Kisah Inspirasi Hidup Muhammad Ali

image

“Musuhku adalah orang kulit putih, bukan Vietkong atau China atau Jepang. Kalian penentangku saat aku menginginkan kebebasan. Kalian penentangku saat aku menginginkan keadilan. Kalian penentangku saat aku menginginkan kesetaraan. Kalian bahkan tak berpihak kepadaku di Amerika untuk agamaku, dan kalian ingin aku pergi ke suatu tempat dan berperang tetapi kalian bahkan tak berpihak kepadaku di sini, di negaraku,” demikian kata Muhammad Ali pada tahun 1967 ketika dirinya dipanggil mengikuti wajib militer untuk berperang di Vietnam.
Tentu saja konsekuensi akibat penolakannya atas wajib militer itu tidaklah kecil. Bukan saja gelar juara dunianya dicopot oleh WBA dan lisensi tinjunya dibatalkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, namun ia juga dijatuhi hukuman penjara lima tahun dan denda 10 ribu dolar AS oleh Pengadilan Federal lantaran dinilai melanggar Selective Service. Toh, kerugian terbesar dari semua itu adalah ia harus kehilangan tahun-tahun terbaiknya sebagai atlet. Belum lagi mesti mendapatkan cibiran, hujatan hingga ancaman kematian. Namun itulah pilihan. Pilihan dengan hati nurani. “Hati nuraniku takkan membiarkanku pergi menembak saudaraku, atau orang-orang miskin dan lapar yang berkulit lebih gelap buat Amerika yang big powerful. Untuk apa menembak mereka? Mereka tak pernah menyebutku negro, mereka tak pernah menggantungku, tak pernah menganjingkanku,” ujar Ali dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian. Dan dunia tahu ia memang benar, banyak orang Amerika tahu ia benar. Bukankah Amerika tidak mendapatkan apapun dari Perang Vietnam selain kekalahan memalukan akibat perlawanan rakyat Vietnam, bangsa yang ramah itu? Amerika justru memperoleh kemenangan tak terduga di Indonesia yang meminjam Presiden Richard Nixon merupakan “anugerah terbesar di wilayah Asia Tenggara” dengan “timbunan sumber daya alam terkaya”. Betapa tidak. Sebagaimana analisis John Roosa dalam bukunya ‘Dalil Pembunuhan Massal dan Kudeta Soeharto’ (2008), serangan Soeharto terhadap kaum komunis dan perebutan kekuasaan presiden yang dilancarkannya berakhir pada pembalikan sepenuhnya peruntungan AS di Indonesia. Dan itu hanya dilakukan dalam waktu yang begitu singkat. Hampir dalam semalam, pemerintah Indonesia berubah dari kekuatan yang di tengah-tengah Perang Dingin dengan garang menyuarakan netralitas dan anti imperialisme menjadi rekanan pendiam yang patuh kepada tatanan dunia AS. Sebuah keajaiban yang tak pernah dibayangkan oleh AS sebelumnya. Tentara Soeharto telah melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh negara boneka AS di Vietnam Selatan meskipun telah dibantu dengan jutaan dolar dan ribuan pasukan, yaitu menghabisi gerakan komunis di negerinya!
YA, Muhammad Ali barangkali adalah petinju paling kontroversial yang pernah dikenal dunia, baik di dalam maupun di luar ring. Sebagai seorang petinju kelas berat, ia boleh dibilang memiliki gaya bertinju yang tak lazim. Ia adalah seniman di atas ring yang memperlakukan tinju layaknya seni bela diri Asia, bahkan sebagai seni pertunjukan; sebuah entertainment. “Terbang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah!” begitulah ia mendeskripsikan gaya bertarungnya itu. Dan dalam hampir semua laganya, kita pun bisa menyaksikan bagaimana ia menari-nari dengan gerakan footwork begitu mengagumkan tak ubahnya seorang dancer. Toh, meski demikian, bukankah ia membuktikan bahwa dirinya memang petinju terbesar yang pernah kita kenal? Ya, sampai kini ketika ia akhirnya berpulang ke Rahimullah dalam usia 74 tahun, dunia harus mengakui kalau ia memang yang terbesar. Ali, seperti kata Presiden Barack Obama, memang “bukanlah semata penyair yang mahir di depan mikrofon sebagaimana petarung yang jago di atas ring, namun juga seorang manusia yang berjuang untuk apa yang diyakini sebagai kebenaran. Seorang manusia yang berjuang untuk kita.”
