30 Hari Mencari Cinta #23

image

Cheers!! Mereka bertiga mangangkat gelas tinggi-tinggi sampai Gwen harus berjinjit untuk menyentuhkan bibir gelasnya ke arah gelas kedua sobatnya. Yup, mereka bersulang bahwa persahabatan mereka tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun juga!
Tiga sahabat “sampai maut memisahkan” sedang merayakan ulang tahun Olin. Hidup dalam satu kontrakan susah senang bersama. Gwen, cewek pendek yang imut. Olih si melankolis, keturunan Chinese dan Keke si cantik semampai. Lalu ketika diminta make a wish, si Olin memejamkan matanya komat-kamit sampai dua menit yang membuat heran kedua temannya. Mau tahu harapannya? “Yaaaah… gue cuma memohon supaya kita selamanya bersatu, selalu serumah kontrakan, selalu bertiga tanpa orang keempat. Tidak perlu punya pacar.”
Harapan yang aneh sekali bukan? Yah harus diakui, hidup dalam kontrakan bersama teman-teman memang momen istimewa yang tak akan terlupa, tak akan terulang, tak akan kuhilangkan dari ingatan betapa seru dan menyenangkan itu, dulu saat muda dan semangat berapi. Dulu. Namun waktu kan terus berjalan dan kita tak selamanya muda. Saya jadi ingat keseharian hidup di kontrakan bocor bertujuh ketika pertama kali kerja, ngekos di Ruanglain_31 dan Adirfa Lamajd. Kehidupan masa muda yang luar biasa penuh lika-liku. Itu dulu, waktu tentunya mendewasakan dan menurut Olin, pasangan itu tak penting tentu saja salah. Kondrat itu pastinya berjalan, dan kini 10 tahun berselang teman-teman sekontrakan itu sudah menikah dan berkeluarga semua, mungkin sebagian sudah lupa betapa setiap hujan ruang tengah bocor dan harus bergantian mengganti ember untuk menampung air. Mungkin sebagian teman lupa, betapa saling sewot antri mandi untuk berangkat lebih pagi. Saya tentunya masih ingat, ketika cuci baju kuiringi musik Linkin Park, temanku menyalak bahwa musik haram dan mematikan tape. Dan masih sangat banyak lagi. Yah, itu kenangan hidup yang sangaaaat hebat. Dalam 30 Hari Mencari Cinta, jelas persahabatan mereka sangat erat. Tak diragukan lagi.
Muncullah karakter cowok penyeimbang diantara mereka, Bono. Ini karakter unik sekali. Culun tanpa dosa, gonta ganti pekerjaan karena memang rada ga beres kepalanya. Nah ketika akhirnya suatu hari dia bekerja sebagai pelayan kafe, dia memberi sedikit gratisan buat temannya itu. Muncul teman kuliah mereka, Barbara yang tampak berbeda. Membuat mereka beradu argumen sehingga mempraktikkan the triangle respiration – tarik nafas, tanah nafas, dan buang nafas masing-masing dalam hitungan ke enam.
Ketika mereka bermalam minggu bersama menonton vcd Titanic dan menangis tersedu-sedu akan keromantisan film. Barulah tersadar bahwa mereka dalam masalah. Barbara yang merubah penampilan demi dikelilingi cowok-cowok. Membuat pikiran mereka terbuka. “Lo pernah ngitung nggak sih, udah berapa ratus atau ribuan malam Minggu kita selalu ngelewatin bertiga di rumah nonton vcd donag?” kata Keke. “Lo nggak ingat, khan. Saking lamanya. Lo nyadar nggak sih, kalau hidup kita nggak normal?”
Setelah masuk ke alam memori untuk flashback. Ternyata cowok yang dekat sama mereka hanya Bono. Si cowok aneh itu! Dan suatu ketika ketika di kafe mereka bertemu lagi dengan si Barbara, cewek silikon itu menyadarkannya. Kemana-mana bertiga, gank kuper, dan dikira lesbian! Wew, penyataan itu membuat mereka heran. “Enak saja! Gue tuh ngefan banget sama F4, cinta banget sama Thao Ming Tse. Semua vcd Meteor Garden gue punya. Itu artinya gue cewek sejati!”
Perubahan pun dimulai. Mereka merombak penampilan, mempelajari feminisme, sampai berdandan secantik mungkin. Seminggu kemudian ketika nge-dance ke diskotik paling top di ibukota. Sayang misi mereka berantakan. Hancur lebur memalukan. Pulangnya mereka merenung di kafe 24 jam untuk membuat rencana lagi. “Sekarang kita taruhan saja, pokoknya siapa yang bisa dapat cowok dalam seminggu ini, dia yang menang? “Berani?” tantang Keke.
“Seminggu? Lo gila ya? Bukannya nggak berani, yang ini aja sudah bikin mertabat kita hancur, nggak deh. Sebulan kalo mau! Gimana? Deal?” Gwen menantang balik.
“Mmm… yang menang bakal jadi majikan di rumah selama setaon. Artinya yang kalah harus mengerjakan semua urusan rumah. Mulai dari cuci piring, nyetrika, nyiram taneman, bersihin kamar, ngepel, nyiapin makan, sampai ngurus bayar oontrakan, bayar listrik, bayar semuanya, setuju…” Keke ber-ultimatum.
Olin, “Ngiiik..”
Pertarungan pun dimulai. Gwen menandai kalender 1 Oktober, membuka-buka buku nomor telepon untuk menghubungi cowok. Keke di kamar membaca buku tentang “Dari A-Z Cara Tercepat Mencari Pacar”, “Looking for love?” sampai “Kiat Sukses Mendapatkan Pacar.” Olin tak mau ketinggalan ia membuka koran kolom jodoh. Dengan tenggat waktu sebulan, siapa yang memenangkan pertaruhan?
Well, saya terpesona sama filmnya. Saya beli kaset pitanya dan kuputar ulang sampai mleyo-mleyo suara Duta Sheila On 7. Sungguh film yang sangat berkesan. Bukunya sama persis, ya karena kan novel ini berdasarkan skenario jadi ya harus plek. Susah lho membuat cerita yang bisa bertahan sampai belasan tahun diingat fan. 30 Hari Mencari Cinta jelas menjadi salah satu yang patut dikenang. Setiap karakternya unik. Dipetakan sesuai kebutuhan cerita. Bono contohnya, karakter aneh yang nothing to lose walau terkesan ga penting tapi justru menjadi pencuri perhatian yang sesungguhnya. Endingnya mungkin ketebak, namun tetap ada pesan moral yang patut digarisbawahi. Betapa waktu akan mendewasakan.
30 Hari Mencari Cinta, dulu sama teman-teman kos diplesetkan manjadi 30 Hari Mencari Pahala, apalagi di bulan Ramadan seperti ini. Ya ya, tetap semangat Bono!
30 Hari Mencari Cinta | oleh Nova Riyanti Yusuf | berdasarkan skenario film karya Upi Avianto | Penyunting Denny Indra | Gambar sampul Rexinema | Design layout Jeffri Fernando | Penerbit Gagas Media | Cetakan ketiga, Maret 2004 | vi + 158 hlm; 18 cm | ISBN 978-3600-16-0 | Skor: 3/5
Karawang, 260616 – Justin Beiber – Baby
#23 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Prediksi Laga Swiss v Polandia

