A Hollogram For A King: How Did I Get Here

image

Dari posternya sudah terlihat unik. Tom Hanks mengenakan setelan jas ke kantor lengkap dengan tas jinjing dan dasi di tengah gurun. Dengan tagline How Far Will You Go? To Find Yourself. Dengan kondisi saya rapatkan telinga tak tahu ini film tentang apa, di Selasa sore yang mendung. Hari itu saya sedang kurang fit, tidak masuk kerja di musim hujan yang flu, sehingga memutuskan mendekam di kamar dan mencoba menikmati film yang kudapat dari copy teman kerja, Rani Wulan.
Film dibuka dengan ambigu. Alan Clay (Tom Hanks) seorang salesman berjalan sambil berdendang terhadap penonton tentang iklan investasi. Tanpa uang. Rumah. Mobil. Istri. Dan bertanya ‘bagaimana saya sampai di sini?’ Sambil berteriak menengadah ke atas. Situasi menempatkan Alan harus ke Kerajaan Saudi Arabia.
Dengan rollercoaster yang aneh, ia terduduk di sebuah pesawat terbang bersama rombongan haji dengan suara menggema ‘Laibaika Allahuma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda, wanni’mata…” Pesawat melintasi gurun dengan kepulan dua asap di ekornya. Alan sampai di hotel Hyatt, Jedah. Tampak frustasi dan terbebani. Menatap malam Timur Tengah dari kaca hotel lalu menutup mata dan mengatukkan kepala di kaca gedung, ‘huuuuufffhhh…’ seakan bilang. Kenapa saya bisa sampai di sini? Lalu judul utama film muncul. Kita tahu Alan sampai di sana karena terpaksa, bosnya bilang kau ada di bangku cadangan dan ini bukan hari Schwinn.
Di hari pertama di Arab, Alan bangun kesiangan jam 09:14. Bertanya ke lobi, dan tadaaa…. Yang jawab orang Jakarta, Indonesia! Minta mobil dan sopirnya untuk diantar ke gedung KMET – Pusat Metropolis Ekonomi dan Perdagangan. Dengan mobil butut yng dikendarai oleh Yousef (Alexander Black), orang aneh yang drop out kuliah di Alabama, Amerika. Men-stater mobil gagal, ternyata ada kunci rahasia. Takut dicuri? Bukan, takut diledakkan! Waaa…, bukan. Bukan karena teroris tapi takut karena selingkuhan. Saya bukan sopirmu, saya pemandumu. Sopir. Pemandu. Pahlawan.
Selama perjalanan, mereka saling berkenalan. Dengan iringan musik Chicago – You’re The Inspiration bersuara besar dan si Yousef terus saja ngoceh. Lalu musik lain ga jelas. Percakapan ambigu itu berakhir juga. Sesampai di sana Alan bertemu Sayed (Waleed Elgadi) dan setelahnya diminta bertemu dengan Karim Al-Ahmad (Khalid Laith), sebagai kontak utama tender IT. Di sana semua juga absurb. Seorang laki-laki duduk di dekat mobil cakruk, melamun. Alan kemudian bertemu dengan timnya, timnya bukan mempersiapkan slide presentasi di gedung, tapi hanya di tenda seadanya. Ada tiga orang dari Reyland Grup yang ditempatkan di sana. Cayley, Brad, dan Rachel. Mereka bertiga sepertinya tertekan dengan fasilitas seadanya, tak ada makanan, tak ada wifi. Jadi untuk persiapan presentasi nantinya bagaimana? Semua tim jelas terlalu berharap banyak pada Alan, yang mana ia sendiri ragu akankah bisa menjadi vendor proyek ini. Di sgedung divisi pengembangan ia disapa resepsionis Maha (Amira El Sayed). Bahwa Karim tidak ada di tempat, diminta datang lagi besok. Apa jadinya FISH tanpa eye (i) – Fssshhhhh….!
Sekembali ke hotel, dia dihubungi bosnya Eric. Kenapa tidak bisa ketemu Karim dan bagaimana perkembangannya. Sepatunya penuh pasir. Hufh… Ia bermasalah dengan putrinya Kitty Clay (Tracey Fairway). Ia menjalani kelulusan SMU dengan bekerja paruh waktu sebagai pramu saji karena tak ada biaya untuk kuliah. Mengalami perceraian yang menyedihkan, mantan istrinya selalu menyalahkannya. ‘Masalah ada di sini, apa yang dilakukannya di padang pasir?’ Lalu bermasalah dengan ayahnya, yang optimis dalam menjalani hidup, maka ketika tahu ia di Arab, apa yang kau lakukan di sana? Sedang menjual sistem IT telekonfresi kepada Raja? Hei alan, jembatan Oklahoma sedang dibuat di China. Jadi ketika masalah ekonomi sedang pelik, segalanya bisa terjadi. Malam itu kita tahu, Alan frustasi akan kehidupan. Dengan akting hebat Tom Hanks, kepelikan masalah jadi begitu bernyawa.
