Celeng Satu Celeng Semua #19

image

Kumpulan cerpen kelas berat. Walau dulu saya pelanggan Kompas dan selalu menanti kolom sastra di Minggu pagi, tapi cerpen-cerpen Triyanto memang sangat tak lazim. Rumit dan butuh dua tiga kali baca untuk sekedar tahu. Nah buku yang ini saya beli dari teman secara online sebagai penggenap total belanja, Olih – teman saya tadi – memilihkan buku kumpulan cerpen ini. Dengan embel-embel 10 Cerpen Pilihan Kompas 2003-2013, beberapa sudah saya baca di suatu Minggu, beberapa baru pertama, beberapa masih tak paham maksud kisahnya digulirkan setelah tiga kali baca. Memang seperti sudah menjadi ciri khas beliau, penuturannya absurb dan sangat nyastra sehingga saya yang awam ini dibuat pusing.
Buku terasa istimewa ketika ditambah bumbu renyah Kata Pengantar oleh Manneke Budiman, seorang pengajar di Universitas Indonesia dan ditutup dengan esai indah Tia Setiadi. Kumpulan cerpen ini juga menyertakan ilustrasi khas Kompas Minggu. Gambar-gambar yang butuh kejelian untuk menikmatinya.
Maaf, aku telah melukai-Mu. Aku tahu Kau akan marah. Kau tahu Kau akan menggigit telingaku hingga rompal dan bilang, “Kau harus lebih banyak mendengar… Kau tak boleh gegabah menafsirkan segala percakapan-Ku dengan butir-butir embun dan keheningan malam…”
Mata Sunyi Perempuan Takroni
Tentang makam kanjeng Nabi dan Sahabat yang setiap hari dikunjungi banyak peziarah. Komplek makam yang dibatasi jeruji besi dan dijaga aparat. Dipenuhi burung-burung merpati yang mematuki butir-butir habbah yang ditebarkan pengunjung. Zikir, doa, dan lantunan ayat suci yang terdengar sepanjang waktu. Lalu sudut pandang dijatuhkan kepada dua orang perempuan: Zubaedah perempuan buta dan anak pungutnya Zulaikha yang ingin masuk ke pusat makam Nabi. “Kenapa ibu kemudian buta?”
“Mungkin karena ibu telah melihat sesuatu yang tak pantas dilihat oleh seorang perempuan.” Dan kenapa Zubaedah bisa buta pun dikisahkan. Diingatnya petuah ayahnya, “Kalau bisa matilah di Madinah, anakku. Sebagai orang Takroni hidup kita di dunia memang tak segemerlap orang-orang Madinah. Kita tak mungkin jadi warga negara Kerajaan sampai kapanpun. Tetapi, kalau kau mati di sini Nabi akan memberikan surga.”
Seperti Gerimis Yang Meruncing Merah
Tentang Hindun yang mengasah pedang dan mengenang pertempuran sengit di Jabal Uhud. Betapa saat Hamzah mati dan Nabi tersungkur. Kemenangan sesaat kaum Quraisy, kesadaran Nabi berangsur-angsur pulih. Hindun memakan hati Hamzah dan berujar, “Inilah sumpahku, Wahsyi! Aku tak akan puasa lagi. Selesailah pedangku! Lihatlah, aku seperti terlahir kembali.” – dikutip dari film the Message yang dibintangi Anthony Quin dan Irine Papas. Ketika kisah terbentuk nyaris sempurna, kita dilempar ke zaman lain ketika jelang Lebaran. “Hari ini penuh ampunan, ibu. Tak seorang pun akan mengotori dirinya dengan perbuatan busuk. Izinkan aku mengunjungi pusara adikku. Izinkan aku tersungkur dan menangis di keheningan makam itu.” Gerimis bulan November yang kian meruncing merah dan menyakiti?
Sayap Kabut Sultan Hamid
“Hei, jenderal ketahuilah saya yang sejak dulu Sampeyan panggil sebagai Pangeran Dipanegara tidak takut mati. Saya siap dibunuh kapan pun. Kematian toh hanya kabut halus. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. Sekarang, silakan bunuh saya. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa.”
Minggu, 28 Maret 1830 adalah hari bersejarah Indonesia. Di lebaran hari kedua, jenderal de Kock memperdaya pangeran Dipanegara (bahasa Jawa: Diponegoro). Namun dengan gaya bercerita yang unik Triyanto membalut kisah itu menjadi terbaca rumit. “Segalanya sudah diatur. Bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini.”
Malaikat Tanah Asal
Ketika surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir dan tumbuh dari doa serampangan perempuan kencur yang dianggap gila, sekali waktu akan merindukan tanah asal yang kabur. Tanpa sayap, ia akan menumpang kereta, menyusuri rel dan pelacur menatap kabut dan maut, dan merancau tentang hutan yang gaduh.
