Lazio 3-1 Genoa: Kemenangan Istimewa The Great

image

image

image

image

image

Kemenangan atas Genoa selalu istimewa di mata kita. Tim jinx yang bikin geram. Hajatan Serie A pekan ke 13 tahun ini disambut antusias Lazio Karawang. Setelah jeda internasional, persiapan menyambut Genoa lebih matang. Pekan ini kita ke rumah Hanafi, karena tamu istimewa maka masakan kali ini pun spesial nasi liwet. Genoah membuat rekor musim ini hingga Laziale yang berkumpul tembus 13 orang. Dengan laptop Setiadi yang tersambung ke TV kita rayakan kemenangan ini.

Simone Inzaghi sudah memainkan formasi 4-3-3. Di bawah mistar berdiri kiper muda penuh talenta Thomas Strakosha, ia stater karena kiper pecicilan Machetti cidera betis. Empat bek di depannya: Wallace bahu membahu dengan Radu. Bastos yang sudah fit dicadangkan. Kanan sudah paten milik Basta dan kiri diisi pemain serba bisa Lulic. Sektor tengah pun kita sudah solid dengan Parolo dan Savic yang pergerakan bertahan dan menyerang sama bagus ditopang pengatur tempo tak terganti Biglia. Tridente IKA tak terbantahkan selalu cetak gol. Selama mereka fit selama itu pula kita akan menyaksikan keindahan permainan menyerang.

Babak Pertama
Laga berjalan alot seperti prediksi. Namun ternyata kita bisa unggul cepat. Menit 11 melalui sebuah skema bola mati, Felipe Anderson sukses membuka keunggulan. Prosesnya ciamik. Bola disentuh pelan oleh Biglia ke Anderson yang menyentuh balik, lalu sang kapten melambungkan ke depan gawang di tengah kerumunan. Bola sempat mantul lalu disundul balik keluar kotak, sempat pula memantul tanah, Felipe dari jarak jauh langsung menghujamkan keras ke arah gawang jauh dari jangkauan kiper. Gooool! Selebrasi Felipe yang loncat-loncat kecil bareng Wallace seru jua. Setelah itu permainan berimbang. Saat peluit panjang, separuh babak skor 1-0. Sayang sekali babak pertama ini kita lewatkan dengan koneksi buruk. Beberapa kali setelah tersambung ke Olimpico streaming-nya tersendat-sendat. Jadi tak bisa kuceritakan banyak detail tiap menitnya.

Babak kedua
Ketika sebagian istirahat ngopi, sebagian makan nasi liwet – saya di bagian ini, sebagian ngobrol sambil udud, sebagian lainnya sampai WAR COC – setelah maem nasi liwet saya join di bagian ini, Rye menyempatkan kabur ambil laptop agar koneksi lebih lancar. Sayang sekali, saat laga sudah berjalan kita belum nyambung sempurna. Saat akhirnya benar-benar streaming lancar, Genoah sukses menyamakan kedudukan menit 52. Prosesnya bagus. Open play dari sisi kanan pertahanan. Setelah serang kita gagal, mereka melakukan sentuhan-sentuhan yang merangsek naik. Seakan terperangah pergerakan cepat dan belum siap, bola itu ditempatkan jauh dari jangkauan Thomas oleh Ocampos. 1-1. Skor sama lalu laptop dan koneksi baru akur hingga akhirnya sambungan ke Omipico lancar. Ada anekdot lucu dari teman-teman. Persiapan laga 2 pekan, nonton aslinya 20 menit. Haha. Kita bisa lihat tendangan Marco ‘Budi’ Parolo yang nerpa mistar, dan semua berseru ‘aaaahhgg…’ kita juga bisa lihat keberhasilan kembali leading menit 57. Setelah menerima umpan Basta, sebuah liukan keren Felipe yang berhasil masuk kotak diganjal Lucas Orban, Felipe mengerang jatuh. Biglia maju ambil tendangan 12 pas. Seperti biasa, shooot Biglia kencang tepat di tengah. Aneh sekali kiper-kiper Serie A belum juga paham kebiasaan sang kapten. 2-1, gol pertama Big Player musim ini. Selebrasi kali ini istimewa. Biglia berlari ke arah penonton, Ciro berlari merangkul dan mencium pipinya lalu mengepalkan tangan. Sebuah bromace yang membuat seisi rumah Hanafi bersorak hingga akhirnya berturut-turut Savic, Parolo, dan Felipe mengerumuni memberi selamat. Setelah perayaan gol bubar, Biglia memberi tanda kepalan tangan ke Laziale sementara Felipe terus saja mengelus kepalanya. Dan lagi-lagi Ciro merangkulnya. Kebersamaan tim yang menyenangkan. Harmonisasi seperti inilah yang diperlukan guna menambah kepercaytaan dan kekuatan tim.

