Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi – Yusi Avianto Pareamon

image

Pada suatu hari kami sempat mengaso di tepi sebuah danau kecil. di tempat itu Si Sayang membuang kotoran. Si Manis berdiri di belakangnya dengan lidah terjulur. Semula kupikir, ia juga bakal melakukan hal yang sama. Namun, aku keliru, sangat keliru. Begitu bulat-bulatan kotoran keluar dari pantat Si Sayang, Si Manis langsung melahapnya dengan rakus. Seakan belum puas, begitu gundukan di rumput habis, ia menjilati dubur kembarannya itu. | “Loki Tua,” kataku gemetar, “Ini hanya kebetulan bukan?” | “Kebetulan apanya? Aku melatih mereka,” kata Loki Tua, terkekeh.

Catatan akhir tahun 2016, awalnya mau buat tulisan tentang Sherina yang tahun ini kembali lebih sering menghantui telingaku sampai membuat Rani Skom, Yuli, Hermione dan May ikut berdendang riang. Atau tentang Lazio yang begitu menjanjikan di awal musim sampai akhirnya kembali ke papan tengah. Atau review daftar buku yang kusantap sepanjang 12 bulan terakhir. Atau seperti yang terlihat di berbagai beranda sosial media teman-teman, daftar 10 film terbaik. Daftar 10 gol terbaik. Daftar 10 resep bumbu makanan cepat saji. Bla bla bla… Namun tak dinyana, saya malah lagi-lagi mengulas buku. Kalau sampai sebuah buku bisa menyingkirkan begitu banyak kemungkinan yang ingin kuceritai harusnya buku itu istimewa. Dan yah, sayangnya tepat. Inilah novel lokal terbaik terbitan 2016. Saya sampai menjulukinya Game of Throne-nya Indonesia. Babad tanah Jawa? Ah itu gacoan bung Yusi belaka.

Salah satu cerpennya ‘Dari Dapur Bu Sewon’ pernah kubacakan dalam ruang Inspirasi Pagi NICI dan membuat terpingkal seisi ruangan. Dikiranya saya mengadakan stand up comedy. Namun memang cara bertutur bung Yusi sangat bagus, tak lazim, lucu dan sungguh-sungguh menghibur. Sempat saya mau membacakan kisah ‘Sengatan Gwen’ namun saya menariknya karena ada banyak adegan tak pantas kubacakan di depan orang nomor satu Perusahaan. Malah-malah bisa jadi bukan Inspirasi Pagi jadinya pencabulan kata pagi.

Hebat adalah kata pertama yang keluar dari mulutku ketika akhirnya kisah panjang ini berakhir. Hebat sekali bung Yusi menyusun cerita. Ini semacam memasang dua kepingan akhir dari dua cerpen yang tahun lalu saya baca di kumpulan cerita pendek karyanya, Rumah Kopi Singa Tertawa. Dalam cerpen itu sempat kukira mereka bertiga adalah pelarian, seorang utusan (resmi) Raja. Di mana Sungu Lembu, Raden Mandasia dan Loki Tua harus menyeberangi gurun untuk sampai di kerajaan Gerbang Agung lalu mereka menyatakan tujuan bertemu Putri Tabassum. Dua cerpen itu kini menemui kisah lengkapnya, dan hanya tinggal waktu nama bung Yusi akan mendunia layaknya bung Eka Kurniawan. Rasanya kisah epic seperti ini hanya muncul dalam 5-6 tahun tahun sekali.

Kisahnya sangat panjang. Berliku hingga melelahkan, beberapa bagian menegangkan – dalam arti sesungguhnya. Dengan sudut pandang orang pertama, sang pencerita Sungu Lembu adalah seorang penuh dendam kepada raja Gilingwesi, Watugunung. Dirinya terdampar bersama salah satu putra sang raja, Raden Mandasia yang gemar mencuri daging sapi. Cara mencurinya aneh sekali. Dia menguliti sapi di tempat, mengambil dagingnya dan meninggalkan uang di sana. Kebiasaan unik itu naas pada suatu malam. Saat itu mereka sedang di negeri asing jauh dari kampung halaman. Mereka kepergok dan tertangkap.

Saat siuman bukan hukuman yang mereka peroleh. Karena ternyata yang menghajar mereka adalah pasukan Raja Watugunung yang sudah mereka tunggui. Sungu Lembu lalu mempunyai kesempatan bertatap musuhnya ketika malam itu ada latih tanding dengan Pasukan Berkuda, sempat membuat ciut nyali ketika melihat kehebatan bertarung sang raja yang bisa melolosi baju musuh dalam sekejap mata tanpa melukai. Semacam sihir? Bukan tentunya. Seperti gerakan dalam kitiran bambu yang balingnya terlihat seakan diam padahal putarannya kencang. Segitu hebatnya sang raja. Mitos berujar kekuatan yang ia peroleh berkat bersekutu dengan dua jenis makhluk halus: yang asli terlahir sebagai makhluk halus yang tinggal di sebuah dunia yang senantiasa seperti malam cerah di bawah sinar bulan dengan taburan bintang-bintang dan yang kedua adalah makhluk halus jadi-jadian yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Yang pasti Watugunung mendapatkan kekuatan, kesaktian, atau apa pun yang hebat-hebat lainnya mula-mula dengan memikirkan bagaimana ia mendapatkan semua itu lalu diikuti latihan yang tekun dan keras, sangat keras mungkin, bukan cara yang lain, terlebih jika cara itu adalah bersekutu dengan makhluk-makhluk ganjil.

Lalu kisah ditarik jauh ke belakang. Awal pertemuannya dengan Raden Mandasia di rumah judi Nyai Manggis. Lalu kisah ditarik lagi ke belakang tentang masa lalu sang pemilik rumah judi dan kisah masa lalu Sungu Lembu pun dipaparkan. Bagaimana kerajaan Banjaran Waru takluk tanpa perlawanan. Bagaimana perlawanan demi perlawanan disusun. Sampai akhirnya Raden Mandasia dan Sungu Lembu mengemban misi ke barat.
Misinya terdengar mustahil. Sang pangeran ingin ke Gerbang Agung untuk meminta Putri Tabbasum mau dipersunting ayahnya guna mencegah perang. Gilingwesi adalah kerajaan besar di tanah Padi namun Gerbang Agung adalah legenda besar di ujung dunia. Apa daya, setelah mengirim dua utusan dalam dua terakhir tanpa kabar. Kini Raden Mandasia sendiri yang membawa pesan.

Dengan menumpang kapal milik saudara sepupunya, Wulu Banyak mereka berlayar. Kisah pelayarannya sendiri dibuat sangat mempesona. Sempat berganti nahkoda dari Wimba ke Nedzar. Pertaruhan di lautan sungguh seru, adu pedang dalam kisah The Treasure Island terlihat seperti seorang amatir. Mungkin ide memasukkan sang pembawa wahyu dan anak Tuhan dalam pusaran kapal hanya candaan bung Yusi akan keEsaan yang maha kuasa namun penggalan kisah itu dipaparkan dengan alur menggelitik jadi jangan terlalu dibawa hati. Sebagian orang yang fatatik bisa jadi marah besar, namun siapa peduli? Toh buku ini sendiri terdiri dari puluhan kata ‘anjing’ dan makian berbagai jenis dari yang syahdu sampai yang kelas pekerja kasar. Mungkin suatu hari saya akan menanyakan langsung ke bung Yusi ada berapa tepatnya.

Ketika akhirnya perjalanan tak memungkinkan terus lewat laut, mereka menyasar darat setelah diperkenalan dengan sang juru masak Loki Tua. Bersama dua anjingnya yang aneh mereka bergerak Si Sayang dan Si Manis. Nah dua cerpen itu dirajut di sini. Lalu jahitannya menyambung ke awal kisah pencurian daging sapi yang apes itu. Dengan ribuan pasukan terbaik, dengan ribuan pasukan tambahan Pasukan Berkuda berhasilkah Raja Watunung menaklukkan kerajaan Gerbang Agung? Berhasilkah Sungu Lembu membalaskan dendamnya?