image

Prakiraan Susunan Swiss Vs Polandia :
Switzerland : Yann Sommer, Fabian Schaer,
Stephan Lichtsteiner, Johan Djourou, Ricardo Rodriguez, Xherdan Shaqiri, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka, Admir Mehmedi, Valon Behrami, Embolo.
Polandia : L. Fabianski, M. Pazdan, A.
Jedrzejczyk, K. Maczynski, A. Milik, R.
Lewandowski, G. Krychowiak, K. Grosicki, K. Glik, J. Blaszczykowski, L. Piszczek.

LBP
Swiss-0 Polan
Sensasional Swiss berlanjut di babak gugur. Kali ini bintang bukan Milik. Bukan Xhaka tapi Valon Behrami!

Deni
Swis 1 polan 2.skorer: milik.. duel sengit bakal terjdi..setiap lini terjadi pertarungan..namun milik akhirnya menentukan kemenangan poland 2-1👍🏿

Sapin
Swiss 2-2 Polandia. Lewandowski.
Duel tim merah putih. Kedua tim sama kuat. Lebih baik adu penalti saja.

Andyka
Swiss 1-1 Polandia , Lewandowski.
Pertandingan yg imbang . Bet-pun bimbang . akhirnya Poladia-pun tumbang .

Fahrur
Swiss 0 – 2 Polandia. Goal Lewy. Apapun pertandingannya minumnya tetep teh botol sosro. Perut kenyang. Pertandingan menang. Pulsa datang.

Dc
Swiss 2-1 Polandia, Shaqiri
Pertarungan menarik sepertinya akan tersaji di  laga ini. Masing2 punya pemain2 bagus. Tapi hoki Swiss membedakan ke 2 tim.

Takdir
Swis 1 polan 3. Saatnya lewi beraksi. Keju Swiss akan jebol. Polan kuda item hensem.

Huang
Swiss 0-1 Poland, Milik.
Swiss aslinya adalah bentuk jamak dari kata suwi. Jadi swiss artinya adalah lama banget alias lemot. Jadi mereka ndak akan menang. Sampai kapanpun. Kecuali mereka mengubah nama menjadi Swiss 4G.

Aditya
Swiss vs Polandia : 0-1, Lewandowski
Duel yang berimbang antar 2 tim yang sama-sama susah bikin gol. Tim yang menang akan bikin 1 gol. Kali ini Lewandowksi yang akan bikin gol.

Arif
Swiss vs Polandia : 1-1. MILIK. Swiss menemukan lawan sulit yg mirip diri sendiri. 🇨🇭&🇵🇱 sama2 tumpul. Mereka cuma mencetak 2 gol dr 3 match fase grup. Kedua tim jago duel bola2 udara. Duel akan diakhiri dengan *adu penalti*

Lik Jie
Swiss 2-1 polandia
Lewandosky
Swiss ora jamu.jamu godhong telo.swiss ra ketemu,ketemu pisan gawe telo.

Mads
Suwis 0 – 2 polandia
LewAndoskiii..
Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love is strong
Why carry on without me?

