Reasonable Doubt: Mind Game Becomes Corny Thriller

image

Clinton Davis: Well, it looks like you just f**ked up our reasonable doubt here, Mitch.

Film dengan bintang besar Samuel L Jackson. Seperti judulnya, kisah dalam film ini akan membuat penonton terhanyut dalam pikiran sang tokoh, ikut memberi alasan meragu. Permainan pikiran, awalnya sangat menjanjikan. Plotnya disusun dengan rapi dan terus tensinya terjaga — sampai di tengah. Sayangnya eksekusi akhir gagal meledak. Khas film happy ending yang akan membuat remaja ceria.

Semenjak baca buku Sidney Sheldon, ‘Malaikat Keadilan’ saya suka segala cerita tentang hiruk-pikuk gedung pengadilan. Maka saat film dibuka dengan jeritan anak kecil yang takut darah di musim salju yang dingin di sebuah taman bermain lalu judul muncul dan disambung ke sebuah Pengadilan Boston, maka tinggi jua harapan ini. Kisahnya, seorang jaksa kota Mitch Brockden (Dominic Cooper), pria asal Riverdale sedang bernarasi di depan juri betapa tersangka patut dijatuhi hukuman berat. Rekannya Stuart Wilson (Dylan Taylor) tampak terpesona, betapa Mitch begitu pintar meyakinkan orang-orang.

Mitch punya keluarga yang sempurna. Istri cantik Rachel Brockden (Erin Karpluk) yang begitu mendukung karirnya. Buah hati yang baru lahir yang begitu menggemaskan. Gambaran American Dream, keluarga kecil dengan masa depan menjanjikan. Malam itu Mitch sedang keluar sama teman-temannya ke bar sampai teler. Setelah berpisah, dalam keadaan mabuk ia pulang nyetir SUV. Di tengah jalan, di belakangnya ada sirene polisi. Panik, takut kena tilang Mitch menjaga jarak. Saat ada belokan ke kanan, ia ambil untuk memastikan polisi itu tak mengejarnya. Dan benar, sirene melaju lurus meninggalkannya. Hufh…, lega. Tapi konflik sesungguhnya baru dimulai. Karena tak konsentrasi ia menabrak pejalan kaki, eh seseorang yang lari?

Panik, setelah turun ia mencoba membantu. Lukanya parah, wajah penuh darah, gemetar, dan sekarat? Setelah diselimuti dengan jaketnya, Mitch coba telepon ambulan. Namun saat ia tengok kanan kiri sepi, ia secepatnya berlari ke telepon umum boks. 911 – cari bantuan. Setelahnya Mitch kabur, kini ia seorang kriminal tabrak lari. Segera ia cuci mobilnya, ia buang jaket yang kena darah. Semua bukti ia lembar ke bak sampah, singkirkan. Kembali ke hangatnya tempat tidur seakan tak terjadi apapun, yah sekalipun ia tak bisa terlelap. Kepikiran.

Paginya ia kena tegus istri karena bamper mobil penyok, ia minta maaf karena semalam teler dan mengemudi. Janji tak akan diulang. Di kantor setelah saling sapa yang kikuk, ada dua petugas polisi datang dan akhirnya kita semua tahu. Korban tabrak lari itu tewas. Korban bernama Cecil Akerman (Karl Thordarson). Langsung runtuh pikiran Mitch, merasa sangat bersalah meninggalkan korban tergeletak tanpa bantuan medis.

Berjalanya waktu, investigasi menunjukkan Cecil bukan korban tabrak lari, namun korban pembunuhan berencana. Sang tersangka sudah ditangkap. Seorang kulit hitam yang terlihat muram. Clinton Davis (Samuel L. Jackson) yang kini sebatang kara dituduh melakukan pembunuhan berencana tingkat pertama. Bosnya meminta Mitch untuk menuntut hukuman berat. Disinilah dilema itu. Sang penabrak lari menuntut tersangka. Sebuah gambaran menarik di ruang sidang.

Sementara saudara Mitch yang galau datang, Jimmy Logan (Ryan Robbins) yang suka memerasnya. Ada konflik keluarga yang membuat Jimmy tak diakui sebagai saudara. Dengan ironi dia bilang, betapa dunia kebebasan begitu menyenangkan. Semua orang tak ingin kebebasannya terenggut.

