Negeri Di Ujung Tanduk #16

image

Di negeri di ujung tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi. Di negeri di ujung tanduk para penipu menjadi pemimpin, para penghianat menjadi pujaan. Bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendiri. Tapi di negeri di ujung tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci. Meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir demi membela kehormatan. – tulisan back cover.
Sebuah sequel dari Negeri Para Bedebah. Sebuah pengulangan. Saya tak menemukan sesuatu yang istimewa. Komentar saya, karena ini sebuah pengulangan ya sama. Ending yang menggantung, dalam tanya pengejaran Mister Shinpei. Thomas sang perlente itu kini lebih matang. Kisah dibagi dalam 33 episode, template buku ‘Fight Club’ dijiplak lagi kini setting di Makau, sebuah pulau kecil yang terkenal akan judinya. Thom beradu dengan jagoan Asia, Lee dan seperti yang sudah-sudah dia menang dan nantinya sang pecundang punya alasan balas jasa, akan jadi kunci eksekusi ending.
Thom ke sana dalam rangka tur seminar politik. Kali ini di Hongkong, temanya komunikasi dan pencintraan politik. Seolah Mario Teguh, membuat terpukau peserta semudah bergurau dengan anak kecil. Edisi ini sang pemanis wartawan bernama Maryam, dari majalah dwi mingguan Asia Pasifik. Sudah bisa diduga, dia akan terlibat dalam aksi-aksi gila. Wawancara yang rencana hanya sejam jadi berjam-jam penuh kekalutan. Sang musuh lebih besar, karena melibatkan pasukan internasional. Mereka dijebak, kapal mereka digeledah dan ‘menemukan’ narkoba. Mereka digiring ke gedung interogasi, di lantai 15 itulah sebuah aksi gila pertama buku ini disajikan. Ketebak sih, pasti (lagi-lagi) ada hubungannya dengan ‘Fight Club’. Mahakarya Chuck Palahniuk itu adalah jaminan solusi segala masalah.
Setelah lolos di ujian pertama, Thom dan tim pulang untuk menghadapi masalah yang lebih rumit. Dalam perjalanan jet, Thom menelepon ‘sang presiden’ menceritakan apa saja yang terjadi dan kecemasan menjelang Pemilu. Thom kali ini menjadi konsultan politik, tema utama mungkin adalah upaya penjegalan calon presiden oleh kekuatan besar. Buku ini pertama terbit sebelum tahun 2014 jadi bisa kita pastikan, sang bapak itu adalah presiden kita saat ini. Sebuah prediksi jitu yang perlu dipuji? Ga lah, semua orang juga tahu beliau akan menang. Saya bahkan sudah YAKIN pak Jokowi akan jadi orang nomor satu ketika pertama menjabat gubernur ibu kota, jadi perkiraan Tere ini bukanlah sebuah prestasi. Biasa saja.
Musuh kali ini sama sebenarnya dengan yang pertama namun karena dibubuhi jelang Pemilu 2014 dibuat lebih besar. Disangkutnya dunia politik kita yang amburadul, jadi seperti apa wajah sebuah negeri di ujung tanduk itu? Berhasilkah sang musuh utama ditaklukkan? Semua dengan mudah ditebak, dan buruknya tebakan itu tepat.
Kovernya bagus, lucu. Lebih bagus ketimbang Negeri Bedebah. Sekumpulan monyet pakai peci dengan berbagai ekspresi. Saya membacanya di awal tahun 2015 dan butuh dua minggu untuk menamatkannya di sela-sela bacaan lain, di bulan Oktober saya memulai ‘tur 14 buku’ Sidney Sheldon. Satu lagi – yang kutahu, upaya Tere menduplikat karya-karya dari Penulis besar. Di buku-buku Sidney sang jagoan seakan unbeaten dan detailnya mengagumkan. Di kisah Tere, karakternya sama namun detailnya buruk. Konfliknya tertebak, dan seakan tak ada cadangan plot untuk menghindar tebakan pembaca. Ini adalah buku Tere yang kubaca ke…, hhhmm… 6 atau 7? Tak ada yang benar-benar membuatku terpukau jadi aneh rasanya, bukunya bisa jadi best seller di mana-mana. Bagian terbaik dari buku ini adalah kisah sayembara, yang sayangnya (mungkin) juga saduran.
“Apakah politik memelurkan moralitas? Hei berapa tahun Nelson Mandela dipenjara oleh rezim kulit putih karena isu moralitas dibawa? Menentang apartheid? Puluhan tahun lamanya. Apa kurangnya moralitas yang dibangun Nelson Mandela? Kesamaan derajat. Itu perintah kitab suci, perintah Tuhan, dikirim langsung dari surga…” – halaman 27