Karawang, 260616

Fantastic Mr. Fox #22

image

Boggis, Bunce, dan Bean adalah tiga peternak yang sangat pelit dan jahat. Di bukit dekat ladang mereka tinggallah Mr. Fox sekeluarga. Setiap malam dia mendatangi salah satu peternakan itu dan mengambil ayam, bebek dan kalkun. Boggis, Bunce dan Bean sangat membencinya dan ingin menghabisinya, tapi Mr. Fox selalu berhasil menyelamatkan diri. Mereka akhirnya kehabisan akal dan memutuskan untuk berjaga di luar sarang Mr. Fox sampai Mr. Fox sekeluarga kelaparan dan terpaksa keluar. Nah, bagaimanakah cara Mr. Fox mengakali mereka kali ini sehingga akhirnya sekeluarga dan teman-temannya malah bisa berpesta dengan makanan dan minuman melimpah ruah?
Itu adalah sekelumit sinopsis yang ada di kover belakang. terdiri dari 18 bab yang pendek. Ini buku adikku di Bekasi Tanti MF – 120810 yang saya pinjam-tukar. Sudah lima tahun tak bertemu walau tetap hubungan. Setelah kuliahnya selesai dari Purwokerto, kurasa Bekasi tak terlalu jauh dari Karawang. Buku Roald Dahl yang ke delapan atau sembilan yang kubaca. Sudah difilmkan tahun 2009 dibuat dengan sangat brilian semacam capture-animasi dimana gambarnya memang sengaja dibuat patah-patah.
Sudah jadi ciri khas buku-buku Roald Dahl diselipkan ilustrasi Quentine Blake, gambar sederhana yang ternyata malah sangat menghibur dan imajinatif. Kisahnya lucu penuh sindiran. Bahwa di sebuah lembah ada tiga peternak yang jahat dan rakus. Pertama Boggis peternak ayam. Setiap hari untuk tiga kali makan menyajikan tiga ayam rebus dan kue-kue. Kedua Bunce peternak bebek dan angsa. Makanan sehari-hari donat dan hati angsa yang dilumatkan. Ketiga Bean peternak kalkun dan petani apel. Bean mengisi perutnya dengan minum bergalon-galon sari apel di kebunnya. Bean adalah yang terpintar. Yang satu gemuk, yang satu pendek, yang satu kurus kayak lilin. Penampilan yang berbeda tapi jahatnya sama saja.
Di atas bukit ada sebuah pohon yang rindang, di bawahnya ada sebuah lubang, pintu jalur tempat tinggal Mr dan Mrs. Fox beserta keempat anaknya. Setiap malam Mr. Fox tinggal memilih mau makan apa karena tinggal mengambil dari ketiga peternakan. Bertiga merasa jengah, karena jarang bersedekah, geram ternaknya dicuri sehingga mereka sepakat untuk membunuh binatang itu dengan menunggu di depan lubang.
Ketika malam tiba, Mr. Fox berencana mencuri bebek, dirinya bisa mengendus bau manusia di sekitar bukit. Dengan hati-hati keluar dari lubang, dilihatnya kilatan laras senjata. Buru-buru ia masuk kembali ke lubang, dibarengi suara dor! Dor! Dor! Tembakan ke lubang itu mengenainya. Lebih tepatnya mengenai ekornya sampai putus. Ketiga peternak marah karena gagal, Mr. Fox kesakitan kehilangan ekor. “Ekormu adalah ekor terindah di daerah ini.”
Bean lalu berujar, “setidaknya butuh tiga hari sebelum dia cukup kelaparan sehingga keluar lagi. Aku tak mau menunggu. Ayo kita gali.” Berikutnya di ruang kelurga Mr. Fox mendengar gemuruh. Suara yang sangat mengerikan menurut rubah – suara sekop menggali tanah.
Ketika Mrs. Fox panik, anak-anak khawatir karena suara semakin mendekat dan gemertak tanah makin guncang terlintas seketika ide melarikan diri untuk menggali lebih dalam ke arah bawah untuk kabur. “Rubah bisa menggali lebih cepat dibandingkan manusia. Tidak ada makhluk di dunia ini yang bisa menggali secepat rubah.” Dikejar waktu mereka bekerja sekuat tenaga menggali lebih dalam.
Setelah satu jam, mereka istirahat yang menanti. ”Tahan!” mereka berbalik dan memandang terowongan panjang yang baru saja mereka buat. “Fuih! Kurasa kita berhasil! Mereka tidak akan pernah bisa menggali sedalam ini. Bagus!”
Terenggah-enggah Mrs. Fox berkata pada anak-anaknya, “Aku ingin kalian tahu bahwa kalau tidak ada ayah kalian, kita semua sudah mati sekarang, ayah kalian rubah yang fantastis!”
Ketiga peternak makin marah karena seakan terowongan binatang itu tak berujung dan mereka mulai lelah. Ketika Boggis dan Bunce marah atas ide buruk ini,  Bean memberi ide gemilang lainnya dengan menggali lubang memakai mesin traktor raksasa dengan sekop mekanis di depannya. Dua mesin itu lalu menderu menggali lebih dalam. Keluarga rubah yang sedang beristirahat dari lelah menggali merasa ada gempa dan tempat persembunyian mereka terendus. Dan dimulailah perlombaan gali tanah. Mesin melawan rubah. Gali! Gali! gali…! (kalimat yang mengingatkanku pada salah satu serial Dora the Exproler).
“Terus gali sayangku, jangan menyerah!” teriak Mr. Fox.
“Hajar terus! Sebentar lagi kita akan bisa menangkapnya!” teriak si gemuk Boggis pada Bean.
Setelah seharian menggali, bukit itu kini terlihat seperti kawah gunung berapi dengan tanah galian di sekeliling lubang. Frustasi, orang-orang mulai berdatangan melihat kegilaan ini. Bertiga makin muak dan bersumpah tak akan membiarkan keluarga rubah kabur. Ide pertama memasukkan si cebol Bunce ke lubang, namun dia menolak sehingga ide kedua dengan membuat tenda di sana untuk melawan gelap malam pun dilakukan.
Malam itu dua traktor dengan sorot lampu menghadap lubang dinyalakan. Satu orang berjaga dua orang tidur. Bean lalu memberi instruksi kepada para karyawan dari ketiga peternakan untuk menjaga sekeliling bukit dengan senter dan senjata di tangan untuk mengantisipasi sang rubah melarikan diri. Rasanya kini mustahil mereka bisa kabur. Sementara di atas berjaga sambil makan ayam rebus, donat dan sari apel di bawah keluarga Fox mulai kelaparan. Aroma makanan yang menusuk membuat mereka makin pening. Dengan posisi terjepit, para peternak terus menunggu di atas sarang mereka. Bagaimana nasib keluarga Fox? Bagaimana nasib binatang-binatang lain di sekitar bukit yang kena imbas penggalian ini?
Roald Dahl akan selalu kukenang sebagai salah satu Penulis anak favorit sepanjang masa. Hermione yang kini berusia 1 tahun 10 bulan, ketika kutanya ingin jadi Penulsi seperti siapa? “Roald Dahl” suaranya jelas, keras dan nyaring. Senang mendengarnya. Jauh hari saya sudah merencana, semoga dikabulkan. Jika Allah memberi kepercayaan kepada keluargaku seorang anak laki-laki yang kuidamkan maka nama itu pastinya ada kata Roald Dahl di akta kelahiran. Mau disetujui May atau ga, saya akan menamainya dengan Penulis ini.
Mrs. Fox dan tiga fox kecil. Mrs. Badger dan tiga Badger kecil. Mole, Mrs. Mole dan empat Mole kecil. Rabbit, Mrs. Rabbit dan lima Rabbit kecil. Weasel, Mrs. Weasel dan enam Weasel kecil.
Dan dengarkan dendangan binatang yang terjepit itu dengan riang:
Aku berlari pulang | Untuk menemui istriku tersayang | Dia tidak akan sengsara lagi | Setelah menikmati | Apa yang kami bawa ini
Oh, Mrs. Badger istriku | Begitu lapar sehingga tubuhnya kaku | Tapi dia akan kenyang | Kalau sudah mengganyang | Oleh-oleh dari suaminya tersayang
Mr. Fox Yang Fantastis | by Roald Dahl | diterjemahkan dari Fantastic Mr. Fox | text copyright Roald Dahl Nominee Ltd, 1970 | illustrations copyright Quentine Blake, 1996 | alih bahasa Diniarty Pandia | GM 106 01.501 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, Januari 2010 | 96 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-686-501-7 | Untuk Olivia | skor: 4/5
Karawang, 250616 – R Kelly – Clipped Wings
#22 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Kisah Inspirasi Hidup Muhammad Ali

