Nebraska: Father And Son Journey – Wonderfull, Hilarious And Poignant Movie

image

image

image

image

image

image

image

David Grant: So, you told Sheriff you were walking to Nebraska? | Woody Grant: That’s right. To get my million dollars.

Film yang sempurna. Tentang kisah cinta kasih orang tua kepada anak dan sebaliknya. Dengan latar hitam putih kita diajak menelusuri perjalanan menempuh mimpi dari Billings, Montana ke Lincoln, Nebraska. Sebuah perjalanan religi penuh perenungan. Saya sudah tahu ini film bagus setelah masuk nominasi Oscar tahun 2014, dan baru berkesempatan menontonnya semalam.

Saya memang bukan penikmat film hitam-putih. Tak banyak film tak berwarna era milinea yang kutonton. Siti yang dipuja-puji banyak kritikus kurasa biasa. Anti-klimaks. The Good German yang dua minggu lalu kutonton bahkan melewati empat kali percobaan tonton dan sampai sekarang tak kelar! Sampai di disc dua, selalu ketiduran. Nebraska lain, sekali lihat langsung tuntas dan begitu menyentuh hati. Begitu bagus, sangat bagus. Lebih hebat ini ketimbang The Artist yang mengguncang Oscar.
Awalnya kukira bakal jadi film nostalgia seorang kakek tentang masa mudanya bersama teman-teman. Karena materi poster dan trailer memang mengarah ke sana. Duduk di kafe, minum alkohol. Ngobrol dengan teman lama. Menghabiskan masa tua dengan tenang. Well, salah besar. Ini kisah perjalanan religi ayah-anak yang ditulis dengan hati.

Setelah logo A Viacom company dengan tulisan Paramouth Release (bukan sembarangan logo, itu gambar dipakai di tahun 1950an), film langsung ke pokok masalah. Pembuka yang aneh, seorang kakek berjalan kaki terhuyun di pinggir jalan dengan jaket tebal. Lalu seorang polisi menghentikan mobilnya menyapa, menanyakan mau ke mana dan dari mana. Tanpa banyak jawab, sang kakek hanya menunjuk ke depan dan ke belakang. Layar menggelap muncul tulisan Paramouth Vintage di sisi kanan beserta jajarannya hingga judul Nebraska, lalu 6 cast utama di sisi kiri. Kemudian juru mudi film ini di tengah.

Layar kembali dibuka dengan adegan David Grant (Will Forte) di kantor polisi, diantar oleh petugas bertemu sang kakek tadi. Orang tua nyentrik, Woodrow ‘Woody’ T. Grant (dimainkan dengan brilain oleh Bruce Dern) mengklaim memenangkan uang satu juta Dollar. Dengan selembar kertas yang menyatakannya, ia berencana ke Nebraska. David tentu saja tak percaya, itu adalah tipuan tua agen marketing. Namun Woody bersikukuh, ia percaya dirinya berhak menjadi milyader.
Ketika sampai rumah, mereka disambut ibunya Kate Grant (dimainkan dengan absurb oleh Jane Squibb) berambut pirang. Seorang istri yang kolot, cerewet dan suka mengatur. Dia sudah memperingatkan dua kali Woody keluar rumah, dan betapa ia keras kepala. Ah orang tua, apa yang kau mau lakukan dengan sejuta Dollar? Beli truk baru dan sebuah kompresor? Kau kan tak boleh menyetir, ya akan kubuat SIM lagi. Haha, absurb. Namun di eksekusi ending jadi begitu menggugah, bahwa seorang tau dengan keinginan sederhana ternyata begitu bermakna.

David bekerja di sebuah toko Mid City Superstore, toko elektronika dan furniture. Hanya sepintas sih diperlihatkan, namun secara ga langsung adegan David melayani dua pelanggan itu seakan bilang, ‘betapa susahnya cari duit’. Di jam kerja itupun ia mendapat telpon untuk segera pulang, ayahnya lagi-lagi mau kabur dari rumah. Bertemu kakaknya yang berfikir lebih praktis, Ross Grant (Bob Odenkirk) seorang penyiar berita televisi yang lumayan sukses. Dialog singkat itu pun sebenarnya sarat makna, ‘betapa baginya karir lebih penting ketimbang mengurus orang tua’.

