1 Poin Penting Dari Kunjungan Ke Kota Verona

image

image

image

image

Beberapa hari sebelum laga, Ciro Immobile berujar kepada media, “In him, we have a beautiful attacker and we can do well.” Komentar itu buntut dari masalah yang mendera Keita Balde yang ngambek hingga beradu argumen dengan Simone Inzaghi yang mengakibatkan ia dibekukan sampai minta dijual. Sampai akhirnya September datang dan posisi sang striker masih jadi bagian Elang Biru, Keita mendapat kontrak baru sampai 2021 dengan kenaikan gaji. Semoga semangat Ciro bisa bertahan dan stabil sampai akhir musim.
Mengingat lawatan terakhir kita ke stadiun Marc Antonio Bentegodi berakhir bencana, apa yang dibawa pulang skuat Inzaghi semalam dalam laga pekan ketiga Serie A patut diapresiasi. Tiap lawan Chievo tandang kita selalu kesulitan, sejak zaman Manfredini hingga Luciano. Corner kick Birza ngeri, tandai aja pekan-pekan berikutnya Cheivo akan banyak mendulang gol via bola mati dari pojok yang dimulai kaki Birsa!
Pasukan musim ini memang lebih berbobot ketimbang musim lalu. Walau tak banyak perubahan, ada beberapa bagian yang sudah dibenahi terutama sekali sektor bek tengah dengan melepas sang raja kartu Mauricio dan mendatangkan Bastos.
Ucapan Ciro ada benarnya. Musim ini harusnya Lazio bisa berbicara banyak dalam perebutan gelar mengingat bintang ada di segala lini. Pertandingan pertama Keita musim ini ia memberi andil atas satu poin penting. Hanya berselang tiga menit setelah ia masuk menggantikan Kishna, memberi assist untuk gol perdana Stefan di serie A!
Komposisi yang dibawa ke kota Verona sudah pas dan mumpuni, minus dua pemain baru Luis dan Leitner. Pemilihan starting depan dan belakang sidah keren, mungkin ada yang salah di bagian tengah. Dengan formasi baku 4-3-3 posisi kiper masih dipercayakan kepada senior Frederico Machetti. Bek tengah sudah paten kepada Stefan De Vrij dan Bastos dengan kedua sisi diisi Dusan Basta dan Radu. Format ini memaksa Patric, Wallace dan Hoedt harus di bangku cadangan. Di tengah sebagai jenderal penting pos yang tak tergantikan Lucas Biglia disokong kiri Senad Lulic dan kanan Marco Parolo. Kesalahan ada di pemilihan Lulic. Jelas pekan lalu ia tak banyak memberi andil kini tetap dimasukkan starting. Tridente maut sudah pas Kishna-Felipe untuk melayani ujung tombak Ciro Immobile yang sedang on fire setelah cetak gol bagus saat membela Gli Azzuri.
Ini adalah pertandingan resmi SS Lazio perdana musim ini yang saya tonton full. Pekan pertama lawan Atlanta saya tak mendapat izin May keluar untuk nobar gara-gara tayang dini hari, untung menang. Pekan kedua lawan Jupe, saat kick-off saya sedang dalam perjalanan ke kota Depok. Sehingga kesempatan live di prime time malam takbir harus saya maksimalkan. 30 menit sebelum dimulai saya sudah log in di warnet dekat rumah agar tak tertinggal sedetik-pun, yeah streaming itu butuh perjuangan lebih. Cari link, buang iklan, sampai coba sana-sini yang lancar mana. Melalui web tajetarojaonline.com akhirnya saya bisa menyaksikan partai tandang uji nyali.
Malam ini kita mengenakan kostum putih. Kostum keberuntungan, kostum yang lebih sering dipakai dua musim lalu yang menghantar kita ke posisi tiga. Mengingat musim lalu berbaju hitam amburadul, harusnya ke depannya kita terus memakai jersey putih sebagai pakaian resmi bertandang.