Mitch tentu saja setengah hati menuntut tersangka. Aksi di ruang sidang begitu dingin, sehingga membuat rekan dan bosnya bingung. Saat akhirnya sidang menemui hari pengambilan keputusan, sang pembela meminta saksi baru, seorang saksi kunci. Bersamaan itu, Mitch yang tak bisa mengenyahkan pikiran kalut karena merasa bersalah sebenarnya sudah mau mengakuinya. Sang hakim G. McKenna (John B. Lowe) yang geram mereka bicara saling silang dan bersamaan meminta saksi itu dipanggil. Mitch terkejut, ternyata saksi kunci itu adalah sang penelpon 911 dan ada di ruang sidang dan itu bukan dia! Tak lain adalah saudaranya, Jimmy. Berkat kesaksian Jimmy semua lega. Kasus ditutup, Cecil diputuskan sebagai korban tabrak lari. Clinton bebas. Penyelidikan dilanjutkan dengan mencari tersangka lain. Seharusnya Mitch-pun lega, setidaknya ada orang tak bersalah lepas dari penjara.

Babak baru film ini sebenarnya dimulai di sini. Di luar sidang, Mitch ngobrol dengan Clinton sambil merokok, mengucapkan selamat. Dan berujar kalimat yang menohok sekali. “Maybe he’ll turn himself in”. Dan dibalas dengan seyum masam, “Would you?” Jawaban Clinton itulah yang memicu keraguan, wah ini nih, sepertinya ada saksi saat mobilnya menghantam Cecil. Dengan rasa penasaran ia pun kembali ke TKP – Tempat Kejadian Perkara.

Ditemukannya puntung rokok di bak sampah pertigaan, rokok yang sama punya Clinton, lalu sebuah sidik tangan berlumpur darah, lalu dari tempatnya berdiri ia bisa dengan leluasa mengamati TKP. Jelas, Mitch dan Tuhan bukan salah dua saksi malam itu. Dalam investigasi singkat, dia meyakini Cecil dibunuh. Terlambat? Bisa jadi. Karena saat ia melapor pada detektif Blake Kanon (Gloria Reuben), dia kena omel. Bukankah dia yang minta kasus ditutup eh malah minta dibuka lagi.

Merasa yakin Clinton bersalah, Mitch bak pahlawan lokal memutuskan menyelidiki sendiri. Masuk ke kantor polisi menyelinap mencuri file kasus, membuntuti sang target, masuk rumahnya lewat jendela, ikut ke tempat kerja dengan membuntutinya, sampai berdamai dengan Jimmy meminta bantuan. Apes, dia ketahuan. Clinton yang memergokinya berbalik membalas. Berpacu dengan waktu, siapa yang akhirnya unggul dalam permainan pikiran ini?

Sebuah film yang menawarkan kesegaran plot. Memberi keraguan penonton, mengajaknya terlibat setiap keputusan yang diambil. Seperti Basic Instinct yang membuat penonton ketakutan dan setiap tanya selalu disimpan. Sayangnya, dalam Reasonable beberapa kunci sudah diungkap, dan salah eksekusi. Semua clear, tak perlu diragu mana hitam dan putih. Film yang berpotensi meledak, benar-benar patut dirutuki sumbu ledak itu tak berpicu. Jadinya malah kurang nendang.

Beberapa bagian kurang OK. Ada plot hole, kalau kalian perhatikan saat Rachel terjebak dalam rumah dengan Clinton, ia mengisi gelas dengan air kran baru keisi separuh. Lalu memutuskan kabur sembunyi, saat Clinton sampai di depan kran gelas itu full. Ada jin yang iseng?

Film ini aslinya berjudul The Good Samaritan, dan syutingnya hanya 27 hari. Hufh, pantas saja. Singkat, kilat dan serasa asal jadi. Bintang sehebat Samuel L. Jackson tak bisa dimaksimalkan. Cooper yang awalnya bagus dari sikap yang meyakinkan sebagai jaksa, meragu akan fakta lalu berani mengambil keputusan berani. Malah terjatuh karena script akhir yang buruk. Semua itu gagal landing. Jelas film ini akan segera terlupa, kali ini dengan alasan tanpa ragu.

