The Girl On The Train – Paula Hawkins

image

Satu berarti penderitaan, dua berarti kebahagiaan, tiga berarti bocah perempuan. (diambil dari lagu anak One for Sorrow). Tiga berarti bocah perempuan, aku bertahan pada tiga, aku tidak bisa melanjutkannya lagi. Kepalaku dipenuhi suara, mulutku dipenuhi darah. Tiga bocah perempuan. Aku bisa mendengar burung-burung magpies itu, mereka tertawa, mengejekku, terkekeh parau. Ada kabar, kabar buruk. Kini aku bisa melihat mereka, hitam dilatari matahari. Bukan burung-burung itu, tetapi sesuatu yang lain. Seseorang datang. Seseorang berbicara denganku. Kini lihatlah. Lihatlah apa yang terpaksa kulakukan karenamu. – opening note

Tepat satu tahun yang lalu saya membeli buku ini di Gramedia Solo Square bareng dua ponakan Wildan dan Winda. Sebuah kebetulan yang manis, film adaptasinya kini tayang spesial di Blitz dan Cinemaxx. Sudah rilis tahun lalu namun baru tayang Januari ini. Jadi inilah saat yang tepat membuat ulasannya.

Kesan pertama setelah selesai melahapnya adalah, cheesy. Novel jenis gini terlalu halus untuk penikmat kisah-kisah detektif. Di tangan Christie – mbahnya cerita penyidik, buku ini bisa menjadi kisah suspence menawan. Sayang Hawkins kurang jago memanjakan pembaca. Kisahnya hanya menarik di tengah. Tak pintar menyimpan kejutan, ketebak. Susunan kalimatnya datar, dasar cerita pembunuhan seorang gadis lalu pusaran tersangka ada di sekitar sang tokoh sudah sangat lazim untuk sebuah kasus dan Gadis Di Kereta – seperti kereta api itu sendiri – terlalu nurut mengikuti rel yang ada.

Kisahnya diambil dari tiga sudut pandang karakter wanita. Dengan setting tahun 2013 di London. Bagaimana sebuah tindakan kriminal terjadi dari pengamatan seorang gadis dalam laju kereta api  dari Ashbury ke Euston. Pertama, Rachel adalah gadis kantoran yang alkoholik. Seorang janda yang bermasalah dengan psikologi, yang setiap paginya berkereta dari apartemennya ke tempat kerja. Dari perjalanan kereta itu dia mengamati kehidupan masyarakat dalam beraktivitas. Kedua Anna, yang yang menikahi mantan suami Rachel yang kini memiliki bayi. Ketiga adalah Megan, wanita yang hidupnya terlihat sempurna namun ternyata rapuh dan bermasalah.
Salah satu kehidupan yang diamati dalam deru kereta dan membuat iri Rachel adalah kehidupan keluarga kecil bak potret impian. Memberi nama imagi Jess dan Jason pada mereka. Namun kesempurnaan yang dilihatnya dalam rutinias itu lenyap. Suatu hari muncul berita Jess menghilang (wuih langsung deh terbesit Gone Girl-nya Pike), dalam penyelidikan Jess ditemukan tewas di hutan.

Jess adalah Megan, kisah dari sudut pandangnya tentu saja tak sesempurna yang dilihat Rachel. Megan adalah seorang istri dengan banyak rahasia. Flash back masa lalunya cukup inten dikisahkan – justru yang menarik malah kisah ini, mengingatkanku pada novel-novel Sidney yang pintar bertutur riwayat seseorang. Ia hanya tampak bahagia padahal sungguh pilu. Beberapa keputusan yang diambilnya tampak tak logis – kalau ga mau dibilang konyol –  hingga akhirnya mayatnya ditemukan.

Anna, lebih tampak konyol lagi. Tahu suaminya bobrok namun cuek. Bagaimana bisa seorang istri yang tahu suaminya tukang selingkuh tapi membiarkannya? Sebagai wanita perebut suami orang, bisa jadi dirinya menempatkan diri sebagai istri yang terluka karena memang hidup ‘kan berputar, namun banyak tindakkan di novel ini terbaca tak nalar.

