Gadis Ketiga #14

image

Agatha Christie akan selalu saya kenang sebagai salah satu Penulis yang membuatku cinta buku. Ingat betul ketika itu ada seorang teman sekolah membawa salah satu buku karya beliau, katanya betapa buku itu sangaaat memukaunya. Setelah saya pegang dan amati, saya tanya ke temanku  darimana mendapat buku (semacam) ini? Ia pinjam ke Perpus Daerah Solo di Jebres, so saya pun mendaftar anggota dan meminjamnya. Berkat buku ‘Ten Little Niggers’ atau lebih kita kenal dengan ‘Then Were None’ itulah yang memicu dunia imaji literatur gejolak mudaku. Sepuluh tahun lalu saya berhasil mendapat buku itu dan masuk ke rak koleksi, pengen saya ulas sebenarnya namun rasanya terlalu agung sehingga saya ambil karya Christie yang lain. Salah satu pengaruh Christie kepada saya secara langsung adalah pemilihan diksi ‘saya’ sebagai orang pertama tunggal. Dalam segala tulisan saya, saya lebih sering memilih ‘saya’ ketimbang ‘aku’. Walau di kisah-kisah lainnya perpaduan itu dimainkan dengan sangat dinamis, tapi dalam narasi semua terjemahan Christie (dan mayoritas buku-buku terbitan Gramedia lain) menggunakan ‘saya’. Terdengar biasa, tapi kalau mau ditelaah lebih lanjut ini sungguh luar biasa.
Gadis Ketiga adalah buku dengan kisah sangat tipikal Christie. Karena sudah membaca bukunya, hhmm… tujuh atau delapan atau mungkin lebih jadi alurnya begitu akrab. Selalu mencoba mengecoh pembaca, menggiringnya menentukan pelaku kejahatan. Lalu ketika pola itu berhasil mengelabui, pembaca akan diajak tamasya ke pokok lain yang tak terduga. Mengikuti penelusuran sang tokoh (detektif) dengan sudut pandang yang tak di sangka. Lalu pemecahan dicipta, biasanya membuat takjub akan alur karena akhirnya twist. Nah, buku ini seperti itu. Ketika kesimpulan sepertinya sudah diambil, jangan langsung percaya. Apalagi kalau lembarnya terasa masih lumayan banyak. Pasti itu tipuan Christie.
Ini salah satu seri detektif legendaris Hercule Poirot. Kisahnya unik sedari pembuka. Poirot yang sudah tua dan pensiun sekedar mengistirahatkan otak, suatu hari kedatangan tamu. Gadis belia – kata George pelayannya, sedang ingin bertemu. Awalnya ia akan menolak tamu, namun karena sang pelayan mengatakan ‘mungkin ia melakukan pembunuhan’. Sebagai detektif kata itu tentu saja sangat menggelitik. Setelah mempersilakan bertemu. sang gadis ragu, gugup dan sangat tak enak hati. Poirot heran, mendengar dengan kening berkerut karena sang gadis berubah pikiran dan kembali pulang setelah bilang, “Anda terlalu tua. Tak ada yang memberitahu saya bahwa Anda sudah begitu tua. Saya betul-betul tidak mau bersikap tidak sopan, tetapi – itulah. Anda terlalu tua. Maafkan saya.”
“Kata-katanya menyakitkan hati saya.” Kata Poirot kepada Ariadne Oliver, penulis kisah-kisah detektif sahabatnya ketika mereka dalam jamuan minum cokelat di suatu sore. “Saya mengkhawatirkan gadis itu. Dia datang kepada saya untuk meminta bantuan. Lalu dia memutuskan bahwa saya terlalu tua. Terlalu tua untuk dapat membantunya. Tentu saja ia keliru, itu sudah tidak diragukan lagi, dan kemudian dia lari begitu saja. Tetapi Anda saya beritahu, gadis itu membutuhkan bantuan.”
