Karnak Café #18

image

Inilah buku pertama sastrawan tersohor asal Mesin yang saya baca. Memikat dengan tendensi setiap karakter adalah korban. Novel ini dicipta pasca revolusi Mesir 1952 dan Perang Mesir 1867. Era di mana negeri itu mengalami kegundahan luar biasa, tentang pemikiran, tentang “balas dendam” dan saling tuduh antar golongan. Buku tipis ini adalah sebuah gambaran penuh semangat guna menjelaskan pengaruh kejadian tersebut. Konsekuensinya, dan hampir sirna begitu saja adalah campuran keputusasaan yang luar biasa sekaligus kemarahan yang tak tertahankan. Saya sendiri tak terlalu paham sejarah Timur Tengah dan Negara-Negara Afrika sehingga setelah selesai membacanya saya begitu shock bahwa negara semenanjung Arab itu penuh kudeta dan perang sepertinya tak kunjung akhir.
Permainan psikologis tiap karakter digambarkan dengan sangat lugas. Kisah dibagi dalam empat karakter yang dominan yang menemani Aku, ditambah ulasan sang penerjemah Bahasa Inggris Roger Allen. Cerita mengalir bak sungai tenang yang sesekali beriak karena gelombang. Dibagian pertama adalah Qurunfula, seorang penari era 1940-an yang terkenal dan jadi bintang. Sudut pandang orang pertama, sang aku ini tak sengaja ngopi di Karnak Café dan bertemu dengannya. Sebuah kafe kecil di ujung jalan raya inilah segala setting cerita berpusat. Qurunfula sebaya denganku, pesonanya telah hilang bersamaan berlalunya masa remaja. Namun kecantikannya masih terpancar, ditambah penderitaan air muka yang menyentuh siapapun. Ketenangan jiwa yang ia pancarkan adalah puncak daya pikatnya. Karena itulah berawal dari niatan untuk memperbaiki jam, kini sang Aku ketagihan mampir ke sana.
Suatu hari Qurunfula menhampiriku dan menyapa, “Saya mendapat kesan, Anda telah mengenal saya sebelumnya, benar begitu?” lalu kita berkenalan dan bersahabat. “Sebelum saya, tari perut melibatkan tiga B: Belly (perut), bosom (dada) dan buttock (pantat). Saya mengubahnya ke dalam sesuatu yang lebih bercita rasa.”
Mengalirlah kisah panjang dari mulut Qurunfula. Tentang Arif Suliman yang tergila-gila denganya. “Dia bukan korbanku; dia korban dari ketidakberdayaannya sendiri.” Tentang lika-liku kehidupan masyarat Mesir, tentang revolusi 1952. Perlahan namun pasti Aku menjadi akrab dengan lingkungan kafe. Berkenalan dengan para pengunjung, nongkrong mendengarkan curhat dari berbagai kalangan. Lalu keinginan Qurunfula menulis memoarnya. Dari mereka semua Aku belajar sesuatu yang tidak aku ketahui sebelumnya. Rahasia terdalam yang melibatkan berbagai kejadian sekaligus hati manusia.
Karakter kedua yang diperkenalkan adalah Ismail Al-Syekh, orang dengan perawakan besar tinggi dan kuat. Dari keluarga miskin yang mengelola restoran dan penjaja keliling. Namun dengan kegigihan dan kerja keras, Ismail berhasil menempuh pendidikan Perguruan Tinggi. Sebagai mahasiswa aktif bersuara, Ismail menjadi salah satu orang yang dijebloskan dalam penjara. Penjara mengubah banyak hal. Termasuk sebuah cinta yang rumit terhadap Zainab Diyab.
Karakter ketiga yang diperdalam adalah Zainab Diyab. Seorang periang dan menyenangkan, berkulit hitam manis, tinggi dan ramping. Riwayat keluarganya tak jauh beda dengan Ismail, dari keluarga sederhana penuh kerja keras hanya untuk makan. Berhasil mengantar Zainab kuliah adalah prestasi keluarga. Berpacaran dengan Ismail sepertinya adalah jalan masa depan yang indah. Namun (lagi-lagi) penjara mengubahnya, rencana menikah pasca lulus seakan berantakan. Dari pengakuannya kita tahu masalah apa yang menggantung sepasang kekasih ini, ialah Khalid Safwan.
Karakter keempat yang rasanya ingin kita kutuk di bab ketiga ini awalnya membuatku rancu, bagaimana cara Najib menghadirkannya di kafe. Well, ternyata dibuat dengan bagus dan logis. Seperti yang lain, Khalid jadi bagian dari kafe yang bercerita kepada Aku. Bagaimana akhir kisah ngobrol di kafe ini? Semua dibuat dengan natural. Dengan setting Desember 1971 di mana Mesir dalam kondisi pasca perang semua dituturkan dengan apa adanya. Dan memang perang bukanlah solusi. Perang merugikan semua pihak. Perang akan dikenang sebagai noda hitam sejarah manusia.
