9 Buku Baru – THR 2016

image

Setiap tahun jelang idulfitri, ketika THR – Tunjangan Hari Raya turun saya selalu membelanjakan sebagian ke buku. Tahun ini saya lebih ‘curang’ kepada istri karena saya pesan buku yang lumayan banyak dengan sembunyi, kartu ATM – Anjungan Tunai Mandiri saya simpan. Jadi tepat di hari H uang THR cair saya langsung transfer ke temanku Olih – Toko Standbook online. Ketika May tahu bahwa telah terjadi transaksi dia tak bisa menolak. Seramnya, dia marah. Malam itu saat sedang ngopi, gelasku di tendang saking geramnya. So, demi buku apalah kulakukan.
Saat memasuki Ramadan, saya sudah bilang saya ga mau baju baru karena sudah merencana beli buku (lebih banyak). Yah, inilah lika-liku keluarga. Bagiku ketika Lebaran tiba salah satu poin pentingnya adalah: pakai baju lama, beli buku baru. Dan berikut buku-buku yang membuat gelas kopiku melayang.
Bilik Musik – James Joyce
Akan jadi pengalaman pertamaku dengan Joyce. Sayang sekali novel Ulysses dan Finnegan Wake sampai sekarang belum kudapat, masih dalam pemburuan. Buku tipis berisi kumpulan puisi: antologi puisi Chamber Music (1907), Pomes Penyeach (1927), puisi panjang The Holly Office (1904) dan Gas From a Gurner (1912), serta sebuah puisi Ecce Puer (1932) yang ditulis sembilan tahun sebelum kematiannya.
Treasure Island – Robert Loius Stevenson
“Lima belas orang di dalam peti mati – yo ho ho dan sebotol rum.” Ini akan jadi pengalaman kedua saya dengan Stevenson setelah Dr. Jekly and Mr. Hyde. Kisahnya sudah sangat melegenda tentang pulau harta karun. Banyak kutipan sudah disadur. Salah satunya menghantuiku yang dinukil dari buku InkHeart. Petualangan Jim Hawkins yang sudah tak sabar untuk kuikuti. Buku yang pertama kali terbit tahun 1883 bermula dari cerita berseri yang dimuat di majalah anak-anak Young Folks antara tahun 1881-1882 dengan judul asli The Sea Cook.
Para Priyayi – Umar Kayam
Ini buku klasik Indonesia. Sudah beberapa tahun lalu dengar, tapi makin dibuat penasaran sebelum Ramadan ketika seorang teman buku-bola-film: Bung Tak membuat catatan di Facebook dengan review khasnya yang menggelora. Awalnya mau pinjam beliau namun karena domisili Jakarta dan susah untuk ketemu akhirnya beli saja sendiri yang kebetulan ada di Olih. Ditulis oleh Umar Kayam, Penulis dari Ngawi. Jadi pengalaman pertama dengan beliau, kalau bisa sukses mempesona buku lainnya Mangan Ora Mangan Kumpul, Jalan Menikung dan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan pasti masuk  daftar buru.
Succes Protocol – Iphho Santoso
Buku Ippho sudah banyak dan berseliweran dari teman-teman kalau mau pinjam, namun tak satupun saya pinjam. Ini bukan novel bukan fiksi tapi lebih ke buku motivasi. Bisnis yang beda karena berimbang antara tujuan hidup dunia-akhirat. Saya kurang suka baca buku self improvement bisnis. Tapi kenapa ada di daftar ini? Karena buku ini adalah hadiah perpisahan atasan saya, pak Muh Nasih. Akhir bulan Juni 2016 adalah hari terakhirnya di NICI, beliau mudik ke Surabaya dan kerja-bisnis di sana. Ketika perpisahan tanggal 28 lalu, kita beri kado jam tangan, video perpisahan dan pigura tim HRGA NICI eh diluarduga beliau malah memberi kado balik ke kita. Ada 6 buku yang dibagi ke teman-teman, dan ini salah satunya. Karena ini hadiah dari orang yang kuhormati maka saya janji akan saya baca dan ulas di blog. Mudah-mudahan benar buku ini bisa membuat Target jadi lebih mudah, Hidup jadi lebih indah. Kerja bernilai ibadah? Bismillah…
Surat Dari Raja dan Anyelir Merah – Rabindranath Tagore
