The Stars Shine Down – Sidney Sheldon #8

image

Bintang berkilau menerangi bumi. Dan menyaksikan kita. Menjalani hidup kita yang remeh. Dan menangis buat kita. – Monet Nodlehs
Buku ini pertama terbit tahun 1992. Di pembuka kita dijelaskan setting waktunya adalah Kamis, 10 September 1992. Hari ulang tahun sang tokoh utama. Kisahnya seperti template kisah Sheldon yang lain. Seorang wanita karir yang sukses nan tangguh. Menantang dunia, dengan segala keglamorannya. Kali ini Sheldon merambah ke dunia real estate. Dunia bisnis yang sangat menjanjikan dari era batu sampai zaman digital. Seperti yang lalu jua, ia menggelitik pembaca dengan bocoran ending. Bahwa di ulang tahun yang sepertinya berantakan karena ada sesuatu akan menghancurkan segala sendi kehidupan, Miss Lara Cameron mencoba tabah.
Dari nukilan ending di prolog itu kita bisa menganalisis dan memperkirakan. Pertama status Lara adalah lajang karena menggunakan imbuhan Miss di depan. Jadi sepanjang kisah kalau kalian berprediksi ia akan menikah dengan salah satu karakter kalian jelas salah. Bahkan ketika menikah sudah jadi titik terdekat pun, jangan pernah berpikir ia akan jadi Mrs. Kedua ancaman runtuh bisnis Cameron masih bisa diselamatkan, di halaman 17 Lara membatin ‘Aku sudah siap menghadapi mereka’, jelas ini adalah klu yang terlalu berani. Selalu ada celah untuk melawan. Dan yang ketiga Sheldon memainkan ironi. Tahun 1992 Lara merayakan ulang tahun dalam kehampaan, tahun 1991 ulang tahunnya sangat meriah. 40 tahun lalu segalanya dimulai. Kalau jeli, pola ini adalah pola klasik khas Sheldon dan keputusan apa yang terjadi pada karakter utama pastinya akan sama. Well, sayangnya tebakanku tepat.
Beberapa teman bialng ini buku yang sangat bagus. Saya tak terpengaruh. Ingat, The Sands Of Time yang saya bilang paling lemah-pun ada yang bilang itu buku istimewa. Ingat pula ketika ada yang bilang A Stranger In The Mirror adalah masterpiece namun ketika saya kelar baca ternyata biasa. Begitu pula ini, saya merasa kok seperti pengulangan kisah. Hanya diganti nama karakter, area bisnis, dan pertaruhan nasib yang disodorkan sangat familiar.
Setelah dua bab pembuka yang berbanding balik. Kita diajak melalangbuana ke masa kisah ini bermula. Di Glace Bay, Nova Scotia tahun 1952. James Cameron (mengingatkanku pada salah satu sutradara ternama) adalah orang yang gagal. Seorang Skotlandia yang migrasi ke Glace Bay. Seakan nasib buruk memang tercipta untuknya, maka kegemarannya adalah menyalahkan orang lain. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Di usia enam belas tahun ia cidera saat bekerja di pertambangan yang membuatnya berhenti. Namun ia berwajah tampan. Modal yang bisa meluluhkan wanita bernama Peggy Maxwell. Menikah dalam pertentangan orang tua perempuan. Ayah Peggy mencoba membantu menantunya dengan modal 50.000 Dollar untuk memulai bisnis real estate yang lima tahun lagi akan jadi dua kali lipat. Namun James tak sabar menunggu tahun berganti. Yah sial, ia malah menanamnya di bisnis minyak. Sehingga dalam dua bulan ia bangkrut. Lalu muncullah Sean MacAllister, seorang bankir yang mempunyai usaha kos. Ia sedang membutuhkan pengurus, menarik uang sewa hari Jumat dan menyetorkannya hari Sabtu. Dengan tumpangan hidup gratis walau bergaji kecil, keluarga kecil ini menyanggupi. Mau bagaimana lagi, kepepet. Awalnya berniat sementara, namun setelah mencoba beberapa usaha lain gagal ia menyerah akan hidup. “Kalau takdir tidak menghendaki, keberuntungan tidak akan terjadi.”
Malam di bulan September itulah Lara terlahir. Peggy melahirkan bayi kembar, sayang yang laki-laki tidak bisa diselamatkan. James seorang cuek dan terus mengeluhkan nasib. Setelah tiga minggu diurus oleh ibu susu ia meminta James menamai bayinya, nama Lara bahkan terlontar oleh pengurus tanpa didengar dengan benar oleh James. Kehidupan terus berjalan, Lara yang keseharian dengan para pekerja di kos tak punya teman masa kecil. Sampai usia enam tahun ia belum sekolah. Ada penghuni kos baru bernama Mungo McSween, ia peduli maka ia pun menyekolahkan Lara. Dari sinilah cahaya harapan mulai tampak. Ayahnya memang tak peduli, namun orang-orang sekitar sangat peduli. Lara tumbuh kembang tanpa kasih sayang orang tua. Terlunta dan sia-sia. Tak punya mainan, tak pernah merayakan ulang tahun. Sampai berusia lima belas tahun, ia yang haus pengetahuan belajar banyak hal dari berbagai penghuni kos yang berasal dari berbagai daerah.
Dalam dua lembar yang penuh pengetahuan tentang Skotlandia. Penghuni kos berbincang masalah Great Glen tempat kedudukan Loch Ness, Lochy, dan Linnhe. Lagu-lagu kampung halaman Annie Laurie, Comin’ Through the Rye, The Hills of Home, dan the Bonnie Banks O’Loch Lomond. Kemudian rok khas Skots kilt. Kilt melindungi tubuh pria dari udara dingin yang menggigit, tapi membiarkan kaki-kakinya bebas untuk dapat lari dengan cepat melintasi rumput liar dan lumut dan menyelamatkan diri dari kejaran musuh. Dan di malam hari kalau berada di udara bebas, kain yang lebar itu bisa berfungsi sebagai alas dan selimut.
Nama-nama Skots yang terdengar bagai puisi di telinga Lara, ada Breadalbane, Glenfinnan, Kilbride, Kilninver, Kilmichael. Nama ‘kil’ mengacu pada kepada ruang yang dipakai para rahib di abad pertengahan. Kalau ada nama desa yang diawali ‘inver’ atau ‘aber’ itu artinya desa itu ada di mulut sungai. Kalau dimulai dengan ‘strath’ desa itu ada di sebuah lembah. Kalau ‘bad’ berarti desa itu di daerah belukar. Kisah paling mendebarkan terjadi tahun 1792 sebuah invasi berdarah. Motto berubah ‘Mo thruaighe ort a thir, tha ‘n caoraich mhor a’ teached’ – wahai tanah tumpah darahku, biri-biri pujaan telah datang. Tragedi perebutan tanah kekuasaan itu membuat Lara remaja berjanji, “Suatu hari kelak aku akan memiliki tanah sendiri, dan tak seorang pun – tak seorang pun- akan bisa merenggutnya dariku.” Semangat bergelora yang menjadi pemicu utama cerita ini.
Titik balik nasib Lara adalah ketika James jatuh sakit di rumah bordir karena jantung. Harus berbaring lama di tempat tidur. Pekerjaan rutin menarik uang sewa dilakukan Lara dengan cekatan. Bahkan jauh lebih bagus sehingga sang bankir terkesan. Percobaan satu bulan berjalan lancar. Sampai akhirnya suatu pagi James meninggal dunia dan dimakamkan dalam sunyi, tak ada air mata. Berikutnya adalah perjuangan kerja keras menghadapi dunia.
Dari sini semuanya berjalan seperti kisah-kisah Sheldon lain. Berjuang dari bawah. Bermula dengan perkenalan dengan seorang pembisnis real estate Charles Cohn, ia belajar dari yang kecil. Apa itu OPM – Other People Money. Apa itu bunga bank, apa itu deadline. Percobaan pertama yang penuh pengorbanan itu sempat membuatku muak namun itulah fakta kehidupan yang keras. Sekelumit kalimat ini mungkin terbaca panas: Seluruh masa depannya. Seluruh hidupnya, tergantung pada kata-kata yang akan diucapkannya ini: “Saya akan tidur dengan Anda.”
Tak ada yang mudah dalam memulai. Namun Lara yang cepat belajar sehingga bisa langsung bangkit. Setelah proyek pertamanya sukses, bangunan pertama yang memberi uang berlimpah. Ia putar uang itu untuk modal proyek yang lebih besar.
Benar saja. Pertaruhan Lara selalu membuah hasil positif. Sukses. Dari satu proyek ke proyek lain. dari kota kecil Glace Bay merambah ke Chicago, Amerika Serikat. American dream. Seakan melawan nasib buruk ayahnya, semua yang dipegangnya berubah uang bak tangan Midas. Seakan James adalah lawan kata Lara. Takdir baik berpihak padanya. Saya tak akan bercerita bagaimana kisah ini menemui puncak. Template-nya sama dengan kisah Sheldon yang lain. Konflik yang ditawarkan juga ga jauh beda. Halangan memang selalu dibangun namun selalu bisa disingkirkan, sampai akhirnya ketika setting waktu mendekat di bulan September 1992 seperti yang disampaikan di prolog kita menghadapi tanya ‘akankah ini akan berakhir bahagia?’ Kurasa kalian bisa menebaknya dengan mudah. Tipikal Sidney.
Beberapa bagian de javu dengan Rage of Angels. Nasib Jennifer Parker dalam rantau dan melawan ketidakadilan mirip dengan Lara Cameron. Beberapa bagian mengingatkanku dengan Jill Castel di A Stranger in the Mirror. Kekuasan, kemasyuran, harta. Memang timing membaca sangat penting dalam menentukan hasil akhir. Seandainya buku ini saya baca 10 tahun lalu, pasti berhasil mempesonaku seperti The Sky is Falling. Padahal Langit Runtuh kalau disejajarkan dengan buku Sheldon yang lain ternyata kalah telak. Kilau Bintang hanya ‘apes’ aja saya baca dalam deret buku bintang yang lain. Apalagi setelahnya saya menikmati buku paling hebat Sheldon, buku paling tebal dan paling menakjubkan If Tomorrow Comes. Satu hal yang pasti, buku-buku Sidney Sheldon layak dipajang di rak, dikoleksi dan diwarsikan anak cucu. Selalu enak ketika dibaca ulang, selalu menarik sebagai referensi. Sidney adalah legenda kisah fiktif. Ia adalah seorang bintang yang kilaunya berhasil menerangi bumi.
‘Kalau adil, sekarang ini aku adalah Mrs. Philip Adler.’
Kilau Bintang Menerangi Bumi | By Sidney Sheldon | Diterjemahkan dari The Stars Shine Down | copyright 1992 by Sheldon Literary Trust | Alih bahasa Drs. Budijanto T. Pramono | GM 402 97.549 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua belas, Februari 2007 | 560 hlm; 18 cm | ISBN-10: 979-605-549-X | ISBN-13: 978-979-605-549-4 | Yang satu ini kupersembahkan buat Morton Janklow, manusia segala zaman | Skor: 4/5
#8/14 #SidneySheldon, ditulis di Sabtu pagi dini hari yang gerimis – Next review: If Tomorrow Comes
Karawang, 200816 – Papa Roach – Between Angels and Insects