Saya tak tahu siapa yang akhirnya memenangkan penghargaan Kusala Satra Khatulistiwa tahun ini. Terakhir saya lihat buku ini masuk dalam daftar kandidat. Apalah itu, yang pasti buku ini memenangkan hatiku. Suatu hari – bila diberi kesempatan – saya ingin duduk semeja dengan bung Yusi berdiskusi, wawancara untuk blog ini bagaimana ia bisa mencipta karya yang tak biasa. Mungkin bukan dengan segelas dua gelas kahwa, namun kopi pahit rasanya sama nikmatnya.

Mengutip kata-kata Nagasawa-san dalam novel Norwegian wood karya Haruki Murakami bahwa ia tak pernah mau mengambil buku karya pengarang yang belum 30 tahun meninggal dunia. “Aku hanya percaya pada buku-buku seperti itu,” katanya. “Bukan berati aku tak percaya pada sastra modern. Aku hanya tak mau menghabiskan waktuku yang berharga sia-sia membaca buku karya orang yang belum dibabtis oleh waktu. Hidup ini pendek.”

Saya sempat setuju dengan Nagasawa-san, namun tak sepenuhnya. Selalu ada pengecualian, dan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi tentu salah satunya.

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi | sebuah dongeng karya  Yusi Avianto Pareamon | hak cipta Yusi Avianto Pareamon, 2016 | Cetakan pertama, Maret 2016 | Penata artistik dan penyelaras bahasa Ardi Yunanto | Penata tipografi dan ilustrator ikon Cecil Mariani | Pelukis sampul Hartanto ‘Kebo’ Utomo | 13,8 x 20,3; 450 halaman | ISBN 978-979-1079-52-5 | Penerbit Banana | untuk Kawan-Kawanku | Skor: 5/5

Karawang, 311216 – Ari Lasso – Mengejar Matahari

Orang Aneh – Albert Camus

image

Kemudian ia bertanya, Apakah “Perubahan hidup” tidak akan kulakukan dan kujawab, seseorang tidak pernah mengubah cara hidupnya; satu cara hidup akan sama baiknya dengan yang lain dan cara hidupku adalah cocok betul dengan diriku.

Luar biasa. Salah satu ciri buku bagus adalah berhasil membuat pembaca terus terpaku untuk terus membaca kisahnya hingga kalimat terakhir. Buku ini kubeli kemarin dalam kunjungan ke rumah Acuk, sesepuh Laziale Cikarang yang kemudian mampir ke Mal Lippo Cikarang untuk belanja buku. Tak butuh waktu lama untuk menuntaskannya, di hari Ahad yang mendung dengan dua cangkir kopi pahit dan iringan lagu Sherina Munaf – album My Life (hah Beruang madu? Haha…) buku langsung selesai. Kisahnya absurb. Sungguh dunia ini memang aneh karena ada ya cerita aneh tentang orang aneh.

Ini adalah buku pertama Albert Camus yang kubaca dan sukses menghipnotis. Kisahnya tentang seorang pekerja kantor yang suka menyendiri. Pendiam dan terasa sekali dia cuek akan keadaan sekeliling, dan artian hidup itu sendiri. Dibuka dengan pilu bahwa Meursault mendapat kabar ibunya meninggal. Melalui telegram, ia tahu ibunya telah tiada dan akan dimakamkan besok. Setelah mendapat izin libur dua hari dari bosnya ia menuju wisma panti wreda – Wisma orang jompo (The home for aged persons).
Dari penuturan di hari duka itu kita tahu bahwa Meursault adalah orang aneh yang dimaksud. Tak ada air mata, tak ada bela sungkawa. Ia menganggap bahwa hidup ini hanya menunggu mati. Kematian semacam agen perubahan jadi apa yang ditangisi? Ketika ibunya siap untuk dimakamkan pun ia tak melihat wajahnya untuk terakhir kali, padahal ada kesempatan. Ketika pulang ke apartemen bahkan ia baru sadar bahwa cuti dua harinya itu menyambung dengan libur Sabtu Minggu sehingga total empat hari ia tak masuk kerja. Sesuatu yang sederhana gini aja ia tak peduli!

Sekembali ke apartemen, Sabtunya jalan dengan mantan rekan kerja Marrie. Nonton bioskop, makan malam dan tidur. Bayangkan, setelah kematian ibunya ia masih sempat bersenang-senang dengan pacarnya! Minggunya ia habiskan di tempat, bangun siang, merokok, baca koran memandang langit di tepi jendela menyaksikan aktivitas sekeliling. Tetangganya Tuan Salamano, orang tua dengan anjingnya. Subplot kisah tentang orang tua dan anjingnya sendiri dibuat sangat menyentuh. Mungkin karena terus-menerus hidup dalam kamar yang sempit bersama anjingnya, tampak padaku seakan-akan tuan Salamano tampak serupa dengan anjingnya. Nantinya kisah ini menemui titik yang pilu, sekalipun tuan dan peliharaannya sering saling ganggu ada duka tak terperi ketika berpisah. Lalu tetangga satunya lagi, orang tak baik karena Raymond yang temperamental, yang apesnya malah menjadi sohib. Bercerita bahwa gadis tetangga mereka adalah teman tidurnya, ia memberikan uang 20 frank untuk makan dan 25 frank setiap hari serta ia membayarkan sewa kamarnya. Raymond baru saja berkelahi dengan saudara gadis itu, orang Arab hingga tangannya harus diperban.
Senin kembali beraktivitas. Kerja yang membosankan di kantor. Istirahat makan siang di kedai langganan tuan Celeste. Pulang malam, menghabiskan waktu di apartemen hingga istirahat dan esoknya kembali ke rutinitas. Suatu malam Raymond meminta nasehat pada Meursault tentang memberi pelajaran pada gadisnya. Memintanya untuk menuliskan surat agar datang ke sana namun karena memang hubungan Raymond dengan gadisnya sedang memanas, esok malamnya mereka berantem hingga seisi penguni apatemen terganggu, polisi datang dan melerai. Dengan waspada Raymond minta bantuan Meursault bila suatu ketika kakak gadisnya mengajak berantem.

Kehidupan rutinitas bujang yang umum ini suatu ketika rusak. Dimulai dari sebuah rencana ajakan Raymond untuk menghabiskan akhir pekan ke bungalow temannya di pantai. Dengan mengajak Marrie dan bayang-bayang diikuti orang Arab, mereka berlibur. Sempat akan terjadi perkelahian namun mereda. Malang bagi Meursault. Ketika ia berjalan sendiri ke pantai dan berpapasan dengan orang Arab lagi, hal tak terduga terjadi. Satu tembakan di awal serta empat tembakan mengakhiri satu nyawa. Apa yang terjadi?

Bagian pertama novel ini ditutup dengan menyedihkan. Tembakan itu berarti menutup pintu kemungkinan ia ke Paris, kemungkinan menikahi Marrie, kemungkinan masa depan cerah di depan. Bagian kedua lebih menyoroti karakter Meursault lebih dalam. Mempermainkan psikologis, pertaruhan kepercayaan dan memaknai hidup ini. Setelah jalur pengadilan yang berliku, bagaimana nasib ‘si orang aneh’ di klimak kisah tak wajar ini?

Interpretasi novel ini sebenarnya sangat luas. Buku ini ditulis untuk menentang Camus akan hukuman maksimal untuk terpidana di Perancis yang saat itu sedang marak. Pandangan bahwa hidup ini sebuah penderitaan, hidup ini adalah masalah seperti di kisah Yunani kuno tentang Sisifus yang dihukum dewa. Hukuman tak terperi di mana Sisifus mengangkut batu ke puncak gunung lalu batu itu menggelinding kembali ke dasar. Kemudian Sisifus mengambil lagi batu itu dibawa ke puncak dan jatuh lagi ke dasar. Begitu terus tanpa akhir. Sebuah pandangan Camus bahwa manusia adalah makhluk sia-sia, hidup tanpa harapan, berusaha terus-menerus namun hampa. Menggapai sebuah titik ketika titik itu sudah terlihat dekat, ternyata titik ia tak tergapai malah menjauh. Hingga manusia harus kembali mengejar titik itu. Hidup absurb.