Pengalaman pertama sungguh mempesona, Gitanjali akan saya kenang sebagai salah satu buku prosa-sajak terbaik yang pernah saya baca dan selami. Ini akan jadi pengalaman ketiga, yang kedua adalah Tagore dan Masa Kanak yang diterjemahkan dengan luwes oleh Ayu Utami. Penerima Nobel Sastra 1913 ini memang terkenal puitis. Seperti kata-kata di sampul belakang yang njleeeb: “Manusia hidup sambil membayangkan bahwa suatu hari sebuah ‘surat’ panggilan akan datang dan membawakan kebahagiaan. Sehingga menunggu bisa menjelma sebagai siksaan; namun tidak bagi mereka yang punya cinta.”
Dunia Kafka – Haruki Murakami
Penulis Jepang ini adalah favorit. Sah! Pengalaman pertama Norwegian Wood membuatku megap-megap saking bagusnya. Yang kedua What I Talk About When I Talk About Running jadi salah satu memoar terbaik yang pernah saya baca. Nah buku ketiga ini mendapat rating fresh dari nyaris semua pecinta buku. Tagline di bawah judul utama berbunyi: ‘Novel menakjubkan tentang cinta, tragedi dan pergulatan hidup.’ Dengan oedipus complex sebagai bunga cerita, saya siap kembali berpetualangan dengan Haruki. Seberapa heboh Kafka menghadapi hidup?
Lasmi – Nusya Kuswantin
Jadi terbitan pertama dari Kaki Langit yang ada di rak bukuku. Saya memang sesekali mencoba Penulis ‘asing di telinga’ untuk melebarkan genre dan pengalaman baru. Nah Lasmi, jelas masuk daftar itu. Tulisan kover belakangnya sih sangat menjanjikan dan sepertinya bagus, tentang wanita aktivis kader Gerwani, organisasi perempuan yang ikut terlibat dalam G30S. Tahun 1965 bisa jadi salah satu sejarah hitam Indonesia, dengan setting semenggairahkan itu tentu saya sangat tertarik melahap Lasmi.
Mengukur Jalan, Mengulur Waktu – Yopi Setia Umbara
Ini juga masuk kumpulan ‘asing di telinga’, bahkan saking asingnya saya baru tahu kalau yang saya beli adalah kumpulan puisi. Lhooo. Ternyata ada dua buku kumpulan puisi di sini. Sudah saya buka-baca dan hanya butuh waktu tak kurang dari sejam untuk menuntaskan. Beberapa bagian bagus, namun sebagian besar biasa. Tulisan yang dengan mudah dibuat dalam semalam. Yang menarik justru kover utamanya yang memperlihatkan sebuah jalan dengan tiang listrik ditemani kabel menjuntai di mana-mana. Lalu dua orang berjalan menjauh membelakangi kita, sedikit blur dan saya baru tahu judul gambar kover ini adalah ‘The Main Street of Oradour-sur Glane’ karya Dennis Nilsson. Nah, patut ditelaah.
Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi – Yusi Avianto Pareanom
Pengalaman pertama saya dengan Yusi bersama di Rumah Kopi Dan Singa Tertawa (2011) yang mempesona membuatku penasaran dengan buku-bukunya. Ini adalah novel pertama beliau, katanya sih berikutnya dalam proses Anak-Anak Gerhana. Yang sudah benar-benar terbit lainnya adalah A Grave Sin No. 14 and Other Stories (2015). Berarti Yusi sudah menulis fiksi tiga buku. Memang baru satu yang sudah saya baca, namun judul Dosa Besar no 14 sepertinya tak asing karena di Rumah Kopi ada salah satu cerpen berjudul itu. Berikutnya Raden Mandasia, nama itu jua disebut di Rumah Kopi. Petualangan perjalanan dari negeri berantah ke negeri berantah. Apakah si Pencuri Daging Sapi ini semacam pengembangan dari cerpen? Entahlah, tanya saya akan terjawab segera ketika kelar melahap. Kalau novel pertama ini bisa kembali sukses mempesonaku, tentu buku-buku berikut beliau mau kuburu. Ayo bung Yusi, terus berkarya dan tetaplah mempesona!
Karawang, 020716 – Sherina Munaf – Ayat-Ayat Cinta

Advertisements

4 thoughts on “9 Buku Baru – THR 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s