The Girl With All The Gifts: Human Evolution Story Wrapped In Zombies

image

image

Melanie: They’re just trying to survive

Ekspektasiku ketinggian. Nonton di Selasa malam, malam terakhir tayang sebelum layar diserbu ‘Hewan-Hewan Buas’ karena pada bilang bagus, sampai ada yang bilang sehebat 28 Days Later maka saya paksakan untuk menikmati. Harapan memang berbahaya, maka ketika api membara di akhir saya merasa anti-klimak. Jauh sekali dibanding film Danny Boyle. Kekuatan ada di skoring film yang menghantui, sayang sekali cerita so so. Memang, ini adalah film lokal dari UK yang sukses lalu mengglobal, tapi tetap first thing first adalah cerita.

Kisahnya tentang anak perempuan yang punya kemampuan khusus di dunia masa depan yang mengerikan karena ras manusia terserang virus / jamur zombie. Aturan sama dengan dunia perzombiean kebanyakan. Gigit, tertular, kejar mangsa! Beberapa bagian tentu saja menjiikkan, seperti tikus penuh belatung, manusia menggigit manusia, terkam leher sampai koyak sampai rebutan binatang untuk jadi sasaran berikutnya.

Film dibuka dengan meyakinkan. Skoring film membuat suasana begidik. Setelah logo produsen dan distributor film muncul, ada hitungan anak perempuan: ‘one, two, three,… sampai di angka 42…” hitungan terhenti. Sebuah alarm bergema, Melanie (Sennia Nanua) perempuan kecil yang berhitung tadi menyembunyikan gambar kucing ke dalam bantal lalu memakai alat dalam kursi roda. Kedua tangan diikat, kepala dikekang bagian jidat lalu sepasukan tentara masuk ke dalam ruangan. Melanie dibawa ke dalam ruang kelas bersama anak-anak lain. Semua terikat dalam kursi roda, lalu kelas pun dimulai. Sebuah gambaran kelas yang janggal.

Lalu muncullah Girl Bond Gema Arterton sebagai guru kelas Miss Helen Justineau. Dia membacakan kisah mitologi Yunani, tentang dewa-dewa, tentang konflik legenda sampai sebuah kotak pandora yang penuh keajaiban. Lalu ketika kelas bubar dan semua anak kembali ke sel, penonton masih belum diberitahu sebenarnya ada masalah apa sampai mereka harus diikat. Malamnya seorang dokter Calorine Caldwell (Glenn Close) memberi beberapa pertanyaan kepada Melanie, dan diminta menyebutkan sebuah angka 1-20. Melanie sebut 13. Esoknya anak nomor 13 menghilang dari kelas. Saat kelas mengarang, Melanie membacakan cerita buatannya tentang putri yang hidup bahagia selamanya. Cerita yang menyentuh, sampai membuat guru Helen trenyuh, hingga ia mencoba mengelus kepala Melanie. “Semua baik-baik saja kan.” Hal itu terlarang, muncullah Sgt. Eddie Parks (Paddy Considine) marah besar, kontak fisik dilarang. Ditunjukkannya tangannya diludahi dan dihadapkan kepada salsh seorang anak, dan tadaaaa… muncullah adegan memilukan. Anak-anak itu berubah beringas. Mereka terengah-engah melotot mulut siap menemkam. Kecuali Melanie. Ternyata ia adalah anak istimewa. Judul cerita jelas merujuk padanya. Ia terlahir sebagai setengah zombie setengah manusia. Jadi punya kesadaran seperti manusia namun ada DNA zombie yang tiba-tiba mengganas.

Ketika kembali ke sel dan mereka diberi makan semangkuk belatung. Ketika malamnya Helen mengunjungi Melanie untuk memberi support. Ketika dokter Caldwell menanyakan sebuah angka dan Melanie menjawab nomor 4. Dan scene menunjukkan kamar nomor 4 adalah kamar Melanie, yang berarti esoklah dirinya yang disingkirkan dari kelas. Sampai di sini penonton masih dibuat tanya, ada apa ya?
Benar saja, esoknya setelah alarm meraung, anak-anak didorong ke kelas, Melanie dibawa ke tempat lain. Ke sebuah laboratorium, ternyata dokter Caldwell sedang menganalisis setiap anak dengan membedah kepalanya dan diambil otaknya. Melanie tentu saja ketakutan. Saat pembedahan akan dimulai, muncullah Helen yang mengancam. Dengan sebuah tabung APAR dia minta Melanie untuk dikembalikan. Debat itu menghasilkan, Helen ditangkap dan pembedahan dilanjutkan. Saat akan dimulai lab menjadi kacau, sekawanan zombie berhasil masuk dan memporakporandakan. Melanie selamat, dokter kabur. Di film ini zombie disebut Hungry – laper. Sebagian lagi, junky.

