Puasa Arafah 9 Dzulhijjah

image

Saya bukan muslim yang baik. Namun saya berusaha menjalankan ibadah yang wajib dan menambahkan yang sunah bila mampu. Sunah yang tidak terlalu sulit (kemampuanku) dengan pahala yang luar biasa. Puasa 6 hari di bulan Syawal, 2-8 rakaat di waktu di waktu Dhuha, 2 rakaat sebagai ‘sayap’ sebelum dan sesudah Mahgrib dan Isya, kesempurnaan wudlu, dst. Dan tentu saja puasa Arafah 9 Dzulhijjah ada dalam top list yang harus diantisipasi.
Kemarin ketika dalam perjalanan pulang kerja, saat suntuk sampai tembus di malam hari karena lebur dan ingin dengar sesuatu yang lain di radio dengan siaran acak, tunning menangkap radio yang menyairkan ceramah tentang keutamaan puasa Arafah. Dari keisengan teman perjalanan itu beberapa poin saya tangkap dan karena bagus untuk dibagi maka tulisan kali ini izinkan saya bercerita masalah puasa sehari dalam setahun ini. Sekali lagi saya bukan muslim yang baik, kalau ada yang salah mohon diluruskan.
Puasa Arafah adalah puasa satu hari sebelum Idul Adha, hukumnya sunah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan). Dilakukan setiap tahun di tanggal 9 Dzulhijjah yaitu tepat ketika jamaah haji sedang melaksanakan ibadah wukuf di padang Arafah.
Rosullah SAW bersabda Puasa di hari Arafah dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. (HR. Muslim).
Nabi SAW bersabda Sebaik-baiknya doa adalah doa pada hari Arafah. (HR. Tirmidzi).
Jadi silakan, di hari spesial ini kita memohon kepadaNya karena ini termasuk doa yang mustajab, dilakukan di waktu yang utama. Jangan sia-siakan. Musim ini Lazio scudetto? Kebetulan tahun ini atasan saya berangkat haji. Factory manager di hari kerja sore itu, ketika teman-teman pada minta didoakan macam-amacm mulai dari hal sepele masalah jodoh, sukses usaha, sampai hal-hal yang berat seperti doa minta naik jabatan. Ketika giliran saya, saya Cuma minta satu: ‘Doakan Lazio scudetto musim ini.’ Beliau Cuma tertawa dan bilang, ‘ah mustahil rasanya.’ Saya tetap tersenyum dan menimpali, ‘Bapak doakan saja di sana. Sisanya biar urusan Tuhan dan saya.’ So, pastikan mulai subuh besok lebih khusuk dan kirim puja-puji doa untuk memberi kekuatan kemenangan kepada pasukan Elang Biru setiap pekannya.
Tahun ini 9 Dzulhijjah 1437 H jatuh pada hari Minggu, 11 September 2016. Berdasarkan hitungan hisab, posisi hilal tanggal 1 September 2016 masih di bawah ufuk. Tepatnya berada di kisaran antara minus satu derajat 13 menit 29 detik sampai 0 derajat lima menit 58 detik. Artinya 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 3 September 2016.
Dan menurut saya puasa di hari libur itu sangat berat. Kenapa? Waktu melimpah dengan posisi perut kosong itu seakan waktu berjalan dengan lambat. Ujung-ujungnya tidur. Baca buku. Tidur lagi. Ga ada kopi untuk teman santai, ga ada cemilan sebagai pendamping. Makanya puasa itu enaknya pas kerja, waktu berjalan tak terasa. Tiap tetes keringat jadi pemicu untuk terus bertahan menanti Maghrib. Waktu di kala sibuk berlari seakan detik detak saling berkejaran.
