Pioli Resmi Latih Inter Dan 10 Memori Laga Tak Terlupa Bersama The Great

image

“Ya, kita bisa katakan ini adalah Inter yang saya idamkan. Saya dibesarkan dengan lagu yang didedikasikan untuk Beccalossi dan Pasinato. Saya senang dan bangga karena setelah dipecat Lazio, saya dapat melatih Inter. Klub yang saya idamkan. Keluarga saya semua Interisti”

Seminggu lalu, di sebuah acara tv Jakarta bertajuk ‘Forza Inter’ secara tak sengaja ketonton olehku. Topiknya adalah pemecatan Frank De Boer dan kemungkinan mereka dilatih mantan pelatih Lazio The Great, Stefano Pioli. Dalam narasinya mereka menganalisis berbagai kelebihan sang mantan. Dari sukses di tim junior Bologna U-16, dan jadi satu-satunya piala milik Pioli sampai track rekornya melatih banyak klub. Dan tentu saja posisi terbaik Pioli di Serie A saat membawa Lazio nomor 3 tahun 2015 ditaruh paling atas dan berulang kali disebut. Sampai akhirnya highlight itu selesai, saya mengernyitkan dahi. Mereka lupa, atau mungkin tak tahu sejatinya satu-satunya prestasi Pioli di mata kami adalah memupus kutukan Genoah. Posisi ketiga kita tetap kecewa, target scudetto bung! Masuk final Coppa Italia? Bah. Jangan singgung kompetisi kedua kalau tak juara. Jadi apa yang dibanggakan? Di musim 2014/2015 kita punya skuat juara. Bintang di berbagai lini, dan tak ada tropi sama dengan gagal. Apalagi di akhir masa baktinya, kita dikalahkan tetangga dengan sangat memalukan. Jadi wajar di kepala kami, Pioli adalah produk gagal.

Mari segarkan ingatan. Berikut 10 memori laga tak terlupa Stefano Pioli bersama kami.

1. Terbenam Dan Tersingkir Di Bay Arena – 27 Agustus 2015

“Kami belum siap untuk level ini.”

Gegap gempita Lazio menuju Liga Champion hancur lembur di Jerman. Setelah mengantongi satu gol kandang lewat Keita Balde, Pioli bukannya lebih memperkokoh pertahanan malah tetap terpaku dengan pola sama, bayangkan ke BayArena pakai 3-4-3 ya bunuh diri. Mimpi itu semu.

2. Prahara Praha – 18 Maret 2016

“Kami membuat kesalahan awal yang setelahnya jadi rumit.”

Kecewa hanya bermain di kasta kedua Eropa, saya berharap kita mending fokus di kompetisi domestik dan melepas Liga Europa, eh tak dinyana Lazio malah unbeaten. Melaju terus, saking mulusnya malah jadi satu-satunya wakil Italia di Eropa. Setelah Juventus dipastikan kandas, dan pekan sebelumnya skor 1-1, kita bisa saja lolos andai 0-0 atau menang dengan skor berapapun. Dan duuuuerrr, di Olimpico luluh lantak 3 gol. Kekalahan pertama dan satu-satunya, tersingkir.

3. 8 kemenangan Beruntun Lalu Terhempas– 18 April 2015

“Juve adalah yang terkuat, mereka telah membuktikannya dalam beberapa tahun terakhir. Saya menyelamati Allegri soal hasil di Eropa yang menjadi tumit Achiless.”

Dalam delapan pekan, Lazio menggasak semua lawan dan melompati semua kompetitor, eh maaf, nyaris kompetitor hingga nangkring di posisi kedua. Juventus yang memang sedang on fire masih di atas, walau pekan sebelumnya tumbang sama Parma yang bangkrut. Target kemenangan kesembilan adalah head-to-head dengan sang pemuncak, jadi laga itu bernilai 6 poin. Bermain di kandang, rekor itu terhenti.

4. Kutukan Genoah Patah – 24 September 2015

“Spirito guito, domani si torma in ritiro, dovevarno essere brutti, sporchi e cattivi.”

