Bo yang tinggal pilih univesitas bergengsi karena bisa enam bahasa dan hafalan kuat dengan fisik luar biasa. Bahkan dalam sebuah adegan si kecil Zaja saat diadu dengan anak SMP dan SMA, saudara sepupunya jadi begitu wow karena anak 8 tahun hafal Amandemen Negara Amerika. Bukan sekedar hafal tapi juga bisa menjelaskan makna The Bills of Rights! Cara mendidik anak memang jadi begitu berpengaruh, lingkungan memang sangat amat berpengaruh.

Sampai akhirnya mereka tiba di Gereja di acara pemakanan. Ben dan keenam anaknya berpakaian aneh (kakek Jack menyebutnya pakaian badut), bukan pakaian berkabung umum dengan setelan jas. Mereka melawan untuk membatalkan penguburan karena Leslie Abigail Cash seorang Budha. Tapi apalah, acara itu jadi begitu kacau dan saling teriak menyalahkan. Mereka terusir dari acara yang harusnya sakral itu.

Rellian protes, ayahnya merusak masa depan. Bo kembali berfikir tentang keinginannya kuliah dan kebersamaan yang kuat keluarga ini mulai retak. Apalagi kakek mereka bersitegang dengan Ben tentang cara terbaik mendidik anak. Saat seakan semua menyalahkan keadaan, kecelakaan tak perlu terjadi Vespyr yang terjatuh dari atap rumah menambah daftar panjang penderitaan lalu mengajak penonton untuk kembali merenungkan arti semua perjuangan ini. Sang kapten tertunduk, apa yang salah?

Endingnya menghentak. Amazing. Lagu ‘Sweet Child O’Mine’ yang emang pada dasarnya lagu fantastis diaransemen ulang dengan cantik sekali oleh keluarga ini. Suara lembut Annalise Basso menjadi hipnotis kremasi yang patut dikenang sebagai salah satu scene terbaik 2016. Dengan pakaian bertuliskan ‘Jesse Jackson 88’ Ben memberi pesan perjuangan kepadanya yang seorang adalah politisi aktivis untuk partai Demokratik tahun 1984 dan 1988.

Sebagai pecinta buku, referensi bacaan tersebar di berbagai sudut. Banyak buku-buku besar disebut dari Lolita, The Brother Karamov, Midlemarch dan tentu saja nama Noam Chomsky disebut berulang kali. Karena keluarga Ben lebih ke kiri sehingga anti kapitalis dan membenci sistem Pemerintah yang berjalan, mereka anaka sekumpulan orang aneh yang jenius.

Saat akhirnya film berakhir dan mengajak kita kembali ke dunia nyata, rasanya fantasi Ross tak ingin kuakhiri. Jelas ini adalah salah satu film terbaik 2016. Penuh emosional. Sangat menyentuh. Di Oscar hanya mewakilkan Viggo Moertensen. Rasanya sulit, pesaing lain tak kalah hebat. Ah sayang sekali, film sefantastis ini tak mendapat piala di Academy Award.

Captain Fantastic | Year 2016 | Directed by Matt Ross | Screenplay Matt Ross | Cast Viggo Mortensen, Frank Langelia, Kathryn Hahn, Steve Zahn, George Mackay, Samantha Isler, Annalise Basso, Shree Crooks | Skor: 5/5

Karawang, 260217 – Calvin Harris – Summer

FOC Dalam Prediksi Oscar 2017.

image

FOCCERS menebak para pemenang 10 kategori utama OSCAR 2017.

JJ repisi1
1. Best Picture: Aripal
2. Best Actor: Casey
3. Best Actress: Natalie
4. Best Supporting Actor: Patel
5. Best Supportig Actress: Pemaine hidden figures
6. Achievment in Directing: Chazele
7. Adapted Screenplay: Moonlit
8. Original Screenplay: Lalala
9. Best Visual Effect: Dr strange
10. Best Animated Feature: Zootop
Komentar: x

Arief_pranata
1. Best Picture:  LA LA LAND
2. Best Actor: Casey Affleck
3. Best Actress: Emma Stone
4. Best Supporting Actor: Mahershala Ali
5. Best Supportig Actress: Viola Davis
6. Achievment in Directing: Damien Chazelle
7. Adapted Screenplay: Moonlight
8. Original Screenplay: Manchester by the sea
9. Best Visual Effect: The Jungle Book
10. Best Animated Feature: Zootopia
Komentar: Sebagai jemaah LA LA LAND-riyah, eke sangat yakin bisa memenangkan best picture. Eke juga jemaah Chazelliyah, sangat yakin Chazelle bakal jadi director termuda yg menang oscar. LA LA LAND bakal memboyong banyak piala oscar, minimal 10 lah🔥🔥

Arifin revisi1
1. Best Picture: La la land
2. Best Actor: Casey affleck
3. Best Actress: Natalie portman
4. Best Supporting Actor: Mahershala ali
5. Best Supportig Actress: Viola davis
6. Achievment in Directing: Damien chazelle
7. Adapted Screenplay: Moonlight
8. Original Screenplay: La la land
9. Best Visual Effect: Doctor strange
10. Best Animated Feature: Zootopia
Komentar: x

Deni
1. Best Picture: Moonlight
2. Best Actor: Casey
3. Best Actress: Isabelle
4. Best Supporting Actor: Mahershala ali
5. Best Supportig Actress: Viola davis
6. Achievment in Directing: Chazele
7. Adapted Screenplay: Moonlit
8. Original Screenplay: Lala land
9. Best Visual Effect: The jungle book
10. Best Animated Feature: Zootopia
Komentar: x

GG
1. Best Picture: La La Land
2. Best Actor: Ryan Gosling
3. Best Actress: Emma Stone
4. Best Supporting Actor: Mahershala Ali
5. Best Supportig Actress: Viola Davis
6. Achievment in Directing: Damien Chazelle
7. Adapted Screenplay: Arrival
8. Original Screenplay: La La Land
9. Best Visual Effect: Doctor Strange
10. Best Animated Feature: Zootopia
Komentar: x

Iin
1. Best Picture: La La Land
2. Best Actor: Denzel Washington
3. Best Actress: Emma Stone
4. Best Supporting Actor: Mahershala Ali
5. Best Supportig Actress: Viola Davis
6. Achievment in Directing: Damien Chazelle
7. Adapted Screenplay: Moonlight
8. Original Screenplay: Manchester by the Sea
9. Best Visual Effect: The Jungle Book
10. Best Animated Feature: Zootopia
Komentar: x

Huang
Revisi1
1. Best pic : La la land
2. Best aktor: Casey affleck
3. Best aktris: Emma stone
4. Best suport aktor: Mahershala
5. Best suport aktris: Naomi harris
6. Directing: Chazelle
7. Adapt screenplay: Arrival
8. Ori scrinple: Manchester by the sea
9. Best visuefek: Deepwater
10.  Best animasi:  Zootopia
Komentar: x

Adit
1. Best Picture : Moonlight
2. Best Actor : Ryan Gosling
3. Best Actrees : Emma Stone
4. Best Supporting Actor : Michael Shannon
5. Best Supporting Actrees : Naomie Harris
6. Best Director : Barry Jenkins
7. Adapted Screenplay : Moonlight
8. Original Screenplay : La La Land
9. Best Visual Effect : Rogue One
10. Best Animated Feature : Moana

Takdir
1. Best Picture : La La Land
2. Best Actor : Denzel Washington
3. Best Actrees : Natalie Portman
4. Best Supporting Actor : Mahershala Ali
5. Best Supporting Actrees : Viola Davis
6. Best Director : Damien Chazelle
7. Adapted Screenplay : Moonlight
8. Original Screenplay : La La Land
9. Best Visual Effect : Dr Strange
10. Best Animated Feature : Zootopia
Komentar: x

Indah
1. Best Picture : La La Land
2. Best Actor : Casey affleck
3. Best Actrees : Natalie Portman
4. Best Supporting Actor : Mahershala Ali
5. Best Supporting Actrees : Viola Davis
6. Best Director : Damien Chazelle
7. Adapted Screenplay : Moonlight
8. Original Screenplay : Manchester by the sea
9. Best Visual Effect : The Jungle book
10. Best Animated Feature : Zootopia
Komentar: Eke juga jemaah La la land, sama seperti kak Arief. Yakin borong banyak piala. Eke juga ngefans sama neng Natalie Portman, moga dia menang.