Pandangan ini terus terang sempat menggugahku. Tahun lalu saat saya ke taman Safari, Bogor dalam rangkaian acara outing Perusahaan saya melihat berbagai binatang dari dalam kendaraan. Melihat binatang itu seolah bebas – padahal tidak, ada yang memadu kasih, berebut makan, berkelahi, sampai cuma tiduran dan saya langsung terbesit akan makna hidup. Jangan-jangan manusia juga seperti itu nasibnya? Hewan itu tak bisa keluar dari kawat berduri, ruang lingkup terbatas menunggu mati. Bukankah manusia di bumi juga seperti itu?

Camus dalam esai filosofisnya Mite Sisifus lebih dalam menjabarkan tentang pandangan hidup yang tak lazim. Konsep absurb bergitu kental. Novel ini jelas adalah implementasi dari esai itu. Tokoh bernama Meursault, mer = laut, dan soleil = matahari. Di mana kita akan sering sekali menemukan kalimat tentang langit dan laut seperti ‘langit yang menyilaukan’, ‘kesunyiannya menantang curahan cahaya dari langit’, ‘langit yang penuh cahaya matahari’, ‘membatasi cahaya matahari dan langit’ sampai ‘panasnya menekan ke bumi’. Dan seterusnya dan seterusnya.

Banyak sekali pandangan Meursault yang menyatakan pesimisme akan hidup. Salah satu yang begitu menohokku dan bikin gemes adalah ketika ia didatangi Marrie suatu malam..
Malamnya Marrie datang dan bertanya, apakah aku mau menikahinya? Aku tak keberatan, kalau ia memang sudah yakin akan hal itu, kami akan segera menikah. Ia bertanya lagi, apakah aku mencintainya, aku sangat mencintainya seperti sebelum-sebelumnya. Kukatakan pertanyaan itu tidak ada artinya bila diajukan, atau apalah. – halaman 56

Lihat betapa cuek dan ga jelasnya ini orang. Pantas saja disebut orang aneh. Namun ini hanya segelintir. Sikap dan keputusan aneh yang ia ambil nantinya akan begitu menentukan nasibnya. Begitu pula segala keputusan kita saat ini, jelas akan sangat berpengaruh takdir kita di masa depan.

Kutipan-Kutipan
Dan kini baru kusadari bahwa kebisuan suasana itu malah menggangu sarafku. Ada suara satu-satunya yang masuk ke ruangan, tapi terdengar aneh. Datangnya terputus-putus dan aku jadi pusing dibuatnya. – 14

Aku tak mengerti kenapa orang bilang ia berasal dari orang baik-baik dan menikah dengan seorang perempuan biasa. – 29

Sungguh, seakan-akan tidak ada perubahan berarti dalam hidupku. – 32

“Usahakan kamu jangan bersedih dan murung”. Mula-mula aku tidak mengerti apa yang dimaksud. Barulah kumengerti setelah ia jelaskan bahwa ia telah mendengar berita tentang kematian ibuku, walau bagaimanapun – katanya – kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, kapan saja. Aku menghargai ucapannya. – 44-45

Ia memandang tepat padaku, “Apakah kau tidak ingin mengetahui apa yang akan kukerjakan malam ini?” – 58

Tapi karena hidup anjing lebih pendek dibanding hidup manusia, keduanya menjadi tua bersama-sama. – 61

Aku tahu keseimbangan dan kedamaian hari itu telah kuhancurkan, sesungguhnya menghancurkan kedamaian yang meliputi pantai di mana aku pernah merasa bahagia. – 79

Semua orang normal – kataku menambahkan – tentu memiliki perasaan akan berpisah dengan orang-orang yang dicintai berupa kematian suatu hari nanti. – 84

Kadang-kadang aku berfikir  apakah aku ini dipaksa hidup dalam tubuh sebatang pohon mati tanpa sesuatu kerja lain selain memandangi langit. – 101

Aku telah menjadi orang yang hanya memikirkan masa sekarang atau masa depan dan bukan masa yang telah lampau. – 135

Memang seseorang selalu membesar-besarkan sesuatu yang ia tidak tahu. – 151

Lalu aku tidak tahu bagaimana hal itu terjadi. Aku merasa seperti ada sesuatu yang pecah dalam diriku dan mulai berteriak sekeras-kerasnya. 163

Novel L’Etranger atau The Stanger atau The Outsider atau Orang Aneh atau Orang Asing ini sangat amat layak dibaca. Rekomendasi tingkat tinggi dariku. Dan jelas masuk dalam jajarang 100 novel terbaik sepanjang masa, versiku.

Orang Aneh | by Albert Camus | diterjemahkan dari L’Etranger | Published by Penguin Classics | copyright 1942 Albert Camus | Penerjemah Abdurrahman | Penyunting Qin Mahdy | Penata isi TB Production | Penata sampul Morenk Beladro | Cetakan I, Oktober 2015 | 176 hlm; 13 cm x 20 cm | Senja Publishing | ISBN 978-602-16830-4-0 | Skor: 5/5

Karawang, 251216 – Green Day – Minority
Catatan dibuat tanggal 25-Dec-16 namun baru sempat diedit dan diposkan tanggal 29-Dec-16

Ghost Stories – Charles Dickens

image

Karena Natal adalah satu-satunya waktu yang sangat tepat untuk mengenang semua penyesalan, kesalahan, masalah-masalah di dunia, yang kembali timbul di benak manusia, sama halnya dengan segala kenangan tentang kebaikan.

Kesan pertama begitu selesai membaca buku ketiga Charles Dickens ini adalah typo. Saya menemukan ratusan typo. Dengan jumlah halaman yang 200an, maka kalau dirata bisa jadi typo-nya nyaris setiap lembar. Entah apa yang dilakukan Penerbit sehingga hal krusial dalam memuaskan pembaca bisa kelolosan. Sayang aja, buku bagus diterjemahkan dengan buruk sehingga harapan itu tak bisa maksimal.

Kesan keduanya, kisah malam Natal yang disajikan langsung mengingatkanku pada A Christmass Carol. Saya belum membaca atau menonton adaptasi filmnya, namun dari berbagai review sepintas kisahnya mirip. Tentang seorang kikir yang diajak berjalan-jalan dengan ‘hantu’ untuk melihat kehidupan orang-orang sekelilingnya di malam Natal. Sebuah perjalanan religi yang membuatnya berubah total setelah siuman. Nah kisah utama di sini seperti itu. Apakah ini semacam kumpulan kisah Dickens sehingga memasukkan cerita Chistmass Carol menjadi Kidung Natal?

Kesan ketiga, betapa Charles Dickens sangat menginspirasi banyak orang. Di sesi akhir akan kujelaskan sedikitnya ada dua orang yang terobsesi kisah ini hingga plot utama bukunya nyaris sama dengan Kidung Natal.

Secara garis besar Ghost Stories berisi tiga cerita utama yang berbeda dan berdiri sendiri. Ketiganya hanya disambungkan bahwa malam Natal begitu sakral dan membuat para karakter merenungkan hidup. Kisah pertama Kidung Natal, yang saya sangka terjemahan A Chistmass Carol, kedua Anak Yang Memimpikan Bintang dan ketiga Lelaki Yang Dihantui Dan Penawaran Sang Hantu.

