Derai Sunyi #13

image

Meskipun sunyi itu keheningan pekat. Kosong, tanpa suara. Tapi, kerinduan atas orang-orang terkasih adalah sunyi yang gemerisik pada helai daun, tanah dan udara. – Diilhami dari kisah nyata penganiayaan PRT di Surabaya.
Terkadang prediksi kita meleset. Eh sering perkiraan meleset lebih tepatnya. Tahun 2004 ketika saya selesai membaca novel ini saya menangis, benar-benar air mata kesedihan yang mendalam atas apa yang terjadi pada Sri Ayuni sang tokoh utama di kisah ini. Begitu kejam dan menyayat hati nurani. Saat itu saya berprediksi, novel ini hanya tinggal waktu, pasti akan diangkat ke layar lebar. Kini 12 tahun berselang, justru novel-novel yang tak jelas lokal yang berlomba diadaptasi. Buku sebagus ini bahkan seakan tak ditengok sekedar isu untuk digambarkan di bioskop. Yah, masa depan siapa yang tahu?
Kisahnya perih, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang tak terbatas. Sebelum dimulaipun kita sudah tahu akhir nasib Sri. Kenapa? Karena di bagian pembuka sudah diberitahukan bahwa ini berdasar kisah nyata penganiayaan Pembantu Rumah Tangga (PRT), dan seperti yang sudah sering kita lihat di berita-berita yang menghiasai istirahat siang. Pilu.
Berisi lima bagian yang dipecah dalam sub-bab kita disuguhi sebuah kisah panjang tentang seorang remaja putri yang punya mimpi namun kandas di kerasnya hidup. Kisah dibuka dengan kepedihan rindu ibu kerhadap anak bungsunya yang pergi merantau tapi tak kunjung kembali, bukan. Tak ada kabar lebih tepatnya. Dengan air mata menetes ia meraih Al Quran, memulai hari dalam tanya pada diri sendiri. Ia ingin melihat kebenaran walau itu pahit. Kapan? Kapan bidadarinya kembali? Gusti Pengasih, kapan? Ia tahu tak baik memburu-buru Tuhan. Makhluk-Nya yang meminta bukan cuma dia. Miris, air matanya kembali menetes.
Lalu kisah kembali ditarik dari depan. Sri Ayuni adalah si ragil dari tiga bersaudara. Ayah dan sulung Mas Tarjo meninggal dalam kecelakaan, angkot mereka diseruduk kereta. Meninggalkan ibu, Sri dan Ning. Mereka memang dari keluarga sederhana, mbak Ning tak sempat menamatkan SLTP namun pintar. Kegigihannya dalam belajar membuatnya tetap setaraf lulusan SMU — bahkan lebih. Sekolah tak hanya di bangku sekolah. Ia tak suka berdandan, membiarkan segala apa adanya. Bersama Sri mereka saling menopang menjalani hidup.
Tekad Sri untuk membahagiakan ibu sudah bulat. Penghasilan dari desa di pesisir pantai tak akan cukup untuk mereka. Mbak Ning selalu bersikukuh agar bertahan. Ada banyak cara untuk menggapai mimpi bersama, tak harus keluar kota. Jauh nan misteri. Namun, seperti di pembuka, “Ibu, Sri pamit…” dari kota Tegal itulah Sri menantang ibu kota. Matahari terik mengiringi kepergian mereka.
Bersama Mas Arik sepupunya, mereka naik kereta api. Dalam perjalanan, Mas Arik bercerita bahwa calon majikannya mempunyai rumah dengan tiga lantai dan tiga pembantu. “Barangkali satu tukang cuci dan setrika, satu tukang masak dan satu tukang kebun. Dan kamu mungkin akan melayani dua anaknya, atau untuk bantu beberes.” Fakta rumah dengan tiga pembantu, belum lagi sopir dan satpam membuat Sri, gadis lugu ini takjub. Ia akan berjuang demi ibu!
Harapan besar tu luluh bahkan hanya beberapa menit setelah Mas Arik menyerahkan Sri kepada Nyonya Lili, majikan. Sri yang berkerudung diminta melepasnya. Sri yang menjawab dengan anggukan dibentaknya, “tak punya mulut?” Sri yang polos itu kini benar-benar menghadapi kerasnya kehidupan. Di rumah itu ada Mak Iin yang dituakan. Ada Onah dan Wati yang saling membahu dan nasibnya sama saja, kena omeh dan tampar menjadi rutinitas. Penganiayaan di depan Sri membuat tekad untuk bertahan itu luruh. Pak Hendri majikan pria terlampau sibuk sehingga tak tahu menahu. Kedua anaknya, Non dita yang baru berusia 14 tahun sama kejamnya. Sedang Den Ivan yang baru TK lebih mudah di-emong. Mungkin karena Sri yang bungsu, sehingga ketika melihat anak kecil rasanya seperti memanja seorang adik.
Nah nyonyanya yang galak itu akhirnya memainkan perannya. Jilbab Sri direnggut, ia dikucilkan di lantai atas tanpa diberi makan. Dengan kain gorden ia yang terluka mencoba tetap menjalankan sholat. Dengan air mata meniti ia ingat sama Mbak Ning dan ibu. Ingat harapan-harapan sebelum datang ke Jakarta. Lapar dan letih, ia bersenandung lirih. Saat membacanya saya ikut merinding, bayangkan suatu ketika di layar lebar diiringi akustik yang menyayat. Sebuah drama kehidupan yang megah nan menusuk.
Amening zaman edan | ewuh aja ing pambudi | mule edan ora tahan | jen tan melu anglakoni | boja kadumen melik keliren | wekasanipun dilalah karsa Allah | begjane kang lali | luwih begja kang engling lan waspada.
Penganiayaan demi penganiayaan yang dialami Sri membuyarkan segala mimpinya. Ujung kisah ini memang bukan tanya nasib Sri di rumah neraka. Setelah penderitaan itu, kita lalu diajak mengenalnya lebih jauh dari masa lalu. Dan munculnya karaketr lain yang akan saling silang. Dengan tema sama, kasih cinta kepada seorang  ibu. Lalu setelah segala detail yang sedu sedan kita diajak menelusuri tanya sang ibu dan perjuangan Ning mencari jawab. Berhasilkah?
Endingnya sungguh membuat merinding. Sepi, sunyi dan penuh luka. Betapa para majikan yang suka menganiaya pembantu perlu kembali merenungkan arti sebuah kesabaran, arti berbagi dan hidup yang hanya sekelebat. Ketika kita merasa hopeless, kita harus selalu ingat ada Yang Maha Segalanya. Tak ada yang bisa mencegah segala keajaiban yang Dicipta. Cerita penuh pesan moral yang layak ditelaah lebih mendalam. Derai sunyi, sebuah kisah pilu pembantu. Profesi mulia yang dipandang sebelah mata ini berhasilkah mengusik para produser film kita? Kalau sampai 50 tahun lagi tak terwujud masuk bioskop, kebangetan sekali!
Derai Sunyi | oleh Asma Nadia | ilustrasi Dyotami Febriani | design sampul dan isi Andi Y.A. | Diterbitkan oleh Penerbit DAR Mizan | Cetakan III, Rabiul Awal 1425 H – Mei 2004 | 240 hlm.; ilus.; 17 cm | ISBN 979-3035-54-4 | Skor: 4,5/5
Karawang, 140616 – Coldplay – Viva La Vida
#13 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s