image

“Musuhku adalah orang kulit putih, bukan Vietkong atau China atau Jepang. Kalian penentangku saat aku menginginkan kebebasan. Kalian penentangku saat aku menginginkan keadilan. Kalian penentangku saat aku menginginkan kesetaraan. Kalian bahkan tak berpihak kepadaku di Amerika untuk agamaku, dan kalian ingin aku pergi ke suatu tempat dan berperang tetapi kalian bahkan tak berpihak kepadaku di sini, di negaraku,” demikian kata Muhammad Ali pada tahun 1967 ketika dirinya dipanggil mengikuti wajib militer untuk berperang di Vietnam.
Tentu saja konsekuensi akibat penolakannya atas wajib militer itu tidaklah kecil. Bukan saja gelar juara dunianya dicopot oleh WBA dan lisensi tinjunya dibatalkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, namun ia juga dijatuhi hukuman penjara lima tahun dan denda 10 ribu dolar AS oleh Pengadilan Federal lantaran dinilai melanggar Selective Service. Toh, kerugian terbesar dari semua itu adalah ia harus kehilangan tahun-tahun terbaiknya sebagai atlet. Belum lagi mesti mendapatkan cibiran, hujatan hingga ancaman kematian. Namun itulah pilihan. Pilihan dengan hati nurani. “Hati nuraniku takkan membiarkanku pergi menembak saudaraku, atau orang-orang miskin dan lapar yang berkulit lebih gelap buat Amerika yang big powerful. Untuk apa menembak mereka? Mereka tak pernah menyebutku negro, mereka tak pernah menggantungku, tak pernah menganjingkanku,” ujar Ali dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian. Dan dunia tahu ia memang benar, banyak orang Amerika tahu ia benar. Bukankah Amerika tidak mendapatkan apapun dari Perang Vietnam selain kekalahan memalukan akibat perlawanan rakyat Vietnam, bangsa yang ramah itu? Amerika justru memperoleh kemenangan tak terduga di Indonesia yang meminjam Presiden Richard Nixon merupakan “anugerah terbesar di wilayah Asia Tenggara” dengan “timbunan sumber daya alam terkaya”. Betapa tidak. Sebagaimana analisis John Roosa dalam bukunya ‘Dalil Pembunuhan Massal dan Kudeta Soeharto’ (2008), serangan Soeharto terhadap kaum komunis dan perebutan kekuasaan presiden yang dilancarkannya berakhir pada pembalikan sepenuhnya peruntungan AS di Indonesia. Dan itu hanya dilakukan dalam waktu yang begitu singkat. Hampir dalam semalam, pemerintah Indonesia berubah dari kekuatan yang di tengah-tengah Perang Dingin dengan garang menyuarakan netralitas dan anti imperialisme menjadi rekanan pendiam yang patuh kepada tatanan dunia AS. Sebuah keajaiban yang tak pernah dibayangkan oleh AS sebelumnya. Tentara Soeharto telah melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh negara boneka AS di Vietnam Selatan meskipun telah dibantu dengan jutaan dolar dan ribuan pasukan, yaitu menghabisi gerakan komunis di negerinya!
YA, Muhammad Ali barangkali adalah petinju paling kontroversial yang pernah dikenal dunia, baik di dalam maupun di luar ring. Sebagai seorang petinju kelas berat, ia boleh dibilang memiliki gaya bertinju yang tak lazim. Ia adalah seniman di atas ring yang memperlakukan tinju layaknya seni bela diri Asia, bahkan sebagai seni pertunjukan; sebuah entertainment. “Terbang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah!” begitulah ia mendeskripsikan gaya bertarungnya itu. Dan dalam hampir semua laganya, kita pun bisa menyaksikan bagaimana ia menari-nari dengan gerakan footwork begitu mengagumkan tak ubahnya seorang dancer. Toh, meski demikian, bukankah ia membuktikan bahwa dirinya memang petinju terbesar yang pernah kita kenal? Ya, sampai kini ketika ia akhirnya berpulang ke Rahimullah dalam usia 74 tahun, dunia harus mengakui kalau ia memang yang terbesar. Ali, seperti kata Presiden Barack Obama, memang “bukanlah semata penyair yang mahir di depan mikrofon sebagaimana petarung yang jago di atas ring, namun juga seorang manusia yang berjuang untuk apa yang diyakini sebagai kebenaran. Seorang manusia yang berjuang untuk kita.”
