Reasonable Doubt: Mind Game Becomes Corny Thriller

image

Clinton Davis: Well, it looks like you just f**ked up our reasonable doubt here, Mitch.

Film dengan bintang besar Samuel L Jackson. Seperti judulnya, kisah dalam film ini akan membuat penonton terhanyut dalam pikiran sang tokoh, ikut memberi alasan meragu. Permainan pikiran, awalnya sangat menjanjikan. Plotnya disusun dengan rapi dan terus tensinya terjaga — sampai di tengah. Sayangnya eksekusi akhir gagal meledak. Khas film happy ending yang akan membuat remaja ceria.

Semenjak baca buku Sidney Sheldon, ‘Malaikat Keadilan’ saya suka segala cerita tentang hiruk-pikuk gedung pengadilan. Maka saat film dibuka dengan jeritan anak kecil yang takut darah di musim salju yang dingin di sebuah taman bermain lalu judul muncul dan disambung ke sebuah Pengadilan Boston, maka tinggi jua harapan ini. Kisahnya, seorang jaksa kota Mitch Brockden (Dominic Cooper), pria asal Riverdale sedang bernarasi di depan juri betapa tersangka patut dijatuhi hukuman berat. Rekannya Stuart Wilson (Dylan Taylor) tampak terpesona, betapa Mitch begitu pintar meyakinkan orang-orang.

Mitch punya keluarga yang sempurna. Istri cantik Rachel Brockden (Erin Karpluk) yang begitu mendukung karirnya. Buah hati yang baru lahir yang begitu menggemaskan. Gambaran American Dream, keluarga kecil dengan masa depan menjanjikan. Malam itu Mitch sedang keluar sama teman-temannya ke bar sampai teler. Setelah berpisah, dalam keadaan mabuk ia pulang nyetir SUV. Di tengah jalan, di belakangnya ada sirene polisi. Panik, takut kena tilang Mitch menjaga jarak. Saat ada belokan ke kanan, ia ambil untuk memastikan polisi itu tak mengejarnya. Dan benar, sirene melaju lurus meninggalkannya. Hufh…, lega. Tapi konflik sesungguhnya baru dimulai. Karena tak konsentrasi ia menabrak pejalan kaki, eh seseorang yang lari?
Panik, setelah turun ia mencoba membantu. Lukanya parah, wajah penuh darah, gemetar, dan sekarat? Setelah diselimuti dengan jaketnya, Mitch coba telepon ambulan. Namun saat ia tengok kanan kiri sepi, ia secepatnya berlari ke telepon umum boks. 911 – cari bantuan. Setelahnya Mitch kabur, kini ia seorang kriminal tabrak lari. Segera ia cuci mobilnya, ia buang jaket yang kena darah. Semua bukti ia lembar ke bak sampah, singkirkan. Kembali ke hangatnya tempat tidur seakan tak terjadi apapun, yah sekalipun ia tak bisa terlelap. Kepikiran.

Paginya ia kena tegus istri karena bamper mobil penyok, ia minta maaf karena semalam teler dan mengemudi. Janji tak akan diulang. Di kantor setelah saling sapa yang kikuk, ada dua petugas polisi datang dan akhirnya kita semua tahu. Korban tabrak lari itu tewas. Korban bernama Cecil Akerman (Karl Thordarson). Langsung runtuh pikiran Mitch, merasa sangat bersalah meninggalkan korban tergeletak tanpa bantuan medis.

Berjalanya waktu, investigasi menunjukkan Cecil bukan korban tabrak lari, namun korban pembunuhan berencana. Sang tersangka sudah ditangkap. Seorang kulit hitam yang terlihat muram. Clinton Davis (Samuel L. Jackson) yang kini sebatang kara dituduh melakukan pembunuhan berencana tingkat pertama. Bosnya meminta Mitch untuk menuntut hukuman berat. Disinilah dilema itu. Sang penabrak lari menuntut tersangka. Sebuah gambaran menarik di ruang sidang.

Sementara saudara Mitch yang galau datang, Jimmy Logan (Ryan Robbins) yang suka memerasnya. Ada konflik keluarga yang membuat Jimmy tak diakui sebagai saudara. Dengan ironi dia bilang, betapa dunia kebebasan begitu menyenangkan. Semua orang tak ingin kebebasannya terenggut.
Mitch tentu saja setengah hati menuntut tersangka. Aksi di ruang sidang begitu dingin, sehingga membuat rekan dan bosnya bingung. Saat akhirnya sidang menemui hari pengambilan keputusan, sang pembela meminta saksi baru, seorang saksi kunci. Bersamaan itu, Mitch yang tak bisa mengenyahkan pikiran kalut karena merasa bersalah sebenarnya sudah mau mengakuinya. Sang hakim G. McKenna (John B. Lowe) yang geram mereka bicara saling silang dan bersamaan meminta saksi itu dipanggil. Mitch terkejut, ternyata saksi kunci itu adalah sang penelpon 911 dan ada di ruang sidang dan itu bukan dia! Tak lain adalah saudaranya, Jimmy. Berkat kesaksian Jimmy semua lega. Kasus ditutup, Cecil diputuskan sebagai korban tabrak lari. Clinton bebas. Penyelidikan dilanjutkan dengan mencari tersangka lain. Seharusnya Mitch-pun lega, setidaknya ada orang tak bersalah lepas dari penjara.

Babak baru film ini sebenarnya dimulai di sini. Di luar sidang, Mitch ngobrol dengan Clinton sambil merokok, mengucapkan selamat. Dan berujar kalimat yang menohok sekali. “Maybe he’ll turn himself in”. Dan dibalas dengan seyum masam, “Would you?” Jawaban Clinton itulah yang memicu keraguan, wah ini nih, sepertinya ada saksi saat mobilnya menghantam Cecil. Dengan rasa penasaran ia pun kembali ke TKP – Tempat Kejadian Perkara.
Ditemukannya puntung rokok di bak sampah pertigaan, rokok yang sama punya Clinton, lalu sebuah sidik tangan berlumpur darah, lalu dari tempatnya berdiri ia bisa dengan leluasa mengamati TKP. Jelas, Mitch dan Tuhan bukan salah dua saksi malam itu. Dalam investigasi singkat, dia meyakini Cecil dibunuh. Terlambat? Bisa jadi. Karena saat ia melapor pada detektif Blake Kanon (Gloria Reuben), dia kena omel. Bukankah dia yang minta kasus ditutup eh malah minta dibuka lagi.
Merasa yakin Clinton bersalah, Mitch bak pahlawan lokal memutuskan menyelidiki sendiri. Masuk ke kantor polisi menyelinap mencuri file kasus, membuntuti sang target, masuk rumahnya lewat jendela, ikut ke tempat kerja dengan membuntutinya, sampai berdamai dengan Jimmy meminta bantuan. Apes, dia ketahuan. Clinton yang memergokinya berbalik membalas. Berpacu dengan waktu, siapa yang akhirnya unggul dalam permainan pikiran ini?

Sebuah film yang menawarkan kesegaran plot. Memberi keraguan penonton, mengajaknya terlibat setiap keputusan yang diambil. Seperti Basic Instinct yang membuat penonton ketakutan dan setiap tanya selalu disimpan. Sayangnya, dalam Reasonable beberapa kunci sudah diungkap, dan salah eksekusi. Semua clear, tak perlu diragu mana hitam dan putih. Film yang berpotensi meledak, benar-benar patut dirutuki sumbu ledak itu tak berpicu. Jadinya malah kurang nendang.

Beberapa bagian kurang OK. Ada plot hole, kalau kalian perhatikan saat Rachel terjebak dalam rumah dengan Clinton, ia mengisi gelas dengan air kran baru keisi separuh. Lalu memutuskan kabur sembunyi, saat Clinton sampai di depan kran gelas itu full. Ada jin yang iseng?

Film ini aslinya berjudul The Good Samaritan, dan syutingnya hanya 27 hari. Hufh, pantas saja. Singkat, kilat dan serasa asal jadi. Bintang sehebat Samuel L. Jackson tak bisa dimaksimalkan. Cooper yang awalnya bagus dari sikap yang meyakinkan sebagai jaksa, meragu akan fakta lalu berani mengambil keputusan berani. Malah terjatuh karena script akhir yang buruk. Semua itu gagal landing. Jelas film ini akan segera terlupa, kali ini dengan alasan tanpa ragu.

Reasonable Doubt | Year 2014 | Director Peter Howitt | Screenplay Peter A. Dowling | Cast Dominic Cooper, Samuel L. Jackson, Gloria Reuben, Ryan Robbins, Erik Karpluk, Dylan Taylor, Karl Thordarson | Skor: 3/5

Ruang HR NICI, Karawang, 291116 – Backstreet Boys – Shape Of My Heart
Karaoke Day with Rani, Boyband List

Iklan

An Artist Of The Floating World – Kazuo Ishiguro

image

Jika suatu hari yang cerah kau mendaki jalan curam kea rah bukit dari jembatan kayu kecil yang ada di sekitar sini masih dikenal sebagai ‘jembatan keraguan’, kau tak perlu berjalan jauh hingga mendapati atap rumahku tampak di antara ujung dua pohon gingko. Bahkan, meskipun posisi rumahku tidak terlalu strategis di atas bukit, bangunan itu masih akan tetap mencolok dibandingkan dengan rumah lain di sekitarnya, jadi begitu mulai menaiki jalan setapak itu, kau akan mendapati dirimu membayangkan sekaya apa si pemiliknya. – opening

Benarkan, akhirnya jadi buku pertama yang kubeli bulan ini selesai baca dan review. Pertama dengar nama Kazuo Ishiguro saat salah satu bukunya, Never Let Me Go difilmkan tahun 2011 dibintangi oleh Carey Mulligan yang sedang panas-panasnya setelah An Education booming. Saat itu saya baca preview-nya di majalah TFI – Total Film Indonesia, betapa buku-buku menakjubkan ini jadi salah satu film yang wajib diantisipasi jelang musim penghargaan. Beberapa bulan kemudian saat nominasi Oscar diumumkan, Never Let Me Go tak ada dalam daftar. Sama sekali tak diperhitungkan. Karena penasaran, saya tonton dan hasilnya memang masuk kotak film adaptasi yang gagal. Terlalu lembek, dan seakan setiap scene menjelaskan ‘beri kami piala, please…’ yah sayang sekali.
Sampai sekarang saya belum berkesempatan melahap bukunya. Malah dapat buku lainnya dan jadi kesempatan perdana karya beliau yang saya nikmati, An Artist Of The Floating World. Hasilnya? Amazing. Indah sekali cara bertutur. Kisahnya sendiri menawarkan sesuatu yang sendu. Dengan setting Jepang pasca Perang Dunia II (PD II). Negara satu-satunya di dunia yang dijatuhi bom atom, luluh lantak. Negeri ini dalam keadaan yang memprihatinkan. Sebuah keluarga pelukis mencoba bertahan hidup dalam dinamika itu. Namun bukan pelukis biasa.