Sejak 2011 Lazio kalah sama tim antah Genoah. Bukan hanya periode 2011 sampai 2015 doang sih, sebelum-sebelumnya memang tim ini kamvret banget. Jink, dan begitu susah ditaklukkan. Jadi wajar dini hari di dinginnnya bulan September 2014 kala takbir bergema di seantero Indonesia jelang hari raya, Lazio was-was menjamu Genoah. Namun pagi itu semua berjalan tak wajar. Alam berkonspirasi. Wasit begitu memihak kami, dua kartu merah (salah satunya buat sang mantan Goran Pandev!), belasan free kick dekat garis gawang dan betapa permainannya begitu monoton. Hari  bersejarah itu berproses lewat tandukan Filip Djorjevic setelah dapat umpan matang Senad Lulic dan sebuah sepakan jarak jauh Felipe anderson. Ga peduli main seburuk dan semembosankan apa, kutukan itu akhirnya terputus.

5. Derby Paling Memalukan – 4 April 2016

“La Lazio Comunica di aver sollevato dall’incarico il Mister Pioli”

Itu adalah bunyi twitter @officialSSLazio setelah mengalami derby terburuk dalam 10 tahun terakhir. Lelah adalah kata yang mewakili laga memalukan itu, saya masih ingat malam pulang nobar. Seluruh Laziale Karawang pulang dengan gontai, tak ada salam peluk atau sekedar foto bersama. Kamu bisa kalah sama Salernitana, Cremonese atau Perugia tapi jangan sampai sama tetangga. Apalagi dengan skor telak. Tentu saja ini harus jadi hari terakhir Pioli bersama kami.

6. Matri – 21 Mei 2015

“Inilah sepak bola, tersusun atas berbagai macam insiden dan Juve memaksimalkan situasi tersebut untuk mencetak gol. Pemain saya sudah bermain dengan kualitas tinggi.”

Ada mitos di Serie A, tim yang gagal cetak gol karena bola menerpa mistar akan kalah. Malam puncak Coppa Italia 2015 jadi bukti fenomena itu. Pioli menyalahkan dewi fortuna karena dua kali bola mencium gawang. Sejatinya laga berjalan seru, Lazio unggul cepat. Sialnya kita gagal menambah skor untuk membunuh lawan, justru skor berubah sama hingga memaksa laga final ke perpanjangan waktu. Gol itu tercipta dengan buruk, Allesandro Mauri nemu bola liar di menit 97 untuk mebuat Juve double winner. Siapa sangka detik-detik akhir jendela transfer menakdirkan sang antagonis bergabung. Entah setan apa yang ada di kepala Pioli hingga memutuskan meminjam pemain ini.

7. Massive Victory 4-0 Fiorentina – 9 Maret 2015

“Gara perfetta” – “Ras sempurna”

Kalau ditolok dari cara bermain, maka laga lawan Fiorentina adalah puncak permainan Lazio era Pioli. Laga luar biasa. Dominasi, akurasi, efektif possision, sampai satu dua sentuhan yang memanjakan mata. Bisa saja Lazio menang 7 sampai 10 gol, namun 4 gol dengan cara brilian tentulah keren. Kemenangan ini adalah salah satu dari 8 rangkaian kemenangan 15 Februari 2015 sampai 15 April 2015. Lebih istimewa lagi, timnya Montella sedang dalam grafik 13 pertandingan tak terkalahkan lalu kita hempaskan di Olimpico.

8.Salto Hernanes – 11 Mei 2015

“Sepakbola ditentukan oleh insiden-insiden. Kami punya kesempatan untuk mencetak lebih banyak gol. Dua kartu merah membuat situasi lebih rumit.”

Dulu, salto Hernanes adalah hiburan tersendiri buat Laziale. Meninggalkan Formello dengan air mata buaya, sang mantan melakukan selebrasi – dua kali –  yang memuakkan. Setelah unggul cepat via gol Candreva. Lazio kehilangan bek Mauricio, langsung kartu merah. Hernanes salto setelah free kicknya masuk. Sejam berjalan, giliran Machetti yang diminta keluar. Pinalti Icardi diblok Berisha. Lazio terus ofensif kendati hanya bersembilan. Petaka itu datang lewat serangan balik, dan lagi, Hernanes salto. Busuk.