Besoknya sama. Ia bangun kesiangan. Dijemput oleh Yousef lagi. Dan sesampai di gedung, sama saja. Mr. Karim tidak ada di tempat. Kemarin di Jeddah, hari ini di Riyard. Hufh, wifi masih bermasalah, makanan tidak ada. Carut marut. Mereka kan vendor, kenapa tidak didukung sengan fasilitas memadai? Lalu ia pun mengambil tindakan nekad. Masuk gedung ketika Maha sedang mendapat perhatian lain. Di lantai atas ia bertemu seorang wanita dari Denmark, Hanne (Sidse Babett Knudsen). Dari Hanne kita tahu, raja tidak di sana karena sudah 18 bulan janji-jani itu kosong. Malam itu kita pun tahu ada masalah di punggung Alan. Benjolan sebesar telur ayam itu sudah dideritanya lama dan kini semakin sakit.
Esoknya Yousef mengajaknya jalan-jalan untuk merasakan masakan lokal. Wah, nekad bolos? Tenang, dari koran kita tahu Raja sedang di Yemen jadi santai saja hari ini dipastikan ia tak akan datang. Masakan lokal itu hanya berisi ikan dan nasi. Kemudian ia pun pergi ke dokter untuk periksa. Disambut dokter Hakem Zahra (Sarita Choudhury), seorang wanita. Hasil pemeriksaan akan diberitahukan hari Minggu. Ketika hal itu diceritakan kepada Yousef, ia kaget. Wow, dokter perempuan. Alan berjalan di kesempatan pertama.
Malamnya ia malah diajak jalan Hanne ke sebuah diskotik tersembunyi. Dengan musik menghentak. Alkohol. Wanita-wanita seksi. Dan itu berada tepat di negara Arab. Wow! Esoknya, lagi-lagi Karim tak ada. Ia di New York. Haha.. shock. Namun ada kejutan ketika Alan memaksa masuk lagi, ternyata Karim ada di kantor. Weleh. Semakin hari semakin membingungkan. Seperti di negeri wonderland saja.
Dengan kondisi serba sulit Alan didesak waktu. Presentasi harus segera siap karena setiap saat raja bisa datang. Alan juga sedang sakit berat sehingga harus segera operasi. Hal ini menjadikannya dekat dengan dokter Hakem lalu tumbuh benih cinta diantara mereka. Kedekatannya dengan Yousef juga beresiko. Seperti ketika ia secara tak sengaja menyelundupkannya ke kota Mekkah.
Berhasilkah timnya Alan dalam presentasi hologram di hadapan raja? Bisakah Reyland Grup memenangi persaingan untuk memenangkan proyek itu? Bagaimana kisah cinta Alan dengan dokter Zahra berujung? Dengan perbedaan kebudayaan yang begitu tinggi.
Well, beberapa bagian tak membuatku terkejut karena saya muslim. Seperti bagian ketika aturan memasuki kota suci Mekah yang harus seorang muslim. Sholat lima waktu. Wanita berhijap. Suami beristri empat. Sampai cara salam kepada saudara. Yang mengejutkanku justru, script cerita ini. Film ini berdasarkan novel karya Dave Eggers. Cara penyampaian kepada penonton ada yang janggal. Di awal seperti film Cloud Atlas (yang juga diperankan oelh Tom Hanks) dimana kita diajak menyelami dilema pikiran Alan. Pembagian porsi pikiran nyata dan maya yang sangat menggoda. Awal yang bagus. Tapi menuju pertengahan, kehilangan kendali karena masalah merebet kemana-mana. Kekuatan untuk stabil bagus terguncang. Cinta Alan kepada warga asli, penyakitnya yang harus dioperasi segera. Benturan masalah dengan sopirnya, yang dibuat rumit sendiri sampai keputusan akhir inti alasan Alan ke sana.
Kekuatan utama jelas di akting Hanks. Kualitas prima. Juara. Memainkan mimik orang bingung di negeri antah dengan sangat meyakinkan. Setiap adegan sunyi, kesepian dan tatapan kosongnya. Benar-benar aplikasi sukses kalimat, ‘kenapa saya bisa sampai terdampar di sini?’
Ada trivia unik ketika Alan bilang, ‘mereka hanya dapat membunuhku dengan peluru emas’. Sebuah kutipan dari film legendaris Lawrence of Arabia. Nah itu pula pikiran Alan di sana. Syeik. Unta. Gurun. Laki-laki di mana-mana. Arab sekali. Lalu trivia aneh di adegan pembuka, Tim Hanks menyanyikan sendiri lagu dari Talking Heads, ‘Once in a lifetime’. Nyeleneh, dan patut diacungi jempol.
Ini adalah film Tom Hanks ketiga yang kutonton dalam sebulan ini. Sully yang biasa. Inferno yang biasa. Dan Hollogram yang biasa. Waduh, aktor sebesar Hanks ditonton beruntun dengan skor biasa? Aneh rasanya. Salahkan pada script! Saya yakin sekali bukunya jauh lebih menawan. Dan seandaikan ada kesempatan saya pasti sangat amat tertarik membaca buku-buku Dave Eggers.
A Hollogram For A King | Year 2016 | Directed by Tom Tykwer | Script Tom Tykwer | Cast Tom Hanks, Sarita Choudhury, Omar Elba, Tracey Fairway | Skor: 3/5
Karawang, 041016 – Sheila On 7 – Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Advertisements

One thought on “A Hollogram For A King: How Did I Get Here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s