Kisah dibuka dengan penjelasan latar belakang sang tokoh utama, seorang seniman lukis yang sukses Ono-san. Setelah istrinya meninggal, kini ia pensiun. Dengan tiga orang anak, satu laki-laki bernama Kenji yang tewas sebagai korban perang dan dua putri, Setsuko yang sudah menikah mempunyai anak kecil bernama Ichiro dan putri bungsunya Nuriko yang galau karena gagal menikah. Awal dia pindah rumah ke seorang konglomerat Akira Sugimura dijelaskan dengan sangat lugas. Bagaimana histori rumah itu, dari orang terpandang, setelah Mr. Sugimura  meninggal anaknya menjual rumah itu kepada calon pembeli dengan selektif, mereka menyebutnya prosedur eksentrik ‘lelang martabat’. Hingga akhirnya rumah itu dihuni oleh keluarganya.

Suatu hari Setsuko berkunjung ke rumah ayahnya. Menanyakan alasan kegagalan nikah adiknya. Awalnya pembaca tak diberitahu karena alasan klasik, keluarga cowok yang sederhana merasa tak layak menikahi putri seniman kaya. Namun lambat laun kita tahu, bukan sesederhana itu. Di masa lalu, sang seniman perang pernah memeluk aliran Kiri. Di Jepang, sama dengan Indonesia, segala yang tak sama dengan Pemerintah disingkirkan.
Kisah lalu melalangbuana ke masa lalu Ono-san. Bagaimana awal mula dirinya menjadi Pelukis ditentang ayahnya. Lukisannya dibakar dan dianggap anak tak berguna, Pelukis adalah profesi malas yang tak menjanjikan kekayaan. Bagaimana dirinya tetap berpegang teguh pada passion-nya. Lalu masa melompat saat dirinya kuliah lukis, belajar dan bekerja kepada sanggar Master Takeda yang ketat. Kualitas dan kuantitas yang tinggi membuat para Pelukis ditempa luar biasa. Bagaimana persahabatan yang erat dengan rekan serta persaingan karya lukis. Salah satu rekannya yang dikenal sebagai Si Kura-Kura, karyanya bagus namun dibuat dengan sangat lambat.

Lalu masa saat dirinya akhirnya pindah kerja kepada Master Mori-san. Dari sinilah dia makin hebat. Mengajak serta teman-teman baiknya. Menghabiskan masa muda yang berapi-api. Hingga waktu juga yang menempatkannya untuk bertranformasi menjadi sensei. Namun suatu ketika seorang temannya Matsuda membuka mata hatinya. Bagaimana Jepang ada di garis kemiskinan, politikus dan pengusaha yang tamak, Jepang butuh kesetaraan seperti China. Hal ini mengubah pandangan hidupnya, sebuah lukisan penuh makna Sayap Kiri dicipta. Memecah berbagai komentar, sebelum Perang berkecamuk, hati Mr Ono sudah berkecamuk.

Di masa kini, di hari tua. Kita diajak bersafari dengan cucunya yang berani. Cucunya yang lebih modern, mengenal The Lone Ranger dengan gaya ala koboinya ketimbang legenda Jepang. Lalu anak bungsunya yang gagal nikah, mulai dekat dengan Taro Saito. Anak seorang dokter. Belajar dari pengalamannya, dia lalu mengunjungi teman-teman lamanya  untuk jaga-jaga seandainya mereka didatangi Dr Saito mohon ceritakan yang baik-baik. Di zaman itu, mungkin lazim ya saling selidiki latar belakang keluarga sebelum memutuskan jadi ga nya berbesan.
Akankah Noriko jadi menikah dengan Taro? Apakah menantunya yang membenci masa lalu Mr Ono dapat memaafkannya? Bagaimana masa Jepang Pasca PD II bisa kembali bangkit dari reruntuhan? Sungguh hebat buku ini. Setting utama memang tahun 1948 – 1949an namun Kazuo Ishiguro dengan hebat memainkan pola maju-mundur yang istimewa. Di mana kita ditantang memasuki plot-sub-plot yang berlapis. Karena secara tiba-tiba bisa saja kisahnya melangkah jauh ke belakang kemudian dalam sekejap ada di masa lain. Semua dituturkan dengan keren.

Kutipan-Kutipan
Istriku berdebat tentang pentingnya kami memiliki sebuah rumah untuk menjamin status kami – bukan untuk menyombongkan diri – namun untuk kepentingan prospek pernikahan anak-anak kami. – halaman 4
Setsuko sedang menatap ke arah taman, dengan cangkir teh di kedua tangannya seolah lupa taman itu ada di sana. – 15
Rekomendasi dari seorang sensei yang luar biasa akan mengundang respek dari semua orang. – 18
Dan jika suatu hari nanti aku dipromosikan, aku takkan pernah melupakan orang yang telah membuatku bisa memulai perjalanan karierku. – 19
Aku menyebutnya ‘distrik kami yang menyenangkan’, tapi menurutku area ini tak lebih dari sekedar tempat untuk minum, makan, ngobrol-ngobrol. – 23
Tentu saja, biasanya aku mengacuhkan mereka, namun di momen istimewa ini, ketika Shintaro dan adiknya berdiri membungkuk hormat dan tertawa di pintu masuk rumahku, ada kilau kepuasan yang hangat singgah di hatiku. – 25
Masa pensiun memberikan waktu luang lebih banyak. Tentu saja, salah satu hal menyenangkan dari pensiun adalah kau bisa melewati hari dengan ritme yang kau atur sendiri, santai karena kau tahu telah bekerja keras dan memupuk prestasi di masa lalu. – 43
“Seniman,” suara ayahku berlanjut, “hidup dalam kemelaratan dan kemiskinan. Mereka menghuni dunia yang memberikan mereka setiap godaan untuk menjadi orang berkemauan lemah dan berakhlak buruk…” – 49
“Satu-satunya yang berhasil dilakukan ayah berkat pembakaran ini adalah ambisiku.” – 50
“Ketika kau masih muda, banyak hal yang nampak membosankan dan tak berjiwa. Namun, begitu kau menua, kau akan memahami bahwa inilah hal-hal yang paling penting untukmu.” – 51
Namun ketika seorang pria mempengaruhi istrinya untuk mencurigai ayahnya sendiri, hal itu cukup untuk melahirkan kebencian. – 54
Mungkin aku hanya berkhayal, namun seorang ayah pasti menyadari perubahan nada suara dalam perkataan putrinya. – 56
Ketika aku bertanya apakah kantor yang baru saja ia tinggalkan tadi adalah tempatnya bekerja, ia mulai tertawa gugup, seolah aku baru saja memergokinya keluar dari rumah bordil. – 57
Dunia kelihatannya sudah gila. Setiap hari ada saja kabar orang yang bunuh diri karena merasa bersalah. – 60
Tampaknya tak ada akhir untuk kematian karena keberanian. Separuh lulusan SMA-ku telah tewas karena menjadi pejuang. Mereka melakukan karena sebab yang konyol, meskipun mereka tidak pernah tahu itu. – 63
Sejauh apa pun jalan kehidupan memisahakan kita di tahun-tahun mendatang, aku akan selalu mengingat kebaikanmu. – 77
“Dan setiap kali bertemu dengan bakat yang membuatku antusias, aku harus berbuat sesuatu dengannya. Aku ingin mendiskusikan beberapa ide denganmu Mr Ono. Ide yang mungkin tak pernah terlintas di benakmu sebelumnya, namun menurutku akan sangat bermanfaat bagi perkembanganmu sebagai seorang seniman.” – 98
Sensei sangat baik padaku selama ini. Aku tak mampu menghitung kebaikanmu padaku. – 111
Selera buruk? Sekarang aku jadi penasaran. Tahu tidak Noriko, tidak biasanya ada orang yang mengasosiasikan selera buruk denganku. – 117
Meniru gaya seorang guru bukan hal yang buruk untuk sementara. Seseorang bisa belajar banyak dengan cara itu. Namun, di saat yang tepat kau akan mengembangakn ide dan teknikmu sendiri, apalagi jelas kau adalah seorang pemuda yang amat berbakat. – 122
“Kau terlalu muda, Mr. Enchi untuk mengetahui tentang dunia ini dengan segala kerumitannya.” – 125
Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa orang seperti akulah yang bertanggungjawab terhadap hal-hal buruk yang terjadi pada bangsa kita. – 135
Setidaknya tidak perlu malu luar biasa terhadap kesalahan yang disebabkan keyakinan terbaik kita. Pasti jauh lebih mamalukan jika tidak bisa atau tidak mau mengakui kesalahan tersebut. – 137
Kadang, bila seseorang berhasil mendidik murid yang berbakat dengan susah payah dalam waktu lama, ia akan sulit melihat kedewasaan dari bakat muridnya dan malah menganggap itu sebagai penghianatan, dan situasi yang akan disesali mulai muncul. – 155
“Selama beberapa hari terakhir ini, yang lain sudah melakukan hal-hal buruk padaku. Namun yang paling melukaiku adalah penolakanmu untuk berkata sepatah katapun.” – 156
Aku menyadari, lentera di atas pintu memantulkan bayangan besar benda-benda di sekitarku, efeknya menakutkan, seolah sedang duduk di miniatur pemakaman yang janggal. – 160
Saat aku sudah tua dan menoleh lagi pada kehidupanku yang dulu dan mendapati diriku mendedikasikannya untuk memotret keunikan sisi dunia itu, kukira akan merasa puas. Dan tak ada orang yang membuatku merasa telah menyia-nyiakan waktuku. – 165
“Tak masalah jika kau mencampur sakenya dengan air. Mungkin para perempuan seperti kalian tidak mengerti, namun hal ini sangat bagi lelaki muda seperti Ichiro. Ini soal harga diri. Dia akan mengingat ini sepanjang hidupnya.” – 171
“Aku jadi penasaran, aku ingin tahu apakah lukisanku ini juga akan menginspirasimu?” – 178
Ada beberapa tipe seniman saat ini. Mereka yang memiliki bakat besar dan bersembunyi dari dunia nyata. Sayangnya, seniman ini kini mulai mendominasi. Dan kau mulai berada di bewah pengaruh mereka… aku ragu apakah kau tahu Karl Marx. – 188