Saat berikutnya kita diperkenalkan keadaan David yang ternyata kurang bagus juga. Pacarnya Noel (Missy Doty) baru saja minta break. Noel datang membawa koper, dikiranya dia akan balik, oh tidak. Ia kembali hanya untuk mengembalikan barang-barang milik David. Dua tahun tinggal bersama, dan terputus. David dari gesture-nya memberitahu kita, ia sedang down ditinggal. Saat itupun ia kembali ditelpon ibunya, Woody kabur lagi. Hufh, betapa keukeh orang tua. Perkenalan-perkenalan ini kemudian mengantar penonton untuk memulai perjalanan panjang ke Nebraska.

Dengan lanskap jalan tol Amerika yang rapi, tanpa macet ditemani skoring lembut. Melewati Wyoming yang mengajak penonton ikut mendongak ke langit melihat cuaca. Saat di rest area, David isi bensin. Woody ga ada di dalam mobil, keluar minum beer. Berhenti sejenak di pinggir jalan untuk pipis, adegan ini asli Bruce Dern beneran pipis di pinggir jalan guna mendapatkan scene yang pas. Melewati South Dakota, lalu sampailah di daerah Rushmore. Dengan pahatan kepala empat orang terkenal itu. Malamnya mereka menginap di hotel, eh Woody berjalan dalam gelap hingga kesandung sehingga kepalanya sobek. Ketika di rumah sakit, kena jahit. Dan dari penjelasan dokter, Woody butuh istirahat. Debat panjang itu memutuskan mereka tak akan segera ke Lincoln akhir pekan, namun akan mampir ke Hawthorne. Awalnya Woody menolak, David gigih kita harus ke sana. Ma dan Ross akan ikut datang, saudara-saudara jauh bahkan sudah berencana ngumpul di Minggu pagi jadi bijaknya jadi ajang reuni keluarga. Mampir ke rumah bibi Martha. Ke tempat Woody dibesarkan.

Setelah pencarian gigi palsu yang aneh di perlintasan kereta, mereka melanjutkan perjalanan ke Nebraska, the good life. Home of arbor day. Saat akhirnya mobil memasuki Hawthorne, tatapan hampa Woody memberi tanya ada apa?

Agedan demi adegan berikutnya menjelaskan itu semua. Di rumah bibi Martha dan paman Ray yang senyap. Kedua sepupunya, Bart (Tim Driscol) and Cole (Devin Ratray) yang duduk dengan keadaan tanpa ekspresi adalah pengangguran. Ekomoni sedang buruk. Menertawakan perjalanan 750 Km butuh waktu 2 hari? Bart bahkan pernah dari Dallas, 800 Km hanya dalam 8 jam. Mobilmu dari Jepang? Enggak ah KIA dari Korea. Well, Korea? Woody kan veteran perang Korea! Dialog annoying ini memang terasa mengesalkan David dan penonton, namun jelas ada sesuatu yang berarti.

Dimulailah nostalgia, Hawthorne adalah tempat lahir dan berkembang Woody jadi mereka memutuskan keliling ke rumah teman-teman lamanya. Dari bengkel Ed Pegram (Stacy Keach) yang sudah berganti pemilik, ke kafe Tom Varnik yang juga sudah tak di sana. Kemudian malamnya ke kafe Old Milwauke, Coors Light. Di sinilah segalanya mulai terang. Bertemu teman lama Ed Pegram, teman yang dulu mengambil kompresornya. Nostalgia itu pecah, ketika Woody bercerita dia memenangkan satu juta Dollars. Seisi kafe tepuk tangan dan riuh. Hufh, David langsung lemas.

Babak baru kisah ini. Warga menyambut Woody bak pahlawan. Milyader kebanggaan Hawthorne. Kabar dengan cepat menjalar bak sengatan api ke bensin. Sampai rumah kedua kakak-adik Bart-Cole sikapnya yang cuek berubah ramah. Teman-teman lama, menyelamatinya. Keadaan makin runyam saat keluarga besar kumpul di hari Minggu. Satu juta Dollar. Wow, uang sebanyak itu buat aja ya nanti? Kate selalu cuek dan bilang, ‘Apakah hanya saya orang waras di sini?”