Betul, bagi seorang Ali, tinju memang bukanlah sekadar olahraga. Dan dunia tentunya belum lupa ketika ia mengalahkan George Foreman di Kinshasha, Zaire, Afrika, 1974 dalam sebuah laga yang tak pernah habis dikisahkan dari generasi ke generasi. Ya, bukan hanya lantaran kualitas pertandingan itu sendiri, tetapi juga karena misi politik yang diusung Ali, yakni upayanya meraih perhatian dunia terkait isu rasisme di Amerika.”Rumble in the Jungle” begitulah ia menyebut pertandingannya, dan seketika negeri di tepian sungai Kongo itu pun menjelma tempat pesta kaum kulit hitam. Tak kurang artis-artis kulit hitam papan atas Amerika seperti James Brown dan BB King ikut diseretnya ke sana.”Aku orang Afrika, itu memang kampung halamanku. Persetan dengan yang Amerika pikirkan. Aku memang tinggal di Amerika. Tapi Afrika adalah rumah orang kulit hitam, dan aku adalah budak 400 tahun lalu. Dan aku akan pulang untuk bertarung di antara saudaraku,” demikian tukasnya dalam “When We Were the Kings”, sebuah film dokumenter besutan Leon Gast dan Taylor Hackford. Dengan segera isu yang ia angkat dalam perebutan gelar juara kelas berat itu pun berkembang jadi isu panas dan memaksa banyak pihak yang terlibat dalam pagelaran ikut angkat bicara soal rasisme, termasuk Don King. Dengan tajam Ali juga mengkritik mentalitas kaum kulit hitam Amerika yang tak lagi mengenal jatidiri dan budaya mereka akibat pencucian otak oleh industri film dan program TV Hollywood. Sekaligus menyerang kaum kulit putih yang menghasut orang kulit hitam membenci tanah leluhur, sehingga banyak di antara mereka akan marah jika disebut “afro”.
“Tuhan telah memberkatiku dengan kemampuan bertinju,” kata Ali berkaca-kaca, “Sehingga aku bisa membantu saudara-saudaraku. Namun begitu, Ali tidaklah pernah menjadi seorang Muslim Radikal. Ia tetaplah seorang dengan jiwa hangat dan penuh cinta kasih. Ia mengagumi seorang Elijah Muhammad lantaran menurutnya Elijah adalah orang baik yang mencoba mengangkat kaum kulit hitam Amerika dari got. Karenanya, berbeda dengan pandangan Nation of Islam yang eksklusif, pemikiran Ali tentang Islam justru sangat inklusif. “Ibuku seorang Kristen Baptis, dan ketika aku besar, ia mengajari segala yang ia ketahui tentang Tuhan. Setiap Minggu, ia mendandaniku, dan membawaku dan kakakku ke gereja. Ia mengajari kami hal-hal yang dianggapnya benar. Ia mengajari kami supaya mencintai sesama dan memperlakukan siapa pun dengan baik. Ia mengajari kami bahwa berprasangka dan membenci itu salah. Ketika aku beralih agama, Tuhan ibuku tetap Tuhanku, hanya menyebutnya dengan nama yang lain,” tukasnya. Maka berkebalikan dari tujuan Nation of Islam, baginya: “Warna kulit tidak akan membuat seseorang menjadi iblis. Adalah hati, jiwa, dan raga yang dihitung. Apa yang ada di luar adalah dekorasi belaka.” Sepanjang hidupnya, baik selagi masih aktif di atas ring maupun setelah menggantungkan sarung tinjunya, Ali tak pernah berhenti berjuang untuk hak-hak sipil, untuk kemanusiaan. Lihat saja, bagaimana di tengah keterbatasan fisiknya akibat deraan penyakit parkinson, ia masih membantu membebaskan 14 sandera Amerika di Irak pada 1990; atau menempuh perjalanan panjang ke Afrika Selatan untuk menyambut pembebasan Nelson Mandela dari penjara; juga pergi ke Afghanistan untuk membantu perjuangan sekolah-sekolah di sana sebagai Utusan Perdamaian PBB. Bahkan pada hari-hari terakhir dalam hidupnya, ia masih mengkritik keras wacana Donald Trump tentang pelarangan Muslim masuk ke AS. “Para pemimpin politik seharusnya menggunakan posisi mereka untuk mendorong pemahaman yang lebih baik tentang Islam, dan menjelaskan bahwa apa yang dilakukan para pembunuh (teroris) itu telah menyesatkan persepsi tentang Islam. Bukannya mengeluarkan pernyataan menyinggung SARA,” begitu kata Ali kepada kandidat capres dari Partai Republik itu. Karena itulah, ia pantas menjadi idola umat manusia sejagat, karena itulah kepergiaannya pun ditangisi oleh jutaan orang di seluruh penjuru dunia apapun ras, agama, dan golongan mereka. Dan karena itu pulalah, kita semua takzim mengamini kata-katanya yang terkesan jumawa puluhan tahun silam itu: “Aku adalah yang terbaik. Aku bilang begitu bahkan sebelum aku tahu. Aku tahu kalau aku mengatakannya berulang-ulang, aku bisa menyakinkan dunia bahwa aku benar-benar yang terbaik.”
Tentu, tentu. You are the greatest, Champ!
Al Fatihah.