Jadi siapa sesungguhnya pembunuh Megan? Scott, suaminya? Tom, suami Anna? Kamal, dokter sekaligus selingkuhannya? Rachel, sang alkoholik? Atau bahkan mungkin Megan sendiri yang mengakhiri hidupnya karena beban nafas yang tak tertanggung? Saya jamin kalian bisa menebaknya, bahkan saat kereta ini melaju di rel belum separuh jalan!

Saya kasih bocoran sedikit, Rachel yang pemabok beberapa kali mengalami amnesia. Block out. Saat hari tewasnya Megan ia ternyata tersangkut langsung di TKP. Bocorannya sudah di awal-awal kisah di halaman 90: “Jadi ini kedengaran konyol, tapi bukannya mustahil. Dan, ketika tiba di rumah semalam, aku telah menyakinkan sendiri bahwa entah bagaimana, Aku terlibat dalam peristiwa hilangnya Megan.” Bukan barang baru ‘kan seorang hilang ingatan sepintas jadi kunci? Klu tambahan, Rachel tiap pagi berkereta itu bukan berangkat kerja, hanya pura-pura karena takut teman sekamarnya tahu dia sedang dalam masalah. Klu lainnya, ini kisah tentang orang-orang selingkuh. Saling silang yang rumit, yang entah bagaimana gambaran nantinya di dalam film. Seberapa vulgar? Nah poin pentingnya, kalau Anna, Tom, dan Megan dkk tukang selingkuh tinggal ditarik garis aja hingga ketemu deh benang merah kasus utama yang ditawarkan novel ini. Sederhana, tak mengecoh.

Sempat berharap seperti kisah Gone Girl yang misterius dan tensi terjaga, sayangnya tidak. Kisah sang Gadis terlalu simpel, pusarannya kurang jauh, hanya berkutat itu-itu dari awal sampai 400 halaman lebih, bisa menyelesaikan baca sudah sebuah prestasi. Potensi tersangka mudah sekali ditebak, jelas buku ini beruntung bisa nangkring dalam best seller New York Times secara instan – 13 Minggu di puncak. Lebih beruntung lagi DreamWorks studio bergegas mengadaptasinya dengan bintang Emily Blunt dan Luke Evans.

Dibanding cerita menguak misteri pembunuhan lainnya, yang sederhana saja macam kisah komik kelas SD sekalipun cerita yang disodorkan Hawkins terlalu lembut. Maka komentar Stephen King di sampul: “Membuatku tak bisa tidur hampir sepanjang malam.” Itu terlampau berlebihan. Namun tak apalah namanya juga endorm untuk menarik Pembaca. Lagian buku-buku King mayoritas soft-thrilling (so sorry for fan King) dalam memberi tekanan, jadi kisah biasa ini bisa membuatnya ketakutan ya wajar.

