Whiplash: Just My Tempo

image

image

image

Terence Fletcher: I never really had a Charlie Parker. But I tried. I actually fucking tried. And that’s more than most people ever do.

Di ending Spider-Man 3 ketika manusia laba-laba sedang berantem segitiga sama Sandman dan New Goblin di langit kota New York, seorang anak dalam kerumunan penonton memotret momen. Lalu Jonah Jameson sebagai kepala redaksi Daily-Bugle yang butuh gambar-gambarnya membeli kamera sang anak, tahu situasi menguntungkan ia menjualnya mahal. Karena urgent, tentu saja tetap dibeli. Dan jepreeet, jepreet, jepret…! Zonk. Kalau kalian bersimpati sama Jonah, hilangkan rasa itu saat nonton film ini. Tapi kalau kalian bertepuk tangan karena memang dia adalah orang menyebalkan, pelit, banyak omong dan bos yang mengerikan sehingga kalian senang sekali beliau kena getahnya, saya jamin tepuk tangan kalian akan lebih keras, lebih semangat kala menikmati film ini. Bonus, mungkin kalian akan berteriak-teriak geje, menari ga jelas sambil mengepalkan kedua tangan ke atas saking puasnya.

Seorang drummer muda punya mimpi untuk bisa seperti idolanya Buddy Rich. Berlatih keras, sekeras kerasnya, sampai telapak tangannya lecet berdarah-darah. Ambisi menggebu itu dipertemukan dengan guru gila penuh caci maki, sadis dan tanpa kompromi. Motivator kelas kakap sekaligus mood-dropper yang tak segan melempar kursi kepada anak didiknya. Guru killer yang tak peduli segala nama binatang terucap saking geregetnya demi kepuasan telinga mencipta musik sempurna. Dan jadilah Whiplash. Film dengan plot luar biasa, bikin megap-megap penonton.

Amazing. Oscar 2015 sudah lama berlalu. Segelintir film yang belum sempat ketonton, dan Whiplash yang terselip itu ternyata benar-benar sangat memuaskan. Pantas saja JK Simmons menang best supporting actor. Menang mutlak. Harusnya adapted screenplay juga disikat mengingat susunan ceritanya dirajut dengan benang cinta dan ambisi berlebih sehingga penonton tak diperboleh menebak arah dengan tepat. Susunannya rapi dan terstruktur. Tensi terjaga. Sound andrenalin. Naskah superb itu menjadikan film musikal jadi thrilling. Setiap sesi latihan, semua penonton ikut deg-degan. Benda apalagi yang akan dilempar? Whiplash pantas mendapat puja-puji. Sundance Film Festival 2014 sampai mengganjarnya Grand Jury Prize dan Audience Award. Bukti kualitas yang bisa memuaskan juri dan penonton sekaligus. Sangat layak disejajarkan dengan film-film inspiratif sepanjang zaman. Cocok ditonton bareng sama bapak/ibu guru/mentor kalian, duduk bareng sambil makan popcorn. Film wajib buat para musisi. Film wajib buat penyuka musik, terutama jazz. Film wajib buat ingin main musik, terutama drummer. Film wajib buat lelaki lembek yang mudah patah hati. Film wajib buat para pejuang cinta. Film wajib buat kalian! There is so many excellent great things to say about Whiplash.

Film dibuka dengan iringan drum yang anggun. Tersebutlah Andrew Neiman (Miles Teller) memainkan stik bertalu yang temponya makin ngebeat. Tak disangkanya, sang guru Terence Fletcher (dimainkan dengan luar biasa oleh JK Simmons) memperhatikan. Merasa tertarik, double-time swing. Sampai terdengar pintu tertutup. Hufh, saat pintu kembali dibuka, ambil jaket. Ah pembuka yang absurb.

Film akan sering berkutat di Shaffer Conservator Music. Sebuah sekolah musik prestisius di New York, Amerika. Proses latihan sebelum tampil ala militer. Andrew Neiman hidup sama ayahnya Jim Neiman (Paul Reiser) setelah ditinggal ibunya saat kecil. Ayahnya seorang Penulis, guru sekolah. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan hangat, menonton film, makan malam, hubungan ayah-anak yang ideal. Sub-plot inipun sukses menjaga tensi. Karena hobi nontonnya, Andrew sampai dihafal sama penjual popcorn Nicole (Mellisa Benoist). Yang nantinya diajak jalan makan pizza, proses ngajak keluarnya lucu dan menyentuh, jadian, lalu putus karena obsesi jadi drummer-nya membumbung, takut mengecewakan tak ada waktu buat pacaran. Dalam eksekusi ending yang relevan dan upset, walau hanya vie telpon Nicole memberi gambaran dia memang cewek kebanyakan yang butuh perhatian, kepastian, dan cinta sesungguhnya. Ah, gadis pemanis cerita yang sukses mencuri hati.

