Star Trek Beyond: Just Another Day In The Fleet

image

Spock: Fear of death is illogical | Bones: Fear of death is what keeps us alive.
Kebiasaanku sebelum nonton filmnya saya berusaha sekuat tenaga menutup segala informasi jadi saat pertama kali tahu beberapa fakta di dalamnya akan mengejutkan. Satu yang membuatku benar-benar kaget di seri ketiga petualangan Kapten James Tiberius Kirk ini adalah script ditulis oleh komedian Simon Pegg. Hal ini baru kutahu beberapa detik setelah film selesai dan muncul namanya jelang credit title. Inikan film sci-fi yang serius dan butuh kedalaman cerita tapi kenapa job sepenting ini diberikan kepada pelawak yang juga memainkan salah satu karakter di dalamnya? Di tengah gempuran film-film luar angkasa yang kini lebih variatif (Hello Star Wars Story!) dan bersaing ketat memuaskan fan, pilihan Pegg jelas kurang bijak. Star Trek bagus banget. Into Darkness bagus bingit. Beyond yah, sekedar bagus dan jelas merupakan penurunan kualitas. Padahal ini film sebagai anniversary 50 tahun lho.
Bersama teman kerja NICI Rani dan Dewi yang jauh dari Cikampek, Ghofur yang diseret ikut dan bilang: ‘pokoknya kalau mau nonton film-film luar angkasa saya diajak’, serta Rossi yang mengucapkan perpisahan dengan kita. Di tengah guyuran hujan dan kemacetan khas Cidomba, Karawang. Di akhir pekan yang haus hiburan bermutu. Kita menggenggam lima tiket Beyond dengan harapan tinggi. 15 menit sebelum kick-off kita makan di Eat & Eat, saya kayak orang kampung yang tersesat di mal. Bayar pakai kartu? Kaki lima goes to mal? Apalah itu, ternyata cuaca Juli yang dingin, kondisi pulang kerja yang lapar dan bersantap rame-rame terasa lezat. Oke, modal yang pas untuk mengarungi angkasa.
Film dibuka dengan sebuah penawaran perdamaian yang dilakukan kapten Kirk (Chris Pine) kepada sekumpulan alien dengan menawarkan artefak. Tawaran itu ditolak dan para alien yang dikira sebesar manusia itu menyerbu kapten, sebagian penonton langsung tergelak tawa karena ternyata sekumpulan makhluk asing itu seukuran kucing. Tah kalian bisa bayangkan sekumpulan kucing menyerangmu sehingga bajumu sobek-sobek ga jelas. Sebuah prolog yang mencoba melucu. Satu per satu karakter diperlihatkan. Nyaris semua cast penting yang bertahan hidup di dua seri muncul.
Mereka mendarat istirahat di Yorktown Starbase, sebuah gambaran planet futuristik megah dan menawan. Nama Yorktown dipilih karena awalnya itu dalam script original adalah nama asli USS Enterprise. Yah terdengar keren sih, seperti ‘New-York-Town’. Penggambilan gambarnya bikin pusing. Seakan melawan gravitasi, kamera muter-muter memamerkan kecanggihan. Kereta cepat jalur dobel melintas, ‘wuuuuzzzz’ layaknya naik halilintar di Dufan. Teleport, perpindahan manusia dalam sekejap jadi kegiatan umum, bayangkan kita tinggal masuk ke bok telepon lalu ‘cling’, menghilang. Sepertinya kedamaian antar makhluk angkasa sudah dicipta. Banyak berseliweran alien di antara manusia dengan senyum dan keakraban layaknya sahabat. USS Enterprise istirahat dari perjalanan mengarungi angkasa, memuntahkan para awak untuk berlibur. Salah satu adegan yang membuat Ghofur yang duduk di sampingku, nyeletuk ‘lho LGBT’ saat melihat Hikaru Sulu (John Cho) bertemu suaminya dan menggendong putri mereka. Yup, Sulu diceritakan seorang gay sebagai tribute untuk George Takei, pemeran Sulu di film lama.
Lalu USS Enterprise kembali mengudara dengan misi baru. Seorang alien meminta bantuan kapalnya terdampar, dengan bahasa planet ia ditempeli chip penerjemah di leher sehingga bahasa planet itu dirubah ke English. Sebuah gambaran penemuan di masa yang akan datang? Mengingat banyak penemuan yang terinspirasi dari saga film ini, bukan sebuah hal mustahil nantinya kita ngomong dengan bahasa apapun lalu muncul suara terjemahan. Terdengar keren dan saya yakin bisa. Oh dunia masa depan yang gemilang (dan penuh tanya).
Dari koordinat antariksa mereka memasuki area tak terdeteksi Nebula. USS Enterprise mendapati kontak mereka tak ditanggapi ketika ada pesawat di depan. Tiba-tiba mereka diserang membabi buta, tak bisa menghindar, tak bisa kembali. Luluh lantak. Ya, kalian para Trekkie akan melihat pesawat luar angkasa kebanggaan kalian itu hancur lebur. Penggambarannya terlihat megah, karena jumlah musuh yang sangat banyak. Sekumpulan lebah mengerumuninya, memotong sayap, ekor serta leher USS Enterprise. Dalam sekejap benda mewah itu jadi rongsokan yang akan membuat para Madura bertepuk tangan, ‘dapat order!’. Adegan final hancurnya benar-benar dibuat istimewa, mungkin akan membuat sekumpulan Trekkie sejati menangis.