Karawang, 250217

Hell Or High Water: Excellently Written And Acted

image

Tanner Howard: Why is it always the sweet ones that are such devils when you get them revved up?

Judul yang aneh. Awalnya saya tak paham, tapi begitu kelar nonton saya langsung salut. Judul yang sedikit banyak mewakili kekesalanku pada – eheem – bank. Dua saudara Toby Howard (Chris Pine) dan Tanner Howard (Ben Foster) adalah perampok bank. Sang kakak Tanner adalah kriminal yang sudah bolak balik dari jeruji besi sementara sang adik Toby lebih kalem. Hanya sekali bermasalah dengan hukum karena kasus perceraian. Penjahat kombinasi aneh ini saling melengkapi. Sementara di sisi baik ada sherif Marcus Hamilton (Jeff Bridges), seorang Texas Ranger di ujung karir. Berduet dengan Ranger keturunan Meksiko Alberto Parker (Gil Birmingham). Merekalah yang bertugas untuk menangkap duo ini.

Kisah dibuka langsung pada poin utama. Duo ini dengan mengenakan penutup kepala merampok Texas Midlands Bank di Archer City saat akan buka. Pekerja wanita ditodong pistol, tapi karena uang ada di brankas si pegawai tak tahu passwordnya mereka kesal menunggu manager bank jam 08:30, saat sang manager datang langsung dihantam. Setelah melakukan aksinya ngebut kabur. Aksi berikutnya sama, merampok bank Midland lagi kali ini di kota Olney, sedang ada nasabah kakek tua dengan uang receh koleksi tahun 1952. Ada perlawanan karena nasabah bawa pistol, Toby melakukan kesalahan setelah menggeledah si kakek pistol ditaruh di dekat counter tak jauh dari korban, setelah terjadi baku tembak mereka dengan amarah debat renyah sambil menyetir, berhasil kabur. Setelah melakukan aksinya, mobil dikubur untuk menghilangkan jejak. Ganti kendaraan lain, aksi lagi. Begitu terus.

Karena uang hasil rampokan berseri, untuk menghilangkan jejak mereka bawa ke kasino untuk main judi dan ditukar koin. Setelah bermain judi, ditukar tunai dan cek untuk dicairkan ke bank Midland! Terdengar gila, tapi begitulah mereka menikmati hidup. Dalam aksinya mereka berusaha seminiminal mungkin jatuh korban, uang yang diambil hanya uang di kasir. Kesenangan melakukan kejahatan ini suatu ketika diluar rencana. Saat makan siang, Tanner melakukan aksi rampok sendiri sementara Toby sedang makan. Bukan bank cabang Midland yang membuat Toby marah, ini berbahaya. Sikap sang kakak yang memang cuek, santai saja.

Perampokan sehebat apapun pasti terbongkar. Sherif Marcus dan Alberto lalu memutuskan memantau sebuah bank dari seberang gedung, menunggu aksi. Pilihan sulit antara mendatangi bank pasca dirampok atau menunggu bank calon tempat TKP. Namun rasa frustasi melanda karena menunggu adalah tindakan yang menjemukan. Sang perampok akhirnya meningkatkan kapasitas aksinya dengan bank yang penuh nasabah dengan resiko lebih besar dan penuh gaya, mereka menuntaskan semua yang tertahan. Dalam adegan klimak yang meledak itu siapa yang akhirnya unggul?

Film ini mempunyai kejutan yang tak kita duga karena motif utama lebih dari sekedar uang rampasan. Warisan tanah keluarga Howard berisi minyak dengan ribuan Barrel per harinya. Dibanding isi minyak di perut bumi, hasil rampokan itu hanyalah receh. Jadi ini tentang apa?

Sempat mau beri judul ‘Two Freaks Chasing Two Bastards’ namun terlalu berlebihan rasanya. Duet polisi yang aneh, yang satu tua dengan ambisi mengakhir karir dengan gemilang bahkan rasisme terhadap partnernya sendiri, yang satu seorang hispanic berdarah Meksiko-Indian yang pendiam namun siap membantu senior. Mereka mengejar mantan Napi cuek bebek yang berduet dengan adik manis bersetel kalem. Namun di akhir cerita kita tahu motif perampokan itu tak sesederhana yang terlihat.

Ada adegan bagus banget saat dua Howard ini mengisi bensin dalam perjalanan ke Oklahoma, mereka berpapasan dengan dua pemuda dengan mobil hijau mengkilap di SPBU. Dengan posisi santai berkaca mata, Tanner ditantang dua begundal yang ternyata salah satunya memegang pistol. Tanner santai saja diancam. ‘aku punya anak buah’. Toby yang sedang cari makan melihat hal itu langsung bak big buk sikat si pemuda ga jelas itu. melempar pistolnya dan membuat pemuda satu lagi terlihat pecundang. Asem. Cool!

Judul film ini artinya adalah ‘do whatever needs to be done, no matter the circumstance’. Sebuah klausul kontrak yang memberatkan penyewa/peminjam di mana pembayaran tetap terus akan dibebankan kepada penyewa tidak peduli kesulitan apa yang bakal dialaminya. Kesepakatan yang tentu saja menguntungkan bank ini anehnya sudah lazim di negara-negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Dasar kapitalis, di mana perlindungan warga dan konsumen kalau gini? Sistem kapitalis yang legal dan tak adil. Yah kalau mau ambil silakan kalau ga juga ga papa, tapi kalau sudah sepakat dan kau mengalami kesulitan pembayaran, pihak bank tak mau tahu. Berat? Ya. Faktanya memang begitu sistem yang berlaku. Kamvret kan.

Jadi apakah saya membela perampokan duo Howard? Jelas tidak. Bagaimanapun merampok adalah tindakan salah. Dalam film ini emang para karakter abu-abu, Ben Foster juara aktingnya, menjadi seorang kriminal yang ternyata menyimpan kelembutan. Dan itu cukup membuat kita bertepuk tangan untuk naskah yang sangat baik, ditunjang penampilan tiga bintang utamanya jelas film ini mumpuni. Jeff Bridges layak menang Oscar. Hah menang lagi? Naskah orisinil terbaik juga sah, kini makin membuatku pusing tebak mana, bagus semua euy! Yang pasti untuk best picture sulit.

3 tours in Iraq but no batloot for people like us.

Hell Or High Water | Year 2016 | Directed by David Mackenzie| Screenplay Taylor Sheridan | Cast Jeff Bridges, Chris Pine, Ben Foster, Gil Birmingham | Skor: 4/5

Karawang, 250217 – Sheila On 7 – Lia Lia Lia

Kubo

image

Kubo: “If you must blink, do it now”

Saya menonton Kubo beruntun dengan Moana, yang ada beberapa kemiripan. Animasi bagus dengan karakter utama punya kemampuan khusus yang dibantu dewa. Dua kartun yang leading di perebutan best animated feature. Moana punya keceriaan khas Disney, Kubo punya kualitas stop-motion khas Laika.