Kisah tentang Scrooge yang pelit. Seorang pengelola biro bantuan hukum Scrooge and Marley Firm ini tetap mempertahankan nama si tua Marley yang sudah meninggal. Scrooge seorang yang kasar, orang tua dengan dosa melimpah karena ia suka memeras, merenggut, mencengkeram, mencabik dan menindas orang lain. Dan yang paling mengerikan tamak. Sifatnya yang keras dan serakah begaikan batu api yang tidak pernah memberikan percikannya secara cuma-cuma pada siapapun yang membutuhkan api. Dia menutup diri dari siapapun, tak membutuhkan bantuan siapapun, senang mengasingkan diri seperti tiram yang tenggelam dalam lautan lumpur. Hatinya yang dingin seperti es kutub terlukis dari sosok tuanya, terbayang hidungnya yang runcing, tergambar di kerutan pipinya, terlihat dari gaya berjalannya. Sifatnya yang dingin tergambar di matanya yang selalu merah, tampak bibirnya yang membiru, suaranya parau dan ringan lidah. Sifat dingin hati terukir di wajahnya di alis matanya, dan dagu kurusnya. Rasa dingin selalu ditebarkan di mana-mana. Dia membuat hari-hari sibuk di kantor terasa dingin, dan bahkan tak berusaha ‘menghangatkan’ suasana di hari Natal.

Ketika keponakannya datang mengucap selamat Natal, ia menjawab ketus. “Bah! Omong kosong. Rayakan Natal dengan caramu sendiri, dan biarkan aku merayakan dengan caraku sendiri.”

“Merayakan? Tapi Paman tidak pernah merayakan.”

“Kalau begitu biarkan aku tidak memperdulikan Natal, semoga Natal dapat memberikan kebaikan padamu! Semoga Natal dapat memberikan kebaikan kepadamu!”

Lalu juru tulisnya, karyawan bergaji hanya 15 Shilling yang teraniaya, yang di tanggal 25 Desember meminta libur. “Dan ini tidak adil. Jika aku memotong gajimu, kau pasti keberatan bukan? Namun kau tidak berfikir aku sedang tidak bersikap adil bukan? Karena aku membayarmu gaji sehari penuh meski kau tidak bekerja. Sungguh alasan bodoh untuk merampok uangku setiap tanggal Dua Lima Desember, tapi kukira kau akan menikmati waktu libur sepanjang hari besok. Datanglah lebih awal di hari berikutnya.”
Lalu seorang peminta-minta dari yayasan untuk menyumbang, diusir. “Peraturan dan Undang-Undang Rakyat Miskin benar-benar dilaksanakan bukan?”

Begitulah. Di malam Natal dia-pun tak berbuat baik. Menghabiskan malam dengan makan malam di sebuah kedai menyedihkan ditemani sepi. Ia tinggal sendiri di rumah muram dengan penerangan seadanya. Nah, malam itu segalanya berbeda. Malam itu pintunya diketuk, yang datang adalah almarhum Marley. Rekan kerjanya yang meninggal tepat 7 tahun lalu. Hantu Marley datang untuk memberi wejangan yang membuat Scrooge ketakutan. Hantu Jacob Marley setelah berbincang lama pamit dengan memberikan peringatan. “Kau akan didatangi oleh tiga hantu. Tunggulah hantu pertama ketika lonceng berbunyi satu kali. Tunggulah hantu kedua malam berikutnya di jam yang sama. Hantu ketiga akan datang di malam setelahnya ketika dentang lonceng pukul dua belas berhenti bergema. Dan ingatlah jangan berharap bertemu denganku lagi, ingatlah semua yang terjadi di antara kita, demi kebaikanmu sendiri.”

“Tidak bisakah mereka datang bersamaan dan menyelesaikan hal itu dengan singkat Jacob?”

Dan Scrooge pun memulai tur malamnya bertemu ketiga hantu. Malam yang akan mengubah segalanya. Malam Natal yang membuat Scrooge sadar selama ini salah. Namun ketika terbangun dari segala penampakan itu, apakah ada kesempatan kedua? Malam Ganjil itu seakan tak berujung dan akankah jadi malam terakhirnya. Ah, semoga belum terlambat untuk berubah.

Cerita kedua lebih sederhana karena hanya terdiri satu bab. Namun tak sesederhana yang kukira karena memang temanya berat. Sebuah pertanyaan muncul, “Seandainya seluruh anak di jagat raya ini mati, akankah bunga-bunga, sungai-sungai, dan langit akan bersedih?” Ya, dalam pemikiran mereka meyakini bahwa alam semesta akan menangis. Karena menurut mereka, kuncup-kuncup di sela ranting adalah anak bunga, gemericik air yang merembes dari pegunungan di hulu akan menjadi anak-anak sungai di hilir, dan kerlap-kerlip titik kecil yang bertebaran di langit malam, pastilah anak-anak bintang, mereka semua pastilah akan menangis ketika melihat teman bermain mereka, anak manusia, mati.

Ada satu bintang yang selalu muncul mendahului bintang lainnya, tak jauh dari puncak menara Gereja, tepat di atas pemakaman. Bintang itu lebih besar dan lebih indah dari bintang lainnya. Mereka berdua selalu setiap melam memandangi bintang kesayangan tersebut sambil bergandengan tangan di jendela. Namun takdir mewujud sang adik meninggal di usia belia. Sehingga kini sang kakak tak bisa lagi berebut dulu-duluan menyebut “Aku melihat bintangnya” sambil bergandeng tangan.

Sang adik menunggu kedatangan sang kakak di langit. Ketika ada pendar bintang yang menyongsong langit, sang adik bertanya pada malaikat, “Apakah kakakku datang?” sang malaikat menjawab, “Belum waktunya.” Tahun berganti, setiap ada bintang baru yang muncul ia selalu bertanya hal yang sama. Sampai kapankah ia menanti (kematian sang kakak)?

Cerita ketiga lebih rumit karena lingkupnya lebih luas dan karakternya saling silang. Tentang tuan Redlaw, seorang guru terpandang yang mempunyai kenangan buruk di masa lampau. Dirinya seperti dikejar bayang, berusaha menutupi kebobrokan dirinya. Di malam Natal dirinya bertemu hantu yang memberi petuah. Sama seperi kisah Scrooge, namun ia bukan orang kikir, keras kepala atau semena-mena ia adalah penanggung dosa, ketakutan aibnya diketahui orang lain. “Mengapa aku terasa tersiksa? Semua ini bukan kenangan egoku. Aku sungguh menderita karenanya. Setiap manusia memiliki sesal, sebagian besar juga memiliki kesalahan memalukan: tak bersyukur, iri hati, hawa nafsu, dan semua hal tercela di dunia. Siapa yang tak ingin melupakan sesal dan kesalahan masa lalu meraka?”

Sang hantu menawari tuan Redlaw, “Aku mempunyai kekuatan untuk menghapus ingatanmu – meninggalkan sedikit – mengaburkan sisa-sisa ingatanmu, hingga sama sekali lenyap. Ingatan yang terhapus bukan ilmu pengetahuan, bukan hasil penelitian, bukan hal seperti itu. Tapi rangkain perasaan kusut berbelit dan berhubungan denganya. Itulah ingatan yang akan kubuang, semua itu akan lenyap. Katakan, kau setuju?

Tuan Redlaw tentu saja bertanya apa konsekuensinya? Menghapus kenangan buruk adalah sebuah pemberian karunia. Sang hantu memberi tugas kepadanya, “Kekuatan yang aku berikan kepadamu ini harus kau sebarkan kepada orang lain, terserah kepada siapapun mereka. Tanpa melaksakan kewajibanmu itu, apa yang telah kau peroleh ini akan lenyap secepat kau mendapatkannya. Lanjutkan! Jadilah sang Pembebas! Bebaskan dari kenangan buruk, detik ini juga sebarkan karunia ini. Pergilah, bersuka citalah atas kebaikan yang telah kau menangkan dan kebaikan yang akan kau lakukan!”

Redlaw tersadar dengan kepala pening. Wahyu yang diterimanya harus disebarkan. Bisakah ia mencari orang dengan kenang buruk untuk dihapus?

Sayang sekali, buku sebagus ini diterjemahkan dengan buruk. Setengah hati. Kisahnya absurb tentang Natal, hari spesial umat Kristiani. Judulnya memang cerita hantu, namun tak ada hal seram yang ditampilkan. Hantu yang datang kepada para tokoh lebih kepada malaikat yang memberikan wejangan untuk hari esok yang lebih baik.

