The Worry Tree # 28

image

Buku asal Aussie yang diluarduga bagus. Ide cerita memang bisa dari mana saja. Dari hate-love kakak-adik yang childish pun bisa. Dibalut dengan imaji sebuah pohon yang seakan mendengar segala keluh kesah kita, ya ya hal sepele bisa jadi cerita yang bagus kalau dituturkan dengan luwes. The Worry Tree adalah sebuah novel tipis dari ide yang sederhana namun ternyata memikat. Terkadang ketika saya menatap dinding kamar dan mengajaknya berbicara, saya membayangkan the Worry Tree meresap segala curhatan kita. Aneh?
Jadi kisahnya, Juliet Jennifer Jones adalah anak sepuluh tahun yang merasa mudah cemas. Dalam keadaan seperti itu ia akan merasa gatal. Adiknya Ophelia selalu menggoda membuat iseng dan senang sekali menyanyikan ‘lagu menyebalkan’ ke arahnya. Tak cukup banyakkah masalah yang harus dipikirkannya? Dad selalu sibuk sendiri, Mum bekerja sepanjang hari, Nana tak mau mengenakan alarm keselamatannya. Sulit sekali mengurus keluarga dengan kesibukan sendiri-sendiri.
Juliet ketika bete-nya memuncak akan menyortir. Itu yang ia lakukan untuk menenangkan diri. Sementara orang lain menyalakan lilin, mendengarkan musik, berendam air panas, Juliet menyortir koleksi-koleksi unik yang ia simpan di kamar tidur. Dari koleksi penghapus, koleksi kulit jangkrik kering, sebuah buku berisi daftar plat nomor, pita hadiah sampai koleksi tiket bus. Dan biasanya Oaf – panggilan adiknya- akan menggangunya yang berujung pada pertengkaran. Mum adalah seorang psikolog, sehingga paham sekali konflik dan perseteruan saudara kandung. “Berteriak dan dan menjerit-jerit tidak akan menyelesaikan masalah. Kurasa sekarang waktunya kita bertiga duduk bersama dan membicarakan masalah.”
Ketika seakan masalah benar-benar tak bisa ditahan Juliet, dia akan melampiaskannya pada benda-benda sekitar. Nah suatu ketika Nana, neneknya mengajaknya membuka masa lalu. Kamar tidur Juliet adalah kamar tidur Nana sewaktu masih kecil. Dari kamarnya itulah ia melihat tulisan kutipan dari Thomas Edison tergeletak kusut di lantai, “Untuk menemukan sesuatu kau perlu …” sisa tulisannya tersembunyi dari pandangan. Dia pun merobek pelapis dinding yang ada. Selembar demi selembar.
Sobekan-sobekan kertas bergelung bertumpuk di lantai seperti sampah rautan pensil yang sangat besar. “Lihat ini, ada binatang-binatang di atas cabang-cabangnya. Aku melihat wombat, merak, anjing, babi, kambing, dan bebek.” Gambar di balik pelapis dinding itu adalah sebuah pohon dengan enam binatang di atas rantingnya. Di bawahnya di bagian akar tertulis Pohon Cemas.
Sihirkah? Bukan. Hanya karena bukan sihir belum tentu sesuatu itu tak ajaib. “Gantungkan kecemasanmu di setiap cabangnya setiap malam sebelum tidur. Coba kau pikirkan sesuatu yang membuatmu cemas. Mungkin ada seseorang yang kau kenal yang membuat hidupmu susah.” Hugh Allen. “Bayangkan kecemasanmu itu ada di atas telapak tanganmu seperti ini.” Nana menengadah, “bayangkan tali tali yang tak terlihat mengikat bagian tengahnya dengan simpul di atas. Lalu ambil simpul itu  dengan ibu jari dan telunjukmu. Gantungkan dia di salah satu cabang pohon cemas. Dan binatang-binatang pohon cemas akan mengurus kecemasanmu sampai pagi. Artinya merekalah yang mencemaskanmu saat kau tidur.”
Wow. Simple tapi sangat menyentuh. Keenam binatang itu ternyata bernama dan memiliki keahlian masing-masing. Wombat bernama Wlfgang yang mengurusi segala khawatir tentang teman. Anjing Dimitri memikirkan masalah keluarga. Babi Petronella memikirkan masalah sekolah. Kambing Gwyneth tentang saat sakit. Merak si Piers memikirkan barang-barang yang hilang. Dan terakhir bebek putih bernama Delia mengatasi segala kesulitan perubahan. Ada lubang hitam di bagian bawah pohon. Tugasnya adalah menampung segala masalah bila para binatang tak bisa menyelesaikannya.
Terdengar unik-kan. Butuh imajinasi tinggi untuk curhat pada gambar di dinding. Sebenarnya gambar ini adalah turun temurun dari buyutnya. Namuan saat sampai di Nana, ayahnya menutupi dinding itu. Ada kisah harus di baliknya. Well, dengan kembali terbukanya misteri itu Juliet melaksanakan nasehat Nana, kini Pohon Cemas itu miliknya. Dan mulailah ia setiap malam sebelum tidur berbincang dengan dinding, mencurahkan segala keluh kesah. Berhasilkah ia mengatasi masalah-masalah kerumitan anak 10 tahun?
Well, unik. Nyeleneh. Dan seru. Sebenarnya secara ilmiah pohon memang bisa menyerap keadaan sekitar. Pernah dengar dalam sebuah diskusi, bahwa pohon kalau dimaki-maki setiap hari akan mati karena didera energi negatif. Beda sebaliknya, pohon akan subur dan berkembang bila kita tanam kata-kata menyenangkan. Percaya? Silakan coba. Saya sendiri terkadang ‘curhat’ pada pohon Pucuk Merah di depan rumah saat langit malam cerah. Sedikit banyak ada beban yang terangkat dan lepas setelah kita ngomong. Sisanya biar keajaiban alam yang menyelesaikan. Sayangnya pohon di kebun depan rumah itu ditebang sama May ketika saya sedang kerja tahu-tahu pulangnya itu pohon sudah hanbis. Hiks,. Jadi walau konflik yang disodorkan biasa, masalah anak-anak buku ini tetaplah sukses mempesonaku. Hebat, cerita sederhana ini tak terpikirkan bisa jadi cerita.
Buku ini dipersembahkan untuk nenek dan kakekku – Margar, yang suka menceritakan kisah-kisah, dan Jim yang menyemangatiku untuk menuliskan mereka.
The Worry Tree | by Marianne Musgrove | first published Random House Australia Pty Limited, Sydney | Pohon Cemas | Penerjemah Dini Andarnuswari | Pewajah isi Aniza Pujiati | Penerbit Atria | Cetakan I: November 2008 | ISBN 978-979-1411-56-1 | Skor: 4/5
Karawang, 300616 – Sherina Munaf – 1000 Topeng
#28 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s