Kubo (voice by Art Parkinson) adalah seorang anak tunggal yang diasuh ibunya (Charlie Theron) di sebuah goa. Mata kirinya ditutup terus, ia kehilangan salah satu pengelihatannya karena ulah sang kakek. Kubo adalah seorang paper-boy yang mengenakan jubah milik alm. ayahnya Hanzo. Memainkan lagu dengan gitar ditemani origami berbentuk para karakter untuk mendukung cerita. Kubo memetik gitar sambil berceloteh kisah tentang seorang samurai Hanzo yang berjuang mencari tiga senjata utama untuk melawan raja bulan: Pedang super kokoh, baju besi anti tembus dan helm super kebal. Saat cerita mempertemukan Hanzo dan musuh bebuyutannya, matahari tenggelam. Cerita selalu terpenggal di sana, penonton ingin akhir cerita namun karena Kubo tak boleh berkeliaran malam hari maka cepat-cepat ia pulang. Sampai di goa posisi ibunya masih sama saat ia tinggal pergi, terduduk diam menghadap matahari. Saat malam benar-benar datang barulah ibunya terbangun, bercengkerama dengan putra semata wayangnya, menceritakan kisah keluarga ditemani boneka monyet imut terduduk manyun.

Keseharian Kubo terusik oleh tuturan seorang nenek, bahwa sebuah kemeriahan festival yang penuh kembang api, nyanyian, tarian, dan pesta. Dan poin utamanya adalah lentera di altar yang digunakan orang-orang untuk berbicara dengan orang terkasih yang sudah meninggal. Dunia antara, yang menebas rindu itu membuat Kubo penasaran. Maka malam itu ia tak patuh sama petuah ibunya, ia tak segera pulang, dibawanya lentera ke altar untuk berbicara dengan alm. ayahnya. Zonk. Ternyata larangan sang ibu berkait dengan The Sisters (Rooney Mara) yang memburunya. Betapa aura negatif langsung menyeruak. Desa dibuat luluh lantak. Saat Kubo berusaha kabur lari ia terjatuh, gitarnya terlepas. Saat genting itu datanglah sang ibu menyelamatkannya. Diberinya kekuatan di jubahnya sehingga Kubo-pun terbang. Sang ibu menggunakan kekuatan sihir terakhirnya untuk menyelamatkannya. Ia berteriak memanggil ibunya sambil melayang dan tertariklah sehelai rambut.

Ia terbangun di negeri asing Nun Jauh dengan latar putih berteman badai bersama seekor monyet putih (Charlie Theron lagi). Kubo yang kebingungan, diajaknya pergi untuk mencari tempat berlindung. Tentu saja banyak tanya yang ingin terlontar namun malam itu telah larut sehingga diminta segera istirahat. Dari cerita sang monyet, ibunya telah pergi, monyet yang menyertainya adalah perwujudan jimat boneka sebesar kepalan tangan yang selalu dibawa Kubo ke mana-mana, jadi kini monyet itu hidup menjadi pemandu. Berdua mereka akan mencari tiga senjata utama. Shock, ternyata kisah Hanzo itu sungguh nyata. Bedanya kini ialah pemeran sang Hanzo.

Mereka memulai pencarian tanpa petunjuk kecuali origami kertas berwarna merah berbentuk sang samurai. Ia terus menunjuk dengan pedangnya ke suatu arah. Menuruti instruksi kertas? Yah, daripada tanpa pegangan sama sekali setidaknya menuruti kertas bergerak itu ide buruk terbaik yang mereka punya. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan seekor kumbang (debut istimewa pengisi suara Matthew McConaughey) berbentuk manusia yang mencoba menculik Kubo. Sang kumbang adalah makhluk terkutuk yang terpaksa melalangbuana di Negeri Nun Jauh ini, ia fanatik Hanzo. Jadi kebetulan sekali, jubah Kubo adalah milik Hanzo. Ia-pun siap mengabdi mengantar si anak dalam petualangan. Maka bersatulah ia dalam tim.

Nah aksi selama perjalan bertiga inilah bagian terbaik film ini. Petualangan menemui musuh-musuh yang awalnya hanya dalam benak Kubo kini nyata dihadapinya. Mencari pedang, jubah dan helm untuk melawan sang raja bulan (Ralph Fiennes). Melawan jerangkong hidup, ‘mencuri adalah nama tengahku’. Kumbang tertidur balik tak bisa bangkit. Sederhana namun lucu. Mengarungi samudera dengan kertas dan daun yang begitu fantastis. Berhadapan dengan mata raksasa di dasar laut. Memancing ikan yang aneh. Segala tingkah laku si Kumbang sangat lucu. Sangat lucu. Benar-benar jadi karakter favorit dan memorable ini kamvret. Dengan segala rintangan, termasuk perlawanan menawan The sisters dan legenda-legenda Jepang yang mempesona, berhasilkah Kubo menuntaskan misinya?

Opening logo Focus dan Laika dibentuk dari origami biru dan merah, unik. Mewakili mainan Kubo. Laika memang studio istimewa. Sampai saat ini saya memplot kartun Coraline adalah salah satu animasi terbaik yang pernah saya tonton. Kisah uniknya dengan motion-stop yang sangat menawan. Kubo sama bagusnya dengan Coraline, sama berkaitan mata yang hilang. Film ini juga spesial karena sang produser, sang pemilik Laika sendiri yang turun tangan sebagai sutradara. Andai menang Oscar akan jadi debut luar biasa untuk Mr Knight. Mari berharap juri Oscar fair.

String gitar Kubo di awal kisah (kalau kalian perhatikan) berjumlah tiga namun kenapa judulnya bilang hanya dua? Apakah ini terkait kedua orang tuanya? Dalam artian kemelut hidup dan mati? Sebuah non-konsistensi kisah, seharusnya sedari awal isinya dua senar biar linier. Film ini dijual lebih sering disebut ‘Kubo’ saja tanpa embel-embel dua senar gitar. Dan yah, lebih simple dan bagus gitu sih, terdengar sederhana namun mengena.

Di scene akhir kalian akan menemui boneka jerangkong tengkorak berdasarkan cerita Gashadokuro yang ada dalam pertarunagn perebutan pedang. Jerangkong raksasa itu dibuat nyata untuk mewujudkan animasi megah, tingginya mencapai 16 kaki, waaa… boneka stop-motion terbesar yang pernah dibuat untuk mendukung pembuatan animasi. Seperti  film kartun lainnya, setiap kredit jalan ke atas jadi begitu menarik untuk dilihat sampai akhir karena akan ada gambar-gambar bagus menyertai. Di akhir kredit dengan cerdas Laika menutup gambar dengan bentuk segala karakter yang pernah mereka buat. Dari Boxtroll, Coraline, Paranorman dan diakhiri Kubo sebagai film terbaru mereka. Sepintas namun indah.

Akankah menang best animated? Kalau kualitas yang bicara jawabnya YA. Ketimbang Moana yang jadi princess berikutnya Disney (kita mulai bosan), Kubo jelas lebih bagus. Film ini juga menyusul A Nightmare Before Christmas yang sukses menjadi kartun  kandidat best visual effect. Bukti betapa kerennya Kubo. Sayangnya tahun ini visual efek sangat ketat. Antara The Jungle Book dan Doctor Strange sepertinya yang akan menang.

Kisah Kubo ada twist-nya. Tapi karena dua pengisi suara sudah akrab di telinga, kejutan itu tertebak. Tapi tetap ini kisah menawan. Seperti kalimat pembukanya yang intimidatif, “If you must blink, do it now” perjalanan Kubo seolah menantang kita untuk jangan melewatkan tiap detiknya. Yah, saya sepakat ini adalah film istimewa.

