Bukan Kenangan

Oleh: Lazione Budy

Honey, please…

Aku menghela nafas, ragu. Kupandangi Rita di seberang meja tempat kita duduk berhadapan. Lalu kepalaku tertunduk dan berujar lirih, “Kau sekarang bukan siapa-siapaku, aku tak ingin bertemu denganmu, aku tak ingin berhubungan denganmu. Kau adalah orang asing bagiku”

“Ya aku paham, itu sudah jadi masa lalu kita. Tapi tolonglah kali ini. Kali ini saja. Kumohon. Aku butuh uang. Aku butuh pekerjaan. Setidaknya kebaikanmu ini akan selalu aku ingat. Selalu.”

“Selalu!” bentakku. Kuangkat kepalaku menatapnya tajam penuh emosi. “Selalu. Enak sekali kamu ngomong. Di mana kamu saat aku sedang terpuruk. Di mana kamu saat aku sedang terjatuh.” Nada bicaraku meninggi. “Kau dengan santai meninggalkanku penuh luka, lalu tiba-tiba datang meminta tolong seakan masa lalu kita tak ada apa-apanya! Yang kau lakukan padaku itu jahat”

“Maafkan aku Sigit. Maafkan aku honey…, lupakan masa lalu…”

“Aku tak kan pernah melupakan masa lalu. Kau pernah mengatakannya padaku. Terkutuklah masa itu, dan jangan sebut aku honey lagi!”

***

Selepas lulus kuliah. Kutapaki karir dari bawah. Sebagai lulusan hukum, tentu saja aku ingin berkarir di dunia hukum. Sebagian besar teman-temanku mendaftar di penyelia bantuan hukum, sebagian lagi ke dunia politik, beberapa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, sebagian lagi mencari kerja di Perusahaan swasta sebagai Personalia. Ayahku ingin aku jadi pengacara agar bisa membantu orang-orang lemah di Pengadilan. Ibuku ingin aku jadi hakim suatu hari kelak, hakim yang bijak dalam memutuskan banyak perkara. Orang tua tentu saja menginginkan anaknya yang terbaik, namun takdir berkata lain. Nilai mata kuliahku yang kurang memuaskan membuatku sadar bahwa aku tak cukup hebat dalam beradu argumen di depan banyak orang. Maka aku putuskan mencari kerja di Perusahaan. Aku diterima bekerja sebagai Personalia Perusahaan otomotif di tanah rantau, kota Bekasi. Kehidupan mandiri jauh dari keluarga, tantangan baru.

Sebagai Personalia, tugas harianku salah satunya adalah merekrut karyawan. Tahapan dalam rekrut: seleksi kandidat, menghubunginya, tes tertulis, wawancara, tes kesehatan, lalu training. Memilih kandidat karyawan sungguh memiliki keseruan tersendiri. Sumber data bisa dari mana saja. Dari email yang setiap harinya mencapai ratusan. Dari surat lamaran yang dikirim lewat pos. Dari referensi karyawan internal yang biasanya menitipkan lamaran. Atau dari yayasan bantuan rekrut yang bekerja sama. Sungguh ga seimbang antara lowongan yang tersedia dengan pelamar yang masuk. Ibaratnya lowongan hanya satu yang mendaftar 1000. Namun ternyata tak semudah yang dibayangkan saat proses seleksi. 1000 itu banyak yang tak masuk kriteria. Harus jeli dalam memilih dan memilah. Harus akurat sesuai permintaan departemen terkait dari backgroud pendidikan, pengalaman, atau usia. Namun di sinilah keseruannya. Sebuah tantangan. Mengelolah sumber daya manusia tentu saja sangat berbeda dengan mengelola mesin. Dalam proses produksi misalkan di mesin kita input angka 1, maka output-nya pasti 1. Kalau manusia, jelas beragam. Kita bisa input 1, yang pasti keluarnya bervasiasi, bisa 1, 2, 3 atau bahkan 0,5. Seperti saat pelatihan. Daya tangkap setiap orang berbeda-beda. Ada yang langsung klik sehingga lebih mudah dalam menanamkan materi, ada yang butuh berkali-kali. Itulah seninya.

Setelah dua tahun bekerja di sana, aku sudah menjadi supervisor sehingga tahapan tes kini dilakukan staf dan saat wawancara barulah aku yang melakukannya. Aku sangat menikmati keseharian bekerja. Kesibukan dari pagi sampai sore itu membuatku bergairah untuk membunuh waktu. Memanggil karyawan bermasalah, meeting satu ke meeting yang lain, bernegosiasi gaji, sampai mengisi training karyawan.

Kesibukan yang menyita sisi asmara. Sampai kini aku masih sendiri. Beberapa karyawan perempuan yang jelas-jelas naksir, aku abaikan. Dengan posisiku aku bisa saja mempunyai kekasih yang mumpuni, namun tidak. Masa laluku dengannya belum bisa kuenyahkan dari kepala. Rita, kekasihku yang berhianat.

***

Honey, aku minta maaf. Hubungan kita tak bisa dilanjutkan.” Suatu siang yang terik di sudut kampus. Rita tiba-tiba meminta putus. Aku shock.

“Ada apa sebenarnya?”

“Ada banyak hal di dunia ini yang tak akan kita mengerti. Ada banyak masalah datang dan pergi. Ada jutaan kemungkinan dalam menyongsong detik berikutnya dalam hidup ini. Ada bermacam-macam pikiran muncul dalam menghadapi situasi. Kuharap pikiran yang bijaklah yang kau pilih untuk menentukan arah ke depannya setelah kita berpisah. Aku minta maaf. Aku sangat berterima kasih atas satu-dua tahun terakhir ini. Sungguh waktu yang sangat romantis, menyenangkan dan indah. Waktu yang tak kan pernah kulupakan. Kuharap kau pun tak kan pernah lupa. Sekali lagi maafkan aku.” Rita lalu berpaling dan melangkah pelan meninggalkanku yang masih tak mengerti.