Iklan

Shiloh – Phyllis Reynolds Naylor

image

Luar biasa. Dengan ekpektasi ala kadarnya buku ini menjelma jadi sesuatu yang mengejutkan. Apa yang bisa diharapkan dari cerita kasih sayang antara majikan dan seekor peliharaan bernama anjing? Paling kisah kasih klise yang membuat dahi berkerut. Tak banyak cerita hewan peliharaan yang bisa mempesona pembaca. Hachicko dari Jepang bisa jadi judul pertama yang muncul di kepala. Namun ketika di suatu sore hari sesaat setelah belajar bahasa Inggris dan jelang ibadah Asar, Miss Devi yang berkenan meminjamkan buku ini dan menyodorkan pada saya, yang pertama terbesit di kepala adalah binatang peliharaanku dulu pas Sekolah Dasar (SD). Pernah saya buat catatan khusus tentang Brown, anjing kecil yang terlunta di blog ini dengan judul ‘Hewan Peliharaan’. Entah kenapa Miss Devi meminjamkan buku ini terpisah dari dua buku yang lain, di hari yang sama di mushola setelah kelas bubar. Di covernya ada semacam striker penghargaan ‘New Berry Medal’ yang berarti sang Penulis pernah meraih penghargaan, lalu sebuah endorsment dari Penulis kita Sapardi Djoko Damono yang bilang, ‘bahasanya tangkas dan kisahnya menegangkan’. Dengan deretan embel-embel itu kenapa harapan saya masih rendah? Yah, karena ini bukan fabel jadi fantasi-nya pasti minim. Dari ketiga buku yang saya pinjam, jelas saya menempatkannya di urutan terakhir. Bahkan saya hampir lupa baca, baru sadar pasca Lebaran. Prediksiku yang ngelantur bakalan membosankan langsung ditepis sejak kisah dibuka. Hanya saya baca semalam kelar!
Dengan sudut pandang orang pertama cerita ini digulirkan. Jadi suatu sore yang mendung. Marty, sang tokoh utama sedang bertamasya jalan kaki sepanjang komplek rumahnya. Ketika sampai di sekitar sungai ia melihat seekor anjing beagle, berumur sekitar satu atau dua tahun. Anjing dengan ban leher yang sudah tua. Dipanggilnya untuk mendekat, “Sini boy”. Namun bergeming. Ketika Marty mencoba mendekati anjing menjauh. Tampak ia habis dipukul atau mungkin ditendang. Anjing malang. Saat ia duduk, anjing ikut duduk. Oh mungkin anjing betina, dipanggilnya, “Sini girl”. Tetap tak mau. Bosan, Marty beranjak sambil bersiul, barulah sang anjing lari mendekat dengan semangat. Semacam tombol ajaib, anjing itu langsung nurut. Siulan semacam panggilan untuk beagle itu kurasa. Mereka akrab dalam sekejap. Ketika turun hujan, Marty beranjak pulang. Binatang itu ikut sehingga Ma menanyainya. “Anjing siapa itu? Dan dimana kau bertemu denganya?”
“Tak tahu, dari tadi mengikutiku.” Jawab Marty. “Di Shiloh (sebuah nama wilayah, semacam dusun), di seberang jembatan.” Sang anjing duduk memandang jendela, menatap Marty dengan ekor menibas. Ia menamainya Shiloh.
Ayah Marty adalah tukang pos sehingga kenal betul para tetangga dan tahu itu anjing Judd Travers yang gemar berburu dan beberapa waktu lalu membeli anjing sebagai teman berburu. Ibunya gemar memasak, setiap hari Minggu ketika keluarga ini berkumpul selalu membuat masakan spesial. Marty anak sulung dengan dua adik, Becky dan Dara Lynn. Keluarga sederhana ini mungkin miskin, namun terlihat bahagia saling menjaga dan mengasihi. Kebersamaan adalah priotitas untuk mengahadapi segala masalah. Sehingga ketika Shiloh dibawa pergi dengan jip untuk diserahkan kepada Judd Travers, semua ikut sedih melihat Marty tersedu. “Aku ingin menjadi dokter hewan.” Katanya, suatu hari Marty ingin menjadi orang yang berguna yang bisa membantu sesama.
Saat Shiloh akhirnya diserahkan. Judd berjuar, “Malam ini ia akan kubiarkan, tapi jika ia keluyuran lagi, aku akan memukulinya habis-habisan. Kujamin itu.” Sebuah ancaman yang membuat Marty semakin sedih. Anjing manis yang membuatnya jatuh hati kini dalam bahaya. Di kandang Judd peliharan tak terurus dengan baik. Bahkan ia menamai binatang-binatang itu seenaknya sendiri, ‘Dungu’, ‘Minggatsana’, ‘Enyah’, dan ‘Bedebah’.
Dalam perjalanan pulang Marty marah. Ayahnya menasehati, “Marty, kadang kau tak tahu kapan harus tutup mulut. Kau tak bisa begitu saja menyuruh orang lain menamai anjingnya seperti yang kau mau. Judd Travers berhak menamai anjingnya dengan nama apa saja yang dia mau atau untuk tidak menamainya. Dan kau, harus mencatat baik-baik di kepalamu bahwa anjingnya bukan anjingmu, dan mulailah memikirkan hal-hal lain.”
Namun Marty tak bisa. Pikirannya tercurah kepada Shiloh.  Dalam jip perjalanan pulang itu terjadi dialog yang terdengar sepele dan sambil lalu, namun percakapan biasa ini, “Saat berburu kita boleh menembak apa saja yang bergerak?” dan ayahnya menjawab, “Tentu saja tidak. Kau hanya boleh menembak binatang yang memang musimnya diburu.” Nantinya akan jadi sebuah kunci yang pas dalam eksekusi ending.
Sesampai di rumah Marty meminta punya hewan peliharaan. Namun karena kondisi keuangan mereka yang kurang bagus, dan neneknya butuh perawatan khusus, Ma melarang. Beberapa hari kemudian di pagi yang cerah ketika ayahnya sudah berangkat kerja, Dara Lynn dan Becky nonton kartun di tv, Ma ada di teras belakang, Marty yang sedang duduk di meja makan sepotong roti ia mendengar gongongan Shiloh. Ia lalu keluar rumah untuk menghampiri. Hari itu Marty tahu dua hal, pertama Judd sedang mengajak anjing-anjingnya berburu dan Shiloh kabur. Kedua, ia tak akan pernah mengembalikan Shiloh. Tidak untuk kali ini, tidak akan pernah.
Dipeluknya Shiloh, dengan cepat ia bertindak. Membawa sang anjing jauh dari pandangan orang-orang, ia ke arah bukit belakang rumah. “Shiloh, Judd Travers tak akan menendangmu lagi.” Di pohon pinus, Shiloh diikat. Dibuatkan kandang dan diberi makan secara rutin. Shiloh jadi rahasia Marty. Biasanya ia susah makan dan sering kali ditegur Ma bila ada makanan sisa, namun semenjak menyembunyikan anjing, piring Marty selalu bersih karena ia menyembunyikan makanan untuk santap Shiloh.
Awalnya segalanya berjalan sesuai rencana. Namun mau sampai kapan? Judd sudah memberi pengumuman anjingnya hilang dan bagi siapa yang melihatnya untuk segera dikembalikan. Dalam sebuah kesempatan ia bertemu Marty, namun apa yang disampaikan Marty adalah kebohongan tersamar. “Aku telah mencarinya di sepanjang jalan, tak ada anjing beagle.” Perseteruan dimulai.
Dari sinilah keseruan benar-benar terjadi. Orang pertama yang mengetahuinya adalah Ma. Sahabatnya David Howard yang awalnya tak tahu malah terseret. Ma meminta Marty mengembalikan Shiloh, Marty keberatan. Diberinya waktu seminggu. Dan segalanya berantakan ketika suatu malam, Shiloh diserang seekor anjing herder hingga terluka parah. Runyam. Waktu yang semakin sempit, ayahnya marah karena ternyata anjing Judd yang dicari-cari itu ada di tangan anaknya dan kini sekarat. Berhasilkah Shiloh selamat? Dari tangan Judd dan ancaman maut?
Well, diluarduga kisahnya dieksekusi dengan bagus. Sekalimat di cover dari Sapardi Joko Darmono tak bohong. Bahasanya luar biasa dan sangat enak diikuti karena mengalir mengintimidasi sehingga tak heran saya baca terpaku dalam semalam kelar. Alurnya memang maju terus, namun disajikan dengan renyah. Mungkin selain prediksiku yang salah kisah ini akan berakhir klise, perkiraanku apa yang terjadi berikutnya juga meleset. Selalu menyenangkan baca buku yang berhasil mengecoh kita, dengan tampilan segar dan ending masuk akal. Pengalaman Penulis yang sudah punya ratusan karya tak bohong. Pengalaman memang guru terbaik dalam hidup.
Yang saya sesalkan. Buku ini adalah buku pertama dari trilogi. Mampus! Sementara Shiloh ini akan saya kembalikan, bagaimana saya bisa melanjutkan baca buku dua dan tiga? Saya meyakini setahun depan saya tak akan bisa menemukan seri berikutnya. Rasanya mustahil menemukan buku terbitan mainstream macam ‘Kaifa for Teen’. Nama penerbitnya saja baru dengar, walau masih di bawah Mizan. Inilah apesnya membaca buku berseri tanpa memegang seri utuh.
Buku ini ternyata sudah diadaptasi ke film. Dengan sambutan positif. Shiloh adalah hewan yang benar-benar ada hidup di West Virginia dan jadi selebritis lokal. Dengan debut baca karya Phyllis Reynolds Naylor yang mempesona ini, bisa jadi ke depannya saya akan berburu buku-buku beliau yang lain.
Yang pasti Shiloh lebih bernasib mujur ketimbang Brown, anjing masa kecilku yang berakhir di lapo.
Shiloh: Persahabatan Sejati | by  Phyllis Reynolds Naylor | diterjemahkan dari Shiloh | Terbitan Aladdin Paperbacks, 1230 Avenue of the Americas, New York, 2000 | Penerjemah Ibnu Setiawan | copyright 2000 by  Phyllis Reynolds Naylor | cetakan I, Juli 2003 | Penerbit Kaifa | design sampul Yulia | ilustrator isi Uget | Foto-foto Trudy Madden | 176 hlm; 20 cm | ISBN 979-9452-66 | Untuk Frank dan Trudy Madden dan seekor anjing bernama Clover | Skor: 4/5
Karawang, 180816 – Sheila On 7 – Buat Aku Tersenyum

