Gitanjali #15

image

Inilah buku pertama Tagore yang saya baca, sekitar enam tahun lalu. Kubeli saat rilis film Harry Potter 7 part 2 dan kubaca penuh perenungan di sore kala gerimis datang di kos Adirfa Lamajd. Gitanjali (Gitanjoli) terdiri dari kata “git” (lagu) dan “anjoli” (menawarkan) berarti: “Sebuah lagu persembahan.” Kisah hidup pemenang Nobel Sastra 1913 dari India ini sungguh memukau, berkeliling dunia di kala transportasi tak semewah sekarang. Mengenal banyak orang-orang penting di era penting dunia sebelum pecah Perang Dunia. Rabindranath Tagore lahir di Calcuta, India 7 Mei 1961. Seorang penyair, novelis, musisi, dan dramawan. Mengubah bentuk sastra dan musik Bengali menjadi modern di akhir abad 19.
Saya yang tak terlalu paham puisi dan prosa namun saya terkagum-kagum sama buku ini. Saya ga akan mengulas detailnya, takut salah komentar. Jadi saya hanya akan mengutip bagian-bagian terbaik Gitanjali – padahal setiap paragraf sangat layak dikutip – sehingga kalau kalau dibialng terbaik kurang tepat. Lebih pas kalau saya sampaikan sebagian kutipan itu saya bagi. Selamat menikmati.
Bajing-bajing datang dari cabang pohon dan memanjat ke lututnya dan burung-burung hinggap di tangannya. – halaman vii
‘Dan karena aku mencintai kehidupan ini, aku tahu aku juga akan mencintai kematian’ – xiii
Aku duduk seperti gadis pengemis, menarik bajuku menutupi wajahku, dan ketika mereka menanyaiku, apa yang aku inginkan, aku menundukkan pandanganku dan tidak menjawab’ – xv
Petik bunga mungil ini dan ambillah, jangan tunda! Aku takut kalau-kalau ia terkulai dan jatuh menjadi debu. – 9
Ini adalah pengganjal kakimu dan di sana beristirahat kakimu tempat hidup mereka yang paling miskin dan paling rendah dan tersesat. – 13
Aku hidup dalam harapan untuk bertemu dengannya; namun pertemuan itu belum terjadi. – 16
Awan bertumpuk di atas awan dan ia menjadi gelap. Ah, cinta, mengapa kau membiarkanku menunggu di luar sendirian di pintu? – 22
Pagi pasti kan datang, kegelapan akan lenyap dan suaramu mengalir dalam anak-anak sungai keemasan yang menoreh langit. – 23
Musim semi telah memberikan bunga-bunganya dan pergi. Dan sekarang dengan beban bebungaan yang layu dan sia-sia aku menunggu dan bertahan. – 25
Aku tidak bisa melihat apa-apa di depanku. Aku bertanya-tanya di mana letak jalanmu! – 28
Ia datang dan duduk di sampingku namun aku tidak terbangun. Sungguh tidur yang terkutuk, o diriku yang malang! – 31
Kain kafan yang menutupiku adalah selubung debu dan kematian; aku membencinya, namun memeluknya dengan cinta. – 33
Utangku menumpuk, kegagalanku banyak. Mulutku rahasia dan berat; namun ketika aku datang untuk meminta kebaikanku, aku gemetar ketakutan kalau-kalau doaku dikabulkan. – 33
Tentu saja mereka yang mencintaiku di dunia ini mencoba menjagaku tetap aman. Tetapi sebaliknya dengan cintamu yang lebih besar daripada cinta mereka, kau membuatku bebas. – 38
Namun aku mendapatkan bahwa kehendakmu tidak mengenal akhir dalam diriku. Dan ketika kata-kata lama mati di lidah, melodi baru menyeruak dari hati ini; dan di mana jalan setapak lama telah menghilang, negeri baru terungkap dengan pesonanya. – 43
Yang kuinginkan adalah kau, hanya kau – biarkan hatiku mengulang tanpa akhir. Semua gairah yang mengacaukanku, siang dan malam adalah palsu dan kosong sampai ke intinya. – 44
Ketika gairah membutakan akal dengan khayalan dan debu, o kau yang maha suci, kau terjaga, datang dengan cahaya dan gunturrmu. – 45
Oh sungguh, bagaimana aku dapat memberitahu mereka bahwa untukmulah aku menunggu, dan bahwa kau telah berjanji akan datang. Bagaimana aku dapat mengucapkan dengan malu bahwa aku mendapat kemiskinan ini sebagai maharku. Ah, aku memeluk kebanggaan ini dalam kerahasian hatiku. – 47
Namun waktu berlalu dan masih belum ada suara roda kereta perangmu. Banyak arak-arakan lewat dengan ribut dan teriakan dan kemegahan mulia. Hanya dirimulah yang akan berdiri dalam bayangan sunyi belakang mereka semua? Dan hanya akukah yang akan menunggu dan menangis dan membuat aus hatiku dalam kerinduan yang sia-sia. – 48
Ini adalah kesenanganku, jadi tunggu dan amatilah di tepi jalan di mana bayangan mengejar sinar dan hujan datang untuk membangunkan musim panas. – 51
