The Hunger Games – Suzanne Collins

image

Aku menyebut Gale sebagai temanku, tapi dalam setahun terakhir kata itu tampak begitu encer untuk menggambarkan arti Gale bagiku. Secercah kerinduan menembus dadaku. Seandainya dia ada di sini sekarang! Tapi tentu saja aku tidak mau dia ada di sini. Aku tidak mau dia berada di area di mana dia bisa tewas beberapa hari lagi. Aku hanya… aku hanya kangen padanya. Aku benci merasa sendirian. Apakah dia juga kangen padaku? Pastinya.

Filmnya sudah selesai diadaptasi. Jadi 4 bagian. Saya, begitu selesai menonton yang pertama langsung memutuskan stop. Saya harus baca bukunya terlebih dulu karena terpesona aksi Jennifer Lawrence. Kesempatan menikmati tiap lembarnya kesampaian ketika teman kerja, Widy S meminjamkan langsung 3 buku. Saya nikmati satu buku lalu review biar fair, jadi posisi saat ini saya baru akan menuju Catching Fire. Dan The Hunger Games dapat kehormatan sebagai catatan pembuka tahun 2017 (tebak bola tak kuhitung – dan sebenarnya draft sudah kubuat di tanggal 2), tahun yang saya prediksi akan semakin kencang dalam melahap buku karena saya canangkan harus menyusun 100 novel terbaik.

Dalam satu dekade terakhir, banyak buku bagus rilis. Namun tak banyak yang istimewa. The Hunger Games adalah sedikit itu. Berbekal satu film yang sudah saya tonton, buku ini jadi begitu jelas dalam gambaran di pikiran. Karena setiap adegan sudah ada bayang maka saya hanya menggelindingkan bola saljunya. Beberapa kejutan tentu saja sudah kutahui, namun tetap ini buku istimewa.

Kisah dipecah dalam 3 bagian utama. Para Peserta, Pertarungan dan Sang Pemenang. Tiap bagian terdiri dari beberapa bab di mana plotnya akan maju terus, hanya sesekali mengingatkan kenangan namun tetap plot utama bergerak lurus. Dengan sudut pandang orang pertama, seorang gadis pemberani yang mandiri Katniss Everdeen yang harus bertahan hidup – membunuh atau dibunuh – dalam arena maut 24 remaja, karena hanya ada satu yang bisa keluar hidup-hidup sebagai pemenang. Ide ini tentu saja ga original, karena film Jepang Battle Royale mempunyai susunan kisah yang mirip.

Setting-nya Amerika Utara di masa depan yang sudah musnah. Daerah itu kini bernama negara Panem beribukota Capitol dengan 12 distrik. Katniss – diambil dari nama tanaman katniss, penjelasan detailnya ada di tengah cerita –  ada di distrik 12, distrik termiskin hingga disebut Seam, hidup yatim bersama ibunya yang hampa dan adiknya yang manis Primrose Everdeen – diambil dari nama bunga primrose. Distrik ini dikenal sebagai penghasil batu bara, dengan simbol api. Melingkupi daerah ini adalah rangkaian pagar besi tinggi yang puncaknya dililit kawat beduri. Normalnya pagar ini dialiri listrik untuk mencegah binatang liar masuk, namun karena pasokan listrik untuk kebutuhan saja byar-pet maka itu hanya teori. Di luar pagar ada hutan, nah Katniss bersama temannya Gale sering berburu di sana. Walau terlarang, mereka nekad demi kebutuhan hidup.

Dulu pernah terjadi pemberontakan yang gagal di Capitol, untuk menghukumnya setiap distrik mengirim satu remaja perempuan dan satu remaja lelaki untuk dimasukkan arena The Hunger Games. Cara pemilihannya terbilang unik, permainan persentase makin tinggi ketika usia makin matang. Usia minimal 12 tahun, kertas undian satu. Usia 13 akan ada dua namamu, begitu seterusnya sampai berusia 18 tahun. Namun dalam prakteknya, namamu bisa lebih banyak dalam undian bila ingin tessera, berisi minyak dan gandum untuk persedian makan setahun. Aturan yang unik.

Dalam 74 tahun distrik 12 hanya pernah menang 2 kali, yang masih hidup sampai sekarang adalah Haymitch Abernathy yang nantinya jadi pembimbing. Nah ketika Katniss memikirkan dengan khawatir 42 kertas dalam undian peserta bernama Gale dirinya dikejutkan satu nama dalam satu kertas, undian itu memunculkan nama adiknya.