Kubo And Two Strings | Year 2016 | Directed by Travis Knight| Screenplay Marc Haimes, Chris Butler | Cast (voices) Charlie Theron, Art Parkinson, Ralph Fiennes, Roney Mara, George Takei, Matthew McConaughey | Skor: 4,5/5

Karawang, 250217 – Sheila On 7 – Ingin Pulang

Passengers: Ninety Years Too Soon

image

Aurora: If you live an ordinary life, all you’ll have are ordinary stories.

Dengan teknologi yang makin canggih segala bentuk gambar gerak yang 30 tahun lalu begitu sulit dibuat jadi bisa diwujudkan saat ini. Passengers menampilkan kemegahan dalam layar itu dengan bumbu cinta di tengah bencana. Penampilan Jennifer Lawrence memang tak pernah mengecewakan. Seharusnya memang jadi film yang bagus, sayangnya tak original. Kisah menjelajah planet lain untuk dihuni mengingatkanku pada kartun Pixar, Wall-E. Hanya robot kesepian itu diganti manusia, minus penampilan planet bumi.

Kisah dua orang penumpang pesawat luar angkasa yang bangun dari hibernasi di waktu yang tidak tepat. Mereka dalam perjalanan 120 tahun mati suri menuju koloni baru Homestead II untuk dihuni. Dengan pesawat canggih autopilot Starship Avalon semua orang, 258 kru dan 5.000 penumpang tertidur di kapsul hibernasi. Dengan perisai utama di monyong kapal semua benda disikat sehingga aman dari segala kemungkinan terdampar. Namun ada saat sesuatu salah perkiraan karena suatu ketika pesawat itu menabrak asteroid besar, harusnya mesin secara otomatis memperbaiki bagian yang rusak, auto repairing. Naas, ada satu kapsul yang gagal OK sehingga nomor 1498 itu membuka otomatis lebih dini.

Adalah penumpang kelas silver James ‘Jim’ Preston (Chris Pratt) yang linglung. Seorang mekanik engineer. Ia jadi satu-satunya penumpang yang terbangun lebih cepat 90 tahun. Segala hal di Avalon sudah otomatis. Makanan, tukang bersih-bersih robot 4 sweeper, fasilitas huni kelas hotel. Jim menghuni kamar nomor 268.  Awalnya dikiranya Homestead II sudah dekat, namun betapa terkejutnya ia saat acara makan malam sepi. Kepanikan melanda, adegan saat Jim sadar hanya ia seorang yang terbangun sangat bagus. Bagaimana ia berlari kesana kemari mencari orang, orang nyata. Minta bertemu kapten atau kru, namun gagal. Semua orang masih tertidur. Lalu ia memutuskan mengirim pesan minta bantuan ke bumi. Pesan emergency itu dikirm ke bumi paling cepat diterima dalam 19 tahun dan paling cepat akan mendapat balasan dalam 55 tahun. Pesan berbiaya 6,012 Dollar itu terdengar mengerikan sekali. Berarti pesan 74 tahun itu tak lebih baik dari kemungkinan Avalon sampai ke tujuan dalam 90 tahun lagi. Asem. Jim pastinya dalam hati misuh-misuh. Nah betapa terkejutnya ia saat di bar bertemu bartender, ‘oh man, leganya bertemu manusia.’. Dan setelah basa-basi, ternyata ta-da… ia adalah android berwujud manusia bernama Arthur (diperankan dengan bagus oleh Michael Sheen). Menemaninya berbincang setiap saat sambil minum. Waktu terus berlalu, Jim mulai brewokan dan terlihat frustasi. Arthur lalu memberi saran untuk menikmati aja setiap momen dijalaninya. Lupakan sejenak kekhawatiran yang tak bisa kau kendalikan. It’s yours!

Namun seseru-serunya sendiri ada kata bosan di dalamnya. Setahun berselang, ia benar-benar frustasi. Dengan wajah tak terawat penuh jambang dan kumis, ia curhat kepada Arthur. Ada seorang penumpang wanita, Penulis yang begitu dipujanya semasa di bumi, Aurora Lane (Jennifer Lawrence). Ia begitu menggoda untuk diajak bersama. Membangunkannya adalah hal terakhir yang terpikirkan. Namun karena terus masuk ke otaknya hal terlarang itu justru dilakukannya. Dengan gugup dirusaknya kapsul hibernasi Aurora sehingga akhirnya terbuka. Segera ia kabur saat si cantik siuman. Seperti Jim yang awalnya linglung, Aurora juga bingung kok bisa terbangun sementara semua orang masih tertidur. Pertemuan pertamanya mereka dibuat seolah itu tak sebuah kesengajaan. Sebuah kecelakaanlah yang membangunkannya.

Aurora adalah penumpang kelas bergelang emas, artinya fasilitas yang didapat kelas VIP. Ia menulis dengan teknologi canggih. Tak perlu mengetik dengan ketukan jari. Hanya bercerita kepada semacam Tablet lalu tulisan otomatis mengerak. Luar biasa. Buang keyboard Anda bung, teknologi masa depan ini begitu membuat iri Blogger. Berdua mencoba bertahan. Tentu saja benih cinta muncul dengan keterasingan. Yah, bisa ditebak mereka akhirnya bercinta dan sepertinya bahagia. Masalahnya mau sampai kapan?

Dan masalah sesungguhnya muncul saat Aurora tahu fakta bahwa Jim-lah yang membangunkan. Marah luar biasa tentu. Lalu saat pesawat kembali terguncang menabrak asteroid, membangunkan seorang kru Gus Mancuso (Laurence Fishburne). Navigasi galaksi terlihat sangat canggih, serba otomatis. Menurut Gus, Avalon masih dalam jalur. Keadaan makin gawat karena Avalon diluarduga makin rusak. Gravitasi hilang, kegagalan repair sampai akhirnya terjadi kebocoran dinding yang membuat udara tak steril. Keselamatan semua orang terancam. Berhasilkah mereka melawan takdir?

Ada sebuah lagu cengeng berdujul, ‘berdua lebih baik.’ Lagu itu terdengar manja dan setiap tak sengaja mendengarny membuatku ingin muntah. Namun bagi orang yang suka kesunyian seperti saya, membayangkan sebagai Jim pun rasanya tak mau. Ngeri. Coba kalian lihat lagi posternya ada sederat simbol bertulis, ‘dot dot dot, dash, dash, dash, dot, dot, dot’. Itu adalah kode morse untuk S.O.S, cerdas sekali menggambarkan kegalauan para karakter.

Jennifer Lawrence tampil cantik, sangat cantik seperti biasa. Kecantikan natural dengan nama memikat Aurora. Pertama terlintas dengar kata itu adalah si Aurora dalam Tron Legacy dan sang putri di Sleeping Beauty. Dalam Passengers, Lawrence adalah magnet semua kehampaan besi dan frustrasi dalam Avalon. Adegan saat ia berenang lalu gravitasi menghilang dikepung deburan air hingga sulit bernafas, itu terlihat intimidatif. Saya menahan nafas untukmu. Sesak.

Kalau kalian sudah menonton The Shinning-nya Kubrick kalian pastinya familiar sekali dengan hawa mencekam hotel tempat si gila Nicholson mengetik cerita. Banyak sekali referensi dekorasi dan suasana dibangun untuk membuat ketakutan penonton. Dan sukses. Kesendirian Jim begitu bisa kita rasakan, dan keputusan membangunkan Aurora rasanya langsung harus kita maklumi, bisa jadi kita akan melakukan hal yang sama.

