Surat Dari Raja Dan Anyelir Merah – Rabindranath Tagore

image

Manusia hidup sambil membayangkan bahwa suatu hari sebuah ‘surat’ panggilan akan datang dan membawakan kebahagian. Sehingga menunggu bisa menjelma sebagai siksaan; namun tidak bagi mereka yang punya cinta. – catatan sampul belakang

Ini adalah jenis buku yang sekali duduk selesai baca. Tipis, tak sampai 150 halaman. Sayang aja buku sebagus ini cepat selesai lahap. Ini adalah buku ketiga beliau yang saya nikmati, setelah ‘Gitanjali’ sebuah prosa kehidupan yang indah dan ‘Tagore dan Masa Kanak’, kumpulan cerita pendek – salah satu terbaik yang pernah baca. ‘Surat Dari Raja Dan Anyelir Merah’ adalah cerita sandiwara dua bagian yang sangat menawan, seperti karya Tagore yang lain yang selalu puitis dan menghanyutkan, kekuatan utama di dialog yang membabat batas-batas tabu. Surat Dari Raja sama menakjubkannya. Bukti beliau sungguh hebat dalam bentuk karya tulis apapun, novel yang belum kubaca.

Bagian pertama tentang seorang anak yang sakit kronis bernama Amal Dutta, ia adalah anak angkat Madhav Dutta. Ia divonis dokter untuk tak boleh keluar rumah, kena sinar mentari. Untuk seorang anak terkurung tentu saja siksaan. Namun imaji Amal yang tinggi membuatnya menembus mimpi yang rasanya mustahil. Kegemarannya duduk di tepi jendela terbuka lalu menyapa siapa saja yang lewat membuatnya akrab dengan orang sekitar.

Mandhav: Sungguh resah aku sekarang! Sebelum ada dia, tak ada masalah apa-apa; aku merasa bebas. Tapi sekarang, setelah dia datang, entah dari mana, hatiku diliputi rasa iba padanya. Dan rumahku serasa bukanlah rumah saat dia tak ada. Dokter, menurut Anda apakah dia –
Dokter: Jika hidup masih menjadi suratan nasibnya, dia akan berumur panjang. Tapi yang tertera di kitab kedokteran, rupanya –

Dialog ini adalah sebuah pembuka yang mengantar kisah sang anak yang nantinya bersosialisasi dengan orang-orang lewat, lewat jendela. Bercerita dengan orang asing. Pertama tukang susu dari Sungai Shamli di kaki bukit Panch-mura, ia menjual dadih dan disapa Amal. Amal lalu belajar berteriak menjajakan dadih. Kedua adalah penjaga yang bertugas membunyikan gong. Ada dialog absurb dimana Amal menanyakan kenapa tidak membunyikan gong-nya sekarang? Karena memang belum waktunya. Dari sang penjaga kita tahu ada kantor pos baru yang dibangun dekat rumahnya. Kantor pos siapa? Kantor pos milik Raja!

Ketiga kepala desa. Yang kebetulan lewat dipanggil Amal. Sang anak berpesan untuk memberitahu raja kalau-kalau Raja mengirim surat tolong disampaikan kepada tukang posnya bahwa Amal ada di sini, di ambang jendela mananti. Keempat sang gadis bernama Sudha, inilah karakter menarik yang (mungkin) menyambung ke bagian dua. Tugasnya adalah mengumpulkan bunga dalam keranjang. Bagaimana Sudha suka bermain boneka Benay si mempelai wanita dan kucingnya bernama Meni. Dari Sudha, Amal mendapat janji tentang bunga yang akan dibayarnya kelak kalau sudah dewasa. Kelima adalah seorang anak yang memberikan gambaran betapa dunia luar sangat luas dan menyenangkan. Dan nama-nama tukang pos yang disebutnya memberi referensi lain. Babak pertama ditutup, sayangnya saat layar kembali diangkat Amal sudah terbaring di tempat tidur. Sakitnya makin parah, angin jendela membuatnya semakin mendekati ajal. Mandhav melarangnya duduk di tepi jendela. Saat sakit Amal makin parah, secercah harapan datang. Dari desas-desus, kata-kata sepele di tepi jendela itu kicaunya sampai di telinga raja sehingga mengirimkan tabib terbaiknya langsung ke rumah Amal. Namun akankah masih ada waktu saat layar sandiwara akan ditutup?

