Mendadak Dangdut #21

image

Sebelum membaca bukunya saya menonton filmnya. Kaset pitanya sampai rusak karena keseringan kuputar di kos Ruanglain_31, Cikarang. Dibintangi Titi Kamal yang saat itu sedang on fire diluarduga saya suka filmnya. Lagu-lagunya bagus, dinyanyikan sendiri oleh Titi Kamal. Dengan judul terdengar aneh, apa maksudnya coba ,”Mendadak Dangdut?” ingat sekali saya terpingkal-pingkal lihat tingkah polah Dua saudara yang berlainan sifat ini bahu-membahu kabur dari kejaran aparat. Makanya sebagai kenangan indah menonton di layar lebar ketika di toko buku mendapatinya tak pikir dua kali membawa pulang.
Namanya saja based on script by Film jadi isinya sama persis. Biasanyakan film berdasarkan buku, yang ini sebaliknya. Runut plek sama yang kita tonton. Kisahnya adalah seorang penyanyi muda asal Manado berusia 25 tahun, Petris Pontoh yang sombong dan ora urus dunia lain – selfis tingkat akut. dimanajeri oleh kakaknya Yulia Pontoh, 27 tahun yang anehnya bersifat kebalikan. Sangat perhatian, penuh kasih sayang. Petris di usia seperempat abad ibaratnya sudah mendapatkan segalanya. Album musiknya terjual laris, banyak penggemar, sering masuk ajang penghargaan. Namun Yulia sepertinya tak digubris oleh adiknya. Dengan sudut pandang sang kakak kita diajak menelusuri dunia musik, lebih tepatnya dangdut: hiburan rakyat kebanyakan. I told you. She is everything that I’m not.
Cerita dibuka dengan sebuah wawancara promo album baru Petris di sebuah radio. Dia dengan pongah dan kesal selalu komplain tentang segala hal. Jadwal yang padat, keseringan wawancara, bosan! Setelah tanya-jawab yang berakhir buruk di radio Suara Muda FM mereka pulang bersama pacar Yulia, Gerry – dipanggil Bandot oleh si Petris. Di mata Petris semua orang kan tolol.
Dalam perjalanan pulang lewat tengah malam, kota Jakarta yang lengang. Gerry diminta duduk di jok belakang mobil, Yulis nyetir dan Petris duduk mendengar musik. Saat di player mendendangkan lagu dangdut, Petris langsung marah. Lagu apaan! ”Pokoknya di mobil gue ngga boleh dipasang lagu dangdut!” dan ketika mereka membelok mencari jalan pintas pulang mereka kena razia narkoba. Dalam sebuah tas hitam ditemukan heroin, saat kena Gerry alias Bandot sudah kabur. Mereka berdua pun digiring ke kantor polisi. Esoknya dunia entertaimen ramai berlomba mendapat berita penyayi muda Petris Pontoh ditangkap polisi. Berita berseliweran, ada yang bilang ia pesta narkoba, ada yang memberitakan dia hamil sampai ada artis gelap mengaku pasangannya. Betapa dunia hiburan endonesah berantakan.
Ketika tahu hukuman pembawa heroin adalah mati, Petris dan Yulia panik. Bantahan itu bukan miliknya, pacarnya kabur, dan bla bla bla tak membuahkan hasil. Sebuah strategi disusun, ketika di toilet melihat jendela mereka pun kaburrrr. Berlari dan berlari. Lari dari realita. Nah kebetulan saat dalam pengejaran polisi mereka bersembunyi di panggung yang mendapati sebuah orgen tunggal yang dikepalai oleh Rizal sedang bercerai dengan penyanyinya Fetty Manis Madu. Kesempatan itu diambil oleh Yulia: dangdut atau penjara? Petris: najis!
Dengan terpaksa Petris ke atas panggung menyanyikan lagu-lagu dangdut. Genre musik yang dia sebal. Well, benar juga tak semua orang nonton MTV. Dan dari seorang penyayi pop terkenal ia pun banting stir ke genre dangdut karena terpaksa. Orgen tunggal Senandung Citayam pun meraih banyak sukses. Semasa dalam pelarian mereka tinggal di kontrakan sederhana, makan apa adanya dan yang terpenting: saling menjaga saudara. Dengan nama samaran Iis, apa yang terjadi kemudian dengan nasib Petris? Cintakah ia pada dunia dangdut? Berhasilkah polisi menangkap mereka berdua?
