Lelaki Harimau #10

image

Inilah masterpiece Indonesia yang berhasil menembus kancah internasional. Sepuluh tahun lalu saya menemukan banyak buku ini dengan cover lama berserakan di toko buku dengan diskon gila-gilaan. Kupikir waktu itu ini buku ga laku? Berjalannya waktu, kualitas akhirnya berbicara. Buku ini mendapat perhatian banyak reviewer bernada positif. Lalu ketika penerbit luar mulai berlomba membeli hak terjemahannya, barulah saya ikut terbawa arus penasaran. Buku Eka pertama yang kubaca adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Lunas baru kemudian buku ini. Saya membaca Seperti Dendam juga gara-gara seorang wartawan bola senior merekomendasikan, dan ternyata cukup memuaskan sehingga berburu buku lainnya. Dan Lelaki Harimau luar biasa sukses membuatku terkagum-kagum atas plot, gaya bahasa, dan penuturan yang tak lazim. Seperti memasuki dunia imajinaf yang menyesakkan, dan tur kisah ala Eka benar-benar enak diikuti. Ikut bangga ada Penulis lokal dengan kualitas mumpuni.
Seperti buku-buku klasik yang bagus, buku ini tak banyak cingcung ucapan terima kasih, cuap-cuap ga jelas atau prakata tak tentu arah. Kita bahkan tak diberi daftar isi, tak dijelaskan sinopsis panjang lebar di back cover. Hanya paragraf pendek bertuliskan: Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim pemburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan penghianatan, rasa takut dan birahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.” Lihat betapa ringkas dan menatap penuh tanya arti sekelumit kalimat itu. Dan ketika kita buka, kita langsung diajak berfantasi ke dunia Eka sesunguhnya.
Cerita dibuka dengan sangat gamblang, Margio membunuh Anwar Sadat. Senja itu ketika Kyai Jahro sedang memberi pakan ikan di kolamnya, datanglah Mayor Sadrah dan Ma Soma memberikan kabar duka. Margio yang sedari siang menenteng samurai dikiranya menghentikan nyawa Anwar dengan senjata asal Jepang. “Bocah itu menggigit putus urat lehernya.” Sebuah fakta mengerikan, pembunuhan dilakukan dengan gigitan. Membayangkannya saja membuat begidik. Kyai Jahro yang sudah berpuluh tahun memimpin sholat jenasah, shock. Sepertinya tak ada tanda dendam pada bocah bersama Margio kepada lelaki tua Anwar, namun inilah faktanya.
Margio adalah anak pemurung yang tak betah di rumah tapi sesungguhnya anak yang manis dan santun. Ia tak terlalu bodoh menyia-nyiakan kekuatan tubuhnya dalam perkelahian, dan sepanjang hari mengambil kerja serabutan untuk menyia-nyiakankannya dalam bungkus rokok dan botol bir tapi tetap saja ia anak manis meski pemurung. Semua orang tahu ia benci ayahnya dan semua yakin ia bisa menghabisinya, namun sampai Komar bin Syueb mati ia tak pernah mencobanya sedikitpun. Ia sungguh tak banyak polah. Maka ketika ia mendengar Margio membunuh, bagaimanapun Mayor Sadrah masih belum mempercayainya.
Mayor Sadrah veteran pejuang memiliki motor Honda 70, didapat dari kepala polisi yang mungkin mendapatkannya dari sitaan barang curian yang tak berpemilik. Tanpa surat dan kelengkapan, namun tentu saja tak pernah ketilang. Dengan sandal jepit, rokok mengepul dan tanpa helm. Tamasya sore kegemarannya, sesekali mampir bengkel untuk mengencangkan sekrup motor tuanya atau mampir ke warung ngopi. Sore itu bersama Ma Soma memberitahu kabar menggemparkan itu kepada Kyai Jahro.
Selanjutnya kita disuguhi detail akan dan sesudah kejadian. Betapa Margio yang anak manis itu berubah setelah kematian ayah dan adiknya. Permasalahnya kata Agung Yuda teman bedundalnya, Margio pasca kehilangan ayahnya tampak bahagia. Kematian Anwar membuatnya diseret ke sel, lalu setelah sholat jenazah Mayor Sadrah mengunjunginya. Akhir bab satu seperti yang disampaikan di synopsis singkat back cover, “Ada harimau di dalam tubuhku.”