Tagore Dan Masa Kanak – Rabindranath Tagore

image

Setelah di bulan Juni kita digelontori 30 review buku ternyata bulan Juli saya sama sekali tak menulis ulasan buku. Ketika Agustus sudah melewati setengahnya baru saya nulis lagi. Wajar ga sih pola seperti itu? Tahun lalu juga sama, setelah digentor ulasan buku saya langsung menulis hal lain beberapa lama.  Yah, menurutku wajar. Ibaratnya saat Lebaran kita menantinya dengan hidangan spesial opor ayam. Setelah seminggu memakannya mulai datang rasa bosan, apakah Minggu kedua seandainya ibu masak opor lagi kalian akan tetap antusias? Tentunya tidak, sehingga beralih ke masakan lain kan setelah sepekan penuh melahap opor.
Nah, masakan ibu pertama di pekan kedua Lebaran itu adalah tuturan kisah masa kecil sang legendaris dari Bengali, India. Tagore dan Masa Kanak mungkin adalah salah satu kumpulan cerita pendek terbaik yang pernah saya baca. Kisahnya membumi. Kisahnya ditulis dengan bahasa keseharian. Masa lalu India, masa kecil Tagore tentunya tak jauh beda dengan zaman Indonesia dulu. Sama-sama negara Asia dengan penduduk berlimpah dalam jajahan negara Eropa. Beberapa bagian mengingatkanku pada masa kecilku sendiri. Seperti ketika Tagore berkisah tentang Mini anaknya yang berkenalan dengan orang asing penjual keliling. Atau kisah Tagore yang gemar mendongeng kepada cucunya. Atau cerita pesta anak-anak sekolah menyambut guru baru. Hebat ya. Padahal kisah ini setting waktunya jauh dari abad 19 sampai awal 20, namun masih sangat relevan sampai sekarang
Rabindranath Tagore memang istimewa. Ini adalah buku ketiga beliau yang saya baca. Ketiganya menakjubkan. Gitanjali yang sudah saya review, Surat Dari Raja dan Anyelir Merah dan ini. Tagore seorang multitalen, selain Penulis ia adalah penyair, pelukis dan pencipta lagu. Beberapa lukisan karyanya dijadikan ilustrasi buku ini. Seni tingkat tinggi, saking tingginya saya yang tak paham-paham amat seni hanya menatap penuh tanya goresan samar beliau. Yang dijadikan sampul, goresan dengan bentuk sketsa wanita tentu saja salah satunya. Pilihan kover yang bijak, karena lukisan yang lain yang ada di buku ini akan lebih rumit dalam makna.
Buku ini berisi 25 cerita lepas. Cerita pendek yang bisa saja berdiri sendiri, namun beberapa ada keterkaitkan terutama bagian kedua ketika kisah bergulir hubungan kakek dan cucu. Setelah daftar isi ada publisher’s note yang berisi dua lembar berbahasa Inggris. Dari M.K Singh yang menyampaikan sang Penulis pernah ke Indonesia di zaman Belanda tahun 1927. Salah satu poin yang menyenangkan adalah jalan M.T Haryono di Solo, itu mengingatkan kita bahwa dulu pernah bernama ‘Tagorestraat’. Wow, ternyata sang Penulis pujaan ini doeloe pernah ke Solo. Hanya beberapa kilo dari rumahku di Palur. Amazing! Nanti ketika pulang kampung akan saya telusui jalan M.T Haryono dengan memegang erat buku Tagore siapa tahu pemikiran beliau ada yang tercecer di sana dan bisa mengilhamiku. Menyusup di kepalaku. Ingatkan saya ya.
Cerpen pertama tentang Orang Suci di atas pohon. Isinya seperti sindiran. Bagaimana orang bisa terjerebab meminta bukan kepada Tuhan. Percakapan tiga karakter Udho, Gobra dan Panchu. Tentang orang suci di atas pohon yang konon bisa mengabulkan segala pinta orang yang menemuinya. Nah orang suci itu bisa menjelma jadi apapun bukan? Bahkan seekor kera?
Cerita kedua berjudul Harapan Terkabul. Kisah anak-bapak yang bertukar masa. Anak lelaki Subalchandran bernama Sushilchandran. ‘Subal’ berarti kuat, ‘Sushil’ berarti santun. Namun sifat kedua orang itu tak sesuai arti nama mereka. Sang ayah kesal sama anaknya yang nakal dan petakilan. Sang anak kesal sama ayahnya yang sok ngatur. Sehingga suatu hari ketika mereka berharap bertukar posisi, kebetulan Peri Harapan lewat. Dan yah, kita pasti tahu apa yang terjadi berikutnya. Sering kali apa yang kita harap ternyata tak senikmat yang dibayangkankan?
Pesta Para Tikus adalah cerita ketiga yang mengingatkanku pada majalah Bobo 20 tahun lalu. Saya pernah membacanya di salah satu cerpen majalah anak itu. Entah dulu saduran, terjemahan, terinspirasi atau mungkin jiplakan? Yang pasti 20 tahun lalu saya pernah membaca kisah sekumpulan anak sekolah menyambut guru baru dengan kebencian karena tersebar kabar calon guru mereka menyeramkan sehingga mereka berupaya menjegal, namun ternyata dalam prosesnya sekumpulan murid nakal ini kena getah. Ini bukan pertama kali saya menemukan bahwa ternyata cerita yang saya baca 10 atau 20 tahun lalu di majalah masa kecil ternyata mirip dengan buku Orang Besar dari luar. Sayangnya majalah-majalah itu sudah lenyap (dari rak saya) sehingga untuk membandingkannya sulit. Ingatan kita memang sangat terbatas. Hanya hal-hal penting yang tetap bersemayam di kepala. Jangankan belasan tahun lalu, untuk mengingat apa yang terjadi kemarin pagi secara runut saja sulit.
Cerpen keempat Kabuliwalla. Nah yang ini kisahnya lebih berat. Bagaimana seorang anak kecil terpikat sama orang asing, penjual keliling dari Kabul. Tagore memposisikan sebagai ayah, sedang menulis cerita. Anaknya Mini, yang cerewet yang mengingatkanku pada Hermione yang kini sedang gemar ngoceh tak jelas. Mini yang awalnya takut sama sang Kabuliwalla malah jatuh hati. Anak seusia itu terpikat dengan tingkah laku orang asing. Alasannya sendiri dijelaskan di akhir, namun jangan berharap ini kisah sederhana. Karena ternyata dibaliknya ada pesan kasih sayang yang lebih memikat. Cinta ayah kepada putrinya, sangat menyentuh hati.
Memasuki bagian kedua kita diajak melalangbuana dalam hubungan kakek dan cucunya. Bagian ini adalah fantasi namun benang merah ada di sekeliling karakter. Empat cerpen pertama berjudul Si Orang. Kisah imajinatif bagaimana sang kakek mencipta cerita fiktif dengan bayangan orang-orang sekitar. Sang cucu bernama Pupe yang gemar mendengar dongeng sama aktifnya. Bagus sekali ya. Kisah sederhana yang dijalin dengan bagus. selain tentang karakter fiktif Si Orang kita juga akan diajak berkelana ke istana raja, bertemu ilmuwan dan legenda peri yang akan membuatmu tergelak sekaligus mengumpat lembut. Betapa hebat sang kakek menyamarkan fakta dan ngeles.
Memasuki bagian ketiga, penutup. Kita akan kembali fokus kepada sang Penulis di masa kecil. Kisah klasik tentang kendaraan tandu yang dulu terlihat mewah bak bangsawan Inggris. Kisah cara mendidik orang tua Tagore yang unik. Kita akhirnya tahu ternyata Tagore di masa kecil jahil. Mengantuk di kelas, suka menyaksikan pertunjukan jatra yang ditanggap, main gandu – saudara jauh kriket, tubuhnya yang sehat dan kegemarannya akan dongeng. Tentu saja segala yang diceritakan ini nantinya membentuk karakter beliau, hal ini bisa dilihat dari karya-karyanya. Pendidikan usia dini oleh orang tua memang sangat penting. Maka sedari balita saya selalu mengelilingi Hermione-ku dengan buku. Kita memang tak tahu masa depan, namun kita bisa merencana segalanya bukan?
Well, karena saya terkesan maka tak berlebihan dong saya bilang buku ini sangat rekomendasi buat kalian pecinta sastra kisah klasik untuk nostalgia. Diterjemahkan dengan brilian oleh Penulis besar kita, Ayu Utami, jelas dialih bahasakan dengan teliti dan sepenuh hati, tak asal translate. Saya hanya menemukan typo satu kata. Di halaman 174 di baris kalimat ke 19. “… menunggu agar Mejdada mendapat izin untk bergabung.” Diterbitkan untuk Indian Courcil of Cultural Relations, New Delhi dan Kedutaan Besar India di Jakarta. Terima kasih Ayu, terima kasih KPG, terima kasih India. Bersyukurlah saya bisa menikmati buku berkualitas ini.
Terakhir. Dengan pola kerja sama semacam ini. Bagaimana Kedutaan kita memperkenalkan Indonesia kepada dunia melalui buku? Buku siapa yang secara khusus diterjemahkan untuk disajikan khusus itu? Banyak buku pra-kemerdekaan yang layak disodorkan. Dari Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Kasih Tak Terlarai, Kehilangan Mestika, Layar Terkembang sampai Katak Hendak Menjadi Lembu. Itu karya klasik yang tentu saja masuk daftar ring satu untuk maju mewakili Indonesia menatap dunia. Namun dunia literasi modern karya anak bangsa kini juga banyak yang bagus. Eka Kurniawan sudah membuktikan kesabaran adalah teman karib karya besar. NH Dini sudah melalangbuana membuat takjub pembaca. Yang paling hebat jelas Pramoedya Ananta Toer yang sudah sampai Belanda duluan. Semoga salah satunya (nanti) adalah karya Ayu. Saman mungkin?
Oh yang pasti itu bukan Tere-Liye.
Tagore Dan Masa Kanak | oleh Rabindranath Tagore | diterjemahkan dari bahasa Inggris Boayhood Day oleh Radha Chakravarty | copyright Embassy of India in Jakarta | Hak penerbitan Bahasa Indonesia pada KPG – Kepustakaan Populer Gramedia | KPG: 901 11 0435 | Penerjemah Ayu Utami | cetakan Pertama, Mei 2011 | ilustrasi sampul dan lukisan Rabindranath Tagore | Perancang sampul Wendie Artwenda | Penataletak Wendie Artwenda | x + 192 hlm; 13,5 x 20 cm | ISBN-13: 978-979-91-0341-3 | Skor: 5/5
Karawang, 170816 – Sheila On 7 – Ingin Pulang
Dirgahayu RI 71 tahun – LU71C