Skor 2-1 belum aman. Dan memang Genoah terus melancarkan serbuan. Akhirnya kita memastikan 3 poin melalui Wallace menit 65. Prosesnya terlihat sepele, lagi-lagi dari sisi kanan. Basta dan Parolo perlu dikasih kredit nih, sisi ini jadi begitu memikat dalam menyusun serangan. Sebuah kerumunan bola teleser di antara kaki-kaki menjadikan bola liar itu ke arah sang bek, pemain Genoah otomatis mengangkat tangan memberi tanda kepada hakim garis bahwa ‘itu offside!’ khas dalam bola. Namun penjaga garis bergeming, Wallace yang tinggal berhadapan dengan Perin tentu saja dengan mudah menyepak si kulit bundar menggetarkan jala. Penampilan istimewa Wallace. Ia berlari keluar lapangan, melewati track lari lalu memberikan cium jauh kepada Laziale. Ini adalah penampilan terbaiknya. Pantas dapat apllaus bersama Felipe. Padahal awal musim posisi itu milik Bastos, ketika si keling cidera Wallace sukses membayar kepercayaan dengan permainan impresif. Bastos yang siap tampil pun kini dipaksa duduk di bangku cadangan. Terlihat di pinggir lapangan, Inzaghi berjingkrak dan mengepalkan tangan kemenangan.

Setelah unggul 2 gol, Inzaghi memberi menit bermain Danilo Cataldi menit 70 menggantikan Savic. Sempat beredar kabar Cataldi yang banyak diminati klub akan hijrah, namun produk asli akademi Lazio ini membantah segala rumor. Ia banhkan berujar, “Jersey Lazio bagi saya adalah kulit kedua saya. Memenangkan tropi bersama klub ini adalah impian saya. Saya tumbuh kembang bersama Veron dan Simone, mereka mencetak sejarah di sini.” Good speech Danilo. Sabar saja, performa tim sedang OK dan kesempatan menit main akan datang lebih banyak dengan sendirinya selama bisa menjaga penampilan. Tiga menit kemudian giliran pemain muda lainnya Patric mengganti Keita Balde. Penyerang diganti bek, indikasi bertahan dan gap gol sudah aman. Pergantian ketika menit 84 lagi-lagi pemain muda Alessandro Murgia masuk mengganti kapten. Ban itu lalu melekat ke Radu yang kini telah merayakan laga ke 200-nya bersama Elang Biru.

Sementara sang mantan Govan Pandev yang disambut tepuk tangan seisi Olimpico masuk menit 80. Pandev adalah legenda kita sebelum slek sama presiden Lotito mengenai kontrak. Saya akan ingat selalu era Zarate, Pandev, Rochhi. Duh sampai-sampai folder komputer J-Lovinyaku dinamai mereka.

