Free State Of Jones: A Great Historical Drama

image

Newton Knight: I’m tired of it. You, me, all of it! We’re all out there dying so they can stay rich!
Jones County adalah sebuah distrik di Negara bagian Mississippi, Amerika Serikat. Wilayah yang didominasi hutan dan rawa. Mississippi adalah salah satu Negara Bagian dengan wilayah luas. Kalau kalian baru tahu ada sebuah Kabupaten bernama Jones setelah membaca ini, tenang. Saya juga baru tahu setelah menonton film Free State Of Jones. Sehari sebelum ke bioskop, teman CS di kantor TH mengajak nonton film yang dibintangi Matthew McConaughey, sang pemenang Oscar tahun 2013 via film Dallas Buyers Club. Sama sepertiku, TH tak tahu ini film tentang apa. Bahkan ia juga baru tahu bahwa Jones itu bukan nama orang. Daya pikat utama tentu saja sang aktor utama dan sutradara yang punya CV dua film mengkilap The Hunger Games dan Seabiscuit, selain itu blank.
Kisahnya sendiri rumit. Drama berat. Tak ada cast and crew di pembuka. Film langsung menyuguhkan perang. Bahwa pada bulan Oktober 1862 di Jones County, Mississppi terjadi Perang Saudara. Tampak barisan pasukan maju serentak dalam ritme teratur ‘kanan-kiri’. Terlihat beberapa mayat tergeletak dan barisan pasukan ini cuek untuk tetap maju. Sesampai di bukit terlihat pasukan musuh dengan meriam dan pedang terhunus. Barisan depan tentu saja adalah orang-orang pertama yang tewas. Semakin dekat semakin membuat jantung penonton berdegub. Seram dan darah di mana-mana.
Di kamp, layar memberi gambaran yang lebih mengerikan. Mayat bergelimpangan. Tentara yang mengerang kesakitan ada di mana-mana, dokter dan perawat super sibuk. Muncullah karakter utama film ini Newton Knight (Matthew McConaughey), ia berteman dengan Jasper Collins (Christhoper Berry). Tampak wajah-wajah murung akibat perang. Ketika malam tiba, Newton dikejutkan kemunculan keponakannya yang masih sangat muda Daniel (Jacob Lofland). Dirinya terseret untuk wajib militer. Dengan ketakutan ia minta tolong perlindungan kepada pamannya. Dan tak butuh waktu lama, dalam arena perang Daniel yang masih hijau akan kehidupan dan klimak Negara tertembak hingga tewas. Ini adalah adegan pembuka yang menjanjikan. Jelas bukan film sembarangan. Kekerasan diumbar. Kepedihan. Kesedihan. Semua rasa frustasi dirajut.
Newt memutuskan mengubur ponakannya di pemakaman dekat rumah, sehingga ia-pun pulang. Dengan kuda berisi mayat ia menantang maut. Sebagai lelaki dewasa di masa perang, pulang adalah pembangkangan. Seorang deserter hukumnya gantung. Setelah pemakaman yang pilu, Newt mulai mengenal keluhan tetangga. Pasukan Konsederasi menarik pajak yang tak wajar. Seperti perampok, pemerintah mengambil hasil tani dengan rakusnya. Suatu malam Davis Knight, putra semata wayangnya terserang demam tinggi. Khawatir, namun mencari dokter yang luang di masa itu msutahil, ia lalu meminta bantuan kepada warga kulit hitam untuk memanggilkan seorang perawat, tabib atau siapapun yang bisa menangani anaknya. Malam itu datanglah Rachel (gugu Mbatha-Raw), seorang budak kulit hitam. Paginya Davis sembuh, Newt tentu saja sangat berterima kasih dan memberinya hadiah emas.
Lalu seorang warga, ibu dengan tiga anaknya dibantu Newt mengusir pemungut pajak. Tampilan adegan ini bagus. Klasik. Anak-anak memegang senjata menantang dan mengancamnya. Pemungut pajak yang dipimpin oleh Barbour (Bill Tangradi) pun balik badan. Esoknya ia mengirim pasukan dengan anjing-anjing menyalak untuk memburu sang deserter. Newt kabur, sayang sebelah kakinya kena gigit. Dalam pelarian, melalui seorang negro dia butuh pengobatan dan dikirim ke hutan dengan sekeliling rawa. Kejutan itu, yang menjemputnya adalah Rachel, I know you. Newt dibawa kepada sekelompok orang kulit hitam yang dipimpin oleh Moses Washington (Mahershala Ali). Mulailah pengenalan para karakter.
Moses adalah budak yang kabur. Mengenakan besi di leher sebagai tahanan yang kabur. Setelah benar-benar sembuh Newt mencoba berbalas budi melepas besi yang membelenggunya. Adegan pelepasan itu diwarnai tembak-tembakan pasukan pencari dan diakhiri memanggang anjing. Tak buruk jua tinggal di rawa. Lebih damai. Lebih bebas. Sementara istrinya Serena Knight dan putranya memutuskan pergi.