Babak 1
Peluang pertama didapatkan oleh Ciro, umpan terobos di menit 4 dengan tenang ia terima lalu membalik badan melakukan shoot. Ternyata offside. Shoot kiri striker Italia ini keren banget. Tiga menit berselang Kishna melakukan gocekan yahud di sisi kiri, melewati dua pemain. Sayang bola meluncur keluar karena terlalu deras mengolah. Peluang pertama Keledai Kuning didapat di menit 15, sebuah tendangan pojok Valter Birsa (nah ini pemain berbahaya!) disambut sundulan mantab Fabrizio Cacciatore menghujam keras ke gawang namun posisi Machetti pas sehingga dengan lompatan terarah ia berhasil memblok. Komentator teriak, ‘good save!’ Memasuki menit 20 lawan mulai menemukan pola dan menyusunnya. Massimo Gobbi dan Dario Dainelli jelas sekali menutup ruang dua penyokong Immobile. Felipe dan Kishna tiap dapat bola langsung dicover dua pemain sehingga semangat tinggi Ciro sia-sia. Tak ada suplai.
Menit 25 ada water break. Hooo, ternyata di sana ada istirahat mimik jua to. Ketika water break itulah Bentegodi disorot, walau tak penuh, gemuruh fan Kuning ngeri. Gema dan chant terdengar memekakkan telinga membakar nyali. Menit 34 Kishna bisa lolos dari kawalan di kiri, namun sayang lagi-lagi bola keburu keluar sebelum diumpan. Dua menit berselang giliran Parolo yang menyia-nyiakannya, sayang sekali duel udara yang dimenangkannya menghantar bola melambung tinggi. Chievo merapatkan barisan dengan mengandalkan serangan balik. Set piece mereka ketika luang, patut diamati. Pantas saja Inter dan Fiorentina dibabat, antisipasi counter attact dan bola mati harus ditingkatkan. Untung malam ini bek tengahnya Bastos, ia konsisten main bagus. Sapu bersihnya bersih. Apa kabar Mauricio? Add time 3 menit terlewati tanpa ada kejadian menarik. HT 0-0.

Babak II
Dari analisis singkat. Lulic dan Felipe main buruk harus secepatnya ditarik. Ujung-ujungnya Keita, Savic yang bakal diturunkan. Pengen lihat aksi Palombi sang pendobrak, sayang keburu dipinjamkan. Lima menit berjalan, tak ada peluang sama sekali. Keduanya masih berhati-hati. Memasuki menit 51 akhirnya yang ditakutkan terjadi. Bola mati korner Birza (nah lo!) itu membuat Machetti memungut bola dari jala. Gamberini menghukum kelengahan jaga. 1-0.
Inzaghi langsung merespon, Kishna ditarik memasukkan Keita. Keputusan tepat. Setelah duel tak perlu di sisi kanan yang menghasilkan tendangan bebas dan ganjaran kartu buat Perparim Hetemaj, Lazio menyusun strategi free kick. Tendangan diambil Biglia ke arah tepat depan gawang, kemelut lompat itu menghasilkan sundulan kecil kepada Keita di kanan. Si keling menyundul balik si kulit bundar ke kerumunan, Stefan berdiri di tempat yang tepat. Assist Keita diarahkan ke sarang. Bola sempat mantul tiang dan mengarah keluar lagi, tapi sudah melewati garis sehingga cocoran Lulic untuk mendorong bola kembali masuk percuma. Goool! 1-1 menit 55. Keita kasih bukti ia masih layak berbaju Elang Biru. Pekan depan kuharap ia starter. Ini adalah gol perdana bek seharga 80 juta pound ini di serie A. Melegakan, keputusan menahannya dari godaan Conte adalah keputusan benar dan tepat. Pilihan Conte yang akhirnya membawa pulang David Luiz membuat lega seluruh Laziale sehingga bek Holland ini bisa kembali focus membawa terbang tinggi Lazio. 
Memasuki sejam pertandingan sang kapten Biglia kena kartu kuning. Chievo terus mempraktekkan ball position. Bola berpeta di tengah. Waspada bola mati itu terjadi menit 63. Melalui tendangan pojok, sekali lagi Machetti membayar kepercayaan. Sundulan deras ke gawang lagi-lagi berhasil dimentahkannya. Amazing! Komentator sampai nggambleh ga jelas, ‘fantastic save, once again Frederico!’.
Savic the soldier akhirnya masuk menit 66 mengganti Senad Lulic yang malam ini tampil sangat buruk. Kalau lawan Pescara ia masih saja starting, Simone tak belajar malam ini. Apesnya, berselang tak lama Savic langsung kena kartu kuning gara-gara kesalahan tak perlu. Duh! Terlalu semangat jenderal, control emosinya. Tak banyak hal penting terjadi sampai menit 70 hingga ada water break lagi. Sekaligus musuh melakukan pergantian pertamanya. Sergio Pellissier keluar Robert Inglese masuk. Semenit berselang Parolo lagi-lagi dapat peluang bagus, sayang eksekuisnya melayang. Serangan bertumpu pada Keita, bola terus dilempar ke kanan. Sempat berdoa ia akan menjatuhkan diri dalam kotak namun ga muncul jua. Emang luar biasa anak muda Senegal ini. Skill-nya di atas rata-rata, hanya ego-nya harus lebih dikontrol. Menit 76 akhirnya Savic mendapat peluang pertamanya, sayang tembakannya melebar. Jonathan De Guzman masuk mengganti Valter Birsa. Huuuufhhh… lega akhirnya keluar juga sang teroris pojok ini. Well, di serie A sempat heboh karena pemilihan nomor punggung De Gusman adalah nomor 1. Weee, bukan kiper ambil nomor kiper. Unik ya.
Kalau pelatih pengalaman dan melihat musuh ternyata ga se-separtan dalam menyerang harusnya berani bertaruh memasukkan satu striker lagi. 1 poin tak cukup bagus untuk bertarung juara. Menit 80 lawan melakukan pergantian terakhir. Allesandro Gamberini yang menghantui sepanjang laga ditarik, masuk Bostjan Cesar. Duh! Mana respon-pun Simone? Untung Bastos beknya. Karena ia lagi-lagi-lagi menyapu bola dengan bagus. Sapuannya menuju kanan, di kaki Keita sampai merangsek depan gawang. Nah ini yang saya bilang ego. Melihat Ciro berlari mencari ruang harusnya segera diumpan, namun apa daya. Kemaruknya masih tinggi, dengan posisi diapit dua bek, Keita melakukan shoot pertamanya. Sayang buruk. Kemaruk satu Antonio Candreva sudah pergi, please… kemaruk dua jangan buang-buang peluang. Andai bola itu sampai di kaki Ciro, bisa jadi hari ini kita pesta kemenangan.
Bentegodi makin bergemuruh. Dukungan tuan rumah mendera. Ada ratusan Laziale hadir membentangkan poster Beppe Signori bersanding dengan banner SSL dengan tulisan Curva Nord. Di tengah serangan La Libera, patut diapresiasi kehadiran mereka dalam laga horror Bentegodi. Menit 88 Basta melakukan tekel buruk yang berujung kartu kuning. Di menit itu pula akhirnya pergantian ketiga terjadi, Filip Djordje masuk Parolo keluar. Terlambat bro, dua striker murni ketika waktu normal, menit tinggal menyisakan dua. Apa yang bisa dikejar? Masukkan Filip maka menutup pula peluang main Christiano Lombardi pekan ini, pemain muda yang sukses di debut pekan pertama dengan gol cantiknya. Sedang on fire, sedang semangat, sedang meletupnya aura kenapa ga diberi kesempatan? Sabar ya Christ, mudah-mudahan pekan depan mendapat menit bermain dan kasih bukti.
Menit 90 puncak ketegangan terjadi. Kemelut saling tuduh itu membuat wasit mengeluarkan tiga kuning sekaligus. Masing-masing buat Felipe, Cesar dan (tentu saja) Radu. Duh Radu lagi, pemain tua yang masih saja emosional. Tanding Lazio tak lengkap tanpa kuning Radu. Tahan emosi Stefan, tahan! Add time 5 menit tak banyak yang menghasilkan perubahan. Sampai akhirnya pertandingan selesai. Saya tetap terpaku, menyaksikan idola memberi applaus kepada Laziale. Terlihat Danilo Cataldi yang tak bermain, memimpin apresiasi Laziale. Sungguh berjiwa besar produk asli Lazio ini.

