Sherlock: The Great Game – One Of The Best TV-Shows That I’ve Ever Saw

image

Sherlock Holmes: Catch you. Later.
Catatan ini mungkin sedikit mengandung spoiler. Namun saya usahan tak di poin penting.
“Tak ada yang menarik di surat kabar, Watson? Pelaku kriminal di London benar-benar menjemukan.” Ini adalah kalimat pembuka dalam buku ‘Salam Terakhir’, salah satu cerita pendek yang diadopsi di episode ketiga season satu ini.
Edisi ini adalah salah satu serial tv terbaik yang pernah saya tonton. Brilian adalah kata yang sering diucapkan Watson ketika melihat pemecahan masalah yang dilakukan Sherlock diluar nalar. Dan yah, kata itu akan saya pakai untuk mengungkapkan betapa film ini sungguh brilian. Enak sekali permainan yang disuguhkan dalam cerita, bisa mengecoh, memanipulasi dan membuat penonton geram sekaligus takjub.
Kisah dibuka dengan sebuah kasus di Minsk, Belarusia. Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) menemui seorang tahanan, menanyainya beberapa hal. Ada beberapa gramar English yang dikoreksi oleh Sherlock. ‘weren’t a real man’ seharusnya ‘wasn’t a real man’, ‘learn’, sampai kata ‘hung’ yang seharusnya ‘hanged’. Lalu dia pergi (dari mimiknya kelihatan) dengan kecewa. Kenapa? Ga bisa memecahkannya? Ga bisa membantu tawanan tersebut kabur? Bukan! Karena ternyata itu kasus sederhana. Tak menarik. Duh sombongnya.
Sekembali ke Inggris, dia dirundung bosan. Menembaki tembok seperti orang stress tak ada kerjaan. Bosan. Bosan. Bosan. Join clan COC – Clash Of Clan kami aja Sher, ‘bandanoantrindo’. Kita war setiap saat lho. Mau dengerin lagu-lagu Sherina, Sher? Saya punya album komplitnya lho? Atau main catur sama saya yuk Sher, ajari saya strategi bayangan. Yup, ceritanya Sherlock bosan tak menemukan kasus berat untuk mengasah otaknya. Datanglah Dokter John Watson (Martin Freeman), dia kaget di kulkas ada kepala manusia. Apakah wajar mendapati potongan mayat di freezer, di rumah? Hii… lalu Watson keluar lagi untuk menginap di rumah pacarnya, Dokter Sarah (Zoe Telford). Ketika bu Hudson (Una Stubbs) – hooo karakter ini muncul lagi dan komplain temboknya rusak, ‘akan saya masukkan ke tagihan sewa anak muda’, Sherlock nyengir dan booooom flat 221B Baker Street meledak.
Paginya Watson baru tahu lewat berita di tv. Bergegas pulang mengkhawatirkan teman sekamarnya. Sesampai di flat, eh malah disuguhi kecerewetan kakak-adik. Mycroft datang meminta tolong ada urusan besar menyangkut kepentingan negara. Sherlock bergeming, Mycroft meminta tolong Watson membujuknya. Sambil lalu, saling tebak tempat tidur macam apa yang dipakai Watson semalam. Haha.. afu tenan iki dua saudara. Lucux.
Sebelum pergi Mycroft menyerahkan berkas kasus kematian Andrew West, seorang pegawai negeri sipil meninggal di rel stasiun Battersea pagi tadi dengan kepala pecah. Kecelakaan, jatuh dari kereta? Melompat? Seorang petinggi negara tentunya tak akan pergi ke seorang detektif kalau kasus sesepele itu. Yup, departemen pertahanan sedang mengerjakan sistem pertahanan yang baru dengan nama Bruce-Partington program yang disimpan di memori. Salinannya ada di tangan Westie, file tersebut hilang. Takut jatuh ke tangan yang salah, Sherlock diminta membantu abangnya. Berkas itu diserahkan kepada Watson. Oke, sampai di sini saya ngakak terus. Keren bingit plot film ini disusun. Cerdas dan sangat menghibur. Speechless.
