City Of Ember #20

image

Di kota Ember yang ada hanya malam hari, tanpa bulan dan bintang. Cahaya di sana hanya berasal dari lampu jalan yang menerangi selama 12 jam dalam sehari. Inilah “siang” di kota Ember. Di sekeliling kota hanya ada kegelapan total Daerah yang Tak Diketahui. Dan tak ada seorang pun yang pernah pergi ke sana karena pengetahuan tentang api dan listrik sudah hilang.
Kini keresahan menjalar di sepenjuru kota karena pemadaman listrik semakin sering terjadi dan persediaan makanan kaleng di ruang penyimpanan semakin menipis. Di antara yang paling khawatir adalah Lina dan Doon, dua remaja yang baru saja terjun ke dalam pekerjaan baru mereka. Lina sebagai pengantar pesan dan Doon sebagai pekerja pipa. Ini karena Lina menemukan tanpa sengaja sebuah kotak misterius berisi instruksi dari para Pembangun, orang-orang yang menciptakan kota Ember. Instruksi itu sudah koyak dan tak lengkap sehingga Lina dan Doon harus berusaha keras mengetahui isinya. Dan petualangan yang takkan mereka duga pun ada di depan mata.
Inilah salah satu buku fantasi yang saya suka dan sukses diadaptasi ke layar lebar. Faktor Saoirse Ronan bisa jadi makin mencinta. Filmnya saya tonton di bioskop, dvd bajagan saya beli, kaset VCD ori saya koleksi dan di layar kaca ketika tayang, saya sempatkan tonton berkali-kali. Inilah kisah sepasang remaja di dunia bawah tanah yang misterius dan mendebarkan.
Di bukunya detail kengerian lebih ‘nyaman’ diikuti ketimbang di visual. Dibagi dalam sebuah 20 bab panjang dan melelahkan plus prolog asal usul kota Ember, buku pertama dari tetralogi ini layak dikoleksi dan dituturkan pada anak cucu, betapa dunia yang kita tinggali ini begitu penuh berkah dan limpahan cahaya kehidupan yang menyejukan.
Di bab pembuka kita diajak mengetahui fakta bahwa pembangunan kota Ember di bawah tanah itu ada instruksi jalan keluar. Surat rahasia itu dibuat oleh sang Pembangun dan asistennya. Surat dalam kotak itu dikunci dan diberikan kepada Walikota. Setiap pemimpin disumpah untuk merahasiakannya. Ketika Walikota mangkat, diwariskan ke walikota berikutnya. Target instruksi itu dibuka mereka yang tinggal sekurang-kurangnya dua ratus tahun, atau dua ratus dua puluh tahun. Nah Walikota ketujuh yang kurang beres penasaran terhadap kotak itu, di usia rentanya diapun mencoba membuka kotak intruksi. Namun ketika dipalu, hanya tutupnya yang penyok dan akhirnya kotak itu tersimpan di lemari dibalik tas usang karena sang Walikota ketujuh keburu mati. Begitulah kotak itu berdebu tak tersentuh.
Lalu kisah dimulai generasi sekarang. Bahwa di usia 12 tahun selepas sekolah, warga Ember akan mendapat tugas untuk bekerja. Di hari Penugasan, Doon dan Lina mendapat tugas yang tak sesuai harapan. Namun akhirnya bertukar. Lina sebagai pengantar pesan, Doon sebagai tukang pipa. Seperti yang disampaikan di awal, mereka berdua berkolaborasi setelah mendapat sebuah pesan dalam kotak. Sebuah instruksi, sebuah solusi kota ember. Berhasilkah Lina dan Doon berbuat sesuatu untuk menyelamatkan kota mereka?
“Rasa ingin tahu adalah penyebab masalah.” – halaman 42
“Kau anak yang baik dan pintar, kelak kau akan melakukan hal yang besar, ayah tahu itu…” – 57
Pikiran neneknya tampaknya semakin dipenuhi oleh masa lalu. Dia dapat menjelaskan aturan-aturan dari permainan batu kerikil, yang terakhir kali nenek mainkan saat usianya delapan tahun, atau mengisahkan apa yang terjadi pada acara menyanyi saat nenek berusia dua belas tahun, atau dengan siapa nenek berdansa di acara dansa alun-alun Cloving ketika usianya enam belas, tetapi dia akan lupa apa yang terjadi pada dua hari yang lalu. – 64
“… Ada sesuatu hal yang berada di luar pemahaman kita, mereka mengatakan Para Pembangunlah yang menciptakan kota. Tetapi, siapakah yang menciptakan para Pembangun itu sendiri? Siapa yang menciptakan kita? Kukira jawabannya pasti berasal dari luar kota Ember.” – 77
Dalam film ada karakter bernama Poppy yang imut dan sebagai scene stealer. Lucu sekali, perjalanan mereka bukan berdua tapi bertiga. Buku kedua People Of Sparks sudah ada di rak dan sama amazing-nya. Adaptasi sequel film setelah delapan tahun ditunggu ga ada kabar. Sayang sekali padahal filmnya sangat bagus. Kritikus film menyambut City of Ember biasa sehingga kelanjutannya masih tanda tanya besar.
Oh iya, ada dua hal yang selalu saya ingat dari kisah Ember ini. Pertama nama Lina Mayfleet, ketika perkenalan diplesetkan jadi Lina MaySlip yang artinya terpeleset. Lucu aja, DePrau membuat nama karakter begitu unik dan mudah diingat. Kedua sebuah ruangan misterius nomor 351. Itu nomor keramat yang saya sekarang pakai untuk banyak hal. Seperti yang saya pakai jauh hari, nomor saya selalu 31. Seperti nama email: lazione_31@yahoo.co.id setelah membaca buku ini saya jadi menaruh angka 5 diantara 3 dan 1. Sebuah buku bagus salah satu syaratnya adalah selalu memberi kesan mendalam setelah kelar membacanya. City of Ember jelas memberi beberapa hal itu.
City Of Ember | by Jeanne DuPrau | copyright 2003 | Diterjemahkan dari The City of Ember terbitan A Yearling Book, 2003 | Penerjemah Sujatrini, Reno, Rien Chaerani | Penyunting Nuraini Mastura | Penyelaras aksara S. Nilamirasari Abdinegari | Pewajah sampul Windu Tampan | Ilustrator Sweta Kartika | Penerbit Mizan Fantasi | ISBN 978-979-433-561-1 | Cetakan 1: Juni 2009 | Skor: 4/8
Ruang HR NICI – Karawang, 220616 – Sherina Munaf – Mimpi dan Tantangan
#20 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s