Dibacakan oleh LBP
Di meeting pagi Inspirasi dan Motivasi NICI
Pada hari Jumat, 24 Juni 2016

Mendadak Dangdut #21

image

Sebelum membaca bukunya saya menonton filmnya. Kaset pitanya sampai rusak karena keseringan kuputar di kos Ruanglain_31, Cikarang. Dibintangi Titi Kamal yang saat itu sedang on fire diluarduga saya suka filmnya. Lagu-lagunya bagus, dinyanyikan sendiri oleh Titi Kamal. Dengan judul terdengar aneh, apa maksudnya coba ,”Mendadak Dangdut?” ingat sekali saya terpingkal-pingkal lihat tingkah polah Dua saudara yang berlainan sifat ini bahu-membahu kabur dari kejaran aparat. Makanya sebagai kenangan indah menonton di layar lebar ketika di toko buku mendapatinya tak pikir dua kali membawa pulang.
Namanya saja based on script by Film jadi isinya sama persis. Biasanyakan film berdasarkan buku, yang ini sebaliknya. Runut plek sama yang kita tonton. Kisahnya adalah seorang penyanyi muda asal Manado berusia 25 tahun, Petris Pontoh yang sombong dan ora urus dunia lain – selfis tingkat akut. dimanajeri oleh kakaknya Yulia Pontoh, 27 tahun yang anehnya bersifat kebalikan. Sangat perhatian, penuh kasih sayang. Petris di usia seperempat abad ibaratnya sudah mendapatkan segalanya. Album musiknya terjual laris, banyak penggemar, sering masuk ajang penghargaan. Namun Yulia sepertinya tak digubris oleh adiknya. Dengan sudut pandang sang kakak kita diajak menelusuri dunia musik, lebih tepatnya dangdut: hiburan rakyat kebanyakan. I told you. She is everything that I’m not.
Cerita dibuka dengan sebuah wawancara promo album baru Petris di sebuah radio. Dia dengan pongah dan kesal selalu komplain tentang segala hal. Jadwal yang padat, keseringan wawancara, bosan! Setelah tanya-jawab yang berakhir buruk di radio Suara Muda FM mereka pulang bersama pacar Yulia, Gerry – dipanggil Bandot oleh si Petris. Di mata Petris semua orang kan tolol.
Dalam perjalanan pulang lewat tengah malam, kota Jakarta yang lengang. Gerry diminta duduk di jok belakang mobil, Yulis nyetir dan Petris duduk mendengar musik. Saat di player mendendangkan lagu dangdut, Petris langsung marah. Lagu apaan! ”Pokoknya di mobil gue ngga boleh dipasang lagu dangdut!” dan ketika mereka membelok mencari jalan pintas pulang mereka kena razia narkoba. Dalam sebuah tas hitam ditemukan heroin, saat kena Gerry alias Bandot sudah kabur. Mereka berdua pun digiring ke kantor polisi. Esoknya dunia entertaimen ramai berlomba mendapat berita penyayi muda Petris Pontoh ditangkap polisi. Berita berseliweran, ada yang bilang ia pesta narkoba, ada yang memberitakan dia hamil sampai ada artis gelap mengaku pasangannya. Betapa dunia hiburan endonesah berantakan.
Ketika tahu hukuman pembawa heroin adalah mati, Petris dan Yulia panik. Bantahan itu bukan miliknya, pacarnya kabur, dan bla bla bla tak membuahkan hasil. Sebuah strategi disusun, ketika di toilet melihat jendela mereka pun kaburrrr. Berlari dan berlari. Lari dari realita. Nah kebetulan saat dalam pengejaran polisi mereka bersembunyi di panggung yang mendapati sebuah orgen tunggal yang dikepalai oleh Rizal sedang bercerai dengan penyanyinya Fetty Manis Madu. Kesempatan itu diambil oleh Yulia: dangdut atau penjara? Petris: najis!
Dengan terpaksa Petris ke atas panggung menyanyikan lagu-lagu dangdut. Genre musik yang dia sebal. Well, benar juga tak semua orang nonton MTV. Dan dari seorang penyayi pop terkenal ia pun banting stir ke genre dangdut karena terpaksa. Orgen tunggal Senandung Citayam pun meraih banyak sukses. Semasa dalam pelarian mereka tinggal di kontrakan sederhana, makan apa adanya dan yang terpenting: saling menjaga saudara. Dengan nama samaran Iis, apa yang terjadi kemudian dengan nasib Petris? Cintakah ia pada dunia dangdut? Berhasilkah polisi menangkap mereka berdua?
Well, dunia dangdut gemerlap yang diraih para penyayi berawal dari bawah. Dari penyanyi keliling, direkam amatir, disebarkan ke kaset-kaset bajagan – sebagian malah dijual dalam bentuk cd ori –  dinikmati rakyat kebanyakan. Bersaing dengan lagu pop dan langgam campur sari yang booming bertahun-tahun. Sebuah fenomena genre ini memang ada segmennya. Sekarang bukan hanya orang tua dari kampung saja menikmati musik ini, anak muda sudah banyak yang bergelut mencari nafkah dari musik ini. Lihat di sebuah tv nasional di prime time ada kompetisi dangdut yang memiliki rating wow. Beradu sinetron yang juga punya rate wow. Bersanding dengan produk serial luar yang menyandang rate wow! Ini masyarakat kita yang sudah kebanyakan nonton tv sih, (nyaris) semua rate tv nasional bagus di prime tv. Ibaratnya disguhi apa saja ditonton. Sayang sekali, nonton tv menurutku ga bagus. Sedari kos saya ga punya tv. Kalaupun akhirnya beli, saya hanya untuk nonton kartun di pagi dan sepak boal. Dan itu kadang-kadang. Saya ketinggalan berita, ketinggalan mode, kelewat gosip bla bla bla, saya tak peduli.
Mendadak Dangdut termasuk film sederhana yang sukses. Monty Tiwa memang sutradara drama komedi jempolan. Debutnya Maaf, Aku Menghamili Istrimu yang dulu juga kutonton di bioskop termasuk sukses mengocok perut penonton. Kini sepuluh tahun berselang, masih layak diperbincangkan. Buku berdasarkan skenario? Ga masalah, saya penikmat buku juga seorang penonton.
“Nang, ikut abang dangdutan, yuk!” | “Najis Looo!” – halaman 44
Seperti kata Donald Trump: “I try to learn from the past, but I plan for the future by focusing exclusively on the present. That’s were the fun is.” – 94
Sebenarnya merobek-robek tabloid, menimba air, mengangkat barang, dan mencuci pakaian tidak ada dalam job description seorang manajer artis. – 102
Sebenarnya, menggunakan kerudung dari selendang akan membuat kami sedikit terlihat seperti pengungsi dari Afganistan. Sementara dalam kotak ada kostum si Buta Dari Gua Hantu yang saya yakini milik Mamat. Tapi karena saya tidak menemukan kostum lain yang lebih natural, terpaksa selendang jadi pilihan. – 125
Tanpa sadar, mata saya berkaca-kaca mendengar Petris mengucapkan terima kasih. Kata yang paling saya tunggu diucapkan Petris yang saya kira tidak akan pernah ia bahasakan. – 143
Thanks Yati Asgar! Gue bakal lanjutin perjuangan lo! GARUT IS THE BEST. – 163
Dalam benak saya, terbayang Marie Antoinette yang dihukum menggunakan guillotine di mana kepalanya berganti dengan kepala saya dan John Coffrey dalam film Green Mile yang akan menghadapi hukuman mati. – 167
Aku tahu aku dan Petris adalah dua pribadi berbeda, even though we have the same blood. Perbedaan adalah sesuatu yang indah. Membuat segalanya lebih berwarna. Dan toleransi, akan membingkai semua itu dengan sempurna. – 176
Mendadak Dangdut | oleh Ninit Yunita | Berdasarkan skenario film “Mendadak Dangdut” oleh Monty Tiwa | Editor johnsy_rune | Design cover depan Gregorius Samudra | Design cover belakang Jeffry Fernando | Foto cover Ali Akbar Studio | Tata letak Wahyu Suwarni | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, 2006 | iv + 178 hlm; 11,5 x 19 cm | ISBN 979-780-040-7 | Skor: 2/5
Karawang, 230616 – The All American Rejects – Heartbeat Slowing Down
#21 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