Di kelas pemula tempat Andrew bermusik, tiba-tiba didatangi Fletcher dan meminta beberapa ketukan nada. Setelah coba sana-sini-gebuk-sana-tiup-sini-petik-sana-sini akhirnya sang guru memilih Andrew untuk ikut latihan band-nya besok pagi jam 6 di ruang B-16. Jangan terlambat! Ndilalah, dia kesiangan, God damn it! Tergesa lari bergegas ke studio bandsampai terjatuh di tangga dan sesampai di sana ternyata kosong. Bukan hanya dilatih bermusik, Andrew juga dilatih kesabaran. Dan ini baru permulaan. Dengan wajah kuyu dan ngantuk, dia menunggu tanpa beranjak dari kursi sampai akhirnya waktu menunjuk 9 kurang para pemain bermunculan. Dan saat jarum detik jam 9 menyentuh angka 12, gurunya pas masuk. Luar biasa, disiplin harga mati sampai ke detaknya!

Di hari pertama Andrew bergabung, penonton diajak lebih mengenal metode berlatih ala Fletcher. Bukan untuk murid memble. Ketika dia masuk kelas, semua murid tegak dan suasana sunyi. Mungkin lalat anggop-pun kedengaran. Seorang dirijen kelas wahid, semua nurut. Di hari itu, seorang pemain Horn, Elmer Fudd diminta keluar karena dirasa fals. Proses didepaknya pun sangat kasar. Terdengar kejam, namun efektif untuk meningkatkan performa.

Ketika Andrew diberi kesempatan duduk depan drum dan memainkannya, terdengar pujian ‘Buddy Rich di sini’ membuat Andrew tersenyum. Yah, itu tak lama karena setelahnya sebuah kursi melayang. WFT! Beneran kursi menuju wajahnya, yang andai tak menghindar pasti melukai. ‘Were you rushing or were you dragging?’. Andrew tak tahu, sampai ditabok – ala Mbah Iwan, founder BM (Bank Movie) – berkali-kali pula hingga ia menangis. Ok, Andrew berlatihlah lebih keras.

Ketika sampai rumah ia tertantang untuk serius berlatih menaklukkan lagu Whiplash sampai tangannya berdarah, diperban, berdarah lagi, perban lagi, mandi keringat, ngos-ngosan. Wahai para pejuang sukses, inikan jalan yang kalian lalui?! Bekerja keras pantang menyerah. Jalan untuk hebat memang tak waras dan bercucuran lelah.
Saat kompetisi band dimulai, Overbrook Jazz competition. Andrew yang bergabung sebagai pemain drum cadangan Carl Tanner (Nate Lang). Setelah set pertama selesai, sebuah ‘tragedi map’ terjadi. Map panduan drum Tanner hilang gara-gara Andrew menaruhnya sembarangan saat minum coke. Ketika set kedua lagu Whiplash akan dimulai Tanner yang tak bisa nge-drum tanpa panduan menyerah. Dan Andrew yang sudah berlatih lagu ini mengajukan diri. Dengan pola latihan sehebat ini, wajar Shaffer Conservatory menang.

Setelahnya Andrew jadi penggebuk drum inti, menyingkirkan Tanner. Menuju kompetisi berikutnya, latihan lebih keras dan menggila. Mengingatkanku pada film Full Metal Jacket yang gila itu. Untuk persaingan, Fletcher merekrut drummer baru Connolly. Dan ta-daa… setelah Andrew sukses menyingkirkan Tanner, Connolly sukses menyingkirkan Andrew. Are you serius? That shit? Pelatih/guru/konduktor-lah yang berhak menentukan tim. Dan Mourinho-pun ketawa ngakak. Hal ini bukannya membuat Andrew down, malah menciptanya monster latih sekeras baja. Darah makin banyak menetes. Perban makin tebal. Dan es batu pun disiapkan, bukan hanya untuk membekukan luka, namun juga kepala.

