Best Of The Best: Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya – Ajahn Brahm

image

Saya baru baca yang seri 2 tahun 2011, lumayan bagus. Dan ternyata ada tiga, yang semalam saya baca adalah koleksi terbaik, jadi beberapa bab yang dirasa bagus dikumpulkan di buku tipis ini. Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk menuntaskan 27 cerita dalam 94 halaman. Sangat simpel. Yang membuatku heran, bagaimana bisa buku setipis dan sesederhana ini bisa dijual? Tak banyak hal baru. Buku ini punya teman kerja semeja, Rani S, Kom jadi tak terlalu rugi baca buku jelek dari pinjaman.

Awal kisah nama buku Si Cacing ditaruh paling depan. Bolehlah saya ketik ulang biar tahu kenapa buku bernama salah satu binatang menggeliat dalam tanah bersama kotorannya.

Sebagian orang memang agaknya tidak ingin bebas dari masalah. Jika mereka sedang tidak punya masalah yang bisa dikhawatirkan, mereka akan menyetel sinetron televisi untuk mengkhawatirkan persoalan tokoh-tokoh fiktif di dalamnya. Banyak juga yang merasa bahwa ketegangan membuat mereka lebih ‘hidup’, mereka menganggap kesulitan sebagai hal yang mengasyikkan. Jangan-jangan mereka tidak kepingin bahagia, karena mau-maunya begitu melekat pada kesulitan.
Ada dua orang sahabat karib. Setelah mereka meninggal, satu terlahir sebagai dewa di surga yang indah, sementara temannya terlahir sebagai seekor cacing di seonggok kotoran.

Sang dewa segera merasa kehilangan kawan lamanya dan bertanya-tanya di manakah dia terlahir kembali. Dia tidak bisa menemukannya di alam surga yang di tinggalinya, lalu dia pun mancari temannya di alam-alam surga yang lain. Temannya tidak ada di sana pula.

Dengan kekuatan surgawinya, sang dewa mencari temannya di dunia manusia, namun tidak ketemu juga. Pastilah, pikirnya temanku tidak akan lahir di alam hewan, tapi dia memeriksa alam sana juga, siapa tahu? Masih saja tidak ada tanda-tanda temannya. Lalu sang dewa memeriksa dunia serangga dan jasad renik, dan kejutan besar baginya…, dia menemukan temannya lahir sebagai seekor cacing di seonggok kotoran yang menjijikkan!

Ikatan persahabatan mereka begitu kuat, sampai-sampai melampaui batas kematian. Sang dewa merasa dia harus membebaskan kawan lamanya ini dari kelahirannya yang mengenaskan itu, entah karma apa yang membawanya ke situ.

Sang dewa lalu muncul di depan seonggok kotoran dan memanggil, “Hai cacing! Apa kamu ingat aku? Kita dahulu sahabat karib pada kehidupan sebelumnya. Aku lahir lagi di surga yang menyenangkan, sementara kamu lahir di kotoran yang menjijikan ini. Tapi jangan khawatir, aku akan bawa kamu ke surga. Ayolah, kawan lama!”

“Tunggu dulu!” kata si cacing, “Apa sih hebatnya ‘surga’ yang kamu ceritakan itu? Aku sangat bahagia di sini, bersama kotoran yang wangi, nikmat dan lezat ini. Terima kasih banyak.”

“Kamu tidak mengerti!” kata sang dewa, lalu dia melukiskan betapa menyenangkannya dan bahagianya di surga.

“Apa di sana ada kotoran?” tanya cacing, to the point.

“Tentu saja tidak ada!” dengus dewa.

“Kalau begitu, aku emoh pergi!” jawab cacing mantab. “Sudah ya.” Dan cacing pun membenamkan diri ke dalam kotoran itu.

Sang dewa berfikir, mungkin kalau si cacing sudah melihat sendiri surga, barulah ia mengerti. Lalu sang dewa menutup hidungnya menjulurkan tangannya ke dalam kotoran itu, mencari-cari si cacing. Begitu ketemu ia menariknya.

“Woi, jangan ganggu aku!” teriak cacing. “Toloooong! Darurat. Aku diculik!” cacing kecil yang licin itu menggeliat dan meronta sampai terlepas, lalu kembali menyelam ke kotoran untuk sembunyi.

Dewa yang baik hati ini kembali merogohkan tangannya ke dalam kotoran, kena, dan mencoba menariknya lagi. Nyaris bisa keluar, tetapi karena si cacing berlumuran lendir dan terus menggeliat membebaskan diri, akhirnya lepas lagi, dan bersembunyi makin dalam. Berkali-kali sang dewa mencoba menarik cacing malang itu, namun si cacing begitu melekat dengan kotoran kesayangannya, sehingga ia terus meloloskan diri.