Reasonable Doubt | Year 2014 | Director Peter Howitt | Screenplay Peter A. Dowling | Cast Dominic Cooper, Samuel L. Jackson, Gloria Reuben, Ryan Robbins, Erik Karpluk, Dylan Taylor, Karl Thordarson | Skor: 3/5

Ruang HR NICI, Karawang, 291116 – Backstreet Boys – Shape Of My Heart
Karaoke Day with Rani, Boyband List

An Artist Of The Floating World – Kazuo Ishiguro

image

Jika suatu hari yang cerah kau mendaki jalan curam kea rah bukit dari jembatan kayu kecil yang ada di sekitar sini masih dikenal sebagai ‘jembatan keraguan’, kau tak perlu berjalan jauh hingga mendapati atap rumahku tampak di antara ujung dua pohon gingko. Bahkan, meskipun posisi rumahku tidak terlalu strategis di atas bukit, bangunan itu masih akan tetap mencolok dibandingkan dengan rumah lain di sekitarnya, jadi begitu mulai menaiki jalan setapak itu, kau akan mendapati dirimu membayangkan sekaya apa si pemiliknya. – opening

Benarkan, akhirnya jadi buku pertama yang kubeli bulan ini selesai baca dan review. Pertama dengar nama Kazuo Ishiguro saat salah satu bukunya, Never Let Me Go difilmkan tahun 2011 dibintangi oleh Carey Mulligan yang sedang panas-panasnya setelah An Education booming. Saat itu saya baca preview-nya di majalah TFI – Total Film Indonesia, betapa buku-buku menakjubkan ini jadi salah satu film yang wajib diantisipasi jelang musim penghargaan. Beberapa bulan kemudian saat nominasi Oscar diumumkan, Never Let Me Go tak ada dalam daftar. Sama sekali tak diperhitungkan. Karena penasaran, saya tonton dan hasilnya memang masuk kotak film adaptasi yang gagal. Terlalu lembek, dan seakan setiap scene menjelaskan ‘beri kami piala, please…’ yah sayang sekali.
Sampai sekarang saya belum berkesempatan melahap bukunya. Malah dapat buku lainnya dan jadi kesempatan perdana karya beliau yang saya nikmati, An Artist Of The Floating World. Hasilnya? Amazing. Indah sekali cara bertutur. Kisahnya sendiri menawarkan sesuatu yang sendu. Dengan setting Jepang pasca Perang Dunia II (PD II). Negara satu-satunya di dunia yang dijatuhi bom atom, luluh lantak. Negeri ini dalam keadaan yang memprihatinkan. Sebuah keluarga pelukis mencoba bertahan hidup dalam dinamika itu. Namun bukan pelukis biasa.

Kisah dibuka dengan penjelasan latar belakang sang tokoh utama, seorang seniman lukis yang sukses Ono-san. Setelah istrinya meninggal, kini ia pensiun. Dengan tiga orang anak, satu laki-laki bernama Kenji yang tewas sebagai korban perang dan dua putri, Setsuko yang sudah menikah mempunyai anak kecil bernama Ichiro dan putri bungsunya Nuriko yang galau karena gagal menikah. Awal dia pindah rumah ke seorang konglomerat Akira Sugimura dijelaskan dengan sangat lugas. Bagaimana histori rumah itu, dari orang terpandang, setelah Mr. Sugimura  meninggal anaknya menjual rumah itu kepada calon pembeli dengan selektif, mereka menyebutnya prosedur eksentrik ‘lelang martabat’. Hingga akhirnya rumah itu dihuni oleh keluarganya.

Suatu hari Setsuko berkunjung ke rumah ayahnya. Menanyakan alasan kegagalan nikah adiknya. Awalnya pembaca tak diberitahu karena alasan klasik, keluarga cowok yang sederhana merasa tak layak menikahi putri seniman kaya. Namun lambat laun kita tahu, bukan sesederhana itu. Di masa lalu, sang seniman perang pernah memeluk aliran Kiri. Di Jepang, sama dengan Indonesia, segala yang tak sama dengan Pemerintah disingkirkan.
Kisah lalu melalangbuana ke masa lalu Ono-san. Bagaimana awal mula dirinya menjadi Pelukis ditentang ayahnya. Lukisannya dibakar dan dianggap anak tak berguna, Pelukis adalah profesi malas yang tak menjanjikan kekayaan. Bagaimana dirinya tetap berpegang teguh pada passion-nya. Lalu masa melompat saat dirinya kuliah lukis, belajar dan bekerja kepada sanggar Master Takeda yang ketat. Kualitas dan kuantitas yang tinggi membuat para Pelukis ditempa luar biasa. Bagaimana persahabatan yang erat dengan rekan serta persaingan karya lukis. Salah satu rekannya yang dikenal sebagai Si Kura-Kura, karyanya bagus namun dibuat dengan sangat lambat.

Lalu masa saat dirinya akhirnya pindah kerja kepada Master Mori-san. Dari sinilah dia makin hebat. Mengajak serta teman-teman baiknya. Menghabiskan masa muda yang berapi-api. Hingga waktu juga yang menempatkannya untuk bertranformasi menjadi sensei. Namun suatu ketika seorang temannya Matsuda membuka mata hatinya. Bagaimana Jepang ada di garis kemiskinan, politikus dan pengusaha yang tamak, Jepang butuh kesetaraan seperti China. Hal ini mengubah pandangan hidupnya, sebuah lukisan penuh makna Sayap Kiri dicipta. Memecah berbagai komentar, sebelum Perang berkecamuk, hati Mr Ono sudah berkecamuk.