Namun betapa terkejutnya Poirot ketika Oliver bilang, “Anda tidak akan tahu sebelum diberitahu. Dan sekarang saya beri tahu. Saya baru ingat bahwa sayalah yang mengirim gadis itu kepada Anda.” Haha…, walaupun secara tak langsung Oliver menyarankan kepada sang gadis namun kepada Poirot-lah akhirnya kisah ini akan dipecahkan. Tidak ada yang lebih mudah daripada memberikan keterangan yang samar-samar. Dan Christie akan bertutur secara samar sepanjang buku sampai di seperlima akhir.
Dalam sebuah kontrakan. Gadis pertama Claudia Reece-Holland, seorang yang baik. Tak pernah neko-neko, tak pernah ikut pesta gila-gilaan, tidak minum minuman keras, tidak berandalan. Gadis kedua Frances Cary, seorang aktris yang bekerja di gedung kesenian Wedderburn di jalan Bond. Gadis ketiga adalah yang paling aneh karena memiliki ‘kekurangan’ bernama Norma. Ia seperti gadis penuh halusinasi, inilah karakter yang bertemu Poirot di bagian pembuka. Entah sadar atau tidak ia merasa telah membunuh seseorang. Di kontrakan itulah, Poirot melacak. Ketika segala tuduhan mengarah ke Norma, pembaca digiring untuk mempercayainya. Namun di tangan Poirot, dan kini dibantu Oliver segala yang terang jadi kabur dan akhirnya buyar seketika setelah pelan namun pasti kita dikenalkan lebih dekat masa lalu Norma. Keluarga Norma dan segala kerumitan hidup di sekelilingnya. Jadi konspirasi seperti apa yang membuat Norma ‘dengan bodohnya’ bilang telah membunuh seseorang? Akankah benar atau khayal? Di mana keadilan harus ditegakkan, silakan menikmati salah satu seri terbaik detektif Hercule Poirot ini.
Luar biasa, ada kisah dengan penuturan seperti ini. Saya terhanyut dan salut sama pola pikir Poirot. Banyak sekali kutipan yang ingin saya bagi, berikut di antaranya.
Ketidakbijaksanaan orang-orang muda akan berlalu. – halaman 54
“Manusia menaruh perhatian kepada banyak hal.” – 65
“Di mana ada pembunuhan, apa pun bisa terjadi. Saya telah memperingatkan Anda. Saya, Poirot.” – 75
Saya pikir ada bahaya. Bahaya bagi siapa saja yang mau turun campur di mana kehadirannya tidak dikehendaki. Ada bau kematian di udara – saya tidak menginginkan itu kematian Anda. – 82
Dia hanya perlu beristirahat, menikmati kesantaiannya; berdiam diri sampai timbul lagi dorongan untuk berkarya. – 89
Kita tidak pernah memperhatikan rumah semut dengan seksama. Tampaknya begitu tidak berarti kalau kita mengusiknya dengan ujung sepatu. Dan makhluk-makhluk kecil itu bergegas keluar membawa rumput di mulut, berbondong-bondong dengan tekun, khawatir dan was-was. Tampaknya mereka berlari kian kemari, tetapi tidak mencapai tujuan mana pun. Namun, siapa tahu barangkali mereka sama teraturnya seperti manusia-manusia ini. – 98
Di sebuah meja dekat dinding, duduklah si gadis Norma, dan di hadapannya duduk seorang pemuda dengan rambut cokelat yang tebal berombak sampai ke bahunya, memakai kemeja beludru merah dan jaket yang amat mencolok. – 102
“Itulah bagian yang paling ajaib. Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, tetapi aku sama sekali tidak ingat pernah mengatakannya. Mengertikah kau? Dari waktu ke waktu aku – aku mengatakan sesuatu kepada seseorang. Aku menceritakan hal-hal yang ingin kukerjakan, atau akan kukerjakan, atau yang telah kukerjakan, atau yang akan kukerjakan. Tetapi kemudian aku tidak ingat pernah bercerita apa-apa. Seakan-akan aku cuma memikirkan semua ini di dalam otakku, dan terkadang pikiran itu keluar dengan sendirinya dan aku bercerita kepada orang lain. Aku sduah menceritakannya kepadamu, bukan?” – 105
“… aku tidak ingat di mana aku sebelumnya… ada satu jam penuh yang hilang dari ingatanku malam ini…” – 109