City Of Ember #20

image

Di kota Ember yang ada hanya malam hari, tanpa bulan dan bintang. Cahaya di sana hanya berasal dari lampu jalan yang menerangi selama 12 jam dalam sehari. Inilah “siang” di kota Ember. Di sekeliling kota hanya ada kegelapan total Daerah yang Tak Diketahui. Dan tak ada seorang pun yang pernah pergi ke sana karena pengetahuan tentang api dan listrik sudah hilang.
Kini keresahan menjalar di sepenjuru kota karena pemadaman listrik semakin sering terjadi dan persediaan makanan kaleng di ruang penyimpanan semakin menipis. Di antara yang paling khawatir adalah Lina dan Doon, dua remaja yang baru saja terjun ke dalam pekerjaan baru mereka. Lina sebagai pengantar pesan dan Doon sebagai pekerja pipa. Ini karena Lina menemukan tanpa sengaja sebuah kotak misterius berisi instruksi dari para Pembangun, orang-orang yang menciptakan kota Ember. Instruksi itu sudah koyak dan tak lengkap sehingga Lina dan Doon harus berusaha keras mengetahui isinya. Dan petualangan yang takkan mereka duga pun ada di depan mata.
Inilah salah satu buku fantasi yang saya suka dan sukses diadaptasi ke layar lebar. Faktor Saoirse Ronan bisa jadi makin mencinta. Filmnya saya tonton di bioskop, dvd bajagan saya beli, kaset VCD ori saya koleksi dan di layar kaca ketika tayang, saya sempatkan tonton berkali-kali. Inilah kisah sepasang remaja di dunia bawah tanah yang misterius dan mendebarkan.
Di bukunya detail kengerian lebih ‘nyaman’ diikuti ketimbang di visual. Dibagi dalam sebuah 20 bab panjang dan melelahkan plus prolog asal usul kota Ember, buku pertama dari tetralogi ini layak dikoleksi dan dituturkan pada anak cucu, betapa dunia yang kita tinggali ini begitu penuh berkah dan limpahan cahaya kehidupan yang menyejukan.
Di bab pembuka kita diajak mengetahui fakta bahwa pembangunan kota Ember di bawah tanah itu ada instruksi jalan keluar. Surat rahasia itu dibuat oleh sang Pembangun dan asistennya. Surat dalam kotak itu dikunci dan diberikan kepada Walikota. Setiap pemimpin disumpah untuk merahasiakannya. Ketika Walikota mangkat, diwariskan ke walikota berikutnya. Target instruksi itu dibuka mereka yang tinggal sekurang-kurangnya dua ratus tahun, atau dua ratus dua puluh tahun. Nah Walikota ketujuh yang kurang beres penasaran terhadap kotak itu, di usia rentanya diapun mencoba membuka kotak intruksi. Namun ketika dipalu, hanya tutupnya yang penyok dan akhirnya kotak itu tersimpan di lemari dibalik tas usang karena sang Walikota ketujuh keburu mati. Begitulah kotak itu berdebu tak tersentuh.
Lalu kisah dimulai generasi sekarang. Bahwa di usia 12 tahun selepas sekolah, warga Ember akan mendapat tugas untuk bekerja. Di hari Penugasan, Doon dan Lina mendapat tugas yang tak sesuai harapan. Namun akhirnya bertukar. Lina sebagai pengantar pesan, Doon sebagai tukang pipa. Seperti yang disampaikan di awal, mereka berdua berkolaborasi setelah mendapat sebuah pesan dalam kotak. Sebuah instruksi, sebuah solusi kota ember. Berhasilkah Lina dan Doon berbuat sesuatu untuk menyelamatkan kota mereka?
“Rasa ingin tahu adalah penyebab masalah.” – halaman 42
“Kau anak yang baik dan pintar, kelak kau akan melakukan hal yang besar, ayah tahu itu…” – 57
Pikiran neneknya tampaknya semakin dipenuhi oleh masa lalu. Dia dapat menjelaskan aturan-aturan dari permainan batu kerikil, yang terakhir kali nenek mainkan saat usianya delapan tahun, atau mengisahkan apa yang terjadi pada acara menyanyi saat nenek berusia dua belas tahun, atau dengan siapa nenek berdansa di acara dansa alun-alun Cloving ketika usianya enam belas, tetapi dia akan lupa apa yang terjadi pada dua hari yang lalu. – 64
“… Ada sesuatu hal yang berada di luar pemahaman kita, mereka mengatakan Para Pembangunlah yang menciptakan kota. Tetapi, siapakah yang menciptakan para Pembangun itu sendiri? Siapa yang menciptakan kita? Kukira jawabannya pasti berasal dari luar kota Ember.” – 77
Dalam film ada karakter bernama Poppy yang imut dan sebagai scene stealer. Lucu sekali, perjalanan mereka bukan berdua tapi bertiga. Buku kedua People Of Sparks sudah ada di rak dan sama amazing-nya. Adaptasi sequel film setelah delapan tahun ditunggu ga ada kabar. Sayang sekali padahal filmnya sangat bagus. Kritikus film menyambut City of Ember biasa sehingga kelanjutannya masih tanda tanya besar.
Oh iya, ada dua hal yang selalu saya ingat dari kisah Ember ini. Pertama nama Lina Mayfleet, ketika perkenalan diplesetkan jadi Lina MaySlip yang artinya terpeleset. Lucu aja, DePrau membuat nama karakter begitu unik dan mudah diingat. Kedua sebuah ruangan misterius nomor 351. Itu nomor keramat yang saya sekarang pakai untuk banyak hal. Seperti yang saya pakai jauh hari, nomor saya selalu 31. Seperti nama email: lazione_31@yahoo.co.id setelah membaca buku ini saya jadi menaruh angka 5 diantara 3 dan 1. Sebuah buku bagus salah satu syaratnya adalah selalu memberi kesan mendalam setelah kelar membacanya. City of Ember jelas memberi beberapa hal itu.
City Of Ember | by Jeanne DuPrau | copyright 2003 | Diterjemahkan dari The City of Ember terbitan A Yearling Book, 2003 | Penerjemah Sujatrini, Reno, Rien Chaerani | Penyunting Nuraini Mastura | Penyelaras aksara S. Nilamirasari Abdinegari | Pewajah sampul Windu Tampan | Ilustrator Sweta Kartika | Penerbit Mizan Fantasi | ISBN 978-979-433-561-1 | Cetakan 1: Juni 2009 | Skor: 4/8
Ruang HR NICI – Karawang, 220616 – Sherina Munaf – Mimpi dan Tantangan
#20 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Celeng Satu Celeng Semua #19