“Bukankah terkadang kegilaan masa lalunya membawa kebaikan baginya?” – halaman 10
“Kita semua punya kesempatan mencintai orang-orang yang kita cintai, namun acapkali berlanjut pada perasaan kecewa.” – 15
“Jika kau sungguh-sungguh dimabuk cinta, maka segala perasaan itu akan mendorongmu melupakan yang lainnya, seperti kebijaksanaan, masa depan, sekaligus kehormatan.” – 35
“Aku sangat menderita. Aku tidak beruntung. Aku selalu sial. Tuhan mengutuk hari saat aku dilahirkan dan saat aku datang ke kafe brengsek ini.” – 39
Jauhi kesedihan! Menyerahlah pada takdirmu, berkubanglah dalam lumpur yang tersisa dalam hidupmu. Semoga Tuhan bersamamu.” – 40
“Aku tidak akan merasa sedih jika memang tidak perlu bersedih. Sekarang orang-orang ini menyiksa darah dan daging mereka sendiri. Benar-benar sialan mereka. Ayo, kita ludahi peradaban ini!” – 47
Tertawalah dari hati kalian yang paling dalam, tertawalah sampai para pemilik semua bar di jalan yang ramai ini mendengarkan. – 51
“Saat ini saya sudah dekat kematian. Dalam seminggu atau lebih, saya kan mati. Ya Tuhan mengapa Engkau meski menunda ini? Tak bisakah engkau mempercepat kematian itu sehingga aku tidak harus menghadapi hari yang sangat kelam ini?” – 53
Mereka kembali ke masa lalu yang jauh dan lebih jauh lagi, sampai selanjutnya mereka berhenti pada suatu masa pada abad ketujuh, pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan masa Rosulullah SAW itu sendiri. Mereka berlomba satu sama lain mengangkat masa lalu, mencoba sekuat tenaga menggunakan kekuatan kemegahan masa lalu sebagai upaya melupakan masa depan. – 58
Di kota kami tinggal, ada dua kedudukan yang sangat terkenal, yaitu polisi dan jaksa penuntut umum. Sebagaimana Anda ketahui setiap orang harus berurusan dengan keduanya. – 63
“Dalam penjara, kami merasa benar-benar kehilangan. Membuat goncang fondasi cinta kami satu sama lain.” – 69
Kala seseorang diliputi penderitaan yang mendalam, ia masih bisa memperoleh suatu kebaikan dari penderitaan itu bahkan di saat yang mengerikan sekalipun… – 74 – 75
“Aku bahkan tak bisa mengklaim itu,” sahutnya. “Akhirnya, aku putuskan untuk tidak memutuskan.” Dan sebab itulah mereka bertiga dipenjara. – 96
Kini muncul kebingungan setelah kekalahan. Aku menyaksikan seluruh arena sosial campur aduk bersama hantu, hikayat, cerita, desas-desus, dan lelucon. Konsensus umumnya bahwa kita hidup dalam kebohongan besar di seluruh kehidupan kita. – 98
“Suatu hari cinta kami bakal tumbuh kembali atau sebaliknya mati utnuk kebaikan. Atas dasar itulah kami masih saling menunggu dan itu tidak membosankan bagi kami berdua.” Jadi mereka berdua masih menunggu, tapi kemudian siapa yang ditunggu? – 102
“Kapan hidup akan benar-benar tenteram, aku bertanya-tanya? Apakah kita pada akhirnya sungguh-sungguh bakal membuang jauh-jauh segala kesengsaraan menakutkan ini?” – 111
“Membela sesuatu yang hina bakal menempatkanmu pada kategori serupa..” – 117
“Setiap negosiasi selalu menuntut menyerahan diri.” – 131
“Musuh orang Arab yang paling berbahaya adalah diri mereka sendiri.” – 133
“Kita semua secara bersamaan merupakan pelaku sekaligus korban kejahatan.” – 137
“Penyakitnya ada, tapi obatnya tidak tersedia.” – 138
“Dengar!” katanya. “Suatu hari nanti, dalam waktu dua atau tiga tahun, bocah lelaki ia akan mendapati dirinya sebagai pegawai negeri dengan gaji menyedihkan. Hal itu akan memberinya dua pilihan, tidak lebih: korupsi atau imigrasi.” – 148
“Kebenaran memang selalu merupakan pil pahit.” – 148
Karnak Café | by Najib Mahfudz | copyright 1974 | hak cipta versi Inggris Roger Allen, 2007 | Teks asli Bahasa Arab, Al-Karnak | Penerjemah Happy Susanto | Editor A. Fathoni | Design sampul MN Jihad | Tata letak Priyanto | Cetakan 1, Februari 2008 | Penerbit Pustaka Alvabet | 180 hlm; 18 cm | ISBN 978-979-3064-55-0 | Skor: 4,5/5
Karawang, 210616 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya
#18 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s