Sherlock: A Scandal In Belgravia – Power Play

image

Mycroft: We are in Buckingham Palace, the very heart of the British nation. Sherlock Holmes, put your trousers on!
Season dua episode satu. Ending yang menggantung itu langsung disambung. Saat seharusnya keputusan diambil apakah Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) menembak bom di depannya untuk mati bersama Jim Moriarty (Andrew Scott). Tiba-tiba HP Jim berdering dengan nada musik ‘Staying Alive’ – nya The Bee Gees. Sebuah telepon penting yang menghubungkan ke kasus berikutnya, seorang wanita bernama Irene Adler (Lara Pulvet) bersama Yang Mulia dengan gambar tersamar. Sepertinya Jim mendapat ‘penawaran yang lebih baik’. Jreng jreng… lalu muncullah nama-nama cast and crew dengan skoring khas yang sudah akrab di telinga itu.
Berkat kepiawaian Dr John Watson (Martin Freeman) mengolah kata di blog kini Sherlock terkenal dan jadi fenomena internet. Setiap kasus yang berhasil dipecahkan dikisahkan ulang dalam blog, klien Sherlock mengantri panjang. Dari kasus sepele tentang abu orang mati, suami yang selingkuh, istri yang membosankan, anak-anak rindu kakeknya yang meninggal sampai The Geek Interpreter. Sherlock yang masih meragukan apakah ada yang mengunjungi blognya, disinggung John bahwa website Sherlock yang isinya ‘240 jenis abu tembakau’. Mana ada yang tertarik?  DI Lestrade (Rupert Graves) menjelaskan kemarin ada kecelakaan pesawat di Dusseldoff, diduga serangan teroris. Seorang pria yang seharusnya ikut dalam penerbangan malah ditemukan tewas di bagasi mobilnya di Southwark. Pelarian yang beruntung?
Semua kisah itu menyita perhatian sehingga duo kita mencoba menutupi identitas saat banyak wartawan mengambil foto. Ketika mereka keluar gedung secara reflek Sherlock mengambil dua topi, masing-masing dikenakan untuk menutupi kilatan kamera. Jebret jebret jebret.. foto-foto dengan Sherlock dan Watson dengan topi detektif itu akhirnya jadi ciri khas. Yah, seperti yang ada di cerita-cerita.
Kasus pertama yang sesungguhnya kisah ini akhirnya digulirkan. Seorang pria gendut datang ke Baker Street menemukan kasus ajaib. Ketika mobilnya mogok di tempat sepi di pinggir sungai, ia melihat ada pria dengan pakaian olahraga memandang birunya langit sendirian. Percobaan untuk men-stater mobil malah meletuskan knalpot, detik berikutnya pria yang dilihatnya tergeletak tak bernyawa. Siapa yang membunuhnya? Secepat kilat, padahal dipastikan tak ada orang lain di situ dan tak ada peluru di mayat korban.
Watson sampai di TKP dan menyambungkan chat. Jadi Watson memperlihatkan sekeliling dengan laptop sementara Sherlock di flat di jam 6 pagi? Saat pemecahan kasus dalam tahap penyelesaian, masuklah orang-orang berjas yang diantar Mrs Hudson (Una Stubbs) dan mereka memaksa Sherlock ikut, menutup koneksi dan memintanya berpakaian. Ya, Shelock masih mengenakan selimut. Bersamaan dengan itu Watson didatangi petugas sambil bicara di HP. “Dr Watson, this is for you”. Watson mengulurkan tangan. Oh tidak, bukan teleponnya tapi helikopter. WTF! Script istimewa ini. Keren keren keren.