Overall
Bukan pertama kali saya kecewa sama cetakan Elex Media Komputindo. Kertasnya mudah rontok, untuk sebuah Percetakan Besar aneh rasanya kualitas seadanya. Lalu typo masih saja ketemu, ada belasan kutemui, sedikit mengganggu. Pemilihan kover saya suka yang minimalis, dan An Artist Of The Floating World lumayan cathy. Kualitas terjemahan Ok.

Well, buku pertama Kazuo Ishiguro yang sangat memuaskan. Sayangnya tipis, jadi cepat banget selesainya. Kurang banyak konflik, kurang luas penjabaran para karakter. Namun, jelas buku ini ditulis dengan riset dan ketelitian yang memadai. Jelas buku ini akan memicu buku-buku karya beliau yang lain untuk dilahap. Apakah itu artinya Never Let Me Go jadi yang berikutnya? Mari kita lihat.

Masa Penuh Kebimbangan | diterjemahkan dari An Artist Of The Floating World | by Kazuo Ishiguro | copyright 1986 | Alih Bahasa Rahma Wulandari | Penerbit PT Elex Media Komputindo | 188130182 | ISBN 978-602-02-0497-0 | Untuk Orang tuaku | Skor: 4/5
Karawang, 281116 – Sherina Munaf – Pikir Lagi

Dunia Kafka – Haruki Murakami

image

Sebagian besar pilihan yang kita buat dalam hidup memang menyakitkan. – Johnnie Walker

Buku ketiga yang saya lahap dari Haruki. Wonderful. Kisahnya sangat inspiratif. Memasuki dimensi dunia ketiga dan ketika sampai di halaman terakhir, rasanya nihilitas. Hampa. Bukunya sangat tebal, tembus 600 halaman dengan tulisan kecil-kecil. Kunikmati tiap lembarnya dengan cepat karena memang selalu penasaran nasib tiap karakter. Sedikit di bawah Norwegian yang liar, namun secara keseluruhan tetaplah mempesona.
Kisahnya sangaaaat panjang. Tentang seorang remaja bernama Kafka Tamura – nama yang aneh namun sangat mudah diingat – yang berusia lima belas tahun yang kabur dari rumah. Tentang seorang kakek bernama Nakata yang kehilangan separo ruh-nya sehingga tak bisa membaca, namun bisa bicara dengan kucing. Tentang perjalanan hidup seorang wanita kesepian yang ditinggal mati kekasihnya sehingga memutuskan tak menikah. Tentang seorang sopir yang mencari jati diri melintas kota. Tentang dunia lain, dimensi kehidupan yang berlapis dan semesta tak berbatas. Diaduk dan diramu menjadi cerita luar biasa. Nyeleneh, unik. Sungguh hebat ada kisah rumit namun sangat nikmat dilewati.

Kisahnya dibuka dengan menarik. Seorang remaja kabur dari rumah gara-gara pemikirannya yang out of the box. Ingin menikmati kebebasan, bersama imaji pemuda bernama gagak yang muncul saat dirinya butuh teman ngobrol atau jalan keluar. Kafka seorang anak di penghujung SMP pergi ke kota Shikoku – jaraknya jauh ke Selatan Tokyo. Dengan ransel untuk keperluan sehari-harinya ia naik bus tujuan Takamatsu. Perjalanan menemukan jati diri. Saat di perhentian bus ia berkenalan dengan gadis cantik dengan dua cincin di jari. Bukan cincin kawin, hanya cincin biasa yang bisa kita beli di butik murah. Gadis dengan rok mini itu lalu memutuskan duduk bersama. Gadis asyik bernama Sakura, nantinya ia akan menjadi semacam kemelut karakter di kepala yang sampai akhir kuharap ada kejadian luar biasa namun hanya selalu, hampir.

Sesampai di Takamatsu ia langsung menuju ke Perpustakaan kota, Perpustakaan Komura. Sebuah tempat baca swasta yang nyaman, impian para kutu buku ini. Perpus yang mengkhususkan pada buku-buku tertentu, terutama buku tua berisi puisi tanka dan haiku. Tentu kau tak akan menemukan buku karya sejenis Stephen King. Di meja penerima tamu, ia berkenalan dengan Oshima. Karakter penting yang akan memandu Kafka menemukan pengalaman luar biasa.
Setiap hari Selasa jam dua akan tur keliling Perpus yang dipandu pemilik Nona Saeki. Kebetulan hari pertama tiba di sana hari Selasa sehingga Kafka memutuskan ikut. Perjalanan hidup keluarga Komura, buku-buku tua, harta berharga dan penjelasan panjang itu nantinya memberi kejut identitas jati diri sang guide. Pilihan lajang dengan lukisan tua, lelaki memandang pantai. Dan lagu abadi yang menyerempet Kafka.

Hingga suatu hari Kafka tak sadarkan diri, malam itu ia berlumuran darah namun tak ada luka. Panik ia menghubungi Sakura, menanti kabar apa yang sebenarnya menimpa. Tak ada info apapun. Aneh sekali. Berjalannya waktu Kafka harus bersembunyi dari kejaran polisi karena di ujung kota lain ada pembunuhan yang ketika ditarik menyeretnya.

Sementara setiap bab kita ganti ke sudut pandang lain. Adalah kakek bernama Nakata yang bisa bicara dengan kucing. Asal usul bagaimana ia bisa menemukan keajaiban dituturkan dengan sangat panjang. Berawal dari sebuah kejadian yang tak bisa dijelaskan secara logika. Jepang Pra-Perang Dunia II, tepatnya 7 November 1944 sekelompok murid SD sedang melakukan tur ke hutan guna mencari jamur. Tak ada tanda apapun mereka tiba-tiba serentak pingsan. Peristiwa di bukit mangkuk nasi itu diambil dari sudut pandang pewawancara Letnan Robert O’Connor, dinas intelejen Amerika tahun 1946. Bahwa setelah pingsan beberapa menit, anak-anak siuman sendiri tanpa ada kejelasan. Setelah semua dibawa ke klinik sekolah ternyata semua baik-baik saja. Nyaris semua, satu anak masih tak sadarkan diri. Dia dibawa ke kota untuk dirawat lebih intensif, dialah Nakata.

Lalu zaman melompat di masa kini. Nakata yang sebelum pingsan adalah anak cerdas kini jadi begitu polos, seakan sebagian jiwanya terenggut. Di usia senjanya ia bekerja sebagai penangkap kucing. Hidup dari subsidi Pemerintah dengan uang seadanya. Ia dijauhi keluarga. Hidup sebatang kara. Nah, dalam perjalanan pencarian kucing hilang bernama Goma ia mendapat sebuah tekanan sesungguhnya.
Goma diculik oleh seorang maniak kucing the eternal Johnnie Walker – pria tinggi mengenakan topi tinggi yang aneh dan sepatu bot panjang dari kulit. Setelah dituntun seekor anjing, Nakata kini berhadapan langsung dengan Johnnie. Bagian terbaik dari novel ini ada di sini. Saya tak bisa menjelaskan detailnya, agar kalian bisa menikmati setiap kata yang tersaji. Bagaimana seorang kakek polos dipaksa mengangkat senjata. Adegan ini pas divisualisasikan nantinya pasti sangat amat dahsyat.

Setelah keputusan berat diambil, Nakata dipaksa keadaan keluar kota menuju Takamatsu. Mendatangkan hujan lintah. Mimpi-mimpi yang absurb. Batu yang berat membalikkan waktu untuk dibuka. Sepasukan tentara yang hilang di hutan. Menawarkan keabadian yang ganjil. Dan berkenalan dengan sopir nyentrik Hoshino. Penjalanan panjang ini mempertemukan kedua karakter utama dalam dimensi tak berbatas. Siapa selamat?