Dari fajar hingga senja aku duduk di sini di depan pintuku, dan aku tahu bahwa saat bahagia yang tiba-tiba akan datang ketika aku akan melihat. – 51
Malam hampir kehabisan tenaga menunggunya dengan sia-sia. Aku takut jangan-jangan di pagi hari ia tiba-tiba datang ke pintuku ketika aku jatuh tertidur kelelahan. Oh kawan-kawan, biarkan jalan terbuka untuknya – jangan larang dia. – 55
Matahari terbit di tengah langit dan merpati mendekut di keteduhan. Daun-daun kering menari dan berputar dalam udara panas siang hari. Anak gembala mengantuk dan bermimpi di bayangan pohon bayan, dan aku membaringkan diriku dekat sungai dan merenggangkan anggota tubuhku yang letih  di atas rumput. – 56
Akhirnya ketika aku bangun dari tidurku dan membuka mata, aku melihatmu berdiri di sampingku, melimpahi tidurku dengan senyumanmu. Bagaimana aku bisa takut bahwa jalan itu panjang dan meletihkan, dan perjuangan untuk meraihmu berat! – 57
Para ahli banyak di balairungumu, dan lagu-lagu dinyanyikan di sana tanpa henti. Namun nyanyian sederhana dari orang baru ini mengesankan cintamu. Satu nada kecil yang sedih bercampur dengan musik dunia yang megah, dan dengan setangkai bunga sebagai hadiah kau turun dan berhenti di pintu pondokku. – 58
Malam masih gelap ketika genderang berbunyi. Suara itu datang ‘Bangun! Jangan tunda!’ kami menekan tangan kami pada jantung kami dan gemetar ketakutan. Seseorang berkata, ‘Lihat itu bendera raja!’ kami berdiri dan berteriak ‘Tidak ada waktu untuk menunda-nunda!’ raja telah tiba – tapi di mana cahaya, di mana kalung bunga? Di mana singgasana tempat duduknya? Oh, memalukan! Oh benar-benar memalukan! Di mana balairung, hiasan-hiasan? Seseorang berkata, ‘Percuma teriakan ini! Sambut ia dengan tangan kosong, bawa ia ke dalam ruanganmu yang kosong!’ – 61
Aku tidak meminta apa-apa darimu; aku tidak mengucapkan namaku di telingamu. Ketika kau pergi aku berdiri diam aku sendirian dekat sumur di mana bayangan pohon jatuh miring, dan para perempuan sudah pulang ke rumah dengan kendi-kendi tanah cokelat mereka penuh meluap. Mereka memanggilku dan berteriak, ‘Pergilah bersama kami, pagi hari akan meletih menjadi siang.’ Tetapi aku dengan lemah bertahan sebentar hilang di tengah-tengah renungan samar. – 65
Aku berdiri tak bicara dengan malu ketika namaku kau tanyakan. Sungguh, apa yang telah aku lakukan padamu sehingga kau ingin mengungatku? Namun ingatan bahwa aku memberi air padamu untuk menghilangkan hausmu akan melekat pada hatiku dan membungkusnya dalam kemanisan. Pagi telah menjelang siang, burung bernyanyi dengan nada-nada lelah, daun-daun neem mendesirdi atas dan aku duduk dan berfikir dan berfikir. – 66
Malam gelap dan hatiku gentar – namun aku akan mengambil lampu, membuka gerbangku dan membungkuk padanya menyambutnya. Ini pembawa pesanmu yang berdiri di pintuku. – 97
Benda-benda yang aku rindukan dengan sia-sia dan benda-benda yang aku punyai – biarkan mereka berlalu. Tapi biarkan aku benar-benar memilikibenda-benda yang pernah aku tolak dan abaikan. – 103-104
Aku memasukkan kisahku mengenaimu ke dalam lagu-lagu abadi. Pancaran rahasia keluar dari hatiku. Mereka datang dan bertanya padaku, ‘Ceritakan semua pengertianmu.’ Aku tidak tahu bagaimana menjawab mereka. Aku berkata, ‘Ah siapa yang tahu maksud mereka!’ mereka tersenyum dan pergi dengan mengeluarkan cemooh. Dan kau duduk di sana tersenyum.  – 111
Seperti sekawanan bangau yang rindu rumah yang terbang siang dan malam pulang kembali ke sarang-sarang pegunungan mereka biarkan seluruh hidupku melakukan perjalanannya ke rumah abadinya dengan satu salam untukmu. – 112
Gitanjali: Lagu Persembahan, Prosa Cinta & Kehidupan | by Rabindranath Tagore | judul asli Gitanjali | copyright 1912 | Penerjemah Anna Karina | Editor bahasa Sandiantoro | Design sampul Yoyok | Pemeriksa aksara Agus Hidayat | ISBN 978-602-95979-0-5 | cetakan I: Januari 2010 | Penerbit Liris | Skor: 5/5
Karawang, 160616 – Matchbox Twenty – Put Your Hands Up
#15 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Iklan

One thought on “Gitanjali #15

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s