Dan keadaan pangkalan kacau balau. Tentara berjibaku, zombie-zombie memburu mangsa. Zombie ataact itu melumpuhkan segalanya. Dengan sebuah truk senjata brem ditembakan membabibuta, para karakter utama kabur. Truk itu membawa: Melanie, Helen, dokter Caldwell, Sersan Parks dan dua pasukan. Dengan scene yang membuat begidik, truk jalan dengan pasukan zombie berlari di belakangnya. Gambaran masa depan yang mengerikan.

Film berikutnya ya tentang mereka yang mencoba bertahan hidup. Sebuah serangan membuat tentara Dillon terluka, ia memohon masuk kembali ke truk namun malah ditodong pistol sama Sersan. “nih bos lihat, tangan saya ga kegigit kok. Hanya tergores batu.” Namun beberapa saat kemudian ia ditembak kepalanya karena sudah terinfeksi. Menyesakkan. Nah bagian berikutnya inilah yang mirip 28 Days Later. Mencari bantuan dari satu kota ke kota lain. London lumpuh. Zombie di mana-mana. Bedanya zombie di sini tak bisa mendeteksi manusia saat tidur. Tidurnya berdiri, jadi bayangkan saja sekumpulan orang berdiri tidur berjamaah. Saat mereka akhirnya harus mencari makan ke kota ke toko-toko yang terbengkelai untuk makanan instan dan mencoba melewati pasukan zombie, kisah ini menemukan titiknya. Sebuah bangunan menjulang tinggi dengan zombie-zombie tewas disekelilingnya, zombie itu terjangkit jamur jenis ophiocordyceps dan menjdikan manusia sebagai inang, jamurnya tumbuh tinggi dengan buah di mana-mana. Kalau sampai buahnya pecah maka seluruh dunia kiamat karena tak perlu gigitan untuk menularkan, hanya lewat udara yang dihirup manusia seketika terjangkit.
Di sana gerombolan ini menemukan mobil lab tenaga surya. Dalam mobil shelter itulah mereka berlindung. Di sana sang dokter akhirnya menemukan obatnya, obat itu ada di dalam Melanie dan anak-anak yang terjangkit. Dikejar waktu, akankah mereka berhasil bertahan hidup dan mengobati yang terjangkit, ataukah dunia koma dan tak terselamatkan?

Film ini spesial hanya tayang di Cinemaxx dan Blitz. Entah kenapa XXI tak mengambilnya, sehingga tak semua kota ada. Rilis di Indonesia tanggal 9 November, hari ini sudah turun layar. Cepat sekali. Tayang terbatas, mungkin memang film yang kurang komersil. Sayang sekali ekspektasi tinggiku tak terpenuhi. Film yang predictable. Film yang sekedar bagus, tak istimewa. Entah bukunya, mudah-mudahan suatu saat bisa kulahap. Sang penulis Mike Carey tampil cameo. Kalau kalian beruntung mengamati, di awal film saat sekumpulan zombie menyerang pangkalan ia mengenakan jaket dan shirt biru. Mike juga yang menggarap skenario. Sayang sekali film ini kurang menghentak, referensi film ini sudah banyak. Selain 28 Hari, film zombie dan sejenis menjamur. Serial the Walking Dead, film Brad Pitt World War z, I am Legend-nya Will Smith, Pride and Prejudice and Zombies sampai Warm Bodies. Memang aturan tiap yang bikin cerita beda-beda, namun intinya kan ya itu, Zombie take over the world. Tak banyak hal baru dalam The Girl.

Separuh film awal sangat menjanjikan. Separuhnya lagi kehilangan arah. Sama dengan film survival lainnya. Juara utama skoring. Pemilihan cast dengan aktris pendatang baru Sennia Nanua yang jadi pemeran utama termasuk sukses membawakan karakter Melanie. Daya tarik utama ya Gema Arterton, gadis Bond mana ada yang jelek sih.
Dunia masa depan memang misteri. Banyak gambaran megah, banyak pula penuh kehancuran. Film ini hanya selipan di pilihan kedua. Tak akan lama, akan terlupa.

The Girl With All The Gifts | Year 2016 | Directed by: Colm MacCarthy | Screenplay Mike Carey | Cast Gema Arterton, Glenn Close, Paddy Considine, Dominique Tipper, Anamaria Marinca, Daniel Eghan, Sennia Nanua| Skor: 3/5
Karawang, 171116 – Linkin Park – Burn It Down

Iklan

2 thoughts on “The Girl With All The Gifts: Human Evolution Story Wrapped In Zombies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s