Kenapa Sherlock berbohong sedang sibuk padahal dia seharian duduk bosan. Sambil memainkan biola mendengar keluh kesah Watson ada telepon masuk, dari DI Lestrade (Rupert Graves). Nah ini baru kasus menarik. Dia-pun ke keluar rumah mengajak Watson. ‘Aku akan tersesat tanpa Blogger-ku…’
Dari kantor polisi Lestrade memberi sebuah amplop bertuliskan nama Sherlock Holmes. Sgt Sally Donovan (Vinette Robinson) yang suka bilang Sherlock ‘freak’ jua muncul. Amplop berisi handphone berwarna pink. HP yang sama dengan yang di seri satu? Bukan, namun dibuat semirip mungkin. ‘Lima sinyal Greenwich’. Pesan pertama berisi sebuah gambar perapian tua. ‘Blocked’. Sherlock cuma menatap hampa dan tahu itu adalah ruang bawah tanah flat 221C Baker Street. Langsung meluncur pulang, mereka mendapati sepasang sepatu. Bersamaan dengan itu HP pink berdering mendapati seorang perempuan menangis dan memberinya sebuah puzzle yang harus dipecahkan dalam waktu 12 jam kalau tidak dirinya ‘nakal’. Wow, tirai sudah dinaikkan. Permainan Seru baru benar-benar dimulai.
Di laboratorium rumah sakit Sherlock menguji tanah, menganalisis sepatu tadi. Muncullah karakter favoritku Molly Hooper (Loiuse Brealey) bersama kekasih barunya. Seperti biasa Sherlock ‘memuji’ Molly, berat badannya naik bisa ditebak tepat. Wanita kan kalau diperhatikan detail gitu jadi tersanjung. Namun dia masuk lab bersama kekasih barunya seorang IT. Office roman, seorang gay bernama Jim. Jim yang aneh, perkenalan berlangsung kurang enak. Watson kesal Sherlock membuka fakta di depan orangnya langsung dan itu tak baik, maksudnya tidak sopan. Sherlock mana peduli hal ginian. Jim pergi, Molly pergi, berdua mengotak-atik sepatu yang menghantarnya pada memori masa lalu, pemuda bernama Carl Powers kasus pertama Sherlock. Carl meninggal di kolam renang, semua jejak dicari namun satu barang bukti hilang. Sepasang sepatu yang anehnya kini dikirm kepadanya. Ide cerita brilian. Sampai di bagian ini saya dan saya yakin mayoritas penonton melewatkan bagian terpenting di lab rumah sakit itu. Saya tak mau bilang apa itu, eh atau maksudnya siapa itu. Hehe..
Ketika waktu menyisakan 3 jam Sherlock berhasil memecahkan puzzle. Kematian Carl di kolam renang disebabkan oleh sesuatu yang ada di sepatu sehingga pembunuh menyimpannya. Ditulisnya di web dan HP pink pun berbunyi. Pip pertama selesai. Wanita yang menghubungi Sherlock itu dievakuasi dengan bom di tubuh, duduk dalam mobil dan membacakan pesan di pager. Dengan titik merah di dada. Yah, bukan hanya Sherlock yang bosan. Ada orang gila di luar sana yang juga bosan dan mengajak bermain nyawa.
Permainan kedua langsung dimulai. HP berbunyi pip empat kali dan memunculkan gambar mobil. Bersamaan dengan itu ada telpon dari seorang pria yang ketakutan. Dia dipasangi bom, berdiri di tengah kebisingan kota. Kasus pertama bisa dipecahkan 9 jam, kini sherlock diberi waktu 8 jam. Ian Monkfond, seorang bankir menyewa mobil dengan bayar tunia dari kota London. Tubuh Ian tak ditemukan, darahnya ada di dalam mobil. Istrinya menangis. Dari penyelidikan singkat, jelas ada yang tak normal kenapa menyewa mobil ketika sudah punya mobil? Tak bayar pajak? Ah Ian selalu begitu. Tidak juga. Check! Mereka mengarah ke Janus Car, penyewaan mobil yang kartunya ditemukan di dashbord.