Lebih istimewa lagi, mereka ternyata dibawa ke istana Buckingham, pusat negara Inggris. Tentu saja mereka kebingungan, ada masalah apa ini? Sang kakak Mycroft Holmes (Mark Gatiss) ada di sana dan menjelaskan duduk masalah. Sherlock masih mengenakan selimut tidur dan diminta lebih sopan. Dan tadaa… muncullah pangeran Harry. Mereka meminta bantuan Sherlock untuk mengambil file dari tangan wanita bernama Irene Adler. Sampai di sini kita tahu arti adegan pembuka yang sepintas itu. File berisi foto-foto skandal yang khawatir disalahgunakan.
Irene Adler diceritakan punya skandal politik. Janda seorang novelis terkemuka. Julukannya ‘The Woman’ atau lebih dikenal sebagai ‘Dominatrix’, menyediakan layanan panas dengan kekerasan di dalamnya. Dalam adegan-adegan sepintas ketika Sherlock mengamati foto-foto Adler, Adler juga melihat-lihat foto-foto Sherlock di blackberry. Foto-foto kiriman ‘sang misterius’. Ada koneksi menuju pertemuan pertama mereka.
Dan pertemuan itu diluarduga Sherlock. Adler tak mengenakan sehelai pakaian, sehingga ia gagal ‘men-scan’ tubuhnya. ‘I like detective stories, and detective!’. Adu cerdik itu menghasilkan alarm yang meraung karena Watson membakar kertas dengan asap yang terdeteksi ke sensor. Akhirnya tahu kan maksud Sherlock meminta korek kepada pangeran Harry? Bersamaan dengan itu file yang ada di brangkas terkuak, datanglah segerombolan mata-mata CIA, ah Amerika apa urusan kalian. Ikut berebut foto-foto Yang Mulia? 322434.
Salah satu adegan keren itu muncul ketika Sherlock teriak ‘Vatican cameos’. Bak bik bug, seru dalam iringan skor pas dan slow-mo menawan. Sherlock berhasil mengantongi ponsel yang berisi file namun dia lengah. Ponsel terkunci, ‘I Am _ _ _ _ Locked. Sherlock ditaklukkan Adler, dan ponsel itupun ikut dibawa kabur. Pengungkapan mayat di tepi sungai itu dituturkan dengan seksi. Kini kasus direset. File masih di tangan Adler, mereka kembali ke rutinitas. Mycroft marah dan khawatir. Jelang Natal dengan iringan permainan biola Sherlock.
Ponsel Sherlock sendiri ‘dibajak’. Ringtone kini adalah desahan wanita ketika menerima pesan dari Adler. Malam Natal itu mereka berkumpul di Baker Street, termasuk Miss Molly Hooper (Loiuse Brealey), karakter favoritku. Berdandan cantik, membawa kado dan surat. Oh cinta, betapa kata misteri ini begitu menyentuh dan menyakitkan. ‘Kau selalu mengatakan kata-kata mengerikan. Setiap kali. Selalu’. Sementara kini Watson bersama Jeanette, waaa kemana dokter Sarah?
Kejutan. Sherlock menerima kado berisi ponsel yang ternyata ponsel Adler dengan kesempatan 4 kali percobaan memecahkan kode. Malam itu Adler ditemukan ‘tewas’. Dengan kondisi ponsel di tangan Sherlock, tentu saja Mycroft dan mengajak Watson serta Mrs Hudson untuk mencoba mengambilnya. Flat diacak-acak. Bagian ketika Mrs Hudson menangis dan bilang ‘Inggris bisa jatuh’ itu luar biasa. Absurb dan mimik Watson yang faceless.
Pagi harinya Watson ‘diculik’ yang dikira Mycroft malah ketemu Adler di gedung kosong. Ternyata Adler memalsukan kematiannya, mengirim ponsel itu ke tangan yang tepat agar aman dan punya misi rahasia. Percobaan pertama Sherlock membuka kode gagal. Bukan angka kunjungan blog yang dibajak. Percobaan kedua, tentang hal-hal konyol. Gagal lagi. Bukan sebuah alamat rumah. Percobaan ketiga, ketika ditemukan Adler tidur di kamar Sherlock dan menjelaskan maksud kedatangannya. Ponsel palsu diberikan dan coba dibuka, Sherlock tersenyum. Dan percobaan ketiga-pun gagal bahkan dari tangan yang membuat kode itu! Adu cerdik tingkat tinggi. Saat Sherlock-Adler menatap mesra tiba-tiba si dokter nyeletuk ‘Hamish’. Haha…, nama tengah John Watson.