image

Kumpulan cerpen kelas berat. Walau dulu saya pelanggan Kompas dan selalu menanti kolom sastra di Minggu pagi, tapi cerpen-cerpen Triyanto memang sangat tak lazim. Rumit dan butuh dua tiga kali baca untuk sekedar tahu. Nah buku yang ini saya beli dari teman secara online sebagai penggenap total belanja, Olih – teman saya tadi – memilihkan buku kumpulan cerpen ini. Dengan embel-embel 10 Cerpen Pilihan Kompas 2003-2013, beberapa sudah saya baca di suatu Minggu, beberapa baru pertama, beberapa masih tak paham maksud kisahnya digulirkan setelah tiga kali baca. Memang seperti sudah menjadi ciri khas beliau, penuturannya absurb dan sangat nyastra sehingga saya yang awam ini dibuat pusing.
Buku terasa istimewa ketika ditambah bumbu renyah Kata Pengantar oleh Manneke Budiman, seorang pengajar di Universitas Indonesia dan ditutup dengan esai indah Tia Setiadi. Kumpulan cerpen ini juga menyertakan ilustrasi khas Kompas Minggu. Gambar-gambar yang butuh kejelian untuk menikmatinya.
Maaf, aku telah melukai-Mu. Aku tahu Kau akan marah. Kau tahu Kau akan menggigit telingaku hingga rompal dan bilang, “Kau harus lebih banyak mendengar… Kau tak boleh gegabah menafsirkan segala percakapan-Ku dengan butir-butir embun dan keheningan malam…”
Mata Sunyi Perempuan Takroni
Tentang makam kanjeng Nabi dan Sahabat yang setiap hari dikunjungi banyak peziarah. Komplek makam yang dibatasi jeruji besi dan dijaga aparat. Dipenuhi burung-burung merpati yang mematuki butir-butir habbah yang ditebarkan pengunjung. Zikir, doa, dan lantunan ayat suci yang terdengar sepanjang waktu. Lalu sudut pandang dijatuhkan kepada dua orang perempuan: Zubaedah perempuan buta dan anak pungutnya Zulaikha yang ingin masuk ke pusat makam Nabi. “Kenapa ibu kemudian buta?”
“Mungkin karena ibu telah melihat sesuatu yang tak pantas dilihat oleh seorang perempuan.” Dan kenapa Zubaedah bisa buta pun dikisahkan. Diingatnya petuah ayahnya, “Kalau bisa matilah di Madinah, anakku. Sebagai orang Takroni hidup kita di dunia memang tak segemerlap orang-orang Madinah. Kita tak mungkin jadi warga negara Kerajaan sampai kapanpun. Tetapi, kalau kau mati di sini Nabi akan memberikan surga.”
Seperti Gerimis Yang Meruncing Merah
Tentang Hindun yang mengasah pedang dan mengenang pertempuran sengit di Jabal Uhud. Betapa saat Hamzah mati dan Nabi tersungkur. Kemenangan sesaat kaum Quraisy, kesadaran Nabi berangsur-angsur pulih. Hindun memakan hati Hamzah dan berujar, “Inilah sumpahku, Wahsyi! Aku tak akan puasa lagi. Selesailah pedangku! Lihatlah, aku seperti terlahir kembali.” – dikutip dari film the Message yang dibintangi Anthony Quin dan Irine Papas. Ketika kisah terbentuk nyaris sempurna, kita dilempar ke zaman lain ketika jelang Lebaran. “Hari ini penuh ampunan, ibu. Tak seorang pun akan mengotori dirinya dengan perbuatan busuk. Izinkan aku mengunjungi pusara adikku. Izinkan aku tersungkur dan menangis di keheningan makam itu.” Gerimis bulan November yang kian meruncing merah dan menyakiti?
Sayap Kabut Sultan Hamid
“Hei, jenderal ketahuilah saya yang sejak dulu Sampeyan panggil sebagai Pangeran Dipanegara tidak takut mati. Saya siap dibunuh kapan pun. Kematian toh hanya kabut halus. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. Sekarang, silakan bunuh saya. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa.”
Minggu, 28 Maret 1830 adalah hari bersejarah Indonesia. Di lebaran hari kedua, jenderal de Kock memperdaya pangeran Dipanegara (bahasa Jawa: Diponegoro). Namun dengan gaya bercerita yang unik Triyanto membalut kisah itu menjadi terbaca rumit. “Segalanya sudah diatur. Bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini.”
Malaikat Tanah Asal
Ketika surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir dan tumbuh dari doa serampangan perempuan kencur yang dianggap gila, sekali waktu akan merindukan tanah asal yang kabur. Tanpa sayap, ia akan menumpang kereta, menyusuri rel dan pelacur menatap kabut dan maut, dan merancau tentang hutan yang gaduh.
Itu adalah paragraf pembuka yang terbaca absurb. Memang ini cerpen yang tak mudah dicerna karena di paragraf penutup yang menggunakan kalimat langsung berujar, “Ya, Hayati, malaikat-malaikat itu akan segera mengajak kita belajar terbang ke segala gunung dan hutan pada saat jendela surga ditutup  untuk ayah dan ibu kita.”
Belenggu Salju
“Kalau saja tidak diungsikan ke Los Angeles oleh Oma-mu aku yakin kau juga tak akan meninggalkan kota kelahiranmu, Tito. Kau mingkin tak jadi polisi. Kau mungkin akan jadi penjahat paling busuk di kotamu.”
Dengan setting Amerika, sang sheriff sedang dalam pengejaran geng Morgan. Musuh bebuyutan yang bak serigala susah ditangkap. Apakah salju benar-benar tak akan pernah turun di Compton, kekasihku?
Iblis Paris
Menurutku, ini adalah cerpen terbaik di daftar ini. “Cepat atau lambat kita akan terusir. Karena itu ada baiknya kita terima saja tawaran Khun Sa. Percayalah, ini hanya sementara, Katra. Setelah cukup bekal, kita akan berimigrasi ke Perancis. Bukankah kau ingin hidup berlumur kasih Maria di Lourdes?”
Di Paris, kau tahu, hanya ada iblis yang tergesa-gesa mengetuk pintu dan menusukkan pistol di lambungku yang ringkih tanpa kedhit pengaman. Sudah mati jugakah Tuhan?
Dalam Hujan Hijau Friedenau
Mengenang segala yang kini sering tampak mengabur di langit yang membentang di atas Kanal Landwehr itu, aku jadi malu mengapa pada suatu senja yang pucat aku bilang kepadamu, “Arok, mein schatz, janganlah kamu berbicara tentang hari depan. Apakah kamu tak melihat gelagat ini, bahwa waktu hidupku bersamamu sudah menjelang habis?”
Ini kisah tentang orang-orang terasing yang mencoba bertahan hidup di derasnya ancaman.
Ikan Terbang Kufah
“Kalau mereka yang meledakkan, kita menjadi manusia-manusia kalah. Sudahlah… aku sudah meletakkan bom di makam. Kita tinggal meledakkan dari sini maka perjuangan akbar kita selesai.” Ujar Abu Jenar.
“Jangan! Jangan kau Tuan ledakkan dulu makam keramat itu. Izinkan aku menyelamatkan buku-buku penting di sana. Ketahuilah semua rimayat kampung dan silsilah keturunan Syekh Muso kami simpan di cungkup itu. Jika makam itu Tuan ledakkan sekarang, kami tak akan punya kenangan apapun.” Kiai Siti mencoba mengulur waktu.
Kini kau tahu di mana tubuh Kufah, Kiai Siti dan Zaenab dan ikan-ikan terbang itu menghilang?
Burung Api Siti
Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja telinga Siti tidak ditulikan oleh kicauan bangau, sesungguhnya ada jerit panjang terakhir yang menyayat dari sebelas perempuan dan laki-laki dewasa yang lehernya dipancung oleh para pembantai dari kampung sebelah. Para pembantai itu meneriakan nama Allah berulang-ulang sebelum dengan hati dingin mengayunkan parang, sebelum dengan kegembiraan bukan alang kepalang menusukan bayonet ke lambung.
“Jangan menganggap kami kejam… jika sekarang mereka tak mati, pada masa depan mereka akan membantai seluruh keturunan kami.”
“Ini tugas negara. Tak perlu kalian anggap ini sebagai kekejaman yang tak terampuni…”
“Apakah para bangau bisa menjadi burung api? Semuanya bisa terjadi jika Allah mengizinkan.”
Lengtu Lengmua
Inilah cerpen yang dipilih dijadikan judul. Judul ini merupakan akronim dari “celeng satu celeng semua.” Ungkapan ini bertolak dari pergelaran wayang Ki Manteb Soedarsono berkolaborasi dengan Romo Sindhanuta, Lengji Lengbeh (Celeng siji celeng kabeh).
Tepat tengah malam celeng-celeng yang telah kerasukan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan kepada mereka untuk mendengarkan lagi keributan bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau…
Celeng Satu Celeng Semua – Kumpulan Cerpen | oleh Triyanto Triwikromo | GM 201 01 13 0024 | Copyright 2013 | Editor Mirna Yulistianti | Proofreader Dwi Ayu Ningrum | Design sampul Putut Wahyu Widodo | Ilustrasi sampul Abdullah Ibnu Thalhah | Ilustrasi isi Jumaadi | Cetakan pertama: Juli 2013 | ISBN 978-979-22-9442-2 | Skor: 4/5
Karawang, 220616 – Yusuf Islam – The Wind
#19 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku