Allied: A Game Of Love

image

image

image

image

image

image

Max Vatan: Come with me to London to be my wife

Keren. Seru. Saru. Superb. Dengan pesona Brad Pitt yang mancho dan Marion Cotillard yang seksi – dengan kecantikan natural yang begitu menggoda, sepanjang lebih dari 2 jam kita menyaksikan lika-liku kehidupan mata-mata di era Perang Dunia II yang menegangkan. Sekali lagi, saya menutup mata dan telinga terhadap film ini. Hanya segelintir yang kutahu, itupun tak lebih dari sekedar gosip perselingkuhan mereka. Kabar perceraian Pitt dan Jolie. Kabar karma Mr and Mr. Smith. Selebihnya tak tahu, sehingga saat film meledak di akhir kisah saya sangat puas, secara keseluruhan.

Karena ini film buatan Robert Zemeckis, film ke 18-nya, harapan tinggi wajar. Dari orang yang membuat kita terpukau lewat Forrest Gump, Back To The Future trilogy sampai Cast Away. Namun pengalaman terakhir The Walk yang biasa, harus dipertimbangkan. Kekuatan utama The Walk di visual, jadi karena saya menonton bukan di layar lebar, kenikmatan menonton tak didapat. Jadi, pastinya ketika nantinya kalian menikmati Allied di layar kecil, keseruannya-pun tak maksimal.

Film dengan meyakinkan dibuka dengan adegan sunyi di padang pasir Marocco Perancis, 1942. Seorang penerjun payung mendarat, tanpa banyak dialog Max Vatan (Brad Pitt) dijemput seorang sopir (Vincent Ebrahim). Dengan Bahasa Perancis yang fasih, sang sopir memberi sebuah cincin dan petunjuk bahwa ‘istri’-mu bergaun ungu. Kemudian sesampai di pesta, Max melihat sekeliling, mencari. Saat akhrinya matanya menemukan gambar burung dengan seorang wanita berbaju ungu di atas kursi, dirinya mendekat. Bersamaan sang wanita Marianne Beausejour (Marion Cotillard) menoleh, ada jeda beberapa detik, hingga mereka berdua tersenyum. Saling ‘klaim’ pasangan suami-istri. Dalam makan malam itupun, Max diperkenalkan.

Wah, bukan cara berkenalan yang lazim. Max diceritakan sebagai pekerja tambang fosfat, dia jarang pulang sampai para teman Marianne menganggapnya sebuah mitos. Sang istri diceritakan dari keluarga hedon, dengan gaya glamour era 1940an. Dalam sebuah adegan, mereka me-reka di Casablanca adalah rutinitas setelah bercinta sang suami ke atap rumah, bersantai. Karena mereka dibuat senyata mungkin sebagai pasutri maka beberapa terlihat menggoda. Yang paling diingat ya pas adegan makan siang. Udara Casablanca yang panas, kipas yang berputar tak cukup mendinginkan suasana, termasuk kepala. Marianne membuka kancing baju atas, dua. Max masih saja fokus makan, kipas masih berputar lalu kancing ketiga dilepas. Dan penonton pun kemudian berujar bersamaan, ‘yah…’

Sebenarnya mereka dalam misi. Max adalah mata-mata Inggris dari Kanada, Marianne mata-mata dari Perancis. Mereka bersatu untuk membunuh duta besar Jerman yang sedang di Casablanca. Untuk melakukannya, mereka berperan sebagai pasutri yang diundang dalam acara makan malam. Untuk mendapatkan undangan itu mereka bertemu dengan Hobar (August Diehl). Di adegan inipun dibuat dengan seru, Hobar hobi judi. Max pura-pura pekerja sibuk yang ga minat hura-hura, seorang yang suka poker. Untuk memuluskan cerita, tentu saja Max ‘ngalah’ sehingga dua undangan yang diincar itupun dengan mudah didapat.
Saat berlatih bersama. Kita tahu Marianne bukan sembarang mata-mata. Setelah Max melatih tembang kaleng dengan jitu, Marianne lebih solid lagi karena ketiga tembakan tepat sasaran, bonus ranting orang-orangan patah. Saat hari terakhir sebelum misi mereka menghabiskan hari di padang pasir, berdua memandang matahari. Lalu saat dalam mobil, badai datang. Dan ada nada nafsu serta kekhawatiran andai besok misi gagal, maka jadikanlah hari ini istimewa. Dengan iringan skor yang lembut, badai pasir mengelilingi mobil yang terkunci, adegan panas yang pastinya bikin panas Jolie tersaji. Disorot dengan kamera istimewa, view-nya berputar lalu menjauh.

Pelaksanaan misinya sendiri dibuat seru. Menanti ledakan tanda, menanti sambutan. Dan saat akhirnya tiba, meja digulingkan, rentetan tembak terjadi. Ketika target berhasil dibunuh. Mobil menjauh, mereka selamat, segalanya ternyata lebih mulus ketimbang yang dikira. Dalam deru mesin mobil menjauh Max berujar, ‘Ayo ikut aku ke London dan jadilah istriku.’