Di masa kini, di hari tua. Kita diajak bersafari dengan cucunya yang berani. Cucunya yang lebih modern, mengenal The Lone Ranger dengan gaya ala koboinya ketimbang legenda Jepang. Lalu anak bungsunya yang gagal nikah, mulai dekat dengan Taro Saito. Anak seorang dokter. Belajar dari pengalamannya, dia lalu mengunjungi teman-teman lamanya  untuk jaga-jaga seandainya mereka didatangi Dr Saito mohon ceritakan yang baik-baik. Di zaman itu, mungkin lazim ya saling selidiki latar belakang keluarga sebelum memutuskan jadi ga nya berbesan.
Akankah Noriko jadi menikah dengan Taro? Apakah menantunya yang membenci masa lalu Mr Ono dapat memaafkannya? Bagaimana masa Jepang Pasca PD II bisa kembali bangkit dari reruntuhan? Sungguh hebat buku ini. Setting utama memang tahun 1948 – 1949an namun Kazuo Ishiguro dengan hebat memainkan pola maju-mundur yang istimewa. Di mana kita ditantang memasuki plot-sub-plot yang berlapis. Karena secara tiba-tiba bisa saja kisahnya melangkah jauh ke belakang kemudian dalam sekejap ada di masa lain. Semua dituturkan dengan keren.