Di Oscar, Passengers mengirimkan dua wakil di Original skor dan Production design. Salah satu seharusnya menang. Skoringnya bagus, sangat bagus. Di bagian jelang akhir saat Avalon rusak parah dan para jagoan terjebak berputar dan terhempas gravitasi, itu benar-benar penuh gaya. Skoring-nya sangat menawan. Desain produksi juga layak menang. Pesawat Avalon yang melingkar berputar dengan lima jeruji itu ide brilian. Ujungnya berperisai yang menghancurkan segala benda yang menghalang, oto-repair yang terlihat canggih. Semua terlihat megah. Tapi prediksiku hanya satu yang dapat.

Sayang saja secara cerita kurang menggigit. Andai Passengers rilis 15 atau 20 tahun lalu bakalan penuh puja-puji. Drama survival bertajuk cinta seperti ini sudah banyak dibuat. Ditambah minim kejutan, penonton pastinya sudah menduga kisah akan menuju ke sana dan happy ending. Dramatisasi hanya bumbu dan saat akhirnya epilog Aurora terdengar, rasa hampa yang tersisa layaknya hembusan nafas lega setelah naik wahana halilintar di Dufan. Saat mesin terhenti, berakhir pula ketegangan itu. ada sedikit rasa degub di dada, tapi tak lama setelahnya tak membekas. Seperti itulah Passengers, hampa. Karena Lawrence pernah terjebak di arena game yang jauh lebih berbahaya dengan hanya berteman panah, kepanikannya terbangun puluhan tahun lebih cepat rasanya sekedar piknik melepas lelah.

“Aku tak bisa hidup di kapal ini tanpamu!”

Passengers | Year 2016 | Directed by Morten Tyldum | Screenplay Jon Spaihts | Cast Jennifer Lawrence, Chris Pratt, Michael Sheen, Laurence Fishburne | Skor: 3,5/5

Karawang, 250217 – Sheila On 7 Spesial on Trans Tv – Kau Kini Ada

Hidden Figures: Delightful And Entertaining Film

image

image

Mary Jackson: Three negro women chasing a white police officer down a highway in Hampton, Virginia in 1961. Ladies, that there is a GOD-ordained miracle!

Wow. Wow adalah kata pertama yang terucap pasca menonton kisah trio wanita keling di era 1960an ini. Sesuatu banget menyaksikan perjuangan melawan diskriminasi warna kulit. 60an itu masa yang belumlah jauh dari sekarang. Amerika yang mengklaim Negara adikuasa itu masih berlaku tak adil terhadap warganya sendiri setengah abad yang lalu. Kenyataan bahwa sekarang Presiden baru mereka begitu rasis membuat Amerika justru kembali mundur ke era itu.

Hidden Figures adalah kisah cantik perjuangan tiga orang wanita kulit hitam Katherine Johnson (diperankan dengan sangat bagus oleh Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Moane) yang berotak cemerlang. Opening film memperlihatkan bahwa kecerdasan Katherine memang sudah terlihat sejak kecil. Ia berhitung dengan bilang ‘prime’ saat menyentuh bilangan prima. Ia dengan mudah menaklukkan soal-soal matematika. Tahun 1926 ia melanjutkan sekolah elite khusus kulit hitam Institut West Virginia. ‘Kamu harus melihat dia akan jadi apa nantinya.” Film lalu melompat di tahun 1961 di Hampton, Virginia, trio keling ini sedang memperbaiki mobil mogoknya. Katherine melamun, Mary bersolek dan Dorothy jadi montir. Mereka berkendara menuju Langley, tempat gedung NASA – National Aeronatics and Space Administration. Saat kelar memperbaiki mobil mereka disambut pak polisi yang aneh – memandang langit dan bilang kita sedang diawasi Rusia, tahu mereka adalah pegawai NASA setelah mobil kembali beres mereka dikawal. Wew, sesuatu yang langka warga kulit putih mengejar polisi kulit putih di tahun 1961.

Katherine Johnson adalah seorang matematikawan Afro-Amerika yang menghitung lintasan terbang dalam proyek Merkuri dan Apollo 11, ia menjadi satu-satunya wanita kulit hitam di gedung itu. Setiap kali ingin buang air ia harus keluar gedung seberang karena di gedung itu toilet hanya untuk warga kulit putih. Begitulah setiap butuh konsentrasi dan pergi ke belakang ia harus menyeberangi gedung lain ke toilet ‘color restrooms’.

Mary Jackson adalah seorang penerima beasiswa sekolah. Sebagai warga kulit berwarna ia berjuang untuk masuk ke kampus bergengsi. Sesuatu yang langka di masa itu, namun akhirnya dengan penuh perjuangan dan kehebatan berfikir serta bertindak ia berhasil menjadi yang pertama.

Dorothy Vaughan adalah seorang pengajar kulit hitam yang sangat berdedikasi. Ia begitu mencintai pekerjaannya melakukan banyak hal positif untuk Negara. Sering berselisih dengan Vivian Jackson (Kirsten Dunst) namun akhirnya kualitas berbicara.

Mereka bertiga adalah orang hebat yang tak diketahui banyak orang dalam proses lomba tembus angkasa. Cerita berfokus kepada Katherine. Seorang janda anak tiga, suatu Minggu siang dalam acara kumpul warga kulit hitam di perayaan agama di Gereja, ia disebut oleh sang pendeta sebagai kebanggaan, “wanita yang bekerja menerbangkan roket”. Bersamaan dengan itu seorang Kolonel Jim Johnson (Mahershala Ali) juga disebut karena bisa menjadi orang hebat di militer. Nama King tentu saja disebut karena ia adalah pahlawan perjuangan persamaan hak, walau sekilas. Mereka akan bersatu tentu saja itu tebakan yang mudah, namun proses melamarnya begitu romantis sampai-sampai membuat Kaherine berkaca-kaca. Dan membuat penonton tersentuh.

Karir sang protagonist sebenarnya cemerlang, hanya terkendala warna kulit. Rekan-rekan kerja pada memandang sebelah mata, atasan yang tak begitu peduli atas kinerja sampai rasisme yang bagi orang berhati lemah pasti patah arang. Namun tidak bagi Katherine, ia tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. Hingga pada suatu hari ia menuliskan hitungan pesawat ulang-aling yang benar di papan. Hitungan itu diketahui oleh bosnya Al Harrison (diperankan dengan meyakinkan oleh Kevin Costner). Hitungan itu ternyata benar, membuat mata setiap karyawan mulai terbuka.

Kabar bahwa Rusia mulai sudah mengorbitkan pesawat luar angkasanya dengan sukses membuat petinggi NASA resah. Segala upaya lalu dikerahkan untuk menaklukkan mereka. Lomba pacuan menembus langit dua Negara adikuasa itu seperti yang dicatat sejarah akan mencapai puncak saat bisa menginjak bulan. Pertanyaannya tentu saja bukan siapa yang menang. Pertanyaan untuk film ini lebih pasnya seberapa besar peran Katherine dalam proses menghantar astronot mereka menembus langit.

Berdasarkan buku karya Margot Lee Shetterly dengan judul yang sama, kisah nyata ini begitu menohok. Entah bagaimana kisah aslinya karena beberapa dipastikan dramatisasi. Seperti keseharian Katherine yang harus bolak-balik ke toilet khusus itu adalah pengalaman Mary, namun karena Katherine adalah leading role maka digeser ke dia.

Salah satu adegan paling menyentuh diperlihatkan Kevin Costner saat menghancurkan tanda toilet berwarna dengan emosional. Dengan amarah meletup sekaligus kepala dingin ia berujar, “Here at NASA we all pee the same color.” Aksi Costner dalam film memerangi rasisme bukanlah yang pertama, kisah ini sudah kulihat di film ‘Black or White’ dimana Octavia Spencer juga ikut andil.