Di bab dua kita diajak kembali ke focus ke awal sebelum kejadian. Awal kemunculan harimau putih, jelmaan lelembut yang dimiliki beberapa warga di sana. Sebagaimana diturukan Ma Muah, pendongeng desa. Beberapa dari mereka memilkinya sebab kawin dengan harimau, yang lain memperoleh dari warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kakek Margio memperoleh itu dari ayahnya, dan ayahnya dari ayahnya, dan nenk moyang yang barangkali tak lagi diingat siapa yang pertama kali kawin dengan harimau. Margio mengetahuinya setelah suatu subuh ketika ia tidur di surau kakinya ada yang mengibas, ternyata seekor harimau putih, warisan kakeknya. Margio memang lebih dekat dengan sang kakek ketimbang orang lain. Ayahnya Komar Bin Syueb adalah lelaki dengan banyak masalah. Pernikahan dengan Nuraeni awalnya seperti kisah roman masa lalu antara gadis desa dan pria rantau yang kepulangannya penuh damba. Pernikahan yang menghasilkan tiga anak, Margio si sulung, Mameh yang aneh dan Marian yang tak berumur panjang. Suatu hari ketika di rumah nomor 131 itu ditemukan Komar Bin Syueb meninggal. Kisah ini malah ditarik jauuuuuh ke belakang. Awal mula terbentuknya keluarga ini.
Keluarga ini pindahan. Seperti yang diingat Margio sebagai “Tamasya Keluarga Sapi”. Mereka melalui perjalanan nan religius melewati jalan buruk. Sesunggunya ada jalan beraspal yang bisa dilalui namun Komar takut sapi-sapi itu terganggu atau menggangu pengendara lain sehingga ia memutuskan melewati bukit. Well, perjalanan ini mengingatkanku pada novel 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez. Perjalanan yang menyentuh hati sebuah keluarga.
Setelah bab tiga dan empat yang melelahkan nan indah. Bab terakhir kita pun dibimbing ke eksekusi akhir. Tentang Maharani, anak Anwar Sadat yang mengucap cinta pada Margio. Tentang cinta remaja penuh gelora. Sampai di sini tampak sekali Eka mencoba menggiring Pembaca untuk membentuk motif pembunuhan. Namun ketika gumpalan itu mulai tampak, Pembaca dihempaskan lagi. Apakah motifnya cinta terlarang? Hhhmmm…, kisah ini terlalu klise disebut masterpiece kalau hanya karena kasih tak sampai. Apakah cinta mereka akhirnya bersatu? Lalu apa sebenarnya motif Margio menggigit leher Anwar?
Saya mencatat ada empat keistimewaan novel ini. Pertama gaya bercerita yang tak biasa. Mengingatkanku pada penulis Inggris George Orwell yang bilang, buatlah cerita dengan penuturan yang tak lazim. Novel ini jelas banyak susunan kalimat yang tak pada umumnya. Kedua ada dunia imajinatif yang indah untuk diraba Pembaca, dan Eka sukses memetakannya. Seperti harimau putih yang ada di tubuh karakter, itu semacam mitos di kampung-kampung yang memang banyak percaya. Ketiga surealis magis ala Garcia Marquez sukses dipetakan. Seperti yang kita tahu, Penulis Latin ini terkenal karena gaya Bahasa yang surealis seperti perjalanan pindahan yang dituturkan dengan menakjubkan. Memang banyak yang mencoba meniru gaya tulisan Marquez namun sejauh ini lebih banyak yang gagal, nah Eka dengan gemilang mengaplikasikannya. Kebetulan saat ini saya sedang membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer, mirip-miriplah. Kalau Marquez sudah dapat dan Pram menjadi nominasi Nobel Sastra, bagaimana dengan Eka?
Keistimewaan keempat adalah Eka dengan sangat jeli menyimpan motif. Kita sudah tahu siapa yang mati dan alur merenggang nyawa si Anwar tapi tahukah kalian, sampai kalimat terakhir buku ini barulah kita tahu apa motif sebenarnya. Awalnya pembaca digiring untuk simpati lalu dihempaskan tak terperi sehingga motif itu terasa, “Oke bisa diterima. Selamat!”
Adaptasi film sepertinya hanya tinggal tunggu waktu. Saya membayangkan film akan ditayangkan di festival-festival dunia dan mendapat applaus standing. Inilah buku yang sangat amat pantas dikoleksi, ditelaah dan dibicarakan sampai dengan 50, 60 tahun yang akan datang. Eka sudah membuat mahakarya yang akan jadi warisan Indonesia buat Dunia. Kelak saya percaya, buku ini akan jadi literasi sastra (minimal) Indonesia yang dibahas di sekolah-sekolah dan bangku kuliah. Lelaki Harimau, putih serupa angsa!
Lelaki Harimau | oleh Eka Kurniawan | diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2004 | GM 20101140028 | Cetakan pertama (cover baru), Agustus 2014 | layout isi Noviprastya | ISBN 978-602-03-0749-7 | Skor: 5/5
Karawang, 100616 – Yusuf Islam – The Wind
#10 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

6 thoughts on “Lelaki Harimau #10

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s