Setelah selesai baca, saya jadi meragu akan originalitas cerita dua buku yang sudah kubaca. Pertama The Five People You Meet In Heaven-nya Mitch Albom. Seorang kakek bernama Eddie yang sekarat diajak berkeliling oleh ‘hantu’ untuk bertemu lima orang di dunia antara untuk melihat masa lalunya. Kedua bukunya Tere Liye berjudul Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Di malam takbir Lebaran, Rehan seorang kakek 60 tahun yang sekarat didatangi ‘hantu’ untuk berjalan-jalan di masa lalu, bertemu orang-orang yang pernah hidup bersamanya.

Terlalu mirip. Jiplak atau terinspirasi? Dilihat dari tahun edar buku jelas, Charles Dickens yang tertama. Lalu Mitch Albom barulah Tere. Aturan karya cipta memang rancu, sehingga tak bisa kita sembarangan cap ‘copycat!’ oh ‘original’, oh ‘terinspirasi’. Yang pasti setelah baca Ghost Stories kedua buku itu rate di mataku langsung drop di titik terendah.

Ghost Stories | by Charles Dicken | Penyunting Jarot Setyaji | Desain sampul Indra Fauzi | Penata letak Asep Aziiz Maajid | Penerbit Media Kita | ilustrasi cover Nbataniil, diperoleh secara legal dari http://www.istockphoto.com | cetakan pertama, 2012 | iv+256 hlm, 13×19 cm | ISBN 979-794-383-6 | Skor: 4/5

Karawang, 251216 – Sherina Munaf – Sebuah Rahasia

Prediksi Pioli Vs Lazio

image

Kuis The Great

Prakiraan formasi lawan inter
4-3-3
Marchetti
Basta-De vrij-Wallace-Patric
Parolo-Biglia-Sergej
FA-Immobile-Lulic

LBP 0-3
Apa ya yang ada di pikiran Pioli nanti saat ketemu mantan anak didik? Antusias? Emosional? Gregetan? Atau malah gemetar? Papan skor akan memberikan gambaran BIG MATCH ini.

Gangan
Inter 1-1 Lazio. Icardi.
Hasrat Lazio merangsek ke papan atas dijegal Inter. Pioli terharu. Menangis tersedu.

Arief
Inter 1-2 Lazio. Icardi
Lazio ingin masuk 3 besar. Pioli untuk kali pertama bertemu Lazio sebagai pelatih. Icardi kembali cetak gol.

Safin
Inter 3-0 Lazio. Icardi.
Tren positip Inter berlanjut. Keberuntungan berada di pihak Inter. Lazio buntung.

Joko Genthong
Inter 2-1 Lajio, Icardi
Tren positif Inter berlanjut. Icardi nyekor. Candreva ngekor

Bli Made
Inter 0-2 Lazio Immobile
Karena bung Arief yang ngambil skor 1-2 maka saya terpaksa ngambil skor 0-2. Main di San Siro dengan pelatih ndobos Inter akan kalah. Dan grup ini akan riuh lagi 😂

Crot
Inter 2-0 Lazio Icardi
Inter menang. Lazio kalah. Udah itu aja.

Om Wid
Inter 3-1 lazio , Icardi
Trend menang berlanjut. Datang ke Meazza bukan halangan. Tapi sayang kalah 3-1.

Deni
Inter 1-0 Lazio, Antonio Candreva
Inter main kandang. Inter main menyerang. Lajio main bertahan. Akhirnya Inter yang menang.

Huang
Inter 1-3 Lazio; Immobile
Analisis: Pioli berdandan memakai jas taksidonya yang paling mahal demi menyambut sang mantan yang akan segera datang. Ia ingin memamerkan kekasih barunya yang cantik yang memakai gaun berwarna biru hitam yang mewah. Namun Pioli kecele. Sang mantan ternyata bahkan tak merindukannya. Tanpa operasi plastik, kini mereka bahkan mampu tampil lebih cantik. Pioli memelas agar mereka tak menyakitinya. Tapi sudah terlambat. Sang kekasih baru ternyata gagal menjadi pusat perhatian. Pioli kalah telak! Pioli haha! PioliOut!

Adit
Inter vs Lazio : 2-0, Candreva
Mantan emang selalu menyakitkan di hati. Tusukan Inter akan setajam belati. Kaki Candreva siap bobol gawang Marchetti.

Prima
Inter 2-4 Lazio icardi
Inter bangkit sesaat. Lazio hilang arah dan galau. Kemudian mereka berpelukan. Wasit main mata.

Indah
Inter v Lazio 1-0 Icardi
Pioli & Candreva bertemu mantan terindah, *raisa keleus.
Tentu kenangan indah bersama Lazio harus dilupakan.
Tentu indah jika Inter menang.

Jokop
Inter 3-0 lajio, Brozovic
Pioli sudah hapal seluk beluk lajio. Maka semakin mudah baginya mengkomando pasukan biru hitam merobek-robek jala burung itu. Kebanggaan bagi Pioli melewati game mudah ini 😎

Takdir
Inter 2 Lazio 3.  Immobile. Krisdayanti ketemu raul lemos.  Saya isi termos.  Pepo dan memo mimik kopi.

Lelur
Inter 0 – 1 Lazio. Ciro.
Dari mantan kita belajar. Karena mantan kita tegar. 3 point berharga dari sang mantan😎

Karawang, 211216

The Monogram Murders – Sophie Hannah

image

Dengan embel-embel nama besar Agatha Christie di top sampul, buku pertama Sophie Hannah yang saya baca ini temponya berjalan lambat. Saya terhenti sampai bab 10: ‘Sasaran Fitnah’ sekitar halaman 120-an, lalu buku terbengkelai sebulan sebelum akhirnya saya putuskan harus kelar karena ingin segera kukembalikan kepada yang punya. Barulah benar-benar menarik isi buku ketika sudah 2/3 bagian, menurutku kisahnya terlalu bertele. Ga seperti Christie yang memberi poin-poin penting di awal, tengah dan akhir dengan sangat hidup, Hannah menyimpan ledakan di sesi penutup saja sehingga memang butuh kesabaran untuk mencapai puncak. Untungnya daya ledak The Monogram sukses, sukses mengecoh pembaca, sukses memberi kejut padaku. Yah, ga terlampau rugi keputusanku menuntaskannya.

Sophie Hannah mendapat izin dari ahli waris Christie untuk menuliskan kisah-kisah detektif paling terkenal –nomor dua setekah Sherlock Holmes tentunya – detektif asal Begia bertubuh pendek dan gendut dengan istilah terkenal pemikiran ‘sel sel kelabu’, ilmu deduksi kelas wahid dan analisis luar biasa: Hercule Poirot. Setting masih sesuai zaman beliau, era pasca Perang Dunia I dengan segala kesederhanaannya. Ide yang sebenarnya menarik, di mana tokoh legendaris beda zaman dilanjutkan ditulis oleh orang lain. Membuat imajiku melayang, suatu saat seabad kemudian kisah Harry Potter menemui kisahnya sendiri saat kuliah sihir ditulis oleh orang asing? Menarik, sangat menarik. Memikirkannya saja membuat dahiku gatal. Salamku dari generasi Potter buat anak-cucu Hermione Yumna.

Kisah di Pembunuhan Monogram sejatinya memang kisah yang khas Poirot di mana kasus dipaparkan, link di berbagai sudut, clue diselipkan dengan jeli di setiap momen yang seolah itu kejadian biasa, padahal bisa jadi setiap detail itu semu dengan inti di pusatnya adalah kunci utama. Lalu ketika pembaca mulai menemui pola, dikecoh, Poirot punya jawaban berbeda yang membuat kita semua merasa ketipu setelah dipaparkan potongan puzzle-nya hingga utuh. Begitulah, khas detektif.

Adalah Jennie yang suatu malam pukul 19.30 di tanggal 27 Februari 1927 tiba-tiba datang di kedai kopi Pleasant’s Coffee House, saat itu Hercule Poirot sedang menanti makan malamnya. Jennie masuk ke kedai dengan ketakutan, setelah membuka pintu lama di sana hingga udara malam yang dingin masuk, ia memutuskan duduk di pojokan memesan teh panas kental. Lalu menatap kaca keluar seolah menatap kejadian di sana, padahal di luar gelap gulita sangat kontras dengan keadaan kedai yang terang benderang. Dengan mimik ketakutan, seaakn melihat hantu. Poirot tergugah, meminta bergabung untuk sekedar jadi teman cerita. Terungkaplah sebuah fakta mengejutkan.

