The Legend Of Tarzan: A Wild And Romantic Struggle For Life And Liberty And Dignity

image

George Washington Williams: You are the Lord of the Apes, king of the jungle. Tarzan. Tarzan.
Malam Minggu lalu saya berkesempatan menemani nonton film bersama kedua ponakan: Melly and Wildan. Ketika cek jadwal putar, hanya menyisakan film luar Tarzan, sisanya lokal semua. Hebat betul ya, Lebaran kita dihajar film buatan sendiri. Sayangnya tak ada yang menarik minatku. Ada sih film impor selain Tarzan, sayangnya Finding Dory hanya tayang 3 kali siang semua. Sehingga pilihan itu terpaksa pada sang raja hutan. Keterpaksaan itu diluarduga berbuah manis. Filmnya sungguh asyik diikuti. Karena ekspektasi sedari awal rendah, paling template jadul dipoles: seorang bayi dipelihara kawanan monyet, tumbuh kembang menjadi bagian dari hutan, lalu jatuh hati sama wanita yang tersesat di hutan bernama Jane dan datanglah para perusak, tarung lalu bubar. Begitulah aturan main yang sudah-sudah, sehingga ketika duduk nyaman dengan popcorn di kiri dan air mineral di kanan saya terhenyak sedari adegan pembuka.
What a surprisingly movie. Siapa yang tak kenal karakter rekaan Edgar Rice Burroughs yang pertama terbit tahun 1912 ini? Saya baru membaca buku Burroughs yang perjalanan ke pusat bumi. Namun jelas semua juga tahu siapa sang raja hutan. Tarzan versi David Yates (orang yang bertanggung jawab menutup saga Harry Potter) dirombak. Sebelum judul utama muncul kita diajak berkenalan dengan kapten Leon Rom (dimainkan dengan istimewa oleh Christoph Waltz), seorang korup yang sedang menelusuri pedalaman Kongo, Afrika. Dengan misi mencari berlian, Rom dan pasukan dibantai masyarakat asli yang dipimpin oleh Chief Mbonga (Djimon Hounsou). Namun Rom yang hebat bersilat lidah berhasil keluar dari rimba dengan separuh berlian di tangan, Mbonga meminta mendatangkan seseorang ke Kongo. Dengan senyum khasnya Waltz memberi harapan tinggi kepada penonton bahwa ini akan jadi film yang menjanjikan.
Tarzan (diperankan dengan gagah oleh Alexander Skarsgard) kini memakai nama aslinya John Clayton III berbaju nejis, bergelimang harta sebagai keturunan Lord Greystoke, bangsawan Inggris. Kini ia beristri Jane Porter (dimainkan dengan panas – seperti biasa – oleh Margot Robbie), pasangan legendaris ini belum dikaruniai bayi. Dalam presentasi ‘ekspedisi Boma’ oleh agen Amerika, George Washington William (akting istimewa Samuel L. Jackson) meminta Clayton ke Kongo sebagai tamu kehormatan. Awalnya menolak, dengan kegigihan dan rayuan gombal karena punya motif lain, luluh juga. Di bagian ini saya sempat terkecoh, apakah ada apa-apa si William ini? Aktor sebesar L. Jackson tentunya tak akan memainkan peran sepele-kan? Orang-orang itu membangun rel kerata api, membuat insfrastruktur maju apakah cuma-cuma dan ingin dianggap pahlawan? Bukan! Ini adalah perbudakan. Sebuah informasi yang tentu saja menjadi tanya Clayton.
Perjalanan kembali ke hutan yang sebenarnya direncana oleh Rom ini berjalan diluarduga Clayton. Warga asli dibantai, ribuan pasukan disewa dan dikirim. Kepala suku ditembak dengan mimik dan akting khas Waltz. Tarzan diculik, namun dalam prosesnya justru Jane yang disandera. Dalam kepanikan dan adu cerdik Rom ‘mengantar’ Tarzan kepada pasukan Mbonga. Adegan menuju ke sana sendiri ditampilkan dengan saaaaangat bagus. Khas Tarzan yang berayun dari akar ke akar lain, melompat dari satu pohon ke pohon lain, pertarungan sahabat dengan monyet yang seru. Tapi jangan menunggu Alex memukul dada bertubi sambil teriak ‘aooouuu….’, bagian itu dihilangkan. Mungkin Yates takut terlihat norak karena sudah terlanjur memilih tone gelap. Bagian paling segar jelas setiap William mencoba mengejar Tarzan dan rombongan. Lucu, seru, dan natural. Dengan komposisi Tarzan beserta teman-teman rimbanya melawan penduduk asli yang mempunyai dendam membara, berhasilkah Jane selamat? Dendam apa yang membuat Chief Mbonga begitu mengharap kematian Tarzan? Berhasilkah Rom membawa pulang sisa berlian?