Welcome EPL – Saatnya Join FPL

image

image

(Tim pertama saya: 3 pemain Chelsea, 3 pemain lawan MU, 2 pemain Liverpool)

Saya seorang Laziale murni. Sehingga ketika dalam beberapa tahun terakhir marak Fantasy Premiere League (FPL) saya adem ayem. Sebuah fantasi menjadi seorang manager klub di liga (yang diklaim) terbaik sejagad. Walau sesekali menyaksikan live pertandingan Liga Inggris ketika tayang lokal, saya tak terlalu mengikuti runut. Sejarah panjang kenapa saya selingkuh dengan Chelsea FC sebenarnya karena saat itu eks Lazio, Pierluigi Casiraghi dan Roberto Di Matteo hijrah ke sana. Jadi kenapa musim ini saya memutuskan bergabung dengan imajinasi EPL (English Premiere League)?
Pertama, di grup Football On Chat (FOC) What Apps sedang ramai. Kena virus teman-teman yang menggunjing aplikasi ini. Kalau tiap hari dicecar hal yang sama siapa yang tahan? Chat FPL tentu saja berakhir saat liga selesai. Namun tensi menjelang kembali bergulir kembali ramai. Apalagi muncul saran kalau mau bergabung, inilah saatnya saat yang tepat saat kompetisi siap digulirkan. Malam ini (13/8) Pertandingan perdana akan dimulai, jadi timing-nya pas.
Dengan bergabungnya Lazione Budy maka saya melengkapi teman-teman yang sudah dulu. CEO web bolaitubal.com bung Suprapto Huang, pemain IDFL.com yang paling getol Arif Pranata, pemilik akun mumet-ndase.com Lik Jie, teman blogger ganganjanuar.com serta yang terbaru yang juga gabung hari ini theinigo.com bung Jacky. Belum lagi teman-teman FOC yang memang tiap pekan tak bosan menjejali FPL.
Kedua, EPL secara resmi musim ini sampai tiga tahun ke depan tayang lokal. Oke musim lalu memang jua tayang namun jelas MNC grup terlihat sangat antusias menyambutnya. Sebelumnya tayang masih setengah hati, terkadang saat live-nya bersamaan dengan EPL kalah sama acara unggulan liga dangdut atau shitnetron. Jadi kenapa saya bisa yakin musim ini mereka all out? Selain harga hak siar yang makin menggila, jelas Perindo akan berusaha setengah mati merebut simpati penggemar bola jelang tahun akbar 2019. Kepalkan tangan dan mari kita hafalkan mars-nya bung! “Jayalah Indonesia…”
Ketiga, kabar Serie A tak tayang di Bein Sport membuatku shock. Pamornya memang turun namun cintaku tak akan luntur. Oke sudah lama tak tayang lokal, namun saya selalu berusaha nonton bareng Laziale Indonesia Region Karawang (LIRK) tiap pekannya. Di kafe yang menyediakan Bein, di rumah teman yang punya langganan jeruk tv bahkan streaming di warnet ramei-ramei (oke kalau lima orang dianggap ramai ya). Dengan tak tayang di Bein – beserta tv kabel kroninya serta (kemungkinan) tak tayang lokal, maka tiap pekanku akan benar-benar hampa. Oouhh… mengandalkan streaming? Selain harus berkuota, HP SONY-SHERINA ku baterainya drop gara-gara keseringan main COC (Clash Of Clan). So, hiburan bola terpaksa melebar ke ranah Britania dan sekalian nyemplung main FPL. Yah, sembari nunggu aplikasi ‘Fantasi Serie A’.
Seharian ini saya otak-atik, saya download di playstore. Akan muncul banyak aplikasi mirip, plilh yang bergambar Singa hitam background hijau dengan tulisan ‘Premiere League – Official App’. Setelah terpasang kita diminta register. Saran saya ga usah disambungkan facebook atau twitter, rada ribet. Saya berulang kali, muter-muter menunggu ketidakpastian. Daftar email aja, saya sekali coba berhasil, masukkan email lalu masukkan password. Setelah itu buka email klik konfirmasi. Berikutnya menyusun tim. Aturannya sederhana, ada 15 pemain yang bisa kita pilih dengan syarat maksimal tiga pemain dalam satu klub. 11 pemain utama, 4 cadangan. Dengan budget 100m Pound komposisinya: 2 kiper, 5 bek, 5 pemain tengah dan 3 penyerang. Pilih juga kapten dan wakilnya karena kapten yang kita pilih kalau OK poinnya ganda. Pemilihannya paling lambat satu jam sebelum kick-off pertandingan pertama pekan itu. Biasanya Sabtu senja gini (tulisan dibuat jam 17:00) harus benar-benar siap.
Langkah selanjutnya kita bisa gabung atau bikin liga sendiri. Karena saya penghuni FOC maka saya tinggal gabung sama teman-teman, memasukkan kode, join. Selesai! Tinggal nikmati dan tunggu hasil keseluruhan Pekan pertama EPL. Oiya, katanya transfer pemain bisa dilakukan sekali tiap pekan, tak boleh lebih karena akan kena pinalti 4 poin.
Kalian boleh gabung dengan kita, beberapa kode private league yang saya ikuti: Liga IDFL: 2004417-569680. Liga FOC 124995-110228. Liga klasik IDFL 731517-199542. Panditfootbal: 52184-18509.
Sejauh ini baru 4 liga yang saya ikuti. Karena ini adalah aplikasi coba-coba, akan saya review nanti bulan Januari 2017, di blog ini tentunya. Kalau menarik akan saya lanjutkan, kalau tidak ya hapus. Yang pasti saya hanya akan mendaftarkan satu akun semenarik apapun.
Terakhir, berandai-andai nih. Kalau ada Fantasi Serie A repot juga ya memilih 3 pemain Lazio Thr Great. Karena memilih yang terbaik dari yang terbaik tentunya berat, bintang semua bro. Namun kalau dipaksa memilih tiga terbaik pemain Lazio saat ini saya akan memasang: Stefan De Vrij, Marco Parolo dan Lucas Biglia sebagai kapten. Dan jangan harap pemain tetangga akan saya pasang. Bisa-bisa tim lawan tetangga akan saya masukkan starting semua tiap pekannya. Forza Lazio!
Karawang, 130816 – Keane – May Be I Can Change