Dalam adegan sunyi di depan televisi sekumpulan kakek sedang menyaksikan pertandingan bisbol Chicago vs Detroit. Diselingi sesekali percakapan mobil tua tahun 1970an. David terdiam, terperangkap masa. Pembicaraan saat makan bersama pun tak semembosankan sinetron karena sangat berbobot. Betapa Woody akan membeli truck dan kompresor baru, kenapa mereka ingin berkunjung ke rumah tua ayahnya tumbuh, hingga kasus yang menimpa anak Martha. Para burung bangkai yang mengelilingi mangsa minta ‘jatah’. Adegan menyentuh di rumah tua Woody lalu ke pemakaman dengan dialog absurb. Sampai adegan lucu di rumah tetangga Westendorfts. semua tersaji dengan tensi tenang namun menghanyutkan.
Saat lagi-lagi Woody harus terbaring di rumah sakit, anak dan istrinya memutuskan kembali ke Billings, rasanya peluang sudah tertutup. Tapi bagi Woody tidak. Perjalanan suci ke Nebraska harus terus ditempuh, apapun yang terjadi hari Senin harus di sana. Sampai akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Benarkan Woody memenangkan hadiah itu? Mengkalim Sejuta Dollars Mega Sweepstakes prize?

Bruce Dern layak dapat Oscar. Penampilan kikuk, gesture orang tau ringgih dengan luapan lupa sekaligus childish. Sungguh penampilan prima tiada dua. Sayang du tahun itu Matthew memang digdaya. Jane Squibb bermain lepas, cocok sekali sebagai gadis tua pirang yang masih pakai logika dengan gaya bahasa apa adanya. Penampilan orang tua yang mengundang depresi penonton. Will Forte tentu saja dapat kredit lebih. Sebagai anak sensitif, orang terasing, anak berbakti pada orang tua yang siap membantu tanpa pamrih. Lulusan SNL ini tidak hanya sukses membawa ayahnya menyerangi negara bagian sampai Nebraska namun jua sukses membawakan peran.

Inilah film terbaik Alexander Payne. Orang yang membawa kita pada The Descendants dan About Schmidt. Payne memang jeli. Menaruh potret keluarga usang Amerika dengan mimpi-mimpinya. Manaruh gambar-gambar sunyi yang memberi perenungan. Ada sebuah adegan selama setengah menit. Padang penuh kerbau, padang dengan lanskap panjang pepohonan dan rumput sesekali bergoyang terbelai angin. Film drama keluarga yang sedih, marah, gembira dan tertawa secara berututan. Kalau kalian jeli, ada penulsi naskah Bob Nelson dalam adegan saat Woody mendapat tepuk tangan di kafe. Bonus cameo sang screenplayer.

Setelah saya cek di ajang penghargaan, Nebraska mendapat 6 nominasi Oscar. Woooah banyak juga. Nominasi di bagian primer semua lagi. Dari best picture, best actor sampai original screenplay. Sayang seribu sayang, tak satupun tembus. Setelah menonton film ini saya berpendapat harusnya Nebraska bisa menang di best supporting actress. Ketimbang Lupita, jelas Jane Squibb lebih berbobot mendukung Bruce. Lalu di naskah juga layak ini film menang telak ketimbang Her yang membosankan. Bagian lain memang sedang apes karena dominasi 12 tahun sebagai budak.

Film sebrilian ini, duh kenapa tangan hampa di ajang sebesar Oscar?

Nebraska | Year 2013 | Directed by Alexander Payne | Screenplay Bob Nelson | Cast Bruce Dern, Will Forte, Jane Squibb, Bob Odenkirk, Stacy Keach, Mary Louie Wilson, Rance Howard, Tim Driscoll, Devin Ratray | Skor: 5/5
Karawang, 041216 – Backstreet Boys – Helpless

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s