Dengan pola tiap bab berganti sudut panjang, novel ini sungguh hebat. Saat akhirnya mereka bertemu dalam satu titik semua malah dibuat kabur. Tak ada pertemuan tatap muka. Hanya dalam universe yang memberi opsi, pilihan. Novel bagus yang – lagi-lagi – menawarkan nihilitas. Akan jadi sesuatu yang luar biasa saat nantinya diadaptasi film. Buku wajib koleksi. Sekali lagi, Haruki kasih bukti. Nobel please…

Kutipan-Kutipan
Kakek saya pernah mengatakan, kebiasaan jelek saya adalah lari dengan orang-orang yang tidak saya kenal tanpa memikirkan apa yang sedang saya lakukan. – 393
Kami tidak bisa menjelaskan. Tetapi kesalahan merupakan bagian dari hidup, dan saya kira ada hal-hal yang tidak kita mengerti. – 34
Aku mengangguk. Menjadi orang lain mungkin sulit, tapi menggunakan nama lain adalah hal yang mudah. – 37
Bahwa peristiwa yang terjadi dalam hidup ditentukan oleh kehidupan kita sebelumnya. Bahkan dalam peristiwa kecil sekalipun tidak ada yang terjadi karena kebetulan. – 38
Akhirnya, aku memilih satu set yang terdiri dari beberapa jilid yang memiliki sampul sangat indah, karya terjemahan Burton berjudul The Arabian Night, mengambil satu jilid dan membawanya ke ruang baca. – 45
Dia tak tahu mengapa, tapi kucing bergaris coklat adalah jenis yang paling sulit dipahami. Dengan kucing hitam, biasanya berjalan lancar. Berbicara dengan kucing siam adalah yang paling mudah, tapi sayangnya mereka tidak banyak berkeliaran di jalan-jalan, sehingga kesempatan bertemu sangat jarang. – 95
Dia tidak tahu apa itu BMW, tapi dia memang melihat sebuah mobil berwarna krem. Pasti itu yang dia maksud. – 97
Sebagaimana yang Anda ketahui, kutu ibarat kebiasaan buruk – begitu Anda mendapatkannya, sulit sekali membasmi mereka. – 99
Banyak orang memandang kucing dan berfikir betapa enak hidupnya – yang kami lakukan hanyalah berbaring di bawah sinar matahari, tidak harus bekerja. Namun kehidupan kucing tidak seindah itu. Kami tidak mempunyai kekuasaan, makhluk kecil yang lemah dan mudah terluka. Kami tidak memiliki tempurung seperti kura-kura, atau sayap seperti burung. Kami tidak dapat sembunyi di dalam tanah seperti tikus tanah atau berubah warna seperti bunglon. Dunia tidak tahu berapa banyak kucing yang terluka setiap hari, berapa banyak yang mati mengenaskan. – 102
Dunia adalah tempat yang keras, dan tidak ada seorang pun yang dapat lari kekerasan itu. – 103
Menunggu adalah pekerjaan membosankan. Dia tidak memiliki petunjuk kapan orang itu datang, mungkin besok, mungkin minggu ini. Atau mungkin dia tidak datang lagi. Kemungkinan itu ada. Tapi Nakata sudah terbiasa dengan penantian yang tiada henti, dan menghabiskan waktu sendirian, tanpa melakukan apapun. Dia sama sekali tidak terganggu. – 105
Kenapa ia harus takut? Kegelapan yang tidak berujung itu, kesunyian dan kebisingan yang membebani itu, adalah teman lamanya, sudah menjadi bagian darinya. – 106
Ada banyak alasan seseorang terluka, dan seringkali kejadiannya tidak separah seperti yang terlihat. Aku perempuan, jadi aku sudah biasa melihat darah –  setidaknya setiap bulan. Kau tahu maksudku? – 110
“… maksduku, di dunia ini, satu-satunya orang yang dapat kau andalkan hanyalah dirimu sendiri.” – 111
Kau tidak perlu persetujuanku. Bagaimana aku bisa tahu apa yang ada di kepalamu? – 114
Aku mengambil sekotak susu dari lemari es, memeriksa tanggal kadaluarsanya dan menuangnya di atas semangkuk cornflakes, lalu merebus air dan membuat secangkir teh Darjeeling. – 116
Mungkin ini sekedar kenangan usang, tapi benar kata orang, waktu memang berlalu dan ternyata waktu berjalan sangat cepat. – 120
Banyak kejadian terlupakan dengan berjalannya waktu. Bahkan perang itu sendiri, perjuangan hidup dan mati yang terlewati oleh banyak orang, kini tampak hanya sebuah masa lalu. – 121
Betapapun banyaknya waktu berlalu, tidak peduli tengah apa yang terjadi dalam kehidupan kita, tetap ada hal-hal yang tidak pernah bisa kita lupakan, kenangan-kenangan yang tidak dapat kita hapus. Semuanya ada bersama kita selamanya, seperti goresan batu. Dan bagi saya apa yang terjadi di hutan pada hari itu adalah salah satunya. – 122

Overall
Terjemahannya sangat bagus. ketemu tiga-lima-typo tapi tak terlalu mengganggu. Kekuatan alih bahasa ada di pemilihan diksi yang renyah. Bagus. Cetakannya kuat, nyaman sekali buat dipegang dan dibaca untuk buku setebal ini. Terima kasih Penerbit Alvabet, ayoo kejar buku-buku Haruki yang lain untuk diterjemahkan. Dibanding kualitas terjemahan Norwegian dari KPG sangat jauh. Pemilihan kover juga menawan. Sebuah truk, seekor kucing, sekumpulan burung gagak. Seorang kakek tua memegang tongkat memandang dari kejauhan. Lanskap sureal sudah dicipta dari permulaan. Benar-benar gambar yang manis untuk dipajang di Perpus keluarga. Pecinta sastra wajib membaca dan mengoleksi buku ini. Setidaknya sepuluh tahun lagi, Hermione Yumna berkesempatan menikmati sebuah karya sastra bagus dengan memasuki dunia Kafka yang menakjubkan.

Dunia Kafka  | by Haruki Murakami | Diterjemahkan dari Kafka On The Shore | hak cipta Haruki Murakami, 2005 | Penerjemah Th. Dewi Wulansari | Editor A. Fathoni | Design sampul Ujang Prayana | Tata letak Priyanto | Cetakan ke 3, Maret 2016 | Penerbit PT. Pustaka Alvabet | 606 hlm, 13 x 20 cm | ISBN 978-602-9193-03-9 | Skor: 5/5
Karawang, 051116 – Matchbox Twenty – Unwell

Fantastic Beast And Where To Find Them: Magical, Endering, Mischievous And Wicked

image

image

image

image

image

image

image

Tulisan ini mungkin mengandung spoiler.

Porpentina Goldstein: Yesterday, a wizard entered New York with a case. A case full of magical creatures. And unfortunately, some have escaped.

Dari sebuah textbook setipis 88 halaman (edisi pertama) kini malah jadi dikembangkan 5 film layar lebar. Awalnya akan jadi dua film, lalu berubah trilogi hingga akhirnya bulan Oktober lalu diputuskan 5 – yang kedua dan ketiga bahkan sudah ditetapkan tahunnya 2018 dan 2020. Oh godness, Ide gila. Sebagian orang pasti berfikir ini cara Warner Bross mengeruk uang. Tapi ketika tahu kalau yang nulis naskah Penulisnya sendiri siapa ragu? JK Rowling akhirnya memulai debut membuat skenario. Nama Newt Scamander pernah muncul di film ketiga Prisoner of Azkaban di peta perampok. Film yang paling diantisipasi tahun 2016 itu akhirnya ketonton juga setelah seminggu rilis. Berkesempatan nonton bareng Rani dan Wulan di Blitz Rabu gerimis romantis yang lalu.

Beberapa bagian memang membuat kantuk, terutama bagian pengenalan karakter, terlalu panjang. Beberapa bagian membuat takjub, terasa sekali fantasi binatang-binatangnya yang ajaib. Beberapa bagian lemah, konflik sangat kurang. Dan beberapa bagian membuat melonjak kegirangan, Potter Mania tentu saja nostalgia menemukan berbagai link ke serial Penyihir kaca mata. Ekspektasiku ketinggian, jadinya ketika film ditutup saya merasa ada yang kurang karena harapan itu tak terpenuhi. Yah, ini kan debut JKR jadi harus dimaklumi. Anggap saja ini pondasi menuju kisah berikutnya.

Antusias film ini sangat tinggi sehingga saya berusaha seminim mungkin untuk berkedip. Saat akhirnya mulai, film dibuka dengan logo WB dengan skoring yang terkenal itu. Skoring yang menghantar semua film Potter, semua seri. Sayangnya saat Newt Scamander (Eddie Redmayne), sang magizoologist muncul di layar di sebuah kapal dengan koper ikonic (trailernya dan poster sudah wara-wiri di berbagai sudut) si Wulan nyeletuk, ‘lho aku sudah nonton film ini malam Minggu lalu’. Hah, astaga. Bagaimana bisa dia tak tahu malam ini kita nonton film yang sama? Abaikan! Newt diceritakan baru tiba di Amerika, tepatnya di kota sibuk New York. Dengan setting tahun 1926, masa dunia sedang berbenah pasca Perang Dunia I. Masa ketika dunia mulai dihadiahi penemuan-penemuan legendaris.

Di pelabuhan ia diperiksa petugas, pasport diperiksa dan saat ditanya apa yang ada di dalam koper, apakah ada binatang? Penonton ikut merasakan tarikan nafas ragu Eddie. Tentu saja mode koper dibuat normal saat dibuka. Sayangnya Newt tiba di New York bukan di saat yang tepat. Sebuah makhluk buas akhir-akhir ini sedang menghantui kota. Jalanan amburadul, kroak-kroak, gedung retak di mana-mana dan keselamatan manusia terancam. Muncullah Auror Percival Graves  (Colin Farrell) memeriksanya. Astaga, saya baru nggeh ternyata ia ambil bagian di Fantastic. Yah, inilah fungsi utama menutup mata dan telinga rapat-rapat. Dibuat terkejut seru itu menyenangkan. Padahal beberapa waktu lalu ketika polling di forum film, ‘siapa ya nantinya yang akan jadi Dumbledore muda?’ segala aktor besar disebut, saya tanpa ragu bilang Colin! Duh malunya, pasti pada ketawa itu orang-orang yang baca. Colin adalah fan film Harry Potter sekalipun ia tak tuntas membaca  novelnya. Jadi keterlibatannya sangat pas.