Mengenai Oscar, sejauh ini penampilan Octavia lebih baik ketimbang Kidman. Peluangnya masih sangat ada, Manchester dan Moonlight belum ketonton. Mahershala Ali juga berperan di Moonlight dan masuk nominasi. Persaingan dua film head-to-head dengan bintang sama, saru. Untuk adapted screenplay sangat layak menang, namun sayang sekali saya sudah plot untuk Arrival. Untuk best picture bisa kupastikan kalah. Jadi kesimpulannya film sebagus ini besar kemungkinan tangan hampa? Sangat bisa Ya. Tahun yang berat dalam memerangi rasisme.

Kisah lomba balap angkasa ini menghantar John Glenn menjadi astronot Amerika pertama yang mengorbit bumi. NASA berdiri tahun 1958, masa yang tak lama untuk bisa sukses terbang menembus gravitasi. Sempat berharap cerita akan menyentuh tahun 1969, namun diakhiri lebih dini jadi heroism manusia mendarat di bulan tak diperlihatkan.

Hidden Figures adalah film dengan penampilan berkelas trio aktris Taraji, Jenelle dan Octavia. Semua gerak dan kalimat yang terucap sangat bagus, asyik dan lucu yang membuat penonton ikut tersenyum. Akting menawan ditemukan dengan naskah bagus dan jadilah ‘Sosok Tersembunyi.” Dibanding Emma Stone Taraji jauh lebih mengesankan. Hanya warna kulit yang membuatnya tak masuk kandidat best actress. No offence!

Hidden Figures | Year 2016 | Directed by Theodore Melfi | Screenplay Allison Schoeder, Theodore Melfi | Cast Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monae, Kevin Costner, Kirsten Dunst, Jim Parsons, Mahershala Ali | Skor: 4/5

Ruang HRGA NICI – Karawang, 240217 – Rihanna – So Hard
Gajian day

Lion: Incredible True Story

image

Saroo Brierley: I’m not from Calcutta, I’m lost.

Ah sayang sekali, tagline-nya spoiler berat. Sehingga bagian terbaik film ini di 10 menit akhir yang seharusnya akan membuat air mata turun akhirnya sekedar nyaris. Kesalahan ‘12 Year A Slave’ ada di judul, kesalahan Lion ada di tagline. Benar-benar patut disayangkan. Script-nya menawan. Sebuah kisah nyata yang luar biasa.

Kisahnya sangat menyentuh hati. Film dimulai tanpa menampilkan judul film – dan sampai jelang akhirpun tak nampak tulisan ‘Lion’. Bersetting tahun 1986 di India. Daerah kumuh, padat penduduk dengan pelbagai kesulitan hidup. Saroo (Sunny Pawar) adalah seorang anak pemberani berusia 5 tahun. Bersama kakaknya Guddu (Abhishek Bharate) membantu orang tua mereka mencari nafkah. Anak-anak diperlihatkan ikut bekerja sekalipun serabutan, jelas masa kecilnya terenggut. Pembukanya memperlihatkan Saroo di tengah ladang penuh kupu-kupu, terlihat indah sekali. Dalam keseharian Saroo dan Guddu mencuri batu bara dari gerbong kereta api yang sedang berjalan pelan. Dengan gaya selayaknya bajing loncat mereka menjejali karung dengan bahan bakar tersebut. Saat petugas tahu, kabur. Hasil jarahan itu ditukar dengan susu dan uang receh. Saroo melihat makanan lezat yang sangat diinginkannya, jalebi tapi karena uang ga cukup sang kakak hanya menjanjikan suatu saat saya belikan jalebi. Seisi toko jalebi. Haha. Dan saat pulang, susu dibagi untuk ibunya Kamla (Priyanka Bose) dan si bungsu Shekila. Dari adegan pembuka ini kita tahu, sekalipun mereka hidup dalam kemelaratan, mereka bahagia dalam kebersamaan.

Kepiluan kisah dimulai saat suatu malam Kamla berangkat kerja, sang kakak juga bersiap berangkat seminggu dan Saroo diminta bertugas menjaga si adik. Namun saat akan berangkat Saroo bersikukuh ikut. Dengan gaya anak-anak yang menggemaskan bahwa dia bisa membantu memperlihatkan bisa mengangkat benda-benda, dia kuat dan pasti berguna. Sepeda aja sampai diangkat. Akhirnya Guddu mengiizinkan bersama. Dengan bersepeda mereka ke stasiun. Sayang sesampainya di sana Saroo tertidur. Hufh, karena sulit dibangunkan ia diminta tidur di peron dan jangan ke mana-mana selama sang kakak bekerja. Dini hari, stasiun kosong dan ia terbangun. Dengan panik mencari sang kakak. Naik kereta, meneriaki namanya. Karena lelah, tertidur.

Saroo terbangun dalam kondisi kereta sedang berjalan. Semakin panik, berteriak minta tolong. Tidur lagi, sembunyi ketakutan. Saat akhirnya kereta berhenti, ia memutuskan turun di antara jubelan calon penumpang. Dia-pun menggelandang, dari satu tempat ke tempat lain. Gabung sama pengemis, gelandangan, tuna wisma hingga tidur beralas kertas. Saat petugas sosial datang mereka kabur. Lari ketakutan – bagian ini sepintas mengingatkanku pada ‘Slumdog Millionaire’ di mana anak-anak sehat matanya dibutakan untuk diajak mengemis. Saya tentu saja ikut was-was arah nasib sang protagonist.

Saat hari terang ia berjalan di atas rel kereta api dan bersapa dengan orang asing yang kelihatannya baik, Noor (Tannishtha Chatterjee). Dia ajak ke tempatnya tinggal, diberi makanan enak, minuman segar cola dan tempat berteduh. Namun gerak-geriknya mulai mencurigakan, ditambah saat pasangannya datang dan mengatakan ia adalah sosok pas yang dicarinya saat ini. Kekhawatiran itu dijawab Saroo dengan kabur saat Noor lengah. Kabur menemui takdir yang tak pasti. Hingga scene bertuliskan ‘2 bulan kemudian’.

Suatu hari Saroo menatap kaca dari jauh orang sedang makan dan mengikuti gerakan makannya. Sang pemuda merasa kasihan dan membawanya ke kedai, Saroo memberitahu dia tersesat dan berasal dari daerah ‘Ganestalay’. Tak ditemukan di peta. Dibawa ke kantor polisi, dimuat di koran telah ditemukan anak hilang. Sementara menunggu informasi, Saroo ditempatkan di panti asuhan. Koran yang konon dibaca 15 juta warga itu tak menghasilkan klaim. Rasa frustasi mulai tampak.

Muncul angin segar, pasangan dari Australia ingin mengadopsinya. John dan Sue Brierley (David Wenham dan Nicole Kidman) menyambut kedatangan Saroo penuh cinta. Awalnya Saroo terlihat malu-malu tapi akhirnya bisa menyesuaikan diri. Kehidupan baru Saroo di Hobart, Tasmania dimulai. Dua tahun berselang pasangan ini mengadopsi lagi seorang anak bernama Mantosh yang freak. Menjadi saudara angkat, melengkapi keluarga kaya nan baik hati ini.