“Hasil ini terasa pahit bagi kami.” ujar Rolando Maran, dikutip dari Football Italia. “Kami menciptakan empat atau lima peluang mencetak gol dan hanya mampu satu kali mengkonversikannya menjadi gol.” Yah, musuh ternyata pede sekali.

Apalah itu, satu partai besar sudah dilewati. Dua lagi pekan 13 bersua Genoa dan DDC dua pekan berselang. Sembari menanti itu, bisalah partai-partai biasa kita ratakan. Pescara, Milan, Empoli dst, dst.

Pertandingan berikutnya Danilo harus diberi kesempatan. Ingat pekan pertama ia juga membuat gol dramatis lho.
1 poin penting dari lawan ke kota Verona. Pertandingan berikutnya lebih mudah. Sekedar Pescara yang kemarin tumbang oleh Inter, harusnya bisalah poin 3. Yang patut diwaspadai paling Aquilani dan Benali. Bisalah nerapin ofensif. Kuharap tridente yang dipasang adalah Immobile, Felipe dan Keita. Bayangkan tiga pemain ini nantinya disokong pemain full kreasi Luis Alberto! Dah yakin, kalau cuma 3 gol pasti dapat. Pasti bisa. Dan kita siap menyambut pulang sang legenda besar Massimo Oddo di Olimpico!

Chievo: Sorrentino; Cacciatore, Dainelli, Cesar (Gamberini 80), Gobbi; Castro, Radovanovic, Hetemaj; Birsa (De Guzman 77); Pellissier (Inglese 70), Meggiorini
Lazio: Marchetti; Basta, de Vrij, Bastos, Radu; Parolo (Djordjevic 88), Biglia, Lulic (Milinkovic- Savic 65); Felipe Anderson, Immobile, Kishna (Keita 52)
#ForzaLazio #AvantiLazio
Karawang, 130916 – Sherina Munaf – Pikir Lagi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s