“Anda sangat baik, tapi tidak ada yang bisa membantu saya. Saya ingin dibantu – saya sangat ingin. Tapi sudah terlambat. Saya sudah mati, Anda lihat, atau saya akan segera mati. Saya tidak bisa sembunyi selamanya.” Kata-kata sudah mati membuat ruangan berasa dingin, dan langsung menggugah minat Poirot. “Apakah bisa dikatakan pembunuhan apabila saya pasrah dan membiarkan hal itu terjadi? Saya sudah lelah melarikan diri, bersembunyi, merasa begitu ketakutan. Saya ingin semua ini berakhir apabila hal ini akan terjadi, dan hal ini akan terjadi, karena memang hal itulah yang seharusnya terjadi. Itulah satu-satunya cara memperbaiki keadaan. Itulah yang pantas saya terima.” Poirot tentu saja tertarik, sekalipun sudah pensiun dari tugas ia akan selalu tertarik menyelidiki. “Apabila saya ditemukan dalam keadaan tewas, Anda harus memberitahu teman Anda si polisi untuk tidak mencari pembunuh saya. Oh, tolong jangan biarkan siapapun  membuka mulut mereka! Kejahatan ini tidak boleh dipecahkan.”
Lalu Jennie keluar kedai, tanpa membayar teh dengan gemetar.

Besoknya Scotland Yard menerima kabar pembunuhan di tiga kamar hotel Bloxham. Dari sudut pandang polisi, rekan Poirot kisah digulirkan. Edward Catchpool sempat menduga Poirot adalah orang Perancis. Ibu kosnya Mrs Blanche Unsworth mungkin hanya karakter sempalan di kisah-kisah Poirot, namun mengingat bertapa krusial Mrs Hudson di serial Sherlock, jelas karakter ini harus diantisipasi.

Kasus utama buku ini adalah ketiga korban pembunuhan di hotel Bloxham ditemukan di kamar terpisah dengan tubuh terlentang, asupan racunlah penyebab utamanya, di mulut mereka ditemukan sebuah monogram dengan inisial PJI. Tentu saja ini adalah link dari penuturan Jennie. Apalagi ketiga korban Harriet Sippel, Ida Gransburry dan Richard Negus ternyata mempunyai masa lalu yang bersinggungan dengannya di sebuah desa Great Holling. Penjelasan detail korban kurasa terlalu panjang, dan melebar kemana-mana. Apesnya, penuturannya ga semenarik Christie sehingga jatuhnya bosan. Kisah makin jenuh saat Catchpool diminta menyelidiki masa lalu ketiga korban yang memaksanya ke Great Holling bertemu Margaret Ernst, seorang saudara pendeta yang menjaga makam. Sebuah kejadian buruk terjadi tahun 1913, seorang pendeta Patrick James Ive (29) difitnah hingga membuat istri Frances Maria Ive (28) bunuh diri, lalu sang pendeta menyusul mengakhiri hidup.

Di kuburnya terdapat sebuah tulisan soneta karya William Shakespeare, karena terdengar bagus. sangat bagus saya kutip deh.

That thou art blamed shall not be thy deflect, For slander’s mark was ever yet the fair, The ornament of beauty is suspect, A crow that flies in heaven’s sweetest air, So thou be good, slander doth but approve, Thy worth the greater being wooed of time, For canker vise the sweetest buds doth love, And thou present’st a pure unstained prime. Thou hast passed by the ambush of young days, Either not assailed, or victpr being changed; Yet this thy praise cannot ne so thy praise, To tie up envy, evermore enlarged, If some suspect of ill masked not thy show, The thou alone kingdoms of hearts shouldst owe.

Bagus kedengarannya, pusing mengartikannya. Terlampau puitis. Nah diterjemahnya tertulis begini:

Bahwa kau difitnah bukan kelemahanmu, Karena sasaran fitnah selalu mereka yang rupawan; Yang rupawan selalu dicurigai, Bagai burung gagak terbang di langit surga, Maka berbaik hatilah, fitnah akan mengaku, Betapa dirimu sebenarnya; Karena kekejian menyukai pucuk termanis, Dan kau adalah kemurnian tak tercela, Kau telah melewati godaan masa muda, Entah karena tak diserang, atau menang setelah diserang, Namun pujian untuk dirimu ini tidak akan pernah bertahan lama, Untuk menahan kecemburuan, yang terus membesar, Bila rupamu tak tertutup seberkas kekejian, Kau akan menerima seluruh cinta di dunia.

Berdasarkan penuturan Ernst, posisi kisahnya adalah Jennie pelayan setia sang pendeta – sudah melayani Patrick bahkan ketika ia masih kuliah. Ada seorang janda Nancy Ducane yang sering ke rumah pendeta di malam hati saat Frances tak ada di rumah, Jennie bergosip dengan Ida Gransburry – mantan tunangan Richard Negus. Gosip pendeta ada apa-apa dengan Nancy meluas, Harriet Sippel yang juga seorang janda menambah bumbu kabar hingga memuncak seantero desa. Ketika keadaan gosip memburuk bak wabah yang cepat meluas, pendeta dan istrinya tak kuat hingga ditemukan tewas. Begitulah, 11 tahun berselang ketiganya tewas di hotel nyaris bersamaan di Kamis malam.

Jennie yang ketakutan akan jadi korban keempat Nancy – yang kini jadi seniman terkenal malam itu bertemu Poirot bahwa kalau ia mati keadilan sudah ditegakkan. Benarkah? Tentu saja tidak segambalng itu, ingat ini kisah detektif sehingga setiap kalimat yang kita baca bisa jadi palsu. Namun ketika kekuatan kecoh itu membesar, boooom! Jennie akhirnya dikabarkan terbunuh di hotel Bloxham juga. Namun mayatnya tak ditemukan. Nancy sebagai tersangka utama, di Kamis malam itu punya saksi kuat tak sedang di hotel jadi dia aman dari sangkaan. Tapi tunggu dulu sobat, eerrgghhh… sudahlah. Jadi siapa sebenarnya pelaku pembunuhan monogram ini?

Well, diluardugaku. Kisahnya bagus. penuturan 1/3 akhir sangat brilian. Potongan puzzzle itu disatukan, hingga membuat pembaca – dan polisi Catchpool terlihat bodoh. Saya sendiri terkecoh, dan ketika kita dibuat kejut dengan penjelasan nalar yang pas tentu saja kita senang. Bukahkah poin membaca fiksi adalah kepuasan akhir? Begitulah buku ini, setelah jalan terjal yang berliku dan panjang, syukurlah klimak itu ada. Luar biasa. Salute Monsieur Poirot!

Tak ragu lagi, kalau Sophie Hannah berhasil mempertahankan tempo rasanya buku-buku beliau layak diburu.

Pembunuhan Monogram | diterjemahkan dari The Monogram Murders | by Sophie Hannah | Agatha Christie Limited | Agatha Christie, Poirot and Agatha Christie signature are registered trademark | GM 40201140079 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Lingliana Tan | Cetakan kedua, November 2014 | ISBN 978- 602-03-0755-8 | 376 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Karawang, 2011216 – M2M – The Day You Went Away
Buku pinjaman saudara JokoP di Depok, thanks a lot bro.

Prediksi Lazio Vs Fiorentina

image

Prakiraan formasi vs Fiorentina.
LAZIO (3-5-2)
Strakosha
Bastos, De Vrij, Radu
Felipe Anderson, Cataldi, Biglia, Sergej, Lulic
Immobile, Keita
All.: Simone Inzaghi.

LBP
3-0
Momen melewati Milan. Momen mendekati Tetangga. Momen mengejar Juventus.

Adit
Lazio vs Fiorentina : 2-1, Immobile
Lazio menang. Om Budi senang. Pulsa mendarat ke saya dengan tenang.