Betul, bagi seorang Ali, tinju memang bukanlah sekadar olahraga. Dan dunia tentunya belum lupa ketika ia mengalahkan George Foreman di Kinshasha, Zaire, Afrika, 1974 dalam sebuah laga yang tak pernah habis dikisahkan dari generasi ke generasi. Ya, bukan hanya lantaran kualitas pertandingan itu sendiri, tetapi juga karena misi politik yang diusung Ali, yakni upayanya meraih perhatian dunia terkait isu rasisme di Amerika.”Rumble in the Jungle” begitulah ia menyebut pertandingannya, dan seketika negeri di tepian sungai Kongo itu pun menjelma tempat pesta kaum kulit hitam. Tak kurang artis-artis kulit hitam papan atas Amerika seperti James Brown dan BB King ikut diseretnya ke sana.”Aku orang Afrika, itu memang kampung halamanku. Persetan dengan yang Amerika pikirkan. Aku memang tinggal di Amerika. Tapi Afrika adalah rumah orang kulit hitam, dan aku adalah budak 400 tahun lalu. Dan aku akan pulang untuk bertarung di antara saudaraku,” demikian tukasnya dalam “When We Were the Kings”, sebuah film dokumenter besutan Leon Gast dan Taylor Hackford. Dengan segera isu yang ia angkat dalam perebutan gelar juara kelas berat itu pun berkembang jadi isu panas dan memaksa banyak pihak yang terlibat dalam pagelaran ikut angkat bicara soal rasisme, termasuk Don King. Dengan tajam Ali juga mengkritik mentalitas kaum kulit hitam Amerika yang tak lagi mengenal jatidiri dan budaya mereka akibat pencucian otak oleh industri film dan program TV Hollywood. Sekaligus menyerang kaum kulit putih yang menghasut orang kulit hitam membenci tanah leluhur, sehingga banyak di antara mereka akan marah jika disebut “afro”.
“Tuhan telah memberkatiku dengan kemampuan bertinju,” kata Ali berkaca-kaca, “Sehingga aku bisa membantu saudara-saudaraku. Namun begitu, Ali tidaklah pernah menjadi seorang Muslim Radikal. Ia tetaplah seorang dengan jiwa hangat dan penuh cinta kasih. Ia mengagumi seorang Elijah Muhammad lantaran menurutnya Elijah adalah orang baik yang mencoba mengangkat kaum kulit hitam Amerika dari got. Karenanya, berbeda dengan pandangan Nation of Islam yang eksklusif, pemikiran Ali tentang Islam justru sangat inklusif. “Ibuku seorang Kristen Baptis, dan ketika aku besar, ia mengajari segala yang ia ketahui tentang Tuhan. Setiap Minggu, ia mendandaniku, dan membawaku dan kakakku ke gereja. Ia mengajari kami hal-hal yang dianggapnya benar. Ia mengajari kami supaya mencintai sesama dan memperlakukan siapa pun dengan baik. Ia mengajari kami bahwa berprasangka dan membenci itu salah. Ketika aku beralih agama, Tuhan ibuku tetap Tuhanku, hanya menyebutnya dengan nama yang lain,” tukasnya. Maka berkebalikan dari tujuan Nation of Islam, baginya: “Warna kulit tidak akan membuat seseorang menjadi iblis. Adalah hati, jiwa, dan raga yang dihitung. Apa yang ada di luar adalah dekorasi belaka.” Sepanjang hidupnya, baik selagi masih aktif di atas ring maupun setelah menggantungkan sarung tinjunya, Ali tak pernah berhenti berjuang untuk hak-hak sipil, untuk kemanusiaan. Lihat saja, bagaimana di tengah keterbatasan fisiknya akibat deraan penyakit parkinson, ia masih membantu membebaskan 14 sandera Amerika di Irak pada 1990; atau menempuh perjalanan panjang ke Afrika Selatan untuk menyambut pembebasan Nelson Mandela dari penjara; juga pergi ke Afghanistan untuk membantu perjuangan sekolah-sekolah di sana sebagai Utusan Perdamaian PBB. Bahkan pada hari-hari terakhir dalam hidupnya, ia masih mengkritik keras wacana Donald Trump tentang pelarangan Muslim masuk ke AS. “Para pemimpin politik seharusnya menggunakan posisi mereka untuk mendorong pemahaman yang lebih baik tentang Islam, dan menjelaskan bahwa apa yang dilakukan para pembunuh (teroris) itu telah menyesatkan persepsi tentang Islam. Bukannya mengeluarkan pernyataan menyinggung SARA,” begitu kata Ali kepada kandidat capres dari Partai Republik itu. Karena itulah, ia pantas menjadi idola umat manusia sejagat, karena itulah kepergiaannya pun ditangisi oleh jutaan orang di seluruh penjuru dunia apapun ras, agama, dan golongan mereka. Dan karena itu pulalah, kita semua takzim mengamini kata-katanya yang terkesan jumawa puluhan tahun silam itu: “Aku adalah yang terbaik. Aku bilang begitu bahkan sebelum aku tahu. Aku tahu kalau aku mengatakannya berulang-ulang, aku bisa menyakinkan dunia bahwa aku benar-benar yang terbaik.”
Tentu, tentu. You are the greatest, Champ!
Al Fatihah.

Dibacakan oleh LBP
Di meeting pagi Inspirasi dan Motivasi NICI
Pada hari Jumat, 24 Juni 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s