Singkatnya mereka akhirnya menikah. Bahwa perkawinan antar agen biasanya berjalan hancur, mereka cuek. Pernikahan yang romantis. Max bekerja sebagai penerbang di Pemerintahan Inggris di section V, Marianne jadi ibu rumah tangga yang terlihat baik. Setahun berselang mereka punya anak, proses kelahiran dibuat dengan sangat dramatis. Di antara dentuman bom, rentetan tembak, Anna terlahir. Perang Dunia Kedua memang sedang terjadi, tapi Max punya keluarga kecil yang bahagia.

Ketika Anna beranjak setahun, konflik sesungguhnya film ini disajikan. Max dipanggil bosnya, Frank Heslop (Jared Harris). Dalam sebuah ruangan sempit, Max terduduk dengan Frank berdiri tegap di belakangnya sementara di depannya seorang S.E.O Official – yang pasti pangkatnya lebih tinggi ketimbang Frank – menanyakan pertanyaan pedas. Sampai akhirnya keluar kalimat menyakitkan, Marriane yang kamu nikahi bukanlah Marianne yang sebenarnya, karena Marianne sudah tewas tahun 1941, ‘Kami percaya istrimu adalah seorang dobel agen!” WTF! Ekspresi Pitt dapat banget, kursi sampai terjungkir saking kagetnya. Ga mungkin, ga mungkin itu semua. Dari penjelasan singkat itu, Pemerintah tahu beberapa data rahasia bocor ke Jerman karena ada yang mengirim dari Inggris. Langsung deh saya teringat Turing Machine, Enigma-nya Benedict Cumberbach.

Untuk menguji kebenarannya, Pemerintah mencoba melempar umpan. Skenarionya. Malam, Max akan dapat telpon, tolong dicatat dalam kertas, bertingkahlah biasa. Biarkan Marianne melihat, lalu kita lihat akankan kode itu bisa sampai ke telinga musuh. Jika terbukti sebagai dobel agen, maka Max sendiri-lah yang berkewajiban membunuhnya. Atau kalau tidak, mereka berdua yang harus dibinasakan. Nah, keseruan Allied ada di sini. Proses membongkar fakta. Proses pembuktian yang sangat solid. Penonton diajak berspekulasi, diajak menebak dan terlibat. Benar-benar mengaduk emosi. Jadi benarkah Marianne seorang agen Jerman?

Dalam proses pembuktian siapa Marianne ada adegan yang sangat dramatis. Max dipaksa ke Perancis setelah sebelumnya mengirim seorang penerbang polos yang berakhir tewas, Max harus bertemu seorang tahanan yang kenal baik Marianne, lalu memperlihatkan sebuah foto pernikahannya dengan menyobek dua. Max menanyakan apakah itu foto Marianne, namun karena mabok dan meracau, bukan jawaban langsung yang diterima, tapi sebuah fakta bahwa Marianne mahir memainkan piano dan bersuara merdu. Eksekusi yang brilian hingga Pitt dipaksa melempar bom ke tank – hello Fury, karena ketika kita dihadapkan pada adegan pasutri ini di depan tuts piano untuk menguji jari Marianne, suasana  menjadi begitu menegangkan.

Bisa jadi, Allied adalah salah satu film terbaik 2016 yang kutonton di bioskop. Cerita, yang selalu kugadang-gadang adalah poin pertama dalam film, sukses menghipnotis. Ditunjang penampilan menawan pasangan Pitt-Marion, sungguh jadi drama Perang Dunia yang sempurna. Kapan lagi kita bisa melihat Pitt berdialog French – ala Quebec? Nama Vatan artinya adalah homeland dalam Bahasa Arab, penjabaran asal Max yang seorang Kanada-Perancis.

Oscar masih sangat jauh, namun ada tiga kategori yang wajib diantisipasi: pertama jelas tata busana yang meriah, kedua original screenplay yang sukses dan terakhir sinematografi. Semoga Allied bisa lantang Februari 2017 nanti.

Setting film adalah tahun 1942, saat payung terjun Pitt mendarat hingga tahun 1944, sesuai catatan surat Marianne. Masa itulah Nazi Berjaya, masa Perang Dunia Kedua. Tentu saja film Casablanca selalu disebut sebagai perbandingan. Pioneer drama Perang Dunia yang selalu dipakai acuan.

Satu hal yang saya sesalkan dari film ini adalah, saya menonton sendiri di Selasa sepi. Selalu. Ketika saya melihat film bagus, apalagi romantis saya selalu ingin melewatkannya dengan May. Susah memang mengajaknya duduk berdua menghabiskan waktu menatap layar. Susah memang menikah dengan pasangan yang tak sehobi. Benar-benar menyesal menyaksikan sendiri, sementara ada banyak adegan drama yang asyik didiskusikan dengan pasangan. Salah dua-nya adalah ketika Max kehilangan ‘gairah’ karena kepalanya pening, sehingga saat di rumah dia lupa tak mencium istrinya hingga Marianne berujar, ‘Hey, what happened to my kiss?’ dan kalimat cinta tanpa debat Marianne, ‘I love you with all my heart’.

Allied | Year 2016 | Directred by Robert Zemeckis | Screenplay Steven Knight | Cast Brad Pitt, Marion Cotillard, Camille Cottin, Jared Harris, Charlotte Hope, Marion Bailey | Skor: 4,5/5

Karawang, 051216 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s