Joko Gentong
Lajio 1-1 Foo, Kalinic
Seri bagus buat kedua tim. Karena adil bila berbagi poin. Dapat pahala semoga berkah.

Bli DC
Lazio 2-0 Fiorentina Immobile
2 tim yang meraih hasil berkebalikan di match terakhirnya akan bertarung di Olimpico. Saatnya Immobile mencetak skor buat si langit biru. Dan sepertinya akan seperti itu, ini kemenangan yang akan menjadikan papan atas semakin ketat.

Huang
Lazio 3-1 Fio; Lulic
Bahkan Trans 7 pun tahu bahwa partai ini lebih besar dari partai Juve vs Romlah. Kalian tau apa artinya itu? Artinya kalian berhak panik! Degrit diuntungkan karena Fio kelelahan harus main partai lanjutan lawan Genovah.

Arief
Lazio v Fiorentina 3-1. Immobile.
Lazio mengusung target untuk terus berada di zona eropa sampai hari natal.
Felipe Anderson memuncaki daftar pembuat assist dengan koleksi 7 biji.
Dalam 5 pertemuan terakhir dengan La viola, lazio mampu menang 4x.

Takdir
Lazio v fiorentina 4-1. Lulic
Saya ingin pulsa. Pengen kue kue enak. Pengen jus nenas dan sirsak. Makasih bud.

Mads
Lajio 0 – 1 Fiorentina, Khouma
Fiorentina ingin menyadarkan Lajio. Bahwa mereka dalam dilema. Jangan pernah bermimpi menjadi Elang terbang tinggi.

Indah
Lazio v fiorentina 2-0. Felipe.
Dukung lazio biar Indah dapet pulsanya. Syukur dapet jersey pula. Terima kasih om Budi.

Om Agus
Lazio 1 – 2 fio. Birunya cinta tak sebiru kota Roma. Olimpico kembali ternoda oleh si janda. Thee Great kalah FOC sunyi😎

Papa Win
Lajio 2-3 Fio, Kalinic
Laga ketat seketat kutang Ibra. Kejar kejaran gol seperti balap bebek. Akhirnya Fio yg tersenyum Puassssssshhh…

Deni
Lazio 3-2 Fio. Iimmobile.
Lajio main kandang. Lajio main menyerang. Fio pun bertahan. Akhirnya Lajio yang menang. Pelatih dan fans pun akhirnya senang 👍🏻

Widy
Lazio 2-3 Fiorentina. Immobile
Skuat Lazio dalam hegemoni. Rentetan menang sempat ternoda. Mungkin pekan ini sedikit ternoda lagi meski maen kandang.

Sapin
Lajio 0-3 Fiorentina. Kalinic.
Kalinic adalah koentdji. Ini semua ulah Ani. Lajio pun ambyar.

Prima
Lazio 1-3 Fio, Keita
Lazio merasa diatas angin. Semua pemain terlena. Fiorentina main terbuka. The great merana. Sekian

Karawang, 181216

Whiplash: Just My Tempo

image

image

image

Terence Fletcher: I never really had a Charlie Parker. But I tried. I actually fucking tried. And that’s more than most people ever do.

Di ending Spider-Man 3 ketika manusia laba-laba sedang berantem segitiga sama Sandman dan New Goblin di langit kota New York, seorang anak dalam kerumunan penonton memotret momen. Lalu Jonah Jameson sebagai kepala redaksi Daily-Bugle yang butuh gambar-gambarnya membeli kamera sang anak, tahu situasi menguntungkan ia menjualnya mahal. Karena urgent, tentu saja tetap dibeli. Dan jepreeet, jepreet, jepret…! Zonk. Kalau kalian bersimpati sama Jonah, hilangkan rasa itu saat nonton film ini. Tapi kalau kalian bertepuk tangan karena memang dia adalah orang menyebalkan, pelit, banyak omong dan bos yang mengerikan sehingga kalian senang sekali beliau kena getahnya, saya jamin tepuk tangan kalian akan lebih keras, lebih semangat kala menikmati film ini. Bonus, mungkin kalian akan berteriak-teriak geje, menari ga jelas sambil mengepalkan kedua tangan ke atas saking puasnya.

Seorang drummer muda punya mimpi untuk bisa seperti idolanya Buddy Rich. Berlatih keras, sekeras kerasnya, sampai telapak tangannya lecet berdarah-darah. Ambisi menggebu itu dipertemukan dengan guru gila penuh caci maki, sadis dan tanpa kompromi. Motivator kelas kakap sekaligus mood-dropper yang tak segan melempar kursi kepada anak didiknya. Guru killer yang tak peduli segala nama binatang terucap saking geregetnya demi kepuasan telinga mencipta musik sempurna. Dan jadilah Whiplash. Film dengan plot luar biasa, bikin megap-megap penonton.

Amazing. Oscar 2015 sudah lama berlalu. Segelintir film yang belum sempat ketonton, dan Whiplash yang terselip itu ternyata benar-benar sangat memuaskan. Pantas saja JK Simmons menang best supporting actor. Menang mutlak. Harusnya adapted screenplay juga disikat mengingat susunan ceritanya dirajut dengan benang cinta dan ambisi berlebih sehingga penonton tak diperboleh menebak arah dengan tepat. Susunannya rapi dan terstruktur. Tensi terjaga. Sound andrenalin. Naskah superb itu menjadikan film musikal jadi thrilling. Setiap sesi latihan, semua penonton ikut deg-degan. Benda apalagi yang akan dilempar? Whiplash pantas mendapat puja-puji. Sundance Film Festival 2014 sampai mengganjarnya Grand Jury Prize dan Audience Award. Bukti kualitas yang bisa memuaskan juri dan penonton sekaligus. Sangat layak disejajarkan dengan film-film inspiratif sepanjang zaman. Cocok ditonton bareng sama bapak/ibu guru/mentor kalian, duduk bareng sambil makan popcorn. Film wajib buat para musisi. Film wajib buat penyuka musik, terutama jazz. Film wajib buat ingin main musik, terutama drummer. Film wajib buat lelaki lembek yang mudah patah hati. Film wajib buat para pejuang cinta. Film wajib buat kalian! There is so many excellent great things to say about Whiplash.

Film dibuka dengan iringan drum yang anggun. Tersebutlah Andrew Neiman (Miles Teller) memainkan stik bertalu yang temponya makin ngebeat. Tak disangkanya, sang guru Terence Fletcher (dimainkan dengan luar biasa oleh JK Simmons) memperhatikan. Merasa tertarik, double-time swing. Sampai terdengar pintu tertutup. Hufh, saat pintu kembali dibuka, ambil jaket. Ah pembuka yang absurb.

Film akan sering berkutat di Shaffer Conservator Music. Sebuah sekolah musik prestisius di New York, Amerika. Proses latihan sebelum tampil ala militer. Andrew Neiman hidup sama ayahnya Jim Neiman (Paul Reiser) setelah ditinggal ibunya saat kecil. Ayahnya seorang Penulis, guru sekolah. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan hangat, menonton film, makan malam, hubungan ayah-anak yang ideal. Sub-plot inipun sukses menjaga tensi. Karena hobi nontonnya, Andrew sampai dihafal sama penjual popcorn Nicole (Mellisa Benoist). Yang nantinya diajak jalan makan pizza, proses ngajak keluarnya lucu dan menyentuh, jadian, lalu putus karena obsesi jadi drummer-nya membumbung, takut mengecewakan tak ada waktu buat pacaran. Dalam eksekusi ending yang relevan dan upset, walau hanya vie telpon Nicole memberi gambaran dia memang cewek kebanyakan yang butuh perhatian, kepastian, dan cinta sesungguhnya. Ah, gadis pemanis cerita yang sukses mencuri hati.