Graves diceritakan seorang Auror menjabat bagian penyidik di kementerian sihir Amerika, Macusa – Magical Congress of United State. Tampilan kalem dan tatapan misterinya akan jadi kejutan di akhir. Sementara Newt sampai di sebuah bank yang di depan gedungnya sedang ada ‘unjuk rasa’ digawangi oleh Mary Lou Barebone (Samantha Morton) bahwa penyihir ada di sekitar kita. Bahwa dunia sedang terancam, mari menggalang kekuatan. Muncullah karakter yang ada di poster, Jacob Kowalski (Dan Fogler) – tak kusangka di sini ia mendapat porsi yang sangat banyak, dan penting – si gendut itu sedang tergesa menuju ke bank. Bertabrakan dengan Newt, koper saling silang. Jacob adalah seorang pembuat roti. Veteran perang, mantan pekerja makanan kaleng ini mau mengajukan pinjaman uang buat buka usaha buka toko roti bakeri.

Binatang fantasi pertama dalam film ini muncul, seekor Niffler. Setelah mengintip dari dalam koper ia kabur. Niffler adalah binatang mirip landak dan tikus besar berbulu hitam berparuh panjang yang suka mengambil segala yang berkilau – di dunia kita Niffler mirip Echidna namun paruhnya pendek. Binatang langka ini hidup di Australia, seekor mamalia yang bertelur. Nah Niffler ini mengacaukan bank. Sementara Newt sedang diawasi seorang perempuan, ternyata penyihir bernama Porpentina ‘Tina’ Goldstein (diperankan istimewa oleh Katherine Waterston) mantan bagian investigasi kementerian sihir itu curiga ada yang tak beres. Adegan berikutnya adalah kelucuan khas komedi sihir. Jacob gagal dapat pinjaman. Niffter masuk ke brankas memasukkan berbagai perhiasan dan uang ke kantong ajaibnya. Brankas jebol, alarm meraung. Dengan tongkat sihirnya Newt mencoba mengembalikan uang dan menarik binatang itu lalu berusaha kabur. Polisi sudah mengepung. Dan telur yang dikantong itu menetas. Seekor bayi Occamy lahir. Perpaduan burung, naga dan ular. Kemampuan mahkluk ini adalah bisa menyesuaikan bentuk tubuh dengan lingkungan, jadi bisa membesar dan mengecil tergantung situasi, nantinya seekor Occamy dewasa lepas dan akan jadi adegan epik bersama teko ajaib dan serangga. Tina membawa Newt ke kementerian Macusa, si gendut pulang ke apartemennya dengan koper istimewa. Saat ditanya apakah Newt menghapus memori No-Maj tadi? No-Maj opo? Itu manusia No-Majic, the non-wizard. Dan tahulah kita di Amrik, Muggle disebut No-Maj. Ada-ada saja ide JK, nanti pas Newt ke Kalimantan bisa-bisa menyebutnya Nir-Sihir kali.

Tina terusir, ia telah melakukan kesalahan dalam tugas hingga dipindahkan ke departemen lain. sehingga ia ditolak para Auror. Di gedung itu, kita seperti nostalgia kisah Potter. Mesin ketik mengetik otomatis, sapu berjalan sendiri, kertas-kertas terbang menuju tuannya, sampai hal-hal gaib yang aneh-aneh. Bolpoin berjalan di atas kertas untuk menulis? Enak banget! Sementara si gendut membuka kopernya, dan taadaaa… makhluk gaib kabur.

Erumpent, mirip seekor badak besar Afrika dipadu dengan kuda nil. Memiliki satu tanduk yang berkilau karena berisi cairan racun, ekornya tebal dan tahan mantra sihir.

Niffler, ia sembunyi di balik lukisan.

Seekor Murtlap menggigitnya. Binatang mirip tikus botak dipadu dengan landak. Gigitan itu menyebabkan Jacob berkeringat tanpa henti dan luka halusinasi. Binatang ini tak berbahaya, karena tentakelnya malah berisi obat sihir. Occamy juga terlepas.

Lalu Demiguise, seperti seekor primata, perpaduan lemur dan orang utan. Binatang ini bisa menghilang, tembus pandang. Kehebatannya adalah bisa memprediksi beberapa menit ke depan sehingga ia sulit ditangkap karena tahu apa yang akan dilakukan pemburu. Keadaan ini mengacaukan apartemen. Sebagian lenyap. Kejadian itu diketahui pihak berwajib, mereka memanipulasi memori, itu hanya kebocoran gas. Saat Newt sampai ke tempat Jacob, keadaan sudah berantakan. Namun berhasil lolos dan pulang ke apartemen Tina dengan Jocob yang setengah teler.

Di sana kita diperkenalkan karakter lain, adik Tina yang sexy Queenie (diperankan secara sensual oleh Alison Sudol – sayang sekali Saoirse Ronan kalah saing, karakter ini bagus mirip Luna Lovegood). Dengan mantra hipnotis ia memasuki dunia pikiran lawan bicara. Di sana Jacob seperti linglung, apakah ini mimpi? Saat akhirnya mereka menginap di sana dan saat malam menjelang, Newt sekamar dengan Jacob. Saat coklat panas dihidangkan, pintu ditutup aksi sesungguhnya film ini kelihatan. Newt membuka koper dan masuk ke dalamnya. Luar biasa. Bagian ini adalah bagian paling memukau, shock sekaget Jacob. Di dalamnya ada kebun binatang dengan berbagai binatang gaib yang tak terbayangkan. Jacob diajak ke sana. Kita pun diperkenalkan satu per satu fantastic beast, yang sebagian ada dalam textbook.

Bowtruckle – binatang ini sebenarnya sudah muncul sesekali di balik baju Newt. Berbentuk ranting yang menggeliat. Ia bisa membuka gembok, bentuknya mirip belalang sembah namun sesungguhnya ia adalah tumbuhan. Karakter penting nih.

Thunderbird – salah satu binatang simbol asrama di sekolah sihir Amerika Ilvermorny. bentuk utamanya seekor elang raksasa namun paruhnya besar. Tujuan utama Newt ke Amerika bertemu dengan seorang peternak beast dan melepas Frank, nama Thunderbird milik Newt ke habitat aslinya di Arizona.

Billywig – seperti lebah warna-warni karena sayapnya biru safir. Sayapnya tidak di badan namun di kepala. Gigitannya bisa membuat pikiran orang melayang saking sakitnya.

Swooping Evil – reptil bersayap kupu-kupu. Bisa ditarik lempar seperti yoyo. Bentuknya indah, namun sangat berbahaya karena ia menyedot otak korban. Racunnya bisa buat obat ramuan penghilang kenangan buruk. Tidak disarankan jadi binatang peliharaan rumah.

Graphorns – hewan langka mirip singa. Newt berhasil menyelamatkan sepasang dalam kopernya. Hewan ini tak bisa kena mantra apapun, karena lebih kuat dari seekor naga.

Doxy – seperi pixie, bentuknya kecil dan suka menggigit penyihir. Gigitannya berbisa, giginya tajam. Mengingatkan kita pada Profesor Lockhart.

Diricawl – burung dodo

Streeler – siput besar dan beracun, jejak yang ditinggalkannya juga beracun hingga tumbuhan yang tersentuh lendirnya akan mati.

Fwooper – burung yang suka nyanyi, suaranya bisa membuat gila pendengarnya.

Crup – anjing penyihir jenis jack russel, sangat setia pada penyihir dan mengeram pada kaum No-Maj. Ekornya bercabang.

Augurey – Phoenix asli Irlandia dan Inggris. Burung berbulu hijau. Burung ini bisa memprediksi curah hujan, bahkan kematian.

Grindylow – binatang air seperti balon. Muncul sepintas di film ini. Grindylow seperti yang kita ketahui punya peran penting di turnamen Triwizard di seri Piala Api.

Nah kisah ini poin utamanya adalah menangkap kembali binatang-binatang yang terlepas. Sampai separuh film kalian tak akan menemukan konflik berarti. Ibarat main game ‘Pokemon Go’ versi sihir. Tunggang langgang di jalanan demi menangkap buruan. Konflik baru benar-benar muncul saat Credence Barebone (Ezra Miller) yang aneh, anak introvert berusia 8 tahun yang sesekali bertemu rahasia dengan Graves. Saudara-saudara Credence adalah aktivis anti-sihir yang ada di awal film. Saudarinya Modesty Barebone (debut bagus Faith Wood-Blagrove) juga memberi kesan seram lainnya, saat ia bernyanyi sambil main bengklek, tentang penyihir yang tewas satu demi satu rasanya mencekam. Iramanya masih snagat membekas di kepala beberapa hari ini, sayang liriknya saya agak lupa. Inspirasi perseteruan No-Maj dan penyihir terinspirasi dari Salem Witch Trails. Sebuah pengadilan yang mengatur kehidupan dua dimensi itu, we need a second Salem.

Konflik lainnya, dari dunia No-Maj seorang senator Henry Shaw Jr (Josh Cowdery) meninggal dunia secara misterius saat dia atas mimbar, diduga disikat makhluk gaib  langka berbahaya yang sudah lama tak muncul di dunia. Shaw Senior (Jon Voight) sempat didatangi keluarga Barebone bahwa dunia dalam bahaya sihir namun menolak percaya, bahkan terkesan melecehkan. Semua itu akan meledak di akhir.