Hermione 2 Tahun

image

image

image

Karawang, 10 Agustus 2016 – Hermione genap berusia 2 tahun. Menyenangkan sekali bisa menemani tumbuh kembang anak. Dari terlahir, begadang gantian kasih susu tiap dua jam sekali, teriakan pertama, berguling, mencoba duduk, mengajar huruf dan angka. Menjawab tanya, “Ini apa?” setiap saat. Belajar berdiri, teriakan ‘Ayah…” ketika menyambut pulang, mengecup dengan senyum, mengobrak-abrik buku. Belajar jalan yang awalnya terhuyun, menangis minta susu, pengalaman pertama ke bioskop bersama film ‘In The Heart of Sea’. Tak bisa diam saat nonton film ‘Batman V Superman’ lalu betapa berisik setiap lihat binatang dalam film ‘The Jungle Book’. Sampai mengantuk dalam ‘Ada Apa Dengan Cinta 2’. Tiap berjalan ke mal ada saja yang mencubit gemas pipinya. Beli sepatu pertama yang berdecit. Menggangu ayah ketika baca buku, ikut membaca namun tak jelas apa yang digumamkan. Mencari teman tetangga utnuk diajak main ‘Kak Laura mana?’. Minta es cream tiap bersama Aunty. Teriak ‘ayo kejar ayah!’ ketika mengendara dan melihat di depan ada mobil ga jelas. Menangis ketika melihat kura-kura. Menjerit saat menatap Barbie. Dan ketika ditanya kalau sudah besar mau jadi apa? Dengan lantang jawab Penulis. Seperti siapa? Pramoedya Ananta Toer. Lalu? Roald Dahl. Lalu JK Rawling. Lalu? Rudyard Kipling. Dan mengecup mesra pipiku. Semua momen itu sangat berharga. Benar-benar tak ternilai. Tak bisa diganti dengan apapun. Tak semua orang bisa menghabiskan waktu bersama anak istri setiap hari. May dalam sms-nya beberapa hari yang lalu, “Hermione adalah segalanya”.
Well, dua tahun yang membahagiakan. Memberi warna, memberi semangat tiap nafas. Ada yang dituju ketika pulang, ada yang diharap saat terbangun. Rabu, 10 Agustus 2016 ketika tengah malam pergantian hari, saya dibangunkan May. Karena ngantuk berat, saya hanya mengecup kedua pipi Hermione yang terlelap sambil mengucap, “Selamat ulang tahun sayang.” Lalu tidur lagi. Momen apa saja yang terjadi di hari istimewa ini? Saya mencoba merangkumnya dalam ‘10 Peristiwa 10 Agustus’.
Real Madrid Juara Super Eropa 2016
Jam 02:00 alarm Hpku meraung tanda ada peristiwa dini hari yang harus dikejar. Seharusnya saya bergegas menyala tv, memasak air untuk secangkir kopi guna menikmati pertandingan Real Madrid v Sevilla. Pertarungan antara juara UCL dan EL itu sayang saya lewatkan. Dari berita pagi yang saya baca, Real Madrid menang dramatis 3-2 lewat dua gol bek Sergio Ramos. Yah, ga bisa jadi saksi skuat Putih angkat piala. Jangankan menonton, untuk sekedar bangun mencari remote saja tak kuat.
Membuat Aturan Finger Print
Kerjaan membuat papan instruksi absensi di Perusahaan sebenarnya sudah ada sejak sehabis Lebaran. Namun karena sedang tinggi tumpukan kerja, sampai awal Agustus belum saya sentuh. Baru benar-benar saya pegang Rabu kemarin. Setelah memotret berbagai pose mesin absensi, menyusun kata-kata, mengedit gambar sekenanya pakai Paint, kelar juga. Di bawahnya saya tulis ‘copyright 10-10-16 – lazionebudy.wordpress.com’
Kalah COC War
Klan Bandanoantrindo kalah perang 22-24. Salah strategi, padahal 19 dari 20 attact yang tersedia kita gunakan. Tak seperti biasa serangan kita gagal rata 3 bintang untuk lawan no 1-6. Selain pergantian skuat, mungkin karena beberapa anggota item war sedang diketok. Saya sendiri sedang me-malu Queen Archer menuju level 7 sehingga ga maksimal. Sementara anggota baru bahkan dua attact-nya tak menghasilkan bintang.
Training Karyawan Baru
Ini sih rutinitas kerjaan, tapi karena terjadi di hari spesial Hermione biarkan saya bercerita. Ada empat karyawan baru yang harusnya bergabung. Tiga operator produksi, satu Checker Warehouse. Pagi itu memang ada empat yang datang, sayangnya ada masalah. Satu tak punya kartu NPWP – Nomor Pokok Wajib Pajak. Sudah saya instruksikan buat, namun sampai hari H gagal. Ya saya pulangkan, belajar dari pengalaman sebelumnya saya tak mau bermasalah ke depannya. Satu lagi tak membawa beberapa berkas yang saya minta dan rambutnya masih panjang. Saya kasih waktu satu jam untuk potong rambut dan melengkapi berkas, kalau ga bisa maka saya coret. Sejam kemudian saat saya mulai training induction HR, peserta sudah tiga: Nana, Nur dan Kiara.
SiKusi Ngambek Lagi
11 tahun 5 bulan motor butut Kharisma Biru menemaniku. Sering kusebut SiKusi – Si Kuda Besi, sudah sakit-sakitan. Spion kanan pecah, penunjuk angka bensin terkelupas, lampu redup, pijakan kaki bahkan tak ada karetnya tinggal selonjor besi, beberapa bulan lalu turun mesin menghabiskan biaya nyaris sejuta. Tak terhitung sudah berapa kali pecah ban, ganti rantai, sampai ngadat tak mau jalan. Yah, maklum motor tua. Terakhir kemarin sewaktu pulang kerja, dalam perjalanan keluar kawasan Surya Cipta rantainya putus. Hufh, mana pulang saat petang lagi. Menuntun dalam gelap mencari bengkel, yang untungnya hanya berjarak lebih kurang 200 meter. Setelah dicoba potong rantai guna diperbaiki ga bisa, akhirnya harus ganti. Ganti rantainya saja habis 60 ribu. Padahal di dompet hanya selembar merah – duh, jelata amat saya ya. Apalah itu, roda SiKusi harus terus berputar menemani perjuangan keluarga kecil kami.
Beli Novel John Steinbeck
Di dompet menyisakan 40 ribu. Tak jadi soal, beli buku harus tetap jalan. Andaikan tinggal 10 ribu-pun saya tetap akan ke toko buku! Awalnya mau ke Gramedia Karawang baru, sayangnya belum sepenuhnya buka jadi terpaksa ke KCP – Karawang Central Plaza ke toko buku Kharisma. Dengan uang tak sampai gocap, saya harus memilih dan memilah buku bagus. Awalnya dapat buku klasik karya Frederick Forsyth dengan harga 31 ribu atau karya John le Carre yang harganya lebih miring lagi. Mungkin karena buku lama, jadi kualitas bagus harga sangat bersahabat. Seperti biasa, buang waktu lama untuk baca-baca cerpen gratis sembari iseng mencari yang lebih cocok. Eh saat mau pulang malah menemukan The Pearl-nya John Steinbeck seharga 32 ribu. Yasu dah, pilih ini saja. Karena pengalaman pertama ‘Of Mice and Men’ yang mengesankan, rasanya Steinbeck tak akan mengecewakan.
Moritz Leitner Resmi Ke Lazio
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Moritz Leitner resmi berbaju Biancoceleste. Ini adalah rekrutan bagus. Sudah merasakan juara Bundesliga bersama Dortmund. Kini sedang di usia emas 26 tahun, berposisi di CMF/AMF/RMF, mudah-mudahan bisa padu dengan Cataldi, Biglia dan Parolo. Kedatangan Leitner sebenarnya adalah dampak kegagalan merekrut Thauvin. Ia diproyeksikan sebagai pengganti Edy Onazi yang pergi. Kini buruan kita tinggal mencari pengganti Antonio Candreva. Apakah Bastian bisa menyusul diangkut ke Olimpico? Lihat itu Bielsa, Lihat! Kami mampu beli bintang
Menonton Resident Evil 4 – Afterlife
Saya baru nonton satu seri, 10 tahun yang lalu. Seri keduanya, karena filmnya biasa kini sudah lupa intinya apa. Nah Rabu kemarin saya bingung memilih film mana yang akan saya tonton. Karena pertimbangan durasi, saya malah ikut terjebak dalam kekacauan bareng Alice. Yah, memang bukan film berkelas sih. Tunggu review kami.
Bergabung Kembali ke Grup WA – Qordhul Hasan
Saya pernah ditendang keluar grup What App Qordhul Hasan gara-gara (mungkin) sepele, sama admin saya diminta ganti PP – Photo Profile. Saya yang fan berat Sherina Munaf memajangnya, saya pasang yang gambar di album ‘Primadona’. Itu tuh gambar ia berdiri menyamping, menatap tajam ke depan dengan mulut sedikit terbuka dan warna abu-abu yang dominan. Di mataku (dan orang normal manapun) gambar itu jelas tak bermasalah. QH adalah paguyupan teman di kampung Karanganyar Cilik, Palur. Teman-teman masjid, teman-teman ngaji. Okelah, mungkin agamaku memang kurang bagus namun larangan memakai gambar cewek di PP-WA tanpa mengenakan hijap benar-benar konyol. Sampai segitunya? Benar saja, setelah dua hari dijapri untuk ganti namun saya cuek, saya dikeluarkan. Saya sih ga masalah, karena menyuruh saya mengganti gambar Sherina saja sudah melecehkan idolaku. Pas bergabung saya juga ga meminta, jutru saya yang diundang. Sehingga setelah reda beberapa bulan tiba-tiba dimasukkan lagi yah, silakan. Kini PP-ku adalah pose May, Hermione dan saya dalam gambar latar kue ulang tahun. Apakah nanti ketika tiba-tiba saya sedang ingin memasang gambar Saoirse Ronan diperingatkan lagi? Ampun deh, pengen ketawa rasanya membayangkan Ronan mengenakan jilbab.
Menyelesaikan Baca Pulau Harta Karun
Hufh, akhirnya kelar juga petualangan Jim Hawkins. Butuh waktu sebulan lebih untuk merampungkan. Bukan karena buku ini membosankan, justru sebaliknya iini adalah buku yang sangat-sangat bagus. Terus kenapa lama, yah karena sedang padat saja bulan ini. Secara bersamaan saya baca Rabindranath Tagore dan masa kanak-kanak, biografinya John Forbes Nash Jr, Dunia Kafka-nya Murakami dan buku lokal yang sedang panas-panasnya Raden Mandasia. Dari sederet itu tentu saja saya harus membagi waktu dengan lebih cermat. Untungnya kecepatan baca saya masih di gigi 4 jadi sekalipun bersamaan saya masih bisa sangat menikmati. Tunggu review kami.
Lha dari 10 peristiwa itu kok saya ga mencantumkan sama sekali kegiatan dengan May dan Hermione? Well, sebenarnya setiap tahun ketika kita merayakan hari istimewa kita selalu mencoba bersama seharian dengan cuti kerja, lalu sorenya beli bunga. Untuk tahun ini tak ada kue ulang tahun. Kita akan rayakan lebih sederhana bukan tepat di tanggal 10 namun besok Jumat tanggal 12. Karena kebetulan besok Aunty dan neneknya ada acara sehingga tak ada yang mengasuh. Besok kita cuti dan rencananya sehari penuh bertiga jalan-jalan. Paling makan di resto, nonton film, berkendara seputar Karawang atau malah tidur seharian? Apapun itu, waktu akan sangat jadi berharga ketika dihabiskan dengan orang-orang tercinta dalam sehat dan ceria. Selamat ulang tahun kedua anakku, Calista Yumna Hermione Budiyanto. Love You Much Much More.
Karawang, 110816 – New Found Glory – Kiss Me