Di kelas pemula tempat Andrew bermusik, tiba-tiba didatangi Fletcher dan meminta beberapa ketukan nada. Setelah coba sana-sini-gebuk-sana-tiup-sini-petik-sana-sini akhirnya sang guru memilih Andrew untuk ikut latihan band-nya besok pagi jam 6 di ruang B-16. Jangan terlambat! Ndilalah, dia kesiangan, God damn it! Tergesa lari bergegas ke studio bandsampai terjatuh di tangga dan sesampai di sana ternyata kosong. Bukan hanya dilatih bermusik, Andrew juga dilatih kesabaran. Dan ini baru permulaan. Dengan wajah kuyu dan ngantuk, dia menunggu tanpa beranjak dari kursi sampai akhirnya waktu menunjuk 9 kurang para pemain bermunculan. Dan saat jarum detik jam 9 menyentuh angka 12, gurunya pas masuk. Luar biasa, disiplin harga mati sampai ke detaknya!

Di hari pertama Andrew bergabung, penonton diajak lebih mengenal metode berlatih ala Fletcher. Bukan untuk murid memble. Ketika dia masuk kelas, semua murid tegak dan suasana sunyi. Mungkin lalat anggop-pun kedengaran. Seorang dirijen kelas wahid, semua nurut. Di hari itu, seorang pemain Horn, Elmer Fudd diminta keluar karena dirasa fals. Proses didepaknya pun sangat kasar. Terdengar kejam, namun efektif untuk meningkatkan performa.

Ketika Andrew diberi kesempatan duduk depan drum dan memainkannya, terdengar pujian ‘Buddy Rich di sini’ membuat Andrew tersenyum. Yah, itu tak lama karena setelahnya sebuah kursi melayang. WFT! Beneran kursi menuju wajahnya, yang andai tak menghindar pasti melukai. ‘Were you rushing or were you dragging?’. Andrew tak tahu, sampai ditabok – ala Mbah Iwan, founder BM (Bank Movie) – berkali-kali pula hingga ia menangis. Ok, Andrew berlatihlah lebih keras.

Ketika sampai rumah ia tertantang untuk serius berlatih menaklukkan lagu Whiplash sampai tangannya berdarah, diperban, berdarah lagi, perban lagi, mandi keringat, ngos-ngosan. Wahai para pejuang sukses, inikan jalan yang kalian lalui?! Bekerja keras pantang menyerah. Jalan untuk hebat memang tak waras dan bercucuran lelah.
Saat kompetisi band dimulai, Overbrook Jazz competition. Andrew yang bergabung sebagai pemain drum cadangan Carl Tanner (Nate Lang). Setelah set pertama selesai, sebuah ‘tragedi map’ terjadi. Map panduan drum Tanner hilang gara-gara Andrew menaruhnya sembarangan saat minum coke. Ketika set kedua lagu Whiplash akan dimulai Tanner yang tak bisa nge-drum tanpa panduan menyerah. Dan Andrew yang sudah berlatih lagu ini mengajukan diri. Dengan pola latihan sehebat ini, wajar Shaffer Conservatory menang.

Setelahnya Andrew jadi penggebuk drum inti, menyingkirkan Tanner. Menuju kompetisi berikutnya, latihan lebih keras dan menggila. Mengingatkanku pada film Full Metal Jacket yang gila itu. Untuk persaingan, Fletcher merekrut drummer baru Connolly. Dan ta-daa… setelah Andrew sukses menyingkirkan Tanner, Connolly sukses menyingkirkan Andrew. Are you serius? That shit? Pelatih/guru/konduktor-lah yang berhak menentukan tim. Dan Mourinho-pun ketawa ngakak. Hal ini bukannya membuat Andrew down, malah menciptanya monster latih sekeras baja. Darah makin banyak menetes. Perban makin tebal. Dan es batu pun disiapkan, bukan hanya untuk membekukan luka, namun juga kepala.

Suatu hari Fletcher memulai latihan dengan sendu. Diiringi musik jazz yang lembut ia bercerita bahwa pagi ini ada kabar duka. Mantan anak didiknya Sean Casey kemarin ditemukan meninggal dunia. Kenapa meninggalnya, disimpan nanti. Dalam penentuan drummer utama, terjadilah drama lewat tengah malam. Hanya untuk menemukan tempo yang pas. Semua anggota tim diminta keluar sampai ketemu temponya, ketiga pemain drum diuji sampai berjam-jam. Setelah pas, barulah latihan kembali dilanjut. Gila, latihan band sampai dini hari cuy! Saat kick-off Liga Champion. Mending ngopi depan tv.

Kompetisi berikutnya di lomba Dunellen film makin memuncak. Dalam perjalanan bus bocor. Cari taksi ga nemu. Sewa mobil, ngebut dalam ketergesaan eh stik ketinggalan di rental. Posisi waktu menipis demi turnamen, ia mencoba segala cara untuk datang tepat waktu. Dengan baju penuh darah dan tangan yang terluka Andrew tetap bersikukuh duduk dalam pentas. Dan segalanya menjadi kacau. Terpuruk. Jatuh. Terhempas ke dasar. Lemes. Andrew kini di titik nadir karirnya. Adakah kesempatan kedua?

Sungguh luar biasa. Tiap halaman naskahnya tak tertebak. Jelas ini adalah cerita personal sang sutradara muda Damien Chazelle yang juga menulis skenario. Berdasarkan pengalaman pribadi kala remaja saat dirinya belajar jazz yang katanya dalam persaingan sangat sengit, ia menulis kisahnya dengan bumbu dramatis dan sentuhan berlebih. Kerja keras yang patut diacungi jempol, setelah bertahun-tahun berjuang membuat film ini dengan budget terbatas, tahun 2013 ia membuat film pendek 18 menit-nya untuk cari sponsor. Dasar utama Whiplash ya ini. Setelah mendapat sokongan dana, film indie ini-pun dibuat dan setahun berselang rilis. Whiplash jelas lebih nampol ketimbang teriakan roll out Optimus Prime.

Miles Teller yang sedari remaja memang bisa main drum, bermain memukau. Aktor yang pertama kulihat di Divergent ini tampil all out. JK Simmons tentu saja bintang utama, karena piala best supporting actor adalah bukti. Pemarah, cerewet penuh makian persis seperti ketika jadi bos media-nya Spiderman. Benoist yang tampil sesekali-pun sangat pas. Sebagai Supergirl yang cute, memberi kesegaran diantara keringat pemain band yang frustasi.

Endingnya meledak. Benar-benar klimak. Setelah adrenalin dipicu bermenit-menit. Penonton kecele dengan penawaran plot. Seperti semangat Andrew yang naik turun, Chazelle sukses memainkan tempo. Mengaduk-aduk emosi membuat penonton sesak nafas. Mengingatkanku pada ending Little Miss Sunshine yang mengehentak panggung, Whiplash jelas membuat penonton bertepuk tangan. Bohong kalau kalian tak terhanyut alunan musiknya. Karena saya bukan penikmat jazz, tanpa sadar ikut mengangguk-anggukan kepala.

Film ini kembali membenarkan bahwa jalan untuk sukses memang berliku, penuh onak dan duri. Untuk mewujudkan mimpi seseorang harus berjuang jungkir balik. Andrew mungkin korban, tapi pada akhirnya korban yang mendapat applaus lho. Tak ada yang sia, segala perjuangannya terbayarkan. Anak didik Fletcher mungkin keluar band dengan amarah, namun percayalah setiap individu itu jadi hebat dalam bermusik di masa depan. Percayalah, andai diadu sama musisi lain tempaan Fletcher menjadikannya unggul. Selama kamu tak menyerah, peluang menyabet berlian selalu ada. Gali-gali-gali. Tak peduli selelah apa, tak peduli sefrustasi apa. Jangan menyerah dan ingat selalu Sherina.

There is no two words in the English language more harmful than ‘Good Job’. Sepakat? Yah, sedikit.

Tratak dung des! Well, saya jadi googling Charlie Parker. Dan ternyata dia adalah…

Whiplash | Year 2014 | Directed by Damien Chazelle | Screenplay Damien Chazelle | Cast Miles Teller, JK Simmons, Melissa Benoist, Paul Reiser, Austin Stowell, Nate Lang | Skor: 5/5

Karawang, 161216 – Train – Skyscraper