9. Verona – 12 Februari 2016

“Kami akan memenangkan banyak pertandingan dan mengambil banyak poin, tapi itu tidak mudah bagi kami untuk mengalahkan para pesaing.”

Menang lawan klub dari Verona dengan skor telak bagiku istimewa, tak peduli di kompetisi apa, tak peduli itu Chievo atau Hellas. Ingat sekali saya, saat itu saya upload gambar-gambar kemenangan 5-2 atas Hellas, Sahala teman FOC  – Football on chat – komplain. “Astaga, hanya Hellas”. Dan siapa sangka kemenangan 5 gol itu jadi pertandingan terbaik Lazio di musim suram 2015/2016.

10. Pinalti Higuain – 2 Juni 2015

“Saya selalu mengatakan tim saya spesial. Sebuah tim yang memiliki semangat juang tinggi. Kami melakukan segalanya melawan Napoli. Kami memang pantas di posisi ketiga.”

Pertandingan akhir musim 2014/2015 ini sangat menguras emosi. Bermain ke Naples yang angker, kita sudah unggul 2 gol saat separo babak. Bisa saja Gonzalo Higuain membalikkan keadaan saat pertandingan menyisakan 15 menit setelah ia cetak dua gol penyama 2-2. Seandainya pinalti itu masuk kita terdepak dari 3 besar, presure tinggi itu menempatkan bola terbang di atas tiang. Di menit injury Lazio memantapkan kemenangan penting 2-4 lewat Klose. Hasil ini membuat Klose menunda pergi, guna meladeni kompetisi elite Champion musim berikutnya. Namun harapan sang legenda pupus hingga akhirnya pensiun. Salahkan Pioli!

Well, good luck Pioli. Mudah-mudahan sukses. Sebagai kado dari kami, teman-teman Football On Chat memprediksi pada pekan berapa anda dipecat?

LBP
Pekan 31.
Lima kalah, nyaris dipecat. Yang ke 6 menang. Rumor hilang. Kalah lagi sama tim lemah. Rumor pecat. Sampai di angka keramat 31. Tamat.

Widy
Pioli : pekan 18
Pioli oh Pioli menggantikan de Boer. Dia Eks Manager Lajio. Sepertinya juga bakal didepak keluar jika tidak mulus perjalanan membawa Inter kembali kejalur yang benar. Kuisnya agak nyeleneh😁.

Huang
Pekan: 24
Pioli ndak akan dipecat. Kuis ini hanya akal-akalan sang mantan doang. Inter 2-1 Lazio.

Adit
Pioli : Giornata 27
Pioli oh Pioli. Nasibmu akan geli. Jangan lagi kembali.

Arip
Pioli : Giornata 33
Pioli ga bakal dipecat. Pioli akan bawa Inter ke UCL. Pioli lehen Lazio.

Dc
Pekan 32
Mending Matthäus, ada unsur lejennya. Ini malah nama ga jelas Pi Oli. Hihihi apaaa coba.

Bob
pekan 28.
Adaptasi lagi dengan pelatih baru menjadi kendala. Ibarat kapal udah bocor dimana-mana. Pergantian nahkoda ga ada hasilnya.

JJ
Pekan 37
Masih menunggu Simeone. Untuk performa tidak terlalu buruk. Yah paling masuk liga yurop lagi.

Jokop
Kuis Pioli.
Sampai akhir musim , pekan 36 mulai dipecat. Pekan 37 kosong pelatih.
Dilanjut Simeone/Mourinho sepertinya.

Takdir
Buset jahat banget Inter. Pekan 30 deh. Give pioli a chance. Hahhh. Ga paham dinamika inter sik hiks gimana ya. Yang jelas kalau inter mecat pioli mereka akan menyesal.

Panji
Pioli : pekan 32
Bukan apa-apa. Susah cari gantinya tunjuk pioli gak membaik, terpaksa ganti pelatih interim.

Prima
Kuis pioli
Pekan 37
Inter ga mau buang2 duit lagi. Pasrah apapun hasil musim ini. Musim depan main serie B.

“SS Lazio mengumumkan bahwa Stefano Pioli akan menjadi pelatih baru tim utama mulai 1 Juli 2014.”

Karawang, 131116 – Train – All I Hear

Iklan