Bertemu Mr. Ewart pemilik rental. Hanya dalam sekejap melalui pigura Jags, kulit tangan, gatal di lengan dan sekilas lihat isi dompetnya Sherlock sudah berhasil tahu kasus ini menemui titik temu. Ueedan. Darahnya beku. Janus adalah nama dewa dalam mitologi Yunani. Mr. Ian dalam kesulitan finansial. Pip kedua tuntas. “I am on fire!” Sherlock dan Watson berjalan menjauh melewati lorong dengan lampu satu per satu mati. Cool!
Pip ketiga berisi gambar seorang wanita. Yang tentu saja tak dikenali Sherlock, namun penggemar tv tahu. Ia adalah Connie Prince, 54 tahun, seorang master make-up yang acara tv nya laris. Ia meninggal dalam misteri. HP pink berdering, seorang nenek memberi instruksi dan memberi waktu 12 jam untuk memecahkan teka-teki. Pembunuhan kali ini terdengar mudah, typical. “Kamu yakin?” Dan setelah jawaban diposting, HP pink berbunyi. Kali ini lebih rumit dari yang diduga Sherlock.
Pip keempat sebuah gambar pemandangan sungai Thames. South bank, diantara tempat Southwark dan Waterloo. Kali ini Watson agak ngambek seakan kecewa mereka memainkan permainan dengan taruhan nyawa sementara Sherlock terlihat santai. Tapi atas bujuknya Watson luluh. Di tepi sungai ditemukan mayat Alex Woodbridge, hanya sekejap Sherlock teriak, ‘lukisan Vermeer yang hilang itu palsu’. Nah apa hubungannya? Kau pernah dengar tentang Golem? Hehe pertama dengar di kisah Bartimaous lalu di game COC. Bahwa itu makhluk dari tanah liat dari cerita bangsa Yahudi. Golem juga seorang assasin, nama aslinya Oskar Dzundza. HP pink belum mengkonfirmasi via suara sejauh ini, tapi Sherlock tahu harus secepatnya mengejar si Golem. ‘terlalu berbahaya langsung melompat ke konklusi, kita perlu data’.
Kali ini memang tak ada klu dari penelpon. Ketika pemilik galeri Miss Winceslas ditanyai bertiga karena akan menjual lukisan palsu seharga 30 juta Pound barulah HP pink berdering, jawaban yang diberi salah dan Sherlock hanya diberi tambahan waktu 10 detik. Suara anak-anak. klu utama ternyata ada di lukisan dan fakta bahwa ‘bintang yang meledak, hanya muncul di langit tahun 1858’. Kalau begitu kenapa bisa dilukis tahun 1640-an?
Semua ini kental dengan nama Ceko, apakah final pip mengarah ke sana? Namun pip kelima tak kunjung terdengar karena pemecahan kasus malah kembali ke awal tentang program rudal Bruce-Partington. File itu sudah ketemu dan menawarkan kepada musuh utama untuk ketemu di kolam renang tengah malam. Jadi semua ini tentang perebutan file program itu? Haha… kejutan besar di eksekusi ending. Gottle o’ gear. Gottle o’ gear. Saksikanlah persembahan hebat kisah detektif paling memukau. Sekarang! Jadi di mana Moriarty?
Endingnya sendiri menggantung. Akan membuat fan menggerutu karena harus menunggu lama season dua tayang. Kalau saya sih nanti malam lanjut langsung juga bisa. Haha. Saya sudah membaca seluruh kisah rekaan Sir Arthur Conan Doyle jadi tahu bahwa plot utama seri ini adalah cerita pendek ‘The Adventure os the Bruce-Partington Plans’ dalam buku ‘His Last Bow’. Well, season dua dan seterusnya bakal menarik karena jadi tanya kisah mana lagi yang bakal diadopsi. Kuharap ‘Misteri hilangnya Lady Frances Carfax’ bakalan dipilih karena jadi salah satu favoritku.
Karawang, 240616 – Raihan – Demi Masa
Sherlock: The Great Game | Director Paul McGuigan | Screenplay Mark Gatis, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Una Stubbs, Louise Brealey, Vinette Robinson, David Nellist, Jonatahn Aris, Phil Davis, Mark Gatiss, Andrew Scott | Skor: 5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s