Sherlock: The Reichenbach Fall – A Perfect End

image

Sherlock: Oh, I may be on the side of the angels, but don’t think for one second that I am one of them.
Episode tiga adalah puncak dari semua. Season satu di The Great Game kita disuguhi film yang begitu mengagumkan, di season dua lebih gila lagi. Tensinya tinggi dan begitu kelar pastinya membuat fan melonjak kegirangan sambil mengusap air mata. Kisah dalam The Reichenbach Fall dirombak ke modern dengan twist yang sama serunya. Tak ada air terjun sesungguhnya. Diganti dengan atap gedung, dengan gaya terjun yang berbeda. Lebih nyata, ataukan malah tampak maya? Saya sampai geleng-geleng kepala betapa film seri tayang di tv bisa semempesona ini.
Kisahnya dibuka dengan sedih. Yah walau bagi fanboy pastinya tahu apa yang disampaikan Dokter Watson (Martin Freeman) kepada terapisnya ambigu. Bahwa Sherlock, jagoan kita tewas. Diiringi hujan rintik yang bunyi tiap tetesnya menjadi musik sendu serta tatapan pilu. Mimik Watson jelas mengindikasikan hatinya sangat amat terpukul. Terbata-bata ia bilang, “sahabat terbaikku Sherl… Sherlock Holmes tewas…” skoring musik yang dan gambar-bambar pembuka film begitu akrab itupun menyapa. Kali ini sang sutradara ke tangan Toby Hayes.
Kisah lalu ditarik ke tiga bulan sebelumnya. Memperlihatkan kesuksesan demi kesuksesan Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch). Dari julukan Reichenbach hero karena bisa mengembalikan lukisan karya Pelukis legendaris Mr. Turner. Setiap ucapan ceremony terima kasih Sherlock mendapat hadiah kado. Kancing manset berlian, bahkan hanya sekedar mengocoknya. Lalu seorang bankir yang diculik bisa kembali kepada keluarganya. Sherlock mendapat hadiah jepit dasi, padahal ia tak mengenakan dasi. Sampai kasus berikutnya seorang penjahat senior sejak 1982 Peter Ricoleti berhasil diringkus berkat kejeniusan Sherlock, ia mendapat hadiah topi berburu dari DI Lestrade (Rupert Graves). Topi bolak balik depan belakang itu lalu dikenal sebagai topi Sherlock, topi detektif yang termasyur. Surat kabar langsung memuatnya sebagai headline: Boffin Sherlock Solves Another. Tatapan sinis Sgt Sally Donovan (Vinette Robinson) dan Anderson (Jonathan Aris), tersenyum sambil tepuk tangan ringan. Dua orang yang sedari seri satu begitu menyebalkan. Dengan berbagai kesuksesan itu kini Sherlock semakin terkenal, dirinya bukan lagi private detective (detektif swasta). Watson meminta Sherlock mencari kasus yang lebih kecil agar tetap low profile.
Adegan berikutnya kita diajak ke Tower of London di tengah hari yang terik. Dengan suara gagak, muncullah musuh utama kita James Moriarty (Andrew Scott). Mengenakan topi bertulisan London, mengunyah permen karet. Ia memotret sekeliling dengan santainya. Sementara siang itu duo kita sedang bersantai. Watson membaca koran dengan boneka digantung di belakangnya, Sherlock bermain mikroscope. HP nya beberapa kali menerima pesan namun abai. Semua kasus penuh tekanan sampai mereka dipecahkan.
Kembali lagi ke Moriarty. Ia melewati metal detector, alarm. Hpnya minta dikeluarkan. Ia dengan polosnya menaati. Tibalah di depan mahkota yang dipamerkan. Aksi sessungguhnya dimulai. Dengan mengenakan earphone menyenandungkan iringan musik lembut. Lagu ‘La Gazza Ladra (the thieving magpies)’ dari composes ternama Giochino Rossini. Melalui kamera keamanan kita diajak melihat perampokan. Aksi pertama dibuka. Cctv mati, keadaan darurat. Seluruh pengunjung dievakuasi. Moriarty berdansa dalam bayang di depan mahkota. DI Lestrade dihubungi, ada pembobolan. Oh bukan divisinya. Namun ia bergerak jua. Aksi kedua, dengan gambar celengan babi dibuka dalam HP. Bank of London melapor lemari besi mereka terbuka. Vault opening. Moriarty menulis sesuatu di lemari kaca mahkota: GET SHERLOCK. Aksi ketiga dieksekusi kini Pentonville Prison. Keamanan penjara lumpuh. Ketiganya dianalogikan dengan tumbahan teh yang sedang diminum oleh penanggungjawab. Tarian Moriarty ditutup dengan memecahkan kaca pelindung dan ia tertangkap dalam kepungan polisi. Dengan kalem duduk di singgasana, mahkota di kepala, tongkat di tangan ia berujar, ‘ga usah buru-buru’. Waaa… edan. Keren sekali. Penghantar kisah ini. Mengingatkanku pada Joker di The Dark Knight yang sengaja menyerahkan diri untuk ditahan.
SMS di HP Sherlock setelah bertulat-tulit akhirnya dibuka oleh Watson. ‘He’s back’. Pesan singkat yang membuat Sherlock mengalihkan dari mikroscope. “Come and play. Tower Hill. Jim Moriarty X”. Lalu koran-koran menurunkan berita, sang konsultan kriminal akhirnya ditangkap. Sherlock diminta jadi saksi. Dalam perjalanan ke sidang pengadilan, Watson sudah beberapa kali meminta Sherlock untuk tak sok cerdas. Ingat, singkat dan jelas. Namun Sherlock terlihat tegang dan cuek. Aku akan jadi diriku sendiri. Wah tanda-tanda, nasehat Watson tak didengar.
Di gedung Old Bailey itulah dua musuh bebuyutan itu kini. Sherlock ketika di toilet dicegat seorang wanita. Fan beratnya. Meminta tanda tangan di baju. Seorang wartawan bernama Kitty Riley (Katherine Parkinson). Namun perjumpaan itu berakhir tak bagus. Kitty yang meminta waktu untuk wawancara ditolak, meninggalkan kartu nama di kemeja Sherlock. Yah kita tahu Holmes seorang cuek yang seringnya bilang kasar. “You re repelled me”. Kata-kata yang menyakiti Kitty.
Seperti yang diprediksi. Kesaksian Sherlock berjalan kacau. Ia memuntahkan kekesalan, betapa Moriary adalah laba-laba yang ada di tengah jaring kejahatan. Sayangnya pernyataan itu disertai segala muntahan kata-kata peserta sidang. Dari juri, hakim, sampai jaksa semua kena semprot. Terlihat jelas Jim menikmati acara. Sherlock tak bisa mengendalikan kondisi. Kran airnya tak bias ditutup. Pamer intelektual itu berakhir dengan Sherlock dan Moriaty dijebloskan dalam satu ruang. Scene sepintas mereka bertatapmuka dalam bingkai pintu penjara adalah scene langka nan klasik.