Trivia menarik muncul ketika Adler memperlihatkan sebuah email ‘007 confirmed allocation’. Berisi sebuah kode angka yang panjang dan kecil. Yak, ini tentang Mr Bond. Kalian tak salah baca. Sherlock mencoba menyelamatkan 007-Bond. Dalam penerbangan yang dibajak teroris. Well, kejutan tak sampai di sini. Karena Adler lalu mengirim pesan kepada tuannya. Hufh, berhasilkah Mr Bond selamat? Bagaimana Sherlock dan Mycroft mengakali sang teroris? Lalu percobaan membuka kode di kesempatan terakhir itu berhasilkah? Fakta pemecahan kode tentang Coventry sendiri berdasarkan kisah nyata, seperti yang dituturkan di film ‘The Imitation Game’. Di mana kode itu dipecahkan dalam Enigma Code oleh Alan Turing yang luar biasanya diperankan oleh Benedict Cumberbact! Bukan sebuah kebetulan tentunya. Endingnya sendiri terlihat ironi ketika Sherlock menatap keluar jendela dengan bergumam lirih ‘the woman…’ Jadi sekali lagi, dimana Moriarty?
Dari judulnya kita tahu ini diadaptasi dari cerita ‘A Scandal in Bohemia’. Dimana Sherlock diminta untuk mengambil foto-foto pribadi sang raja Bohemia, Grand Duke of Cassel-Falstein dan Irene Adler. Perubahan dari Grand Duke ke Yang Mulia. Kelar nonton yang saya lakukan pertama adalah googling kata ‘Belgravia’. Dari wikipedia, Belgravia adalah sebuah distrik di London pusat yang terletak di City of Westminster dan Royal Borough of Kensington and Chelsea. Sebagian besar distrik ini terletak di barat daya Istana Buckingham dan berbatasan dengan Knightsbridge di sebelah utara (nama jalan, bukan distrik), Grosvenor Place dan Buckingham Palace Road di timur, Pimlico Road di selatan dan sloane Street di barat.
Saya benar-benar terpesona sama sang kreator, Mark Gatiss dan Steven Moffat yang bisa membuat kisah ini begitu bernyawa tanpa meninggalkan poin-poin penting dari buku klasik. Setiap adegan penting jadi kita tak dibiarkan melewatkan tiap menitnya. Judul-judul blog Watson sendiri adalah judul-judul cerita karya Sir Arthur Conan Doyle dengan beberapa penyamaran. ‘The Speckled Blonde’ dari ‘the Adventure of the Speckled Band’, ‘The Six Thatchers’ dari cerita ‘The Adventure of the Six Napoleons’ dan ‘The Geek Interpreter’ dari judul yang sama. Hebat ya.
Angka 1895 yang di blog Watson juga bukan sembarangan pilihan. Angka itu dipilih karena seorang fan Sherlock Holmes bernama Vincent Starrett membuat puisi di tahun 1942 dengan kalimat akhir, ‘Here, though the world explode, these two survive / and it is always eighteen ninety-five’.
Dengan empat film yang sudah saya lahap dan dapat rate nyaris sempurna semua dariku. Sampai sejauh mana serial ini akan terus mempesonaku? Duh! Deg-degan juga menuju episode tiga di air terjun yang dramatis itu.
Sherlock: A Scandal In Belgravia | Director Paul McGuigan | Screenplay Mark Gatis, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Una Stubbs, Louise Brealey, Vinette Robinson, David Nellist, Jonatahn Aris, Phil Davis, Mark Gatiss, Andrew Scott, Lara Pulvet | Skor: 5/5

Advertisements

6 thoughts on “Sherlock: A Scandal In Belgravia – Power Play

  1. Jadi gimana si Adler? Mempesonakah dia? 😁😁 Aku pribadi tersentuh pas Molly tersinggung dg ucapan guyon Sherlock. Always. Always. 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s