Serangan itu dipimpin oleh Krall (Idris Elba). Wah ini aktor makin laris dapat peran penting ya. Terakhir saya menikmati aksinya di The Jungle Book dan sukses sebagai Shere Khan. Dengan tangan kanan Manas (Joe Taslim). Ini adalah reuni Joe, aktor kebanggan Indonesia dengan Lin setelah Fast and Fourius 6. Pasukan Krall menangkap para awak, mereka bertahan hidup dengan menghisap jiwa dan membunuh manusia. Awak yang selamat kabur dengan kapsul Kelvin mendarat untuk bertahan hidup. Spock (Zachary Quinto) terluka, dibantu Doctor ‘Bones’ McCoy (Karl Urban). Jantung manusia di kiri, jantung Spock di kanan? Sepanjang film dua orang ini adalah joker, lucu menggelikan. Sementara Montgomery ‘Scotty’ Scott (Simon Pegg) bertemu alien Jaylah (Sofia Boutella) yang juga korban. Jaylah adalah karakter baru di francies ini. Kata Jaylah diambil dari nama aktris Jennifer Lawrence di film Winter’s Bones yang berperan sebagai Ree Dolly. Jennifer-Lawrence-In-Winter’s-Bones disingkat Jaylah. Hehe, garing ya. Lieutenant Uhura (Zoe Saldana), Sulu, dan rekan kru ditawan. Kapten Kirk dan Chekov (Anton Yelchin) menelusuri planet asing itu untuk mengumpulkan lagi pasukan. Ternyata di planet itu ada pesawat USS Franklin yang dahulu kala tahun 2060an dinyatakan hilang. Satu per satu awak diselamatkan. USS Franklin diperbaiki dan siap mengudara lagi. Mereka dikejar waktu, karena Krall telah menemukan artefak yang di awal film itu, guna menyerang Yorktown. Menghancurkan Yorktown bersama pasukan lebahnya yang mengerikan. Berhasilkah jagoan kita mencegahnya?
Well, selain adegan mutilasi Enterprise yang memanjakan mata bagian pengungkapan jati diri Krall adalah yang terbaik. Sayangnya Beyond gagal memenuhi ekspekasiku yang kadung tinggi. Kutukan film ketiga? Atau karena ini francies ke-13, angka sial? Script-nya lemah. Plot hole di mana-mana. Kunci utama melawan musuh dengan lagu itu kurasa konyol sekali. Ini film sci-fi bung bukan komedi. Jadi ketika lagu Sabotage yang dinyanyikan Beastie Boys itu berkumandang, saya tepuk jidat. Alamak! Bahkan Rani dan teman-teman HR pastinya mending dengar lagu Sherina Munaf satu album full ketimbang tahu pemecahan masalah sekonyol ini. Beastie who? Lagu Sabotage sendiri pernah muncul di Star Trek tahun 2009 ketika remaja T. Kirk di mobil. Bukan sebuah kebetulan tentunya. Penampilan Joe Taslim yang tertutup make-up juga terasa sia. Wajah Joe muncul sepintas lalu lenyap, ahhh… Manas diperankan Babe Cabita, Saipul Jamil ataupun Mongol pun ga masalah. Yah setidaknya wajah tampan Joe lebih menjual di Hollywood sih.
Ketika kapten Kirk bilang ‘We got no ship, no crew, how’re going to get out of this one?’ Ini pastinya jadi pertanyaan penting semua penonton. Apa yang bisa dilakukan ketika pasukan tercerai berai di medan perang yang asing? Seharusnya bisa jadi film yang lebih brilian karena konflik yang disodorkan sungguh berat. Seakan tak ada jalan keluar. Sayangnya jawaban Spock, ‘we will find hope in the impossible’ itu diurai dengan buruk. Pemecahan masalah didapat dengan cepat dan terasa gampang. Duh! Ditambah lagi karakter-karakter ini tak panik, tak frustasi dan ekspresinya datar sekali ketika masalah dipecahkan. Justin pastinya tak segalak JJ Abrams dalam mengarahkan mainannya. Ini adalah film pertama Justin Lin di ranah Sci-Fi, debut yang gagal memenuhi harap. Membawa template Fast and Fourious ke angkasa? Duh!
Ketika film selesai dan lagu Sledgehammer yang dinyanyikan dengan lantang oleh Rihanna muncul penonton pada keluar. Lagi-lagi hanya saya seorang yang menikmati tulisan bergerak ke atas cast and crew. In loving memory of Leonard Nimoy. For Anton adalah dua kalimat pembuka credit. Leonard Nimoy adalah pemeran original Spock yang meninggal tahun 2015. Ini adalah film pertama almarhum Anton Yelchin pasca kematiannya bulan lalu. Masih ada empat film Anton setelah ini: We Don’t Belong Here, Porto yang rilis tahun ini, Thoroughbred yang rilis tahun depan serta Rememory yang belum ditentukan dilepas kapan. Saya tak tahu apakah Beyond ada scene after credit karena tak tuntas, ketika sampai di second unit saya buru-buru keluar bioskop sebab teringat inikan momen perpisahan Rossi dan saya tak ingin ketinggalan foto-foto. Terima kasih teman, terima kasih Ceu Ceu Cake. Tiramisu pakai saus enak kok. Good luck Rossi. Live long and prosper! – sambil ngacungi tangan membentuk simbol Vulcan. Yeaaah…
Star Trek Beyond | Year 2016 | Director Justin Lin | Screenplay Simon Pegg, Doug Jung | Cast Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban, Zoe Zaldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Idris Elba, Sofia Boutella, Joe Taslim | Skor: 3,5/5
Karawang, 230616 – Keane – Maybe I Can Change

Advertisements

One thought on “Star Trek Beyond: Just Another Day In The Fleet

  1. Memang mengecewakan. Berharap bisa menetes air mata saat Kirk senior mengorbankan diri demi kirk junior.
    Ah… kecewa sama Beyond..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s