Waktu berlari, tahun 2010 Saroo kini tampak tampan. Diperankan oleh Dev Patel, ia sedang kuliah dan menghadapi gaya hidup barat, eh tenggara ya harusnya ‘kan Aussie. Berpacaran dengan cewek cantik pakai banget Lucy (Rooney Mara). Kehidupan mapan itu suatu ketika terusik saat Saroo dalam jamuan teman-temannya dan ada satu hidangan jalebi yang langsung membuatnya teringat masa kecilnya. Memori itu muncul dan keinginan untuk mencari rumah menyeruak. Dengan kecanggihan teknologi, Saroo melacak jalur kereta di India. Menggunakan Google Earth Saroo menelusuri berbagai kemungkinan desa asalnya. Berhasilkah ia pulang?

Apa yang terlintas pertama kali saat dengar kata Bengali? Jawabnya adalah Penulis Besar India, Rabindranath Tagore. Film ini dari pembuka sampai pertengahan menggunakan Bahasa Bengali dan Hindi. Pemahaman Bahasa juga jadi kunci hilangnya Saroo.

Kisah nyata ini berdasar buku karya Larry Buttrose dan Saroo Brierley sendiri berjudul ‘A Long Way Home’. Saroo terpisah dengan keluarganya selama 25 tahun. Tempat kereta berhenti adalah Calcutta, itu berarti ia terpisah 1,6000 Km dari rumahnya, sebelum akhinya terbang ke Tasmania. Kisah pilu bak sebuah fiksi ini nyata, benar-benar cerita yang luar biasa. Berkat teknologi yang makin canggih, segala kemungkinan memenggal jarak bisa diatasi.

Dunia masih ada harapan. Masih banyak orang baik. Melihat kasih sayang apik Sue dan John terhadap anak angkatnya begitu menyentuh. Cintanya bahkan melebihi cinta anak kandung. Tindakan adopsi Saroo dan Mantosh benar benar inspiratif. Dunia harus mengucapkan terima kasih padanya.

Pertanyaannya kenapa film ini berjudul Lion? Karena kalian tak akan menemukan sama sekali seekor singa. Kecuali patung singa yang sekilas muncul di awal film. Jawabnya adalah nama Saroo diambil dari kata Sheru yang berarti singa. Adegan awal Dev Patel itu juga merupakan adegan akhir. Bagaimana perbuahan sosok dan mimiknya yang frustasi menjadi begitu bahagia saat tiba di Rumah yang sesungguhnya. Mungkin juri Oscar terpesonanya di sini. Peluangnya? Ah kecil. Jelas saya tak akan menjagokan Dev Patel dan Nicole Kidman. Skoring dan cinematografi juga biasa, jadi rasanya sulit. Peluang hanya di adapted screenplay, namun sayang seribu sayang kemarin saya terpukau Arrival jadi prediksiku Lion akan tangan hampa. Kalaupun ada satu piala, itu seharunya ke Dev Patel. Mustahil ke piala tertinggi best picture.

Saya justru terpesona sama pendatang baru, actor cilik Sunny Pawar yang begitu menggemaskan. Dia sukses menyingkirkan 4,000 kandidat untuk mendapatkan peran ini. Yakin sekali besarnya nanti akan jadi bintang besar. Seperti Dev Patel yang ditemukan oleh Danny Boyle, Sunny yang diasah Davis punya masa depan cerah. Tinggal audisi ke film berikutnya untuk menuju Hollywood.

Secara keseluruhan Ok film ini bagus, namun banyak adegan di Aussie yang ga penting yang menurunkan mood. Film jadi begitu mengharukan saat adegan asli pertemuan kedua orang tua Saroo bertemu. Sangat mengharukan, saya nyaris mennagis. Di akhir kredit saat memperlihatakna kedua kaka adik ini berjalan beriringan di rel kereta api muncullah kalimat menyentuh hati, ‘In loving memory of Guddu’.

Terakhir, film ini seharusnya jadi media promo Google Earth karena aplikasi ini begitu dominan dan sangat membantu. Saya jadi kepikiran, suatu saat harusnya WordPress bisa menjadi media yang disorot berjasa bagi blogger seperti kita. Setuju?!

Lion | Year 2016 | Directed by Garth Davis | Screenplay Luke Davies| Cast Dev Patel, Rooney Mara, David Wehham, Nicole Kidman, Sunny Pawar, Abhishek Bharate, Priyanka Bose, Deepti Naval | Skor: 4/5

Ruang HRGA NICI – Karawang, 220217 – Sherina Munaf – Sendiri

Arrival: Science Fiction Masterpiece

image

Tulisan ini mengandung spoiler, yang belum nonton dan berniat menikmatinya dianjurkan untuk tidak membacanya.

Dr. Louis Banks: If you could see your whole life from start to finish, would you change things?

Inilah film Oscar 2017 terbaik yang kutonton sampai saat ini. Posternya snob. Pesawat alien turun ke bumi bentuknya macam batu cobek melonjong ke atas, kalau dilihat dari samping seperti tempurung dan ngambang di atas tanah. Tagline-nya mempertanyakan alasan invasi mereka ke bumi, “Why are they here?” Ceritanya? Walau ga semua, menjadi kandidat best adapted screenplay Oscar adalah jaminan mutu. Dan yah kali ini saya sangat setuju. Pacenya lambat. Saya sempat ketiduran bahkan sebelum pesawat alien terlihat di layar. Timing emang sangat berpengaruh, saya nonton dalam posisi lelah sehingga kurang konsentrasi (apa kabar Sicario?). Dan film ini butuh konsentrasi ekstra. Esoknya baru tonton ulang bersama May dari menit pertama.

Dikisahkan Dr. Loiuse Banks (Amy Lou Adams) adalah seorang dosen ilmu Bahasa dengan muka muram seakan hidup penuh beban layaknya Squidwart Tentacles. Anaknya, Hannah (diperankan empat aktris berbeda tiap bertambah usia – Carmela Nossa, Jadyn Malone, Julia Scarlett Dan, Abigail Pniowsky) menderita penyakit langka yang mematikan. Hannah bukan sembarang nama, karena paliandrom. Dibalik bacanya tetap Hannah, layaknya Kasur, apa, ada, malam, radar, katak, kodok, makan rusak, asa. Termasuk sang pemeran Ian. Si Renner dibaca balik juga Renner. Suatu hari kelasnya sepi, lalu salah satu mahasiswa memintanya menyalakan televisi. Breaking news memperlihatkan sebuah objek telah (hampir) mendarat di Montana, Amerika Serikat. Saya tulis hampir karena objek mereka melayang. Lalu Hokaido, Jepang dan 8 negara lain. Dalam perkembangan informasi totalnya kini 12 pesawat mendatangi bumi ke berbagai negara:  China, Sudan, Amerika sampai Rusia.

Setiap negara mencoba membongkar maksud kedatangan ini. Menteri Pertahanan bersama para armadanya berusaha keras memanggil para ahli. Setelah dua hari, saat Banks sedang bersantai di rumah pinggir pantainya, ia didatangi Kolonel Weber (Forest Whitetaker). Sebagai penerjemah berbagai Bahasa, ia diminta mengartikan rekaman alien. Suara yang terdengar hanya gerutuan ga jelas yang pastinya akan membuat anjing-pun mengernyitkan dahi. Apalagi Banks, ia mungkin bisa tahu lebih detail bila face-to-face.

Suatu malam sebuah helikopter mendarat di rumah Banks. Membawanya ke Montana bersama theoretical physicist Ian Donnelly (Jeremy Renner) dan beberapa rekan ahli lain. Sesampai di TKP, tenda darurat sudah dipasang dan pasukan yang sebelumnya meneliti menyambut dingin. Setelah segala persiapan, memakai suit khusus laiknya stronot tim inipun siap menganalisis. Setiap terdengar bunyi seperti terompet, pintu objek terbuka. Pintunya di bawah sehingga tim ini masuk dengan bantuan reachtruck yang diungkit ke atas. Lubang berbentuk kotak itu anti-gravitasi. Jadi bayangkan kalian bisa berjalan di dinding ke langit-langit tanpa terjatuh. Ide yang sangat bagus.