Adegan saat Newt dan Tina ditangkap dan dituduh mengacaukan kota gara-gara binatangnya lepas hingga akhirnya keputusan hukum mati dibuat dengan bagus. Mereka berdua adalah borunan, yang fotonya terpampang di berbagai sudut kota ‘Dead or Alive’. Adegan saat akhirnya bertemu Gnarlack (Ron Perlman) sebenarnya berpotensi lebih menyentuh dan lebih mengagumkan, sayangnya eksekusi terlampau cepat sehingga rasa (akan) kehilangan Bowtuckle itu langsung hambar. Aktor sebesar Ron pun terasa sia.

Akankah semua binatang berhasil kembali ditangkap? Di buku tertulis makhluk paling mengerikan Nundu yang butuh ratusan penyihir untuk mengalahkannya. Di film ‘hanya’ Obscurus, sayang sekali saat semua tongkat sihir menghadapkan padanya semua serasa antiklimak. Akankah puluhan wand itu berhasil dicegah keporakporandaan kota? Saat akhirnya No-Maj tahu ada binatang-binatang gaib terlepas, penyihir menguasai keadaan, bisakah ingatan itu dikembalikan? Lalu dimana Johnny Depp? Oh iya, sampai lupa bahas main villain. Fuh!

Sedari awal film ini rencana dibuat, JKR sudah mematenkan bahwa Newt harus diperankan Eddie. Jadi tanpa audisi ia mendapatkannya. Perlu diketahui Eddie pernah terdepak dari casting serial Potter dan Kamar Rahasia. Ia gagal audisi untuk peran Tom Marvollo Riddle muda yang jatuh kepada Christian Coulson. Untungnya peraih Oscar ini sukses sebagai Newt. Lihat berbagai aksinya, pas sekali sebagai orang kikuk yang punya segudang hewan fantasi. Beberapa kali ia masih terlihat seperti Stephen Hawkin yang gesture-nya aneh. Ada satu scene lucu ketika ia akan menaklukkan Erumpent di New York Zoo. Ia harus berkomunikasi dengan berguling, meraung serta memainkan mimik sambil meminta si badak masuk ke koper. Haha, keren banget. Dalam script aslinya Eddie tampil shirtless dan memamerkan tubuhnya penuh luka akibat berburu binatang fantasi, sayang di film kena potong. Mungkin akan ada di versi director cut.

Fokus lainnya ke Alison Sudol. Tampil seksi sepanjang film, genit, manja, menggoda. Ia adalah vokalis band A Fine Frenzy dan sedang menyiapkan album solo. Bagian ketika ia membuat tongkat sihirnya jadi payung di bawah rintikan hujan lalu memandang penuh cinta pada Kowalski membuat Rani geram. Ga adil katanya, neng geulis dapat pria gendut. Huh, enak aja. Justru pria gendut itu selalu mendapat gadis cantik tahu! Dan aktriss Katherine Waterston-lah kita harus angkat topi. Cantik. Anggun. Rambutnya dipotong lurus sebahu, yang tiap ia berjalan akan bergerai indah. Sangat pas menemani freak Newt. Mari berharap ia dapat porsi lebih dan tampil reguler di dunia Potter.

Kekuatan utama film ini jelas di visualisasinya. Hewan-hewan fantasi yang ada di buku jadi begitu hidup. Yang paling seru adalah keterkaitan kecoa, teko dan sebuah adegan epik di antara reruntuhan gedung. Luar biasa. Saya sempat melonjak kagum saat makhluk itu akhirnya tertangkap. Sayangnya secara cerita kurang nendang. Andai saja tensi terus dijaga, Fantastic bisa jadi yang terbaik tahun ini. Dan satu lagi yang kurang, naga yang paling kutunggu tak muncul sama sekali.

Sempat pula berharap muncul sekolah Ilvermorny dengan asrama-asramanya Pukwudgie, Horned Serpent, Wampus dan Thunderbird. Sayang hanya sekelebat. Dan Thunderbird yang bisa menciptakan badai saat terbang hanya ‘sekedar’ tokoh bantu eksekusi ending. Ah mungkin karena ini seri pembuka sehingga semua terasa dibuat serba nanggung?

Final endingnya bolehlah cukup pas. Sebuah naskah buku diperlihatkan. Timeline-nya buku itu pertama terbit tahun 1927 jadi setahun pasca kegemparan New York. Judulnya sendiri akibat eletuk Tina saat perpisahan, sempat berharap ada love interest yang akhirnya hampa. Textbook milik Potter adalah edisi cetakan ke 52 dengan kata pengantar Albus Dumbledore: draco dormiens nunquam titillandus.

Seperti biasa, saya jadi orang terakhir yang keluar bioskop sampai credit title habis. Tak banyak yang saya dapat karena memang tak ada scene after credit layaknya film-film Marvel. Pertama, sang produser. Jelas David Heyman ada di sana, namun ada nama Steve Kloves. Penulis naskah Potter ini ada di jajaran produser jua. Yang menarik adalah kemunculan nama JKR yang menulis lirik salah satu soundtrack berjudul ‘The Blind Pig Speakeasy’ yang dinyanyikan oleh Areth Ayeh dan Emmi. Itu adegan saat Newt, Tina dkk sedang dalam pelarian lalu ia meminta bantuan ke Gnarlack. Lagu yang mendayu yang dinyayikan peri rumah. Ayo download!

Well, satu sudah empat menanti. Seri kedua dipastikan Newt ke Paris, seri tiga sampai lima masih dalam pengembangan. Akankah salah satunya ke tanah Papua  untuk bertemu Lethifold? Semoga!

Fantastic Beast And Where To Find Them | Year 2016 | Director David Yates | Screenplay JK Rowling | Cast Eddie Redmayne, Katherine Waterston, Colin Farrell, Samantha Moton, Dan Fogler, Ezra Miller, Faith Wood-Blagrove, Jenn Murray, Carmen Ejogo, Jon Voight, Josh Cowdey, Alison Sudol, Ron Perlman, and Johnny Depp| Skor: 4/5

Karawang, 271116 – The Cranberries – Wake Up and Smell The Coffee
Palermo 0-1 Lazio

Gladi Bersih DDC

image

image

Prakiraan formasi lawan Palermo
4-3-3 Lazio
Strakosha
Basta-Wallace-Radu-Lulic
Parolo-Biglia-SMS
FA-Immobile-Keita

LBP
0-3
Gladi bersih DDC. Kuncinya ada di Tridente IKA. Selama mereka main, pasti cetak gol. Pertanyaannya bakal menang berapa kali ini?

DC
Palermo 0-2 Lazio Immobile
Kemenangan berlanjut. Melawan tim papan bawah. Kalo kalah atau imbang kebangetan.

Iin
Palermo 1-2 lazio
Scorer: Biglia
Tren positif Lazio masih berlanjut. Lazio akan meramaikan papan atas serie A. 3 poin milik Elang ibukota.

Arif
Palermo 0-1 Lazio
Scorer: Immobile
Lazio sedang onfire. Harus menang agar mental lawan Roma tinggi. Immobile kembali masuk scoresheet.

Panji
Palermo 1-2 Lazio
Scorer: Immobile
Lazio sedang onfire. Tapi pertandingan tetap tidak mudah. Musti berjuang sekuat tenaga buat menang.

Rohmad
Palermo 1 – 0 lajio
Scorer: Ilija
Bermain di kandang Palermo jelas ujian berat bagi The Great. Usaha ingin bermain terbuka terkendala tekanan Palermo yang spartan. Lajio dipaksa bertahan. Hasil imbang sudah bagus bagi The Great. Tapi kekalahan Lazio adalah kemenangan bagi penghuni FOC.

Lelur
Pal 1 – 2 Lazio. Gol Ciro.
Trend positif lagi dipihak Lazio. Tidak ada yang bisa membendung eberuntungannya. Scudetto di depan mata Juve.

Adit
Palermo 0-2 Lazio, Immobile
Lazio menang. Pak manpres senang. Semua tenang.

Huang
Palermo 1-2 Lazio; Felipe
Analisis: Presentazione ovviamente esagerato, ma il lavoro non è incompetente! (Scarpe gettati)! Si, una mezz’ora nella mia stanza. (Calmando con sapore noce di cocco spuntino ultima variante). – Mezz’ora più tardi – non ci sono stati scarpa mancato? iooo…. Vamos! Lazio per Siempre!

Karawang, 271116
Che 2-1 Tot

Lazio 3-1 Genoa: Kemenangan Istimewa The Great

image

image

image

image

image

Kemenangan atas Genoa selalu istimewa di mata kita. Tim jinx yang bikin geram. Hajatan Serie A pekan ke 13 tahun ini disambut antusias Lazio Karawang. Setelah jeda internasional, persiapan menyambut Genoa lebih matang. Pekan ini kita ke rumah Hanafi, karena tamu istimewa maka masakan kali ini pun spesial nasi liwet. Genoah membuat rekor musim ini hingga Laziale yang berkumpul tembus 13 orang. Dengan laptop Setiadi yang tersambung ke TV kita rayakan kemenangan ini.

Simone Inzaghi sudah memainkan formasi 4-3-3. Di bawah mistar berdiri kiper muda penuh talenta Thomas Strakosha, ia stater karena kiper pecicilan Machetti cidera betis. Empat bek di depannya: Wallace bahu membahu dengan Radu. Bastos yang sudah fit dicadangkan. Kanan sudah paten milik Basta dan kiri diisi pemain serba bisa Lulic. Sektor tengah pun kita sudah solid dengan Parolo dan Savic yang pergerakan bertahan dan menyerang sama bagus ditopang pengatur tempo tak terganti Biglia. Tridente IKA tak terbantahkan selalu cetak gol. Selama mereka fit selama itu pula kita akan menyaksikan keindahan permainan menyerang.