Well, dunia dangdut gemerlap yang diraih para penyayi berawal dari bawah. Dari penyanyi keliling, direkam amatir, disebarkan ke kaset-kaset bajagan – sebagian malah dijual dalam bentuk cd ori –  dinikmati rakyat kebanyakan. Bersaing dengan lagu pop dan langgam campur sari yang booming bertahun-tahun. Sebuah fenomena genre ini memang ada segmennya. Sekarang bukan hanya orang tua dari kampung saja menikmati musik ini, anak muda sudah banyak yang bergelut mencari nafkah dari musik ini. Lihat di sebuah tv nasional di prime time ada kompetisi dangdut yang memiliki rating wow. Beradu sinetron yang juga punya rate wow. Bersanding dengan produk serial luar yang menyandang rate wow! Ini masyarakat kita yang sudah kebanyakan nonton tv sih, (nyaris) semua rate tv nasional bagus di prime tv. Ibaratnya disguhi apa saja ditonton. Sayang sekali, nonton tv menurutku ga bagus. Sedari kos saya ga punya tv. Kalaupun akhirnya beli, saya hanya untuk nonton kartun di pagi dan sepak boal. Dan itu kadang-kadang. Saya ketinggalan berita, ketinggalan mode, kelewat gosip bla bla bla, saya tak peduli.
Mendadak Dangdut termasuk film sederhana yang sukses. Monty Tiwa memang sutradara drama komedi jempolan. Debutnya Maaf, Aku Menghamili Istrimu yang dulu juga kutonton di bioskop termasuk sukses mengocok perut penonton. Kini sepuluh tahun berselang, masih layak diperbincangkan. Buku berdasarkan skenario? Ga masalah, saya penikmat buku juga seorang penonton.
“Nang, ikut abang dangdutan, yuk!” | “Najis Looo!” – halaman 44
Seperti kata Donald Trump: “I try to learn from the past, but I plan for the future by focusing exclusively on the present. That’s were the fun is.” – 94
Sebenarnya merobek-robek tabloid, menimba air, mengangkat barang, dan mencuci pakaian tidak ada dalam job description seorang manajer artis. – 102
Sebenarnya, menggunakan kerudung dari selendang akan membuat kami sedikit terlihat seperti pengungsi dari Afganistan. Sementara dalam kotak ada kostum si Buta Dari Gua Hantu yang saya yakini milik Mamat. Tapi karena saya tidak menemukan kostum lain yang lebih natural, terpaksa selendang jadi pilihan. – 125
Tanpa sadar, mata saya berkaca-kaca mendengar Petris mengucapkan terima kasih. Kata yang paling saya tunggu diucapkan Petris yang saya kira tidak akan pernah ia bahasakan. – 143
Thanks Yati Asgar! Gue bakal lanjutin perjuangan lo! GARUT IS THE BEST. – 163
Dalam benak saya, terbayang Marie Antoinette yang dihukum menggunakan guillotine di mana kepalanya berganti dengan kepala saya dan John Coffrey dalam film Green Mile yang akan menghadapi hukuman mati. – 167
Aku tahu aku dan Petris adalah dua pribadi berbeda, even though we have the same blood. Perbedaan adalah sesuatu yang indah. Membuat segalanya lebih berwarna. Dan toleransi, akan membingkai semua itu dengan sempurna. – 176
Mendadak Dangdut | oleh Ninit Yunita | Berdasarkan skenario film “Mendadak Dangdut” oleh Monty Tiwa | Editor johnsy_rune | Design cover depan Gregorius Samudra | Design cover belakang Jeffry Fernando | Foto cover Ali Akbar Studio | Tata letak Wahyu Suwarni | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, 2006 | iv + 178 hlm; 11,5 x 19 cm | ISBN 979-780-040-7 | Skor: 2/5
Karawang, 230616 – The All American Rejects – Heartbeat Slowing Down
#21 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s