Suatu hari Fletcher memulai latihan dengan sendu. Diiringi musik jazz yang lembut ia bercerita bahwa pagi ini ada kabar duka. Mantan anak didiknya Sean Casey kemarin ditemukan meninggal dunia. Kenapa meninggalnya, disimpan nanti. Dalam penentuan drummer utama, terjadilah drama lewat tengah malam. Hanya untuk menemukan tempo yang pas. Semua anggota tim diminta keluar sampai ketemu temponya, ketiga pemain drum diuji sampai berjam-jam. Setelah pas, barulah latihan kembali dilanjut. Gila, latihan band sampai dini hari cuy! Saat kick-off Liga Champion. Mending ngopi depan tv.

Kompetisi berikutnya di lomba Dunellen film makin memuncak. Dalam perjalanan bus bocor. Cari taksi ga nemu. Sewa mobil, ngebut dalam ketergesaan eh stik ketinggalan di rental. Posisi waktu menipis demi turnamen, ia mencoba segala cara untuk datang tepat waktu. Dengan baju penuh darah dan tangan yang terluka Andrew tetap bersikukuh duduk dalam pentas. Dan segalanya menjadi kacau. Terpuruk. Jatuh. Terhempas ke dasar. Lemes. Andrew kini di titik nadir karirnya. Adakah kesempatan kedua?

Sungguh luar biasa. Tiap halaman naskahnya tak tertebak. Jelas ini adalah cerita personal sang sutradara muda Damien Chazelle yang juga menulis skenario. Berdasarkan pengalaman pribadi kala remaja saat dirinya belajar jazz yang katanya dalam persaingan sangat sengit, ia menulis kisahnya dengan bumbu dramatis dan sentuhan berlebih. Kerja keras yang patut diacungi jempol, setelah bertahun-tahun berjuang membuat film ini dengan budget terbatas, tahun 2013 ia membuat film pendek 18 menit-nya untuk cari sponsor. Dasar utama Whiplash ya ini. Setelah mendapat sokongan dana, film indie ini-pun dibuat dan setahun berselang rilis. Whiplash jelas lebih nampol ketimbang teriakan roll out Optimus Prime.

Miles Teller yang sedari remaja memang bisa main drum, bermain memukau. Aktor yang pertama kulihat di Divergent ini tampil all out. JK Simmons tentu saja bintang utama, karena piala best supporting actor adalah bukti. Pemarah, cerewet penuh makian persis seperti ketika jadi bos media-nya Spiderman. Benoist yang tampil sesekali-pun sangat pas. Sebagai Supergirl yang cute, memberi kesegaran diantara keringat pemain band yang frustasi.

Endingnya meledak. Benar-benar klimak. Setelah adrenalin dipicu bermenit-menit. Penonton kecele dengan penawaran plot. Seperti semangat Andrew yang naik turun, Chazelle sukses memainkan tempo. Mengaduk-aduk emosi membuat penonton sesak nafas. Mengingatkanku pada ending Little Miss Sunshine yang mengehentak panggung, Whiplash jelas membuat penonton bertepuk tangan. Bohong kalau kalian tak terhanyut alunan musiknya. Karena saya bukan penikmat jazz, tanpa sadar ikut mengangguk-anggukan kepala.

Film ini kembali membenarkan bahwa jalan untuk sukses memang berliku, penuh onak dan duri. Untuk mewujudkan mimpi seseorang harus berjuang jungkir balik. Andrew mungkin korban, tapi pada akhirnya korban yang mendapat applaus lho. Tak ada yang sia, segala perjuangannya terbayarkan. Anak didik Fletcher mungkin keluar band dengan amarah, namun percayalah setiap individu itu jadi hebat dalam bermusik di masa depan. Percayalah, andai diadu sama musisi lain tempaan Fletcher menjadikannya unggul. Selama kamu tak menyerah, peluang menyabet berlian selalu ada. Gali-gali-gali. Tak peduli selelah apa, tak peduli sefrustasi apa. Jangan menyerah dan ingat selalu Sherina.

There is no two words in the English language more harmful than ‘Good Job’. Sepakat? Yah, sedikit.

Tratak dung des! Well, saya jadi googling Charlie Parker. Dan ternyata dia adalah…

Whiplash | Year 2014 | Directed by Damien Chazelle | Screenplay Damien Chazelle | Cast Miles Teller, JK Simmons, Melissa Benoist, Paul Reiser, Austin Stowell, Nate Lang | Skor: 5/5

Karawang, 161216 – Train – Skyscraper

Iklan

One thought on “Whiplash: Just My Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s