“Dikenali seorang gadis yang hanya pernah bertemu satu kali dan untuk waktu yang singkat itu membuat orang menjadi besar hati.” – 114
“Orang tidak selamanya sama dengan apa yang ada di dalam ingatan kita. Jika kita mau mengingat mereka sebagai orang-orang yang menyenangkan, dan riang, dan tampan, kita sendiri yang melebihkan segalanya di dalam ingatan kita daripada yang sesungguhnya.” – 121
“Anda saya beritahu, saya tahu banyak.” – 125
“Cinta bisa berubah menjadi kebencian.” – 147
“Pada dasarnya justru lebih mudah berbicara tentang hal-hal demikian kepada orang  yang tidak dikenal daripada dengan teman atau kenalan.” – 165-166
Saya sebenarnya adalah manusia alam bebas. Barangkali itulah sebabnya ketika saya kawin dengan istri pertama saya, saya  merasa masuk perangkap. Diganduli. – 169
Hal ini malah memperkuat keyakinannya sejak dulu bahwa orang tidak boleh percaya kepada apa pun yang dikatakan orang lain sebelum mengujinya terlebih dahulu. ‘curigailah setiap orang’ merupakan semboyannya sejak bertahun-tahun kalaupun tidak selama hidupnya. – 172
“Berhasil menemukan Anda,” katanya gembira. “ Buku telepon memang barang yang hebat.” – 184
Tetapi dokter-dokter itu adalah manusia tolol semuanya, seperti yang sudah kita ketahui. Apa yang suka mereka lakukan adalah  mencegah orang menikmati hal-hal yang disenanginya. – 185
“Barangkali saya kolot, tetapi saya lebih suka naik kereta api. Berangkat tepat waktu , tiba tepat pada waktunya pula, atau seharusnya tepat pada waktunya. Tetapi dengan mobil-mobil itu, mereka harus antri pada jam-jam sibuk dan orang harus membuang waktu satu setangah jam lebih daripada yang diperlukan. Huh! Mobil! Bah!” – 194
“Masalahnya, sekarang wanita-wanita sudah tidak sempat menghargai pemuda-pemuda yang tekun bekerja. Mereka lebih suka tipe pemuda tipe yang buruk – tipe pencuri. Biasanya mereka berkata, ‘Dia tidak pernah punya kesempatan, kasihan anak ini.” – 198
Anak-anak lelaki sudah pernah memaki-maki dan anak-anak perempuan sudah pernah menangis, tetapi uang adalah uang. – 199
“Pada akhirnya ini sesuatu yang rumit. Terlalu banyak kaitannya. Sekarang kita mendapat kasus spionase dan kontraspionase. Yang saya cari cuma satu pembunuhan yang sederhana. Saya mulai curiga bahwa pembunuhan itu hanya ada di dalam otak seorang pecandu narkotika.” – 204
“Oh, justru itulah yang harus saya lakukan. Saya mencurigai setiap orang. Mula-mula saya mencurigainya, kemudian saya mencari motifnya.” – 214
“Nah, saya selalu berkata, kalau orang mencari karyawan, sebaiknya mencari yang wataknya dapat dipastikan, dan ambillah orang Inggris.” – 233
Uang… rasanya semua faktor yang melintasi otaknya akhirnya bertemu di titik ini juga. Uang. Pentingnya uang. Dalam kasus ini ada banyak uang yang terlibat. – 259
“Gadis-gadis di masa lalu sudah pernah melakukannya, dan di masa yang akan datang mereka masih akan melakukannya.” – 261
“Dia akan lebih mudah ditemukan jika mati daripada hidup, percayalah. Tenanglah…” – 264
“Saya pikir juga begitu,” kata nyonya Oliver. “Anda memikirkan segalanya, bukan?” – 351
Gadis Ketiga | by Agatha Christie | copyright Agatha Christie Limited, 1966 | diterjemahkan dari Third Girl | Alih bahasa Joyce K. Isa | GM 402.84.120 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | gambar sampul Srianto | Pertama kali terbit November 1984 | Cetakan ketujuh, Juni 2000 | ISBN 979-686-120-8 | Untuk Nora Blackborow | Skor: 4/5
Karawang, 150616 dini hari di laga Portugal – Raihan – Ashabul Kahfi
#14 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s