If Tomorrow Comes – Sidney Sheldon #9

image

Ia akan membalas dendam. Pada mereka satu per satu. Ia belum punya gambaran bagaimana caranya. Tapi ia tahu ia harus bisa membalas dendam. Esok, pikirnya. Bisa esok tiba.

Jangan terkecoh sama judul yang seakan sebuah novel roman. Judul itu menipu, karena isinya bukan buku motivasi, bulan kumpulan puisi, bukan pula kisah percintaan remaja. Inilah buku terbaik Sidney dari semua yang sudah kubaca – sejauh ini sudah 15 buku. Ceritanya panjang sekali, metafora seorang gadis dari seorang lugu menjadi keras, teguh dan sangat hebat, namun tetap seksi. Bukunya sangat tebal, padat. Hebatnya bisa menjaga konsistensi untuk terus membuat pembaca terpaku. Apalagi bagian pembuka yang langsung pada masalah besar dan ditutup dengan ungkapan wow. Tensi dijaga terus, sampai pada akhirnya kita disuguhi ending menggila.

Di New Orleans, Kamis 20 Februari jam 11:00, Doris Whitney menelepon anak gadisnya Tracy Whitney. Menanyakan kabar, membicarakan cuaca, dan rencana pernikahan Tracy dengan Charles. Namun Doris tahu, ia tak kan bertemu Charles, ia tak akan menimang cucu dan saat guntur kembali terdengar, ia maerasa waktunya telah tiba. Setelah mengungkapkan kalimat perpisahan, “Mama amat sangat menyayangimu Tracy.” Doris mengambil pistol, menempelkan ujungnya di dahi dan dengan cepat menarik pelatuknya.

Wow kan. Sebuah pembuka cerita yang bagus, khas film-film thrilling yang memberi banyak harap para penikmat fiksi. Esoknya di belahan dunia lain di Philadelphia, Tracy amat bahagia, akan menikah dengan pria yang dicinta, akan memiliki anak darinya. Apa lagi yang diinginkan seorang wanita selain hal itu? Ia bekerja di bank, berkenalan dengan Charles Stanhope III di acara Simposium Keuangan dimana ia menjadi pembicara tamu dan berbantah dengan Tracy, acara berikutnya mereka makan malam dan terjadilah kencan. Charles yang dari keluarga kaya, Tracy seorang yatim keluarga biasa. Namun waktu merajut cinta, kini ia mengandung anak Cahrles. Saat isu rencana pernikahan sampai pada Desmond, atasannya, ia dijanjikan promosi dan kenaikan gaji pasca bulan madu. Dunia seakan sedang tersenyum padanya. Namun hari itu segalanya runtuh dalam sekejap. Malam itu dia mendapat panggilan telepon dari kepolisian yang memberi kabar kematian ibunya. Sebuah kenyataan hitam. Bagaikan mimpi tengah malam, tapi ini telah terjadi. Ia membisu seribu bahasa, lidahnya terasa kelu. Dan ia akan pulang segera pada penerbangan pertama keesokan harinya.

Ketika akhirnya Tracy membaca surat perpisahan ibunya ia terpaku, sedih. Pulang dari kantor polisi ia lebih terkejut lagi. Rumah masa kecilnya di halaman depannya terpancang tulisan besar, ‘Dijual, New Orleans Realty Company’. Rumah itu tiap sudut ruang telah dikosongkan. Tracy tak tahu apa yang sebenarnya mendorong ibunya bunuh diri, jawaban itu baru didapatkan dari Otto Schmidt, tetangganya. Otto bercerita tentang Joe Romano, seorang jahat yang berkopatriot bisnis dengan ibunya. Perusahaan kecil keluarga mereka diambil-alih lalu dirusak yang mengakibatkan Doris menanggung utang setengah juta Dollar, semua aset pribadi disita dan mendapat dakwaan penipuan dari pengadilan. Segala cerita buruk itu membuat Tracy marah besar. Apalagi Joe adalah tangan kanan Anthony Orsatti, sang pengendali kota New Orleans. Ada dendam kesumat di dada Tracy, Joe Romano harus menanggung akibat perbuatannya pada Mama, ia bersumpah pada diri sendiri.

