The Last Siege #9

image

Inilah buku Jonathan yang paling mengecewakan sejauh ini. Saya membacanya karena kepincut sama trilogy Bartimaeus dan Hero of Valley. Di cover di bawah nama tertera: Pengarang The Bartimaeus Trilogy. Bukti bahwa kisah jin nyeleneh itu menjual dan sukses. Beberapa buku memang tak bisa disamakan ekspekatsinya walau dengan penulis yang sama. Pengepungan Terakhir bisa jadi adalah anomali kualitas hebat Jonathan, beberapa detail yang coba menjadi bagian indah kisah ini malah terjatuh bosan. Membuat peta untuk membuat imaji pembaca lebih masuk namun gagal. Entah apakah karena ini bukan kisah dunia lain yang menjadi trade mark-nya atau memang dibuat dengan genre lebih ringan untuk remaja. Semula memang saya kira aka nada imajinasi masuk ke dunia lain, namun sampai akhirnya kelar baca tak ada sama sekali makhluk-makhluk gaib yang ditunggu.
Buku dimulai dengan sebuah denah benteng yang akan jadi setting nyaris seluruh cerita ini. Denah yang memperlihatkan 4 lanta: dasar, satu, dua dan menara. Lalu buku dipecah dalam beberapa bab dan sub bab. Bab pertama tentang Pertempuran Kecil. Pengenalan karakter utama. Bahwa Emily mengakui sebuah dosa tentang kegiatan permainan salju. Kalimat pertama ini sangat penting. Karena seperti di kalimat terakhir, ada sebuah ironi dan tanda tanya besar yang harus dipecahkan. Di sebuah bukit bersalju Emily bertemu remaja kesepian lain, Simon yang bermasalah dengan keluarga dan Marcus yang kepalanya penuh imajunasi. Mereka menantang sebuah kastil tua untuk ditaklukkan. Bagusnya Jonathan, dia berhasil menggiring pembaca bahwa Marcus yang imajinatif, Simon yang pemberani dan Emily yang penakut itu menjadi kekuatan, dialog-dialognya mengena dan apa adanya. Namun tidak, semua penuh kamuflase. Pembaca berhasil ditipu pengenalan yang awalnya seperti nyata namun ternyata satu demi satu terkuat kebohongan.
Mereka bertiga akhirnya menginap di sana dan merasakan histori benteng itu. Lalu acara yang awalnya akan berjalan tenang menjadi kengerian ketika salah satu tokoh berbohong. Emily, Simon, Marcus ada penghianat di antara mereka. Lalu sebuah fakta menimbulkan kemarahan ayahnya. Benteng itu lalu perlahan dikepung. Dari pemadam kebakaran, polisi sampai warga. Acara menginap itu kini jadi sebuah sergapan, mereka bertiga coba bertahan. Sampai di adegan pertempuran, saya sempat berharap aka nada makhluk gaib yang campur tangan, namun tak muncul. Bahkan ketika akhirnya buku kuletakkan, endingnya menggantung membiarkan pembaca menafsirkan sendiri makna penaklukan kastil.
Saya malah menangkap banyak kutipan yang bagus, yang saying kalau tak dibagikan.
“Ruang penjaga ini pasti berhantu. Pikirkan peperangan yang pernah terjadi di balik tembok ini. Semua serangan. Pasti banyak sekali yang sudah terjadi. Pasukan pemanah di sini pastilah yang terbaik. Mereka sudah membunuh ratusan orang.” – halaman 38
“Dipukuli oleh musuh bukanlah hal yang memalukan. Dalam setiap pertempuran semuanya sama. Pihak yang bertahan akan melawan dengan serangan mendadak, membuat mereka yang menyerang kabur…” – 49
Emily dapat merasakan jantungnya berdebar kencang, padahal sampai saat ini dia bahkan belum melanggar hukum. – 57
Tetapi bicara lebih mudah daripada melakukannya. Kastil mengurung mereka. Keheningan begitu mutlak hingga sepertinya bicara keras merupakan kejahatan. – 124
Di kegelapan rasanya lama sekali. Pikiran Emily yang tegang berkurang karena mendengar langkah kaki dan merasakan batu dingin dan licin dengan ujung jari sarung tangannya. Udara musim dingin membakar wajah mereka. – 127
Udara beku di sini lebih beku dan lebih menusuk daripada udara di dalam kastil. Menyengat dan membersihkannya ketika ia berjalan naik, merasakan keabadian. Untuk beberapa saat pikirannya seakan terbuka ketika merasakan luasnya angkasa dan muncul rasa takut karena merasa kecil dan tidak penting. – 128-129
Simon menekan tombol di jam tangannya dan menyinari wajahnya. “Pukul dua belas lewat sepuluh.” Katanya. | “Withcing hour, jamnya para penyihir.” Marcus beranjak dari Menara pengintai. “Ayo kita kembali. Pikirkan perapian yang sudah menunggu kita.” – 131
“Jangan Marcus,” suara Emily mengandung suara peringatan. “Aku nggak bisa tidur kalau kau mengarang cerita tentang sesuatu yang mengerikan.” – 135
Cerita itu mendengung bolak-balik seperti lebah penyengat dalam kepalanya, mendiami kegelapan dengan para hantu. – 145
“Karanglah satu cerita,” kata Simon | “Karang apa?” | “Karang satu cerita dan kau akan pandai membuat cerita. Karanglah suatu kisah.” – 147
Ia berfikir tentang semangatnya, keingintahuannya, dan ceritanya yang tidak ada habis-habisnya, perpaduan yang membingungkan antara kemarahan dan kepedulian. – 160
“… Tentu saja mungkin! Ia lebih menyukainya tanpa kita. Tidak seorang pun memerintahkan apa yang harus dikerjakannya. Ia nggak akan kesepian, ia punya peri-peri untuk diajak berbicara kapanpun ia mau.” – 163
Berbohong. Itu lebih buruk, jauh lebih buruk ketimbang menyelinap, tidak peduli aku habis dari mana. – 174
“Kalau pasukan kita ada di daerah kekuasaan musuh, mereka akan merampasnya.” – 177
Simon menatap Emily dengan tatapan, “apa kubilang.” – 179
“Ini kastilku. Aku nggak akan melarikan diri. Mereka nggak akan bisa masuk ke sini.” – 213
Kamar tidurnya sedang menunggunya, dengan ranjang, rak buku, meja dari kayu berlapis, susunan boneka beruangnya, radiatornya. Di sini di dalam kastil, angin berbisik menembus celah-celah kubah, dan titik-titik salju jatuh di lantai. Jari tangannya mati rasa di dalam sarung tangannya. Ia memikirkan kehangatan, kenyamanan dan penghianatan. – 215
Pengepungan Terakhir | by Jonathan Stroud | diterjemahkan dari The Last Siege | copyright 2006 | copyright arranged with The Laura Cecil Agency | 17 Alwyne Villas, London N12HG, England | Through Tuttle – Mori Agency Co., Ltd. | Alih Bahasa Ribkah Sukito | Editor Primadonna Angela | GM 322 01 0022 | ilustrasi cover Eduard Iwan Mangopang | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Oktober 2011 | 288 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-7611-4 | Untuk Eli dan Matt | Skor: 3/5
Karawang, 08062016 – Sherina Munaf – Tak Usah Cemburu
#9 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

2 thoughts on “The Last Siege #9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s