Babak Pertama
Laga berjalan alot seperti prediksi. Namun ternyata kita bisa unggul cepat. Menit 11 melalui sebuah skema bola mati, Felipe Anderson sukses membuka keunggulan. Prosesnya ciamik. Bola disentuh pelan oleh Biglia ke Anderson yang menyentuh balik, lalu sang kapten melambungkan ke depan gawang di tengah kerumunan. Bola sempat mantul lalu disundul balik keluar kotak, sempat pula memantul tanah, Felipe dari jarak jauh langsung menghujamkan keras ke arah gawang jauh dari jangkauan kiper. Gooool! Selebrasi Felipe yang loncat-loncat kecil bareng Wallace seru jua. Setelah itu permainan berimbang. Saat peluit panjang, separuh babak skor 1-0. Sayang sekali babak pertama ini kita lewatkan dengan koneksi buruk. Beberapa kali setelah tersambung ke Olimpico streaming-nya tersendat-sendat. Jadi tak bisa kuceritakan banyak detail tiap menitnya.

Babak kedua
Ketika sebagian istirahat ngopi, sebagian makan nasi liwet – saya di bagian ini, sebagian ngobrol sambil udud, sebagian lainnya sampai WAR COC – setelah maem nasi liwet saya join di bagian ini, Rye menyempatkan kabur ambil laptop agar koneksi lebih lancar. Sayang sekali, saat laga sudah berjalan kita belum nyambung sempurna. Saat akhirnya benar-benar streaming lancar, Genoah sukses menyamakan kedudukan menit 52. Prosesnya bagus. Open play dari sisi kanan pertahanan. Setelah serang kita gagal, mereka melakukan sentuhan-sentuhan yang merangsek naik. Seakan terperangah pergerakan cepat dan belum siap, bola itu ditempatkan jauh dari jangkauan Thomas oleh Ocampos. 1-1. Skor sama lalu laptop dan koneksi baru akur hingga akhirnya sambungan ke Omipico lancar. Ada anekdot lucu dari teman-teman. Persiapan laga 2 pekan, nonton aslinya 20 menit. Haha. Kita bisa lihat tendangan Marco ‘Budi’ Parolo yang nerpa mistar, dan semua berseru ‘aaaahhgg…’ kita juga bisa lihat keberhasilan kembali leading menit 57. Setelah menerima umpan Basta, sebuah liukan keren Felipe yang berhasil masuk kotak diganjal Lucas Orban, Felipe mengerang jatuh. Biglia maju ambil tendangan 12 pas. Seperti biasa, shooot Biglia kencang tepat di tengah. Aneh sekali kiper-kiper Serie A belum juga paham kebiasaan sang kapten. 2-1, gol pertama Big Player musim ini. Selebrasi kali ini istimewa. Biglia berlari ke arah penonton, Ciro berlari merangkul dan mencium pipinya lalu mengepalkan tangan. Sebuah bromace yang membuat seisi rumah Hanafi bersorak hingga akhirnya berturut-turut Savic, Parolo, dan Felipe mengerumuni memberi selamat. Setelah perayaan gol bubar, Biglia memberi tanda kepalan tangan ke Laziale sementara Felipe terus saja mengelus kepalanya. Dan lagi-lagi Ciro merangkulnya. Kebersamaan tim yang menyenangkan. Harmonisasi seperti inilah yang diperlukan guna menambah kepercaytaan dan kekuatan tim.

Skor 2-1 belum aman. Dan memang Genoah terus melancarkan serbuan. Akhirnya kita memastikan 3 poin melalui Wallace menit 65. Prosesnya terlihat sepele, lagi-lagi dari sisi kanan. Basta dan Parolo perlu dikasih kredit nih, sisi ini jadi begitu memikat dalam menyusun serangan. Sebuah kerumunan bola teleser di antara kaki-kaki menjadikan bola liar itu ke arah sang bek, pemain Genoah otomatis mengangkat tangan memberi tanda kepada hakim garis bahwa ‘itu offside!’ khas dalam bola. Namun penjaga garis bergeming, Wallace yang tinggal berhadapan dengan Perin tentu saja dengan mudah menyepak si kulit bundar menggetarkan jala. Penampilan istimewa Wallace. Ia berlari keluar lapangan, melewati track lari lalu memberikan cium jauh kepada Laziale. Ini adalah penampilan terbaiknya. Pantas dapat apllaus bersama Felipe. Padahal awal musim posisi itu milik Bastos, ketika si keling cidera Wallace sukses membayar kepercayaan dengan permainan impresif. Bastos yang siap tampil pun kini dipaksa duduk di bangku cadangan. Terlihat di pinggir lapangan, Inzaghi berjingkrak dan mengepalkan tangan kemenangan.

Setelah unggul 2 gol, Inzaghi memberi menit bermain Danilo Cataldi menit 70 menggantikan Savic. Sempat beredar kabar Cataldi yang banyak diminati klub akan hijrah, namun produk asli akademi Lazio ini membantah segala rumor. Ia banhkan berujar, “Jersey Lazio bagi saya adalah kulit kedua saya. Memenangkan tropi bersama klub ini adalah impian saya. Saya tumbuh kembang bersama Veron dan Simone, mereka mencetak sejarah di sini.” Good speech Danilo. Sabar saja, performa tim sedang OK dan kesempatan menit main akan datang lebih banyak dengan sendirinya selama bisa menjaga penampilan. Tiga menit kemudian giliran pemain muda lainnya Patric mengganti Keita Balde. Penyerang diganti bek, indikasi bertahan dan gap gol sudah aman. Pergantian ketika menit 84 lagi-lagi pemain muda Alessandro Murgia masuk mengganti kapten. Ban itu lalu melekat ke Radu yang kini telah merayakan laga ke 200-nya bersama Elang Biru.

Sementara sang mantan Govan Pandev yang disambut tepuk tangan seisi Olimpico masuk menit 80. Pandev adalah legenda kita sebelum slek sama presiden Lotito mengenai kontrak. Saya akan ingat selalu era Zarate, Pandev, Rochhi. Duh sampai-sampai folder komputer J-Lovinyaku dinamai mereka.

Di penghujunga laga, pelanggaran tak perlu Orban kepada Ciro membuatnya diusir lapangan. Terlihat Cataldi memeluk Ciro guna meredam emosi, kalau sampai sang predator kena kuning bahaya. Jelang DDC bo. Hati-hati. Skor 3-1 bertahan hingga akhir. Kemenangan istimewa. Sebuah start bagus Simone Inzaghi melawan jinx. Kemenangan ini menempatkan Simone menjadi pelatih terbaik era Lotito. Fonte Corsport mencatat rataan kemenangan Lazio selama ia pegang adalah 1,8. Dalam 20 laga, Inzaghi menang 11, seri 4 dan sisanya kalah. Hebatnya lagi rataan skuat muda. Akademi primavera Lazio class of 15 banyak yang diangkut ke tim senior dari Murgia, Prce, Thomas, Patric sampai Lombardi. Kalau dari analisis-ku. Tim jinx saja bisa kita taklukkan, kini apalagi yang kita takutkan? Semua lawan kini terasa bisa kita libas. Mengalahkan Genoah artinya akan ada tropi di akhir musim. Akankah itu copa ataukah medali prestisius Scudetto?

Kebahagiaan 3 poin dari Genoah makin berlipat saat tahu tetangga takluk dramatis dari Atlanta di menit akhir. Agen-agen kita di sana sedang memainkan peran. Lord Konko, Bersiha terutama. Mereka berhasil membalikkan keadaan. Dari ketinggalan satu gol (ah lagi-lagi pinalti) menjadi 2-1 secara menyenangkan. Nirpoin Roma di Atleti Azzuri di Bergamo itu menjadikan poin kita hanya berselisih 1 dan Atlanta menempel kita.

Di derby Milan kita juga dapat kabar bagus. Stefano Pioli berhasil memberi 1 poin dalam debutnya, laga seru 2-2. Gol cantik sang mantan Candreva dan sebiji gol menit akhir itu membuat nilai Milan sama tetangga. Pemburuan gelar juara makin panas.

Jelang derby panas DDC 4 Desember nanti. Gladi bersih kita melawan Palermo besok. Dapat kabar bagus Machetti cidera sehingga Thomas akan terus di bawah mistar. Setelah dipinjam Salernitana, Thomas jadi begitu meyakinkan. Total ia kebobolan 3 gol. Semalam dan 2 saat melawan Milan, itupun karena blunder Parolo yang gagal back-pas, satunya lagi pinalti. Jadi harusnya ia lebih sering dipercaya starter. Jangan tanyakan kabar Vargic ya. Hehe. Lalu kabar laga ke Palermo yang tak boleh dihadiri Laziale membuat mereka kemarin berkumpul ke bandara Fiumicino melepas keberangkatan tim. Semangat Laz!

Sementara tetangga akan menjamu Pescara. Lagi-lagi agen kita Massimo Oddo siap menghadang. Memang saat ini mereka sedang terbenam di zona merah namun semangat juang Oddo memberi inspirasi ke tim semoga menghasilkan sesuatu.
Semoga doa bos ku ke Mekah, Lazio juara Serie A itu menjadi nyata. Total kalah kita sama dengan pemuncak, 2. Gap 8 poin? Tenang musim masih panjang. Ok, Jupe kini memang sedang bagus-bagusnya. Tapi saya yakin saat UCL laganya mangetat, mereka akan gagal fokus. Saat itulah kita tusuk mereka. Selama Tridente IKA – Immobile, Keita, Anderson fit. Selama sinergi antar lini begitu keren. Selama Lazio bermain seimpresif ini, rasanya kita bisa juara.