Lalu Tracy menyusun rencana balas dendam, setelah membayar hotel kecil di Magazine Street, ia menghubungi Desmond bahwa dia tak bisa masuk kerja beberapa hari. Lalu menghubungi Charles, memberitahu kabar kematian ibunya dan akan memakamkannya besok. Saat senja ia berjalan ke Canal Street dan terlintas pemikiran balas dendam itu lagi, ia bertemu pemuda berwajah pucat mengenakan pelindung mata model kuno berwarna hijau di sebuah rumah gadai. Ia membeli senjata api. Seumur hidup ia belum pernah pegang senjata pai, maka saat ia memegang kaliber tiga puluh dua merk Smith and Wesson, ada rasa gugup. Bayangan ia akan menodongkan senjata pada Joe adalah kejahatan, namun dialah penjahatnya. Saat mengisi formulir identitas Tracy memberi nama palsu Joan Smith.

Malamnya Trcacy memberanikan diri ke rumah Joseph Romano, seorang diri. Setelah basa-basi yang singkat ia langsung menodongkan pistol ke Joe dan memintanya mengakui kejahatannya. Sempat terkejut, namun dunia hitam yang lama digelutinya memberi insting melawan di situasi mendesak. Dan apalah arti Tracy, gadis nekad yang tak pernah berantem ini. Dengan mudah Tracy dilumpuhkan, namun dalam perlawanan itu justru Joe yang tak sengaja tertembak. Tracy panik karena memang bukan pembunuhan yang ada di rencananya. Segera ia telpon ambulan dan bergegas kabur. Dalam keadaan gugup secepatnya ia ke bandara untuk kembali ke Philidelphia, namun tak dinyana dia ditahan polisi saat itu juga.

Di kantor polisi Algiers District, sebuah bangunan muram dan mencerminkan keputusasaan Tracy ditahan. Esoknya barulah ia tahu Joe tak tewas, namun hanya terluka. Pengacara distrik, Ed Topper lalu menjelaskan detail ngawur bahwa Tracy memasuki rumah Joe untuk mengambil lukisan karya Renoir seharga setengah juta Dollar dan terjadi baku tembak. Pengacara pengadilan yang ditunjuk untuk membelanya adalah Perry Pope, dalam diskusi yang meyakinkan bahwa ia di pihak Tracy dunia semakin membingungkan. Bagaimana rencana Joe yang merasa kehilangan lukisan berasuransi sehingga bisa menuntut uang. Tracy yang pening ikut saja saran Pope untuk mengikuti hakim yang katanya tak bisa disuap Orsatti, hakim Henry Lawrence – nama ini ada link ke novel Sidney lainnya dalam ‘Malaikat Keadilan’. Dalam perkembangannya, sang pembela justru meminta Tracy mengaku kejahatan agar terhindar dari sidang pengadilan yang pasti dimenangkan Joe. Tracy diminta mengakui kejahatan agar hanya dipenjara tiga bulan, karena kalau disidangkan dengan kasus perampokan disertai kasus kekerasan bisa sepuluh tahun.

Terdengar masuk akal. Namun segalanya hancur lebur. Karena pengakuan bersalah itu justru menyeretnya dalam palu lima belas tahun penjara. Konspirasi pengadilan itu membuat runyam keadaan. Charles yang akhirnya bisa dihubungi justru menambah beban, memutuskan hubungan. Kejahatan Tracy masuk di koran New Orleans Courier dan jadi headline Philadelphia Daily News – menjadi noda calon keuarga Stanhope. Akhirnya ia dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Wanita Lousiana Selatan. Inilah neraka. Di penjara itulah ia belajar arti kerasnya kehidupan.
Ia ditempa keadaan. Serba terbatas. Keras, kejam, dan tak bermoral. Benar-benar di titik terendah dalam hidup seseorang. Padahal sebelumnya ia punya janji dengan masa depan gemilang, kini segalanya runtuh. Dalam sekejap, segalanya hilang. Rutinitas penjara membuatnya tahu seluk beluk kejahatan, cara para kriminal melakukan aksi dan berkenalan dengan dunia hitam. Ucapkan selamat tinggal untuk Tracy yang lembut dan lugu, kini ia adalah bagian sampah masyarakat. Masa membuatnya merencana kabur untuk membalas dendam. Bagian pertama buku ini ditutup rencana kabur dari penjara yang gagal karena dalam keadaan darurat ada tindakan refleknya, bahwa Tracy memang sudah tak lugu namun ia tetaplah wanita baik serta bukanlah seorang yang egois.