Kandidat kami juga memiliki profil paling diterima pemilih di antara calon presiden lain. Keberhasilannya menjadi wali kota kemudian sukses menjadi gubernur adalah catatan prestasi yang tidak bisa dibantah siapapun. – 58
“Zaman dahulu kala, Tommi ada sebuah kerajaan di daratan Cina yang makmur, kaya raya, terkenal hingga ke negeri-negeri seberang. Kerajaa itu mahsyur di mata orang. Tak ada yang tahu kerajaan hebat itu. Pada suatu hari sang raja hendak menikahkan puterinya yang telah tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Adalah kelaziman di zaman itu, mencari jodoh melalui sayembara. Maka sang raja mengumumkan ke seluruh negeri, juga negara-negara sahabat, sebuah sayembara menarik. Barang siapa berhasil menangkap seekor rusa jantan dengan tanduk paling indah dari hutan terlarang kerajaan, dia akan menikahi puteri semata wayangnya. Sekaligus mewarisi takhta dan seluruh kerajaan. Itu sayembara yang terbilang mudah bukan, apalagi dengan hadiah tak terbilang. Tapi semua orang juga tahu hutan terlarang kerajaan adalah tempat angker bukan kepalang. Tidak sembarang orang bisa masuk dan kembali dari hutan itu, apalagi berburu rusa jantan di dalamnya. Orang-orang sudah terlanjur gentar bahkan saat mendengar nama hutan terlarang itu. Ketika hari sayembara tiba, tidak terlalu mengejutkan peserta hanya sepuluh pemburu yang ikut. Sepuluh orang paling gagah, paling berani, paling cekatan, pandai melepas anak panah, berkelahi tangan kosong datang dari berbagai pelosok negeri dan negera tetangga. Kemeriahan menyergap seluruh ibu kota. Semua penduduk bersukacita. Siapapun yang memenangi sayembara akan menikah dengan puteri. Pemenang sayembara tentulah seorang pangeran terbaik dari yang terbaik. Raja memukul gong di halaman istana, sepuluh pemuda melesat dengan kuda terbaik menuju hutan. Maka tak sedikit rintangan yang dihadapi, melewati pohon rapat, onak duri, lembah dalam, jurang terjal. Menghadapi penguni hutan mulai dari beruang besar, singa lapar, ular buas, hingga naga makhluk legendaris penjaga hutan itu. Menangkap rusa jantan lebih susah lagi. Rusa jantan berlari dua kali lebih cepat dari kuda, matanya lebih awas dibanding elang, dan dia bisa membunuh beruang besar dengan tanduknya. Tujuh pemburu tidak pernah kembali, tewas di dalam hutan, dua pemburu berhasil menangkap rusa jantan. Siapa pemenang sayembara dari kedua pemburu tadi Tommi? Tidak kedua-duanya. Astaga bagaimana bisa? Mereka melupakan pemburu kesepuluh. Dia bukan pangeran gagah perkasa, tubuhnya paling kecil dibanding pemburu lain. Dia tak pandai menunggang kuda, apalagi melepas anak panah, dan dia paling penakut di antara pemburu lain. Dia hanya dibekali kepintaran, sebuah kepintaran licik dan tega. Maka pemburu kesepuluh memutuskan menunggu di gerbang hutan terlarang. Berdiri di sana berhari-hari di sana. Ketika salah satu pemburu berhasil mendapat rusa jantan keluar dari hutan, ia membunuhnya tanpa ampun secara licik. Juga pemburu kedua yang berhasil keluar dengan barang buruannya, pemburu kesepuluh membunuhnya dari belakang. Tugasnya selesai, dia kembali membawa dua ekor rusa jantan dengan tanduk paling indah. Raja takjub melihatnya. Lihatlah, bukan hanya seekor, tapi dua ekor sekaligus. Ini luar biasa. Puteri jelita terpesona dan jatuh hati, seluruh undangan di halaman sorak sorai, menyambut pemburu paling gagah yang akan menikahi puteri raja.” – 328, 329, 330
Negeri Di Ujung Tanduk | oleh Tere Liye | GM 401 01 13 0019 | design dan ilustrasi sampul eMTe | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan keempat, Juli 2013 | 360 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-9429-3 | Skor: 2/5
Karawang, 170616 – Britney Spears – Now and Then
#16 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Advertisements

4 thoughts on “Negeri Di Ujung Tanduk #16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s