Setelah sidang, duo jagoan kita menganalisis situasi. Tiga tempat paling aman di London dijebol bersamaan. Kalau Jim menginginkan mahkota ia akan mendapatkannya. Tidak. Ini jelas bukan perampokan yang gagal. Kalau ia ingin para tahanan bebas ia bisa dengan mudah melakukannya. Uang? Jelas bukan motivasi sang villain. Satu-satunya alasan Jim dipenjara adalah memang ia ingin di sana. Hari-hari berlalu, saatnya Mr Crayhill sang pengacara Moriaty untuk memanggil saksi. Namun keputusan mengejutkan. Ia tak memanggil satu saksipun. Tak menyangkal apapun. Pembelaan selesai. Anjrit… kalau normal jelas Jim dinyatakan bersalah dengan penjara berdurasi lama. Dengan scene pembacaan hakim dipecah dengan Sherlock, kalian harus memutuskannya ‘guilty!’ dari jam 08:55 sampai 10:50 pemungutan suara juri dilakukan dan tadaaa… Moriarty: not guilty.
Sherlock yang mengetahuinya dari telepon Watson langsung mempersiapkan diri. Memasak air, membuat teh, memainkan biola. Menanti musuh datang. Adegan berikutnya adalah diskusi berkelas. Dengan teh dan buah apel. “Setiap dongeng butuh penjahat klasik yang bagus.” Jim pamer betapa kini tak ada rahasia, dia memiliki semua kunci. Aku adalah pemilik rahasia. Jika Jim tak mengincar uang dan kekuasaan lalu apa yang diinginkannya? Di depan Sherlock ia berujar, ‘menyelesaikan masalah kita. Masalah terakhir.’ I-O-U
Dua bulan setelah persidangan. Watson ke ATM. Kartunya bermasalah, dirinya ‘diculik’ seperti biasa oleh Mycroft Holmes (Mark Gatiss). Di gedung Diogenes Club no 10. Di tempat itulah kita disuguhi kisah kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Mycroft khawatir kini Sherlock dalam tekanan dan diburu si jahat. Dalam surat kabar the Sun termuat fakta mengejutkan bahwa Sherlock Holmes adalah jenius palsu. Ia mencipta Moriarty agar dirinya terlihat keren. Sumber berita adalah Richard Brook. Nama asing itu memberi wawancara exclusive kepada Kitty. Fakta yang menyudutkan sang jagoan. Namun Watson diambil ke sana bukan karena itu. Ia diberitatahu bahwa di sekitar Baker Street kini berkeliaran pembunuh internasional. Pertama Sulejmani, penyerang dari Albania seorang pembunuh terlatih. Kedua Dyachenko. Ludmila, pembunuh dari Rusia. Dan ketiga bahwa fakta empat pembunuh jaringan international kini menghuni sekitar flat Sherlock begitu membuat Mycroft khawatir.
Setibanya Watson di rumah tentu saja ia mengamati sekitar dan waspada. Di depan pintu ia menemukan amplop coklat dengan cap merah, di dalamnya ada rempah roti. Di dalam rumah ternyata sudah ada Lestrade dan Donovan. Mereka sedang menangani kasus terbaru. Rufus Bruhl , duta besar Amerika dalam masalah. Dua anaknya Max, 7 tahun dan Claudette, 9 tahun diculik ketika di St Aldates, tempat kos mewah di Surrey. Sepintas kita diperlihatkan bahwa kamar mereka dipantau cctv hitam putih. Waaaahhh… no safest place to hide!
Penyelidikan di TKP membawa hasil dengan cepat, seperti biasa. Lemari, tempat tidur, dicek semua. Ditemukan sebuah amplop cokelat dengan stempel merah. Di dalamnya terdapat buku tebal dongeng Grimm. Penelurusan membawa kepada jejak kaki yang perlu dianalisis. Watson dengan ironi bilang apakah Sherlock menikmati? Dengan senyum itu pikirkan anak-anak yang diculik. Deg! Kutipan istimewa.
Kasus ini membawa kita ke rumah sakit legendaris di serial ini: St Bartholomew. Tempat kerja Molly (Louise Brealey). Di lab itulah kita diajak kenal lebih dekat dengan karakter favoritku ini. Bahwa ayahnya mirip Sherlock. Ayahnya sudah meninggal. Betapa ia mengagumi Sherlock. Sangat menyentuh. Saya suka bagian ini. Analisis jejak menghasilkan : 1. Chalk 2. Asphalt 3. Brick dust 4. Vegetation 5. Masih membingungkan. Namun berkat pengamatan Watson ketemu juga. Bagaimana kisah ini terinspirasi dongeng Hansel & Gretel. Molekul kelima adalah gliserol. Dan tadaaa… PGPR adalah salah satu bahan yang diperlukan dalam pembuatan cokelat.
Kelima item itu lalu dilaporkan ke kantor polisi untuk dilacak di mana kelima unsur itu memungkinkan ada. Sesuatu yang lebih spesifik yang menghasilkan sebuah kata Addlestone! Dan tentu saja tebakan Sherlock tepat. Anak-anak yang shock dan sekarat dapat diselamatkan. Luar biasa, hanya dengan meneliti jejak kisah penculikan rumit dapat dibereskan. Namun kisah utama bukan di sini. Benang merah itu adalah upaya Moriarty menghancurkan Sherlock inci demi inci. Membuat orang-orang sekitar ragu. Membuat Sherlock terjatuh. Membuat Sherlock terbakar. Berhasilkah?
Well, sungguh menyenangkan menyaksikan kisah ini menemui titik terang (ataukah malah kabur?). segalanya dijelaskan dengan gamblang. Misi Moriarty dirunut dengan nikmat. Kepanikan Sherlock. Kebimbangan Watson. Tingkah polah Lestrade yang dari segala gerak begitu meyakinkan. Seorang polisi yang tak sedikitpun ragu terhadap andalannya. Acting Rupert Graves harus diacungi jempol. Kekhawatiran Mycroft, sekaligus memberi detailnya yang bikin marah. Dan tentu saja tingkah laku Molly. Sungguh seru, ternyata gadis lab ini diperhitungkan. Ketika tensi film sedang tinggi-tingginya. Syukurlah Sherlock mengakui bahwa Molly masuk hitungan dan ia selalu percaya padanya. Adegan pengakuan sang jenius kepada sang gadis nyaris membuatku menangis. Sedari seri pertama saya tonton saya sudah yakin bahwa Miss Louise pasti akan mendapat porsi yang besar, yah walau tersamar.
Episode ini jelas mengambil kisah dari “The Final Problem”. Beberapa kali si Jim Moriaty bilang akan menyelesaikan masalah akhir di antara mereka. Eksekusi ending yang pas. Akhir yang sempurna. Saya nyaris menitikan air mata ketika melihat Watson pingsan. Adegan di atap rumah sakit itu membuktikan bahwa segala yang tampak nyata belum tentu nyata. Karena air mata yang kalian titikan akan mengering ketika wajah Sherlock kembali tampak di kuburan. Hantu? Jelas bisa saya pastikan bukan. Hantu Sherlock? Hahaha. Ohhh… serial ini semakin membara.
Sherlock: The Reichenbach Fall | Director Toby Hayes | Screenplay Steve Thompson, Mark Gatis, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Una Stubbs, Louise Brealey, Mark Gatiss, Andrew Scott, Katherine Parkinson, Vinette Robinson, Jonathan Aris | Skor: 5/5
Karawang, 090816 – Goo Goo Dolls – Here Is Gone