Perencanaan kabur dari penjara yang dikira berantakan itu ternyata tak seamburadul yang dikira. Bagian dua novel ini lalu mengajak kita mengarungi cara membalas dendam yang cerdik. Tracy bisa keluar penjara dan menyusun langkah-langkah dendam. Saat akhirnya segala kesumat itu tuntas, ia tetap merasa hampa. Mama-nya tak bisa kembali. Jati dirinya di dunia hitam mulai diperhitungan, dan ia memilih untuk memulai hidup baru di seberang, di benua biru Eropa.

Nah, kalau novel biasa, biasanya setelah eksekusi ending yang brilian semua mereda dan segera menutupnya. Namun tidak untuk Bila Esok, setelah bagian penyelesaian kasus utama Sidney malah mengajak Pembaca menaiki tensi lagi. Kini konflik di bangun di seberang laut. Tracy yang baru, yang kini sudah ahli menyamar, ahli mencuri memperdalam lagi ilmunya. Di perjalanan kapal ke Eropa berkenalan dengan Jeff Stevens, mengalahkan duo pecatur dunia, merangkai kejahatan diluar nalar. Walau kisah nantinya merajut mereka jadi partner in crime, awalnya Tracy tak tertarik pada Jeff karena pengalamannya bersama Charles yang pahit. Namun ternyata Jeff sama luar biasanya di dunia curi mencuri. Perfect soulmate. Jadilah mereka mengelana dalam satu perampokan ke perampokan yang lain. Dari berlian meah, lukisan legendaris, sampai benda-benda bersejarah yang rasanya mustahil diembat. Semakin sulit semakin menantang semakin seru. Lalu ada karakter unik lainnya, seorang detektif nyeleneh yang punya masa lalu kelam Daniel Cooper. Si cerdik yang terobsesi pada Tracy. Di awal buku ia menjelaskan dengan tepat bahwa Tracy tak mencuri lukisan di rumah Joe, Tracy adalah seorang korban. Namun seperti yang saya sampaikan, Tracy bertransformasi sehingga saat menjelang akhir dia bilan Tracy-lah pencuri yang menggegerkan Eropa banyak orang bilang dia gila. Jati diri Cooper menarik sekali, apalagi sub-plot kehidupannya disajikan dengan kejutan jua.

Puncak dari segalanya partner in crime ingin mengalahkan orang terkaya dunia Maximilian Pierpont. Seorang bilyuner yang suka kuda lamban dan wanita pemberani, orang pemboros kelas wahid di zaman ini. Sembari menuju puncak kejahatan, berhasilkah mereka menaklukkannya?

Brengseknya novel ini adalah ending superb yang menggantung. Saya membayangkan saat diadaptasi ke layar lebar, tatapan Tracy yang wow dengan skoring menghentak. Jelas ini novel yang istimewa. Sidney mengajarkan bagaimana hidup ini setipis ari saat menuntun nasib. Orang yang terpuruk seterpuruk-puruknya bisa akan ada di puncak lagi. Begitu pula sebaliknya. Novel dengan tensi tinggi seperti ini jelas ditulis dengan kejelian, ketelitian dan hati yang lapang. Sebuah legacy Sidney untuk dunia literasi dunia. Kalau ditanya judul apa yang paling rekomendasi dari Sidney maka buku ini ada di urutan teratas.

Jadi apa yang selanjutnya terjadi setelah Tracy duduk di nomor 4B di penerbangan Pan American 747 yang mewah itu? Hahaha.. biarkan imajinasimu berlari kencang Laz!

Bila Esok Tiba | By Sidney Sheldon | Diterjemahkan dari If Tomorrow Comes | copyright 1991 by Sheldon Literary Trust | Alih bahasa Irina Mildawani Susetyo | GM 402 96.474 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kesebelas, Desember 2001 | 704 hlm; 18 cm | ISBN: 979-605-474-4 | Skor: 5/5

#9/14 #SidneySheldon, ditulis di Sabtu pagi dini hari cerah Che 1-2 Liv, terbengkelai 4 bulan lalu dilanjutkan di pertengahn bulan Januari 2017 – Next review: Pagi, Siang, Malam.

Ruang HR NICI – Karawang, 180117 – Sheila On 7 – Terlalu singkat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s