Kutipan-kutipan

Perempuan masih benar-benar dihargai untuk dua hal saja – tampang mereka dan peran mereka sebagai ibu. Aku tidak cantik dan aku tidak bisa punya anak, jadi apa yang tersisa untukku? Aku tidak berguna. – halaman 105
Orang tua tidak memperdulikan apa pun kecuali anak-anak mereka. Merekalah pusat jagat raya; hanya merekalah yang benar-benar penting. Tak seoarng pun lainnya penting, penderitaan atau kebahagiaan orang lain tidak penting, tidak ada satupun yang nyata. – 106
Ingatlah bahwa terdapat beberapa kesamaan fisik antara Megan dan Mrs. Watson – 110
Riley menggeleng-gelengkan kepala, mungkin tidak percaya atau merasa takjub. Bagaimana mungkin seseorang bisa terpuruk sebegitu dalamnya? – 111
Itu salah satu hal yang dicintai Tom dariku. Katanya: kekeraskepalaanku, kekuatanku. – 119
“Aku mencintaimu Megs,” gumamnya, aku lalu merasa tak enak, seperti orang terjahat di dunia. Aku tidak sabar menunggunya menutup pintu, karena aku tahu aku akan menangis. – 125
Ketika aku bercermin pagi ini, aku bisa melihat perbedaan di wajahku; kulitku lebih bersih, mataku lebih cemerlang, aku merasa lebih ringan. Aku yakin bobotku sebenarnya tidak turun sekilopun, tapi aku merasa terbebani. Aku merasa menyukai diriku sendiri, diriku sendiri yang dulu. – 126
Aku mengangkat bahu. “Pada pagi hari aku naik kereta api pukul 8:04 dan pada malam hari aku pulang dengan kereta pukul 17:56. Itulah keretaku. Itulah yang kunaiki. Begitulah.” – 208
Pasti dibutuhkan pengendalian diri yang paling luar biasa, keheningan itu, kepasifan itu; itu pasti melelahkan. – 221
Aku sudah cukup dekat untuk menyentuhnya, aku tahu seperti apa dia dan dia bukanlah pembunuh. – 249
Triknya adalah menipu diri sendiri dengan berfikir bahwa kau sedang menuju ke suatu tempat: pilih saja sebuah tempat dan berangkatlah ke sana. Aku memilih gereja di ujung Pleasance Road, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari flat Cathy. – 258
Tapi, siapa yang melakukan apa yang dilakukan semalam? Siapa yang meniduri perempuan asing di ranjang perkawinan, padahal istrinya baru tewas kurang dari seblun yang lalu? – 290
Hal-hal yang dikatakan Tom kepadaku di dalam mobil, bersampur dengan perasaan bersalah mengenai apa yang terjadi pada Scott semalam: mimpi hanyalah benak yang sedang memunguti semua yang tercecer. – 301
Aku sangat menyadari bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada membesarkan anak. Tapi yang menjadi masalah pekerjaan itu tidak dinilai. – 310
Menjadi kekasih gelap sangatlah menggairahkan, tidak ada gunanya menyangkal hal ini; kaulah yang membuat lelaki itu tidak berdaya sehingga menghianati istrinya, walaupun ia mencintai istrinya. Sebesar itulah daya tarikmu tak tertahankan. – 311
“Aku pembohong yang baik.” – 319
“Ibuku berupaya membuatku mengundang mereka kemari,” katanya, “hanya agar bisa menolaknya. Permainan kekuatan.” – 321
“Aku baik-baik saja, masuklah, masuklah.” Aku tidak mau, tapi aku masuk. – 326
Anak kecil, remaja pemberontak, anak yang kabur dari rumah, pelacur, kekasih, ibu yang buruk, istri yang buruk. Aku tidak yakin apakah aku bisa membuat ulang diriku menjadi istri yang baik, tapi aku harus berupaya menjadi ibu yang baik. – 379
Biasanya dia melompati anak-anak tangga itu, tapi hari ini dia adalah lelaki yang yang sedang menuju taing gantungan. Aku hanya tak tahu apakah dia adalah si terhukum ataukah si algojo. – 383
Aku bangkit berdiri dan berjalan mengelilingi taman satu kali. Aku setengah berharap ponsel berdering dan setengah khawatir ponsel akan berdering, tapi pada akhirnya aku tetap senang benda itu tetap membisu. – 388
Dan esok aku harus bangun pagi-lagi sekali untuk mengejar kereta. – 428

The Girl On The Train | by Paula Hawkins | terbitan Doubleday, Random House Group Company | copyright 2015 | Penerjemah Ingrid Nimpoeno | Penyunting Rina Wulandari | Penata aksara Axin | Perancang sampul Wida Sartika | Cetakan IV, November 2015 | ISBN 978-602-0989-97-6 | Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika) | untuk Kate | Skor: 2,5/5

Karawang, 210117 – Angela – I’m Like a Bird
*) file filmnya sudah siap kutonton, oke semenarik apa kisah Rachel dalam laju kereta ini? Mari kisah lihat. Malam Minggu nanti?

Iklan

One thought on “The Girl On The Train – Paula Hawkins

  1. wah berarti harus nonton filmnya mas, beberapa hari lalu saya nonton filmnya. belum baca bukunya, sempat berpikir kayaknya kalau di bukunya pasti tokohnya gampang ketebak, eh baca ulasan di atas ternyata bener yah hehe. soalnya di film agak2 susah nebak tokohnya, tapi sedikit menduga2 seputar tokoh2ny itu. dibuku kelihatannya lebih rinci cluenya, beda sama di film.

    kalau saya sih, filmnya lumayan juga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s