Lazio 3-1 Genoa
Goals: Felipe Anderson 11, Lucas Biglia 57’ (pen), Wallace 65’; L. Ocampos 52’

Lazio (4-3-3): Strakosha; Basta, Wallace, Radu, Lulic; Parolo, Biglia (Murgia 84′ ), Milinkovic-Savic (Cataldi 70′); Felipe Anderson, Immobile, Keita (Patric 73′).

Genoa (3-4-3): Perin; Izzo, Burdisso, Orban; Edenilson, Rincon, Veloso, Laxalt; Rigoni (Ninkovic 46′), Pavoletti (Simeone 61′), Ocampos (Pandev 80′)

Karawang, 251116 – Linkin Park feat Jay Z – Points of Authority – 99 Problems

Best Of The Best: Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya – Ajahn Brahm

image

Saya baru baca yang seri 2 tahun 2011, lumayan bagus. Dan ternyata ada tiga, yang semalam saya baca adalah koleksi terbaik, jadi beberapa bab yang dirasa bagus dikumpulkan di buku tipis ini. Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk menuntaskan 27 cerita dalam 94 halaman. Sangat simpel. Yang membuatku heran, bagaimana bisa buku setipis dan sesederhana ini bisa dijual? Tak banyak hal baru. Buku ini punya teman kerja semeja, Rani S, Kom jadi tak terlalu rugi baca buku jelek dari pinjaman.

Awal kisah nama buku Si Cacing ditaruh paling depan. Bolehlah saya ketik ulang biar tahu kenapa buku bernama salah satu binatang menggeliat dalam tanah bersama kotorannya.

Sebagian orang memang agaknya tidak ingin bebas dari masalah. Jika mereka sedang tidak punya masalah yang bisa dikhawatirkan, mereka akan menyetel sinetron televisi untuk mengkhawatirkan persoalan tokoh-tokoh fiktif di dalamnya. Banyak juga yang merasa bahwa ketegangan membuat mereka lebih ‘hidup’, mereka menganggap kesulitan sebagai hal yang mengasyikkan. Jangan-jangan mereka tidak kepingin bahagia, karena mau-maunya begitu melekat pada kesulitan.
Ada dua orang sahabat karib. Setelah mereka meninggal, satu terlahir sebagai dewa di surga yang indah, sementara temannya terlahir sebagai seekor cacing di seonggok kotoran.

Sang dewa segera merasa kehilangan kawan lamanya dan bertanya-tanya di manakah dia terlahir kembali. Dia tidak bisa menemukannya di alam surga yang di tinggalinya, lalu dia pun mancari temannya di alam-alam surga yang lain. Temannya tidak ada di sana pula.

Dengan kekuatan surgawinya, sang dewa mencari temannya di dunia manusia, namun tidak ketemu juga. Pastilah, pikirnya temanku tidak akan lahir di alam hewan, tapi dia memeriksa alam sana juga, siapa tahu? Masih saja tidak ada tanda-tanda temannya. Lalu sang dewa memeriksa dunia serangga dan jasad renik, dan kejutan besar baginya…, dia menemukan temannya lahir sebagai seekor cacing di seonggok kotoran yang menjijikkan!

Ikatan persahabatan mereka begitu kuat, sampai-sampai melampaui batas kematian. Sang dewa merasa dia harus membebaskan kawan lamanya ini dari kelahirannya yang mengenaskan itu, entah karma apa yang membawanya ke situ.

Sang dewa lalu muncul di depan seonggok kotoran dan memanggil, “Hai cacing! Apa kamu ingat aku? Kita dahulu sahabat karib pada kehidupan sebelumnya. Aku lahir lagi di surga yang menyenangkan, sementara kamu lahir di kotoran yang menjijikan ini. Tapi jangan khawatir, aku akan bawa kamu ke surga. Ayolah, kawan lama!”

“Tunggu dulu!” kata si cacing, “Apa sih hebatnya ‘surga’ yang kamu ceritakan itu? Aku sangat bahagia di sini, bersama kotoran yang wangi, nikmat dan lezat ini. Terima kasih banyak.”

“Kamu tidak mengerti!” kata sang dewa, lalu dia melukiskan betapa menyenangkannya dan bahagianya di surga.

“Apa di sana ada kotoran?” tanya cacing, to the point.

“Tentu saja tidak ada!” dengus dewa.

“Kalau begitu, aku emoh pergi!” jawab cacing mantab. “Sudah ya.” Dan cacing pun membenamkan diri ke dalam kotoran itu.

Sang dewa berfikir, mungkin kalau si cacing sudah melihat sendiri surga, barulah ia mengerti. Lalu sang dewa menutup hidungnya menjulurkan tangannya ke dalam kotoran itu, mencari-cari si cacing. Begitu ketemu ia menariknya.

“Woi, jangan ganggu aku!” teriak cacing. “Toloooong! Darurat. Aku diculik!” cacing kecil yang licin itu menggeliat dan meronta sampai terlepas, lalu kembali menyelam ke kotoran untuk sembunyi.

Dewa yang baik hati ini kembali merogohkan tangannya ke dalam kotoran, kena, dan mencoba menariknya lagi. Nyaris bisa keluar, tetapi karena si cacing berlumuran lendir dan terus menggeliat membebaskan diri, akhirnya lepas lagi, dan bersembunyi makin dalam. Berkali-kali sang dewa mencoba menarik cacing malang itu, namun si cacing begitu melekat dengan kotoran kesayangannya, sehingga ia terus meloloskan diri.

Akhirnya sang dewa menyerah dan kembali ke surga, meninggalkan si cacing dan kotoran kesayangannya.
Begitulah asal mula segala kisah buku ini bermula. Karena saya dulu memulai baca dari buku kedua jadi kisah ini baru kubaca semalam. Unik juga permulaannya. Dari kisah ini kita bisa ambil banyak hikmah, salah satunya adalah pengetahuan terkadang berbahaya. Si cacing tak tahu dunia luar, dia begitu bahagia di kehidupannya, sekalipun kita jelas menganggapnya jijik. Begitulah hidup. Doeloe waktu kecil saya bilang, nasi dengan tempe dikasih kecap itu adalah makan terlezat sedunia. Kenapa saya bilang gitu, karena saya tak tahu banyak makanan enak lainnya. Begitu beranjak dewasa jelas pengetahuan kita meningkat. Dan tentu saja makanan yang lebih lezat dari tempe banyak. Mungkin kalian merasa kasihan dengan masa kecilku dengan tempe-nya, dunia ini luas dan kaca mata kita begitu sempit.

Buku ini lalu berkisah cerita-cerita pendek lainnya yang sebagian mengisnpirasi, sebagian bagus, namun sebagian besar biasa, kalau ga boleh dibilang jelek. Beberapa sudah kubaca di tempat lain, seperti seorang lelaki berjuang untuk jodoh ‘Mencari Yang  Sempurna’. Namun gagal, sampai akhirnya dalam perjuanganya menemukan gadis sempurna, dia tetap gagal menikahinya karena ternyata sang gadis mencari lelaki sempurna.

Cerita paling unik menurutku ada di ‘Lima Malaikat’. Bagaimana sebuah mimpi menjadi firasat untuk berjudi. Mengumpulkan uang itu sulit, tapi menghabiskannya mudah – dan cara termudah untuk kehilangan uang adalah berjudi. Bagaimana mimpi tentang malaikat yang memberinya 5 kendi emas hingga menjadikannya kaya, firasat itu menuntun untuk pasang judi balap kuda nomor lima, menarik uang 5.000 Dollar dari banknya untuk memasangnya di kuda nomor 5 bernama 5 malaikat, balapan ke 5. Mimpi itu tak mungkin salah, dan jedeeer, sang kuda finis nomor 5!

Kisah ‘Aku Tahu Rahasiamu’ itu joke basi yang sudah kubaca lama sekali dan ada di buku ini! Jelas ini bukan karya bung Ajahn. Bagaimana seorang anak dapat duit dari bilang ‘aku tahu semuanya lho’ kepada kakak, ayah, ibu sampai akhirnya kepada pak pos. Kena batunya. Saya yakin sebagian kalian sudah baca itu. Sayang sekali. Bagian-bagian yang seperti ini yang membuatku ragu, jangan-jangan banyak nukilan kisah bukan karya asli beliau?

Kenapa saya tanyakan hal ini, pasalnya banyak kisah lainnya juga saduran. ‘Baik? Buruk? Siapa Yang Tahu?’ dari judulnya saja kita tahu ini tentang raja yang jarinya harus diamputasi. Judul ‘Orang Buta Dan Gajah’ tanpa membacanya saja kita tahu ini pasti tentang beberapa orang buta yang memegang bagian gajah lalu mendiskripsikannya, tentu setiap orang buta beda pendapat. Lalu kisah ‘Kura-Kura Bawel’ yang terbang bareng burung hingga akhirnya bernasib malang karena kebawelannya. Dan sebagainya dan seterusnya. Sayang sekali, nama besar itu memuat kisah yang bukan karya aslinya namun tak mencantumkan sumber atau setidaknya bilang ini kisah orang lain, ini hikayat, ini legenda, dan lainnya.

Jadi worth it ga nih dibaca, kalau sekedar dilahap masih bisalah, toh tak rugi apapun. Tapi kalau dibeli atau sampai dikoleksi, jelas eman-eman duite. Masih sangat banyak buku motivasi yang lebih hebat dari sekedar nukilan kisah-kisah biasa, ini. Pikir lagi!

Best Of The Best: Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya | by Ajahn Brahm | penyunting Handaka Vijjananda | Penerjemah Tasfan Sadikin | Penggambar Atama Studio | Penata Andreas Pratama | Penerbit Awareness Publication | ISBN 978-602-8194-89-1 | Cetakan 1, Juni 2016 | Skor: 2/5
Ruang HR NICI – Karawang, 251116 – Sherina Munaf – Pikir Lagi – Gajian Day