Di penghujunga laga, pelanggaran tak perlu Orban kepada Ciro membuatnya diusir lapangan. Terlihat Cataldi memeluk Ciro guna meredam emosi, kalau sampai sang predator kena kuning bahaya. Jelang DDC bo. Hati-hati. Skor 3-1 bertahan hingga akhir. Kemenangan istimewa. Sebuah start bagus Simone Inzaghi melawan jinx. Kemenangan ini menempatkan Simone menjadi pelatih terbaik era Lotito. Fonte Corsport mencatat rataan kemenangan Lazio selama ia pegang adalah 1,8. Dalam 20 laga, Inzaghi menang 11, seri 4 dan sisanya kalah. Hebatnya lagi rataan skuat muda. Akademi primavera Lazio class of 15 banyak yang diangkut ke tim senior dari Murgia, Prce, Thomas, Patric sampai Lombardi. Kalau dari analisis-ku. Tim jinx saja bisa kita taklukkan, kini apalagi yang kita takutkan? Semua lawan kini terasa bisa kita libas. Mengalahkan Genoah artinya akan ada tropi di akhir musim. Akankah itu copa ataukah medali prestisius Scudetto?

Kebahagiaan 3 poin dari Genoah makin berlipat saat tahu tetangga takluk dramatis dari Atlanta di menit akhir. Agen-agen kita di sana sedang memainkan peran. Lord Konko, Bersiha terutama. Mereka berhasil membalikkan keadaan. Dari ketinggalan satu gol (ah lagi-lagi pinalti) menjadi 2-1 secara menyenangkan. Nirpoin Roma di Atleti Azzuri di Bergamo itu menjadikan poin kita hanya berselisih 1 dan Atlanta menempel kita.

Di derby Milan kita juga dapat kabar bagus. Stefano Pioli berhasil memberi 1 poin dalam debutnya, laga seru 2-2. Gol cantik sang mantan Candreva dan sebiji gol menit akhir itu membuat nilai Milan sama tetangga. Pemburuan gelar juara makin panas.

Jelang derby panas DDC 4 Desember nanti. Gladi bersih kita melawan Palermo besok. Dapat kabar bagus Machetti cidera sehingga Thomas akan terus di bawah mistar. Setelah dipinjam Salernitana, Thomas jadi begitu meyakinkan. Total ia kebobolan 3 gol. Semalam dan 2 saat melawan Milan, itupun karena blunder Parolo yang gagal back-pas, satunya lagi pinalti. Jadi harusnya ia lebih sering dipercaya starter. Jangan tanyakan kabar Vargic ya. Hehe. Lalu kabar laga ke Palermo yang tak boleh dihadiri Laziale membuat mereka kemarin berkumpul ke bandara Fiumicino melepas keberangkatan tim. Semangat Laz!

Sementara tetangga akan menjamu Pescara. Lagi-lagi agen kita Massimo Oddo siap menghadang. Memang saat ini mereka sedang terbenam di zona merah namun semangat juang Oddo memberi inspirasi ke tim semoga menghasilkan sesuatu.
Semoga doa bos ku ke Mekah, Lazio juara Serie A itu menjadi nyata. Total kalah kita sama dengan pemuncak, 2. Gap 8 poin? Tenang musim masih panjang. Ok, Jupe kini memang sedang bagus-bagusnya. Tapi saya yakin saat UCL laganya mangetat, mereka akan gagal fokus. Saat itulah kita tusuk mereka. Selama Tridente IKA – Immobile, Keita, Anderson fit. Selama sinergi antar lini begitu keren. Selama Lazio bermain seimpresif ini, rasanya kita bisa juara.

Lazio 3-1 Genoa
Goals: Felipe Anderson 11, Lucas Biglia 57’ (pen), Wallace 65’; L. Ocampos 52’

Lazio (4-3-3): Strakosha; Basta, Wallace, Radu, Lulic; Parolo, Biglia (Murgia 84′ ), Milinkovic-Savic (Cataldi 70′); Felipe Anderson, Immobile, Keita (Patric 73′).

Genoa (3-4-3): Perin; Izzo, Burdisso, Orban; Edenilson, Rincon, Veloso, Laxalt; Rigoni (Ninkovic 46′), Pavoletti (Simeone 61′), Ocampos (Pandev 80′)

Karawang, 251116 – Linkin Park feat Jay Z – Points of Authority – 99 Problems

Iklan

One thought on “Lazio 3-1 Genoa: Kemenangan Istimewa The Great

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s