Namun ga sepenuhnya juga. Tahun lalu saya ingat sekali. Tanggal 9 jatuh di hari kerja di tengah pekan, sudah saya niatkan puasa. Kebetulan hari itu saya dan teman-teman mendapat tugas market visit ke pasar Rengasdengklok, Karawang untuk cek produk di lapangan. Astaga, panasnya terik. Masuk ke pasar basah baunya mengerikan, mual. Jalan kaki dari satu penjual ke penjual lain untuk wawancara, bibir kering, tenggorokan meronta. Saya ingat sekali dari tim yang berjumlah enam orang itu, saya dapat satu teman seperjalanan yang juga puasa. Eh pas tengah hari mau Dhuhur, ia sudah jalan bersama yang lain ke warteg buat membatalkan. Hufh, jadinya saya sendiri ke masjid di seberang pasar untuk sholat, setelahnya sambil nunggu mereka selesai makan saya baca buku ‘How The World Works’ nya Noams Chomsky – ya saya ingat sekali, saat itu sampai di bagian kudeta Presiden Soeharto dan dalang Amerika yang menjelajah Timur jauh. Namun tak sampai dapat dua lembar saya tepar ketiduran di beranda masjid. Jadi kalau kalian berfikir puasa tahun ini bertepatan libur dan merasa berat hingga melepasnya, pikir dua kali!
Kebetulan tahun ini keputusan Pemerintah sama dengan keputusan dari Pemerintah Arab Saudi jadi aman ga ada perdebatan. Seingat saya tahun 2010 pernah tuh beda tanggal jadi selisih sehari. Kalau saya pribadi jelas puasa Arafah ikut yang di Arab sana, kenapa? Karena ini kan puasa Arafah jadi acuannya ya saat wukuf di sana bukan dari hitungan tanggal di setiap negara. Pernah saya berdiskusi dengan teman yang lebih bagus agamanya, sepintas. Dia mendebatku, saya tak taat ulil amri kalau pegangannya itu.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RosulNya dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-?Nisaa: 59).
Well, saya takutnya gap sehari yang diputuskan pemerintah itu salah terus kita niatnya puasa Arafah 9 Dzulhijjah, padahal saat itu di arab sudah pada merayakan idul adha dan puasa di hari besar ied itu Haram. Ngeri kan?! Mending cari aman. Terus teman saya ndebat lagi, kalau pemerintah salah menentukan tanggal, dosanya mereka yang nanggung. Aduh! Saya paling ga suka menyalahkan orang, saya paling ga suka menunjuk kambing hitam (mending kambingnya buat kurban), saya paling ga suka menghakim keluar. Saya lebih suka menunjuk ke dalam kepada diri sendiri. Apapun yang terjadi pada saya adalah konsekuensi tindakan saya, bukan konspirasi aura busuk di busuknya udara di sekililing kita. Terus saya diajak diskusi lebih lanjut, ‘Wah ga bisa gitu bro. Niat baik saja tak cukup. Harus punya pegangan yang benar, harus punya wawasan agama.’ Ah kita kembali ke dasar ternyata ujungnya. Niat. Saya ga membantah lebih lanjut karena saya paling ga suka berdebat sesuatu yang absurb, kembali lagi ke atas: saya bukan muslim yang baik. Jadi lakukan menurut kalian itu bagus, asal ga recokin orang lain aja deh.
Jadi kesimpulan tulisan ini apa? Ga ada, selain informasi bahwa besok kita punya momen istimewa. Ketika orang-orang yang beruntung punya kesempatan berdiam diri wukuf di Arafah sana, kita (yang berpencar di seluruh dunia) harus juga memperlakukan hari itu istimewa dengan melakukan puasa, sehari saja! Ga usah pusing-pusing hitung pahala, karena sudah ada petugasnya, ga usah memaksa orang lain ikut puasa, yang mampu dan mau aja, ga usah menyalahkan orang lain yang beda pendapat, karena keberanan hanya milik Allah SWT. Semoga bermanfaat.
“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan Sholat sebagai penolongmu” (QS. Al-Baqarah: 153)
Karawang, 100916 – Raihan – Puasa Dulu Baru Rayal

Iklan

3 thoughts on “Puasa Arafah 9 Dzulhijjah

  1. Ttg penetapan hr raya, terutama utk hari raya qurban, setahuku mmg seharusnya mengikuti kegiatan di arafah. Dalil2 yg menguatkannya banyak setahuku, jd ttg divonis tdk taat pd ulil amri utk kasus tsb, ga pas aja sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s