“Rita…,” aku berteriak sambil berjalan menyusulnya. “Aku tak mengerti.”

Dia berbalik, menatapku lagi. “Banyak hal lebih baik tak dimengerti. Banyak fakta yang tak baik di luar sana. Aku hanya minta kau tetap berfikiran positif.”

“Tolong pastikan, fakta apakah itu.”

Rita menghela nafas pelan. Lalu memegang kedua tanganku, menggenggam jemariku erat. Menatapku haru, kita saling berpandangan. Mata cinta yang biasanya aku lihat dikala dia bahagia. Namun kata-kata berikutnya sungguh tajam menikam hatiku. “Bulan depan aku menikah. Dan itu bukan denganmu. Mengertilah, hidup adalah seni mengambil keputusan. Masa depanmu cerah terbentang. Lupakan aku.” Lalu dia-pun pergi dengan air mata terurai meninggalkanku dalam kehampaan.

***

Tiga tahun setelah keputusan pahit itu. Dalam keterpurukan, aku tetap bisa menyelesaikan kuliahku. Walau tertatih, S1 itu harus kuraih. Tak banyak kabar yang masuk ke telingaku setelah Rita menikah. Semakin sedikit informasi semakin baik. Ternyata bohong, siapa bilang waktu bisa menyembuhkan luka. Rita selalu menyelinap dalam kepala kendati aku memutuskan menjauh, pergi ke tanah rantau dan mencoba menyibukan diri. Hati-hatilah dengan pikranmu.

Hingga akhirnya di Senin yang cerah itu. Saat ada seleksi untuk posisi marketing staf, tim rekrutku sudah memilah menyisakan beberapa kandidat karyawan lagi. Ada lima kandidat yang diwawancarai, kita sedang butuh dua karyawan. Aku duduk dalam ruang wawancara bersama Toni tim rekrutku, kubuka berkas pelamar dan kutemukan namanya di sana. Satu dari lima orang itu ternyata membuat jantungku berdegub lebih keras. Rekanku lalu meminta izin memanggil kandidat untuk mulai wawancara. Aku terpaku, masih menatap berkas itu, membolak-baliknya. Rita Wahyuni, status cerai tanpa anak, menganggur 6 bulan yang lalu. Tempat tinggal Cikarang, sebuah rumah yang tak jauh dari tempatku berteduh. Aku menelan ludah.

Sebelum mulai aku bertanya kepada Toni. “Honey, hhmmm maksudku Ri.. Rit..Rita Wahyuni. Bagaimana nilai tes tertulisnya?” Aku bergetar menyebut nama itu lagi.

“Nilainya bagus pak. Di atas rata-rata. Wawancara tahap awal dengan kami juga Oke. Tinggal bapak yang memutuskan akankah bergabung dengan Perusahaan kita atau tidak. Orangnya cantik dan wawasannya tentang seluk beluk marketing luas” Toni terus menjelaskan betapa kandidat ini sangat berpeluang bergabung.

“Baiklah, terima kasih Toni. Persilakan dia masuk.”

“Baik pak.” Toni melangkah keluar ruangan meninggalkanku sendiri. Memanggil kekasih lamaku. Perempuan yang sudah mengusik pikiranku. Seseorang yang begitu kucinta di masa lalu.

Sekian tahun tak bertemu membuatku gugup. Pertama yang kurasakan ketika Rita melihatku adalah terkejut. Menutup mulutnya dengan sebelah tanganku. Menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Menundukkan kepala, menggelengkannya lagi. Lalu melihatku lebih jelas, lebih lama. “Oh honey…”

Bukan sebuah permulaan yang bagus tentu saja dalam wawancara pekerjaan. Aku mencoba tersenyum. Pahit. “Apakah kau akan berdiri terus di depan pintu? Ataukah kita bisa mulai wawancaranya. Silakan duduk, Rita Wahyuni.”

Kulihat dia mulai mencoba mengembangkan senyum, berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman. “Maafkan aku Toni…”

Tangan itu tak kusambut. Kulihat matanya dan berujar, “Silakan duduk. Mari kita mulai wawancara hari ini dengan pertanyaan sederhana. Well, Rita Wahyuni sang mantan apakah kamu bahagia?”

***

“Pak Anton, aku minta hasil final wawancara hari ini. Agar bisa aku follow up segera untuk tes kesehatan.”

“Oh baiklah. Tunggu sebentar.”

Kubuka berkas itu, lalu mulai mengisi form wawancara.

Susi Sulawati. Sikap bagus. Motivasi bagus. Inisiatif kurang. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Failed.

Desi Mustika. Sikap bagus. Motivasi bagus. Inisiatif kurang. Pengetahuan bagus. Skill bagus. Accept.

Dina Meyka. Sikap kurang. Motivasi cukup. Inisiatif bagus. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Failed.

Rita Wahyuni. Aku gelengkan kepala tak percaya, ini bukan kenangan. Lalu kutulis dengan tangan bergetar. Sikap cukup. Motivasi bagus. Inisiatif cukup. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Kutulis dengan tinta merah menyala: Failed.

Rahmawati Suky….

Karawang, 250316 – BvS day

*)judul cerita ‘Bukan Kenangan’ diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Sherina Munaf di album Primadona

Iklan

One thought on “Bukan Kenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s