Bagian kedua kisah ini berdiri sendiri tentang bunga Anyelir Merah yang sering dipakai gadis jelita, pusat segala semesta. Nandini adalah gadis cantik yang suka bunga, terkhusus anyelir merah yang langka sehingga susah didapat, pemuda yang berprofesi penggali tanah bernama Kishor meminta harap. “Berjanjilah bahwa setiap pagi kau hanya akan menerima bunga dariku.”

Profesor pernah berujar: “Barangkali nasibmu tahu. Dalam bunga merah itu bukan hanya ada keindahan, tapi juga pesona ketakutan. Aku tidak tahu peristiwa apa yang akan kau tulis dengan warna merah tua. Ada bunga kacapiring dan mawar, ada melati putih, – mengapa kau tinggalkan itu semua dan memilih bunga ini? Apakah kau tahu, kami sering memilih nasib kita sendiri tanpa mengetahuinya.”

Dalam kisah ini Nandini yang cantik memang punya pesona luar biasa. Seorang penggali lain bernama Gokul yang terpesona akan jelitanya sampai berujar, “Kau menjerat semua orang di sini. Kau tukang sihir, mereka yang tersihir oleh kecantikanmu akan menerima kematian mereka. Aku tak percaya padamu. Kau licik. Kejahatan akan menimpa kita sebelum hari berlalu. Itulah sebabnya kau berdandan seperti itu. Oh kau tukang sihir yang mengerikan. Kau seperti obor yang menakutkan”

Peringatan Gokul membuat Nandini terbawa aura keraguan, dan bimbang. Dalam bayang lagu dan sinar samar Nandini sampai berdialog dengan isi kepala yang membawa warna imaji penuh kesamaran. Sebuah suara sampai memberi petuah aneh, “Mengapa aku tidak dapat bersusah payah mengambil warna anyelirmu dan membangun mimpi darinya untuk disimpan di depan mataku? Beberapa kelopak bunga yang lemah menjaganya dan menghalangiku. Dalam dirimu ada rintangan yang sama begitu kuatnya karena begitu lembutnya.”

Lalu cerita bergulir dalam percakapan para penggali. Phagulal, Chandra dan Bishu yang suka menyanyi. Dari mereka kita tahu, ada iri sekaligus kekhawatiran akan kecantikan Nandini. “Melihat dia memamerkan kecantikannya di semua tempat membuatku sakit.” Ah tata bicara pria-pria lajang ini. Di dunia ini ada kelaparan untuk memaksa kita bekerja, tapi juga ada hijau daun, sinar emas matahari untuk membuat kita minum di saat liburan. Manusia memandang rendah pot buatan sendiri yang pecah ketimbang daun layu yang jatuh dari pohon. Begitulah hidup, selalu ada harapan ke depan sekalipun saat ini kau terjatuh paling dalam. Kalender tidak pernah mencatat hari terakhir. Setelah hari pertama datanglah hari kedua, setelah kedua, ketiga. Tidak ada istilah rampung di sini. Apa yang ada di hati mereka selalu ada di bibir mereka.

Namun keseharian rakyat itu menuai ancaman kesejahteraan esok. Buaya mulai membuka mulut dengan tersenyum dan berakhir dengan menggigit. Kesakitan menahan nafsu terhadap sesuatu yang dekat adalah fitnah binatang, kedukaan karena beraspirasi pada sesuatu yang jauh adalah fitrah manusia.

Namun kisah utama bagian kedua ini bukan tentang romantika para remaja di mabuk cinta. Untungnya Tagore menggiring kisah ke arah yang lebih rumit dan berbahaya – sehingga menjadi sangat menarik. Tentang kudeta, tentang semangat juang para pemuda menggulingkan kekuasaan. Tentang perlawanan akan ketidakadilan. Dan, setiap aksi selalu muncul reaksi. Dan setiap reaksi tak selalu bagus didengar telinga. Karena, selalu ada duka di dalamnya. Dan bagaimana kecantikan Nandini bisa membuat daya itu meledak?