Itu adalah paragraf pembuka yang terbaca absurb. Memang ini cerpen yang tak mudah dicerna karena di paragraf penutup yang menggunakan kalimat langsung berujar, “Ya, Hayati, malaikat-malaikat itu akan segera mengajak kita belajar terbang ke segala gunung dan hutan pada saat jendela surga ditutup  untuk ayah dan ibu kita.”
Belenggu Salju
“Kalau saja tidak diungsikan ke Los Angeles oleh Oma-mu aku yakin kau juga tak akan meninggalkan kota kelahiranmu, Tito. Kau mingkin tak jadi polisi. Kau mungkin akan jadi penjahat paling busuk di kotamu.”
Dengan setting Amerika, sang sheriff sedang dalam pengejaran geng Morgan. Musuh bebuyutan yang bak serigala susah ditangkap. Apakah salju benar-benar tak akan pernah turun di Compton, kekasihku?
Iblis Paris
Menurutku, ini adalah cerpen terbaik di daftar ini. “Cepat atau lambat kita akan terusir. Karena itu ada baiknya kita terima saja tawaran Khun Sa. Percayalah, ini hanya sementara, Katra. Setelah cukup bekal, kita akan berimigrasi ke Perancis. Bukankah kau ingin hidup berlumur kasih Maria di Lourdes?”
Di Paris, kau tahu, hanya ada iblis yang tergesa-gesa mengetuk pintu dan menusukkan pistol di lambungku yang ringkih tanpa kedhit pengaman. Sudah mati jugakah Tuhan?
Dalam Hujan Hijau Friedenau
Mengenang segala yang kini sering tampak mengabur di langit yang membentang di atas Kanal Landwehr itu, aku jadi malu mengapa pada suatu senja yang pucat aku bilang kepadamu, “Arok, mein schatz, janganlah kamu berbicara tentang hari depan. Apakah kamu tak melihat gelagat ini, bahwa waktu hidupku bersamamu sudah menjelang habis?”
Ini kisah tentang orang-orang terasing yang mencoba bertahan hidup di derasnya ancaman.
Ikan Terbang Kufah
“Kalau mereka yang meledakkan, kita menjadi manusia-manusia kalah. Sudahlah… aku sudah meletakkan bom di makam. Kita tinggal meledakkan dari sini maka perjuangan akbar kita selesai.” Ujar Abu Jenar.
“Jangan! Jangan kau Tuan ledakkan dulu makam keramat itu. Izinkan aku menyelamatkan buku-buku penting di sana. Ketahuilah semua rimayat kampung dan silsilah keturunan Syekh Muso kami simpan di cungkup itu. Jika makam itu Tuan ledakkan sekarang, kami tak akan punya kenangan apapun.” Kiai Siti mencoba mengulur waktu.
Kini kau tahu di mana tubuh Kufah, Kiai Siti dan Zaenab dan ikan-ikan terbang itu menghilang?
Burung Api Siti
Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja telinga Siti tidak ditulikan oleh kicauan bangau, sesungguhnya ada jerit panjang terakhir yang menyayat dari sebelas perempuan dan laki-laki dewasa yang lehernya dipancung oleh para pembantai dari kampung sebelah. Para pembantai itu meneriakan nama Allah berulang-ulang sebelum dengan hati dingin mengayunkan parang, sebelum dengan kegembiraan bukan alang kepalang menusukan bayonet ke lambung.
“Jangan menganggap kami kejam… jika sekarang mereka tak mati, pada masa depan mereka akan membantai seluruh keturunan kami.”
“Ini tugas negara. Tak perlu kalian anggap ini sebagai kekejaman yang tak terampuni…”
“Apakah para bangau bisa menjadi burung api? Semuanya bisa terjadi jika Allah mengizinkan.”
Lengtu Lengmua
Inilah cerpen yang dipilih dijadikan judul. Judul ini merupakan akronim dari “celeng satu celeng semua.” Ungkapan ini bertolak dari pergelaran wayang Ki Manteb Soedarsono berkolaborasi dengan Romo Sindhanuta, Lengji Lengbeh (Celeng siji celeng kabeh).
Tepat tengah malam celeng-celeng yang telah kerasukan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan kepada mereka untuk mendengarkan lagi keributan bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau…
Celeng Satu Celeng Semua – Kumpulan Cerpen | oleh Triyanto Triwikromo | GM 201 01 13 0024 | Copyright 2013 | Editor Mirna Yulistianti | Proofreader Dwi Ayu Ningrum | Design sampul Putut Wahyu Widodo | Ilustrasi sampul Abdullah Ibnu Thalhah | Ilustrasi isi Jumaadi | Cetakan pertama: Juli 2013 | ISBN 978-979-22-9442-2 | Skor: 4/5
Karawang, 220616 – Yusuf Islam – The Wind
#19 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s