Sherlock: Hounds Of Baskerville – Dog Day Afternoon

image

Sherlock: Yes, if I wanted poetry, I’d read John’s emails to his girlfriend. Much funnier.
Yah kutukan episode kedua nih. Seperti di season satu, di seri kedua ini juga sebuah penurunan. Setelah membumbung tinggi dengan segala daya pikatnya. Kasus yang disodorkan Hounds of Baskerville lebih sederhana. Sampai di bagian Sherlock menguji materi dan gagal itu saya sudah tahu apa penyebab semuanya, jadi tak terlalu mengejutkan saat eksekusi ending.
Kisahnya dimulai dengan sebuah traumatis masa kecil Henry Knight (Russel Tovey). Dua puluh tahun lalu ia bersama ayahnya diserang binatang misterius di lembah dekat Baskerville yang mengakibatkan ayahnya terbunuh. Mayatnya tak ditemukan, ia selamat namun kejadian itu terus menghantuinya. Malam itu ia kembali ke sana untuk menghadapi ketakutannya, seperti saran psikiaternya. Malam yang menghantarnya meminta tolong ke Baker Street. Lalu skoring khas mengalun dengan segala cast and crew episode ini.
Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) bosan, tak ada kasus istimewa akhir-akhir ini. Dirinya marah-marah ga jelas mencari rokok yang disembunyikan Dokter Watson (Martin Freeman). Ternyata mencari kasus unik susah juga. Sudah cek di koran atau sampai radius beberapa mil tak ada. Muncullah Mrs Hudson (Una Stubbs) mengenakan baju baru. Debat itu menghasilkan ocehan ga jelas Sherlock bahwa Mrs Hudson bertemu dengan Mr Chatterjee, seorang pria bersuami yang tak mungkin mengajaknya berlayar. Fakta yang diketahui Sherlock dalam sekejap itu membuat sang induk semang ngambek. Watson meminta Sherlock meminta maaf. Tentu saja ia menolak dan merasa iri dengan Watson, lebih tepatnya pikiran Watson yang begitu tenang, lurus ke depan dan hampir tak digunakan. Beda sama Sherlock, pikiran bisa meledak. Haha, asem tenan si freak iki.
Lalu dalam website ada kasus masalah kelinci yang hilang, Bluebell yang kabur dari kandang. Padahal kandang masih posisi terkunci dan tak ada yang rusak. Kasus yang menarik itu membuat dahi Watson berkerut, lalu terdengarlah bel rumah. Single ring dengan tekanan penuh di bawah satu detik. Sang klien adalah Henry Knight yang diperkenalkan di awal cerita. Melawan trauma di lembah berkabut. Sebuah video menjelaskan tentang laboratorium percobaan di Baskerville yang dijaga ketat aparat, terlihat mencurigakan. Knight lalu menjelaskan lebih detail malam saat ayahnya meninggal. Ia melihat binatang itu mencabik-cabik, bermata merah menyala dengan raungan menyeramkan. Anjing? Srigala? Bukan. Kerena ditemukan jejak kaki binatang. Awalnya Mr Knight ngambek karena Sherlock terlihat mencemooh, tapi bisa ditaklukkan untuk kembali duduk untuk merokok yang asapnya ikut dihisap Sherlock. Giliran dia menceritakan lebih lanjut eh gantian Sherlock teriak ‘boring…, pulanglah ke Devon’, namun saat Mr Knight melanjutkan kisah bahwa ada jejak kaki raksasa HOUND, Sherlock terdiam dan meminta mengulanginya. Sepertinya ia mengingat suatu koneksi lain. Dan benar saja, kata hound mengubah pikirannya. Yup, kasus ini siap dipecahkan.
Duo jagoan kita berkelana ke Baskerville. Menyelidiki masyarakat sekitar, mampir ke kedai untuk ngopi ‘The cross key’ – boutique room & vegetarian cuisine, sampai akhirnya memutuskan masuk ke laboratorium. Lho kok bisa? Sherlock menggunakan kartu pass milik Mycroft (Mark Gatiss), inspeksi dadakan itu diprediksi Sherlock butuh waktu 20 menit untuk disadari. Adegan selama di lab diperlihatkan dengan segala kekocakanya. Mengelabui petugas, menanyai para peneliti sampai cek sana-sini. Kopral Lyons mungkin hanya muncul beberapa menit, namun ia begitu asyik diikuti. Adu cerdik dengan Sherlock lalu Watson yang bilang kapten Watson, ini perintah kopral! Haha, anjrit, keren keren. Autorized ke lab itu dibuat dengan memikat. Sepintas terlihat lift sampai -4 dan B, dan apa yang ada di bawah? Sebagai seksi keamanan ia lalu mengantar tur mr Holmes. Pertanyaan hilangnya Bluebell terjawab di sana. Saat waktu tur menipis dan urgent call menyambungkan dengan sang pemilik asli kartu pass, tentu saja Mycroft langsung mengirim pesan kepada sang adik, ‘apa yang kau lakukan?’ Benar saja kartu pass itu akhirnya terdeteksi saat di menit 23. Berdua ditangkap, untungnya ada dr Franland (Clive Matle). Ia memberi nomor cellphone kepada Sherlock. Kembali ke mobil Land Rover dan keluar dengan selamat. Sok misterius dan sok cool dengan menggerakkan mantel ke atas.
Mereka lalu ke rumah Mr Knight untuk menyusun siasat. Darinya Sherlock tahu, ada kalimat traumatis yang selalu terngiang, ‘liberty in…’, Sherlock nyeletuk ‘Liberty in death’ sebuah ungkapan yang berarti kebebasan yang sejati. Rencana berikutnya mereka ke lembah malam itu. Bertiga menyelidiki langsung. Ketika Sherlock dan Mr Knight sudah berjalan di depan, Watson malah tertinggal karena ada semacam kode morse dari kejauhan, kode berbunyi U – M – Q – R – A . Bagi yang sudah nonton pasti ketawa arti kode itu. Watson dengan konyol menyelidiki lebih lanjut. Sementara Sherlock akhirnya mendengar suara raungan, gemerisik binatang dan malam itu makin berkabut. Dalam kepeningan karena jarak pandangn yang berkabut, Sherlock bilang ‘aku tak melihat apapun’. Merekapun pulang.
Mr Knight sangat yakin ia melihat binatang misterius dan Sherlock jua. Pernyataan itu lalu ditelaah di depan perapian berdua. Dan tadaaa… apa yang dikatakan Sherlock membuat Watson kaget. ‘Mr Knight is right John, I saw it too. A gigantic hound!’ bahkan untuk pertama kalinya di serial ini kita melihat Sherlock sampai takut gemetaran. Gelas yang dipegangnya ikut berderak. Watson mencoba menenangkannya, namun malah semburan kata-kata (seperti biasa) yang muncul tentang orang di sekeliling. Kalimat terakhirnya begitu mengintimidasi, ‘aku baik-baik saja John dan tinggalkan aku! Aku tak punya teman’
Berikutnya Watson diminta ketemu sang terapis Dr. Mortimer (Sasha Behar). Kenapa saya? Downloading image, ‘oooh, kau pria nakal.’ Paginya segalanya lebih baik. Sherlock segar setelah menatap mentari, waaa… menyerap vitamin D nih. Pagi itu kita tahu, Sherlock memang tak punya teman kecuali satu. Duuuh… menyentuh. ketika ia menjelaskan bahwa hound sepertinya bukan kata, namun huruf: H.O.U.N.D secara tak sengaja melihat DI Lestrade (Rupert Graves) sedang minum. Wait, apa yang kau lakukan di sana inspektur? Liburan? Menyamar jadi Greg? Oohh… pasti utusan Mycroft ya. Ok, penyelidikan kembali di-reset. Dimulai dengan kedai vegetarian namun suplai daging bisa begitu banyak? Wah ini pasti ide buruk Watson jadi saranku abaikan!
Penyelidikan berikutnya mereka memtuskan kembali masuk ke lab di Baskerville. Kali ini dengan legal meminta tolong kepada sang kakak. Watson diminta untuk menyelidiki ke lab sendiri karena Sherlock harus ketemu mayor Barrymore. Watson disuruh mencari monster, dan bagian ketika ia ke lab sendirian itu adalah bagian terbaik seri ini. Mencekam, seru dan penuh ketegangan. Dan yak, Sherlock menemukan titik terang. Ayooo kita tangkap hantunya! Benarkan ada anjing raksasa?
Jelas kisah ini diadaptasi dari judul yang sama, yaitu novel The Hound of Baskerville. Dari episode ini saya tahu, di Inggris nyopirnya seperti di Indonesia. Sopir di kanan, jalan di kiri. Di script aslinya yang mengemudi adalah Watson dan ternyata Martin tak bisa mengendarai Land Rover sehingga diserahkan ke Benedict.
Kalau kalian teliti, Watson memanggil ‘Spock’ kepada Sherlock. Ini bukan sembarangan klu. Yak, Spock yang dimaksud adalah Spock-nya Star Trek. ‘Once you’ve ruled out the impossible, whatever remains, however improbable, must be true.’ Kutipan yang pernah digunakan oleh Spock di seri The Undiscovered Country tahun 1991, yang aslinya diambil di cerita The Sign of Four.
Well, kasus episode ini lebih sederhana. Tak ada musuh berat yang harus ditaklukkan, tak ada villain penting di sini. Dan sangat disayangkan si Molly tak muncul. Karakter favoritku ini tak ada dalam satu adegan pun. Masih ngambek dari malam Natal Miss Louise? Kalau kalian sudah membaca bukunya, kasus episode ini tentu saja terlihat biasa. Teka-teki sudah dibocorkan bahkan di awal, alasan kenapa Sherlock tak boleh merokok tentu masuk ke klu utama. Namun tetap, ini adalah Sherlock. Semua tentangnya tentunya menarik. Sebuah kenikmatan tersendiri menyaksikan duo kita memecahkan misteri. Misteri yang tersimpan 20 tahun itu kini terungkap.
Sherlock: Hounds Of Baskerville | Director Paul McGuigan | Screenplay Mark Gatis, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Una Stubbs, Louise Brealey, Mark Gatiss, Andrew Scott, Sasha Behar, Clive Mantle, Russel Tovey | Skor: 4/5
Karawang, 020816 – Sherina Munaf – Kembali ke Sekolah