The Stars Shine Down – Sidney Sheldon #8

image

Bintang berkilau menerangi bumi. Dan menyaksikan kita. Menjalani hidup kita yang remeh. Dan menangis buat kita. – Monet Nodlehs
Buku ini pertama terbit tahun 1992. Di pembuka kita dijelaskan setting waktunya adalah Kamis, 10 September 1992. Hari ulang tahun sang tokoh utama. Kisahnya seperti template kisah Sheldon yang lain. Seorang wanita karir yang sukses nan tangguh. Menantang dunia, dengan segala keglamorannya. Kali ini Sheldon merambah ke dunia real estate. Dunia bisnis yang sangat menjanjikan dari era batu sampai zaman digital. Seperti yang lalu jua, ia menggelitik pembaca dengan bocoran ending. Bahwa di ulang tahun yang sepertinya berantakan karena ada sesuatu akan menghancurkan segala sendi kehidupan, Miss Lara Cameron mencoba tabah.
Dari nukilan ending di prolog itu kita bisa menganalisis dan memperkirakan. Pertama status Lara adalah lajang karena menggunakan imbuhan Miss di depan. Jadi sepanjang kisah kalau kalian berprediksi ia akan menikah dengan salah satu karakter kalian jelas salah. Bahkan ketika menikah sudah jadi titik terdekat pun, jangan pernah berpikir ia akan jadi Mrs. Kedua ancaman runtuh bisnis Cameron masih bisa diselamatkan, di halaman 17 Lara membatin ‘Aku sudah siap menghadapi mereka’, jelas ini adalah klu yang terlalu berani. Selalu ada celah untuk melawan. Dan yang ketiga Sheldon memainkan ironi. Tahun 1992 Lara merayakan ulang tahun dalam kehampaan, tahun 1991 ulang tahunnya sangat meriah. 40 tahun lalu segalanya dimulai. Kalau jeli, pola ini adalah pola klasik khas Sheldon dan keputusan apa yang terjadi pada karakter utama pastinya akan sama. Well, sayangnya tebakanku tepat.
Beberapa teman bialng ini buku yang sangat bagus. Saya tak terpengaruh. Ingat, The Sands Of Time yang saya bilang paling lemah-pun ada yang bilang itu buku istimewa. Ingat pula ketika ada yang bilang A Stranger In The Mirror adalah masterpiece namun ketika saya kelar baca ternyata biasa. Begitu pula ini, saya merasa kok seperti pengulangan kisah. Hanya diganti nama karakter, area bisnis, dan pertaruhan nasib yang disodorkan sangat familiar.
Setelah dua bab pembuka yang berbanding balik. Kita diajak melalangbuana ke masa kisah ini bermula. Di Glace Bay, Nova Scotia tahun 1952. James Cameron (mengingatkanku pada salah satu sutradara ternama) adalah orang yang gagal. Seorang Skotlandia yang migrasi ke Glace Bay. Seakan nasib buruk memang tercipta untuknya, maka kegemarannya adalah menyalahkan orang lain. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Di usia enam belas tahun ia cidera saat bekerja di pertambangan yang membuatnya berhenti. Namun ia berwajah tampan. Modal yang bisa meluluhkan wanita bernama Peggy Maxwell. Menikah dalam pertentangan orang tua perempuan. Ayah Peggy mencoba membantu menantunya dengan modal 50.000 Dollar untuk memulai bisnis real estate yang lima tahun lagi akan jadi dua kali lipat. Namun James tak sabar menunggu tahun berganti. Yah sial, ia malah menanamnya di bisnis minyak. Sehingga dalam dua bulan ia bangkrut. Lalu muncullah Sean MacAllister, seorang bankir yang mempunyai usaha kos. Ia sedang membutuhkan pengurus, menarik uang sewa hari Jumat dan menyetorkannya hari Sabtu. Dengan tumpangan hidup gratis walau bergaji kecil, keluarga kecil ini menyanggupi. Mau bagaimana lagi, kepepet. Awalnya berniat sementara, namun setelah mencoba beberapa usaha lain gagal ia menyerah akan hidup. “Kalau takdir tidak menghendaki, keberuntungan tidak akan terjadi.”
Malam di bulan September itulah Lara terlahir. Peggy melahirkan bayi kembar, sayang yang laki-laki tidak bisa diselamatkan. James seorang cuek dan terus mengeluhkan nasib. Setelah tiga minggu diurus oleh ibu susu ia meminta James menamai bayinya, nama Lara bahkan terlontar oleh pengurus tanpa didengar dengan benar oleh James. Kehidupan terus berjalan, Lara yang keseharian dengan para pekerja di kos tak punya teman masa kecil. Sampai usia enam tahun ia belum sekolah. Ada penghuni kos baru bernama Mungo McSween, ia peduli maka ia pun menyekolahkan Lara. Dari sinilah cahaya harapan mulai tampak. Ayahnya memang tak peduli, namun orang-orang sekitar sangat peduli. Lara tumbuh kembang tanpa kasih sayang orang tua. Terlunta dan sia-sia. Tak punya mainan, tak pernah merayakan ulang tahun. Sampai berusia lima belas tahun, ia yang haus pengetahuan belajar banyak hal dari berbagai penghuni kos yang berasal dari berbagai daerah.
Dalam dua lembar yang penuh pengetahuan tentang Skotlandia. Penghuni kos berbincang masalah Great Glen tempat kedudukan Loch Ness, Lochy, dan Linnhe. Lagu-lagu kampung halaman Annie Laurie, Comin’ Through the Rye, The Hills of Home, dan the Bonnie Banks O’Loch Lomond. Kemudian rok khas Skots kilt. Kilt melindungi tubuh pria dari udara dingin yang menggigit, tapi membiarkan kaki-kakinya bebas untuk dapat lari dengan cepat melintasi rumput liar dan lumut dan menyelamatkan diri dari kejaran musuh. Dan di malam hari kalau berada di udara bebas, kain yang lebar itu bisa berfungsi sebagai alas dan selimut.