Akhirnya sang dewa menyerah dan kembali ke surga, meninggalkan si cacing dan kotoran kesayangannya.
Begitulah asal mula segala kisah buku ini bermula. Karena saya dulu memulai baca dari buku kedua jadi kisah ini baru kubaca semalam. Unik juga permulaannya. Dari kisah ini kita bisa ambil banyak hikmah, salah satunya adalah pengetahuan terkadang berbahaya. Si cacing tak tahu dunia luar, dia begitu bahagia di kehidupannya, sekalipun kita jelas menganggapnya jijik. Begitulah hidup. Doeloe waktu kecil saya bilang, nasi dengan tempe dikasih kecap itu adalah makan terlezat sedunia. Kenapa saya bilang gitu, karena saya tak tahu banyak makanan enak lainnya. Begitu beranjak dewasa jelas pengetahuan kita meningkat. Dan tentu saja makanan yang lebih lezat dari tempe banyak. Mungkin kalian merasa kasihan dengan masa kecilku dengan tempe-nya, dunia ini luas dan kaca mata kita begitu sempit.

Buku ini lalu berkisah cerita-cerita pendek lainnya yang sebagian mengisnpirasi, sebagian bagus, namun sebagian besar biasa, kalau ga boleh dibilang jelek. Beberapa sudah kubaca di tempat lain, seperti seorang lelaki berjuang untuk jodoh ‘Mencari Yang  Sempurna’. Namun gagal, sampai akhirnya dalam perjuanganya menemukan gadis sempurna, dia tetap gagal menikahinya karena ternyata sang gadis mencari lelaki sempurna.

Cerita paling unik menurutku ada di ‘Lima Malaikat’. Bagaimana sebuah mimpi menjadi firasat untuk berjudi. Mengumpulkan uang itu sulit, tapi menghabiskannya mudah – dan cara termudah untuk kehilangan uang adalah berjudi. Bagaimana mimpi tentang malaikat yang memberinya 5 kendi emas hingga menjadikannya kaya, firasat itu menuntun untuk pasang judi balap kuda nomor lima, menarik uang 5.000 Dollar dari banknya untuk memasangnya di kuda nomor 5 bernama 5 malaikat, balapan ke 5. Mimpi itu tak mungkin salah, dan jedeeer, sang kuda finis nomor 5!

Kisah ‘Aku Tahu Rahasiamu’ itu joke basi yang sudah kubaca lama sekali dan ada di buku ini! Jelas ini bukan karya bung Ajahn. Bagaimana seorang anak dapat duit dari bilang ‘aku tahu semuanya lho’ kepada kakak, ayah, ibu sampai akhirnya kepada pak pos. Kena batunya. Saya yakin sebagian kalian sudah baca itu. Sayang sekali. Bagian-bagian yang seperti ini yang membuatku ragu, jangan-jangan banyak nukilan kisah bukan karya asli beliau?

Kenapa saya tanyakan hal ini, pasalnya banyak kisah lainnya juga saduran. ‘Baik? Buruk? Siapa Yang Tahu?’ dari judulnya saja kita tahu ini tentang raja yang jarinya harus diamputasi. Judul ‘Orang Buta Dan Gajah’ tanpa membacanya saja kita tahu ini pasti tentang beberapa orang buta yang memegang bagian gajah lalu mendiskripsikannya, tentu setiap orang buta beda pendapat. Lalu kisah ‘Kura-Kura Bawel’ yang terbang bareng burung hingga akhirnya bernasib malang karena kebawelannya. Dan sebagainya dan seterusnya. Sayang sekali, nama besar itu memuat kisah yang bukan karya aslinya namun tak mencantumkan sumber atau setidaknya bilang ini kisah orang lain, ini hikayat, ini legenda, dan lainnya.

Jadi worth it ga nih dibaca, kalau sekedar dilahap masih bisalah, toh tak rugi apapun. Tapi kalau dibeli atau sampai dikoleksi, jelas eman-eman duite. Masih sangat banyak buku motivasi yang lebih hebat dari sekedar nukilan kisah-kisah biasa, ini. Pikir lagi!

Best Of The Best: Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya | by Ajahn Brahm | penyunting Handaka Vijjananda | Penerjemah Tasfan Sadikin | Penggambar Atama Studio | Penata Andreas Pratama | Penerbit Awareness Publication | ISBN 978-602-8194-89-1 | Cetakan 1, Juni 2016 | Skor: 2/5
Ruang HR NICI – Karawang, 251116 – Sherina Munaf – Pikir Lagi – Gajian Day

Advertisements

3 thoughts on “Best Of The Best: Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya – Ajahn Brahm

  1. Woh, mantap.
    Jadi ini buku itu kumpulan kisah2 pendek gitu toh.
    Kalau boleh minta pendapat, kenapa kamu bisa menilai sebagian kisahnya sederhana aja? Apa yg membuat kamu menilai kisah itu sederhana? Apa karena masalah dan resolusinya di ceritanya itu terlalu mainstream gan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s