Sully: A Real Hero

image

Sully: Everything is unprecedented until it happens for the first time.

Apa yang dipermasalahkan dari sebuah kisah pendaratan darurat pesawat terbang di sebuah sungai dengan sukses, tak ada satupun penumpang meninggal? Harusnya tak ada. Apa yang bisa diharapkan dari kisah suami yang baik hati dan disambut gegap gempita bak seorang pahlawan dengan konflik sederhana? Harusnya memang tak ada. Saya seperti menonton film dokumenter, bukan film dengan script menawan. Saya beritahu sedari awal, film ini ceritanya tidak menggigit sama sekali. Datar.

Sebelum memutuskan menonton ini film, saya hanya tahu bahwa sutradaranya Clint Eastwood. Bintangnya Tom Hanks dengan poster pesawat terbang yang terapung di sebuah sungai dengan kedua sayap penuh penumpang. That’s it. Ketika nonton mendapat bonus Aaron Eckhart dan sebuah visual jernih bak sebuah lukisan indah yang nyata.

Keputusan menontonnya lebih dilematis. Ketika laga Derby Manchester berlangsung, bukti saya hora minat ‘duel besar’ EPL malam Minggu di prime time itu. Dan bersamaan dengan sekeluarga, ibu, May, Hermione, kedua adik nonton Warkop DKI Reborn. Yeah, bakaaaaar! Jauh hari saya sudah komit ga minat. Sekalipun kini hype nya sedang tinggi. Bioskop CGV Festive Karawang penuh sesak penonton dan layar dikuasai itu film, saya bergeming. Ketika masuk studio, sendirian. Diapit pasangan-pasangan yang menghabiskan liburan akhir pekan. Siapa peduli?

Berdasarkan kisah nyata pendaratan darurat pesawat US Airway Flight 1549 (AWE 1549) di sungai Hudson pada tanggal 15 Januari 2009. Dunia tahunya kejadian itu bertajuk ‘Miracle on the Hudson’. Dari buku biografi berjudul Highest Duty oleh Chesley Sullenberger dan Jeffrey Zaslow. Kisah dibuka dengan sebuah keputusan berat sang kapten pilot Chesley ‘Sully’ Sullenberger (Tom Hanks) dan co-pilot Jeff Skiles (Aaron Eckhart) yang menahkodahi 155 penumpang. Pesawat penerbangan lokal yang baru terbang dari bandara LaGuardia selama 3 menit itu mengalami kerusakan. Beberapa burung masuk ke mesin dan mengakibatkan kedua mesin bermasalah. Menghubungi pusat untuk meminta izin kembali mendarat. Izin untuk kembali sudah didapat, silakan kembali ke LaGuardia atau ke bandara sebelah Teterboro. Selama keadaan darurat itu co-pilot Jeff diminta membuka the Quick Reference Handbook (QRH) untuk panduan. Namun sepertinya untuk ke bandara sulit, dengan pertimbangan waktu dan analisis keselamatan, akhirnya pengalamanlah yang berbicara sehingga sang kapten memutuskan mendaratkannya di sungai Hudson. Pendaratan itu sukses di mata masyarakat karena tak ada korban jiwa. Sukses secara umum, sukses di mata awam. Tv-tv berita memuatnya. Mengelu-elukannya. Di tengah banyaknya bencana terjadi, pendaratan mulus ini tentu saja harus dapat kredit dan pujian. Tagline film ini adalah ‘the untold story behind the miracle on the Hudson’, bukti ada sesuatu diceritakan di balik itu. Nah penonton diajak Tom untuk mendalaminya.

Kapten Sully dan Jeff disidang dalam sebuah ruangan. Ternyata bukan pujian atau ucapan selamat yang didapat. Pihak National Transportation Safety Board (NTSB) seolah seperti memberitahu bahwa kedua mesin tak serusak yang dikira Sully. Apakah Sully sedang memakai narkoba? Apakah ia sedang mabuk? Ada masalah keluarga akhir-akhir ini? Melalui tes mekanik para ahli, rekaman kotak hitam, dan investigasi lebih lanjut seharusnya pesawat masih bisa mendarat di landasan. Nah poin utama film adalah ini. Apakah keputusannya mendaratkan di sungai tepat ataukan karena human error?

Sepanjang film kita akan diajak menyelami pikiran Sully. Telepon istrinya Lorraine Sullenberger (Laura Linney) untuk tenang dan bilang kepada anak-anak untuk tidak khawatir. Kapan pulang? Kapan bertemu. Sully selalu bilang bahwa dia baik-baik saja, nyatanya dirinya mengalami dilema. Jangan berharap kalian akan melihat Sully bertatap langsung dengan sang istri. Karena ternyata sampai film kelar hal itu tak terjadi. Percakapan hanya lewat HP. Ada masalah apa? Ada adegan mengganggu selama telpon-telponan. Istrinya bilang, “Couldn’t you’ve done anything more dangerous?” Oh come on… di tv bilang semua penumpang selamat dan apa yang lebih dikhawatirkan?