Dengan kabut yang menyelimuti mereka terpisah dengan sebuah kaca dua arah. Dua alien menyambut – akhirnya nanti mereka menyebutnya heptapod. Dua alien berwujud tentakel itu oleh Ian diberi nama Abbott dan Costello (mengingatkanku pada serial Sherlocknya Benedict Cumberbact, The Hound of the Bakervilles). Setelah beberapa kali cek dan ricek mengajak komunikasi tapi gagal paham, Banks berinisiatif membawa papan bertulis, ‘human’. Alien itupun membalas dengan muntahan cairan tinta berbentuk lingkaran hitam, seperti simbol yang rumit. Setelah berulang kali seperti itu, akhirnya Banks paham begitulah mereka ngobrol, setiap lingkaran simbol dianalisis dan Banks menuliskan kata demi kata.

Sementara kabar dari 11 negara lain-pun menemui jalan buntu. Melalui monitor semua mengerahkan daya upaya tujuan invasi ini. Hari demi hari ketegangan meningkat. Suatu analisis menyebut kata ‘a weapon’ yang membuat gempar semua orang, karena bisa jadi itu artinya sebuah ancaman perang. Dr. Banks mencoba menahan diri karena bisa jadi artinya itu bisa ‘alat’ atau mungkin penawaran ‘teknologi’. Akhirnya kesabaran China habis, jenderal Shang (Tzi Ma) memutuskan akan menyerang objek. Sudan dan Rusia mengikuti. Debat antar negara itu memutus kontak karena perbedaan cara menghadapi kebuntuan. Nah kesabaran Amerika jua menipis, mereka pun bersiap meledakannya. Banks yang sedikit banyak mulai memahami Bahasa heptapod, mencoba melawan. Dia beberapa kali memimpikan, membayangkan dalam bentuk adegan bersama putrinya. Mengejar waktu, berhasilkah Banks menyelamatkan kegemparan yang berpotensi perang itu? Sebenarnya ada tujuan apa 12 pesawat itu ke bumi?

Kalau kualitas yang dinilai harusnya Arrival menang piala tertinggi best picture. Karena twist yang disampaikan begitu brilian. Berdasarkan novella ‘Story of Your Life’ karya Ted Chiang yang terbit tahun 1998. Film ini bakalan memecahkan banyak persepsi – walaupun penjelasan Dennis sebenarnya sudah gamblang di layar, hanya butuh konsentrasi dan mungkin putar ulang untuk tahu misi Arrival. Dan juri Oscar seharusnya suka ending macam gini.

Spoiler – Spoiler – Spoiler  —  WARNING —  Spoiler – Spoiler – Spoiler

Seperti ajaran Buddish, hidup ini sebuah lingkaran. Setelah kehidupan di dunia berakhir ada reinkarnasi. Makhluk akan terlahir kembali sesuai perilaku kehidupan sebelumnya. Berputar terus. Heptapod mengeluarkan cairan berbentuk lingkaran/sirkular sebagai sarana komunikasi. Konsep simbol melingkar adalah makna bahwa para alien ini bisa ‘mengatur waktu’. Di sana waktu acak-acakan kadang maju kadang mundur. Yang pasti waktu di kehidupan mereka tak sama dengan di bumi yang linier maju terus laiknya tulisan kita yang dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Dalam ajaran agama kita konsep waktu ada awal dan ada akhir. Bumi dibuat, ada kehidupan, lalu kematian, ada kiamat, lalu ada hisap dan kehidupan lain yang abadi. Tak bisa berputar dan tak bisa kembali ke bumi. Dalam teori Lubang Cacing dijelaskan bahwa perilaku kita saat ini mempengaruhi kehidupan kita esok harinya. Kalau kita melakukan ini dampaknya adalah ini, kalau kita melakukan itu akibatnya adalah begitu. Hidup ini pilihan seperti variasi lorong, lorong yang kita pilih itulah yang kita jalani. Bagi kita masa depan adalah misteri, ada beberapa manusia bisa melakukan ramalan-ramalan namun itupun hanya perkiraan bukan kepastian.

Nah kedatangan mereka adalah memberi tahu bahwa manusia harus belajar bahasa mereka agar bisa ‘menaklukan’ waktu. Seperti kata Ian tentang syndrom sapir whorf bahwa kemampuan otak kita terpengaruhi bahasa. Peradaban dipengaruhi oleh pengetahuan, tapi bagi Banks peradaban dipengaruhi oleh bahasa. Tulisan kita maju terus, waktu kita pun sama maju terus. Andai manusia menguasai bahasa mereka, pola pikirnya tentu saja akan seperti mereka. Nah, karena Dr Banks mulai paham bahasa heptapod mulailah pikirannya dipenuhi masa depan. Awalnya tentu saja bingung, ada kalimat mengejutkan saat akhirnya Banks bertatap langsung dengan Costello. “Who is this child?”. Dan inilah kejutan besar di film ini. Seluruh adegan awal itu hanyalah bayangan masa depan Louise Banks. Tentang putrinya, tentang Hannah yang sakit akut, tentang suaminya yang pergi, tentang gambar putrinya ‘ayah dan ibunya bicara dengan hewan’. Dan seterusnya dan seterusnya. Persoalannya ketika kalian tahu masa depan, apakah kalian ingin mengubahnya?

Dalam Arrival, Banks (akan) memiliki kehidupan yang tragis. Anaknya sakit parah, suaminya meninggalkannya karena tahu Hannah akan mati muda, dia tak siap mendengar kabar itu. Membayangkannya saja seram. Dan yang jadi suaminya ternyata adalah Ian!

Sesuatu yang logis makhluk asing datang ke bumi dan terkendala bahasa. Mustahil kalau mereka datang bisa berkomunikasi langsung pakai bahasa kita. Sederhananya ga mungkin kan kalian pertama kali datang ke China bisa ngomong mandarin pastinya blekak-blekuk disertai isyarat. Nah, para heptapod ini dari galaksi lain berkunjung ke bumi menyapa kita ya pakai bahasa mereka. Kita membalasnya dengan English, ga nyambung. Kata ‘a weapon’ sendiri akhirnya salah tafsir karena itu ‘a gift’. Dalam banyak fiksi lain, kita sudah paranoid bahwa alien adalah makhluk berbahaya yang kedatangnya untuk invasi, dengan puluhan film perang melawan makhluk asing pikiran kita sudah negatif duluan. Padahal semesta ini misteri. Seperti analogi penjelasan Banks kepada Kolonel Weber tentang kangguru. Bahwa terjadi kesalahpahaman antara pendatang dengan suku aborigin.

Dengan ide brilian semacam ini bagaimana peluang Arrival di Oscar Senin nanti? Harusnya dua kategori utama menang. Lalu adapted screenplay WAJIB menang. Sound editing sudah kuplot ke Sully jauh hari, namun ternyata Arrival juga keren sekali. Ketat. Peluang terbesar ada di sound mixing. Kalau cinematografi melihat lawan-lawannya, rasanya berat. Begitu juga di production design. Minimal ada tiga piala. Dan mudah-mudahan di bagian utama semua. Dan mari berdoa Blade Runner 2049 sama menggilanya!

Arrival | Year 2016 | Directed by Denis Villeneuve | Screenplay Eric Heisserer | Cast Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitetaker, Michael Stuhlbarg, Tzi Ma, Mark O’Brien | Skor: 5/5

Ruang HRGA NICI – Karawang, 210217 – Sherina Munaf – Ku Disini