Well, diluardugaku. Tarzan kali ini dibuat lebih serius, lebih natural. Mengikuti perkembangan era film-film abad 21 yang gelap dan membumi, Tarzan tidaklah unbeaten bak dewa. Ia terluka, galau, merenung dan dilanda cemas. Betapa template-tempalte usang itu sekedar flash back sebagai syarat ini adalah film Tarzan. Bagus, enak dilihat. Kisahnya tidak menye-menye, lebih gelap. Walau ada adegan romantis dan fun, namun sesungguhnya temanya berat. Mengangkat isu perbudakan, kolonialisme sampai perlindungan alam. Dengan latar belakang sejarah ketika raja Belgia, Leopold II (1835-1909), menjajah Kongo dan dijadikan koloni tahun 1880an dan tragedi genosida. Benar-benar cerita yang berbeda. Bukan versi modern, bukan sebuah penafsiran ulang. Ini adalah Tarzan yang sedikit dipolitisi mengikuti konteks sosial  dan sejarah. Pilihan yang bijak.
Kelebihan The Legend of Tarzan ada tiga. Pertama jelas pemilihan aktor yang pas. Chemistry Alex dan Margot perlu diacungi jempol. Alex membentuk sixpack badannya bukan untuk pamer yang akan membuat cewek klepek-klepek. Training intensif empat bulannya membuahkan hasil. Margot emang cantik natural. Siapa laki yang tak takjub keseksian Margot? Ora normal kalau sampai ga setuju. Enak dilihat, penyegar keganasan rimba. Tak sia-sia ia melepas kesempatan di film A Bigger Splash. Ini seperti pemanasan Margot menjelang film besar bulan depan Suicide Squad. Patut ditunggu. Sangat patut dinanti. Sayangnya banyak sensor dengan editing buruk. Hadeeeh…, LSI memotong adegan mbok ya yang rapi. Potong-potongnya kasar sekali di bioskop. Penampilan memikat Tarzan and Jane diimbangi Waltz yang tak diragukan lagi, sangat keren. Walau aksinya nyaris sama dengan berbagai peran yang sudah-sudah, Waltz tetaplah Waltz yang hebat. Karakter yang diperankannya adalah tokoh asli bernama Leon Auguste Theophile Rom, seorang tentara Belgia yang bertugas di Kongo di abad ke 19. Dan inilah bintang sesuangguhnya: Samuel L. Jackson, walau sebagai sidekick dia adalah pencuri perhatian sesungguhnya. Tak kusangka perannya di sini begitu kocak, aneh dan sangaaaat menyenangkan.
Kedua, kisah usang sang legenda ditampilkan dengan sepintas jadi porsinya pas. Tak perlu bertutur panjang lebar awal mula karena kita semua tentunya tahu bagaimana latar sesungguhnya. Hanya ditampilkan sepintas lalu sepintas datang, kurasa sudah jitu apa yang diputuskan Yates.
Dan yang ketiga, CGI yang halus. Pemandangan hutannya begitu indah bak sebuah potret kartu pos. Teknologi saat ini memang sudah sangat maju. Namun di Tarzan kali ini binatang-binatang itu tampak nyata dan mengancam. Tarzan berguling dengan singa. Menggiring ratusan bison. Menyapa gajah. Dan bagaimana para kera bertarung, bagaimana gajah-gajah itu berkongsi dan terutama sekali adegan epic endingnya yang menggelegar. Beberapa bagian terlihat blur namun tak ketara. Saya nonton di 2D saja takjub bagaimana dengan 3Dnya? Yah, walau CGInya masih sedikit dibawah The Jungle Book, terutama bagian Baloo, namun tetap secara keseluruhan sebagian besar budget yang digelontorkan ke bagian efek terpakai dengan maksimal.
Terakhir, walau sempat membuatku geram David Yates terus ada kemajuan. Harry Potter and the Orde Phoenix dan A Half-Blood Prince yang sedikit rusak olehnya dibayar lunas epic Deathly Hallow. Ini adalah film beliau pertama yang kutonton pasca Potter. Proyek apa yang akan dia pegang selanjutnya patut ditunggu. Dan tetaplah mengauuum…
Ketika film selesai saya adalah satu-satunya penonton yang bertahan sampai detik terakhir layar kredit title habis. This film is dedicated to the memory of Jery Weintraub, who died of a heart attact on July 6, 2015. This was his last film.
The Legend of Tarzan | Year 2016 | Director David Yates | Screenplay Adam Cozad, Craig Brewer | Cast Alexander Skarsgard, Margot Robbie, Christoph Waltz, Samuel L. Jackson, Djimon Hounsou | Skor: 4/5
Karawang, 160716 – Halal bi halal NICI – Train – Marry me

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s