Kutipan-Kutipan

Perahuku kuikat di tepi; talinya putus; angin kencang menyeretnya ke tempat tak dikenal. – halaman 86
Kalung kemenangan mungkin bunga kunda. Hadiah dari tangan, tapi kalung sambutan adalah anyelir merah, dari hati.  Ah, harus cepat-cepat dalam menerima hadiah yang datang dari tangan karena ia akan layu. Untuk dari hati, semakin lama menunggu ia makin berharga. – 92
Misteri hidupku yang tersembunyi, melilitku, meratapi ikatannya yang putus. Untuk mendapatkan api dari pohon kau harus membakarnya. Suatu hari aku akan membakarmu dan mengambil api itu – 97
“Waktu berjalan dengan menyingkap yang baru di depannya. Tapi orang-orang berilmu yang menyembunyikan fakta akan mengatakan bahwa waktu senantiasa membawa beban usia tua di punggungnya.” – 106
Haruskah mereka? Jika mati memang diperlukan supaya bisa hidup seperti manusia, apa susahnya mati? – 110
Ketika aku selalu merasa takut dan berusaha menghindari bahaya di setiap langkah, seolah-olah aku merasa bebas tapi kebebasan seperti itu adalah bentuk perbudakan yang terkutuk. – 118
Para dewa setiap saat disembah, mereka tidak terburu-buru waktu. Tapi kesedihan manusia tidak dapat menunggu. – 134
Seseorang telah berkabar bahwa raja akhirnya telah memperoleh kabar tentang rahasia kehidupan, dan telah pergi untuk mencarinya. Aku telah membuang buku-bukuku untuk mengikuti dia. – 140

Dan yah, Tagore tak pernah mengecewakan. Setiap kata yang menyusun kalimat selalu terdengar tak lazim, puitis dan menggugah. Seorang Penulis besar yang layak dijadikan acuan dan inspirasi bagi semua penikmat sastra. Sampul buku ini sempat membuat Hermione ketakutan, karena lukisan close up wajah Tagore yang penuh bulu putih terlihat seperti seorang penyihir. Wajar anak kecil menampiknya, sampai dia bilang, “Tagore, Ayah. Ga mau, atut.” Lalu saat aku membaca nyaring di depannya dia mendengar dengan seksama posisi mata tertutup. Saat ada jeda, Hermione membuka mata dan lagi-lagi teriak. “Lagi. Tagore… seram.” Kemudian kubacakan dialog diapun kembali menutup mata menikmati dongeng Nandini.

Kelak, Hermione Budiyanto-ku sayang kau akan tahu betapa buku tipis ini pernah membuat terlena dalam buaian tidur sekaligus rasa takut akan fatamorgana dunia. Kelak, saat saya sudah pikun, saat masa bakti melayanimu menjelamg usai, saya ingin kau membacakan kisah Nandini dan segala hiruk pikuk Raja di Asia Selatan ini. Sebuah buku sederhana yang sangat indah, sebuah karya Penulis Besar yang tak akan lekang ditelan waktu. Seperti cintaku padamu.

Surat Dari Raja Dan Anyelir Merah | by Rabindranath Tagore | Diterjemahkan dari The Post Office dan Red Oleanders | Rupa & Co. New Delhi, 2002 | Bentang Selected Works Of Tagore | YBB.167.03 – Cetakan pertama, Juli 2003 | Penerjemah A. Asnawai | Penyunting Rh. Widada | Perancang sampul Buldhanul Khuri | Gambar sampul Alfi dan Budi Swiss | Peneriksa aksara Winarti | Penata aksara Yani Y.A. | Penerbit Bentang Budaya | Anggota API – Aliansi Penerbit Independen | Skor: 5/5

Karawang, 250117 – Michael Learns To Rock – Sleeping Child

Iklan

3 thoughts on “Surat Dari Raja Dan Anyelir Merah – Rabindranath Tagore

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s