Berjalannya waktu semakin banyak orang yang tinggal di sana, termasuk rekan Newt, Jasper Collins. Komunitas ini bertahan hidup dari makanan yang ada di hutan, mancing ikan! Lalu melebar merampok para pemungut pajak. Menyelamatkan jagung di kebun warga sampai berseteru dengan pihak berwajib. Paguyupan ini semakin meluas dan besar hingga Newt lalu mem-proklamasi-kan 4 Sila ‘Free State Of Jones’. Perjuangan warga kulit hitam, puncaknya kota direbut. Kabar ini sampai ke pimpinan dan menugaskan Kolonel Amos McLemore (Thomas Francis Murphy) untuk menumpas gerakan pemberontakan. Nah di sinilah kisah benar-benar seru. Sang Kolonel meminta pasukan Newt menyerah dan keluar dari rawa dengan memberi pengampunan. Instruksi itu membuat salah satu warga bernama Ward berfikir dua kali dan akhirnya memutuskan mengibarkan bendera putih dengan mengajak anak-anak. Fakta yang menyerahkan diri hanya segerombolan kecil membuat Kolonel marah dan bukannya mengampuni malah menggantung keempatnya.
Newt dengan tatapan kosong dan tangis kesedihan membalas. Adegan pemakaman di Gereja pun ditampilkan dengan sungguh mempesona. Scene terbaik saat pasukan dilumpuhkan. Situasi Amerika yang memanas. Perang saudara berkepanjangan. Hak pilih warga kulit hitam diperjuangan. Berhasilkah cita-cita Newton Knight membebaskan distrik Jones dari belenggu? Akankah sejarah akan mencatatnya sebagai pahlawan ataukah sang pemberoktak?
Well, saya suka film drama dengan balutan thrilling dan sejarah panjang seperti ini. Berdasarkan kisah nyata yang diadaptasi dari buku Victoria E. Bynum berjudul: The Free State Of Jones – Mississippi’s Longest Civil War. Dikutip dari web historyvshollywood.com, beberapa hal yang ditampilkan di film hanya fiktif. Contoh karakter Daniel, bocah yang tewas di awal itu tak ada. Keputusan Bynum memberi dramatisasi. Termasuk tokoh bernama Moses Washington, itu juga fiktif. Fakta bahwa Knight pernah tertangkap dan di penjara tahun 1863 tak ditampilkan. Lalu kehidupan sekembali Serena disuguhkan dengan lebih menyentuh karena Newt sudah serumah dengan wanita lain. Padahal mereka belum bercerai.
Kisahnya terlalu panjang. Harusnya ini bisa jadi film biografi Newton Knight yang brilian. Sayang cerita malah bercabang kemana-mana. Melebar tak terkendali hingga menyantap durasi lebih dari 2 jam. Bagi yang kurang suka drama mungkin bisa mati bosan. Saya sendiri melihat beberapa penonton akhirnya tumbang di tengah cerita sehingga saat final scene hanya menyisakan tak lebih dari 10 penonton. Beberapa scene memang menggangu, seperti adegan tiba-tiba melompat tahun 1947 di Persidangan keturunan Knight. Harusnya taruh di belakang saja, bukan di tengah. Penonton yang kadung tegang dalam kisah langsung dibuat mengernyitkan dahi. Kekuatan utama jelas akting Matthew yang total. Benar-benar luar biasa.
Saya nikmati tiap detik credit title. Benar, tak ada nama familiar di sana selain sang aktor dan sutradara. Free state banyak kemiripan dengan The Revenant untuk bertahan hidup di hutan. Mirip 12 Years A Slave untuk perlawan kaum kulit hitam. Mirip Lincoln untuk masalah politik Amerika. Cinematografi bisa jadi masuk ke penghargaan, namun karena musim piala masih, kemungkinan tercoret. Aneh aja, musim panas ada film drama sejarah.
Mudah-mudahan masuk Oscar, minimal nominasi. Atau setidaknya finish entry lah, sebagai wujud ini adalah film berkualitas.
Free State Of Jones | Year 2016 | Directed by Gary Ross | Screenplay Leonard Hartman, Gary Ross | Cast Matthew McConaughey, Gugu Mbatha-Raw, Mahershala Ali, Keri Russel | Skor: 4/5
Karawang, 020916 – Backstreet Boys – Safest Place to Hide

Advertisements

3 thoughts on “Free State Of Jones: A Great Historical Drama

  1. Baru nonton trailernya, kayak 12 Years a Slave tapi banyak perangnya ya. Setelah Hunger Games, sutradaranya mungkin spesialisasi soal perjuangan kelas kali ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s