Menginap di hotel, melakukan jogging untuk menyegarkan pikiran. Lalu adegan ditarik jauh ke belakang di masa remaja Sully. Bagaimana cita-citanya sebagai penerbang terwujud. Lalu masa dewasa yang pernah sukses mendaratkan pesawat yang bermasalah mesinnya. Bukti bahwa ia seorang pilot hebat. Bukti pengalaman sangat penting untuk mengambil keputusan. Saya sempat berharap masa lalu beliau akan dikupas, layaknya film-film Eastwood lain yang lebih mendalam. Oh tak terkabul. Durasinya hanya 95 menit. Masa lalu itu hanya sekelebat, tak mendetail, sekedar lewat. Sayang sekali.
Semakin mendekati akhir menuju hari H persidangan, semakin kabur dan menyiutkan nyali. Jangan-jangan dugaan NTSB benar, bahwa Sully pikun nih. Karena ancaman dia dipecat tanpa pesangon, tanpa uang pensiun. Istrinya khawatir. Penonton yang sedari awal santai mulai was-was. Jadi apa yang diputuskan dari Hearing Room itu?

Fisrt thing first story. Ulasan, review atau apalah itu yang utama jelas adalah cerita. Sayang sekali Sully gagal memenuhi harap. Di Amerika, mungkin kisah ini sudah pada tahu akhirnya. Pahlawan lokal. Namun bagi kita pendaratan itu paling hanya sekelebat lewat berita dan dilupakan atau malah tak tahu sama sekali. Saya sendiri tak tahu detailnya. Film ini cocoknya dijadikan film dokumenter dengan komentar para penumpang yang selamat, keluarga yang memujinya. Jadi saat 155 penumpang aman, apa yang dipermasalahkan? Safety first, kata departemen safety, dan sudah sesuai prosedur, jadi mengapa diperdebatkan?

Keunggulan film ini hanya di sektor gambar yang jernih. Sangat jernih, karena kamera yang dipakai memang kamera new ALEXA IMAX 65 mm. Seperti potongan gambar-gambar kartu pos yang menawan. Adegan pesawat saat sekawanan burung masuk mesin ditampilkan bagus, kepanikan penumpang ikut terguncang mengajak penonton terbawa panik. Yang istimewa tentu saja saat akhirnya pesawat menyentuh air, goncangannya dan akhirnya air masuk ke kabin. Penumpang ketakutan, dan emergency action yang natural dari para pemeran. Proses evakuasi digambarkan dengan megah. Pasukan penyelamat juga ditampilkan rapi, sangat rapi malah. Tapi pujian visual itu tentu saja tak cukup.

Lagu A Real Hero juga berkumandang di film ini. Lagu gubahan Frech dan Electric Youth ini pertama rilis tahun 2010 terinspirasi dari peristiwa di sungai Hudson dan omongan kakek personil Electric Youth, Austin Garrick. Reff-nya berbunyi ‘a real human being and a real hero’. Pertama kali mendengarnya di film Drive yang sangar itu. Hello Ryan Gosling! Ternyata juga pernah dipakai untuk film Taken 2. Kalau kalian jeli, ketika film baru berjalan beberapa menit ketika memasuki adegan kota New York kalian akan menemukan sebuah taksi dengan iklan film The Revenant. Padahal setting film ini tahun 2009 dan Revenant rilis tahun lalu.

Saya bisa pastikan film ini tak akan berbicara banyak di Oscar. Tom untuk Oscar ketiga setelah Philadelpia dan Forrest Gump? Nooo… musim penghargaan masih lama dan berjalannya waktu aktingnya akan tergencet aktor lain. Sektor best actor adalah yang paling ketat. Tahun lalu di Bridge of Spies yang keren saja tak dilirik apalagi ini. Dibanding Captain Phillips kualitas film ini jauh. Padahal secara garis sama, sebagai kapten dalam perjalanan yang berakhir bencana. Namun ketegangan Phillips terjaga hingga saya tasbihkan sebagai salah satu film terbaik 2013. Tom Hanks dengan rambut beruban dan Aaron Eckhart mengenakan kumis tebal?

Film ini mengingatkanku pada film Flight yang rilis tahun 2012 yang dibintangi Denzel Washinton. Namun kisah di sana lebih mendebarkan, lebih berbobot, lebih mencekam. Sully? Ah sulit memang merumuskan kisah nyata yang manis menjadi script istimewa.

Oscar di sektor naskah rasanya mustahil. Pun di bagian sutradara juga tak mungkin. Dibanding CV Eastwood yang panjang dan mewah dari Mystic River, Letters From Iwo Jiwa, Million Dollar Baby, The Unforgiven sampai Gran Torino, rasanya Sully jauh dari kata mumpuni.

Pesanku sih, kalau mau nonton film ini jangan berekspektasi tinggi, takut jatuh layaknya pesawat 1549. Sayang sekali kolaborasi perdana sutradara kawakan Clint Eastwood dan aktor besar Tom Hanks berakhir seperti ini. Sayang sekali…

Sully | Year 2016 | Directed by Clint Eastwood | Screenplay Todd Komarnicki | Cast Tom Hanks, Aaron Eckhart, Valerie Mahaffey, Laura Linney | Skor: 3/5
Karawang, 140916 – Gorillaz – Clint Eastwood

Advertisements

4 thoughts on “Sully: A Real Hero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s