Nama Prim hanya ada satu diantara ribuan, probabilitas terpilih sangat kecil. Namun hitungan ilmu kemungkinan itu sudah tak penting karena nama adiknyalah yang terambil oleh sang MC Effie Trinket. Saat perputaran dunia segalanya seakan terhenti, Katniss mengajukan diri. Adegan ini sempat membuatku menitikkan air mata. Bagaimana pengorbanan seorang kakak kepada adik memang tak terhitung. Sementara nama peserta laki-laki yang bergabung adalah Peeta Mellark. Sekalipun belum pernah bicara langsung denganya, nama ini memang bukan asing lagi buat Katniss karena ada link historinya. Jadilah pasangan Katniss-Peeta mewakili distrik 12.
Saat pelatihan bersama Haymitch, pembaca diajak lebih jauh mengenal aturan main. Bahwa setiap orang punya skor untuk menarik minat sponsor. Sponsor inilah yang nantinya memberi bantuan di arena dengan menerjunkan benda-benda yang dibutuhkan. Dalam pamer ketangkasasn diluarduga, skor Katniss tinggi karena kemahirannya dalam memanah sangat penting. Tempaan hidup berburu dengan Gale berguna sekali.

Ada kejutan manis di sesi terakhir wawancara para peserta sebelum diterjunkan. Saat Peeta menyatakan cinta live di depan semua penonton.

“Anak muda tampan sepertimu. Pasti ada gadis istimewa di hatimu, ayolah siapa dia.” Tanya Cesar | “Sebenarnya ada seorang gadis aku naksir dia entah sejak kapan. Tapi aku yakin ia tak sadar aku hidup sampai hari pemungutan.” Terdengar suara simpati dari penonton. Cinta tak kesampaian yang mereka pahami. | “Apa dia punya pacar?” | “Aku tidak tahu, tapi banyak anak lelaki lain yang menyukainya.” Jawab Peeta. | “Begini saja, kau menangkan Hunger Games ini, lalu pulang. Dia pasti tidak bisa menolakmu ‘kan?” | “Kurasa cara itu tak akan berhasil, menang sama sekali tidak membantuku..” | “ Kenapa tidak?” tanya Cesar | Wajah Peeta bersemu merah dan tergagap dia berkata, “Karena… karena… dia datang kemari bersamaku.” – halaman 146

Sebuah penutup bagian pertama yang sangat bagus. Mengajak pembaca simpati dan terhanyut dalam kegalauan hati Katniss. Saat hari pertandingan, dimana semua peserta ditaruh dalam arena bersamaan, di tengah arena ada Cornucopia berisi peralatan perang dari kapak, busur, pisau, obat-obatan sampai tombak. Segala peralatan itu nantinya diperebutkan, saat terompet terdengar. Yang cari aman kabur langsung ke hutan, yang bernyali maju mempertaruhkan nyawa. Dan saat pertarungan dimulai, Katniss mengincar sebuah tas yang terdekat sebelum kabur sejauh mungkin. Pertandingan pembuka dibuat dramatis, hari pertama itu 11 peserta tewas. Dan Katniss selamat, dengan ilmu bertahan hidupnya di hutan dirinya mencoba selama mungkin hidup – dan sedapat mungkin memanah musuh-musuhnya. Akhirnya, berhasilkah ia memenangkan The Hunger Games ini? Simpati untuk Rue.

Well, sejujurnya bukan itu pertanyaan utamanya karena buku ini ada tiga, jelas Katniss berhasil keluar arena dengan sukses. Pertanyaannya sejati saya memutsukan baca buku ini adalah, seberapa bagus Mrs Collins menyajikan kisah ini? Dan syukurlah pilihan itu bijak karena saya puas. Sungguh keren, cerita young adult dengan segala bumbu cinta ini berhasil membuatku terus memegang buku. Sempat dibanding-bandingkan dengan trilogi Divergent, ternyata tempo dan plot The Hunger Games lebih tinggi. Saya suka buku dan film Divergent namun kisah dalam buku ini ternyata jauh lebih luar biasa, lebih nyaman dan disusun dengan memikat. Daya pikat tiap kalimatnya sukses menghipnotis.

Kalau ada buku terbitan 2000an yang luar biasa, jelas buku ini wajib disertakan. Tak sabar rasanya segera melahap ‘menangkap api!’

The Hunger Games | by Suzanne Collins | copyright 2008 | alih bahasa Hetih Rusil | GM 322 01 09.0012 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketujuh, Mei 2012 | 408 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-5075-6 | Untuk James Proimos | Skor: 5/5

Karawang, 020117 – Emeli Sande – Read all about it (ft Ill)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s