Nama-nama Skots yang terdengar bagai puisi di telinga Lara, ada Breadalbane, Glenfinnan, Kilbride, Kilninver, Kilmichael. Nama ‘kil’ mengacu pada kepada ruang yang dipakai para rahib di abad pertengahan. Kalau ada nama desa yang diawali ‘inver’ atau ‘aber’ itu artinya desa itu ada di mulut sungai. Kalau dimulai dengan ‘strath’ desa itu ada di sebuah lembah. Kalau ‘bad’ berarti desa itu di daerah belukar. Kisah paling mendebarkan terjadi tahun 1792 sebuah invasi berdarah. Motto berubah ‘Mo thruaighe ort a thir, tha ‘n caoraich mhor a’ teached’ – wahai tanah tumpah darahku, biri-biri pujaan telah datang. Tragedi perebutan tanah kekuasaan itu membuat Lara remaja berjanji, “Suatu hari kelak aku akan memiliki tanah sendiri, dan tak seorang pun – tak seorang pun- akan bisa merenggutnya dariku.” Semangat bergelora yang menjadi pemicu utama cerita ini.
Titik balik nasib Lara adalah ketika James jatuh sakit di rumah bordir karena jantung. Harus berbaring lama di tempat tidur. Pekerjaan rutin menarik uang sewa dilakukan Lara dengan cekatan. Bahkan jauh lebih bagus sehingga sang bankir terkesan. Percobaan satu bulan berjalan lancar. Sampai akhirnya suatu pagi James meninggal dunia dan dimakamkan dalam sunyi, tak ada air mata. Berikutnya adalah perjuangan kerja keras menghadapi dunia.
Dari sini semuanya berjalan seperti kisah-kisah Sheldon lain. Berjuang dari bawah. Bermula dengan perkenalan dengan seorang pembisnis real estate Charles Cohn, ia belajar dari yang kecil. Apa itu OPM – Other People Money. Apa itu bunga bank, apa itu deadline. Percobaan pertama yang penuh pengorbanan itu sempat membuatku muak namun itulah fakta kehidupan yang keras. Sekelumit kalimat ini mungkin terbaca panas: Seluruh masa depannya. Seluruh hidupnya, tergantung pada kata-kata yang akan diucapkannya ini: “Saya akan tidur dengan Anda.”
Tak ada yang mudah dalam memulai. Namun Lara yang cepat belajar sehingga bisa langsung bangkit. Setelah proyek pertamanya sukses, bangunan pertama yang memberi uang berlimpah. Ia putar uang itu untuk modal proyek yang lebih besar.
Benar saja. Pertaruhan Lara selalu membuah hasil positif. Sukses. Dari satu proyek ke proyek lain. dari kota kecil Glace Bay merambah ke Chicago, Amerika Serikat. American dream. Seakan melawan nasib buruk ayahnya, semua yang dipegangnya berubah uang bak tangan Midas. Seakan James adalah lawan kata Lara. Takdir baik berpihak padanya. Saya tak akan bercerita bagaimana kisah ini menemui puncak. Template-nya sama dengan kisah Sheldon yang lain. Konflik yang ditawarkan juga ga jauh beda. Halangan memang selalu dibangun namun selalu bisa disingkirkan, sampai akhirnya ketika setting waktu mendekat di bulan September 1992 seperti yang disampaikan di prolog kita menghadapi tanya ‘akankah ini akan berakhir bahagia?’ Kurasa kalian bisa menebaknya dengan mudah. Tipikal Sidney.
Beberapa bagian de javu dengan Rage of Angels. Nasib Jennifer Parker dalam rantau dan melawan ketidakadilan mirip dengan Lara Cameron. Beberapa bagian mengingatkanku dengan Jill Castel di A Stranger in the Mirror. Kekuasan, kemasyuran, harta. Memang timing membaca sangat penting dalam menentukan hasil akhir. Seandainya buku ini saya baca 10 tahun lalu, pasti berhasil mempesonaku seperti The Sky is Falling. Padahal Langit Runtuh kalau disejajarkan dengan buku Sheldon yang lain ternyata kalah telak. Kilau Bintang hanya ‘apes’ aja saya baca dalam deret buku bintang yang lain. Apalagi setelahnya saya menikmati buku paling hebat Sheldon, buku paling tebal dan paling menakjubkan If Tomorrow Comes. Satu hal yang pasti, buku-buku Sidney Sheldon layak dipajang di rak, dikoleksi dan diwarsikan anak cucu. Selalu enak ketika dibaca ulang, selalu menarik sebagai referensi. Sidney adalah legenda kisah fiktif. Ia adalah seorang bintang yang kilaunya berhasil menerangi bumi.
‘Kalau adil, sekarang ini aku adalah Mrs. Philip Adler.’
Kilau Bintang Menerangi Bumi | By Sidney Sheldon | Diterjemahkan dari The Stars Shine Down | copyright 1992 by Sheldon Literary Trust | Alih bahasa Drs. Budijanto T. Pramono | GM 402 97.549 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua belas, Februari 2007 | 560 hlm; 18 cm | ISBN-10: 979-605-549-X | ISBN-13: 978-979-605-549-4 | Yang satu ini kupersembahkan buat Morton Janklow, manusia segala zaman | Skor: 4/5
#8/14 #SidneySheldon, ditulis di Sabtu pagi dini hari yang gerimis – Next review: If Tomorrow Comes
Karawang, 200816 – Papa Roach – Between Angels and Insects

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s