Kutipan-Kutipan
Istriku berdebat tentang pentingnya kami memiliki sebuah rumah untuk menjamin status kami – bukan untuk menyombongkan diri – namun untuk kepentingan prospek pernikahan anak-anak kami. – halaman 4
Setsuko sedang menatap ke arah taman, dengan cangkir teh di kedua tangannya seolah lupa taman itu ada di sana. – 15
Rekomendasi dari seorang sensei yang luar biasa akan mengundang respek dari semua orang. – 18
Dan jika suatu hari nanti aku dipromosikan, aku takkan pernah melupakan orang yang telah membuatku bisa memulai perjalanan karierku. – 19
Aku menyebutnya ‘distrik kami yang menyenangkan’, tapi menurutku area ini tak lebih dari sekedar tempat untuk minum, makan, ngobrol-ngobrol. – 23
Tentu saja, biasanya aku mengacuhkan mereka, namun di momen istimewa ini, ketika Shintaro dan adiknya berdiri membungkuk hormat dan tertawa di pintu masuk rumahku, ada kilau kepuasan yang hangat singgah di hatiku. – 25
Masa pensiun memberikan waktu luang lebih banyak. Tentu saja, salah satu hal menyenangkan dari pensiun adalah kau bisa melewati hari dengan ritme yang kau atur sendiri, santai karena kau tahu telah bekerja keras dan memupuk prestasi di masa lalu. – 43
“Seniman,” suara ayahku berlanjut, “hidup dalam kemelaratan dan kemiskinan. Mereka menghuni dunia yang memberikan mereka setiap godaan untuk menjadi orang berkemauan lemah dan berakhlak buruk…” – 49
“Satu-satunya yang berhasil dilakukan ayah berkat pembakaran ini adalah ambisiku.” – 50
“Ketika kau masih muda, banyak hal yang nampak membosankan dan tak berjiwa. Namun, begitu kau menua, kau akan memahami bahwa inilah hal-hal yang paling penting untukmu.” – 51
Namun ketika seorang pria mempengaruhi istrinya untuk mencurigai ayahnya sendiri, hal itu cukup untuk melahirkan kebencian. – 54
Mungkin aku hanya berkhayal, namun seorang ayah pasti menyadari perubahan nada suara dalam perkataan putrinya. – 56
Ketika aku bertanya apakah kantor yang baru saja ia tinggalkan tadi adalah tempatnya bekerja, ia mulai tertawa gugup, seolah aku baru saja memergokinya keluar dari rumah bordil. – 57
Dunia kelihatannya sudah gila. Setiap hari ada saja kabar orang yang bunuh diri karena merasa bersalah. – 60
Tampaknya tak ada akhir untuk kematian karena keberanian. Separuh lulusan SMA-ku telah tewas karena menjadi pejuang. Mereka melakukan karena sebab yang konyol, meskipun mereka tidak pernah tahu itu. – 63
Sejauh apa pun jalan kehidupan memisahakan kita di tahun-tahun mendatang, aku akan selalu mengingat kebaikanmu. – 77
“Dan setiap kali bertemu dengan bakat yang membuatku antusias, aku harus berbuat sesuatu dengannya. Aku ingin mendiskusikan beberapa ide denganmu Mr Ono. Ide yang mungkin tak pernah terlintas di benakmu sebelumnya, namun menurutku akan sangat bermanfaat bagi perkembanganmu sebagai seorang seniman.” – 98
Sensei sangat baik padaku selama ini. Aku tak mampu menghitung kebaikanmu padaku. – 111
Selera buruk? Sekarang aku jadi penasaran. Tahu tidak Noriko, tidak biasanya ada orang yang mengasosiasikan selera buruk denganku. – 117
Meniru gaya seorang guru bukan hal yang buruk untuk sementara. Seseorang bisa belajar banyak dengan cara itu. Namun, di saat yang tepat kau akan mengembangakn ide dan teknikmu sendiri, apalagi jelas kau adalah seorang pemuda yang amat berbakat. – 122
“Kau terlalu muda, Mr. Enchi untuk mengetahui tentang dunia ini dengan segala kerumitannya.” – 125
Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa orang seperti akulah yang bertanggungjawab terhadap hal-hal buruk yang terjadi pada bangsa kita. – 135
Setidaknya tidak perlu malu luar biasa terhadap kesalahan yang disebabkan keyakinan terbaik kita. Pasti jauh lebih mamalukan jika tidak bisa atau tidak mau mengakui kesalahan tersebut. – 137
Kadang, bila seseorang berhasil mendidik murid yang berbakat dengan susah payah dalam waktu lama, ia akan sulit melihat kedewasaan dari bakat muridnya dan malah menganggap itu sebagai penghianatan, dan situasi yang akan disesali mulai muncul. – 155
“Selama beberapa hari terakhir ini, yang lain sudah melakukan hal-hal buruk padaku. Namun yang paling melukaiku adalah penolakanmu untuk berkata sepatah katapun.” – 156
Aku menyadari, lentera di atas pintu memantulkan bayangan besar benda-benda di sekitarku, efeknya menakutkan, seolah sedang duduk di miniatur pemakaman yang janggal. – 160
Saat aku sudah tua dan menoleh lagi pada kehidupanku yang dulu dan mendapati diriku mendedikasikannya untuk memotret keunikan sisi dunia itu, kukira akan merasa puas. Dan tak ada orang yang membuatku merasa telah menyia-nyiakan waktuku. – 165
“Tak masalah jika kau mencampur sakenya dengan air. Mungkin para perempuan seperti kalian tidak mengerti, namun hal ini sangat bagi lelaki muda seperti Ichiro. Ini soal harga diri. Dia akan mengingat ini sepanjang hidupnya.” – 171
“Aku jadi penasaran, aku ingin tahu apakah lukisanku ini juga akan menginspirasimu?” – 178
Ada beberapa tipe seniman saat ini. Mereka yang memiliki bakat besar dan bersembunyi dari dunia nyata. Sayangnya, seniman ini kini mulai mendominasi. Dan kau mulai berada di bewah pengaruh mereka… aku ragu apakah kau tahu Karl Marx. – 188

Overall
Bukan pertama kali saya kecewa sama cetakan Elex Media Komputindo. Kertasnya mudah rontok, untuk sebuah Percetakan Besar aneh rasanya kualitas seadanya. Lalu typo masih saja ketemu, ada belasan kutemui, sedikit mengganggu. Pemilihan kover saya suka yang minimalis, dan An Artist Of The Floating World lumayan cathy. Kualitas terjemahan Ok.

Well, buku pertama Kazuo Ishiguro yang sangat memuaskan. Sayangnya tipis, jadi cepat banget selesainya. Kurang banyak konflik, kurang luas penjabaran para karakter. Namun, jelas buku ini ditulis dengan riset dan ketelitian yang memadai. Jelas buku ini akan memicu buku-buku karya beliau yang lain untuk dilahap. Apakah itu artinya Never Let Me Go jadi yang berikutnya? Mari kita lihat.

Masa Penuh Kebimbangan | diterjemahkan dari An Artist Of The Floating World | by Kazuo Ishiguro | copyright 1986 | Alih Bahasa Rahma Wulandari | Penerbit PT Elex Media Komputindo | 188130182 | ISBN 978-602-02-0497-0 | Untuk Orang tuaku | Skor: 4/5
Karawang, 281116 – Sherina Munaf – Pikir Lagi